Dua sepupu yang baru saling mengenal usai menerima warisan pusaka keris kembar itu harus berangkat bersama dalam sebuah misi mendesak untuk menerima wasiat lanjutan di makam mendiang kakek mereka.
Makam yang sungguh tak biasa. Keduanya harus mendaki jauh ke Gunung Lawu sebelum masa peralihan bulan mati demi menembus gerbang gaib Desa Kemit, tempat persemayaman terakhir sang kakek.
Di tengah ketidakpastian karena minimnya pengalaman dan berbekal peralatan pendakian pinjaman, muncullah sosok penolong berpenampilan mencurigakan bernama Umbu.
Siapakah ia? Penolong atau justru penghalang? Misi penting apa sebenarnya yang dipercayakan mendiang sang kakek kepada Prana dan Sukma?
Buku ketiga dari seri JOT yang ditunggu-tunggu! Bagian awal dari buku ini membahas pendakian ke gunung Lawu. Ah, horror Indo memang belum afdhol kalau belum membahas pendakian. Jelas, dibanding dua seri sebelumnya, porsi petualangan (baca: pengalaman traumatis) di sini jauh lebih banyak. Saya suka bagaimana penulis memberi twist ke legenda masyarakat yang sudah familiar, seperti babi ngepet, sehingga tetap terasa segar. Saya juga mulai suka dengan tokoh Umbu, more of him, please. Terus, jujur ini adalah pertama kalinya saya membaca adegan mengancam antarpria saat buang hajat, panjang pula, sekitar 3 halaman. Idk what to feel, wkakak. Cuma, saya merasa gaya bahasanya yang mendayu malah mengurangi tingkat keseraman dan rasa mencekamnya, bahkan saya sempat takut narasinya bakal menjadi prosa ungu. Cukup kecewa juga dialog bonding antara Prana dan Sukma di sini kurang banyak, padahal saya mengira bakal ada banyak playful banter umumnya sepupu di antara mereka, mengingat awalnya keduanya merasa tidak sreg satu sama lain. I mean yeah, they went into life-threatening events together and cried for each other, tapi seperti tiba-tiba banget mereka langsung akur, padahal sebelumnya jaim abis.
Buku awal itu full horror menakutkan yang gw sempet mikir ini jangan2 based on true story, tp ternyata fiksi. Buku pertama itu kerasa banget serem horrornya, buku kedua dikit seremnya, nah ini buku ke tiga sudah full lepas genre bukan horror tapi fantasy. Ya untungnya gw suka juga fantasy tapi aneh aj buku yang awalnya horror jadi ke genre ini. Ceritanya bagus dan kompleks tapi unsur horrornya sudah hilang. Ceritanya juga jadi berat sekali harus teliti bacanya supaya bisa mengerti most of the story. Tapi ok lah lumayan menghibur ceritanya terutama saat pendakian, babi ngepet dan desa gaib kemit. Buat gw situasi kondisi di desa gaib kemit lebih spectacular dan menarik ya ketimbang basa bawana, mungkin karena authornya menggambarkan desa gaib kemit seperti tempat yang menyenangkan dan damai sedangkan basa bawanan tempat yang ganjil dan tidak bersahabat? Tapi intinya gw lebih tertarik dengan desa gaib kemit yang menurut gw harusnya lebih panjang ceritanya. Hopefully next chapters nya bisa ad unsur2 horror seremnya lagi, karena ini harusnya kan buku hantu y.