Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Wind Leading to Love

Rate this book
Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup.


Suga Tetsuji depresi. Menuruti saran dokter, dia mengasingkan diri di sebuah kota pesisir, di sebuah rumah peninggalan ibunya. Namun, yang menantinya bukanlah ketenangan, tapi seorang wanita yang banyak omong dan suka ikut campur bernama Fukui Kimiko.

Fukui Kimiko kehilangan anak dan suaminya, dan menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian mereka berdua. Dia menganggap dirinya tidak pantas untuk berbahagia.

Setelah menyelamatkan Tetsuji yang nyaris tenggelam, Kimiko menawarkan bantuan pada pria itu untuk membereskan rumah peninggalan ibunya agar layak jual. Sebagai gantinya, wanita itu meminta Tetsuji mengajarinya musik klasik, dunia yang disukai anaknya.

Mereka berdua semakin dekat, tapi….

342 pages, Paperback

First published June 19, 2009

6 people are currently reading
120 people want to read

About the author

Yuki Ibuki

21 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
32 (20%)
4 stars
64 (40%)
3 stars
51 (32%)
2 stars
8 (5%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 30 of 57 reviews
Profile Image for Naomi Chen.
229 reviews14 followers
May 22, 2015
[Diikutkan dalam lomba review Haru]

Awalnya, saya agak sedikit pesimis pas melihat buku ini, dan menjadikannya sebagai urutan kedua dari dua novel Haru yang baru saya beli. Tapi ketika saya membacanya, saya ngga bisa berhenti membalik setiap halamannya karena penasaran dengan ceritanya. Dan tanpa sadar, saya ternyata sudah jatuh cinta dengan tulisannya Ibuki Yuki-sensei yang satu ini.

Cerita mainstream romance tentang romansa Suga Tetsuya(Hero) dan Fukui Kimiko (Heroine), dua orang yang bisa dibilang berada di tahap perkembangan 'dewasa madya'. Mulanya saya berpikir bahwa cerita yang disuguhkan akan cenderung membosankan dengan segala konflik yang ada. Tapi Ibuki-sensei ternyata bisa memikat saya meskipun dalam terjemahannya, banyak istilah maupun hal-hal yang agak saya 'skip' mengingat saya memang kurang suka membaca terlalu detail selain menangkap 'plot' yang ditampilkan. Novel dewasa yang ngga vulgar ini mengajarkan saya tentang arti cinta yang dalam dan ngga selamanya harus tentang fairy tale, tapi juga tentang realita. Dan ternyata, cinta ngga melulu soal kebersamaan, tapi faktor 'tempat' dan 'waktu' juga ternyata menentukan, ya :)

Mungkin kalau anda kurang menyukai budaya Jepang dan juga cerita roman yang terlalu bertele-tele (karena terlalu banyak konflik, salah satunya), sebaiknya anda tidak membaca buku ini...
Mengenai terjemahannya, sejauh ini sudah cukup oke dan nyaman untuk dibaca. Salut dengan penerjemah yang sangat niat dengan menerjemahkan lirik lagu "Puteri Kamelia".

Tadinya saya hendak memberi empat bintang sekiranya ending novel ini ngga memuaskan. Tapi karena memuaskan, akhirnya saya memutuskan untuk memberinya lima bintang.

*ngomong-ngomong, saya sangat menantikan kalau-kalau cerita novel ini kelak bakal dibikin film. kalau sampe kesampean, biarkan saya berimajinasi tentang aktor dan aktris yang akan memerankan Tetsu-san dan Kimi-chan. hahahaha*

***

At first, I doubt that I will like this novel, and ended up make it into second book from Haru that I'll read (besides Intertwine). But when I start reading, I can't stop due to curiosity, And when I realize, I already fell in love with the story.

A mainstream romance genre, about romance between Suga Tetsuya (Hero), and Fukui Kimiko (Heroine), while the interesting part is that both of them were in middle age-stage. At first, I think I will be bored with the story-conflicts-about-middle-age-couple. But finallu, Ibuki-sensei can make me fell in love with this masterpiece although there are lots of terms that I 'skipped' while reading because I prefer to catch the whole plot to read all story description in detail. This adult-novel with 'polite' language taught me many things, especially about the meaning of love, and love which not always about 'fairy tale', but also about reality. Love isn't all about togetherness, but also 'right place' and 'right time'.

But maybe if you don't like Japanese things, or maybe a long-winded romance story (too much conflict, maybe), I suggest you to not read this book..
About the translation itself, so far so good. Praise the translator who really neat with the 'Kamelia Princess's Song translation'.

I want to give four stars if the ending not satisfy me enough, but because it is, I decided to gave 5 stars.

*By the way, I'm looking forward to see this story made into a Japanese Movie. Let me imagine who'll portray Tetsu-san and also Kimi-chan... hahahaha*
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews203 followers
December 21, 2015
Ikutin blog tour dan giveawaynya di http://dhynhanarun.blogspot.com/2015/... giveaway berakhir 5 April 2015

"Tetsu-san, kau ini harus bersyukur! Orang yang giat selalu bisa melewati batas kemampuan manusia biasa dengan mudah. Dengan kata lain, ini adalah peringatan dari Tuhan bahwa kau akan mati jika melakukan hal yang lebih lagi." – halaman 95

Suga Tetsuji mengalami masalah dengan mentalnya yang membuatnya insomnia dan tidak bisa bekerja dengan baik. Atas saran dokter, dia mengambil cuti dan beristirahat di rumah peninggalan ibunya di Miwashi selama musim panas. Kehidupan di kota kecil di pesisir itu agak menyulitkan Tetsuji mengurus kebutuhannya. Dia menghabiskan beberapa jam hanya untuk bisa membeli makanan cepat saji. Di perjalanan pulang, Fukui Kimiko meminta tumpangan. Perempuan cerewet itu mengenal mendiang ibu Tetsuji dan juga kehidupan di Miwashi. Perempuan itu juga yang menyelamatkan Tetsuji saat dia hampir tertarik pusaran air.

Kimiko lalu menawarkan diri untuk membereskan rumah mendiang ibu Tetsuji. Dia melihat banyak barang berharga termasuk koleksi musik klasik dan opera yang sayang jika dibuang. Sebagai imbalan, dia meminta Tetsuji mengajarinya pengetahuan tentang musik klasik. Lewat musik itu, Kimiko mengenang mendiang anaknya, Tomoki, yang pandai bermain piano. Dia juga ingat dengan mendiang suaminya yang kerap kali menganggapnya sok pintar. Kepergian kedua orang itu selalu membuat Kimiko merasa bersalah.

Tetsuji dengan cepat terbiasa dengan kehadiran Kimiko karena perempuan itu juga merawatnya dengan makanan, pijatan dan teman mengobrol yang baik. Tetsuji juga mulai akrab dengan Mai, Shun dan Madam yang merupakan keluarga terdekat Kimiko. Ketiga orang itu mulai menjodohkan Tetsuji dan Kimiko. Kimiko tidak menanggapinya dengan serius. Dia malah melontarkan lelucoan agak seksual yang membuat hubungannya dengan Tetsuji jadi tidak nyaman.

--

Di balik konflik depresi dan kehilangan yang dialami Tetsuji dan Kimiko, The Wind Leading to Love menyampaikan bahwa selalu ada kesempatan untuk memulai hidup baru dan merasa bahagia. Tidak ada batasan usia atau apapun. Yang penting ada niat dan usaha untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Pesan itu disampaikan dalam cerita yang begitu mengugah dengan gaya tulisan yang mengalir, sudut pandang yang konsisten, setting yang menarik dan memiliki dua tokoh utama yang karakternya agak berlawanan tapi punya chemistry yang pas. Serangkaian kejadian sederhana yang cukup membekas membuat Tetsuji dan Kimiko merasa nyaman dengan keberadaan masing-masing. Bagian yang paling aku suka saat Kimiko memasak cemilan dan memijat Tetsuji. Walaupun cuma kentang goreng biasa, rasanya makanan itu jadi sangat menarik sampai membuatku tergerak untuk membuatnya juga (and I did!). Kakiku pun jadi terasa sangat pegal dan ingin dipijat juga, hehehe. Hubungan mereka yang begitu kuat membuat aku sampai menangis, apalagi di ending-nya yang begitu mengharukan. Hiks, hiks.

Baca review selengkapnya di -- http://dhynhanarun.blogspot.com/2015/...
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
May 25, 2015
Aku ingin dicintai. Sebagaimana aku mencintaimu.

Ini kisah Tetsuji, kehadirannya ke Miwashi awalnya untuk mengasingkan diri dari segala beban hidupnya. Seharusnya di usianya yang ke-40 tahun, dia menjadi pria bahagia, punya pekerjaan mapan juga keluarga yang tentunya sangat menyayanginya. Tapi ternyata, Tetsuji divonis dokter menderita depresi, sehingga dia mengambil cuti panjang untuk merenungkan semuanya.

Disanalah Tetsuji bertemu dengan Fukui Kimiko, seorang wanita yang sering disebut "Peko Chan". Semua sopir truk berlomba-lomba memberikan tumpangan kepadanya, karena entah hanya kebetulan atau tidak kehadirannya senantiasa membawa keberuntungan.

Ternyata Kimiko hanyalah wanita biasa, walau dari luar dia sangat menikmati hidup, dan kelihatan bahagia. Kimiko tetaplah wanita yang kesepian dan menyimpan rahasia kelam dan perasaan bersalah dalam hidupnya. Perasaan bersalah terhadap suami dan anaknya yang telah meninggal dunia.

Saat Tetsuji ingin bunuh diri, Kimiko lah yang menemukan dan menyelamatkan dirinya. Kimiko pun menawarkan diri untuk membantu mengurus Rumah Semenanjung, rumah peninggalan ibu Tetsuji yang ingin dijualnya. Alih-alih minta imbalan, Kimiko hanya minta diajari untuk lebih mengerti musik klasik, seperti kesukaan anaknya dulu.

Sosok Kimiko yang bawel, blak-blakan dan selalu ingin tahu mencairkan sosok Tetsuji yang dingin. Akhirnya hubungan mereka pun mencair, dan perlahan-lahan timbul perasaan nyaman satu sama lain. Musim panas itu menjadi musim panas terbaik untuk mereka berdua, terutama bagi Tetsuji. Rasanya bersama Kimiko, semua terasa benar.

Padahal Tetsuji tahu, dia masih punya istri dan anak yang menunggunya di Tokyo, walaupun saat itu pernikahannya memang sedang tidak baik-baik saja malah dalam proses perceraian. Hingga pada akhirnya Tetsuji harus memilih, mempertahankan pernikahannya atau mengejar Kimiko, apa yang terjadi?

"Keputusan yang dibuat oleh orang tua memengaruhi kehidupan anak mereka."

Aku suka banget novel ini, sebenarnya ceritanya sederhana, tetapi aku bisa dibuat larut dengan kisah Tetsuji-Kimiko ini. Mereka seakan terlahir untuk satu sama lain. Chemistry diantara keduanya, membuat mereka saling melengkapi.

Terjemahannya pun sama sekali tidak kaku, konflik yang ditawarkan pun tidak terlalu banyak, tetapi mengalir lancar. Kisah ini seakan fokus kepada Tetsuji dan Kimiko, bagaimana mereka menyikapi hidup mereka saat itu dan bagaimana mereka akhirnya harus menentukan pilihan terbaik untuk kehidupannya...

"Manusia maupun benda akan mengalami perubahan. Tidak ada yang bisa menghindari itu. Jika itu benar, maka kita hanya bisa berusaha untuk melewati semua perubahan itu tanpa rasa takut. Tentu saja sambil mengharapkan sebuah masa depan yang lebih baik."
Profile Image for Enia.
310 reviews106 followers
February 8, 2022
Novel ini cukup ok. Alur cerita dan penceritaannya mengalir dengan tenang serta terjemahan yang baik membuat saya mudah tenggelam dalam membaca novel ini. Penjelasan yang detail tentang pemandangan dan suasana Kota Pesisir juga menambah keasyikan saya membaca karena saya dibuat menjadi lebih mudah untuk berimajinasi dan membentuk kota tersebut dalam pikiran saya.

Cerita dan karakter-karakter di novel ini, menurut saya, sangat realistis dan manusiawi. Luka hati dan emosional serta trauma juga kehilangan jati diri dan arah hidup, diceritakan dengan lembut dan baik oleh Yuki Ibuki sensei sehingga saya merasa simpatik dengan karakter-karakter di dalam novel ini.

Sejujurnya ada satu karakter yang membuat saya ingin lebih tahu lebih banyak tentang dirinya bahkan sempat terbesit di benak saya untuk membaca POV karakter ini atau justru sebuah cerita pendek tentang dirinya. Orang itu adalah
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
March 16, 2015
Judul: The Wind Leading to Love
Penulis: Yuki Ibuki
Penerbit: Penerbit Haru
Halaman: 342 halaman
Terbitan: Maret 2015

Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup.

Suga Tetsuji depresi. Menuruti saran dokter, dia mengasingkan diri di sebuah kota pesisir, di sebuah rumah peninggalan ibunya. Namun, yang menantinya bukanlah ketenangan, tapi seorang wanita yang banyak omong dan suka ikut campur bernama Fukui Kimiko.

Fukui Kimiko kehilangan anak dan suaminya, dan menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian mereka berdua. Dia menganggap dirinya tidak pantas untuk berbahagia.

Setelah menyelamatkan Tetsuji yang nyaris tenggelam, Kimiko menawarkan bantuan pada pria itu untuk membereskan rumah peninggalan ibunya agar layak jual. Sebagai gantinya, wanita itu meminta Tetsuji mengajarinya musik klasik, dunia yang disukai anaknya.

Mereka berdua semakin dekat, tapi….

Review

Ada giveaway berhadiah novel "The Wind Leading to Love" persembahan Penerbit Haru di sini. Berlaku hingga 31 Maret 2015.

"The Wind Leading to Love" bercerita tentang Suga Tetsuji, seorang pria Tokyo yang mengasingkan diri ke Miwashi, sebuah kota yang dikelilingi gunung dan laut. Tetsuji pergi ke sana untuk merapikan rumah peninggalan ibunya, sekaligus menenangkan diri dari stressnya akibat rumah tangganya yang berantakan.

Tetsuji menutup matanya dan terus melangkah ke tengah laut. Tiba-tiba tubuhnya tenggelam, tetapi saat kakinya digerakkan ia masih bisa membuat dirinya mengambang. "Lelahnya," bisik Tetsuji lagi sambil tertawa.

Apa aku coba saja untuk menenggelamkan diri? (hal. 22)


Di sisi lain, ada Fukui Kimiko, wanita cerewet yang kembali ke Miwashi untuk merayakan obon bagi almarhum suami dan anaknya. Walau selalu terlihat ceria, Kimiko sebenarnya masih terus bersedih atas kematian anaknya yang tenggelam di laut.

Waktu awal membaca novel ini, saya sempat bertanya-tanya, Bagaimana penulis akan memperlihatkan chemistry antara Tetsuji dan Kimiko? Karena di awal pertemuan mereka, saya jujur tidak merasakan ada chemistry apa-apa. Kimiko yang cerewet dan terkesan seenaknya tidak begitu Tetsuji sukai. Dan cara penulis membangun chemistry inilah yang kurasa jadi poin terkuat novel ini, karena pada akhirnya, saya mendukung Tetsuji dan Kimiko. I ship them.

Inti novel ini bukan hanya soal percintaan antara Tetsuji dan Kimiko, tapi lebih ke arah dua orang dengan masalah "hati" masing-masing. Tetsuji yang merasa lelah dengan pekerjaannya yang jalan di tempat, istri yang berselingkuh dengan pria lain, hingga sebuah masalah yang pasti bisa dipahami oleh semua pria.

Kimiko juga masih dihantui oleh kematian anak dan suaminya. Dia masih menyesal dengan hal terakhir yang terjadi sebelum anaknya meninggal.

Terdengar suara lirih Tetsuji, "Yang tersisa sekarang hanyalah rute yang salah. Aku telah kehilangan kesempatan untuk pergi ke arah yang benar."

"Siapa yang bilang begitu? Kau ini sedang menanti angin. Sampai saat angin yang cocok datang, kau menunggu di pelabuhan." (hal. 125)


Secara keseluruhan, "The Wind Leading to Love" adalah sebuah kisah cinta yang sangat dewasa dan... manis. Tidak, tidak. Mungkin "menggetarkan hati" adalah frasa yang lebih tepat untuk hubungan antara Tetsuji dan Kimiko. Salut untuk terjemahannya yang enak dibaca, serta bersih. Saya tidak ingat ada typo di buku ini.



Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 New Authors Reading Challenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Chalenge
- 2015 100 Days of Asian Reads
Profile Image for mauroséa.
30 reviews
September 11, 2024
This book is actually my friend's. Nah, awalnya aku agak ragu bacanya gara-gara temenku gak ngasih tau bukunya ini tentang apa. I've told her if romance books aren't my things. Temenku bilang sih ini bukan romance. Okelah akhirnya aku pinjem aja kan.

TERNYATAAAAAAA..





Ya memang gak sepenuhnya romance gitu sih:") The conflicts are little bit complex, and somehow my emotions got fluctuated while reading this book😭😭😭
Suka sama narasinya yang blak-blakan. Lucunya dapet, sedihnya dapet, gregetannya juga dapet.

Baca buku ini sambil ditemenin minum teh dan denger musik yang kalem dan santai sangat recommended banget sih🥺♥
Profile Image for Kitty Wibisono.
211 reviews5 followers
June 16, 2018
For full review, kindly read at my blog: https://pelahapkata.wordpress.com/2018/06/16/the-wind-leading-to-love/

For those who want to read this book, I will host #bookcrossing giveaway in my IG: @womomfey. So, stay tune!


SINOPSIS

“Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup. …”[hal. 29]


Kata-kata itu sungguh pas diucapkan oleh Kimiko-san yang berhasil menghentikan perbuatan bodohnya. Dan meskipun tadi Tetsuji merasa sangat lelah akan kehidupan yang ia jalani selama ini dan berniat mengakhiri segalanya, toh akhirnya pria itu mensyukuri rasa sakit yang kini dialaminya. Itu bukti bahwa ia masih hidup!

Tapi waktu tidak akan pernah luang jika tidak ada yang meluangkannya. [hal. 41]


Hal tersebut bisa dibilang menggambarkan apa yang kini sedang dialami oleh rumah tangga Tetsuji. Kesibukannya dan sang istri sebagai orang tua yang bekerja justru membuat keduanya semakin jarang berinteraksi satu sama lain, juga terhadap putri semata wayang mereka, Yuka. Akibatnya, sang istri pun memiliki PIL (pria idaman lain) dan karena beban pekerjaan serta keadaan rumah tangga yang tidak harmonis, Tetsuji akhirnya divonis menderita depresi berat. Keberadaannya di Miwashi saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menenangkan diri dan menyembuhkan penyakitnya.

“… Aku selalu berpikir… keputusan yang dibuat oleh orang tua memengaruhi kehidupan anak mereka.” [hal.70]


Kimiko yang selalu terlihat ceria, banyak omong dan ringan tangan ternyata juga menyimpan masa lalu pahit yang masih menghantuinya hingga kini. Ia masih saja merasa bersalah atas semua kejadian dimasa lalunya. Suami Kimiko ditemukan meninggal begitu saja setelah ia pergi meninggalkan rumah dan keluarganya akibat penipuan yang dilakukan oleh temannya sendiri. Tidak hanya sampai disitu, Tomoki, putra tunggalnya yang juga berlatih piano musik klasik menghilang ditelan ombak besar. Hal itu terjadi tidak lama setelah sang ayah menyatakan keberatannya atas keinginan Tomoki melanjutkan pendidikan musiknya ke jenjang lanjutan.

“Aku ingin dicintai sama seperti aku mencintaimu.” [hal. 149]


Meskipun awalnya Tetsuji sangat menutup diri terhadap lingkungan barunya di Miwashi, perlahan-lahan keterbukaan dan keramahan Kimiko-san dapat membuat pria tersebut lebih rileks dan akhirnya mampu berdamai tidak hanya dengan dirinya sendiri dan masa lalunya, namun juga mendorongnya untuk berani memutuskan arah masa depannya.

Suara ombak adalah nada; empasan ombak adalah ritme melodi. [hal. 159]


Bukan hanya ombak yang mempertemukan Tetsuji dengan Kimiko. Musik klasik begitu kental mengalun sepanjang kisah dua orang paruh baya ini. Tomoki, mendiang putra Kimiko adalah seorang remaja yang sangat menikmati dentingan piano musik klasik. Sampai-sampai anak laki-laki itu bertekad untuk terus melanjutkan pendidikan musiknya ke tingkat yang lebih tinggi. Di pihak Tetsuji, almarhum ibunya lah yang sangat menggemari musik klasik, khususnya pertunjukkan opera. Begitu banyak piringan hitam, laser disc dan CD musik klasik yang dikoleksi oleh sang ibu.

“Keluarga itu tidak cuma bisa dibentuk dengan melahirkan, bukan? Jalinan pernikahan juga merupakan salah satu bentuk keluarga, kan?” [hal. 266]


Tanpa disadari Tetsuji dan Kimiko, keduanya justru semakin dekat. Masing-masing mulai merasa nyaman dengan keberadaan satu sama lain. Di saat mereka mulai membuka hati itulah, istri Tetsuji tiba-tiba saja muncul kembali. Akankah Tetsuji kembali kepada keluarganya di Tokyo dan melupakan kebersamaannya bersama Kimiko sepanjang musim panas di Miwashi? Dapatkah Kimiko merelakan pria yang akhirnya mampu membuatnya memaafkan dirinya sendiri setelah sekian lama dihantui perasaan bersalah terhadap kepergian orang-orang yang dikasihinya?

***

REVIEW

Saat pertama kali melihat covernya, aku sudah langsung jatuh cinta sama buku ini. Rasanya begitu manis dan menenangkan. Sangat pas dengan latar kisah Tetsuji-Kimiko yang sebagian besar memang berlokasi di Miwashi, sebuah kota kecil di pesisir pantai Propinsi Kii.

Aku sangat menyukai jalinan kisah yang terbangun antara Tetsuji dan Kimiko. Sangat jauh dari kesan terburu-buru dan memaksa. Kisahnya benar-benar dibangun dengan sangat baik dan terjaga ritmenya. Setiap tokohnya memiliki karakter yang benar-benar kuat dan terasa sangat nyata. Sangatlah mudah bagi pembaca untuk jatuh hati pada sosok Kimiko yang ramah, blak-blakan, polos dan juga tampil apa adanya. Sebaliknya, kita akan dibuat geregetan dengan karakter Tetsuji yang terkesan suram, mudah putus asa dan plin-plan.

Terlepas dari tokoh-tokoh utama yang begitu kuat karakternya, para tokoh pendamping juga akan meninggalkan kesan tersendiri. Shun yang begitu muda namun mampu berpikiran dewasa dan berani memperjuangkan impiannya. Mai yang dalam kehebohannya memberi warna ceria dalam hubungan Tetsuji dan Kimiko. Madam yang meskipun sudah berusia lanjut namun masih begitu bersemangat dan bisa dibilang merupakan salah satu tokoh kunci dalam perkembangan hubungan Tetsuji dan Kimiko.

Miwashi sebagai latar utama dalam novel ini juga digambarkan sebagai daerah pesisir pantai yang begitu memukau. Rasanya sangat pas kalau seseorang yang mengalami depresi berat datang ke situ untuk membantunya mengikis penyakit itu perlahan-lahan. Ditambah lagi, sepanjang kisahnya terus mengalun nada-nada musik klasik yang menghanyutkan. Jujur saja, saking penasarannya, aku jadi ikutan mendengarkan musik-musik klasik yang kerap diperbincangkan dan didengarkan oleh Tetsuji dan Kimiko. Suasana yang terbangun jadi makin pas jika membaca novel ini dengan playlist: La Traviata, Gould, dll.

Karena kedua tokoh utamanya adalah orang-orang paruh baya, romantisme novel ini digambarkan dalam sudut pandang yang sangat berbeda. Tidak lagi menggebu-gebu dan melulu mengumbar seksualitas. Pelukan hangat dalam diam, tepukan ringan di pundak, bahkan sekedar mengucapkan kata-kata penyemangat adalah bumbu penyedap dalam kisah ini. Baik Tetsuji dan Kimiko tidak bisa serta-merta langsung meluapkan perasaan mereka karena masing-masing memiliki beban moral terhadap keluarga, orang-orang sekitar, dan bahkan masa lalu yang masih menghantui.
Profile Image for Jessica.
1,219 reviews40 followers
October 9, 2017
Finished this book since last week, and I forgot to update it here!

I think the summary has told you half of the story and you have to figure out the end of it. I just hope this book won't end and give me a more satisfying ending. Hahaha. I'm such a sucker for happy ending and wanted it long.

Hopefully, I can find a man who can accept me for who I am like Tetsuji-san to Kimiko, and Kimiko to Tetsuji
Profile Image for Ria.
121 reviews19 followers
December 24, 2019
"Setiap manusia akan melewati empat musim dalam hidupnya. Musim semi yang biru, musim panas yang oranye, musim gugur yang putih, dan musim dingin yang hitam. Musim semi adalah saat usia belasan, musim panas adalah usia dua puluh sampai tiga puluh tahunan, musim gugur adalah usia empat puluh sampai lima puluh tahunan, terakhir musim dingin adalah usia melebihi musim lainnya."

"Musim panas yang oranye, merupakan musim yang berjalan dengan baik, kan? Memang betul di musim ini wanita itu penuh pengorbanan. Menikah, bercerai. Berada sendirian ataupun terseret dalam perdebatan hebat. Melahirkan anak, juga kehilangan anak. Semua yang ada disekitarku pasti mengalami satu pengorbanan. Kalau dibilang itu adalah dari benih yang ditanam sendiri, ya memang ada benarnya. Lalu, semua terbakar oleh cahaya musim panas" - Kimiko, halaman 264-265

____________________________

Jika beberapa novel yang sebelumnya aku baca tokohnya berumur 20an. Kini aku membaca kisah 'cinta musim panas' dengan tokoh yang akan memasuki musim gugur. Kedua tokoh, Tetsuji dan Kimiko bertemu saat musim panas. Tetsuji, sedang dalam masa kritis - pekerjaan, kesehatan, rumah tangga, semuanya terasa memburuk. Terlebih, saat ia mendengar kematian ibunya.

Tak berbeda jauh dengan Tetsuji, Kimiko juga mengalami hal yang sama. Ia masih tenggelam dalam duka atas kepergian anaknya.

Membaca kisah ini seakan banyak belajar bagaimana cara orang dewasa memandang cinta dan kebahagiaan. Seringkali, ketika ada perdebatan antara suami dan istri, mereka menyebut "demi anak". Padahal, tentu saja, anak mereka tak meminta hal tersebut. Masalah klasik rumah tangga.

Lalu ada kutipan dari Kimiko yang cukup menohok:

Anak yang terdidik dalam keluarga dengan hubungan orangtua yang buruk, akan lebih cepat dewasa.

Menurutku secara keseluruhan, novel ini bagus dan memikat. Padahal kukira bakalan membosankan. Tapi ternyata tidak. Semua diatur dalam posisi yang pas. Dan cukup puas dengan endingnya.
Profile Image for Dea .
8 reviews
December 21, 2017
The Wind Leading to Love, dari judulnya saja tergambar hal apa yang diceritakan didalam novel ini, cinta. Memang, tapi bukan hanya itu. Novel ini menyajikan kisah cinta yang dibalut dengan konflik keluarga dan hal yang disebut dengan musik.

Cinta, kesabaran, kehangatan, makna dari masa lalu, kebahagiaan, dan musik. Banyak hal yang aku rasakan ketika membaca kisah ini. Emosi berbeda di setiap bagiannya, bahagia, sedih, jengkel, menggelikan, kesal, haru. Sebenarnya aku tidak suka dengan emosiku yang diaduk-aduk seperti ini. Namun akhir kisahnya yang begitu menghangatkan hatiku rasanya memaafkan segalanya.

"Aku ingin dicintai. Sebagaimana aku mencintai." (hal 322)

Kisah cinta yang unik. Mengajarkan banyak hal tentang pencapaian kebahagiaan yang sesungguhnya hingga mengambil pelajaran berharga dari masa lalu. Kisah ini telah sukses membuatku takjub.

"Saling memahami kehangatan satu sama lain, menyampaikan bahwa hati ini selalu berada di sisi orang yang dikasihi." (hal 331)

Emang sih di awal" plotnya agak sedikit membosankan tpi klo udah sampai pertengahan hingga akhir itu bener" kerasa semua emosinya. Agak nyesel knp aku nyimpen buku ini lama banget di rak dan gk dibaca" sampai sekarang. Worth it bgt buat aku yg lagi pening sama genre fantasi & ingin naikin mood baca.

So, aku ngasih bintang 4 buat buku ini!
Profile Image for A. Natasha.
6 reviews
April 19, 2021
Buku pertama yang aku baca di tahun 2021✨

Sebenernya aku punya buku ini dari tahun 2015, udah pernah ku baca juga tapi gak sempet diselesain atau aku memang gak mau selesain, aku gak inget. Jadi aku mutusin untuk reread buku ini sebagai pembuka di tahun 2021.

———

"𝐒𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐥𝐞𝐰𝐚𝐭𝐢 𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐦𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐧𝐲𝐚. 𝐌𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐬𝐞𝐦𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐫𝐮, 𝐦𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐩𝐚𝐧𝐚𝐬 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐲𝐞, 𝐦𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐠𝐮𝐠𝐮𝐫 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐮𝐭𝐢𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐝𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐡𝐢𝐭𝐚𝐦. ����𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐬𝐞𝐦𝐢 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐥𝐚𝐬𝐚𝐧, 𝐦𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐩𝐚𝐧𝐚𝐬 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐝𝐮𝐚 𝐩𝐮𝐥𝐮𝐡 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐭𝐢𝐠𝐚 𝐩𝐮𝐥𝐮𝐡 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧𝐚𝐧, 𝐦𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐠𝐮𝐠𝐮𝐫 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐩𝐮𝐥𝐮𝐡 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐥𝐢𝐦𝐚 𝐩𝐮𝐥𝐮𝐡 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧𝐚𝐧, 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐦𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐝𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚."

"𝐌𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐩𝐚𝐧𝐚𝐬 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐲𝐞, 𝐦𝐞𝐫𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐢𝐤, ���𝐚𝐧? 𝐌𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐭𝐮𝐥 𝐝𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐢𝐧𝐢 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐚𝐧. 𝐌𝐞𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡, 𝐛𝐞𝐫𝐜𝐞𝐫𝐚𝐢. 𝐁𝐞𝐫𝐚𝐝𝐚 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐭𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐫𝐞𝐭 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐩𝐞𝐫𝐝𝐞𝐛𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐡𝐞𝐛𝐚𝐭. 𝐌𝐞𝐥𝐚𝐡𝐢𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐧𝐚𝐤, 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐤𝐞𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐚𝐧𝐚𝐤. 𝐒𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐤𝐢𝐭𝐚𝐫𝐤𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐚𝐦𝐢 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐚𝐧. 𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐝𝐢𝐛𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐭𝐮 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐧𝐢𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐚𝐦 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢, 𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫𝐧𝐲𝐚. 𝐋𝐚𝐥𝐮, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐚𝐤𝐚𝐫 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐜𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐩𝐚𝐧𝐚𝐬" - 𝐊𝐢𝐦𝐢𝐤𝐨, 𝐡𝐚𝐥𝐚𝐦𝐚𝐧 𝟐𝟔𝟒-𝟐𝟔𝟓

———

Kisah cinta yang terjadi di musim panas dengan tokoh yang akan memasuki musim gugur, Tetsuji dan Kimiko. Keduanya sama sama sedang tenggelam dalam kesedihannya masing-masing. Tetsuji yang depresi akibat masalah pekerjaan, kesehatan, dan juga rumah tangga. Ditambah lagi ia baru saja kehilangan ibunya. Dan juga Kimiko yang mengalami hal yang serupa, ia masih tenggelam dalam duka atas kepergian anaknya.

Dari buku ini aku belajar bagaimana pandangan orang dewasa tentang kebahagiaan dan cinta. Hampir semua perdebatan suami dan istri, ayah dan ibu, titik temunya adalah “demi anak”. Padahal anaknya sendiri pun gak pernah minta hal itu dari orang tuanya. Aku bisa sedikit paham perasaan Yuka di sini.

“𝘼𝙣𝙖𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙝𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜𝙩𝙪𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠, 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙘𝙚𝙥𝙖𝙩 𝙙𝙚𝙬𝙖𝙨𝙖” - 𝙆𝙞𝙢𝙞𝙠𝙤.

Aku bisa paham kenapa dulu aku gak selesain buku ini, karena ketika aku baca buku ini aku masih duduk di bangku SMP, dan untuk saat itu topik ini terlalu berat😂

Tapi setelah selesai baca buku ini di waktu sekarang, ternyata gak seberat itu. Banyak nilai-nilai yang bisa diambil dari buku ini. Cinta gak muluk muluk tentang fairy tale, tapi juga realita.

I’ll give 3,7/5 for this book.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nisa Misha.
212 reviews1 follower
August 18, 2021
Tetsuji yang sedang dalam masa rehabilitasi setelah mengambil cuti dari pekerjaannya memutuskan untuk pergi ke kota miwashi, rumah tempat almarhum ibunya. Sesampainya disana dia bertemu dengan seorang wanita yang mirip seperti seorang bibi yang terkenal membawa kebetuntungan dan selalu menumpang truk atau mobil ke bukit semenangjung yang dikenal dengan nama Peko-chan....

Alur ceritanya mengalir dengan sendirinya, selalu penasaran cerita ditiap lembar dan lembar...
Hubungan antar tetsuji dan kimiko-chan walaupun tak kenal lama tapi sangat mengharukan, mereka seperti pasangan yang dipertemukan dan memang ditakdirkan untuk bersama... They are truly meant to be!

Lega rasanya setelah membaca sampai akhir yang berakhir dengan happy ending!
This entire review has been hidden because of spoilers.
33 reviews
August 9, 2019
Ceritanya mengharu biru, mereka saling berkorban satu sama lain, perlu pemikiran yang lebih bijak untuk memahami kenapa tokoh utama akhirnya memilih jalan yang terjal dan berliku untuk sampai pada keputusannya. Cerita ini terasa lebih nyata, trauma yang dialami oleh tokoh-tokohnya, usia yang sudah tidak lagi muda, apa kebahagiaan itu masih bisa diperjuangkan bagi mereka berdua?

Mengutip kata-kata tokoh utama yang membuatku menangis terharu hingga akhir

"Ajari aku semua tentang Tetsuji-san... ajari aku kebahagiaan hidup"
Profile Image for najwa.
17 reviews
March 2, 2025
kecewa banget sama kimiko. dia seakan akan ghosting tetsuji. padahal tetsuji udah berharap mau ngelamar kimiko. tapi kimiko hilang 1 tahun ga ada kabar samsek. eh pas disamperin tau tau udah mau nikah sama orang yang menurut aku pribadi 'kasar' bukan tipe laki laki yang gentle, family man, atau apalah itu. tapi kalau aku lihat pada akhirnya kimiko nikah juga sama...tetsuji...mungkin? soalnya ga diceritain secara detail di epilog nya.

ini buku bagus banget ga boong. tentang musik klasik, upacara minum teh, buku, dan laut. I LOVE IT
Profile Image for Dee.
93 reviews1 follower
October 22, 2019
Cerita nya seru dan menginspirasi tentang banyaknya hal rumit dalam kehidupan orang2 dewasa.
hal tentang bahagia, sedih, sukses, gagal, pertemanan dan pasangan hidup,
semua di bahas di cerita ini.

Berlatar negara dan masyarakat Jepang.
Jadi bikin kita sekaligus merasakan segala nuansa yang serba Jepang.
kesederhanaan masyarakatnya dan budaya nya yang kaya.

Jadi terinspirasi pengen ke Jepang ... he..he..he...
Profile Image for izzkhmd.
22 reviews
February 25, 2021
“Meskipun ‘elite’, kalau terisap pusaran air semua orang pasti tenggelam.”


aku suka karakter Kimiko, yaa not of all. aku suka positive vibes dia, but not with perasaannya. i can't deal with that. she knows that Tetsu punya istri dan anak, but dia tetep lanjut suka sama dia and she was not tryin' to nolak Tetsu. it's a big fault. sorry Kimiko-san, but i'm not into cewe mental selingkuhan
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Younny.
38 reviews
August 2, 2020
Bagus banget! Menceritakan tentang kisah wanita dan pria yang kehilangan orang-orang yang disayang, sampai akhirnya mereka dipertemukan dan bisa saling berbagi rahasia juga mengubah satu sama lain. Peko-chan, you deserves all the good this and thanks Tetsuji for coming to her life!
Profile Image for Arazhia.
123 reviews3 followers
November 18, 2018
Its been a while for me read a J-Lit from Haru. and i don't think this book will be so complicated and make me "geregetan"
Profile Image for Alicia Martha.
118 reviews8 followers
July 21, 2020
Ceritanya cukup menyentuh... Aku belajar cinta dan penerimaan diri harus berawal dari diri sendiri terlebih dahulu.
Profile Image for Diana Angel.
82 reviews
October 23, 2023
Ceritanya mainstream tapi menyenangkan untuk diikuti. Interaksi tiap karakter nya juga menarik.
Profile Image for Rany Dwi.
43 reviews2 followers
May 25, 2015
[Diikutkan dalam lomba review Haru]

“Musik memang bagus. Siapa pun bisa menyendiri di dalamnya hanya dengan menambah volume suara. Tak ada yang perlu dipikirkan. Tak ada juga yang perlu dirasakan. Yang perlu dilakukan hanyalah memasrahkan tubuh pada alunan lagu.” –hlm. 18

Suga Tetsuji, laki-laki berumur 39 tahun yang menyukai musik klasik tak pernha menyangka bahwa dirinya akan kembali berhubungan dengan Fukui Kimiko. Perempuan yang ia bantu saat perempuan itu butuh tumpangan. Awalnya ia merasa enggan, apalagi ketika tahu bahwa wanita itu cerewet. Namun karena suatu kali perempuan itu menyelamatkannya nyawanya saat ia tenggelam, ia mulai menerima kehadiran Kimiko.

Tetsuji pergi ke Miwashi dan tinggal di Rumah Semenanjung milik almarhum ibunya untuk menenangkan dirinya. Juga bermaksud untuk menjual Rumah Semenanjung yang banyak menyimpan kenangan indah ibunya tersebut. Suatu kali, Kimiko menawarkan bantuan kepada Tetsuji untuk membantu membersihkan rumah agar layak dijual. Sebagai imbalannya, ia meminta Tetsuji untuk mengajari dirinya akan musik klasik. Dunia yang disukai anaknya. Awalnya Tetsuji menolak, namun kemudian ia berubah pikiran dan menerima tawaran tersebut. Kimiko sendiri adalah seorang pegawai di sebuah Kantin di kota Miwa. Sejak suami dan anaknya meninggal ia pindah ke Miwa dan bekerja sebagai pelayan kantin tersebut.

“Sudah dua minggu ini ia memiliki rutinitas baru: makan malam di Miwa saat sebelum tutup dan mengantar Kimiko pulang sampai setengah jalan. Ada juga rutinitas lain yang tercipta: kegiatan di rumahnya dimulai sekitar pukul 9 pagi; setelah hari mulai siang, Tetsuji berendam di kamar mandi yang ada di lantai satu; lalu ia tidur siang dan terbangun oleh aroma masakan yang dibuat Kimiko saat waktu menunjukkan pukul tiga sore.” –hlm. 152

Hubungan antara Kimiko dan Tetsuji tak disangka semakin dekat. Terlebih karena Kimiko selalu datang kerumahnya setiap jam 9 pagi. Membersihkan rumah dan halaman, lalu memasakkan makanan untuknya, bahkan membantu Tetsuji menghilangkan insomnia yang diderita laki-laki itu dan membantu melupakan segala permasalahan Tetsuji di Tokyo. Namun memang, tidak ada perjalanan yang terus mulus. Ketika akhirnya istri Tetsuji berkunjung ke Miwashi secara mendadak, ia mengetahui bahwa ada hubungan yang lebih antara Tetsuji dan Kimiko.

Saat membaca novel ini saya merasa tidak membaca novel dewasa, namun lebih ke dewasa muda. Umur Tetsuji yang digambarkan berumur 39 tahun, entah kenapa saya membayangkannya malah berumur 29 tahun. Entahlah…saya tidak mengerti kenapa saya bisa berpikir seperti itu. Aneh memang. Dan kalau dipikir-pikir novel ini memiliki unsur perselingkungan ya.

Ada fakta unik yang saya dapati di novel ini. Bahwa tokoh Kimiko sering sekali tertawa. Saking seringnya saya sampai menghitung berapa kali tokoh wanita itu tertawa, dan hasilnya sungguh mengejutkan. 55 kali. Lagipula menurut saya pribadi tokoh Kimiko yang cerewet malah terkesan lebih ke ceria dan perhatian.

Jujur saja, saya tidak bisa merasakan emosi atau konflik yang dihadirkan penulis. Saya pribadi merasa ceritanya cenderung flat dan biasa saja. Itu yang membuat saya kecewa dengan buku ini. Buku ini lebih menjelaskan kehidupan Suga Tetsuji di Miwashi dengan kehadiran Fukui Kimiko dan selebihnya tidak ada yang istimewa. Suatu kali penulis menghadirkan konflik saat Rika—istri Tetsuji bertemu dengan Kimiko dan bisa dipastikan terjadi adu mulut, namun konflik itupun tidak terlalu tajam sebagaimana harusnya.

Covernya sangat meriah. Ya…meriah dengan segala macam gambar yang ada. Saya memang suka dengan cover yang menggambarkan isi dari cerita didalamnya. Begitu juga cover novel ini yang dihiasi gambar kota miwa, rumah semenanjung, tembok pemecah ombak, bunga-bunga, timun suri, dan juga piringan hitam musik klasik, yang menggambarkan keseluruhan dari cerita.

Terlepas dari itu semua, saya suka ketika ada penulis yang mengangkat topik tambahan. Seperti novel ini misalnya, yang mengangkat topik tambahan tentang musik klasik. Saya juga merasakan hal yang sama saat mendengarkan musik klasik. Saya tidak bisa meresapi apapun meski sudah saya dengarkan berulang kali. Malah cenderung bosan. Saya sampai menyimpulkan mungkin saya bukan penikmat musik klasik. Seperti saat mendengarkan Fur Elise milik Beethovan versi piano ataupun Simphony no.29 milik Mozart versi biola. Rupanya teknik yang saya gunakan salah. Memang butuh kesabaran yang panjang untuk bisa menikmati musik klasik. Seperti halnya Tetsuji. Dan hal pertama yang terpikirkan oleh saya saat menutup buku ini adalah mencari koleksi musik klasik yang sudah lama tak saya sentuh dan mulai menghafalkan semua bagian dari lagu itu.

Profile Image for Rizcha Mawadah.
50 reviews1 follower
May 23, 2015
[Diikutkan dalam lomba review Haru]


Judul: The Wind Leading to Love
Penulis: Ibuki Yuki
Diterbitkan oleh: Penerbit Haru
Jumlah halaman: 342 halaman
Tahun terbit: Februari 2015 - cetakan pertama

Sinopsis:
Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup.

Suga Tetsuji depresi.
Menuruti saran dokter, dia mengasingkan diri di sebuah kota pesisir, di sebuah rumah peninggalan ibunya. Namun, yang menantinya bukanlah ketenangan, tapi seorang wanita yang banyak omong dan suka ikut campur bernama Fukui Kimiko.

Fukui Kimiko kehilangan anak dan suaminya, menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian mereka berdua. Dia menganggap dirinya tidak pantas untuk berbahagia.

Setelah menyelamatkan Tetsuji yang nyaris tenggelam, Kimiko menawarkan bantuan pada pria itu untuk membereskab rumah peninggalan ibunya agar layak jual. Sebagai gantinya, wanita itu meminta Tetsuji mengajarinya musik klasik, dunia yang disukai anaknya.

Mereka berdua semakin dekat, tapi....

Review:
"Musik memang bagus.
Siapa.pun bisa menyendiri di dalamnya hanya dengan menambah volume suara. Tak ada yang perlu dipikirkan. Tak ada yang perly dirasakan. Yang perlu dilakukan hanyalah memasrahkan tubuh pada alunan lagu."

"Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup."

Buku yang berisi musik klasik dan kota pesisir. Buku yang diberi rate dewasa. Buku yang berisi permasalahan orang-orang yang sudah dewasa.

Kimiko bibi-bibi cerewet dan semangat. Suga Tetsuji pria kota yang terlihat tidak bahagia dengan hidupnya. Mereka berdua dipertemukan karena ketidaksengajaan. Berkat sikap suka ikut campur Kimiko mereka menjadi dekat. Bahkan menjadi partner dalan mendengarkan lagu klasik. Lagu kesukaan Tetsuji, ibunya dan anak Kimiko. Kimiko belajar musik klasik pada Tetsuji dan sebagai gantinya Kimiko harus membereskan rumah peninggalan ibu Tetsuji agar menjadi layak jual.

Kukira ini novel romance biasa. Yang banyak kisah manis di dalamnya tanpa ada unsur membuat kepala pusing. Hehehehehe. Tapi percintaan yang dialami oleh dua orang yang bahkan sudah sama-sama menikah, meskipun suami Kimiko sudah meninggal, ternyata tidak sesederhana kisah cinta remaja. Selain karakter juga pengalaman hidup sebagai orang dewasa yang mempengaruhi hubungan mereka, situasi di sekitar juga berpengaruh besar dalam hubungan mereka.

"Manusia maupun benda akan mengalami perubahan. Tidak ada yang bisa menghindari hal itu.

Jika itu benar, maka kita hanya bisa berusaha untuk melewati semua perubahan itu tanpa rasa takut. Tentu saja sambil mengharapkan sebuah masa depan yang lebih baik."

Di sini, karakter Tetsuji berkembang menjadi lebih baik. Ia yang awalnya datang ke Miwashi dengan predikat 'depresi' dari dokter bisa sembuh dari penyakit tersebut. Ia makin berani memutuskan masa depan cintanya. Setelah sebelumnya hanya pasrah dan tak mampu berbuat apa-apa. Setidaknya, Tetsuji jadi bersemangat hidup lagi.

Dan ternyata di balik karakter Kimiko yang cerewet, ingin tahu dan suka ikut campur, ada titik di mana ia hanya berpura-pura. Ya, berpura-pura bahagia. Mengajarkan aku bahwa orang dewasa nggak pernah sepenuhnya jujur dengan perasaan mereka. Banyak yang pura-pura bahagia hanya untuk menenangkan orang-orang di sekitarnya.

"Suara ombak adalah nada, empasan ombak adalab ritme melodi."

"Suara ombak adalah surga. Ritme ombak yang mencapai pantai adalah undangan untuk mabuk kepayang."

Setting novelnya cantik. Membayangkan pesisir Miwashi yang indah membuat aku ingin ke pantai. Hanya untuk merenung di pinggirannya. Pasti menyenangkan. Hehehehehehe. Dan penggambaran suasana pantai yang disamakan dengan musik benar-benar membuat gila dan mabuk kepayang.

Musik klasiknya. Ini pemicu kedekatan mereka juga. Meskipun awalnya sedikit konyol. Kimiko kesulitan mempelajari musik yang juga disukai anak lelakinya itu. Musik yang bisa jadi sangat membosankan bagi orang yang tak menyukainya.

Endingnya berjalan dengan jalan yang tak terduga. Ada kenyataan-kenyataan yang bisa ditebak sebelumnya. Ada kenyataan yang bahkan tak sempat terpikirkan juga oleh tokoh-tokohnya. Benar-benar cerita yang menguras emosi dan tenaga. Hehehehehe

4 of 5 star for this book.
Profile Image for Shen Meileng.
65 reviews5 followers
March 2, 2015
Tiga setengah bintang lebih tepatnya.

Pertama kali lihat cover novel ini, reaksiku: sesak dan (hampir) menangis. Aku belum lihat judulnya, belum baca sinopsisnya, tapi cover buku ini sanggup buat aku yang lempeng kalau lihat cover jadi bocah labil akibat galau. Dan itu tidak buruk sebenarnya, malah menurutku itu yang menjadi 'pengikat' antara aku dengan buku ini.

Ceritanya diawali dengan seorang lelaki yang merupakan supir truk tengah berada di rest area. Di sana dia mendengar tentang Peko-chan dan barang siapa yang memberikan tumpangan sampai ke tempat tujuannya, Peko-chan ini akan membalasnya dengan merapikan rambut supir yang menolongnya. Konon kabarnya, siapapun yang rambutnya telah dipotong oleh Peko-chan ini hidupnya selalu mendapatkan keberuntungan, mulai dari pernikahan sampai bisa membangun usaha sendiri. Lelaki itu awalnya tidak percaya, tapi lelaki ini sempat berpikiran untuk memberikan tawaran menumpang, namun kalah cepat dengan para supir truk yang tengah bergosip tentang Peko-chan yang mencarikan tumpangan sampai ke tempat tujuannya.

Dan di sinilah Peko-chan yang sebenarnya bernama Fukui Kimiko bertemu dengan Suga Tetsuji. Awalnya Tetsuji ini bersikap tidak ramah pada Kimiko yang banyak bicara dan terlalu ekspresif itu. Namun perlahan-lahan sikap Tetsuji mulai melunak, apalagi Kimiko menyelamatkan Tetsuji dari tenggelam akibat terseret pusaran laut. Kimiko masih tetap menjadi perempuan ceria (yang selalu memanggil dirinya dengan 'bibi') dan Tetsuji yang awalnya depresi, perlahan-lahan mulai membuka dirinya serta sebenarnya Tetsuji ini adalah orang yang ramah. Kimiko membantu Tetsuji (sebenarnya lebih tepatnya Tetsuji ini hanya terima beres saja sementara Kumiko yang bekerja keras) merapikan rumah peninggalan ibunya agar bisa dijual dengan syarat Tetsuji membantunya mencari deretan lagu-lagu klasik yang dulu sering di dengarkan anaknya.

Namun kedekatan mereka berdua ini mulai ke arah yang lebih serius dan sebenarnya keduanya tahu jika itu sebenarnya tidak boleh terjadi. Namun siapa yang bisa menentukan seseorang harus jatuh cinta pada siapa? Dan saat mereka berdua merasa nyaman satu sama lain, istri Tetsuji datang ke rumah peninggalan ibu Tetsuji. Lalu pada akhirnya siapa yang akan dipilih oleh Tetsuji? Kembali pada istrinya dan anak perempuannya, Yuka atau memilih meninggalkan semuanya untuk bersama Kimiko? Silahkan cari tahu dengan membeli novel ini.

Untuk penjelasan setting tempatnya, aku benar-benar salut dengan penulisnya yang bisa menjabarkannya dengan jelas dan membuatku mudah membayangkannya. Namun setting waktu cerita ini pada awalnya benar-benar lambat dan bagi yang tidak suka alur seperti ini mungkin merasa malas untuk melanjutkannya. Tapi karena aku sudah jatuh hati sama cover buku ini mungkin ya, jadi alur lambatpun aku abaikan, yang penting tahu endingnya seperti apa, hahaha....

Untuk terjemahannya sendiri, aku akui cukup enak dibaca seperti novel Haru kebanyakan. Tapi aku merasa ada beberapa bagian yang tidak konsisten EYD sehingga aku kadang menyeritkan kening, padahal ada kata-kata yang sebenarnya lebih bagus jika ditulis EYD. Selain itu, novel ini dimasukkan ke dalam kategori 'Dewasa Muda' yang menurutku sebenarnya lebih cocok dimasukkan ke kategori 'Dewasa' karena beberapa bagian buku ini menjelaskan tentang seks (meskipun secara implisit) serta candaan untuk tujuh belas tahun ke atas.

Direkomendasikan untuk melihat sisi lain seseorang tanpa langsung memberikan praduga-praduga yang tidak semestinya. Dan juga untuk yang menginginkan kisah cinta yang bukan memiliki tokoh utama lelaki yang muda, kaya, ganteng dll serta tokoh perempuan yang sempurna. Novel ini memperlihatkan kisah cinta yang benar-benar murni.
Profile Image for myfloya.
42 reviews7 followers
March 16, 2015
Musim panas yang dihabiskan Suga Tetsuji di kota tempat tinggal mendiang ibunya adalah sebuah pelarian atas rasa depresi yang dirasakannya. Depresi itu diakibatkan oleh rumah tangganya yang berantakan serta pekerjaan yang tidak berjalan lancar, tapi dari semua itu, kematian ibunya lah yang membuatnya hancur. Satu-satunya peninggalan ibunya adalah Rumah Semenanjung yang bergaya campuran antara Jepang dan Barat. Rumah itu mewah, menunjukkan bahwa ibunya mempunyai selera tinggi.

Disisi lain ada wanita yang juga merasakan kehilangan. Wanita bernama Fukui Kimiko itu tinggal di kota Miwashi tepatnya tidak terlalu jauh dari Rumah Semenanjung. Kehilangan yang dirasakannya berupa kematian suami serta anaknya. Selama tujuh tahun ia selalu merasa bahwa kematian suami dan anaknya itu adalah akibat kesalahannya.

Ketika Kimiko mengetahui bahwa Rumah Semenanjung akan dijual oleh Suga, ia menawarkan diri untuk membantu membersihkan rumah itu. Tanpa mengharap imbalan uang, Kimiko merawat rumah indah tersebut. Ia terkagum-kagum dengan koleksi buku serta CD musik klasik koleksi Sensei (ibu Tetsuji). Dibalik kecerewetannya dihadapan Suga, Kimiko sebenarnya adalah orang yang rendah diri.

Sebagai balasan atas bantuannya terhadap Tetsuji, satu-satunya permintaan Kimiko yaitu meminta agar Tetsuji mengajarinya mengenai musik klasik. Musik klasik itulah yang sangat disukai anaknya dulu. Kimiko ingin mengerti apa makna dari musik klasik yang didengarkan anaknya. Musik klasik membuat Kimiko merasa bahwa anaknya masih hidup.

“Lagu yang telah meresap dalam tubuh, tidak akan pernah terlupakan. Lagi pula, ada banyak konser terkenal yang memainkan lagu terkenal. Tiap tahunnya banyak musisi baru yang mencoba memainkan lagu terkenal itu. Kalau ada seratus musisi baru, itu berarti ada seratus macam konser yang akan dihasilkan. Kau sudah bisa menikmati musik klasik hanya dengan menghafal satu lagu saja.” - halaman 123

Selama Kimiko membantu di Rumah Semenanjung hubungan mereka berdua semakin dekat. Bahkan tanpa disadari muncul rasa cinta diantara mereka. Mungkin karena sama-sama merasakan kehilangan itulah yang membuat Kimiko dan Suga merasa mereka senasib. Sayangnya hubungan ini tidak bisa terus berlanjut karena Suga masih mempunyai istri dan anak yang menunggunya di Tokyo.

Ada hal-hal yang tidak bisa berjalan lancar hanya dengan rasa cinta, kan? – halaman 317

Kekurangan dari buku ini menurutku adalah margin yang ngepas dengan halaman buku sehingga terkesan terlalu penuh, mataku jadi capek >.< apa yang sudah baca buku ini merasa begitu juga? :o

Salah satu hal yang aku sukai dari buku ini adalah Rumah Semenanjung milik Ibu Suga. Punya rumah di pinggir pantai kota Miwashi yang tenang sepertinya sangat nyaman. Rumah itu punya perabotan kelas atas, lukisan, banyak sekali buku dan CD, halaman yang dipenuhi tanaman. Pasti cantik banget! Rumah ini juga yang menghubungkan Kimiko dan Suga sehingga mereka menjadi dekat.

Di buku ini juga akan banyak ditemui nama-nama musisi musik klasik yang sebelumnya tidak pernah aku dengar karena aku memang nggak mengerti musik klasik sih. Berkat buku ini aku jadi tahu tentang musik klasik ^^

Hubungan orangtua dan anak juga banyak dibahas melalui percakapan Kimiko-Suga. Misalnya ketika mereka sama-sama merasa gagal menjadi orangtua atau saat Kimiko menyalahkan rumah tangga orangtua yang berantakan.

“…cinta antara orangtua dan anak tidak akan berubah, tetapi cinta sebagai pria dan wanita, akan menghilang jika tidak dijaga..” – halaman 308
Profile Image for Evita MF.
92 reviews8 followers
January 8, 2016
Novel terjemahan dari Jepang yang ditulis oleh Ibuki Yuki ini bercerita tentang Suga Tetsuji, pria berumur 39 tahun yang tengah depresi akibat kematian ibunya dan masalah rumah tangga yang berada diambang kehancuran. Ia mengalami insomnia dan lehernya sulit digerakan ke kanan, dokter pun menyarankan Tetsuji untuk berlibur sementara waktu. Atas saran dokter, Tetsuji pun mengambil cuti selama musim panas dan pergi ke rumah almarhum ibunya di sebuah kota pesisir.
Ketika mobilnya berhenti di sebuah rest area di dekat perbukitan Ya No Hana, seorang supir truk mendekatinya dan meminta Tetsuji untuk memberi tumpangan kepada seorang wanita bernama Fukui Kimiko. Selama perjalanan menuju Miwashi, Kimiko terus menerus berbicara membuat Tetsuji kesal.

Pertemuan antara Tetsuji dan Kimiko tak hanya berhenti sampai di situ, mereka kembali dipertemukaan saat secara tidak sadar Tetsuji berjalan ke arah lautan dan terseret ombak hingga membuatnya nyaris tenggelam apabila tidak diselamatkan oleh Kimiko.

"Kau ini cerdas dan punya segalanya, tapi kenapa sedikit pun tidak terlihat bahagia." Hlm 35

Setelah kejadian itu mereka jadi sering bertemu, apalagi Kimiko yang selalu datang ke rumah Semenanjung milik Tetsuji. Kimiko menawarkan diri untuk membereskan rumah milik ibu Tetsuji asalkan Tetsuji mau mengajarkan Kimiko tentang musik klasik. Musik klasik adalah musik yang sering dimainkan oleh anak lelakinya ketika masih hidup. Tetsuji pun setuju dengan kesepakatan yang Kimiko buat. Awalnya Tetsuji merasa terganggu dengan sikap Kimiko yang banyak omong dan ceplas-ceplos, namun lama kelamaan Tetsuji mulai terbiasa. Ia juga menemukan arti kebahagiaan dari seorang wanita desa seperti Kimiko.

"Kebahagiaan itu...sebenarnya apa?" Hlm 226

Buku ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Ceritanya mengalir dengan indah. Saya tahu novel adalah cerita rekaan, tapi entah mengapa ketika membaca novel The Wind Leading to Love saya seolah dihadapkan pada sebuah kisah nyata yang menyentuh. Suga Tetsuji yang sedang depresi dan Fukui Kimiko yang kehilangan anak dan suaminya adalah dua karakter menyedihkan yang membuat saya jatuh hati. Karakter mereka begitu kuat hingga saya bisa merasakan bagaimana pedihnya penderitaan batin yang mereka alami. Keduanya sama-sama pernah menghadapi ‘flu hati’ dan sedang belajar menyembuhkan diri. Saya banyak belajar tentang kehidupan dari novel ini.

The Wind Leading to Love seperti membandingkan karakter manusia yang tinggal di kota dan di desa. Seperti Rika (istri Tetsuji) yang merupakan wanita kota yang sibuk dengan pekerjaan, percaya diri, dan cerdas, sementara Kimiko seorang wanita desa digambarkan kurang percaya diri, dan berpengetahuan sempit. Namun Kimiko pandai dalam segala hal yang bersangkutan dengan tenaga, ia pandai mengurus rumah, memasak, memijat, berjualan, memotong rambut dan lain-lain. Keterampilan itu didapatnya dari banyaknya pekerjaan yang pernah ia coba. Sosok wanita yang seperti Kimikolah yang terkadang dirindukan oleh Tetsuji sebagai seorang istri.

Novel ini mengajari saya banyak hal tentang hidup dan mengajari saya untuk bahgaia. Hebatnya Ibuki Yuki yang menuliskan novel ini tanpa kesan menggurui, namun pesan tentang hidup dapat tersampaikan dengan baik. Bagi Anda penggemar novel Jepang khususnya penggemar novel dengan genre slice of life, The Wind Leading to Love sangat saya rekomendasikan.

baca selengkapnya: https://booknivore.wordpress.com/2016...


Displaying 1 - 30 of 57 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.