Jump to ratings and reviews
Rate this book

Halaman Terakhir

Rate this book
Orde Baru, suatu masa …

Hoegeng sedang diuji. Dua kasus besar mencuat, mencuri perhatiannya yang kala itu menjabat sebagai Kapolri. Dua kasus yang membuatnya terbentur tembok raksasa dan menguji integritasnya sebagai seorang polisi.

Kasus pertama adalah Sum Kuning. Kasus pemerkosaan yang menggegegerkan Kota Yogyakarta. Meski telah menggali amat dalam, selalu ada batu yang mengganjal usahanya menemukan pelaku. Berbagai gangguan mengalihkan penyidikan dari bukti dan fakta.

Kasus kedua adalah penyelundupan mobil mewah. Keterlibatan seorang putra pejabat tinggi di tanah air membuat kasus ini sulit menyentuh dasar masalahnya. Seolah para pelaku telah mengantisipasi langkah Hoegeng dan anak buahnya, semakin dalam penyelidikan, semakin bukti itu menghilang.

Kasus-kasus itu terus membayangi Hoegeng, membebani nuraninya. Mampukah Hoegeng, sang polisi jujur, menutup mata dan meninggalkan sesuatu yang telah dimulainya itu?
Halaman terakhir adalah sebuah drama perjalanan dua kasus terbesar yang pernah ditangani Hoegeng.

448 pages, Paperback

First published February 1, 2015

41 people are currently reading
447 people want to read

About the author

Yudhi Herwibowo

44 books61 followers
YUDHI HERWIBOWO ia an Indonesian novelist. He was wrote a many book already, from a kind of genres. Usually he use HIKOZZA for japanese novel that he wrote and YUDHI H. for some comedy novel

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
29 (25%)
4 stars
56 (48%)
3 stars
27 (23%)
2 stars
2 (1%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 41 reviews
Profile Image for Ophan Bunjos.
Author 8 books36 followers
June 8, 2015
'HOEGENG' satu nama yang seakan dilupakan. Seandainya tidak ada siapa-siapa yang menceritakan tentang dirinya dan betapa istimewanya seorang insan ini, pasti sejarah juga melupakannya. Cukup menarik kisah dirinya, tentang prinsip hidupnya, tentang kekuatannya, tentang tekadnya dan seluruh karismanya. Ia umpama bentuk baik yang dikelilingi oleh kebejatan, namun tetap tidak goyah. Namun tetap saja kuasa pimpinannya ada batasnya, harus akur pada kuasa yang lebih besar. Apa sekalipun, prinsipnya tidak sekali-kali dia khianati. Dia benar-benar sayangkan negerinya.

Satu ayat yang bagus, " Adalah baik menjadi orang penting, tapi lagi penting menjadi orang baik"
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
April 13, 2015
Buku tentang Jenderal Polisi Hoegeng ini adalah satu dari sedikit buku yang seperti memaksa saya untuk segera menuliskan review begitu selesai membacanya. Jenis buku bergizi yang entah telah mengubah saya ataupun memberikan sesuatu yang baru setelah membacanya. Begitu sampai pada halaman terakhir buku ini, saya segera sadar kalau buku ini harus banyak dibaca oleh semakin banyak gerenasi muda. Terutama kami yang lahir di era 90-an sebagai generasi yang mengalami baik masa orde baru, masa reformasi, hingga Indonesia Baru seperti saat ini. Harusnya, ada lebih banyak orang yang tahu tentang sepak terjang seorang jenderal legendaris bangsa, salah satu dari tokoh polisi terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia, Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso.

“Sebuah jalanan yang dirawat dengan baik akan selalu menumbuhkan bunga-bunga wangi di sepanjang jalannya.” (hlm 375)

Halaman Terakhir bisa diibaratkan semacam novel semibiografis dari Hoegeng. Disusun dan ditulis oleh Mas Yudhi Herwibowo berdasarkan sumber-sumber sejarah tertulis serta lisan, melalui riset yang teliti, serta proses penulisan yang pantang menyerah. Tidak heran kalau Halaman Terakhir ini terasa begitu mengalir dan sukses membuat saya terharu setelah membacanya. Jarang sekali saya membaca novel biografis, sepertinya baru On Writing-nya Stephen King. Bayangan saya, novel seperti itu pasti akan membosankan dan membikin jemu. Tapi, tidak dengan Halaman Terakhir. Kepiawaian Mas Yudhi Herwibowo yang telah teruji dalam meracik cerita telah menjadikan novel tebal ini tak membosankan sama sekali. Ceritanya, walaupun bersetting tempo dulu dan sangat berkaitan dengan tema-tema politik, dituliskan dengan begitu mengalir, tetap rapi, dan membikin penasaran. Tidak butuh lebih dari satu hari bagi saya untuk menyelesaikan membaca buku ini.

Di setiap keinginan yang kuat, semesta kemudian mengambil peran.” (hlm. 66)

Siapakah Jenderal Hoegeng? Jujur, saya tidak mengetahui banyak tentang sosok hebat ini sebelum membaca Halaman Terakhir. Nama beliau mungkin pernah saya dengar, tapi tentang sepak terjangnya, baru di novel ini saya mengetahuinya. Dalam catatan di halaman terakhir novel ini, Mas Yudhi sempat menyinggung beberapa buku tentang Hoegeng yang sudah terbit lebih dulu (dan kemudian turut menjadi referensi penulisan novel ini). Tapi, biasanya buku-buku biografi seperti itu ditulis dengan gaya nonfiksi yang (mungkin) membosankan sehingga saya mungkin hanya akan melewatkannya suatu ketika saat melihat buku seperti itu di rak sebuah perpustakaan tua. Karena itulah, sangat penting untuk menulis buku-buku biografi sejenis Halaman Terakhir ini agar semakin banyak generasi muda yang mau membaca sepak terjang orang-orang hebat yang mungkin tidak pernah mereka ketahui sebelumnya. Padahal, orang-orang hebat itu benar-benar pernah dan mungkin masih ada.

“Keteguhan akan sikap yang benar selalu terbayar sepadan.” (hlm 160)

Mas Yudhi menggunakan dua kasus besar tak terselesaikan (atau terselesaikan tapi tidak memuaskan) sebagai pembangun alur utama dari Halaman Terakhir. Kasus pertama adalah kasus pemerkosaan Sumaryah yang menggeggerkan Yogyakarta pada tahun 1970-an. Kedua adalah kasus penyelundupan mobil mewah oleh Soni Cahaya. Melalui kedua kasus inilah penulis kemudian secara tertata dan begitu sabarnya menyisipkan semacam biografi dari Hoegeng. Siapa beliau, asal-usul dan riwayat pekerjaannya, suasana kantornya, tindak-tanduk beliau yang begitu menjunjung tinggi kejujuran dan prinsip keadilan, serta orang-orang yang dekat dengannya. Kebetulan, kedua kasus inilah yang menjadi dua kasus tak terselesaikan yang sempat mewarnai akhir masa bakti beliau. Dua kasus yang seharusnya bisa menjadi penutup sempurna bagi kariernya sebelum tangan-tangan kekuasaan turut campur dan membuat Hoegeng tersingkir. Dengan segala kekuatannya, terkadang kebaikan tetap saja kalah (atau dipaksa mengalah). Tapi, percayalah, hari pembalasan itu pasti akan tiba.

“Pada akhirnya, siapa yang bersalah akan menerima ganjarannya.” (hlm 418)

Ketika sebuah buku biografi ditulis dengan apa adanya, bisa dijamin pembaca akan cepat bosan dan segera meletakkannya, atau buku itu dibaca tapi lama sekali selesainya. Tapi, tidak dengan Halaman Terakhir. Perpaduan apik antara drama, cerita kehidupan, dan narasi sejarah yang dipadu apik dalam buku ini seperti terus memukau saya hingga halaman terakhirnya. Layaknya sebuah novel, ada naik dan turun dalam buku ini. Ada unsur seru, unsure kejutan, juga tambahan adegan-adegan detektif yang sangat menegangkan. Sama sekali tidak membosankan saat membacanya. Memang, di bagian-bagian depan (misalnya di halaman 17 dan 58) penulis seperti lupa kalau sedang menulis novel sehingga narasi sejarahnya telanjur kebanyakan. Tapi, semakin ke belakang, kecenderungan “menuliskan teks sejarah” ini semakin hilang sampai akhirnya penulis dengan luwesnya berhasil menceritakan sebuah sejarah tanpa memunculkan rasa “membaca buku teks.” Kita harus berterima kasih kepada Djaba Kresna dan Jati Kusuma.

“Ada kalanya seseorang memang tak lagi bisa melawan, sekeras apapun ia berusaha.” (hlm 407)

Djaba Kresna adalah wartawan dari surat kabar Pelopor yang begitu aktif memberitakan kasus pemerkosaan Sumaryah. Kejadian tragis yang konon dilakukan oleh anggota keluarga sejumlah pembesar negeri ini terkesan ditutup-tutupi oleh sejumlah pihak. Hanya Djaba Kresna satu-satunya yang berani menuliskannya sebagai berita dengan sudut pandang yang sama sekali tidak tunduk oleh tekanan pihak manapun selain murni dari pengakuan sang korban. Dari tokoh inilah, novel ini terasa bergerak cepat ibarat sebuah novel thriller yang seru. Sementara tokoh kedua adalah Jati Kusuma, salah satu bawahan Hoegeng yang menjadi kepercayaan beliau dalam menangani kedua kasus besar tersebut. Dari petualangan dan sepak terjang keduanyalah sehingga pembaca bisa merasakan naik turunnya cerita sehingga pembaca tidak cepat bosan.

Ketika saya tiba pada halaman terakhir di novel ini, semacam perasaan haru dan kagum mulai terbit terhadap sosok yang baru saya ketahui sepak terjangnya di novel ini. Semacam muncul rasa kerinduan untuk bisa meneladani sikap beliau, mencontoh prinsip-prinsip hidupnya yang penuh kejujuran, serta jasa beliau yang telah mengharumkan nama kepolisian. Bahwa sosok sehebat Jenderal Polisi Hoegeng pernah ada, dan hal ini seharusnya akan memunculkan inspirasi kepada para generasi muda bahwa tidaklah mustahil untuk menjadi orang baik meskipun dunia tengah dipenuhi oleh orang-orang yang tidak baik. Menjadi jujur sebagaimana beliau, semoga kita bisa meneladani tokoh hebat ini.

“Selesaikan saja tugasmu dengan kejujuran. Karena, kita masih bisa makan nasi dengan garam.” (hlm 374)
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
June 18, 2015
Halaman terakhir adalah novelisasi penggalan dari kehidupan Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, sosok polisi teladan yang jujur, berintegritas, dan sederhana yang mungkin hingga kini tidak ada yang sepertinya. Di novel ini penulis hanya membatasi kisahnya dari dua kasus terakhir yang ditangani oleh Hoegeng sebelum ia dipurna baktikan sebelum masa tugasnya berakhir oleh pemerintah Orde Baru saat itu.

Novel ini dimulai dengan sebuah prolog yang mengisahkan bagaimana pergulatan batin Hoegeng saat membaca surat dinas dari Menhankam yg salah satu kalimatnya berbunyi seperi ini

"...dengan ini kami menunjuk Jenderal Hoegeng Iman Santoso sebagai Duta Besar Kerajaan Belgia..."

Kalimat itu menandaskan bahwa tugasnya sebagi Kapolri telah selesai walaupun sebenarnya masa tugasnya belum habis. Sebagai seorang prajurit Hoegeng menerima keputusan tersebut namun yang disesalkannya adalah mengapa ia harus berhenti saat ia sedang menyelesaikan dua kasus besar yang selama ini menyita energi dan waktunya. Dua kasus yang telah dijanjikannya akan terselesaikan selama masa kepemimpinannya.

Kemudian setting kisah beralih secara beruntun ke dua kasus terakhir Hoegeng yaitu pemerkosaan Sumaryah, gadis desa penjual telur di Jogyakarta yang kelak akan menghebohkan masyarakat Indonesia karena ada dugaan keterlibatan anak pejabat, dan kasus penyeludupan mobil mewah oleh Soni Cahaya yang memiliki kedekatan dengan Keluarga Cendana dan diduga melibatkan para pejabat terkait dalam usaha ilegalnya ini.

Dalam kisah Sumaryah penulis menarasikan tragedi gadis penjual telur itu dengan dramatis mulai dari perkosaan yang dilakukan empat orang pemuda dalam mobil combi terhadap Sumaryah hingga proses persidangan yang berlarut-larut, berbelit, dan melelahkan.Tekanan batin yang dialami Sumaryah terungkap dengan jelas di novel ini, apalagi ketika pada akhirnya dia sempat menjadi tersangka atau bagaimana kasusnya ini menjadi kasus besar dan rumit karena diduga ada anak pejabat yang terlibat dan hadirnya tersangka dan saksi-saksi baru yang janggal. Hal inilah yang menyebabkan Jenderal Hoegeng menaruh perhatian khusus terhadap kasus ini dengan membentuk tim khusus sebelum akhirnya kasus ini tiba-tiba diambil alih oleh Terpepu (Tim Pemeriksa Pusat) yang biasanya mengurusi kasus-kasus berdimensi politik.

Pada kasus penyeludupan mobil mewah pembaca akan diajak melihat bagaimana Soni Cahaya mendatangkan mobil-mobil mewah dengan cara yang cerdik yang tentu saja melibatkan instansi-instansi terkait. Di bagian ini pembaca juga disuguhkan keseruan proses penangkapan Soni Cahaya sang gembong penyeludup mobil mewah.

Setelah menarasikan dua kasus terakhir Hoegeng, di bab-bab terakhir penulis menyuguhkan bagaimana kehidupan Hoegeng setelah tidak menjadi Kapolri lagi antara lain menjadi pengisi acara talk show Radio Elshinta yang membahas isu-isu sosial hingga menjadi seorang penyanyi Hawaian yang pada akhirnya bersama groupnya yang bernama Hawaiian Senior tampil seminggu sekali di TVRI.

Di bagian ini kita akan melihat kepedulian Hoegeng sebagai seorang polisi yang berbedikasi tidak luntur walau ia telah pensiun. Dari acara radio yang diasuhnya ia kerap menerima pengaduan-pengaduan masyarakat. Apa yang ia dengar ia catat dan sampaikan ke teman-teman atau anak buahnya yang masih aktif di kepolisian lewat sebuah memo.

Di bagian akhir novel ini kita juga akan melihat bagaimana pada akhirnya Hoegeng disingkirkan pemerintah Orde Baru ketika pada akhirnya ia memilih berseberangan dengan pemerintah dan bergabung bersama Jenderal (Purn) Nasution, Bung Hatta, Ali Sadikin, dll yang tergabung dalam Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (LKB) dan menandatangani sebuah petisi yang kelak akan dikenal dengan sebutan Petisi 50 ditujukan pada pemerintah. (5 Mei 1980)

"Dan dari situlah, semua hal yang seharusnya tak diterimanya kemudian diterima! Presiden Soeharto, yang pada tahun-tahun itu semakin kuat, merasa kalau gerakan seperti itu seperti menentang dirinya. Maka, ia kemudian mencatat semua orang yang terlibat di dalamnya. Dengan gerakan halus dan nyaris tak terlihat, Seoharto kemudian melakukan serangan balasan." (hl, 423)

Novel ini mengungkapkan bahwa sejak Hoegeng ikut menandatangani Petisi 50 maka banyak yang berubah dari kehidupannya, antara lain ia tidak bisa datang ke pernikahan Prabowo dan Titiek Soeharto padahal ia adalah sahabat Soemitro, ayah Prabowo. Selain itu TVRI juga menghentikan siaran musik Hawaiian Seniors, yang sudah berjalan bertahun-tahun. Hoegeng menerima semua perlakuan itu dengan lapang dada, hanya satu yang paling memberatkan dan melukai hatinya yaitu pelarangan dirinya untuk hadir di upacaya Bhayangkara (HUT POLRI), setiap tanggal 1 Juli.

Selain Hoegeng novel ini juga memunculkan tokoh-tokoh lain yaitu Djaba Kresna, wartawan yang peduli akan nasib Sumaryah yang mendapat perlakuan tidak adil yang ia tuliskan dalam bentuk berita atau opini di koran tempatnya bekerja. Lalu ada pula tokoh Jati Kusuma dan Wulan Sari, dua orang polisi yang ditugasi oleh Hoegeng untuk menangani kasus Sumaryah dan Soni Cahaya. Ketiga tokoh ini membuat novel ini menjadi semakin menarik karena ketiga tokoh inilah yang membuat kisah Hoegeng dan dua kasus yang ditanganinya ini menjadi lebih hidup dan seru untuk dibaca.


Melalui novel yang dikerjakan hampir setahun dengan riset pustaka yang serius dan wawancara dengan keluarga Alm. Hoegeng penulis juga menyuguhkan latar peristiwa-peristiwa sejarah dan sosial yang terjadi di Indonesia semasa Hoegeng menjadi Kapolri sehingga kita bisa belajar sejarah melalui novel ini. Di luar dua kasus besar yang ditangani Hoegeng terungkap juga bagaimana sulitnya Hoegeng menerapkan peraturan pemakaian helm bagi pengendara motor yang mendapat banyak tantangan dari masyarakat sampai-sampai Hoegeng diisukan memiliki pabrik helm sehingga mengeluarkan kebijakan tersebut.

Secara keseluruhan novel ini berhasil mengungkap dengan baik seluk beluk dan kerumitan penanganan dari dua kasus besar yang benar-benar pernah terjadi ini dalam balutan dramatisasi fiksi yang menarik. Namun sayangnya porsi pengungkapan dua kasus ini terlalu mendominasi kisahnya sehingga porsi dan ketokohan Hoegeng sendiri tampak sedikit tenggelam padahal sub judul novel ini adalah "Sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng". Sub judul tersebut tentunya akan menggiring pembaca pada persepsi bahwa mereka akan banyak mendapat kisah kehidupan Hoegeng sebagai seorang polisi.

Walau demikian, sekalipun tidak banyak, penulis tetap menyertakan kilasan-kilasan kehidupan Hoegeng mulai dari awal kariernya di kepolisian hingga masa pensiunnya sehingga pembaca dapat melihat sosok dan keteladanan Hoegeng sebagai polisi yang berdedikasi, jujur, dan sederhana. Hal ini antara lain terungkap ketika Hoegeng ditugaskan sebagai Kadit Reskim Sumatera Utara.

Ketika itu di dalam rumah dinasnya, ditemukan barang-barang mewah kiriman seorang pengusaha yang mengaku sebagai Ketua Panitia Selamat Datang.

Tentu saja, Hoegenge menolak sambutan itu. Namun, si tukang suap ternyata bukan orang yang mudah menyerah. Ia tak menghiraukan penolakan Hoegeng yang meminta barang-barang itu diambil kembali. Sehingga, sampai batas waktu yang ditetapkan, Hoegeng akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk mengeluarkan barang-barang itu dari rumah dinasnya. (hlm 129-130)


Selain hal di atas masih ada beberapa kisah lain yang mengungkap kejujuran dan dedikasi Hoegeng pada tugas yang diembannya sehingga novel ini patut dibaca oleh siapapun di tengah langkanya figur seorang pemimpin teladan di tengah-tengah kita. Dipaparkannya dua kasus besar yang sarat konflik kepentingan di masa Hoegeng bertugas di tahun 70an ini menyadarkan kita bahwa keadilan yang hampir tidak pernah dirasakan rakyat kecil seperti Sumaryah dan kasus kejahatan yang yang melibatkan instasi oknum-oknum di jajaran pemerintahan tetap saja masih terjadi di jaman ini. Apakah ini menandakan bahwa dalam segi hukum dan keadilan negara kita hanya "berjalan di tempat" ?

@htanzil
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
August 18, 2015
Adalah baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik


Pertama kali saya membaca Untung Surapati karya Mas Yudhi, saya hampir tak bisa berhenti membacanya. Menurut saya, Mas Yudhi cakap sekali menyusun cerita yang berdasarkan sejarah. Alurnya mengalir dengan apik dan lancar, seakan akan kita ikut ada di sana menyaksikan kisahnya. Maka ketika ia menerbitkan satu lagi bukunya yang berhubungan dengan sejarah, saya langsung memasukkannya ke dalam daftar baca.


Halaman terakhir menceritakan tentang Hoegeng, mantan Kapolri yang punya riwayat membanggakan. Ada kisah- kisah yang belum selesai saat Hoegeng lengser dari jabatan Kapolri, tetapi ada dua yang merupakan kasus besar yaitu Sum Kuning dan Cahaya. Sum kuning merupakan kasus pemerkosaan seorang gadis penjual telur di Yogyakarta, sedangkan Cahaya merupakan kasus penyelundupan mobil-mobil mahal ke Indonesia.


Sebagai Kapolri, Hoegeng mengikuti perkembangan kasus Sum meski tempat kejadian berjarak ratusan kilometer dari markas besarnya. Sum mengaku telah diperkosa di dalam mobil kombi merah oleh empat orang pemuda. Tetapi polisi setempat mencoba menutup nutupi kasus ini, bahkan mengambil kambing hitam sebagai pelakunya. Desas desus mulai bermunculan, banyak pihak yang menyebutkan bahwa polisi berpura pura menutup mata karena salah satu tersangka memiliki hubungan kekeluargaan dengan seorang Jenderal besar. Apa benar demikian?

Sementara itu, di Jakarta sedang mencuat kasus penyelundupan mobil mewah. Hal yang paling menyesakkan Hoegeng tentang kasus ini, kelak, adalah karena tersangka memiliki hubungan dengan orang yang selama ini sangat dihormati Hoegeng. Sejak itu ia tahu, ia tak akan pernah bisa menyelesaikan kasus ini, bahkan sampai ia lengser dari jabatannya.


Ternyata seperti dugaan saya, buku ini selesai saya baca hanya dalam semalam hari. Padahal biasanya mah saya selalu tersendat sendat saat membaca hal hal yang berhubungan dengan sejarah. Alurnya cepat, gerak gerik tokohnya dilukiskan dengan apik dan membuat pembacanya penasaran, seberapa besar sih masalah yang dihadapi Hoegeng ini. Melalui buku ini juga kita seakan kembali lagi ke Indonesia puluhan tahun lalu, dengan latar yang diceritakan secara sederhana tapi tetap mampu mepermudah pembaca membayangkan adegan demi adegannya.


Karena buku ini juga, saya jadi mencari tahu sejarah dan sepak terjang Hoegeng, karena jujur saja sebelumnya saya tak tahu Hoegeng itu siapa. Apa sih yang membuat beliau menjadi sosok istimewa? Ya, ternyata setelah membaca buku ini saya baru tahu kebaikan dan ketulusan seorang Hoegeng. Sebagai seorang petinggi, ia jeli dan tegas saat menilai atau menghadapi suatu kasus. Bahkan meski kasus tersebut berada di luar Jakarta, ia sebagai Kapolri terus mengawasi bahkan jika perlu turun tangan membantu penyelidikan. Sebagai seorang pribadi, Hoegeng memiliki sifat ramah dan perhatian bahkan terhadap anak buahnya. Ia juga sangat menyayangi istri dan keluarganya dan yang lebih utama, ia adalah seorang yang amat jujur. Contohnya saja ketika istrinya ingin pulang menengok ayahnya yang sakit di luar negeri, meski sang istri dapat sumbangan uang dari saudara saudaranya, tapi dengan berat hati Hoegeng tak mengijinkannya pergi sebab Bagaimana kalau nanti orang orang mengira uang tersebut bukanlah uang "halal"? Atau ketika Hoegeng dan sang istri memiliki toko bunga yang kemudian ditutup, karena bagaimana kalau kemudian setiap ada acara, banyak kolega yang memesan rangkaian bunga ke toko mereka? Bukankah itu akan mematikan penjualan toko bunga lainnya? Duh, saya rasa istri Hoegeng juga punya hati yang sama luasnya seperti milik beliau.


Ah sebuah cerita yang apik dan berkesan, memberi teladan bagi kita agar selalu berusaha untuk bersikap jujur.



Nah, saya juga punya sedikit ngobrol sama Mas Yudhi, sang penulis Halaman Terakhir. Orangnya baik banget, diemail aja mau njawab loh.. XD

Penasaran? cek di blog yak :p
orybooks.com
Profile Image for ❦.
203 reviews6 followers
April 24, 2025
“Selesaikan saja tugasmu dengan kejujuran. Karena, kita masih bisa makan nasi dengan garam.”

★ 3,5/5

'Halaman Terakhir' adalah novel fiksi sejarah yg mengangkat kisah nyata Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, sosok legendaris yg dikenal karena integritas dan kejujurannya. Novel ini berfokus pada dua kasus besar yg ditangani Hoegeng menjelang akhir masa jabatannya sebagai Kapolri, yaitu kasus pemerkosaan Sumaryah di Yogyakarta dan kasus penyelundupan mobil mewah di Jakarta pada era Orde Baru. Dari dua kasus tersebut, aku menemukan banyak sekali isu sosial dan politik yg terlihat di novel ini dan isu tersebut masih sangat relevan hingga masa kini. Diantaranya, isu tentang polisi yg tidak memihak ke rakyat namun malah memihak ke penguasa, hukum yg tumpul ke atas dan tajam ke bawah, susahnya menuntut keadilan bagi rakyat biasa, isu pembungkaman pers, penyalahgunaan kekuasaan, dan upaya berita pengalihan isu.

Melalui narasi yg mendalam pada novel ini, aku diajak menyelami dilema moral dan tekanan politik yg dihadapi pak Hoegeng dalam upayanya menegakkan keadilan di tengah sistem yg korup.

Menurutku, kekuatan di novel ini terletak pada riset mendalam dan kemampuan penulis dalam menghidupkan kembali peristiwa sejarah dengan gaya penulisan yg mengalir dan emosional. Novelnya sendiri memang page-turning. Tiap bab, isi halamannya hanya sedikit, jadi tak terasa sudah membaca banyak halamannya. Hanya saja, alurnya terasa terlalu cepat dan terburu-buru sehingga ada banyak detail yg terlewat.

Oh, iya, karakter pak Hoegeng pun digambarkan dengan kompleksitas yg manusiawi, membuatku merasa dekat dan respect dengan prinsip hidupnya. Namun, ada banyak detail sejarah yg cukup padat sehingga terasa agak membebani alur cerita yg menurutku sebaiknya tidak perlu dimasukkan. Juga, sayang sekali, kedua kasus yg dibahas tidak dijelaskan lebih detail mengenai proses penyelesaiannya. Penulis seakan hanya menceritakan kasus tersebut secara garis besarnya saja sehingga banyak bagian yg terlewat dan kurang lengkap, (ini menurutku lho yaaa). Mungkin pada masa itu akses sumber informasinya masih sangat terbatas? Apalagi kasus yg dibahas merupakan kasus besar dan sangat sensitif di era Orde Baru. Hehe, you know lah...

Selama membaca, aku merasakan campuran emosi antara kagum, prihatin, juga penuh harapan. Bagiku, novel ini tidak hanya menyuguhkan kisah tentang seorang tokoh teladan, tapi juga mengajak kita refleksi tentang pentingnya integritas dan keberanian dalam menghadapi ketidakadilan. Sebuah bacaan yg cocok di masa sekarang ini, di mana sosok seperti Hoegeng sudah sangat jarang sekali ditemukan —atau bahkan sudah tidak ada sama sekali— di lingkungan kepolisian. #ReadingIsRebellion #CabutUUTNI #SupremasiSipil

“Apa kau perhatikan? Semakin banyak kasus yang datang dan pergi. Tapi, semakin sering mereka hanya datang, dan sedikit saja yang bisa terselesaikan.”
Profile Image for hllreka.
122 reviews7 followers
October 27, 2021
Buku ini beneran asyik dan apik banget! Kisah yang ditawarkan memang berlatar sejarah Indonesia pada orde baru namun menurutku sendiri bukan tipe novel sejarah yang bikin ngantuk.

Melalui POV orang ketiga, novel ini menitik beratkan pada dua kasus utama yaitu *Kasus Sum Kuning dan penyelundupan mobil mewah. Selama kedua kasus tersebut berjalan disini karir Hoegeng sebagai Kapolri sedang diuji. Bagaimana beliau menuntaskan dan membongkar kejanggalan-kejanggalan yang ada? Seperti apa “jalan” yang ia pilih untuk menyelesaikan perkara yg ada?

Penulis berhasil meramu dan memadukkan dua kisah utama dengan cakap dan sangat mengalir. Cerita pada tiap babnya tidak dijelaskan begitu panjang dan perpindahan antar satu cerita dengan cerita lain di rajut dengan sangat rapih oleh penulis. Pengenalan setiap karakternya juga terbilang singkat, mereka adalah orang-orang yang memang terhubung langsung dengan kasus utama.

Harus kuakui bahwa sosok Pak Hoegeng membuatku kagum. Aku menyadari satu hal utama melalui kisah beliau bahwa kejujuran dan bersikap jujur adalah elemen penting dalam kehidupan. Sehebat apapun diri manusia mereka tidak akan bisa lepas dari nilai kejujuran. Pun selain itu, dari kasus yang dibahas dalam novel sedikitnya menyenggol isu sosial dan permainan “politik”. Dimana orang2 diatas sana bisa “menyihir” segala sesuatu yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh orang biasa. Gak heran ya karena buku ini memang berusaha menceritakan kembali apa yang terjadi di balik kasus Sum Kuning yang masih menjadi misteri.

Walau begitu sosok Pak Hoegeng sungguh sangat membekas hingga akhir. Semoga dengan banyaknya pemuda pemudi yang ingin bergelut di dunia kepolisian dan mengabdi pada Negara bisa mengambil contoh dari sosok beliau ini.

Akhir dari ulasan yang amatir dan subjektif, membaca buku ini sensasinya kayak lagi baca buku memoar. Banyak hal yang bisa didapatkan melalui novel Halaman Terakhir. Pada kesempatan berikut sepertinya aku akan membaca karya lain dari penulis 🔥
Profile Image for Qothrunnada.
100 reviews9 followers
September 8, 2021
3,8⭐️
Jadi di novel ini ada 2 kasus, Sumaryah & penyelundupan mobil mewah.
Untuk kasus pertama, Sumaryah, cukup bikin greget. Why? Soalnya muter mulu ga nemu jalan ujungnya. Tapi bener2 mencerminkan kondisi hukum di Indonesia sih. HAHAHA ceilah. Sampai aku nyelesaiin buku ini, masih belum nemu titik terang sebenernya siapa pelakunya. Soalnya hasil vonisnya menurutku aneh gitu.
Untuk kasus kedua, fast-paced bgt ngebut broom broom HAHA. Salut sm penulisnya karena berani bawa nama salah satu nama keluarga di Indonesia wehehehe. Coba ini terbit pas jaman dulu kyknya bakal disita deh lol peace.
Dari segi keseluruhan novel, bahasa n narasinya bagus, nggak kaku. Trus kalo ada kata2 bahasa jawa, langsung dicantumin pengertiannya di bawah jadi pembaca non Javanese speakers gaakan kesulitan.
Cuma yg disayangkan, aku kira dari dua kasus itu bakal ada benang merahnya :( ternyata tidak. Penyelesaian kasusnya sebenernya kurang greget sih buat kasus Sumaryah, tapi realistis sih lol. Dan sebenernya kalo di buku ini diulas kasus Sumaryah aja menurutku lebih bagus sih, jadi nggak overlapping sama kasus kedua, penyelundupan mobil.
And instead of historical fiction, this book is actually an pseudobiography.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
May 29, 2015
Jika penulis buku ini mengatakan di pengantar-nya, ‘saya mungkin terlambat’, maka saya sebagai pembaca jelas sudah terlambat. Jujur saja, saya baru mendengar nama seorang Hoegeng. Tapi dua kisah utama di dalam buku ini, Sum Kuning dan Penyelundupan Mobil Mewah, saya pernah mendengar dan mengetahuinya meski hanya samar-samar.

Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso, menjabat sebagai Kepala Polisi Negara (sekarang disebut sebagai Kapolri) pada awal masa Orde Baru. Kala itu, di Yogyakarta ada sebuah kasus penculikan dan pemerkosaan seorang gadis penjual telur bernama Sumaryah. Menurut keterangan korban, dia diculik dan diperkosa oleh empat orang pria di dalam sebuah mobil Kombi berwarna merah. Masa itu tidak banyak orang yang mempunyai kendaraan roda empat mewah, apalagi berwarna merah yang mencolok. Dengan bantuan seorang wartawan, Djaba Kresna, kisah Sumaryah mulai menjadi pusat perhatian.

Sayangnya, polisi di Yogyakarta menilai laporan Sumaryah adalah palsu. Ketika Djaba Kresna menyelidiki kasus ini lebih lanjut, ternyata ada salah satu pelakunya masih kerabat dekat “orang penting” yang punya koneksi ke Kepolisian. Wajar saja, kasus ini lantas dibelokkan. Namun jauh di Jakarta, Hoegeng merasakan ada yang janggal dari cara bawahannya menyelesaikan kasus ini. Dia lantas membentuk tim khusus untuk menyelidikinya.

Di saat yang hampir bersamaan, Hoegeng juga sedang menangani kasus penyelundupan mobil mewah oleh seorang broker bernama Soni Cahaya. Ketika polisi sudah berhasil melakukan penyergapan dan menangkap Cahaya, ada pihak lain yang memberikan jaminan kebebasannya. Hasil penyelidikan memaparkan fakta bahwa ada banyak pejabat yang ikut terlibat dalam kasus ini, salah satunya adalah keluarga Cendana.

Dua kasus yang tidak terselesaikan bagi Hoegeng ada pada saat akhir masa jabatannya. Dua kasus yang (mungkin) memegang andil datangnya surat khusus yang menyatakan jabatan Hoegeng dialihkan menjadi Duta Besar Kerajaan Belgia. Seorang polisi jujur semacam Hoegeng tidak serta merta menerima isi surat tersebut. Dia memilih untuk keluar dari Kepolisian.

Membaca semibiografi Hoegeng di kala pemberitaan mengenai adanya kisruh antara dua lembaga penegak hukum (KPK dan Polri) membuat saya ingin sekali sosok Hoegeng ini kembali hadir di dunia nyata. Beliau sendiri telah berpulang ke Yang Maha Kuasa pada tahun 2004, setelah menjalani masa pensiun yang terkekang. Novel ini membantu saya mengenal seorang sosok polisi jujur yang pernah mewarnai perjalanan sejarah bangsa ini.

“Selesaikan saja tugasmu dengan kejujuran. Karena, kita masih bisa makan nasi dengan garam.”


Novel semibiografi ini tidak membosankan bagi saya. Diwarnai kasus Sumaryah yang menyinggung masalah HAM bagi kaum kecil membuat saya penasaran bagaimana akhir dari kasus ini. Mungkin ada dari kalian yang pernah menonton film Perawan Desa, sedikit mendapat gambaran dari kasus ini. Sum Kuning atau Sumaryah dalam novel ini mewakili golongan rakyat kecil yang tidak bisa melawan kekuasaan besar. Peran wartawan dalam kasus ini juga memberi andil dan mewarnai gejolak kecil di awal Orde Baru. Namun seperti yang sudah kita ketahui bersama, Orde Baru adalah masa dimana kekuasaan satu pihak bisa membungkam satu negeri.

Saya sempat iseng bertanya pada suami saya, sebelum membaca buku ini apakah dia tahu siapa Hoegeng. Ternyata dia tahu…#ups. Saya merasa harus berterima kasih kepada penulis karena telah menghadirkan novel ini. Seandainya novel ini tidak ada, mungkin saya tidak akan mengenal siapa Hoegeng, seorang polisi jujur.
Profile Image for raafi.
934 reviews453 followers
November 3, 2015
Hari itu Hoegeng dipanggil Pak Presiden, ditawari untuk menjadi duta besar di salah satu negara di Eropa. Hoegeng sudah tahu tentang desas-desus pencopotan jabatan dirinya sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Hoegeng bertanya-tanya apa karena kinerja buruknya atau ada hal lain yang membuatnya harus bernasib seperti itu. Apalagi ada dua kasus besar yang masih harus dituntaskan olehnya.

Pemerkosaan Sum Kuning dan penyelundupan mobil mewah adalah dua kasus nasional terbesar pada saat Hoegeng menjabat di kepolisian. Integritasnya sungguh diuji. Apakah kedua kasus itu akan terselesaikan dengan tuntas? Lalu, apakah Hoegeng akan menerima tawaran duta besar itu?

Ulasan lengkapnya: http://bibliough.blogspot.co.id/2015/...
Profile Image for The Book Club Makassar.
127 reviews9 followers
Read
December 26, 2021
Buku ini mengambil setting tahun 1968-1970 sat Pak Hoegeng menjabat sebagai Kepala Kepolisian RI. Walau diklaim fiksi, tapi isi buku ini diceritakan berdasarkan peristiwa dan kejadian yang sebenarnya terjadi dengan perubahan nama beberapa tokoh karena sudah pasti sangat sensitif. Dua kasus yang dihighlight di cerita ini adalah kasus pemerkosaan Sum yang aslinya dikenal dengan Kasus Sum Kuning dan kasus penggelapan mobil mewah. Kasus pemerkosaan Sum, seorang gadis penjual telur sangat tragis saat ia melaporkan kasusnya ke polisi tetapi malah dituduh berbohong dan justru disiksa oleh polisi karena disangka anggota Gerwani. Kasus yang harusnya sangat mudah diselesaikan ini menjadi panjang karena menyeret nama-nama anak pejabat sat itu. Begitupun dengan kasus penyelundupan mobil mewah yang melibatkan banyak sekali oknum petinggi-petinggi Indonesia yang berlindung di bawah kekuasaan pemerintahan Orde Baru.

Karir Pak Hoegeng sebagai Kapolri hanya bertahan cukup singkat dikarenakan kegigihannya untuk mengungkap dua kasus tersebut tanpa pandang bulu. Sayangnya ketegasan Pak Hoegeng mengusut dua kasus tersebut menyebabkan jabatannya sebagai Kapolri secara tiba-tiba diserahkan ke orang lain, dan Pak Hoegeng diperintahkan untuk pindah ke luar negeri menjadi Duta Bear. Sebagai sook yang sangat mencintai negerinya sendiri, Pak Hoegeng menolak perintah tersebut dan lebih memilih mengundurkan diri. Lebih jauh buku ini juga membahas bagaimana sederhananya sook Pak Hoegeng dalam kehidupan sehari-harinya walaupun memiliki jabatan tinggi di pemerintahan. Bagian paling sedih tentu saja sat Pak Hoegeng berhenti bertugas dan menjadi warga biasa dengan mengembalikan semua fasilitas kantor termasuk rumah dan kendaraan yang diberikan kepadanya. Sungguh menyesakkan dada saat Pak Hoegeng kesulitan mencari rumah kontrakan dengan mengendarai bus umum karena beliau merasa tidak berhak lagi menempati rumah serta mobil dinas Kapolri yang dulu dipakainya.

Membaca buku ini memberikan pembelajaran mental tersendiri bagaimana seharusnya kita menjunjung tinggi integritas dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Pak Hoegeng akan selalu dikenang sebagai seorang sook polisi jujur dan bersahaja yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia.

*Review by Any
Profile Image for Halimah Syofarah.
26 reviews27 followers
November 26, 2017
Pertama kali mengetahui sosoknya ketika melihat instagram @videosejarah, ada sebuah video di mana seorang polisi dgn cara yang lembut menegur para tukang becak hingga mereka mau 'tunduk'. Di situ saya mulai terkesan.

Beberapa minggu kemudian secara tidak sengaja saya dipertemukan dgn buku ini. Padahal tadinya saya ingin membeli novel Agatha Christie tapi malah buku ini yg saya bawa ke kasir. Menyesal? tidak sama sekali! Banyak sekali keteladanan yg bisa diambil dari sosok Kapolri pertama RI ini. Saya baru tau kalau ternyata beliau yg pertama kali mewajibkan pemakaian helm saat berkendara motor dan ternyata banyak sekali pertentangan dari masyarakat kala itu bahkan ia sampai difitnah memiliki pabrik helm. Beliau yg dgn keraskepalanya dalam menegakkan kebeneran dan keadilan, serta kecerdasannya dalam menyelidiki kasus2 membuat saya (untuk pertama kalinya) terkesan dgn seorang polisi. Terlebih integritasnya yg luar biasa. Seperti saat anak laki2nya ingin menjadi Angkatan Laut yg dalam prosedurnya membutuhkan tanda tangan orang tua pada sebuah form, Pak Hoegeng hanya mendiamkan kertas tsb hingga lewat deadline dan anaknya tidak bisa mewujudkan mimpinya jd AL. Yg ada dalam pikirannya adlh jika ia menandatanginya dan tertulis nama nya, pasti kemungkinan anaknya otomotatis diterima sbg AL sangat besar krn jabatannya yg saat itu sdg mjd Kapolri, dan baginya itu sangat tidak adil bagi orang lain. Pun ketika istrinya ingin membuka toko bunga, beliau melarang karna ia khawatir akan menghalangi 'rejeki' toko2 bunga lain. Woah! zaman skrg sprtinya malah akan dijadikan sbg "kesempatan emas" dgn jabatan yg dipunya.

Namun sayangnya, kekuasaan pada masa itu sangat otoriter, ketika pak Hoegeng sedang memperjuangkan selesainya sebuah kasus penyelundupan, ternyata ada klg Cendana terlibat di dalamnya. Part ini bikin kaki lemes sih bacanya! hingga akhirnya beliau diberentikan sbg Kapolri dan dipindah tugaskan mjd diplomat di Belgia, namun ia menolaknya.

Terima Kasih, Pak Hoegeng! Harapku semoga para 'penerusmu' bisa meneladanimu agar selamat negeri ini :")
Profile Image for Anhie Greenish.
400 reviews4 followers
November 4, 2020
Menerima pemberian pertama itu seperti menaruh kuman di lengan. Akan terasa sedikit gatal, lantas kita akan menggaruknya pelan-pelan dengan rasa nikmat luar biasa. Makin sering dan makin banyak diterima, gatal itu akan semakin intens, menggaruknya pun harus semakin keras, hingga bernanah. Karena itu, jauhi kuman dan upayakan untuk jangan sampai menempel pada bagian tubuh kita. Uang akan membuat tubuh kita selalu gatal bagai luka korengan.


Kemana saja saya selama ini baru mengenal sosok Hoegeng setelah membaca buku ini! Saya tidak pernah tahu ada sosok polisi jujur bersahaja yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia, walaupun ending kisah Pak Hoegeng sungguh menyakitkan hati, seandainya saja sosok Pak Hoegeng bukan di era Orde Baru melainkan di masa sekarang, mungkin akan ada sedikit harapan untuk negara ini, sad :(

Buku ini walau diklaim fiksi, tapi diceritakan berdasarkan peristiwa dan kejadian yang sebenarnya terjadi dengan perubahan nama beberapa tokoh karena sudah pasti sangat sensitif. Dua kasus yang dihighlight di cerita ini adalah kasus pemerkosaan Sum dan kasus penggelapan mobil mewah yang sudah jelas merupakan ulah pejabat-pejabat yang berlindung di bawah kekuasaan pemerintahan Orde Baru (You Know Who). Karir Pak Hoegeng sebagai Kapolri hanya bertahan cukup singkat dikarenakan kegigihannya untuk mengungkap dua kasus tersebut tanpa pandang bulu. Bagian paling sedih tentu saja saat Pak Hoegeng memilih untuk mengundurkan diri karena tidak bersedia dipindahkan ke luar negeri setelah jabatan Kapolri nya diberikan kepada orang lain.

Lebih jauh buku ini juga membahas bagaimana sederhananya sosok Pak Hoegeng dalam kehidupan sehari-harinya walaupun memiliki jabatan di pemerintahan. Membaca ini memberikan pembelajaran mental tersendiri bagaimana seharusnya kita menjunjung tinggi integritas dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan.
Profile Image for Laili Nur.
5 reviews1 follower
August 30, 2017
Halaman terakhir

Novel dengan genre seperti ini merupakan salah satu santapan favorit saya. Bukan hanya menghibur dengan alur ceritanya yang menarik tapi juga memberikan informasi sejarah yang cukup berharga.

Pak Hoegeng Imam Santosa, mungkin kalau tidak membaca novel ini saya tidak akan mengenal sosok ini. Sosok polisi yang tegas, berani dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Beliau adalah polisi yang berani menumpas kasus kriminal tanpa pandang bulu.

Novel ini mengangkat kasus-kasus besar yang yang pak Hoegeng tangani di masa-masa akhir jabatannya. Diantaranya dua kasus yang cukup menjadi perhatian masyarakat pada masa itu, yaitu kasus penculikan sekaligus pemerkosaan seorang gadis desa bernama Sumaryah dan kasus penyelundupan mobil mewah, yang diduga pelakunya berhubungan dengan orang penting di negeri ini.

Selain itu, dalam novel ini juga muncul sosok wartawan yang memiliki kredibilitas tinggi dalam dunia jurnalis, yaitu Djaba Kresna. Dia merupakan wartawan pertama yang berani menulis berita tentang Sumaryah yang pada akhirnya menjadi sebuah kasus yang besar.

Pak Hoegeng pensiun (atau lebih tepat dipensiunkan) disaat kedua kasus besar ini belum selesai terungkap. Namun meskipun beliau sudah pensiun, beliau masih tetap menaruh perhatian terhadap kasus-kasus tersebut dan masih kooperatif terhadap kepolisian.

Mungkin itu saja review dari saya.
Semoga dengan sering membaca novel sejarah dapat menumbuhkan rasa nasionalisme kita dan dapat lebih menghargai jasa-jasa pahlawan di negeri tercinta kita ini.

Happy reading!!!
Profile Image for Umiiild.
12 reviews1 follower
August 6, 2023
Berawal dari aku yang penasaran dengan novel yang berkisahkan sejarah Indonesia, di tahun 2020 seorang sahabat merekomendasikan novel ini.
Satu kata yang terlintas sesuai akh menamatkan novel ini:

Menyesal

Iya aku menyesal karna tidak sedari dulu mengetahui novel ini.
Novel ini menceritakan tentang kisah juang seorang Jendral, yang kita kenal dengan sosok sederhana dan karakternya yang tegas: pak Hoegeng Iman Santoso
Kapolri ke 5 sekaligus polisi terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia
Novel ini mengisahkan 2 kasus besar yang tak pernah terpecahkan oleh pak Hoegeng karena beliau terlanjur 'dituakan' oleh rezim yang berkuasa.
Sungguh kisah beliau ditulis dengan sangat manis di buku ini.
Dimulai dari latar tempat dan waktu yang membawa kita dengan sempurna menuju tahun 60an, saat dimana peraturan helm pertama di keluarkan.
Pembangunan karakter yang di tulis dengan sempurna sehingga benar benar kuat untuk dikenang para pembaca.
Tata bahasa yang mudah dimengerti serta alur yang rapi hingga klimaks cerita.
This entire review has been hidden because of spoilers.
41 reviews1 follower
November 14, 2018
Buku yang sangat baik untuk dibaca. Meskipun cerita fiksi, namun sebagian besar baik dari percakapan bersama orang penting (presiden, dll.) ataupun kisah zaman itu tidak banyak diubah, atau berdasarkan fakta sejarahnya. Sehingga sangat cocok bagi pecinta buku sejarah.

Sosok Hoegeng sendiri tidak banyak yang tau siapa beliau, sehingga buku ini mampu memberikan gambarannya, terutama sifat kejujurannya yang patut dicontoh semua kalangan. Buku ini seakan membuat harapan jika saat ini kita rindu dengan sosoknya atau seseorang sepertinya, dimana merupakan Polisi yang diidamkan dan dirindukan yang menjunjung tinggi nilai kejujuran. Ia juga bertindak sangat berani dalam mengambil keputusan, disamping dua kasus (pemerkosaan, penyelundupan mobil mewah) yang sedang dikerjakan harus ditinggalkan begitu saja, meskipun ia tidak mau bahkan dengan hasil yang kurang memuaskan (adanya keterlebitan orang penting).

Menurutnya, "adalah Baik menjadi Orang Penting, tapi Lebih Penting menjadi Orang Baik."
Profile Image for Queennara.
5 reviews1 follower
July 3, 2022
Selalu suka sama novel sejarahnya om Yudhi. Walaupun temanya 'Sejarah' tapi gak bikin pusing/bosan. Cukup tebal bukunya tapi gak kerasa kalau bukunya udah habis dan it feels like aku masuk di dunia cerita itu, real banget.

Aku senang sekali bisa mengenal sosok Jenderal Hoegeng karena beliau adalah sosok yang menginspirasi banyak orang termasuk aku dan sifatnya yang tidak pernah curang. Kisah beliau sangat cocok jika dibuat buku seperti ini. Seru, menegangkan, dan pastinya menambah ilmu pengetahuan kita.

Kekurangannya mungkin ada beberapa yang bahasanya yang aku kurang mengerti membuat terjadi sedikit kelambatan dalam proses membaca buku ini.
Profile Image for Aprianto Nugraha.
100 reviews2 followers
January 2, 2019
Buku ini. sebenarnya meninggalkan kesan yang campur aduk. Pertama, saya suka karna penulis sangat berusaha supaya alur cerita seotentik mungkin. Namun, saya merasa kurang ada konflik di novel ini. Saya sebenarnya ingin sekali penulis berfantasi lebih banyak tentang Sum Kuning, namun konflik nya justru lebih terasa di kasus Robby Tjahyadi.

Penulis sebenarnya menggunakan nama lain untuk tokoh - tokoh diatas. Kalau saya sudah tidak menuliskan review lagi, berarti saya sudah ditjidoek.
Profile Image for Gita.
116 reviews2 followers
November 1, 2019
Sebenernya saya ga terlalu tertarik sama dunia kepolisian karena banyak banget divisinya, bikin bingung, ini karena ada benang merah ceritanya aja dan ada sejarahnya jadi saya tertarik baca.
Setelah baca, saya bingung mau kasi rating berapa, mungkin rating sebenernya 3,5. Nilai plus untuk kejujuran penulis menuturkan cerita yang based on true story ini. Ceritanya mengalir aja, saya kagum sama keteguhan hati Hoegeng memegang nilai-nilai nuraninya, sekaligus "seremnya" pemerintah pada masa itu
Profile Image for Naduls.
5 reviews
January 9, 2023
Meskipun novel ini bertemakan sejarah tapi gak bikin bosan bacanya. Sehari baca bisa langsung kelar. Latar belakang tahun 60-70an masih masuk dalam imajinasi pembaca karena cukup detail. Bagusnya lagi dibagian akhir, penulis mengatakan bahwa tidak banyak fakta tentang pak Jendral Hoegeng yg dilebih²kan atau dikurangi jadi bisa sekaligus belajar sejarah juga.
2 reviews
August 11, 2017
Simple..., enak dibaca..., jadi tau sosok Jend. Polisi Hoegeng...
Profile Image for Nará..
10 reviews
June 19, 2022
Pelajaran hidup dan dedikasinya terhadap arti kejujuran yang diberikan Pak Hoegeng dalam novel Halaman Terakhir ini benar-benar layak jadi panutan setiap orang. Apik!
Profile Image for B-zee.
580 reviews70 followers
May 24, 2015
Yogyakarta di dekade ketiga pasca kemerdekaan menjadi saksi bisu atas kasus pemerkosaan yang dialami oleh Sumaryah, si penjual telur yang baru berusia 16 tahun. Jalanan di Jakarta tahun 1970an ikut menjadi saksi bisu atas mobil-mobil mewah yang tiba-tiba memenuhinya. Dan Mabak Polri (Markas Besar Kepolisian) saat itu, punya kisahnya sendiri.

Kasus Sumaryah terjadi pada suatu senja yang sepi. Saat sedang berjalan sendirian, gadis lugu itu dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil, dibius, dan digilir oleh tiga laki-laki di dalam mobil tersebut. Tidak ada saksi mata, hanya kelebatan ingatan Sumaryah saat sekali waktu dia tersadar, atau mungkin saat sedikit kesadarannya masih ada. Mulanya, kasus ini semacam kejahatan biasa, tetapi sejak Djaba Kresna, jurnalis harian Pelopor, mengangkat kasus ini dalam tulisan-tulisannya, serta menerbitkan dugaan-dugaan berikut investigasi amatirnya, kasus ini semakin ramai, hingga terdengar di Jakarta. Kesimpulan Kresna mengarah pada sebuah keluarga yang cukup berada, mengingat jenis mobil yang cukup mewah, serta deskripsi yang cocok dengan yang dikatakan oleh Sumaryah. Namun, kepolisian daerah dan pengadilan semacam mencari-cari celah tidak logis, serta menempatkan Sumaryah—yang notabene adalah korban—seperti penjahat itu sendiri. Hal ini semakin menguatkan adanya ‘permainan’ yang dilakukan untuk melindungi pihak-pihak tertentu. Oleh karena rumitnya kasus ini, Hoegeng sampai-sampai mengirim tim investigasi khusus dari Jakarta untuk membantu.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, Polri sedang meyelidiki kasus penyelundupan mobil-mobil mewah. Rangkaian penyelidikan panjang, penyamaran, hingga pengejaran sudah dilakukan dengan hasil yang cukup memuaskan. Akan tetapi, ternyata kejahatan beromset puluhan juta rupiah ini teramat kuat untuk ditangani sendirian. Banyak pihak yang sudah terlanjur terlibat, dari dalam maupun luar negeri, dari petugas rendahan hingga pejabat. Pihak-pihak inilah; pihak-pihak yang ingin melindungi dirinya, pihak-pihak yang tak ingin kehilangan pendapatan tambahan yang sangat besar, yang sulit untuk dihentikan karena proses hukum yang berjalan belum bisa menghentikan mereka. Tantangan ini tak bisa dihadapi dengan cara-cara yang biasa.

Dua kasus tersebut dipilih oleh penulis sebagai sarana untuk menceritakan kisah hidup Jenderal Polisi Hoegeng yang pada saat itu menjabat sebagai Kapolri. Hoegeng yang dikenal dengan kejujuran dan ketegasannya cukup tercermin dari caranya menangani kasus-kasus ini. Tak sebatas itu saja, penulis juga dengan lihai menyusun sekilas potret-potret penting dari perjalanan hidup Hoegeng, mulai dari masa kanak-kanaknya, perjalanan pendidikan dan karirnya, kehidupan pribadi, serta—yang utama—peranannya dalam kepolisian yang mengantarkannya menuju kursi Kapolri.

Cara penulisan buku ini cukup mudah diikuti, dengan bab-bab pendek, bahasa yang mengalir, ritme yang teratur, hingga tak memerlukan waktu lama bagi saya untuk menyelesaikannya. Walaupun bukan jenis buku yang kisahnya akan mengejutkan kita, sesekali terselip juga adegan-adegan seru seperti pengejaran yang digambarkan dengan detail, termasuk bagaimana cara penulis mengakhiri kisah ini cukup membuat saya ingin segera menyelesaikan membacanya, apalagi bagian sejarah ini cukup asing untuk saya. Ini bukan kali pertama saya membaca fiksi sejarah karya penulis, tetapi perasaan bahwa fakta-fakta sejarah ditampilkan dengan terlalu kaku masih ada, meskipun tak sebanyak yang sebelumnya.

Read more... https://bacaanbzee.wordpress.com/2015...
Profile Image for Truly.
2,769 reviews13 followers
June 13, 2015
http://trulyrudiono.blogspot.com/2015...

Demi Allah, saya memang di-pusra di mobil!
Kalimat itu membuat saya, sesama perempuan, bisa merasakan kepedihan yang dirasakan oleh sosok Sumariyah. Sebagai gadis berusia sekitar 16 tahun berkulit sawo matang, yang dia tahu bahwa harga dirinya sudah terkoyak. Dan bukannya mendapat bantuan atas pengaduannya, ia justru ditahan atas tuduhan membuat laporan palsu. Sungguh mengenaskan nasibnya.

Sum sedang berjalan kaki sambil menunggu kendaraan umum ke arah rumahnya ketika sebuah mobil kombi berwarna merah menjajari langkahnya. Awalnya seorang pria berambut gondrong memaksa untuk mengantarnya. Tawaran tersebut ditolak halus Sum, bukannya berlalu justru muncul sosok lain dari tengah dan menari tangan Sum. Dan perbuatan bejat itu terjadi. Andai Sum mengikuti perasaan hatinya yang tidak enak untuk pergi dan membiarkan saja soal persediaan tekur dagangannya yang habis, atau tetap pergi namun mengikuti saran seorang kenek bus kenalannya untuk tetap menunggu kendaraan bukannya berjalan ke arah timur, mungkinkah kejadian tersebut bisa dihindari? Entah.

Kisah yang mengenaskan itu ditulis dengan bahasa sederhana tapi membuat emosi pembaca tercabik-cabik. Justru kaliamt sederhana tersebut yang membuat pembaca bisa merasakan bagaimana ketakutan dan penderitaan Sum. Dimulai dengan uraian bagaimana Sum berjualan, memutuskan untuk pulang, menunggu kendaraan, bertemu dengan mobil kombi merah, bagaimana peristiwa itu terjadi hingga dicampakkan bagaikan sampah. Kisah mengharu-biru tersebut bisa dibaca di halaman 11-15.
Displaying 1 - 30 of 41 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.