Apathy! Perhaps the greatest challenge facing schools in America today. Teachers, counselors and caring adults are laboring to save students from failing, but despite all their efforts, many teenagers just don’t seem to care about school. Though tugged in the right direction, some are determined to “crawl” themselves through the proverbial cracks. The symptoms of apathy are familiar and include things like chronic absenteeism, lack of motivation, being disorganized, inattentive, unprepared, abrasive, disrespectful, distracted and lethargic, to mention a few. Educators prod, lecture and admonish these teenagers to take school serious and to be responsible, but nothing seems to stir interest or kindle their desire to achieve academically. A lot of research has been done to address the problem and school districts have implemented a myriad of intervention programs to meet the need. Much of the focus however, is on outward symptoms and the obvious is often overlooked…apathy has roots! In this book we will look below the surface and into the subterranean world where struggling students think, feel and live. Original stories, written by students about their own lives, will help us learn how teenagers often lose their way in school. We will let "them" tell "us" how they slipped into the “I don’t care” fog we call apathy. In Roots of Apathy we will explore the powerful impact of factors like divorce, violence at home, drug and alcohol abuse, neglect, poverty, the loss of a loved one, the lure of unhealthy friendships, insecurities, frequent moving, addictions, sexual abuse, shame and how these factors lead to debilitating emotions like depression, discouragement, anger, grief, bitterness, hopelessness and fear. These companions of apathy are often the real culprits hidden beneath the surface of the struggling student. Though hard to see at times, locked inside the apathetic teenager, is a beautiful young person with all the hopes, dreams and aspirations that we had when we were their age. But for many of them the road has been hard. The storms of life have turned their world upside down. What we see on the outside is often their desperate attempt to cope with what we don’t see on the inside. For some, their problems feel so heavy they can’t carry anything else, not even school. In Roots of Apathy we will rediscover what it’s like to be a teenager living through difficult circumstances and then explore ways to connect with them. Some will need our help learning to persevere through adversity, rather than just hunkering down and simply enduring suffering. Others will need help learning to forgive the people who’ve hurt them and let them down. Nearly all struggling teenagers will need hope to believe that the horrible things that have happened to them can have meaning; that surviving storms can uniquely equip them to help other struggling souls one day. If you are looking for another book with lots of pedagogical jargon and references to research studies, you should pick up something else to read. This is not that kind of book. In Roots of Apathy, the stories of students themselves drive the narrative. Some parts may make you smile, while other parts make you cry. I hope when you finish reading you will be inspired to keep loving kids and to care relentlessly for the ones who so desperately need us to not give up on them.
Librarian Note: There is more than one author in the Goodreads database with this name. This profile may contain books from multiple authors of this name.
For the Sci-Fi/Thriller/Horror author, please check Michael R. Hicks
Buku ini sebenarnya ditujukan kepada guru. Penulis hendak mengajak rekan sesama guru agar tidak sekadar mengajar, tetapi juga lebih memerhatikan murid yang bermasalah (khususnya yang sudah remaja). Melalui buku ini, penulis menjabarkan bahwa apati murid terhadap prestasi akademis itu ada akarnya. Bagaimana murid dapat berkonsentrasi terhadap pelajaran di sekolah sementara dirundung oleh berbagai kemelut di luar? Penulis menyajikan berbagai contoh kasus yang ditulis oleh murid-muridnya sendiri.
Penulis memahami bahwa guru telah disibukkan oleh berbagai hal lain, sementara jumlah murid ada begitu banyak. Memang tidak mungkin memberikan perhatian kepada semua murid, apalagi menjadi semacam orang tua pengganti bagi setiap yang bermasalah. Guru bisa berfokus kepada murid yang benar-benar bermasalah, yang paling membutuhkan perhatian. Lagi pula, pembelajaran bisa jadi tidak efektif jika guru tidak terlebih dahulu mendongkrak moral murid. Memberikan perhatian kepada murid yang bermasalah, menjadi pendengar yang baik bagi ceritanya, dapat memperbaiki semangat belajar mereka yang kiranya berimbas positif kepada kinerja guru sendiri.
Remaja bermasalah mungkin bersikap defensif atau galak saat didekati atau ditawari bantuan. Mereka menampakkan sikap cuek dan tangguh, padahal sedang menanggung kesakitan dalam batinnya. Karena itulah, guru perlu terlebih dahulu membangun kepercayaan dengan mereka. Hubungan itu dapat diinisiasi dengan memberikan perhatian-perhatian kecil yang hanya makan beberapa menit saja, sebagaimana dicontohkan penulis dalam pengalaman-pengalamannya sebagai berikut.
- Menceritakan pengalaman diri sendiri semasa muda/seusia murid, terutama jika dulunya guru juga pernah mengalami problem. Dengan begini, koneksi dapat terbangun sekalian menunjukkan bahwa orang dapat bertransformasi dan sukses.
- Mendatangkan orang yang bisa berbagi pengalaman kepada murid-murid, sebagai "contoh buruk" agar tidak mengikuti jejaknya.
- Menelepon ke rumah/orang tua murid untuk memberitahukan tentang kemajuan mereka di sekolah secara langsung.
- Tidak menjadi another abusive adult, tidak memperkeruh masalah yang mungkin dialami murid.
- Menjadikan sekolah sebagai "tempat pelarian" yang aman dari kekacauan di rumah.
- Menulis dan menyampaikan surat yang mengandung empati kepada murid.
- Memberikan pujian.
Penulis benar-benar berusaha memahami dan juga memahamkan berbagai sudut pandang, baik dari murid atau remaja bermasalah maupun orang dewasa (guru dan orang tua) yang menghadapinya. Saya yang bukan lagi remaja pun dapat diingatkan bagaimana rasanya kembali berada di posisi itu, dalam aneka situasi yang lebih buruk pula.
Penulis juga mengangkat tentang pentingnya menikmati pekerjaan.. Ia menyinggung guru yang bekerja hanya untuk mendapatkan gaji tetapi tidak menikmati profesinya, akibatnya ia menjadi emotionally dangerous terhadap murid. Apabila merasa buruk dalam pekerjaan (: bersikap impatient, quick-tempered, and cynical, halaman 92), sebaiknya lakukanlah pencarian jiwa (soul searching). Saya menangkap amanat bahwa bekerja itu hendaknya yang sesuai dengan panggilan jiwa, dan sepertinya hanya kepribadian tertentu yang dapat menjadi guru sebagaimana diidealkan oleh penulis.
Di bab terakhir, penulis memuat 37 cerita dari murid-muridnya--yang agaknya tidak tertampung sebagai contoh kasus di bab-bab sebelumnya tetapi hendaknya diketahui pembaca. Masalah yang diangkat umumnya mengenai perceraian atau pengabaian orang tua, kekerasan dalam rumah tangga, sampai salah pergaulan dan drugs party. Bagaimanapun konteks buku ini di Amerika dan saya kurang mengetahui prevalensi berbagai masalah tersebut di Indonesia. Tinggal disesuaikan konteksnya, sebagian besar cerita tersebut merupakan bahan yang seru untuk dikembangkan menjadi teenlit yang dark.