Lulus dari University of Bologna Italia, Dorotea memutuskan pulang untuk menemani ayahnya dan meneruskan usaha madu yang dikelola sang ayah. Dorotea pun menjadi pewaris peternakan lebah Piccolina Honey di Lembang. Hidup Dorotea yang tenang mendadak terguncang, ketika seorang pria tidak dikenal tewas jadi korban tabrak lari tidak jauh dari tokonya.
Kasus tabrak lari itu membawa Dorotea berkenalan dengan Ken, polisi yang menyamar. Ken mencurigai ada sindikat narkoba yang menggunakan Piccolina Honey sebagai samaran operasi terselubung mereka. Tidak terima usaha yang diwarisinya dituduh sebagai antek sindikat narkoba, Dorotea pun terpaksa bekerja sama dengan Ken untuk mengungkapkan kebenaran.
Upaya mereka ternyata membawa Dorotea semakin dekat dengan Ken, yang awalnya ia anggap cuma polisi bermodal wajah tampan dan bertubuh besar. Namun, ketika marabahaya menyeret Dorotea dalam bahaya, gadis itu tahu cintanya pada Ken tidak bertepuk sebelah tangan.
Ini bukan pertama kalinya aku membaca karya Mi Rae, dan setelah menamatkan Honey aku mendapatkan kesimpulan yang sama bahwa Mi Rae selalu menjadikan polisi sebagai salah satu tokoh dalam novelnya.
Kali ini, Mi Rae mencoba mengambil setting di Lembang, di sebuah peternakan madu "Piccolina Honey". Aku begitu dimanjakan imajinasinya dengan setting tempat ini, jadi ingin sekali ikut mencicipi madu yang di Piccolina bisa diolah dengan berbagai macam bentuk.
Sayangnya, aku kebingungan dengan ide cerita yang ditawarkan oleh Mi Rae. Mi Rae seakan tidak fokus mau kemana kisah ini dibawa, seakan ceritanya semua serba nanggung, tidak ada kejelasan lebih lanjut.
Padahal sejak awal aku cukup tertarik membaca sinopsisnya dan membayangkan akan ada konflik yang benar-benar klimaks, karena melibatkan sindikat narkoba dan intel.
Honey bercerita mengenai Dorotea, anak dari pemilik Peternakan "Piccolina Honey". Awalnya semua terasa baik-baik saja, usahanya berkembang pesat. Hingga hari itu tiba-tiba ada kecelakaan tabrak lari didepan peternakannya. Kejadian yang membuatnya kaget sekaligus bertanya-tanya ada apa sesungguhnya. Apalagi ternyata tidak berhenti disitu, kemudian muncul seseorang bernama Ken, yang mengaku sebagai intel kepolisian dan mengungkap fakta bahwa selama ini Peternakannya menjadi sarang sindikat narkoba terbesar di Lembang.
Hal ini membuat Dorotea kaget dan tidak percaya, apalagi selama ini dia cukup mengenal pegawainya. Dorotea dan Ken pun akhirnya bertaruh bahwa semua yang dikatakan Ken itu hanyalah kabar burung saja, bukan hal yang sesungguhnya. Sayangnya perlahan-lahan Dorotea pun mulai percaya bahwa memang telah terjadi sesuatu di peternakannya, apalagi kejadian-kejadian selanjutnya malah ternyata cukup membahayakan dirinya, apalagi tiba-tiba datang ancaman untuknya. Apa yang sesungguhnya terjadi?
Ah, sampai disini aku membayangkan akan ada adegan-adegan action saat mengungkap siapa yang terlibat dengan kasus sindikat narkoba. Terutama saat adegan Ken dan Dorotea di villa kerja Ken, saat mereka akhirnya tahu siapa yang berkhianat, ternyata hanya berakhir begitu saja. Novel ini menjadi kurang nendang, terkesan terburu-buru mengakhiri cerita. Hanya begitu saja, tidak ada titik klimaksnya sama sekali.
Tiba-tiba langsung saja beralih ke hubungan Dorotea dan Ken yang ternyata saling jatuh cinta, tetapi entah kenapa aku tidak begitu merasakan chemistrynya, semua terasa cepat jadi berasa serba nanggung.
Kedua kalinya saya membaca novel karya Mi Rae. Keduanya pula memiliki tokoh utama polisi. Kayaknya suka kharismanya mas-mas polisi yaa.. haha~ Tapi entah, I prefer Sugar daripada Honey. Honey lebih.... gimana ya. kesannya maksa. mau thriller nggak jadi. Tiba-tiba dengan mudah kasus terpecahkan. Romance juga setengah. Maafkeun, just two stars. 😣
Aku nggak paham ke mana arah cerita di novel ini. Ceritanya nggak ada yang dalam tahap selesai. Semuanya menggantung. Contohnya pada bagian,saat-saat penyelidikan tentang narkotika di perkebunan milik si Doretta, nih disini aku kiranya bakal ada adegan-adegan yang menegangkan atau ada action. Karena melibatkan intel dan pihak yg terlibat dalam narkotika tersebut. dari bagian ini tiba-tiba saja dialihkan dengan hubungan antara Doretta dan Ken.
maksud dan tujuan dr novel ini aku nggak dapat. Feel-nya juga kurang :'(
Saya membaca buku ini via aplikasi IJakarta. Iseng aja sih, mencari karya penulis yang belum pernah saya baca sebelumnya. Mata saya terpaku pada seri Amore ini, dan langsung saya pinjam. Habis dalam 2 jam, worth it untuk menghabiskan waktu di Sabtu pagi.
Novel ini berkisah tentang Dorotea dan peternakan madu Piccolina Honey milik ayahnya di daerah Lembang, Bandung. Tea digambarkan sebagai seorang gadis separuh Italia yang memilih tinggal bersama ayahnya. Tidak ada keterangan mengapa Tea memilih tinggal di Lembang dengan ayahnya, dan meninggalkan Milan. Dia hanya ingin bersama ayahnya. Ibunya sendiri sudah meninggal karena kanker. Sementara saudara-saudaranya masih tinggal di Italia sana.
Sehari-hari pekerjaan Tea adalah mengurus peternakan, toko dan vila. Sepertinya ayahnya sudah menyerahkan usaha itu kepada anaknya, karena semua urusan manajemen dipikirkan oleh Tea. Suatu hari, dia kedatangan tamu yang akan membeli madu di tokonya, yang kemudian tamu itu menjadi korban tabrak lari di depan tokonya.
Kejadian itu rupanya berbuntut panjang. Seorang pria bernama Ken, yang rupanya adalah seorang polisi, mengatakan kalau Piccolina Honey sudah menjadi sarang narkotika. Tea yang tidak percaya akan hal itu tentu saja marah besar pada Ken. Ken mengajak Tea menyelidiki kasus itu bersama-sama. Dalam kebersamaan itulah muncul perasaan cinta.
Meski ada unsur yang melibatkan polisi dan narkotika, bagian action-nya masih kurang (iyalah..ini kan novel Amore). Kemudian hanya dalam hitungan hari, hubungan Ken dan Tea berubah dari saling berseteru menjadi cinta. Tidak jelas juga kenapa karakter Ken digambarkan sinis dan sarkas sejak awal. Apa masalah Ken sehingga dia harus berlagak seperti itu pada percakapan pertamanya dengan Tea?
Ada beberapa tokoh yang sepertinya hanya tempelan saja, misalnya Umberto dan Carmen. Tanpa keduanya saya rasa tidak ada perubahan dalam alur cerita.
Tapi menariknya novel ini karena menyinggung tentang manfaat madu dan cara berternaknya. Lumayanlah dapat ilmu baru
Aku suka banget cara penulisnya mendeskripsikan setting tempat dalam novel ini, bikin bener-bener bisa bayangin sejuk udaranya dan indahnya perkebunan. Deskripsi dan penjelasan tentang madunya juga top banget, sempat bikin 'cleguk' dan kepengen minum madu yang enak :))))) Daaaan covernya booook, cantik banget! Kapan aku bisa punya novel yang covernya secantik ini… *abaikan*
Tapi sayangnya aku kurang sreg dengan tokoh Ken yang katanya intel tapi kenapa kelakuannya kurang 'ngintel' menurutku. Agak terlalu childish, rada galak sih tapi tegas dan etika kepolisiannya (?) belum dapet. Endingnya juga terlalu cepat dan rada terburu-buru. Pembaca belum puas :(
Aku menunggu novel Mi Rae berikutnya, semoga cover dan judulnya masih konsisten supaya bisa jadi ciri khas. Dan ceritanya makin ok, pastinya. <3
Sebenernya dari awal gue agak bingung dengan jalan cerita ini. Dorotea punya peternakan madu di Bandung, dan ada Ken, polisi yang mau mengungkap kejahatan di peternakannya.
Intinya yaa, kata Ken ini peternakan Tea itu sarang narkoba. Akhirnya Ken dan Tea kerja sama buat ngungkapin itu semua. Cuma yang bikin bingung, kenapa ayah Tea gk ikut campur ya. Kesannya kok cuek banget gitu sama masalah di pertenakannya.
Ya singkat cerita mah akhirnya mereka jatuh cinta lah. Bingung kan yaa? Iyaa gue juga bingung sama alur ceritanya. Satu2 nya hal yang bikin gue suka itu sama suasana Bandung nya, dan gue suka juga sma sosok Ken. Kesannya gentle gimana gitu yaa.
Ini buku pertama Mi Rae yang saya baca. Ceritanya terlalu maraton di awal buku,terlalu bertele tele, banyak hal yang pengen ditulis sama penulis, tapi pas di tengah , kurang jelas ceritanya mau di bawa ke mana. Fokusnya apa. misinya apa kurang jelas buat saya. Pas ending apalagi. seolah pengarang lari sprint, menyelesaikan tulisannya.
Baca buku ini di iJak. Sinopsisnya cukup menjanjikan. Tapi eksekusi ceritanya...terlalu romantis buatku. Iya sih, ini memang buku dari lini Amore. Tapi ya nggak seperti itu juga sampai jalan ceritanya jadi kurang kuat.
Saya suka sama gaya penulisan penulis dan setting yang digambarkan di buku. Sayang sekali karakternya kurang menarik perhatian saya. Plotnya juga ... sayang sekali nge-rush di bagian akhir.
Judul : Honey Penulis : Mi Rae Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun : 2014 Finished : 10.03.2018 / 07.28 pm
...
Benar-benar seperti membaca Harlequin versi Indonesia. Konflik eksternal antara Ken dan Tea tidak dijelaskan secara gamblang, hanya sebagai alasan kedekatan mereka dan cinta kilat yang muncul di antara dua tokoh utamanya jelas khas Harlequin.
Ken yang digambarkan sebagai intel yang memata-matai peternakan Tea tapi justru jatuh cinta pada gadis itu. Tea yang awalnya mencurigai Ken tapi ujug-ujug merasakan virus cinta setiap kali memikirkan atau melihat Ken. Interaksi keduanya tak terlalu banyak, tapi dikisahkan perasaan mereka begitu kuat.
Sebenarnya akan lebih menarik jika rahasia cara Ken jatuh cinta diungkapkan lebih lama dan reaksi Tea tidak ‘sedatar’ itu. Tapi mungkin karena saat itu Tea sudah merasa jatuh cinta pada Ken jadi dia justru merasa tersanjung. Kalau aku bisa-bisa merasa dikuntit pas menemukan puluhan fotoku di galeri orang lain. Hahaha...
Lalu... ending mereka saling mengungkapkan perasaan di eternit saat Ken bergelantungan hampir jatuh dan tindakan Ken mencium Tea di kegelapan kok tidak terasa romantis ya? Mungkin karena terlalu tak masuk akal bagiku dalam keadaan mereka bersembunyi dari penjahat dan sedang mencari posisi teraman di eternit yang kayunya sudah lapuk tapi Ken justru bertindak seperti itu.
Ah, entahlah. Mungkin aku saja yang tidak memahami jalan pikiran orang yang sedang jatuh cinta. #ups