What do you think?


Metamorfosis Cacing
Ryo merasa wajar dirinya petantang-petenteng. Wajahnya ganteng, mobilnya mahal, digilai banyak cewek cantik, dan punya privilese karena keluarganya terpandang. Dia terbiasa ada. Mau apa aja bisa.
Namun, semuanya berubah ketika Ryo tak sengaja menabrak Reno (kakaknya) hingga tewas. Papa murka karena Reno anak kesayangan keluarga yang bertanggung jawab, berprestasi, dan bisa diandalkan. Ketika akhirnya peristiwa itu membawa Ryo ke balik jeruji besi, dia pasrah. Dia pantas dihukum.
Dalam waktu singkat, hidup Ryo berubah 180 derajat. Kini dia tak ubahnya cacing, hewan melata yang berasarang di tanah. Hidupnya di bawah, jauh dari foya-foya.
Apakah Ryo mampu menjalani kehidupan baru tanpa dukungan keluarga? Bisakah dia menemukan versi terbaru dirinya? Dan mampukah dia meyakinkan Awaru bahwa dia adalah laki-laki yang memiliki otak dan hati, serta layak dicintai?
Namun, semuanya berubah ketika Ryo tak sengaja menabrak Reno (kakaknya) hingga tewas. Papa murka karena Reno anak kesayangan keluarga yang bertanggung jawab, berprestasi, dan bisa diandalkan. Ketika akhirnya peristiwa itu membawa Ryo ke balik jeruji besi, dia pasrah. Dia pantas dihukum.
Dalam waktu singkat, hidup Ryo berubah 180 derajat. Kini dia tak ubahnya cacing, hewan melata yang berasarang di tanah. Hidupnya di bawah, jauh dari foya-foya.
Apakah Ryo mampu menjalani kehidupan baru tanpa dukungan keluarga? Bisakah dia menemukan versi terbaru dirinya? Dan mampukah dia meyakinkan Awaru bahwa dia adalah laki-laki yang memiliki otak dan hati, serta layak dicintai?
368 pages, Paperback
Published February 25, 2026
About the author
Retni S.B.
16 books105 followersLahir di Cirebon pada 22 Maret, suka sekali membaca buku. Tetapi dari sekian banyak buku yang dibacanya, buku-buku resep masakan dan kuelah yang paling membuatnya seolah kesetrum. Retni memang hobi masak, apalagi memasak untuk keluarga kecilnya yang telah membuatnya merasa menjadi perempuan istimewa.
Alumnus Komunikasi Fisipol UGM ini sempat menjadi copywriter dan account executive selama beberapa tahun di perusahaan periklanan di Jakarta.
Alumnus Komunikasi Fisipol UGM ini sempat menjadi copywriter dan account executive selama beberapa tahun di perusahaan periklanan di Jakarta.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
September 3, 2026
Baca di ipussulteng | actual rating 3,5 🌟
Review menyusul klo udah mood, wkwkkw
Review menyusul klo udah mood, wkwkkw
May 9, 2026
Aku sempat masuk ke buku ini dengan ekspektasi yang salah, dan menurutku sumbernya ada pada judul serta blurb. Metamorfosis Cacing terdengar seperti novel tentang proses perubahan batin yang berat. Blurb-nya juga membuatku membayangkan kisah redemption arc yang lebih reflektif: anak kaya berandalan, tidak sengaja menewaskan kakaknya sendiri, masuk penjara, belajar hidup di bawah, lalu bergulat dengan pertanyaan apakah ia pantas dicintai.
Ternyata, setelah dibaca, tubuh utama novel ini lebih terasa sebagai metropop-romcom. Dan lucunya, bagian romcom-nya justru cukup bekerja.
Ryo setelah keluar dari penjara bukan lagi Ryo yang tengil hiperbola di bab-bab awal. Dia sudah lebih kalem, lebih membumi, dan persona “Mas Cacing”-nya memang masuk secara simbolik. Ia meninggalkan kehidupan lama, berkebun di kaki Merapi, main tanah, dan mencoba hidup sebagai manusia baru. Aru juga menyenangkan. Dia tengil, tapi tidak sampai melelahkan. Banter Ryo dan Aru enak. Konflik Aru juga cukup masuk akal: dia masih skripsi, belum lulus, belum bekerja, tapi pacarnya sudah mendorong ke arah pernikahan. Ketika kemudian si pacar menunjukkan sisi posesif dan kasar, pembatalan pertunangan itu terasa wajar. Jadi problemku bukan di jalur romcom-nya.
Justru karena romcom-nya bekerja, aku makin merasa blurb-nya mengarahkan pembaca ke pintu yang salah. Ryo pasca-penjara ternyata cukup gercep. Ia jujur soal masa lalunya, iya. Ia sedih saat membicarakan Reno, iya. Tapi ia tidak benar-benar bergulat panjang dengan perasaan tidak pantas dicintai. Ia tidak tampak menahan diri dari Aru karena merasa dirinya terlalu rusak. Ia tidak terus-menerus takut masa lalunya akan mencemari hidup Aru.
Nah, di sinilah aku merasa janji blurb tidak sesuai dengan tubuh cerita. Kalau pertanyaannya adalah apakah Ryo bisa meyakinkan Aru bahwa ia pantas dicintai, seharusnya rasa tidak layak itu menjadi konflik aktif. Namun setelah Ryo keluar dari penjara, bayangan Reno dan rasa bersalah Ryo hanya muncul kuat di beberapa titik, terutama saat ia menolong Aru yang kecelakaan dan saat ia jujur soal masa lalunya. Setelah itu, romcom berjalan seperti romcom. Bukan salah romcom-nya, tapi ini membuat unsur “pantas dicintai” terasa lebih seperti kalimat jualan daripada konflik batin utama. Karena nyatanya Ryo sangat gercep mau ngehalalin.
Aku juga sangat mengapresiasi setting Yogyanya. Ini bukan Jogja turis yang isinya Tugu, Malioboro, Kraton sebagai dekorasi romantis. Yogyanya terasa sebagai Sleman: UGM, Pogung, JIH, UII, kaki Merapi--kemungkinan Kaliadem, dll. Dialog Jawa-Indonesianya juga natural, termasuk penggunaan “jhe” dan “jal” serta "dab". Detail kecil seperti ini buatku yang orang Yogyakarta sangat penting, karena langsung terasa ketika penulis benar-benar punya telinga untuk lokalitas.
Masalah terbesarku justru ada pada bagian tragedi awalnya.
Bab-bab awal seharusnya menjadi fondasi luka Ryo. Di sanalah pembaca diperkenalkan pada Ryo sebelum penjara, hubungannya dengan Reno, konflik keluarganya, lalu kecelakaan yang membuat Reno meninggal. Secara bahan, ini kuat. Reno bukan sekadar kakak baik yang muncul sebentar lalu mati. Dia sempat diberi ruang. Kita tahu dia sayang Ryo, jengkel tapi tetap peduli, dan ingin adiknya tidak terus menjadi berandalan. Bahkan Reno-lah yang mendorong agar Ryo diberi kesempatan masuk ke unit usaha baru keluarga.
Tapi justru di situ problemnya muncul.
Reno adalah Direktur Keuangan. Dia sudah dewasa, bekerja di perusahaan keluarga, dan seharusnya paham risiko. Dia tahu Ryo punya riwayat bermasalah, dari kehidupan liar sampai urusan taruhan dan hal-hal ilegal. Jadi ketika Reno mengusulkan Ryo diberi kesempatan memegang unit usaha baru, ia bukan cuma sedang menjadi kakak baik. Ia sedang mempertaruhkan penilaiannya sendiri. Ia sedang memakai posisinya untuk memberi Ryo kesempatan.
Maka ketika Ryo menyalahgunakan kesempatan itu lewat ide wisata judi, seharusnya ada luka besar di sana. Reno kecewa. Reno sadar ia mungkin salah menilai adiknya. Ryo sadar ia telah mengkhianati satu-satunya orang yang masih percaya padanya. Tapi bagian ini malah dibungkus seperti komedi situasi: kantor-kantoran, rapat gokil, manajer pusing, wisata judi booming. Akibatnya, konflik moral yang seharusnya berat tidak terasa cukup matang sebelum tragedi terjadi.
Padahal, kalau digarap lebih serius, ini bisa menjadi lapisan luka yang sangat kuat. Ryo bukan hanya menewaskan Reno secara fisik dalam kecelakaan. Sebelum itu, ia juga sudah merusak kepercayaan Reno. Dan itu seharusnya menghantui Ryo sama besarnya dengan kecelakaan itu sendiri.
Kematian Reno juga buatku kurang menghantam karena ditulis terlalu melodramatis dan terlalu banyak menjelaskan. Ada adegan yang secara konsep sangat kuat: Ryo tidak boleh ikut ke rumah sakit, tidak boleh mendekati jenazah Reno, bahkan tidak boleh ikut pemakaman. Ia dikurung di kamar Pak Sugeng saat jenazah kakaknya dibawa pergi. Ini sebenarnya brutal. Ryo bukan hanya kehilangan kakak, tapi juga kehilangan hak untuk berduka.
Namun karena penceritaannya sering memberi tahu langsung apa yang harus dirasakan, efeknya jadi kurang mengendap. Narasi menjelaskan rasa bersalah Ryo, menjelaskan pikiran Pak Sugeng, lalu menjelaskan alasan Papa. Aku mengerti Ryo hancur. Aku tahu ia merasa bersalah. Tapi aku tidak cukup lama dikunci di pengalaman batin Ryo untuk ikut merasakan kehancuran itu dari dalam.
Efeknya terasa ketika nanti Ryo menolong Aru yang kecelakaan. Secara konsep, wajar kalau ia teringat Reno. Masalahnya, pemicu traumanya kurang terhubung dengan detail yang benar-benar ditanam di Bab 3. Ryo tidak ikut membawa Reno ke rumah sakit, jadi ketika ia merasa tubuh korban di kursi tengah seperti Reno, aku malah bertanya-tanya dari mana asosiasi itu muncul. Akan lebih kuat kalau flashback-nya datang dari hal yang benar-benar ia alami: suara benturan, jeritan Pak Sugeng, tubuh Reno di belakang mobil, pintu yang dikunci, atau sirine mobil jenazah yang pergi tanpa dia.
Jadi, tragedinya buatku tidak bekerja sekuat yang seharusnya. Bukan karena bahannya tidak ada. Bahannya ada. Bahkan banyak. Tapi tone-nya terlalu hiperbola, logika beberapa peristiwanya terlalu absurd, dan gaya penceritaannya terlalu telling. Untuk bagian yang menjadi dasar metamorfosis Ryo, ini sayang sekali.
Di sisi lain, sekitar 80% tubuh novel ini adalah romcom-metropop, dan bagian itu cukup oke. Ryo-Aru punya dinamika yang enak. Aru bukan tokoh perempuan pasif. Setting Sleman hidup. Persona Mas Cacing juga sebenarnya lucu dan nyambung dengan hidup baru Ryo sebagai petani sayur. Jadi aku tidak bisa memberi nilai terlalu rendah, karena setelah melewati bagian tragedi awal yang menurutku bermasalah, tubuh utama ceritanya masih punya daya tarik.
Kesimpulannya, ini buku yang menurutku salah dijual lewat ekspektasi judul dan blurb. Aku datang mencari metamorfosis batin yang reflektif dan menguras, tapi yang kudapat lebih berupa romcom metropop dengan opening tragedi yang hiperbolik. Kalau sejak awal diposisikan lebih jujur sebagai romcom tentang laki-laki pasca-penjara yang memulai hidup baru di kaki Merapi dan bertemu perempuan yang baru lepas dari hubungan posesif, mungkin ekspektasiku akan berbeda.
Rating 3/5.
Romcom-nya oke. Setting Yogyanya masuk. Tapi tragedi yang menjadi fondasi Ryo, terutama Bab 3, buatku terrible. Very terrible.
Ternyata, setelah dibaca, tubuh utama novel ini lebih terasa sebagai metropop-romcom. Dan lucunya, bagian romcom-nya justru cukup bekerja.
Ryo setelah keluar dari penjara bukan lagi Ryo yang tengil hiperbola di bab-bab awal. Dia sudah lebih kalem, lebih membumi, dan persona “Mas Cacing”-nya memang masuk secara simbolik. Ia meninggalkan kehidupan lama, berkebun di kaki Merapi, main tanah, dan mencoba hidup sebagai manusia baru. Aru juga menyenangkan. Dia tengil, tapi tidak sampai melelahkan. Banter Ryo dan Aru enak. Konflik Aru juga cukup masuk akal: dia masih skripsi, belum lulus, belum bekerja, tapi pacarnya sudah mendorong ke arah pernikahan. Ketika kemudian si pacar menunjukkan sisi posesif dan kasar, pembatalan pertunangan itu terasa wajar. Jadi problemku bukan di jalur romcom-nya.
Justru karena romcom-nya bekerja, aku makin merasa blurb-nya mengarahkan pembaca ke pintu yang salah. Ryo pasca-penjara ternyata cukup gercep. Ia jujur soal masa lalunya, iya. Ia sedih saat membicarakan Reno, iya. Tapi ia tidak benar-benar bergulat panjang dengan perasaan tidak pantas dicintai. Ia tidak tampak menahan diri dari Aru karena merasa dirinya terlalu rusak. Ia tidak terus-menerus takut masa lalunya akan mencemari hidup Aru.
Nah, di sinilah aku merasa janji blurb tidak sesuai dengan tubuh cerita. Kalau pertanyaannya adalah apakah Ryo bisa meyakinkan Aru bahwa ia pantas dicintai, seharusnya rasa tidak layak itu menjadi konflik aktif. Namun setelah Ryo keluar dari penjara, bayangan Reno dan rasa bersalah Ryo hanya muncul kuat di beberapa titik, terutama saat ia menolong Aru yang kecelakaan dan saat ia jujur soal masa lalunya. Setelah itu, romcom berjalan seperti romcom. Bukan salah romcom-nya, tapi ini membuat unsur “pantas dicintai” terasa lebih seperti kalimat jualan daripada konflik batin utama. Karena nyatanya Ryo sangat gercep mau ngehalalin.
Aku juga sangat mengapresiasi setting Yogyanya. Ini bukan Jogja turis yang isinya Tugu, Malioboro, Kraton sebagai dekorasi romantis. Yogyanya terasa sebagai Sleman: UGM, Pogung, JIH, UII, kaki Merapi--kemungkinan Kaliadem, dll. Dialog Jawa-Indonesianya juga natural, termasuk penggunaan “jhe” dan “jal” serta "dab". Detail kecil seperti ini buatku yang orang Yogyakarta sangat penting, karena langsung terasa ketika penulis benar-benar punya telinga untuk lokalitas.
Masalah terbesarku justru ada pada bagian tragedi awalnya.
Bab-bab awal seharusnya menjadi fondasi luka Ryo. Di sanalah pembaca diperkenalkan pada Ryo sebelum penjara, hubungannya dengan Reno, konflik keluarganya, lalu kecelakaan yang membuat Reno meninggal. Secara bahan, ini kuat. Reno bukan sekadar kakak baik yang muncul sebentar lalu mati. Dia sempat diberi ruang. Kita tahu dia sayang Ryo, jengkel tapi tetap peduli, dan ingin adiknya tidak terus menjadi berandalan. Bahkan Reno-lah yang mendorong agar Ryo diberi kesempatan masuk ke unit usaha baru keluarga.
Tapi justru di situ problemnya muncul.
Reno adalah Direktur Keuangan. Dia sudah dewasa, bekerja di perusahaan keluarga, dan seharusnya paham risiko. Dia tahu Ryo punya riwayat bermasalah, dari kehidupan liar sampai urusan taruhan dan hal-hal ilegal. Jadi ketika Reno mengusulkan Ryo diberi kesempatan memegang unit usaha baru, ia bukan cuma sedang menjadi kakak baik. Ia sedang mempertaruhkan penilaiannya sendiri. Ia sedang memakai posisinya untuk memberi Ryo kesempatan.
Maka ketika Ryo menyalahgunakan kesempatan itu lewat ide wisata judi, seharusnya ada luka besar di sana. Reno kecewa. Reno sadar ia mungkin salah menilai adiknya. Ryo sadar ia telah mengkhianati satu-satunya orang yang masih percaya padanya. Tapi bagian ini malah dibungkus seperti komedi situasi: kantor-kantoran, rapat gokil, manajer pusing, wisata judi booming. Akibatnya, konflik moral yang seharusnya berat tidak terasa cukup matang sebelum tragedi terjadi.
Padahal, kalau digarap lebih serius, ini bisa menjadi lapisan luka yang sangat kuat. Ryo bukan hanya menewaskan Reno secara fisik dalam kecelakaan. Sebelum itu, ia juga sudah merusak kepercayaan Reno. Dan itu seharusnya menghantui Ryo sama besarnya dengan kecelakaan itu sendiri.
Kematian Reno juga buatku kurang menghantam karena ditulis terlalu melodramatis dan terlalu banyak menjelaskan. Ada adegan yang secara konsep sangat kuat: Ryo tidak boleh ikut ke rumah sakit, tidak boleh mendekati jenazah Reno, bahkan tidak boleh ikut pemakaman. Ia dikurung di kamar Pak Sugeng saat jenazah kakaknya dibawa pergi. Ini sebenarnya brutal. Ryo bukan hanya kehilangan kakak, tapi juga kehilangan hak untuk berduka.
Namun karena penceritaannya sering memberi tahu langsung apa yang harus dirasakan, efeknya jadi kurang mengendap. Narasi menjelaskan rasa bersalah Ryo, menjelaskan pikiran Pak Sugeng, lalu menjelaskan alasan Papa. Aku mengerti Ryo hancur. Aku tahu ia merasa bersalah. Tapi aku tidak cukup lama dikunci di pengalaman batin Ryo untuk ikut merasakan kehancuran itu dari dalam.
Efeknya terasa ketika nanti Ryo menolong Aru yang kecelakaan. Secara konsep, wajar kalau ia teringat Reno. Masalahnya, pemicu traumanya kurang terhubung dengan detail yang benar-benar ditanam di Bab 3. Ryo tidak ikut membawa Reno ke rumah sakit, jadi ketika ia merasa tubuh korban di kursi tengah seperti Reno, aku malah bertanya-tanya dari mana asosiasi itu muncul. Akan lebih kuat kalau flashback-nya datang dari hal yang benar-benar ia alami: suara benturan, jeritan Pak Sugeng, tubuh Reno di belakang mobil, pintu yang dikunci, atau sirine mobil jenazah yang pergi tanpa dia.
Jadi, tragedinya buatku tidak bekerja sekuat yang seharusnya. Bukan karena bahannya tidak ada. Bahannya ada. Bahkan banyak. Tapi tone-nya terlalu hiperbola, logika beberapa peristiwanya terlalu absurd, dan gaya penceritaannya terlalu telling. Untuk bagian yang menjadi dasar metamorfosis Ryo, ini sayang sekali.
Di sisi lain, sekitar 80% tubuh novel ini adalah romcom-metropop, dan bagian itu cukup oke. Ryo-Aru punya dinamika yang enak. Aru bukan tokoh perempuan pasif. Setting Sleman hidup. Persona Mas Cacing juga sebenarnya lucu dan nyambung dengan hidup baru Ryo sebagai petani sayur. Jadi aku tidak bisa memberi nilai terlalu rendah, karena setelah melewati bagian tragedi awal yang menurutku bermasalah, tubuh utama ceritanya masih punya daya tarik.
Kesimpulannya, ini buku yang menurutku salah dijual lewat ekspektasi judul dan blurb. Aku datang mencari metamorfosis batin yang reflektif dan menguras, tapi yang kudapat lebih berupa romcom metropop dengan opening tragedi yang hiperbolik. Kalau sejak awal diposisikan lebih jujur sebagai romcom tentang laki-laki pasca-penjara yang memulai hidup baru di kaki Merapi dan bertemu perempuan yang baru lepas dari hubungan posesif, mungkin ekspektasiku akan berbeda.
Rating 3/5.
Romcom-nya oke. Setting Yogyanya masuk. Tapi tragedi yang menjadi fondasi Ryo, terutama Bab 3, buatku terrible. Very terrible.
May 5, 2026
Emang cacing mengalami siklus metamorfosis?
Cacing di novel ini emang beda...
Cacingnya ganteng, keren, kaya, pinter, jagoan, temperamental, punya tato kobra, dan mantan narapidana...
So, kalau satu Cacing ini jatuh cinta sama kamu, will you accept it?
Mungkin kamu bakalan mikir jutaan kali...
.
Sebuah novel romatis yang bisa bikin saya mesam-mesem salting sendiri kayak orang gila...
Sebuah perjalanan seekor cacing reinkarnasi menjadi manusia...
.
"Your past will not define your present and your future."
Cacing di novel ini emang beda...
Cacingnya ganteng, keren, kaya, pinter, jagoan, temperamental, punya tato kobra, dan mantan narapidana...
So, kalau satu Cacing ini jatuh cinta sama kamu, will you accept it?
Mungkin kamu bakalan mikir jutaan kali...
.
Sebuah novel romatis yang bisa bikin saya mesam-mesem salting sendiri kayak orang gila...
Sebuah perjalanan seekor cacing reinkarnasi menjadi manusia...
.
"Your past will not define your present and your future."
September 7, 2026
3.5 🌟
Unsur komedinya lucu. Sayang bagi aku malah terlalu fokus ke romance nya bukan ke perjalanan usaha nya mas cacing.. Tapi its okay. Tetap bagus untuk dibaca.
Unsur komedinya lucu. Sayang bagi aku malah terlalu fokus ke romance nya bukan ke perjalanan usaha nya mas cacing.. Tapi its okay. Tetap bagus untuk dibaca.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews





