Disclaimer: ini review bersifat personal yang lebih menghighlight "pengalamanku membaca ini" alih-alih tuduhan pada penulisnya.
Intro dulu, aku punya kebiasaan stalking penulis sebelum membaca buku nonfiksi (meskipun buku ini menyampaikan hal yang nonfiksi dengan cara fiksi). Penulis buku ini, Nadirsyah Hosen, saat ini terafiliasi ormas NU dan berkegiatan di Melbourne, Australia. Ia juga menganut paham islam liberal.
Kedua faktor di atas sebenarnya membuatku bimbang untuk membeli bukunya tetapi kubeli juga akhirnya. Toh ini buku tafsir, pikirku.
Konsep bukunya bagus, penulis juga banyak mengutip tafsir seperti Ibnu Katsir, At-Thabari, Al-Qurthubi, Al-Baghawi, bahkan tafsir lokal seperti Al-Azhar karya Buya Hamka. Meskipun untuk preferensi pribadiku kutipannya kurang padat, tetapi buku ini memang diciptakan demikian (tafsir yang menyenangkan dengan cerita alih-alih penuh pembahasan).
Untuk konten ceritanya... terkadang terkesan malas. Ada sih beberapa yang keren seperti Al-Muthaffifin dan Al-Alaq, ceritanya oke, tafsirannya pun enak (banyak rujukan dan gak maksa) dan dibantu oleh ceritanya (memahaminya lebih mudah). Bahkan pembahasan-tanpa-cerita seperti bab Alif-Lam-Mim pun oke.
Akan tetapi lebih banyak lagi yang sebaliknya. Cerita malas yang isinya seorang yang gundah membuka mushaf kecil sambil bergetar dan jadilah "konten reaksi membaca arti Qur'an". Jangan sampai cerita yang idealnya membantu menjelaskan tafsir malah bikin tambah njelimet. Malah bikin bingung "hah sik ki maksud e piye?".
Kritik selanjutnya yang membuatku memberi rating sejelek ini pada bukunya adalah saat aku membaca tafsir At-Tin. Kukira buku ini "aman" dari propaganda islam liberalnya, eh sama saja. Di sini diceritakan seorang Kiai, Romo, dan Rabi berjalan di Palestina... dan meskipun tiada yang salah, narasi soal "semua agama itu baik dan benar"-nya kentara benar. Mirip paham komunis di Madilog yang kentara meskipun bukan buku propaganda.
Ini masalah karena ini buku tafsir, bukan buku propaganda. Ceritanya oke aja kalau diceritakan di buku yang bukan buku tafsir, misal buku kemanusiaan. Jika ditempatkan di sini, jadinya misleading. Seakan Nadirsyah Hosen sedang bermain-main di batas sesat. Aku sama sekali benci tulisannya di surah itu.
Selanjurnya, ini adalah setengah kritik setengah pengalaman pribadi. Aku tak bisa membuktikan, tetapi buku ini banyak sekali indikasi penggunaan AI-nya. Jika anda sering menggunakan AI untuk menulis, mungkin ciri-cirinya kentara. Penggunaan kata "tetapi" yang sebenarnya tidak make sense, dipakai agar ada feels "kejutan"-nya. Misal "bukan hanya X, tetapi juga Y". Ciri lain adalah penggunaan em dash (—). Semua ini buanyak banget bertebaran di bukunya, contoh:
- Bukan sekedar dilalap neraka, melainkan terhalang dari melihat Allah—kenikmatan terbesar yang diharamkan atas mereka.
- Ia sadar, itu bukan hanya kelalaian—itu adalah kesombongan yang halus, yang membungkus dirinya tanpa ia sadari.
^^ Jujur ini mengganggu banget, lelah sampai tahap muak. Kemudian aku coba membaca karya beliau pra-2020 (sebelum GPT 3.0 rilis). Apakah gaya nulisnya udah gini? Apakah dari dulu dah banyak pakai struktur "bukan X tapi Y" dan em dash di mana-mana?
Lalu jadilah saya membaca sampel 25 halaman pertama buku beliau: "Saring Sebelum Sharing" yang terbit di tahun 2019 dan... iya. Tulisannya waktu itu bagus, tiada ciri AI sama sekali sampai-sampai aku kecewa akan seberapa timpangnya dengan buku ini. Mau bagaimana lagi :'v iya ini bukti konkrit, tetapi dalam hati aku sudah kadung yakin "ini pasti AI sih..." :( mengsedih.
Tetapii andaikan benar ada AI-nya, bukan semua AI kok, beberapa kalimat terdapat corak-corak khas manusianya. Tidak semua kalimat di sini memiliki tanda baca yang sempurna, misalnya (its okayy). Aku malah senang ini jadi reassurance bahwa ada andil tangan manusia dalam pembuatannya.
Kalau diibaratkan sih, buku ini kayak bijih emas. Emasnya ada, isinya baguss, tetapi kecampur sama batuan-batuan... sayang sekali. Buku ini masih sangat bisa diambil pelajarannya, hanya harus agak sabar aja kalau banyak nemu potongan-potongan "batu" 😅