“Apakah mungkin seseorang yang hidupnya serba-biasa bisa terkoneksi dengan kandungan dan makna Al-Qur’an?”
BISA. Al-Qur’an tidak pernah pilih kasih. Ia datang bukan hanya untuk mereka yang tekun ibadah sepertiga malam, atau yang fasih mengkaji kitab. Ia juga menyapa tukang ojek, pedagang beras, ibu rumah tangga, artis, kalangan profesional, bahkan siapa pun yang merasa dirinya “biasa”. Syaratnya hanya satu: hati yang mau terbuka.
Lewat Ketika Qur’an Jatuh di Hati Hamba yang Merasa Biasa, Gus Nadir menghadirkan tafsir Juz ‘Amma dengan pendekatan baru: kisah naratif kontemporer yang memadukan makna ayat dengan pergulatan hidup sehari-hari—menginspirasi dan penuh hikmah.
Setiap bab ditutup dengan doa singkat yang menggugah, menjadikan buku ini bukan sekadar tafsir, melainkan perjalanan spiritual yang hidup—sebuah jembatan indah antara wahyu dan realitas, antara langit dan bumi.
“Buku ini menggunakan bahasa renyah dan mudah dipahami, membuat tafsir Qur’an tidak berjarak dengan realitas manusia masa kini yang kita hadapi sehari-hari.”
—Dr. Tb. Ace Hasan Syadzily, M.Si.
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Disclaimer: ini review bersifat personal yang lebih menghighlight "pengalamanku membaca ini" alih-alih tuduhan pada penulisnya.
Intro dulu, aku punya kebiasaan stalking penulis sebelum membaca buku nonfiksi (meskipun buku ini menyampaikan hal yang nonfiksi dengan cara fiksi). Penulis buku ini, Nadirsyah Hosen, saat ini terafiliasi ormas NU dan berkegiatan di Melbourne, Australia. Ia juga menganut paham islam liberal.
Kedua faktor di atas sebenarnya membuatku bimbang untuk membeli bukunya tetapi kubeli juga akhirnya. Toh ini buku tafsir, pikirku.
Konsep bukunya bagus, penulis juga banyak mengutip tafsir seperti Ibnu Katsir, At-Thabari, Al-Qurthubi, Al-Baghawi, bahkan tafsir lokal seperti Al-Azhar karya Buya Hamka. Meskipun untuk preferensi pribadiku kutipannya kurang padat, tetapi buku ini memang diciptakan demikian (tafsir yang menyenangkan dengan cerita alih-alih penuh pembahasan).
Untuk konten ceritanya... terkadang terkesan malas. Ada sih beberapa yang keren seperti Al-Muthaffifin dan Al-Alaq, ceritanya oke, tafsirannya pun enak (banyak rujukan dan gak maksa) dan dibantu oleh ceritanya (memahaminya lebih mudah). Bahkan pembahasan-tanpa-cerita seperti bab Alif-Lam-Mim pun oke.
Akan tetapi lebih banyak lagi yang sebaliknya. Cerita malas yang isinya seorang yang gundah membuka mushaf kecil sambil bergetar dan jadilah "konten reaksi membaca arti Qur'an". Jangan sampai cerita yang idealnya membantu menjelaskan tafsir malah bikin tambah njelimet. Malah bikin bingung "hah sik ki maksud e piye?".
Kritik selanjutnya yang membuatku memberi rating sejelek ini pada bukunya adalah saat aku membaca tafsir At-Tin. Kukira buku ini "aman" dari propaganda islam liberalnya, eh sama saja. Di sini diceritakan seorang Kiai, Romo, dan Rabi berjalan di Palestina... dan meskipun tiada yang salah, narasi soal "semua agama itu baik dan benar"-nya kentara benar. Mirip paham komunis di Madilog yang kentara meskipun bukan buku propaganda.
Ini masalah karena ini buku tafsir, bukan buku propaganda. Ceritanya oke aja kalau diceritakan di buku yang bukan buku tafsir, misal buku kemanusiaan. Jika ditempatkan di sini, jadinya misleading. Seakan Nadirsyah Hosen sedang bermain-main di batas sesat. Aku sama sekali benci tulisannya di surah itu.
Selanjurnya, ini adalah setengah kritik setengah pengalaman pribadi. Aku tak bisa membuktikan, tetapi buku ini banyak sekali indikasi penggunaan AI-nya. Jika anda sering menggunakan AI untuk menulis, mungkin ciri-cirinya kentara. Penggunaan kata "tetapi" yang sebenarnya tidak make sense, dipakai agar ada feels "kejutan"-nya. Misal "bukan hanya X, tetapi juga Y". Ciri lain adalah penggunaan em dash (—). Semua ini buanyak banget bertebaran di bukunya, contoh: - Bukan sekedar dilalap neraka, melainkan terhalang dari melihat Allah—kenikmatan terbesar yang diharamkan atas mereka. - Ia sadar, itu bukan hanya kelalaian—itu adalah kesombongan yang halus, yang membungkus dirinya tanpa ia sadari.
^^ Jujur ini mengganggu banget, lelah sampai tahap muak. Kemudian aku coba membaca karya beliau pra-2020 (sebelum GPT 3.0 rilis). Apakah gaya nulisnya udah gini? Apakah dari dulu dah banyak pakai struktur "bukan X tapi Y" dan em dash di mana-mana?
Lalu jadilah saya membaca sampel 25 halaman pertama buku beliau: "Saring Sebelum Sharing" yang terbit di tahun 2019 dan... iya. Tulisannya waktu itu bagus, tiada ciri AI sama sekali sampai-sampai aku kecewa akan seberapa timpangnya dengan buku ini. Mau bagaimana lagi :'v iya ini bukti konkrit, tetapi dalam hati aku sudah kadung yakin "ini pasti AI sih..." :( mengsedih.
Tetapii andaikan benar ada AI-nya, bukan semua AI kok, beberapa kalimat terdapat corak-corak khas manusianya. Tidak semua kalimat di sini memiliki tanda baca yang sempurna, misalnya (its okayy). Aku malah senang ini jadi reassurance bahwa ada andil tangan manusia dalam pembuatannya.
Kalau diibaratkan sih, buku ini kayak bijih emas. Emasnya ada, isinya baguss, tetapi kecampur sama batuan-batuan... sayang sekali. Buku ini masih sangat bisa diambil pelajarannya, hanya harus agak sabar aja kalau banyak nemu potongan-potongan "batu" 😅
menurutku serba nanggung, tafsir nanggung, cerita nanggung. paham sih pasti sulit nulis tafsir dalam bentuk naratif gini.. tapi entahlah emang gak cocok aja di aku, sih. aku prefer baca tafsir yang jelas aja kayaknya. soalnya sbenernya baca tafsir tu juga kayak baca cerita kan? krn dibalik turunnya ayat itu kan ada kejadian-kejadian juga. terus tokoh2nya juga kayak seakan harus berujung baik mulu dan itu repetitif nyaris di semua surat, jadinya bosen. format berceritanya gitu2 aja.
Suka banget denga penjelasannya, cerita/ pengalaman/ kisah suka bgt, nyentuh di hati. Beberapa jad self reminder. Sederhana tapi terkadang ada hal-hal yg perlu ada remindernya buat hidup kita yg sudah gedebak-gedebuk ini.
Awalnya kukira tafsir Qur'an (bagian juz 30) akan disampaikan dalam bahasa yang lebih sederhana, non akademik—menjawab pertanyaan mengapa ayat-ayat Qur'an bisa jatuh (dan meresap) di hati hamba-Nya. Oh, ternyata disampaikan dalam bentuk cerita dikaitkan per ayat, tafsir-tafsir Qur'an yang sudah ada, kemudian ditutup dengan hikmah dan doa.
Sependek pemahamanku, juz 30 lebih banyak membahas hari akhir yang disampaikan dengan "tegas". Jadi, aku agak bingung juga bagaimana kira-kira mengaitkan cerita bertema slice of life dengan peringatan hari akhir, dan disampaikan dengan lembut—terutama untuk orang-orang yang merasa biasa?
Dan setelah membaca beberapa bab, aku kini memahami bahwa definisi hari akhir bagi kehidupan dunia (atau sehari-hari) bisa berupa: godaan untuk curang dalam berdagang, merasa sombong atau kufur nikmat, atau jiwa kosong walau sukses dalam urusan dunia.
Aku membaca ulang surah-surah pendek yang sudah kuhapal sejak zaman sekolah, langganan di tiap rakaat shalat (triple Qulhu, ahem). Dibuka dengan surah Al-Fatihah yang ternyata setiap makna dari ayatnya berarti sekali—apalagi ayat keempat ya Allah Masya Allah luar biasa!!!—dan ditutup dengan An Naba. Lanjut ke Alif Lam Mim yang maknanya hanya Allah yang tahu. Aku tersentak dengan kesadaran bahwa ternyata selama ini aku sekedar mengulang dan menghapal tanpa pernah tahu makna.
Overall, aku menikmati pengalaman membaca buku ini—baca ayat-ayatnya secara per kata is recommended!!!—sebagai seseorang yang sedang mempelajari ulang Islam dari nol like a kid or mualaf. Melalui buku ini, akupun semakin meyakini bahwa memang benar Qur'an diturunkan ke tengah-tengah umat manusia sebagai rahmah dari Allah. Sekaligus petunjuk menghadapi kehidupan dunia agar selalu berada di jalan yang lurus dan diridhai Allah, bekal persiapan untuk akhirat kelak.
I love this book so much. Previously, I read the Al-Qur'an merely as a daily routine and understood its meaning literally, based only on my limited knowledge. I later realized that interpreting the Al-Qur'an involves various tafsir (commentaries) that can be used as references, such as Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Ath-Thabari, and Tafsir Ibnu Katsir, which the author also uses as references.
In addition, the author explains the meaning of the Al-Qur'an by relating it to everyday life and to professions that exist in society, such as ride-hailing drivers, entrepreneurs, researchers, and many others. This reminded me that the Al-Qur'an is more than stories about kings and prophets from the past, but also a source of guidance for understanding the meaning of the life we live every day.
In each chapter, the author closes with a short prayer that is deeply touching and relevant to the surahs being discussed.
I love several sentences written: Chapter: Al-Fatihah "Ia menyadari bahwa selama ini terlalu sering Ia bergantung pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa pada akhirnya hanya Allah yang dapat memberikan kekuatan dan keberhasilan." (Page 9)
Chapter:An-Nashr "Pertolongan Allah, datang setelah ujian yang berat. Kemenangan yang sesungguhnya bukan hanya hasil akhir, tetapi juga proses perjuangan yang membawa kita lebih dekat kepada Allah." (Page37)
Chapter: Al-Fajr "Dalam Tafsir Al-Qurthubi, jiwa yang tenang adalah mereka yang ridha terhadap ketentuan Allah, bersyukur dalam kesenangan, dan bersabar dalam kesulitan." (Page187)
Kenapa awalnya mau beli buku ini karena pengen mempelajari Al-Quran dari 0, bagi aku pribadi ada beberapa arti yang emang harus ditafisirin dulu untuk dimengerti. Tapi ternyata aku salah buku ini menafsirkannya lewat kisah, dan kadang ada beberapa kisah yang diulang, kek kisah orang udah sukses, kaya raya tapi hatinya selalu merasa kosong. Kadang pas baca mikir, ini surahnya emang beneran nafsirin ke kisah ini atau bukan ya.
Dari semua kemisskoman ini ada beberapa kalimat yang kena di aku sih, perihal hidup yang bukan tentang seberapa banyak yang kamu kumpulkan, tapi seberapa banyak yang kamu berikan. Ketika baca buku ini jadi sadar kalau ternyata dunia tuh emang fana yang abadi kita, anjay, bercanda. Lalu menyiasati dunia yang fana adalah dengan cara beribadah kepada Allah, ibadah itu bentuk syukur paling tinggi.
Banyak orang berlomba-lomba ngejar jabatan, popularitas, uang yang banyak. Tapi mereka lupa neraka bukan diperuntukan bagi mereka yang gagal di dunia, tetapi bagi mereka yang menyepelekan akhirat, dan mungkin dari kebanyakan orang yang mengejar dunia selalu mengesampingkan akhirat.
Di ending buku ini bilang, tak ada perjalanan yang sia-sia. Tak ada kehilangan yang benar-benar hilang. Apa yang pergi, jika memang ditakdirkan untukmu akan kembali dalam bentuk yang lebih indah. Dan apa yang tak kembali, mungkin memang ditakdirkan untuk menjadi bagian dari perjalanan, bukan akhir.
Al-Qur'an Allah turunkan untuk semua manusia. Cahaya Al-Qur'an tidak hanya milik ahli tafsir. Kalam Allah dapat masuk ke dalam hati siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah tidak melihat status dan golongan, Allah melihat niat dan usaha, niat ikhlas untuk menerima cahaya Al-Qur'an.
Dalam buku ini tafsir juz 30 dinarasikan dalam bentuk cerita sehari-hari, kisah-kisah yang amat dekat dan lekat dengan kita, tentu dengan sumber yang terpercaya.
Gimana ya, agak bosan membacanya. Pertama2 cukup menarik, tapi setelah beberapa pembahasan surat, lama2 terasa monoton. Narasinya cenderung repetitif, terkesan malas, dangkal dan serba nanggung. Menurut saya ini bisa saja cocok untuk orang2 yg sedang menghapal surat. Setidaknya tuturan doa2 di akhir surat cukup bagus dan menyentuh.
Bacaan di Bulan Ramadhan. Suka karena covernya cantik. Jadi mendalami arti2 suratnya sih iya, tapi.. agak maksa ya untuk masukin ke cerita2 kesehariannya. Ga natural gt rasanya😓🙏