“Poetry needs prose. Prose needs poetry. Aesthetics needs banality and vice versa. In the same way, spirituality requires a critical thinking, and critical ability requires a person to be prepared to open up. I am taking a risk to say this: a critical ability resembles the masculines, and spirituality resembles the feminine, and both must complement each other.” (Ayu Utami, dalam Banal Aesthethics & Critical Spiritualism).
“The creed of Banal Aesthethics is simply: to look at beauty using wider criteria. To be open to as-yet unformulated aesthethics. To believe in beautiful moments in daily realities, and try to record them. To try to capture sensibility, so as not to direct or provoke. And, to always ask, repeatedly, the relationship between subject & object.” (Erik Prasetya, dalam Banal Aesthethics & Critical Spiritualism).
Membaca buku Banal Aesthethics & Critical Spiritualism seperti membaca sebuah dialog yang seru-lagi-kritis, antara Erik Prasetya & Ayu Utami, dalam 13 bab yang disusun dengan rapi. Bersama buku ini, kita diajak memikirkan ulang, merefleksikan ulang, meredefenisi ulang—hal-hal terkait estetika banal dan spiritualisme kritis. Kedua istilah ini, estetika banal & spiritualisme kritis, menjadi istilah baru yang dimunculkan Erik & Ayu untuk memaknai ulang fotografi & jurnalistik. Menarik sekali.
Buku ini ditulis dual bahasa, Inggris & Indonesia, dalam satu buku yang sama. Di halaman-halamannya, tak hanya bisa ditemukan tulisan hasil pemikiran Erik Prasetya & Ayu Utami—tapi juga beberapa foto & gambar. Foto karya Erik, gambar karya Ayu, keduanya menyuguhkan yang tidak biasa.
Saya menyenangi pula desain buku ini (oleh Wendie Artswenda). Sederhana, tapi jelas berkesan. Dengan paduan warna cokelat & biru, tak hanya di halaman sampul. Tulisan warna cokelat tentang estetika banal dari Erik, tulisan warna biru tentang spiritualisme kritis dari Ayu.
Saya mengetahui buku ini langsung dari penulisnya, dalam acara Festival Sastra & Seni Rupa Kristiani 2018 di Jakarta. Kali pertama pula saya bisa bertemu keduanya. Kedua penulis adalah pasangan hidup. Erik Prasetya, lebih dikenal sebagai seorang fotografer. Ayu Utami, dikenal sebagai seorang penulis yang namanya mencuat sejak novel Saman terbit di 1998, yang seperti menyambut Era Reformasi Pasca Soeharto dengan isu sosialnya yang kental. Ia pernah menjadi jurnalis dan aktivis, sekarang aktif pula sebagai kurator di Komunitas Salihara.
Buku ini perlu dibaca oleh para fotografer, pun para penulis. Buku ini perlu dibaca oleh yang menyenangi filsafat, pun yang menyenangi spiritualisme. Namun satu yang perlu diingat sebelum membaca buku ini: dibutuhkan keterbukaan untuk berpikir ulang, berefleksi ulang, & meredefenisi ulang.