You’re the most beautiful thing that’s ever happened to me. Not being with you is what hurts. -- Deacon
Di komik2 biasanya MC mungut kucing liar di tengah hujan, nah yg ini mungut fae di tengah hujan, lol. Banyak angst dan drama di dalamnya utk ukuran cerita sepanjang 127 halaman, selain di romance beda spesies tapi juga seputar keluarga kedua belah pihak yg begitu homophobe, keras kepala, dan pantang menyerah utk menikahkan kedua MC dgn pilihan ortu masing2, biarpun beda spesies tapi isinya sama aja, hahaha.
Aku paling ga suka waktu ortu mereka dengan sengaja memanipulasi anak mereka melalui guilt weapon (contoh : we love you, we know what's best for you, if you truly love us, don't shame us anymore, how can we face our friends when they know your sexual preference, it's just a phase, and you're rebellious, you won't happy with him, we are old now and we want grandchild, don't you love us? don't you feel pity towards us?, if you love us, if you're filial just like we believe, you will listen to us, etc) lewat kata-kata supaya anak mereka mau mematuhi keinginan mereka, seakan-akan anak mereka itu boneka milik mereka yg bisa diatur2 tindakan, perasaannya, dan hidupnya. Granted, mereka itu ortunya, yg telah mengantarkan si anak ke dunia, yg merawat dan menyayangi mereka sedari kecil. Mereka adalah pembimbing si anak ketika kecil, tapi saat si anak sudah dewasa dan want to have their own path, want to live their own life in their own way, itulah saatnya ortu lepas tangan. Ortu yg bener2 sayang dan cinta sama darah dagingnya, pasti akan mendukung anaknya, jika anak mereka bahagia dgn pilihan mereka, kenapa pula ortu harus sok tau bilang kalo anak tak bakal bisa bahagia jika tdk mendengar perintah ortu dan menikahi pilihan ortu. Ortu yg baik itu bukannya memaksakan keinginan mereka pada anaknya (merasa sok jadi dewa yg sudah melahirkan si anak dan ingin mengatur segalanya dari A-Z walaupun anak mereka sudah dewasa dan bisa mandiri), bukannya takut dijauhi orang dalam sosial, terus ikut jijik dan mengutuk anaknya sama seperti temannya (yg mana bukanlah real friend). Sayangnya terkadang, seperti ortu tak bisa memilih anaknya, anak juga tdk bisa memilih ortunya.
Buku ini mungkin isinya DRAMA dan opera sabun sekali buat banyak orang, kulihat ratingnya rendah di GR. Well, different strokes for different folks. What works for some readers doesn't work for others. For me, a story like this, a family and their unwanted help as a matchmaker, will always hits close to home.