Cerita ini dimulai dengan tokoh utama yang bernama Midun, seorang pemuda yang disegani dan disukai oleh orang-orang di kampungnya. Ia merupakan anak sulung seorang petani biasa. Hal itu karena didikan ayahnya yang menjgajarkan hal kebaikan kepada Midun. Sehingga Midun dapat belajar mengaji, sekaligus ilmu silat kepada guru mengajinya, Haji Abbas dan Pendekar Sulatan. Kepandaiannya dalam ilmu bela diri itu tidak menjadikannya sombong dan menang sendiri, sebaliknya ia tetap ramah dan berakhlak baik.
Di salah satu desa di Padang, tempat midun tinggal terdapat kepala desa yang bernama Tuanku Laras, yang mempunyai seorang keponakan bernama Kacak. Merasa mamaknya sebagai kepala desa yang disegani serta tergolong keluarga kaya, Kacak mempunyai sikap yang berkebalikan dengan sikap Midun. Sikapnya yang angkuh dan sombong sungguh tak di sukai orang-orang di kampung itu.
Kacak tak menyukai orang-orang di kampungnya yang menyukai dan memuji tabiat pemuda miskin itu yaitu Midun. Lalu, dicari-carinya kesalahan Midun. Lebih dari itu, Kacak juga mengajaknya berkelahi. Namun dengan sabar Midun berusaha menghindari keributan. Ia meras lebih baik mengalah daripada ribut atau berkelahi yang tidak bermanfaat itu. Namun, kacak yabg mengaggap Midun sebagai musuhnya, justru menyerangnya secara membabi-buta. Berkat ilmu silat yang dimiliki pemuda penyabar itu, serangan-serangan Kacak selalu dapat dihindarinya. Terlalu mudah baginya mematahkan setiap serangan orang yang sudah dirasuk amarah itu.
Penderitaan selama Midun bertemu dengan Kacak terus menerus bertambah. Karena dengkinya Kacak kepada Midun, ia sampai memfitnah midun dan menjebloskannya ke dalam penjara. Kacak senang akhirnya musuhnya di penjara dan dia dapat bebas berbuat semaunya di kampungnya.
Kemudian setelah bebas ia juga mendapat ujian dan penderitaan. Namun hal itu tidak membuatnya menyerah ia tetap berikhtiar dan bertawakal. Ia juga mencintai gadis yang bernama Halimah dan menikahinya. Sementara itu, karena Midun memperlihatkan prestasi yang baik dalam pekerjaanya, ia diangkat sebagai menteri polisi Tanjuk Priok. Suatu hari, Midun di tugasi untuk menumpas penyelundupan di Medan. Ketika sedang menjalani tugasnya, secara kebetulan, ia bertemu dengan Manjau, adiknya. Midun mendengarkan adiknya bercerita panjang lebar tentang kampung dan keluarganya.
Sekembalinya dari Medan, ia mengajukan permohonan kepada Hoofdcommissaris agar tugasnya di pindahkan ke kampung halamannya dan permohonan itu dikabulkan. Bahkan di tempat tugasnya yang baru, Midun diberi jabatan sebagai Asisten Demang. Kacak yang sekarng menjadi penghulu kampung, menjadi ketakutan dan serba salah ketika mengetahui Midun kembali ke kampungnya dan membawa jabatan sebagai Asisten Demang. Tidak lama setelah itu, Kacak dijebloskan ke penjara di Padang karena telah menggelapkan uang negara. Akhir dari cerita ini yaitu penderitaan Midun berakhir dan Midun hidup bahagia bersama keluarganya.
Tulis Sutan Sati adalah penyair dan sastrawan Indonesia Angkatan Balai Pustaka. Beliau lahir pada tahun 1898 di Bukittinggi dan meninggal zaman Jepang pada tahun 1942. Karya-karyanya terdiri atas asli dan saduran, baik roman maupun syair. Tulis Sutan Sati pernah menjadi guru. Kemampuan mengarangnya kian terasah ketika ia menjadi salah satu redaktur di penerbitan, yang pada masa itu milik Belanda. Nama penerbitan tersebut adalah Balai Pustaka. Sutan Sati merasakan masa-masa penjajahan Belanda dan Jepang sehingga ada karya-karyanya tentang penderitaan dan susahnya hidup seperti novel ini.
Karya-karyanya yang asli berbentuk roman adalah Sengsara Membawa Nikmat (1928), Tidak Tahu Membalas Guna (1932), Tak Disangka (1932), dan Memutuskan Pertalian (1932), sedangkan karya-karya sadurannya dalam bentuk syair adalah Siti Marhumah Yang Saleh (saduran dari cerita Hasanah yang saleh), Syair Rosina (saduran tentang hal yang sebenarnya terjadi di Betawi pada abad lampau), Sabai nan Aluih (saduran dari sebuah kaba Minangkabau dalam bentuk prosa beriman).
Walaupun merupakan sastra lama, cerita yang tersaji begitu memikat para pecinta sastra sehingga tak mengherankan jika novel ini mengalami cetak ulang yang kedua puluh pada tahun 2010. Novel ini adalah salah satu karya sastra yang memperkaya horison sastra Indonesia pada zamannya.
Novel ini penggambaran cerita dengan suasana adat yang membuka mata pembaca untuk melihat kehidupan Minangkabau. Seperti pada angkatan Balai Pustaka yang sastrawannya banyak menceritakan adat Minangkabau, karena berasal dari Sumatera. Gambaran pengembaraan yang diceritakan cukup realistis serta tidak terpaku di wilayah Sumatra saja namun juga sampai ke pulau Jawa. Novel ini merupakan sastra melayu dengan bahasa kuno sehingga sulit dipahami. Kalimat terlalu dilebih-lebihkan seperti majas dalam puisi. Banyak kalimat yang tak sesuai EYD dan kata-kata tak lazim digunakan. Sepasi antar paragraf pun terlalu kecil membuat sedikit pusing apabila dibaca. Alurnya biasa namun konsisten dengan cerita kehidupan sehari-hari sehinga mudah ditebak oleh pembaca.
Tema yang terdapat dalam novel tersebut sudah tergambar pada judulnya “Sengsara Membawa Nikmat” yaitu tentang perjuangan pemuda yang baik (Midun) yang berasal dari keluarga sederhana di kampung Minangkabau untuk merubah nasibnya yang penuh dengan kesengsaraan dalam menjalani hidupnya, hingga akhirnya sebuah kenikmatan dan kebahagiaan dicapainya.
Alur dalam novel ini menggunakan alur maju atau progresif. Hal yang dapat diteladani setelah membaca novel Sengsara Membawa Nikmat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah sabar menghadapi ujian, karena setiap orang tak terlepas dari cobaan dan musibah yang telah Allah SWT. berikan kepada manusia untuk menjadikannya bersyukur dan ikhlas menerima apa yang telah diberikan-Nya serta untuk lebih mendekatkan kepada-Nya. Kita sudah seharusnya seperti tokoh Midun, ketika diberi ujian tidak langsung menyerah dan berhenti mencoba, mencoba mencari pekerjaan, mencoba berbuat kebaikan dan mencoba untuk memulai. Dan sebagai manusia kita harus yakin bahwa di setiap ujian yang menimpa pada diri kita pasti akan ada pelajaran yang dapat dituai serta akan ada kebahagiaan setelahnya. Sebagai manusia kita tak boleh seperti Kacak yang sombong, angkuh, tamak, ingin menang sendiri dan lainnya agar kita disukai dan disegani orang lain.