Jump to ratings and reviews
Rate this book

Estetika Banal & Spiritualisme Kritis

Rate this book

76 pages, Paperback

First published February 9, 2015

6 people are currently reading
62 people want to read

About the author

Ayu Utami

37 books777 followers
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.

Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
12 (20%)
4 stars
20 (34%)
3 stars
20 (34%)
2 stars
6 (10%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for Yuliana Martha Tresia.
66 reviews19 followers
October 28, 2020
“Poetry needs prose. Prose needs poetry. Aesthetics needs banality and vice versa. In the same way, spirituality requires a critical thinking, and critical ability requires a person to be prepared to open up. I am taking a risk to say this: a critical ability resembles the masculines, and spirituality resembles the feminine, and both must complement each other.” (Ayu Utami, dalam Banal Aesthethics & Critical Spiritualism).

“The creed of Banal Aesthethics is simply: to look at beauty using wider criteria. To be open to as-yet unformulated aesthethics. To believe in beautiful moments in daily realities, and try to record them. To try to capture sensibility, so as not to direct or provoke. And, to always ask, repeatedly, the relationship between subject & object.” (Erik Prasetya, dalam Banal Aesthethics & Critical Spiritualism).

Membaca buku Banal Aesthethics & Critical Spiritualism seperti membaca sebuah dialog yang seru-lagi-kritis, antara Erik Prasetya & Ayu Utami, dalam 13 bab yang disusun dengan rapi. Bersama buku ini, kita diajak memikirkan ulang, merefleksikan ulang, meredefenisi ulang—hal-hal terkait estetika banal dan spiritualisme kritis. Kedua istilah ini, estetika banal & spiritualisme kritis, menjadi istilah baru yang dimunculkan Erik & Ayu untuk memaknai ulang fotografi & jurnalistik. Menarik sekali.

Buku ini ditulis dual bahasa, Inggris & Indonesia, dalam satu buku yang sama. Di halaman-halamannya, tak hanya bisa ditemukan tulisan hasil pemikiran Erik Prasetya & Ayu Utami—tapi juga beberapa foto & gambar. Foto karya Erik, gambar karya Ayu, keduanya menyuguhkan yang tidak biasa.

Saya menyenangi pula desain buku ini (oleh Wendie Artswenda). Sederhana, tapi jelas berkesan. Dengan paduan warna cokelat & biru, tak hanya di halaman sampul. Tulisan warna cokelat tentang estetika banal dari Erik, tulisan warna biru tentang spiritualisme kritis dari Ayu.

Saya mengetahui buku ini langsung dari penulisnya, dalam acara Festival Sastra & Seni Rupa Kristiani 2018 di Jakarta. Kali pertama pula saya bisa bertemu keduanya. Kedua penulis adalah pasangan hidup. Erik Prasetya, lebih dikenal sebagai seorang fotografer. Ayu Utami, dikenal sebagai seorang penulis yang namanya mencuat sejak novel Saman terbit di 1998, yang seperti menyambut Era Reformasi Pasca Soeharto dengan isu sosialnya yang kental. Ia pernah menjadi jurnalis dan aktivis, sekarang aktif pula sebagai kurator di Komunitas Salihara.

Buku ini perlu dibaca oleh para fotografer, pun para penulis. Buku ini perlu dibaca oleh yang menyenangi filsafat, pun yang menyenangi spiritualisme. Namun satu yang perlu diingat sebelum membaca buku ini: dibutuhkan keterbukaan untuk berpikir ulang, berefleksi ulang, & meredefenisi ulang.
Profile Image for Aldy.
46 reviews2 followers
September 13, 2021
Banyak aspek yang bisa dikritik dalam hidup ini. Hasil buah pemikiran tersebut perlu digali terus-menerus yang ternyata bisa mempertanyakan moral kita.

Tidak terkecuali dalam fotografi dan sastra, keduanya punya "batin" tersendiri dalam medium seni ini.

Sejujurnya, alasan mencoba baca buku ini karena buku ini unik yang dibikin seperti dua monolog yang perlahan dua insan ini saling terhubung.

Buku ini ditulis seperti latar belakang jurnal, ya memang ini adalah essay. Tapi mereka ini entah kenapa seperti malas mendeskripsikan lebih lanjut tentang apa yang mereka ingin sampaikan. Kalian masih punya 40 halaman kosong, tapi malah digunakan untuk seksi translate ke bahasa Inggris.
Profile Image for Faiz Abimanyu Wiguna.
6 reviews
February 10, 2024
Very interesting, small, concise fruitful ponderings. Some of my favorite quotes:

"Sastra dan fotografi sama-sama memecah-mecah aliran realita ke dalam unit-unit yang bisa disimpan. Dengan cara demikian, unit itu bisa dikuasai, dipergunakan, disusun ulang, dikembangkan. Memang sastra tidak punya problem etis yang ada dalam fotografi. Karena bahasa tak pernah betul-betul menyalin realita. Tapi persis di situlah problem utama bahasa. la tak pernah betul-betul menemui realita. la adalah sepenuhnya sistem tanda, yang tak pernah bersentuhan langsung dengan kenyataan. Fotografi mencuri, menjiplak, menyalin realita. Bahasa membangun model sendiri tentang realita, tapa persentuhan dengan realita. Para linguis era modern telah lama memetakan bahwa tak ada kontak langsung antara kata dengan referensnya. Apapun yang diketahui melalui bahasa adalah palsu belaka. KW dari suatu
ORI yang tak terjangkau."

"Jika dalam Estetika Banal, si fotografer mencari pendekatan yang membuat ia tetap ingat pada problem fotografi, sava mengambil nama Spiritualisme Kritis, untuk model penulisan-juga model proses menulis, bahkan model bersikap yang lebih umum--yang sadar akan ringkihnya bahasa tapi tak berhenti mengusahakan mana. Mengapa bahasa berkorelasi dengan spiritualitas? Bahasa berkorelasi dengan spiritualitas dan religiusitas dalam hal bahasa sesungguhnya bergantung pada "iman", yaitu kepercayaan dan penerimaan, atas konsep-konsepnya sendiri agar bahasa bisa berfungsi. Kita hanya bisa bicara jika kita percaya bahwa kata "manusia" memang berarti manusia dan bukan yang lainnya; padahal tak ada hubungan substansial maupun esensial antara kata "manusia" dan konsep yang dirujukya. Kita hanya bisa bicara jika kita sama-sama percaya bahwa kata "ya" berarti ya dan "tidak" berarti tidak. Tapa iman akan kata-kata, tapa kesetiaan akan gramatika, kita tak bisa berbahasa. Seorang skeptis yang sejati adalah orang bisu, sebab ia tak mempercayai satu katapun. Maka, dasar dari pengetahuan kita sesungguhnya adalah sejenis iman juga. (Betapa rentan sebenarnya.) Kita melihat struktur yang sama dalam agama dan bahasa."

"Saya ingin berhadapan dengan Manusia. Dalam berha-dapan dengan Manusia, saya tidak datang dengan rencana-rencana. Dalam menemui Manusia, saya tidak menundukkan Dia ke dalam kerangka, apalagi yang sudah disiapkan sebe-lumnya. Menemui Manusia adalah tidak menerapkan dia pada skala kepentingan. Menemui Manusia adalah menerima ketidakterdugaannya."

"Kredo Estetika Banal adalah ini: Melihat keindahan dengan kriteria yang lebih luas. Terbuka pada estetika yang belum dirumuskan. Percaya ada momen-momen indah pada yang sehari-hari dan mencoba merekamnya. Mencoba menangkap kewajaran, sehingga tidak menyutradarai atau memprovokasi. Dan, selalu mempertanyakan kembali hubungan subyek obyek."

"Spiritualisme Kritis dirumuskan sebagai 'sebuah keterbukaan pada yang spiritual tapa mengkhianati nalar kritis'."

"Puisi membutuhkan prosa. Prosa membutuhkan puisi. Estetika memerlukan banalitas dan sebaliknya. Begitu juga, spiritualitas memerlukan daya kritis dan daya kritis memer-lukan kesediaan membuka diri. Saya mengambil risiko untuk mengatakan yang berikut ini: daya kritis menyerupai yang maskulin, dan spiritualitas menyerupai yang feminin. Kedua-nya saling melengkapi."
Profile Image for summerreads ✨.
110 reviews
January 8, 2022
Saat pertama kali membaca lalu menyukai tulisan Ayu Utami, ada 1 konsep yang (selalu aku ingat dan) selalu muncul serta berulang kali ditekankan, yaitu Spritualisme Kritis. Aku menyukai bagaimana Ayu Utami menjabarkan dengan rinci awal mula nama Spiritualisme Kritis untuk kepentingannya dalam berkomunikasi dan bercerita.

Kisah ini dibuka dengan kisah 2 kitab purba yang sudah dipelihara dan diyakini manusia selama ribuan tahun--meskipun sebenarnya banyak hal-hal yang tidak masuk di akal kita jika ditelisik menggunakan pemikiran modern; Kejadian (di mana kita menemukan konsep Tuhan yang absurd, pencemburu, dan sebagainya) dan Ramayana (di mana kita bisa menemukan adegan Rama yang menuntut Sita membuktikan kesuciannya dengan menyuruhnya melompat ke dalam api yang menyala. Like, kekasih macam apa yang memberikan tuntutan itu kepada kekasihnya sendiri?)

Spiritualisme Kritis punya makna yang sungguh indah, "sebuah keterbukaan pada yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis."

Istilah ini muncul pertama kali dalam Bilangan Fu dan kemudian menelurkan serinya sendiri yaitu buku Simple Miracle. Pada buku ini, Ayu Utami menceritakan dengan runut apa saja yang kemudian membuatnya menghasilkan paham Spiritualisme Kritis pada akhirnya.

Selain itu, buku ini juga membicarakan fotografi dari sisi Erik Prasetya dan paham Estetika Banal-nya. Paham yang lahir dari pengalaman memotret jalanan bertahun-tahun. Aku rasa, orang yang lebih paham atau menyukai fotografi akan lebih related dengan bagian ini. Buku ini ditulis dwibahasa, dari dua sudut pandang, dilengkapi dengan halaman berwarna yang menambah keriaan konsep bukunya.

Puisi membutuhkan prosa. Prosa membutuhkan puisi. Estetika memerlukan banalitas dan sebaliknya. Begitu juga spiritualitas memerlukan daya kritis dan daya kritis memerlukan kesediaan membuka diri. Saya mengambil risiko untuk mengatakan yang berikut ini: daya kritis menyerupai yang maskulin, dan spiritualitas menyerupai yang feminin. Keduanya saling melengkapi. - hal. 27
Profile Image for Ndooks.
71 reviews1 follower
May 14, 2017
Estetika Banal dan Spiritualisme Kritis cukup menghilangkan kerinduan saya atas membaca buku-buku Ayu Utami. Terakhir saya membaca Pengakuan Eks Parasit Lajang beberapa tahun silam.

Buat saya ide buku ini sangat unik dan menggoda. Dialog tentang fotografi oleh Erik dan sastra oleh Ayu, yang dikemas dalam satu buku lumayan tipis dan ditulis dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Pemahaman saya tentang Estetika Banal dan Spiritualisme Kritis adalah dimana kedua konsep ini dijadikan framework dalam karya fotografi dan sastra yang dihasilkan oleh masing-masing penulis. Sekilas saya merasa seperti membaca latar belakang karya ilmiah karena memang mereka menjelaskannya dengan campuran narasi pengalaman peribadi dan buku-buku referensi.

Buku ini memberi pemahaman bahwa fotografi dan sastra pada satu titik dapat bekerjasama dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

"Photography uses camera. Literarture uses language. With these tools, both try to know." (Halaman 10)

Buku ini juga membuat saya semakin yakin bahwa sebuah karya, baik fotografi dan sastra tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi karena di setiapnya terdapat konteks. Setiap karya punya nilai estetikanya masing-masing. Begitupun, setiap rasa yang timbul dari sebuah karya tetap perlu dipikirkan dengan kritis.
Profile Image for Amalia Zhafarina.
2 reviews
September 8, 2019
Clever. The most stand-out thing about this book is its eccentric flip-flop concept. Basically the book consists of two different narrations: Ayu with her “Spiritualisme Kritis (Critical Spiritualism)” and Erik with his “Estetika Banal (Banal Aesthetic)”. Despite all the differences, both the writers try to tell the reader that they (and their visions) fill each other’s gap.

As you’ll be instructed, you can choose ways to comprehend the book. You either read each writing separately as two independent articles, or you can handle both the scripts as one interactive dialogue as If Ayu and Erik are sharing their own projection of arts in the same exact moment. Ayu talks as a writer, while Erik talks as a photographer—which the writers deem as two different artworks with two different perspectives. However, at one point you’ll come to the conclusion that critical spiritualism needs a banal aesthetic, and so banal aesthetic need a critical spiritualism.

The fascinating thing about the book is that I think it’s beyond a conversation of art. It’s also a philosophy, history, and even a romance talk; very thoughtful—and as Ayu’s previous works, it contains brave, sexy, and vulgar ideas. I personally got many new insights from this book.
Profile Image for Sinta.
10 reviews1 follower
May 28, 2017
Dialogue between a writer and a photographer composed in 13 chapter. This book inspires me to be more critical about anything.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,044 reviews1,965 followers
December 31, 2015
Kalau istilahnya, aku mengalami apa yang dinamakan sebagai binge reading atau book hangover. Yakni suatu keadaan dimana pikiranku masih berada dalam bayang-bayang bacaan yang sebelumnya. Setelah jatuh cinta dengan pemikiran Ayu Utami pada buku Simple Miracles: Doa dan Arwah, aku teringat kalau Ayu bersama suaminya pernah membuat sebuah proyek yang terdengar menyenangkan. Lucunya adalah, suaminya, Erik Prasetya, adalah salah satu fotografer yang dikagumi oleh pacarku. Dan aku pun baru tahu kalau beliau adalah suami dari Ayu Utami dari akun Ask.Fm milik Afutami. Dengan bekal pengetahuan seadanya mengenai siapa itu Erik Prasetya dan perasaan jatuh cinta dengan pemikiran Ayu Utami, maka tanpa pikir panjang aku langsung membeli buku ini untuk aku nikmati kedalaman pemikiran pasangan suami-istri ini.

Resensi Lengkapnya

Kalau kamu ingin tahu kolaborasi indah, apalagi Erik & Ayu adalah pasangan suami istri, buku ini bisa menjadi pilihan. Namun, untuk dapat memahaminya perlu usaha yang cukup besar, terutama bagi mereka yang belum pernah membaca tulisan Ayu maupun tulisan Erik. Tapi dengan harga yang dibawah Rp 50.000 dan full color, buku ini tampaknya layak untuk dibaca dan dimiliki.
Profile Image for Sutresna.
225 reviews14 followers
February 4, 2015
Saya dapet buku ini gratis dari acara dialog Estetika Banal & Spiritualisme Kritis yg diadakan Salihara beberapa waktu yg lalu. Acaranya bagus, bisa dapet ttd mbak Ayu, dan ada makan2nya di akhir acara. hahaha

Membaca ulang buku ini seperti mengingat kembali kejadian pas acara dialog sebab buku ini sebenarnya materi yang digunakan pembahas dalam acara, hampir semua dibacakan.

Isinya? Sebah dialog yang ditulis dengan kebersinambungan yang asyik antara fotografi dan sastra yang mulai membentuk diri menjadi sesuatu yang baru yang menjadi judul buku ini.

Btw foto2nya mas Erik bagus2 loh. Seperti sdg membaca puisi. :)
Profile Image for Jessica Huwae.
Author 7 books32 followers
April 3, 2015
The only downside about the book is the font and the color chosen. It's like designed overnight, which is too bad, because it's actually a good book. Not good as in deep, but it can be an introduction for those who are interested in subject of spiritualism, art of thinking and photography. It's just different from AA's work that usually make some effort to design great cover and illustration.
Profile Image for Arif Abdurahman.
Author 1 book71 followers
June 29, 2015
Fotografi dan sastra. Dua hal yg lagi saya senangi. Kemudian oleh Erik dan Ayu kedua hal ini dicari-cari problem etisnya. Duh.

Tertarik dengan ceramah mereka di Komunitas Salihara, saya nonton lewat Youtube, eh ternyata ada bukunya.
Profile Image for Lee.
57 reviews1 follower
November 2, 2015
kalau kamu sudah membaca cerita cinta enrico dan pengakuan eks parasit lajang maka tidak perlu membaca buku ini. kurang lebih isinya sama. hanya ide-idenya saja dirangkum menjadi satu buku ini.
Profile Image for Hesti Pratiwia.
35 reviews3 followers
April 17, 2018
Salah satu buku yg bisa dibaca berulang-ulang. Salah satu pengingat, tentang keindahan, sikap, egoisme, dll. Rumit tapi menyenangkan....
Displaying 1 - 17 of 17 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.