Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ingatan Ikan-Ikan

Rate this book
Bagi Lian, ingatan akan suara tawa manusia begitu menakutkan. Setiap kali mendengar suara tawa, ia merasakan nyeri yang teramat hebat mendera tubuhnya.

Bagi Ombak, ingatan akan warna hitam begitu mengerikan. Setiap terlelap, ia dihantui oleh tubuh-tubuh yang terbakar menjadi arang.

Bagi B, ingatan akan api sore itu membawanya pada distorsi momen yang membingungkan.

Ketika sepucuk surat tiba menawarkan jalan keluar untuk menghilangkan ingatan-ingatan yang getir dan menyedihkan, siapa yang tak tertarik? Surat itu pula yang mempertemukan ketiga orang yang terluka tanpa sadar bahwa ada kekuatan besar yang berusaha mempermainkan hidup mereka.

192 pages, Paperback

First published August 1, 2024

Loading...
Loading...

About the author

Sasti Gotama

22 books19 followers
Sasti Gotama adalah seorang dokter yang mencintai aksara. Ia gemar mengintip sisi tergelap jiwa manusia dan melukiskannya dalam deretan karya. Karyanya telah dibukukan dalam Kumpulan Cerita Penafsir Mimpi (Indigo Publisher, 2019). Cerpen-cerpennya telah tersiar di media cetak dan media online Indonesia.

Bukunya, Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam (Diva Press, 2020), masuk dalam 5 besar buku sastra pilihan Tempo 2020, menjadi nominee Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2021, dan pemenang I Hadiah Sastra “Rasa” 2022.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
54 (23%)
4 stars
109 (47%)
3 stars
58 (25%)
2 stars
6 (2%)
1 star
3 (1%)
Displaying 1 - 30 of 67 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books346 followers
September 12, 2024
Ingatan Ikan-Ikan

Saya rasa Sasti Gotama perlu memisahkan tiga gagasan (setidaknya menurut saya) dengan garis yang cukup tebal. Bukan apa-apa, tetapi membaca novel ini saya merasa Sasti seperti ingin memaksakan ketiganya dengan porsi yang masih kurang. (1) Gagasa utama soal sejarah dan ingatan perisakan dan perusakan etnis Cina, dan ini pokok yang sangat kuat dalam novel. Banyak yang belum selesai, banyak yang menyisakan trauma dan itu tidak bisa dimungkiri. (2) Gagasan soal penatu binata, entah mengapa ketika sampai halaman 22-23 saya langsung ingat bukunya Toshikazu Kawaguci, Before the Coffee Gets Cold (dan banyak buku setipe lainnya). Genre cozy book yang belakangan mewarnai terjemahan kita. Bukan buruk, tapi mau tidak mau pembaca langsung keingat itu. Dan (3) gagasan soal sci-fi perihal pengapusan ingatan dan penlitian soal otak. Dan tiga gagasan yang saya temukan dalam novel ini, gagasan ketiga ini yang menurutku baru dan menjadi makanan Sasti harusnya. Sasti dokter kenapa bagian ini tidak menjadi pokok utama novel(?) tanpa harus menghadirkan penatu (yang mungkin ini hadir sebab hasrat untuk menggaet pembaca pop?). Dan gagasan ketiga ini harus saya akui membuat saya ingat novel Time Shelter. Meski beda, kisah penelitian B dan Z, bisalah diarahkan ke sana. Bagaimana sci-fi bisa berkontribusi untuk sejarah dan tentu memori buruknya.

Gagasan (1) dan (3) kalau dikombinasikan dengan baik rasanya bisalah tanpa harus menghadirkan gagasan (2). Sebab nomor 2 ini menjadi kontradiksi, Lian dokter yang sangat logis.

Namun, yang saya sangat suka dari Sasti adalah permainan perumpamaan. Itu tidak bisa dimungkiri. Bagus, sekali.

Dan bagian ini: Kayak Orde Baru saja, semua harus seragam. 

Saya adalah orang di keluarga yang paling menentang soal seragam (mau kawinan, mau lebaran, mau apa saja!). Sebab dari dulu paling benci dengan foto keluarga berseragam, dan itu belakangan saya sadari menjadi budaya orde baru (yang dicontohkan oleh keluarga cendana dan korpri).


(Bukunya berhasil menemani saya yang sedang menahan lilit perut sakit asam lambung.)
Profile Image for Tamira Bella.
190 reviews
August 7, 2025
Novel yang mengulas suatu trauma dari seorang gadis tionghoa yang barnama Lian dan laki-laki bernama Ombak, dimana keduanya menanggung trauma mendalam akibat kerusuhan 1998.

Lian sendiri merupakan korban pelecehan, sementara Ombak merupakan anak laki-laki yang mengalami trauma, ketika melihat temannya tewas terbakar saat sedang menjarah.

Ingatan Ikan-ikan seakan menghadirkan trauma kolektif pasca peristiwa 1998 dalam bentuk fiksi, sekaligus menjadi penghormatan kepada para korban untuk “menolak lupa” dan mencari makna melalui ingatan, bukan pelarian.

Metafora ikan mas yang sering mendapatkan label "mudah lupa" seakan menjadi simbol perjuangan dalam bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan amnesia sejarah.

Saya suka dengan tema buku iyang mengangkat genre historical fiction. Alur yang digunakan merupakan alur campuran, sayangnya beberapa part tidak terasa mulus, buku yang penuh metafora namun ada beberapa istilah yang tidak terlalu umum di mata awam.

overal oke untuk 3/5
48 reviews
July 1, 2025
Buku ini saya beli sudah cukup lama. Tetapi, saya tidak langsung membacanya. Ia duduk manis di rak seperti kebanyakan buku yang masih terbungkus plastik lainnya.

Tanpa ada alasan spesifik, beberapa hari lalu saya tiba-tiba ingin membacanya. Saya sudah lupa alasan membelinya. Saya juga tidak berusaha membaca ulang blurb di sampul belakangnya. Dari judulnya, saya mengira isinya pastilah berhubungan dengan hal-hal berbau fantasi, persis seperti buku-buku karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Maklum, ini buku Sasti Gotama pertama yang saya punya.

Ingatan Ikan-ikan terbit setahun yang lalu, tetapi pesan yang disampaikan bagaikan sanggahan untuk seorang pejabat yang baru-baru ini mengklaim bahwa kekerasan seksual pada tragedi 1998 tidak pernah ada buktinya. Itu hanya rumor, katanya. Negara berusaha menghapus sejarah. Tetapi ingatan itu selalu ada. Di novel ini, Sasti mengukuhkan betapa besarnya usaha menghapus peristiwa kelam itu. Pada akhirnya ingatan adalah fakta yang tidak bisa disangkal.

Saya yakin dalam menyusun ceritanya, Sasti melakukan riset dan wawancara dengan para tokoh yang berhubungan langsung dengan korban. Detail-detail seperti kejadian penjarahan dan kebakaran di tengah kerusuhan hingga tampilan para pelaku kekerasan seksual persis seperti yang pernah saya dengar juga dari hasil menonton wawancara mantan anggota TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) 98.

Kepahitan peristiwa 98 dibungkus dengan kisah romansa antara kedua tokoh utamanya. Untuk saya yang bukan penyuka fiksi roman, kisah keduanya masih bisa saya nikmati. Dan, seperti kebanyakaan penulis perempuan, Sasti mampu menggambarkan hubungan percintaan yang manis tanpa ada adegan ranjang yang terkadang tidak perlu-perlu amat.

Saya bisa katakan Ingatan Ikan-ikan berada dalam satu kelompok dengan Laut Bercerita, Orang-Orang Oetimu, Perkumpulan Anak Luar Nikah sebagai buku-buku yang saya rekomendasikan bagi yang ingin memahami kejadian-kejadian keji di era orde baru. Buku-buku yang menjadi pengingat bahwa negara pernah andil melakukan kejahatan kepada warganya sendiri. Tidak ada permohonan maaf, terlebih lagi tanggung jawab atas trauma yang dihadapi para korban seumur hidup mereka.
Profile Image for ℛ..
159 reviews23 followers
January 25, 2025
Ada banyak perasaan yang muncul sewaktu baca buku ini. Kengerian, kesedihan, sampai dengan kemarahan ikut hadir. Rasa ingin memukul seseorang juga ikut muncul setelah baca buku ini. Mengambil latar dan topik sejarah tentang kerusuhan dan perisakan etnis Cina merupakan hal yang baru buatku dan buku ini cukup bisa mengantar aku membayangkan sekejam apa kondisi saat itu.

Perih, ketika melihat Lian yang berjuang sampai seperti itu untuk terus maju, belum lagi dengan traumanya yang terus menghantui seluruh hidupnya. Buku ini seperti terlalu nyata untuk disebut sebagai sebuah cerita. Pasalnya, (terlepas dari sejarah yang diangkat dalam buku ini) sebagian besar perempuan atau korban kekerasan justru haknya untuk menuntut keadilan akan terampas lalu hilang. Meski keberanian dan keinginan untuk mengungkap rahasia kelam akan sebuah kenyataan itu ada, akhirnya akan berujung dengan telunjuk penghakiman yang justru berbalik arah membuat para korban seolah menjadi tersangka.

Jahat, memang. Tapi, hal itu sampai sekarang masih sangat marak terjadi sehingga terkadang membuat para korban memilih bungkam dan mereka para pelaku justru terbebas menikmati hidup.

Jujur, setelah baca buku ini ada kekosongan yang aku rasakan. Terlebih dengan akhir dari buku ini yang menurutku lebih ke open ending dengan closure yang nyaris bisa disebut ambigu untuk Lian, Ombak, B bahkan Z.

Dan untuk Ombak, sini tak pukul kamu. Kesal betul dengan Ombak (terlepas dari masa lalunya). Untuk Lian dan B, kalian betul-betul berhak untuk bahagia.

Ini buku kedua Mbak Sasti yang kubaca, dan bisa dibilang buku ini aku rekomendasikan kalau-kalau ada yang ingin menyiksa diri dengan cerita menyayat hati.
Profile Image for Riri Reads Books.
136 reviews2 followers
June 30, 2026
4 ⭐️

Lagi-lagi buku mba Sasti berhasil memikatkuuu!! Udahlah fix banget menjadi should buy author.

Ingatan Ikan-Ikan kinda reminds me of Eternal Sunshine of Spotless Mind x Supernova pertamanya nya Dee. Ada sentuhan dua POV ilmiah dua karakter dan realita dua karakter lainnya yang sama sama terhubung satu sama lain.

Aku bisa merasakan perih dan betapa traumanya Lian yang menjadi tokoh utama buku ini, agaknya isi bukunya agak sedikit triggering karena membahas isu kerusuhan 1998 dan apa yang terjadi pada mayoritas masyarakat etnis cina pada saat itu.

Meski gak serumit Korpus Uterus, bisa dibilang Ingatan Ikan-Ikan lebih terasa emosional, aku bisa iba, kesal, marah, kadang gemes, kadang juga pengen lempar buku ke Ombak — walopun aku tau pilihan & memilih itu susah — tapi aku juga paham mungkin makna sebenarnya buku ini adalah sebuah healing process untuk Lian dari ingatan-ingatan kelam dengan analogi Ikan Koki

Ingatan Ikan-Ikan is obviously suatu bacaan yang membawa kita ke masa lampau dan sekarang, sebagai spectators.
Profile Image for Ms.TDA.
311 reviews8 followers
February 12, 2025
Buku ini cukup unik dalam memaparkan cerita yg disajikan. Adanya perpaduan sejarah, lalu kinerja otak, dan juga trauma manusia. Ga nyangka juga dimasukkan beberapa budaya seperti salah satunya itu standarisasi kebudayaan berseragam yg berasal dari Keluarga Cendana di kala Orde Baru yang masih berjalan hingga sekarang.

Jujur mau dibilang puas banget engga, karna memang dikasinya open-ending agar pembaca berimajinasi. So, 3/5🌟
Profile Image for Fidia .
354 reviews10 followers
August 25, 2024
Bagaimana cara memahami kengerian yang menghantui para korban Kerusuhan Mei 98? Buku "Ingatan Ikan-ikan" menjadi menarik karena penggunaan tokoh berlatar masyarakat biasa yang seringkali luput diberi ruang untuk bersuara. Kesaksian mereka dipaparkan melalui fokus plot yang berkutat pada kondisi psikologis korban maupun dampak kejadian tersebut terhadap kehidupan sehari-hari mereka. Lalu, siapa sangka penulis bakal menyatukan genre sejarah dengan pembahasan ilmiah terkait kinerja otak?  
Profile Image for Ria.
10 reviews1 follower
July 4, 2026
Premis yang awalnya menarik, tapi saya merasa terlalu meromantisasi tragedi '98. Plot nya juga tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tentang karakter buku ini. Tiap karakter juga seperti hanya punya polesan luar saja dan sering berkontradiksi perilakunya. Seperti Ombak yang underprivilege tapi entah kenapa bisa bijak luar biasa. Namun, malah sembarang menikah tanpa cinta. Monolog B tentang perempuan lemah yang tidak bisa bilang "tidak" saat dilecehkan jadi bikin saya tutup buku ini beberapa saat. Menurut saya bagaimanapun sarkasme yg menjadi tujuan penulis, narasi seperti itu justru harmful untuk pembaca belia atau awam karena malah membentuk pemikiran menyalahkan korban (victim blaming). Bahkan setelah saya memaksakan diri untuk menghabiskan buku ini, rasanya tidak ada penyelesaian plot ataupun karakter yang berkesan
Profile Image for Callista Marsyah.
54 reviews
December 3, 2025
buku kedua kak sasti yang aku baca setelah kumcer kucing hitam, dan reaksiku masih sama seperti pertama kali. INDAH. bahkan di paragraf pertama pun aku lagi-lagi jatuh cinta sama tulisannya. diksi, narasi, semua perumpamaan yang dipakai indah. cukup banyak kata-kata baru dan nggak lazim yang harus aku cari dulu artinya di kbbi (that's the fun part!!! dan jadi banyak coretan-coretan dan anotasi di bukuku).

oke, di awal kita dibuat bertanya-tanya banget, 'apa sih ini?! siapa sih mereka?!'. sudut pandang dan alur di setiap bab beda-beda, gonta-ganti, jujur agak bikin bingung. tapi enggak sampe mengganggu. pacenya udah cukup pas menurutku, nggak terkesan tergesa-gesa... walaupun ada yang bilang ceritanya sedikit bertele-tele karena narasi yang banyak kiasan.

untuk keseluruhan dari cerita, beberapa poin dariku:
- ngebawa isu tragedi 1998 indonesia dibalut fiksi ilmiah ringan bener-bener oke. cukup excited di setiap bagian penjelasan yang mengarah ke ranah sains, biologi dan molekular karena memang ada basic di situ juga. dan aku langsung paham, keinget pelajaran sewaktu kuliah 😅
- tentang cerita di balik penatu binata, aku nangkep tujuan utama dan terselubung dari proyek itu adalah gambaran gimana 'mereka-mereka' nyari berbagai cara untuk ngebungkam kita, rakyat yang jadi korban. mereka setakut itu kalau kita berisik. jadi mereka memang punya target: korban-korban tragedi. yang sengsara karena ingatan yang jadi trauma. JUJUR AWALNYA NGIRA PENATU BINATA INI MURNI MAU NOLONGIN TRAUMA KORBAN, TAPI SETELAH DIPIKIR LAGI... dari cerita si B, ini intinya adalah PEMBUNGKAMAN RAKYAT.
- nilai plus karena lian MINUS 1028382920 KARENA MEREKA AAAAAAARGHHHH CUKUP FRUSTRASI BACANYA DI SAAT ya paham, oke, dulu pas remaja mereka punya ikatan emosional. tapi ini dipertemukan lagi udah dewasa? setelah berpuluh tahun? HARUSNYA BISA KALIAN TAHAN, DONG. LIAN JUGA GENDENG.

bonus pujian lainnya, gambar covernya cantik. secantik itu luar dan dalam.

terakhir, a gentle reminder dari ombak masa kecil—ayahnya gak bener, ibunya kabur dari rumah, gak punya uang sepeser pun, dan harus jualan koran setiap pagi di lampu merah: “Pernah aku main ke rumah temanku. Dia punya setumpuk komik silat Mandarin. Aku membacanya. Ceritanya asyik. Hatiku mendadak riang dan tiba-tiba duniaku terasa baik-baik saja. Aku merasa normal. Ternyata untuk merasa normal, aku tak harus mengikuti standar normal milik orang lain. Mulai saat itulah, aku bertekad bahwa aku yang akan menentukan titik normalku sendiri. Hidupku yang sekarang ini kuanggap normal. Dan karena itu, aku merasa baik-baik saja.”
Profile Image for aynsrtn.
639 reviews27 followers
October 24, 2024
"Dengan ingatan, kita melawan lupa. Dan dengan ingatan pula, kita melawan kekuasaan dan ketidakadilan." - p. 181

Mengisahkan tentang Lian dan Ombak yang memiliki trauma mendalam atas peristiwa yang terjadi di tahun 1998. Lian takut akan tawa. Ombak takut akan plastik berwarna hitam. Layaknya ikan mas koi yang memiliki ingatan yang pendek, mereka ingin hilang ingatan akan peristiwa menyakitkan itu.

Memadukan his-fiction dengan genre sci-fiction.
Trigger warning: implied rape, dead body, violence

Actual rating: 4.5⭐️
Nyaris mau aku kasih bintang 5. Alasannya karena dari 2 tokoh utama di atas yaitu Lian dan Ombak, ada 1 lagi tokoh yang sayang banget nggak dieksplor lebih dalam yaitu B.

Alur ceritanya maju mundur. Di masa kini (rentang 2005 - 2007) dan masa lalu (tahun 1998). Penulis menampilkan pula sisi kelam kejadian tahun 1998 dan represif kepada etnis tiongkok dengan sangat baik—nan memilukan.

"Aku benci ingatan! Bahkan, sekarang rasa nyeri itu makin kuat setiap aku mendengar suara tawa. Aku ingin lupa!"
"Aku tahu. Aku tahu. Aku paham perasaanmu. Kamu, aku, boleh jatuh, tapi jangan runtuh. Sekarang aku ada kamu, dan kamu ada aku. Kita atasi bersama!"
- p. 150

Lian dan Ombak adalah sepasang manusia yang bertemu di waktu yang tepat, namun dilukai takdir. Mereka sama-sama trauma, sama-sama terluka, sama-sama ingin sembuh, namun seribu sayang ... memang ada yang abadi di hati, tetapi tidak bisa bersama.

Tokoh B di sini pun menambah kesan misteri-scifiction di novel ini. Sayangnya kurang panjang bagian dia, kayak tanggung banget. Padahal nggak apa-apa lho sampai 300 halaman juga, hehe.

Diksinya cantik, narasinya indah. Aku suka bagaimana penulis menuliskan kata-kata tak lazim–dan baik.

Kasih sayang dan cinta tak ubahnya hasil manipulasi neurotransmiter terhadap otak manusia. Dopamin, serotonin, dan oksitosin membuat manusia menjadi dungu dan terprovokasi melakukan reproduksi. - p. 121

Ending-nya tanggung ya, tapi memang cukup. Haha, nanggung yang cukup. Akhir kata, jika ingin membaca novel hisfic tapi serasa futuristik, novel ini sangat direkomendasikan.
Profile Image for Neysa.
184 reviews1 follower
January 21, 2026
This was the first book by Sasti that I read in my life.

To be honest, the blurb was quite convincing and prompted me to purchase the book, yet I must say that the execution was not particularly well written. I had not anticipated that this book would incorporate the historical fiction genre, particularly with the backdrop of the 1998 tragedy, and this was unexpected. It was rather surprising to me, and I was keen to read further, as the author had imbued the narrative with a unique approach by blending historical fiction and science fiction elements. However, as I progressed from the middle section to the conclusion, the narrative became increasingly bland and predictable.

Had the author included a twist or an unexpected conclusion, I would undoubtedly have awarded it more than three stars.

I am aware that Sasti Gotama has produced other remarkable works, but I shall likely read them at a later date, as I am not sufficiently persuaded to explore her other publications in the immediate future.

Three out of five stars.
Profile Image for Miranti.
14 reviews48 followers
January 6, 2026
Setengah dari buku ini sempat berpikir akan memberikan bintang 4, tapi setelah selesai saya memutuskan untuk memberi bintang 3. Bukannya tidak suka, tapi rasanya seperti agak jet lag 🤔. Separuh lebih dari cerita, saya lumayan invested sama historical dan emotional background dari Lian dan Ombak, berpikir kalau keseluruhan ceritanya hanya fokus dengan perjalanan emosi tokoh serta implikasinya setelah ingatannya dihapus. Tapi lalu tiba-tiba saja jadi seperti scifi (?) dan tiba-tiba saya bingung harus menempatkan emotional investment barusan dimana 😭. Karena jujur saja feelnya jadi sirna seketika. Selain itu, pace ketika mekanisme penghilangan ingatannya di-reveal, lumayan info dumping. Jadi terkesan buru-buru ☹️. Identitas buku ini jadi membingungkan, dari hisfic tiba-tiba jadi scifi. Padahal konsepnya oke, eksekusinya saja yang perlu diimprove.
3 reviews
July 23, 2026
Sebenarnya saya ingin kasih rating lima bintang. Novelnya singkat, padat, jelas. Sebagai pembaca yang kurang suka gaya mendayu-dayu, novel ini pas banget. Semua plot terangkai dalam kurang dari 200 halaman. Saya juga suka elemen spekulatif fiction-nya: dunianya masih "dunia kita", bukan fantasi murni, hanya dengan sedikit twist yaitu adanya "obat" penghilang memori spesifik. Dan sisi fantasi ini memperkaya dunia tanpa perlu memper-ribet pembaca dengan mekanisme-mekanisme terlalu detil.

Saya juga menyukai kekhasan gaya menulis penulis yang terbentuk dari pendidikan dan profesinya di bidang kedokteran. Analogi-analogi yang disajikan, misalnya seputar ikan sangat "spot on", memberi wawasan dan tetap nyambung. Pengulangan-pengulangan kata, analogi, frasa, ada tapi sesuai target kalau memang untuk memberi penegasan -- bukan pemborosan kata-kata. Juga penulis mengasumsikan pembacanya "pintar" jadi tidak perlu setiap jeda antar adegan dijelaskan, cukup bahas adengan yang bermakna bagi alur cerita. Saya rasa latar belakang penulis sebagai penulis cerpen cukup membantu dalam hal ini.

Namun, saya terpaksa kasih rating empat karena, walaupun penulis sudah mencantumkan paling tidak satu "Chindo" sebagai konsultan budaya pada bagian ucapan terima kasih, sebagai Chindo Peranakan Jawa, saya rasa penulis belum "ngeh sepenuhnya" soal esensi budaya Chindo. Berikut contohnya:
- Karyawan Papa Lian panggil Lian "Mbak". Biasanya panggilannya "Ci" atau "Non"
- Tante Lian menawarkan Lian untuk les Mandarin di tahun 1997. Tahun segitu mah belajar bahasa Mandarin masih dilarang Orde Baru. Lagipula, diaspora Chindo kebanyakan bahasa leluhurnya bukan Mandarin tapi bahasa daerah seperti Hokkien, Tio Ciu atau Hakka/Khek jadi bukan "sudah nggak bisa Mandarin" -- memang dari awal leluhurnya nggak bisa Mandarin
- Adanya Bakmoy -- menu peranakan Cina Jawa -- di sebuah kota di Cina. Mungkin saja ada kalau penjualnya diaspora Chindo di RRC. Tapi ini tidak dijelaskan jadi agak jengah serasa novel tokohnya bule tapi namanya Bambang tanpa penjelasan apa-apa
- Nama Lian Wen untuk Chindo kelahiran tahun 80an juga agak jarang. Memiliki nama resmi berbau Chinese dilarang di Orde Baru. Paling banter jadi punya dua nama: resmi (nama barat seperti Jessica atau lokal seperti Putri) dan nama Chinese non-resmi. Kalau begitu, di klinik harusnya Lian tidak dipanggil Lian tapi nama resminya
- Dan yang paling janggal itu, bagaimana Ombak sudah dekat dengan Lian, membantu Lian, bahkan menyelamatkan Lian tapi Papanya Lian nggak berusaha mencari Ombak selama tujuh tahun. Dalam budaya Tionghoa, hutang budi itu krusial sekali. Kami bahkan berlomba-lomba menumpuk hutang budi. Misalnya, kalau si A ke nikahan anaknya B lalu si A kasih angpau sekian, nanti kalau anaknya si A nikahan, B akan berusaha menyamakan atau kasih lebih dari yang ia terima. Juga dilihat di budaya berusaha mentraktir sampai rebut-rebutan siapa yang bayar di kasir kalau makan di restoran. Memang tahun segitu belum banyak yang pakai HP atau internet, tapi jangan remehkan intel kami. Kami akan tanyakan ke tukang parkir, tukang ojek, tukang nasi goreng buat menyelidiki ada di mana dia, gimana cara contact dia, lalu paling tidak kasih hadiah setiap ulang tahun atau Lebaran. Apalagi orangnya nggak pindah kota. Sebagai pembanding, baru-baru ini sempat ada twit soal mantan tetangga Chindo yang sudah merantau ke luar negeri tiba-tiba mewariskan rumah mereka ke mantan tetangga Pribumi yang menyelamatkan mereka waktu tragedi 98. Segitunya bagi kami soal hutang budi.

Oh satu lagi tapi minor: tahun 1998 belum ada Dora the explorer jadi analoginya kurang dapet

Saran saya, jika ketika memasukkan tokoh, apalagi tokoh utama, dengan latar belakang budaya, ada baiknya naskah draft dibaca dan diperiksa dulu dari segi sosial budaya oleh pemilik latar belakang tersebut. Minimal 3 orang lah supaya tidak rentan jadi white, eh sawo matang, saviour complex. Sebagai referensi soal budaya Tionghoa Peranakan Jawa, bisa merujuk ke novel Perkumpulan Anak Luar Nikah karya Grace Tioso.
Profile Image for Andi Lintang.
228 reviews20 followers
January 1, 2026
Ingatan Ikan-ikan karya Sasti Gotama adalah novel yang mengangkat trauma tragedi Mei 1998 dan dampaknya yang menetap pada para penyintas, bahkan bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu. Melalui kisah tentang ingatan, cinta, dan upaya melupakan, novel ini mempertanyakan satu hal penting: apakah lupa benar-benar bisa menyembuhkan, atau justru menjadi bentuk kekerasan baru terhadap korban dan sejarah?

Novel ini menggunakan alur maju-mundur, bergerak antara tahun 1998 dan 2005. Tragedi krisis moneter dan penjarahan menjadi fondasi luka yang dibawa para tokohnya hingga dewasa. Cerita berpusat pada Lian dan Ombak, dua sahabat semasa SMA yang terpisah oleh tragedi, lalu dipertemukan kembali dalam kondisi ingatan yang telah dihapus. Alur semakin kompleks dengan kehadiran B, ilmuwan pengembang obat penghapus memori. Ketika ingatan yang dihapus perlahan kembali, konflik personal dan moral pun memuncak, membawa cerita pada akhir yang terbuka dan mengundang perenungan.

Lian digambarkan sebagai penyintas dengan trauma fisik dan psikis yang nyata dan membekas. Kebenciannya pada tawa menjadi simbol luka yang tak kasatmata. Ombak adalah sosok yang tenang namun menyimpan mimpi buruk dan rasa bersalah, terjebak antara masa lalu, cinta, dan tanggung jawab keluarga. tampil sebagai karakter ambivalen: ilmuwan yang ingin menyembuhkan trauma, tetapi justru terlibat dalam penghapusan ingatan, sebelum akhirnya berhadapan dengan luka masa lalunya sendiri. Karakter-karakter ini terasa manusiawi, rapuh, dan tidak hitam-putih.

Sasti Gotama banyak menggunakan metafora dan bahasa naratif yang puitis, membuat ceritanya terasa hidup dan tidak datar. Pilihan diksi yang beragam, termasuk kata-kata yang tidak familier, menambah kekayaan bahasa meski menuntut perhatian lebih dari pembaca. Atmosfer tragedi, ketakutan, dan sunyi pasca-kerusuhan terasa kuat, terutama dalam penggambaran lingkungan pertokoan etnis Cina.

Keunggulan utama novel ini terletak pada keberaniannya mengangkat tragedi 1998 dari sudut pandang korban, terutama etnis Tionghoa, dengan jujur dan tanpa romantisasi. Metafora ikan mas koki dan ingatan menjadi simbol yang kuat dan konsisten. Relasi Lian dan Ombak juga ditulis dengan kedalaman emosional, tanpa menghalalkan hubungan yang salah, namun tetap memperlihatkan kompleksitas perasaan dan kebutuhan manusia.

Penggunaan istilah ilmiah dan konsep sains tentang memori mungkin terasa agak padat bagi sebagian pembaca. Selain itu, alur maju-mundur dan banyaknya lapisan cerita menuntut konsentrasi ekstra agar tidak kehilangan benang merah, terutama di bagian tengah novel.

Novel ini menyampaikan pesan penting tentang hak korban untuk mengingat dan bersuara. Melupakan, apalagi secara paksa, bukanlah solusi atas trauma, melainkan cara lain untuk membungkam kebenaran dan merusak sejarah. Ingatan Ikan-ikan mengingatkan bahwa tidak semua luka bisa disembuhkan dengan lupa, dan tidak semua cinta harus dimiliki. Mengingat adalah bentuk perlawanan, agar tragedi serupa tidak terulang kembali.
Profile Image for Zufar Maulana.
1 review
October 11, 2025
Pertemuan dengan buku ini saat coba-coba datangi Out Of The Books—salah satu event buku di Malang September lalu. Hal menarik bagi diriku adalah penulis nya seorang dokter, genre bukunya fiksi dan sejarah (hisfic), dan setelah menelusuri lebih jauh isinya mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan perempuan dan hal-hal psikologis, fix ini menarik! Sejak awal, dari judulnya sendiri sudah memikat sekali—“Ingatan Ikan-Ikan” terdengar sederhana, seperti akan membahas soal hewan—bagi yang tidak sengaja menemukan buku ini.

“Dengan ingatan, kita melawan lupa. Dan dengan ingatan pula, kita melawan kekuasaan dan ketidakadilan.” - P. 181
Begitu yang tertulis di akhir buku ini. Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak menginginkan ingatan itu? Haruskah ingatan dihapus, diingat, dibiarkan? Lalu, gimana caranya kalau memutuskan menghapus atau membiarkan dengan berteman dengan ingatan atau bahkan memutuskan mengingat dengan terus berulangkali terapi? Pernah kah kau tersiksa hanya karena punya ingatan?

Iya, novel ini mengisahkan salah satu sejarah kelam di Indonesia; tragedi 1998. Melalui karakter-karakter dalam novel ini nuansa dan fakta kelam itu dituturkan; trauma perkosaan, kehilangan, diskriminasi, rasial, ketimpangan kelas, krisis, perlawanan dan pembungkaman. Lengkap dengan elemen-elemen fiksi—“Penatu Binata” yang menawarkan jasa “mencuci ingatan”. Ketika membaca semua hal itu begitu terasa, nyata, menyentak kesadaran—padahal tidak pernah hidup atau tumbuh di tahun kelam tersebut.

Sebagai pembaca yang pertama kali berkenalan dengan karya Sasti, jujur ketika awal-awal halaman hingga hampir setengahnya merasa metafora dan frasa yang digunakan banyak yang tidak umum. Ketika tuntas membaca merasa elemen fiksinya pun terasa seperti dipaksakan—mungkin karena awalnya juga ini karya novella. Sedikit bingung juga dengan penyelesaian konflik anata tokoh Z dan B, apa hanya sebatas sampai mengungkap fakta kalau salah satu tokoh memanipulasi dan memanfaatkan tokoh salah satunya?

Lebih dari itu, Ingatan Ikan-Ikan bagiku berhasil menghadirkan suasana yang atmosferik dan reflektif. Jujur menyenangkan menemukan novel yang seperti ini. Cara menarasikan dengan sederhana unsur-unsur medis dan psikologis, itu sangat membantu dan epik! Lagi-lagi penggunaan bahasa yang indah, simbolis, metafora dan perumpamaan-perumpaan yang dipakai agar tidak vulgar sangat jadi nilai plus, serta cara pandang yang dipakai terhadap tema ingatan dan kehilangan, itu sangat menarik. Bagi buku yang terbit tahun lalu dan menjadikan Sejarah kelam sebagai basis ceritanya dan elemen-elemen pendukung lainnya yang ditambahkan itu cukup seimbang porsinya. Buku ini sangat cukup membuat diriku puas, sangat rekomen diantara banyaknya buku genre hisfic! ⭐️4.7/5
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 16 books64 followers
November 25, 2025
Sebagai manusia biasa, pasti kita hidup melewati serangkaian kejadian buruk bahkan mampu memicu trauma, bukan? tapi, nggak semua orang bersedia untuk menghapus ingatan buruk itu jika pun hal tersebut memungkinkan untuk dilakukan.

Lian dan Ombak adalah 2 orang yang hidupnya bersisian dan kemudian memilih untuk menghapus ingatan mereka. Sehingga, dua orang yang semula saling cinta ini kemudian saling melupakan. Keduannya menjadi korban kekejaman dan kerusuhan 98. Keduanya kehilangan hal-hal berharga di diri mereka, sayangnya, saat mereka ingin menghapus trauma, secara tak langsung keduanya saling melupakan.


"Jadi penatu ini semacam tempat cuci otak? tempat menanamkan memori baru?"

Petugas penatu itu menggeleng. "Tidak ada hal-hal rumit semacam itu. Penatu ini hanya membantu menghapus kenangan buruk." Hal.43.


Di sisi lain, B yang bekerja di "penatu" ingatan bekerja dengan memperhatikan dua objek "penelitiannya" tersebut, hingga pada akhirnya B berusaha "masuk| lebih dalam ke ingatan Lian dan Ombak, dua objek penelitiannya dan melanggar semacam protokol dari tujuan utama berdirinya penatu itu sendiri.

* * *

Secara konsep, novel ini mirip dengan apa yang ada di film Eternal Sunshine of the Spotless Mind. Bisa jadi memang Sasti terinspirasi dari film itu. Namun, Sasti dengan piawai mampu meramu latar belakang kejadian 98 dengan ide dasar seputar penghapusan ingatan itu.

Aku gak mau cerita banyak sebab Ingatan Ikan-ikan ini adalah tipe novel yang sebaiknya dibaca tanpa banyak tahu tentang isinya. Aku baru menamatkan buku Sasti yang lain yakni Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu beberapa hari lalu, dan sebagaimana yang aku utarakan terhadap buku itu, ada banyak cerita yang terlalu sulit untuk aku tangkap.

Beda dengan novel Ingatan Ikan-ikan ini. Mungkin, karena ini formatnya novel, Sasti punya ruang bercerita yang jauh lebih banyak dan bebas, sehingga tak harus terburu-buru atau menjejalkan segala macam kata "eksotis" dan metafora rumit dalam penuturannya, sebagaimana ketika dia menulis cerpen yang ruang berceritanya tentu terbatas sehingga keterbatasan itu "memaksa" Sasti untuk mengeluarkan segala jurus sastranya walau buatku sebagai pembaca, nggak semuanya berhasil dan mudah untuk dipahami.

Ah, aku mau baca lebih banyak novel-novel yang dibuat oleh Sasti!

Skor 8,3/10

PS: Terima kasih pinjaman bukunya Sabina.
Profile Image for Mira.
57 reviews1 follower
February 22, 2026
Ingatan Ikan-Ikan merupakan buku ke-4 yang aku tamatin tahun ini, dan buku kedua Kak Sasti yang aku baca… dan jujur aja, makin jatuh cinta sama cara beliau merangkai ceritaaa <3 🥹

Ingatan Ikan-Ikan ini ngasih aku pengalaman baca yang cukup beda ketimbang buku sebelumnua. Di satu sisi, dia pakai latar kerusuhan 1998, tapi cara penyampaiannya bukan yang full historical fiction kaku gitu. Justru kaya perpaduan antara sejarah, magis tapi sci-fi, agak mengingatkanku sama vibes Funiculi Funiculaa, The Memory Police atau Kitchen-nya Banana Yoshimoto.

Berkisah tentang Lian, seorang gadis keturunan Tionghoa yang hidup dalam bayangan trauma 1998. Kemudian ada Ombak, masa kecilnya dan luka luka yang nggak pernah bener-bener selesai. Dalam kelelahannya muncul keinginan terpendam mereka untuk menghapus ingatan” yang jujur aja, bikin aku kontemplasi lumayan lama dibagian ini.

Selama ini aku sering banget dengar narasi “jangan pernah lupa 1998”. Tapi buku ini bikin aku mikir dari sisi yang lebih personal..
gimana kalau bagi korban, mengingat itu bukan bentuk perlawanan, tapi justru perpanjangan luka?
gimana kalau lupa adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup??

Di situ aku mulai bertanya ke diri sendiri… apakah menolak lupa selalu jadi pilihan paling benar? Atau kadang, lupa adalah bentuk dari self-preservation korban?

Tapi walau begitu, ada beberapa hal yang secara pribadi masih mengganjal buatku. Oiya, terutama berapa plot yang rasaanya agak menggantung.. hubungan Lis dan Ombak yang kayak ditinggal begitu aja?? ending B dan Lian yang bikin aku, “loh… terus gimana niihh?” 😅 dan penjelasan tentang B yang menurutku masih bisa digali lebih dalam

Selain itu, aku juga sempet bingung sebenarnya fokus utama buku ini mau dibawa kemana, ke latar 98-nya atau ke konsep penghapusan ingatan itu sendiri. Rasanya dua-duanya kuat, tapi belum sepenuhnya menyatu dengan solid, kurasa bakal cakep banget kalo digali lebih detail keduanya.

Tapi yang aku suka banget dari buku kali ini adalah:
✨ Cara Kak Sasti menulis trauma dari sudut pandang yang intim dan personal.
✨ Relevansinya sama kondisi sosial yang bahkan masih terasa sampai sekarang (konflik horizontal, isu ras, dlll).
✨ Bahasanya ringan, mudah dicerna, tapi tetep ngena.

Bakal seru banget buat dijadiin topik diskusi soal narasi "menolak lupa" Dengan self-prevention korban tragedi 98. Karena sampai diakhir buku aku pun masih mencoba kontemplasi dan mempertanyakan ulang soal makna "ingat", lupa", dan " trauma".
Profile Image for Noonanoni.
17 reviews
June 29, 2026
"Hidup itu hanya jeda menunggu mati."

Ingatan Ikan-Ikan diawali dengan sebuah kutipan bahwa setiap manusia memiliki kisah hidup yang tak terjamah bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kutipannya cukup panjang dan cukup menghangatkan. Novel ini mengisahkan kehidupan Lian, Ombak, B, dan tokoh-tokoh lain sebelum, ketika, dan setelah terjadinya sebuah kerusuhan 1995 lalu.

Kisah dalam Ingatan Ikan-Ikan merupakan kisah panjang yang menyakitkan. Kesakitan itu menyerang dari berbagai sisi dan dirasakan oleh semua tokoh. Seorang tokoh hidup dengan parenting yang kacau, seorangnya lagi mendapat pengkhianatan, belum lagi banyak di antaranya yang berakhir menyedihkan karena kerusuhan tersebut.

Dalam kisah ini, selain kasihan dengan kisah tragis Lian, aku juga diam-diam marah dengan sikapnya yang terus mempertahankan kebersamaan dengan Ombak, meski dia telah mengetahui bahwa Ombak adalah "salah". Lis yang malang ...
Sejujurnya dilematik, aku tidak bisa sepenuhnya membenci ataupun sepenuhnya mengasihani Lian. Namun, hal baiknya adalah perasaan yang kumiliki ketika membaca novel ini menunjukkan keberhasilan penulis dalam menyampaikan ide ceritanya.

Sasti Gotama menuliskan kisah-kisah yang melekat pada setiap tokoh dengan berimbang. Ia tidak meminta pembaca untuk berpihak ke salah satu tokoh dan membenci tokoh lainnya. Melalui diksi indah yang digunakan Sasti Gotama, pembaca akan dibuat larut dalam kisah-kisah indah dan tragis sekaligus di dalamnya. Selain itu, aku suka sekali dengan penggunaan "Ingatan Ikan-Ikan" sebagai judul--terasa sangat kuat metaforanya. Belum lagi sampul yang digunakan juga sangat merepresentasikan cerita di dalamnya secara menyeluruh.

Penggunaan alur maju mundur dalam kisah ini menjadi tantangan karena pembaca harus menyusun kembali kisahnya dengan runut di dalam kepala. Meski begitu, masih cukup mudah untuk menentukan benang merah dari kisah setiap tokoh dengan adanya keterangan pov di awal bab.

Buku 182 halaman ini sangat cocok untuk dibaca semua kalangan usia karena menggunakan diksi yang mudah dipahami dan mengangkat tema kelam yang sangat dekat dengan sejarah masa lampau bangsa Indonesia. Namun, bagi beberapa orang buku ini dapat menjadi pemicu trauma tertentu. Jadi, bijaklah memilih bacaan.
Profile Image for Azkiya.
7 reviews
August 12, 2026
Ini adalah buku Sasti kedua yang aku selesaikan. Secara konsisten Sasti itu selalu menuangkan ide dan ceritanya melalui bahasa dan analogi yg indah. Bayangin aja buku ini tuh mengambil latar waktu dan tempat kericuhan 98 di Kota Solo tapi secara penyajian ini sama sekali tidak vulgar dan kasar. Tidak seperti penyajian kejadiannya Leila S. Chudori dan Soe Tjen Marching.

Kalo dr. Sasti banyak nyeritain mekanisme kerjanya uterus, indera penciuman, dan indera pendengaran di Korpus Uterus, di buku ini dr. Sasti menjelaskan mekanisme suatu obat yang bisa menghapuskan memori manusia beserta kemungkinan hal yg bisa mengcancel mekanisme tsb. Ide ceritanya adalah ada suatu penelitian terkait obat penghapus ingatan yang dilakukan oleh suatu tim researcher. Obat itu diwujudkan dalam bentuk semacam buah mirip buah lerak yang dinamakan Buah Alara. Untuk mendapatkan banyak sample penelitian, tim tsb membagikan poster dengan iming-iming jasa menghapus ingatan (memori) buruk yang direpresentasikan oleh Penatu Binata.

Menariknya dari sekian sample yang tergiur dan datang untuk memakai jasa Penatu Binata tsb, ada sejoli yang punya masa lalu sebagai sepasang kekasih (meskipun tidak official) yang sama-sama datang untuk menghapus trauma masa lalunya. Setelah mereka kehilangan ingatan buruknya, accidently mereka ketemu di toko ikan milik si laki-laki. Kondisinya saat bertemu kembali, mereka tidak saling ingat dan mengenal satu sama lain, tapi deep down merasa dekat dan seperti sudah kenal lama. Nahh akhirnya mereka sering ketemu dan jatuh cinta (lagi) dan kondisi ini bikin sejoli ini kebanjiran hormon trio-in yang mana kombinasi hormon ini bisa mengcancel mekanisme dari buah alara yang sedang mereka uji.

Ternyata usut punya usut, sebenarnya pernelitian ini dilakukan untuk menghapus sejarah. Menghilangkan ingatan para penyintas agar mereka tidak lagi bisa bersaksi tentang apa yang terjadi di masa itu.

Buku ini tergolong page tuning book, karena untuk saya selesai dalam waktu kurang dari 4 jam. Setelah ini, sepertinya buku-buku karya Sasti Gotama akan masuk ke list must buy book saya, hehe.
Profile Image for Sheeta.
223 reviews20 followers
August 22, 2024
Melalui daya ingat, kita kembali mendalami pengalaman yang paling menyenangkan sekaligus menyakitkan. Andai ingatan bisa dihapus seperti tulisan di papan tulis, mungkin mereka semua yang menjadi korban Peristiwa 1998 pada masa Orde Baru akan melakukannya.

Ingatan Ikan-ikan adalah salah satu buku sejarah fiksi yang menceritakan tentang dua orang dengan latar belakang berbeda, namun sama-sama merasakan pahit dan trauma di tahun 1998.

Adalah Ombak, seorang pemuda bumiputra yang berasal dari keluarga tidak mampu, tercerai-berai yang kemudian bertemu dengan Lian—seorang gadis Tionghoa pemilik toko yang secara ekonomi berkecukupan dan berasal dari keluarga yang baik. Keduanya bertemu setelah Ombak memutuskan untuk bekerja untuk ayah Lian, membantu-bantu setelah sepersekian banyak percakapan dengan Lian. Keduanya menjadi sangat dekat, sering berdiskusi dan mendalami tentang ikan koi. Dipersatukan oleh kecocokan dan ikan koi.

Namun, kebahagiaan keduanya hilang dalam sekejap ketika Kamis kelam menyusul mereka. Saat itu, terjadi gerakan Reformasi yang entah bagaimana ceritanya pecah menjadi kerusuhan. Kerusuhan yang kemudian merugikan hampir seluruh rakyat Indonesia.

Salah satu korban dari kerusuhan ini adalah adik Ombak yang meninggal dan Lian yang secara fisik masih ada, namun jiwanya telah tiada. Lian menjadi korban pemerkosaan, bisnis ayahnya hancur karena dijarah, sang ayah juga dipukuli. Lian yang masih berusaha memproses segalanya bahkan pada saat kejadian, mengingat setiap detail rasa sakit dan percakapan para iblis itu. Ia bahkan tak mampu menatap dan berhadapan dengan siapapun karena merasa bahwa dirinya sudah sangat menjijikkan.

Ia terpaksa berpisah dengan Ombak dan bertemu lagi delapan tahun kemudian. Melalui pertemuan tersebut, mereka yang telah berusaha amnesia terhadap peristiwa tersebut, justru mengembalikan memori yang seharusnya dikubur rapat-rapat. Ikan koi yang seharusnya ikut mati, hidup dan kembali berhadapan dengan mereka. Tapi, sayangnya, keadaan telah berubah.

Ikan koi, status, cerita, kehidupan. Segalanya berubah dalam delapan tahun.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ira Nadhirah.
629 reviews
January 22, 2026
Beli buku ni di Indonesia International Book Fair kelmarin selepas menyesal tak beli setelah direkomendasi abang di Warung Sastra Jogja. Premise nya berlatar belakangkan krisis ekonomi 1998. Last time i went Muzium Bank di Jakarta ada baca beberapa fakta krisis ekonomi pada tahun itu plus gambar gambar demonstrasi. So imaginasi saya ke arah itu lah.

Ada tiga watak utama, Lian, Ombak dan B. Latar tahun 1998 menceritakan bagaimana Lian bertemu Ombak sejak kecil dan they have the same hobby iaitu bela ikan emas. Sampai la kejadian di tahun 1998 berlaku di mana Lian diperkosa dan Ombak kehilangan adiknya. And trauma memisahkan mereka berdua.

Ada element macam idk science or futuristik gitu yang melibatkan B, sebagai agen hilang ingatan. So tujuan agen agen ini adalah untuk hilangkan ingatan those yang terkesan peristiwa demonstrasi 1998 tu. Dan aim utamanya hilangkan ingatan buruk sahaja.

Disebabkan Lian and Ombak ni tak tahan hidup depress sebab trauma tu, diorang terpengaruh pergi hilangkan ingatan. Tapi takdir akhirnya menemukan mereka berdua di tahun 2005 and disebabkan they like each other, jadi kembali ingatan buruk tu.

Halfway tu they both love each other masalahnya Ombak tu dah beristeri. Plot ni agak hmmmm. And ending nya lebih hmmmmmmmmmmm apakah buku ini ada sequel nya?

Antara benda yang menarik in this book how the penulis signifikan kan ikan emas dengan memori. Like umum mengetahui, memori ikan emas kan pendek cuma beberapa saat.

Sepanjang membaca buku ini saya berfikir, kalau diberi peluang hilangkan memori buruk, which memori nak buang, agak banyak ye. Baik buanh je seluruh kehidupan lol.
22 reviews
January 26, 2026
Kalau kamu mendapat undangan untuk melupakan peristiwa paling menyesakkan di hidupmu, memori mana yang ingin kamu hapus?

Adalah Penatu Binata, tempat kita bisa membersihkan pakaian sekaligus ingatan tidak menyenangkan di pikiranmu.

Lian dan Ombak menjalani kehidupannya masing-masing. Lian sebagai dokter hewan di klinik hewan kecil, sementara Ombak biasa menjajakan ikan dan segala macam kebutuhan perawatan ikan. Kedua manusia ini mendapat undangan datang ke Penatu Binata. Masing-masing datang dengan memori yang ingin mereka lupakan mengenai peristiwa di hari yang sama.

Ingatan Ikan-Ikan adalah sebuah karya novel yang pertama yang diterbitkan dari penulis Sasti Gotama. Rangkaian cerita dimulai dari halaman 1, ditamatkan di halaman 182. Beberapa orang menyelesaikan buku ini dengan sekali duduk, gw menyelesaikannya dalam 3 hari. Ditulis dengan bahasa mengalir dan mudah diikuti, sekalipun penulis memberikan penjelasan detail mengenai memori dan penghapusan memori terjadi di otak manusia. Termasuk mematahkan sendiri narasi ingatan ikan koi yang pendek.

Di awal, kita masih diajak meraba. Tokohnya, dampak dari ingatan masa lalu di kehidupan saat, dan ingatan itu sendiri. Di awal perlu pelan-pelan mencerna, bertemu dengan ingatan yang masing-masing tokoh ingin lupakan, makin ke belakang makin mudah menandaskannya.

Sebuah novel yang memberi gambaran bagaimana sebuah peristiwa sejarah besar sebuah negeri mempengaruhi kehidupan individu-individu yang terlibat. Dan tentu saja, kembali mengingatkan kita betapa penting memelihara ingatan kolektif untuk melawan lupa.
Profile Image for Alea Yang.
12 reviews
April 29, 2026
Sebagai orang yang nggak tahu buku ini tentang apa, saya cukup kaget ternyata cerita di buku ini nyambung dengan tragedi 98.

Ingatan Ikan-Ikan mengungkap bahwa upaya penghapusan memori dari orang-orang yang mengalami tragedi 98 (baik penyintas maupun orang yang aktif melakukan penjarahan) masih aktif dilakukan, melalui Penatu yang ternyata adalah tempat cuci otak milik pemerintah.

Hipokampus mereka dicekoki suatu zat yang dapat menghancurkan ingatan spesifik, mengenai tragedi itu, tragedi yang membuat mereka terjaga dari tidurnya, tragedi yang membuat mereka tidak bisa mendengar suara tawa.

Supaya apa? Supaya mereka dapat hidup normal. Tujuannya mungkin terdengar baik. Namun, semua ini ternyata diorkestrasi secara terselubung oleh pemerintah

Pun ini yang terjadi di dunia nyata, dimana Fadli Zon secara terang-terangan di publik menyatakan bahwa perkosaan terhadap orang keturunan Tionghoa tidak pernah terjadi. Namun fakta sejarah yang tersebar, baik dari saksi maupun foto-foto yang beredar, berkata sebaliknya.

Pun dengan peluncuran buku sejarah yang penuh akan "pemutihan", dimana Negara digambarkan bersih dari dosa-dosa masa lalu yang mereka lakukan dengan beringas. Seakan, setelah waktu berlalu, kita akan move on, tidak peduli, dan yaudah hidup normal aja. Tapi, tidak. Kita masih berisik. Kita masih bersuara. Kamisan masih eksis.

Jangan sampai kita melupakan bagaimana negara dengan sadar melakukan kekejian ke rakyatnya sendiri dan secara aktif mengabaikan orang-orang yang terus bersuara akan tragedi ini.
Profile Image for Readingwithhirai.
261 reviews7 followers
April 28, 2025
“Apakah benar ingatan itu akan menghantui seumur hidup kita? Apakah benar ingatan kita masih murni belum tergeser apapun?”
Ngilu, ngeri dan sedih mungkin ungkapan itulah yang mampu mewakili bagaimana saya menuntaskan buku ini. Marah dengan keadaan seolah keadilan tak pernah ada untuk tokoh Lian. Latar yang diambil adalah sejarah kerusuhan dan perisakan etnis Cina begitu juga dengan gambaran serta traumatis yang ditinggalkan pada mereka para korbannya termasuk Lian.
Cara penulis menggambarkan trauma dan ingatan yang samar-samar menghantui tokoh juga sangat nyata memberikan kesan menakutkan akan bayang-bayang kejadian itu kembali hadir. Apakah semua orang berhak untuk bahagia dan apakah kebahagiaan itu tetap ada untuk orang-orang yang terlanjur terluka?
Kisah yang menyayat hati tanpa akhir bahkan pada paragraf penutup cerita kita belum mendapatkan kepastian bahwa Lian akan baik-baik saja kedepannya. Perjuangan masih panjang nyatanya penyembuhan trauma memang dilakukan seumur hidup tinggal memilih memaksa lupa atau hidup berdampingan dengannya.
Hanya saja saya memang merasa buku ini terlalu banyak memasukkan komponen yang ingin ditonjolkan sehingga fokusnya justru terpecah. Salah satu komponen yang menurut saya membuat ceritanya jadi membingungkan adalah penatu binata. Andai saja kisahnya fokus pada penghapusan ingatan dan layar belakang sejarah perisakan maka kesedihan dan kesan yang diberikan bisa lebih dirasakan.
Profile Image for Nur Azkiyati Faizah.
96 reviews2 followers
May 21, 2025
Ingatan Ikan-Ikan

Sasti Gotama
168 hlm - Baca di PlayBook
Penerbit Bentang Pustaka
4.2🌟

Langsung aja, buku ini bagus tapi not my cup of tea. Maafkan Mbak @ceritanyaku , aku nggak suka banget part micro-cheating disini. Skip😖😩

Ingatan Ikan-Ikan cerita tentang kehidupan korban kerusuhan besar-besaran yang kalo aku kira-kira ini adalah peristiwa 1998. Banyak Toko Cina dijarah, korban pemerk0s44n, korban terbakar hingga tak dikenali identitasnya, pelecehan seksual dan tragedi lainnya.
Salah satu korban adalah Lian, Ombak dan B.
Hingga sepuluh tahun berlalu, ingatan dan mimpi buruk tentang peristiwa tersebut tak kunjung hilang dan berkurang, justru semakin buruk setiap harinya. Semakin meresahkan setiap harinya.

Lalu datanglah surat ajaib, menawarkan Buah Alara dari Penatu Binata, yang fungsinya sangat khusus yakni untuk melupakan kenangan dan memori buruk. Himbauan agar hati-hati dalam mengingat momen saat memakan buah tersebut, karena apapun yang diingat saat itu, setiap halnya akan dilupakan. Hilang dari ingatan.

Lalu, Buah Alara sebagai hasil dari penelitian manusia, rupanya ada batasnya.
Tidak sesempurna Maha Karya Tuhan.
Ombak dan Lian menyadarkan B, sang peneliti, bahwa badai akan datang lagi. Bisa datang lagi, jika segala kadar kimiawi datang bersamaan dalam porsi yang spesifik.

Duh buku ini
Campur aduk banget di hati dan kepalaku.

Semoga samawa yaa Ombak dan keluarga. Plis delcon aja kontak masa lalu 😭🙏🏻
Profile Image for cel.
104 reviews5 followers
September 1, 2025
karya ketiga kak sasti yang aku baca. menurutku pribadi ceritanya sendiri seru, tapi ada beberapa hal yang aku rasa kurang sreg.

1) menggabungkan antara sejarah dan fiksi. menurutku ini bukan historical-fiction, tapi ada menggabungkan antara sejarah dan magis (?). alur ceritanya kurang lebih mirip seperti Funiculi Funicula & Smiley Laundromart, yang mana kedua cerita tersebut memang fokus ke sisi magisnya.

2) ada beberapa plot hole yang membuat aku pribadi bertanya-tanya. seperti bagian hubungan Lis dan Ombak yang ditinggalkan begitu saja (bagaimana kelanjutan hubungan mereka?), ending yang menurutku kurang memuaskan karena B dan Lian akhirnya bertemu, tetapi digantung begitu saja, dan penjelasan B yang kurang detail.

3) kak sasti kayaknya masih belum bisa fokus ke satu hal yang ingin dibahas di buku ini. sebagai pembaca, aku pribadi bingung sebenarnya ini tuh fokusnya ke mana. mengambil latar 98, tapi menurutku justru lebih fokus ke "cara menghapus ingatan buruk"nya, yang mana menurutku juga masih kurang jelas penyampaiannya. dibiarkan menggantung begitu saja.

tapi yang aku suka dari buku ini (selain karena tipis), bagian dari kejadian 98 yang diambil masih relevan dengan kejadian yang baru-baru ini terjadi (tentang konflik horizontal dan ras). gaya bahasa yang kak sasti pakai juga mudah dimengerti dan ringan sehingga ketika baca buku ini, aku sendiri merasa enjoy.

sekian dan terima kasih!
Profile Image for Matchanillaaa.
105 reviews2 followers
November 27, 2025
Selalu suka sama gaya penulisan kak Sasti Gotama dengan menggunakan analogi konkret. Seperti di buku Korpus Uterus yang menganalogikan bahasa medis menggunakan aroma dan suara, di buku ini penulis menjelaskan memory dan sejarah melalui analogi hewan. Aku suka bagaimana analogi ikan koi digunakan sebagai ingatan manusia terhadap etnis Tionghoa atas trauma mendalam yang terlupakan. Melalui tokoh Lian dan Ombak, pembaca di ajak untuk menyusuri sejarah kerusuhan tahun 98. Pemerkosaan , penjarahan, rasisme, kekuasaan bahkan krisis moneter.

Munculnya tokoh B sebagai oknum penawar jasa penghapus ingatan juga menjadi bagian paling unik dengan memancing rasa penasaran. Aku jadi bertanya-tanya , "terus orang yang udah menghapus ingatan mau dibawa kemana lagi nih?"
Yang akhirnya memunculkan pesan tersirat yang bermakna di akhir cerita.


Ada beberapa yang masih jadi pertanyaan menurutku. Mendekati bagian akhir, cerita perlahan terfokus pada romansa segitiga. Dan akhirnya berujung pada bibit perselingkuhan? Agak skeptis aja, dan agak menyayangkan kenapa tokoh Ombak yang awalnya green flag, kok jadi agak ngeselin yaa di akhir. Lalu dengan memadukan ingatan sejarah dengan kondisi masa kini jadi membuatku agak denial. Apakah menghapus ingatan dan membukanya kembali menjadi keputusan tepat?
Hubungan Lian dan Ombak menjadi bias begitu saja dan terlupakan. Fokus saya pun jadi terbelah antara ingatan tragedi 98 atau ngurusin romansa mereka nih 🤭
Profile Image for Tri Wahyudi.
83 reviews2 followers
May 20, 2026
Selesai baca buku Ingatan Ikan Ikan karya Sasti Gotama. Bukunya menceritakan Lian dan Ombak yang memiliki trauma dari kerusuhan tahun 1998. Mereka menemukan penatu Binata yang bisa menghapus kenangan buruk.

Ini buku Sasti pertama yang aku baca, ide ceritanya menarik banget, tentang trauma yang melekat di otak dan sejarah kelam yang ingin dihapus oleh you know who. Nah cara menghapus kenangan buruknya unik banget di binatu atau laundry, lengkapnya bisa baca di buku ini hehe. Bahas proses ngilangin memori jadi teringat film Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004).

Selain Lian dan Ombak, ada sudut pandang satu lagi yang nantinya jadi benang merah. Dari buku ini aku jadi tahu kalau ikan mas koki ingatannya cuma 3 detik. Oh iya trigger warning ada kekerasan seksual dan orang tua yang tidak bertanggung jawab, jadi siapkan mental membaca buku ini. Paling sedih memang kisah Lian, korban kekerasan seksual dari kerusahan 1998 yang mencoba melanjutkan hidup, di luar sana ada banyak Lian lainnya. Terus kisah perjuangan masa kecil Ombak juga sedih, dia cuma mau paha ayam!!!!!!!!!!!!

Buku ini alurnya campuran, jujur di awal aku agak bingung jadi sering bolak-balik dan harus teliti soalnya setiap bab ada linimasa gitu. Cuma masih aman sih buat dibaca. Bahasanya cukup indah, serta banyak metafora dan perumpamaan. Beberapa kutipan favoritku:

“Tak perlu tergesa-gesa. Lian tak harus segera menjadi kuat. Bertahan pun adalah salah satu kekuatan.”

“Mengapa untuk merasa normal aku harus membandingkan hidupku dengan orang lain? Mengapa harus mengikuti standar orang lain?”
24 reviews
May 24, 2026
aku sebenernya suka banget sama buku ini, it was THIS close to getting 5 stars from me tapi ada satu konflik yang bikin mixed feelings banget.

buku ini nyeritain kejadian 98 but in such a unique way menurutku. yang di-highlight dari buku ini adalah etnis tionghoa yang jadi korban dalam kejadian itu, dan juga emosi dan ketakutan rakyat yang dimaanfaatkan oleh orang-orang yang punya kepentingan. juga bagaimana orang-orang yang punya kepentingan itu mencoba memanipulasi sejarah. what makes this book even more interesting adalah genre his-fic dibuku ini dipadukan dengan sci-fic. buku ini nyeritain juga tentang how the human brain works, banyak istilah-istilah sains di buku ini yang menurutku menarik banget (setelah dicari tau, ternyata background penulisnya emang dokter, pantes aja).

i also LOVE sasti gotama's writing style.. aku ngerasa cocok sama tulisannya. perumpamaan-perumpamaan yang dipake bagus banget. tapi, aku kurang suka dengan konflik yang terjadi sama lian-ombak-lis, kayak... bisa ngga sih gausah dimasukin konflik kayak gini? ombak annoyed me so bad at some points even tho i understand his trauma and everything. tapi untungnya lian masih pegang prinsipnya yang dia ceritain dulu ke ombak, ombak pun akhirnya sadar kalau itu salah. satu hal lagi yang aku kurang suka adalah endingnya, kayak gantung banget. maybe it's meant to be an open ending, tapi I NEED MOREEEE buku ini harusnya 200-300 halaman.
Displaying 1 - 30 of 67 reviews