Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hidup Matinya Sang Pengarang

Rate this book
Kumpulan esai mengenai masalah kepengarangan yang ditulis oleh 15 sastrawan dan filsuf. Mereka adalah RM Rilke, TS Eliot, Helena Cixous, Virginia Woolf, M Sandra, Gibert dan Susan Gubar, F Nietzsche, R Descartes, ED Hirsch, S Freud, Simone de Beauvoir, R Barthes, JP Sartre, dan M Foucault. Esai-esai itu dikumpulkan oleh Toeti Heraty, filsuf, budayawan, penyair, dan feminis, yang pernah menjadi Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1990-1996 dan pengurus Yayasan Kesenian Jakarta. Tujuannya adalah untuk menampilkan peran para pengarang dalam teori sastra maupun filsafat.

Esai-esai mengenai kepengarangan itu ditampilkan dalam empat bagian.

Pada bagian pertama, pengarang ditampilkan sebagai sosok agung. Hal ini ditegaskan oleh RM Rilke, TS Eliot, dan Nietzsche, yang mengungkapkan keistimewaan pengarang karena gejolak kreatifnya. Sedangkan pada bagian kedua, ditunjukkan bahwa sumber kreativitas dan interpretasi pengarang muncul dari dunia batinnya. Ini diungkapkan oleh Descartes, Hirsch, dan Freud.

Bagian ketiga agak lain. Di sini, Toeti Heraty mengumpulkan esai dari para pengarang perempuan. Dikatakannya, suara kaum perempuan terkadang hanya tersembunyi di pojok sejarah. Hal itu misalnya yang digambarkan dalam tulisan Sandra, Gilbert dan Susan Gubar. Sementara Simone Beauvoir, Woolf, dan Cixous, lebih memaparkan kreativitas beserta kendala-kendalanya dan "ruang pribadi" kepengarangan kaum perempuan.

Pada bagian keempat, melalui tulisan Roland Barthes, Sartre, dan Foucault, dipaparkan masalah surutnya peran pengarang. Perubahan-perubahan dalam masyarakat dapat membuat pengarang lenyap, fiksi dan polisemi telah berfungsi tanpa kita bertanya akan keaslian maupun orisinalitas.

Toeti Heraty sendiri berpihak pada kehidupan pengarang dan bukan kematiannya.

260 pages, Paperback

First published January 1, 2000

2 people are currently reading
27 people want to read

About the author

Toeti Heraty

35 books13 followers
Toeti Heraty was born in 1933. An outstanding Indonesian poet with a powerful vision she is also a philosopher an art historian and a human rights activist well known for both her opposition to the Suharto regime and for her feminism.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
7 (35%)
4 stars
2 (10%)
3 stars
8 (40%)
2 stars
2 (10%)
1 star
1 (5%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Iin Farliani.
Author 6 books5 followers
December 18, 2023
Salah satu esai dalam buku ini yang berjudul “Tradisi dan Bakat Individu” karya T.S. Eliot, saya kira bisa menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kaum akademisi yang kerap mengharapkan (kalau bukan memaksa) penulis untuk memberikan jawaban-jawaban normatif atas proses kreatif penulis. Sementara karya sastra dan proses kreatif pengarang bukanlah sesuatu yang bisa dirunut secara struktural. Banyak hal spontan yang terjadi di sana. Proses kreatif penulis adalah hal yang bersifat alami, tanpa harus begitu patuh terhadap suatu rencana. Bila pengarang menulis puisi berjudul A dari sumber pengalaman B, bukan berarti seluruh partisi yang terdapat di pengalaman B bisa menjadi titik pijak utama untuk menghasilkan puisi A, bisa saja hanya meraup impresi-impresi yang dimunculkan dari pengalaman B, sehingga topik atau tema C yang samasekali tak berasal dari pengalaman B bisa pembaca temukan pada puisi A. Begitulah kira-kira.

Esai tersebut menjadi esai favorit saya di buku ini. Beberapa kutipan yang saya sukai:

a) “penyair tidak mempunyai suatu ‘kepribadian’ yang dinyatakan, tetapi suatu medium yang khas. Dia hanyalah sebuah medium dan bukan kepribadian, di dalamnya kesan dan pengalaman berkombinasi secara khas dengan cara yang tidak terduga. Kesan dan pengalaman yang penting buat sang penyair tidak mendapat tempat dalam sajaknya, dan yang menjadi penting dalam syair mungkin sama sekali tidak penting bagi penyairnya, bagi kepribadiannya.”

b) “Nyatanya bahwa penyair yang tidak baik biasanya tidak sadar di mana ia harus sadar, dan sadar di mana ia harusnya tidak sadar. Kedua kesalahan itu menjadikan dia seorang ‘personal’/pribadi. Bersyair bukan melepaskan emosi tetapi pelarian dari emosi, bukan pernyataan kepribadian, tetapi pelarian dari kepribadian. Maka dari itu, hanya mereka yang mempunyai kepribadian dan emosi tahu apa artinya melarikan diri dari keduanya.”

Sebagian besar esai-esai di buku ini sangat terikat erat dengan konteks yang dibawanya, misalnya pada esai karya Molly Nesbit “Siapa Pengarang Terdahulu?” yang mempersoalkan undang-undang di Prancis [dari zaman sebelum revolusi, undang-undang 1793, sampai yang direvisi 1985, dan seterusnya] tentang hak cipa pengarang dan definisi “pengarang”; bidang-bidang apa saja yang pelakunya disebut “pengarang”. Esai yang menarik, namun sayangnya sulit untuk dicerna isi keseluruhannya lantaran keterangan konteks tidak begitu memadai disertakan sebagai tambahan catatan kaki, selain itu juga karena hasil terjemahannya kurang lancar. Kalimat per kalimat banyak yang tersendat-sendat. Pembacaan terasa sangat tidak mulus.

Esai-esai di awal hingga pertengahan buku ini masih asyik untuk diikuti, namun esai-esai selanjutnya terutama pada esai bagian penutup terjemahannya terasa sangat membuat kacau perasaan saat membacanya. Banyak kata-kata dan padanan yang terasa tidak pas dalam kalimat per kalimat. Padahal secara judul dan penyusunan tiap bab, buku ini amat menjanjikan. Kekuranglengkapan konteks terkait esai per esai dan juga terjemahan yang tersendat membuat kita tak bisa menikmati buku ini sebagaimana semestinya.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews