What do you think?
Rate this book


342 pages, Paperback
First published June 19, 2009
Tetsuji menutup matanya dan terus melangkah ke tengah laut. Tiba-tiba tubuhnya tenggelam, tetapi saat kakinya digerakkan ia masih bisa membuat dirinya mengambang. "Lelahnya," bisik Tetsuji lagi sambil tertawa.
Apa aku coba saja untuk menenggelamkan diri? (hal. 22)
Terdengar suara lirih Tetsuji, "Yang tersisa sekarang hanyalah rute yang salah. Aku telah kehilangan kesempatan untuk pergi ke arah yang benar."
"Siapa yang bilang begitu? Kau ini sedang menanti angin. Sampai saat angin yang cocok datang, kau menunggu di pelabuhan." (hal. 125)

“Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup. …”[hal. 29]
Tapi waktu tidak akan pernah luang jika tidak ada yang meluangkannya. [hal. 41]
“… Aku selalu berpikir… keputusan yang dibuat oleh orang tua memengaruhi kehidupan anak mereka.” [hal.70]
“Aku ingin dicintai sama seperti aku mencintaimu.” [hal. 149]
Suara ombak adalah nada; empasan ombak adalah ritme melodi. [hal. 159]
“Keluarga itu tidak cuma bisa dibentuk dengan melahirkan, bukan? Jalinan pernikahan juga merupakan salah satu bentuk keluarga, kan?” [hal. 266]