... Kata bersatu. Menempa gunung penjaga waktu. Meretas tawas. Bingkas. Ruang terbatas. Siapa di luar bebas? Pintu bersedeku. Tak ada kompas. Tanah memilah jengah. Kolam pulang jamaah. Rontok mematok. Hanya balok menampakkan wajah orok di dalam pelog. Kayu-kayu kehilangan suhu. Sungai menipu. Tebing mengerling. Jauh gering pohon-pohon tungging. ...
Korrie Layun Rampan, hlm. 79
Titik Temu sebagai judul buku ini menunjukkkan bahwa buku ini digagas, ditulis atas titik temu ide, titik temu cita-cita dan pengakuan terhadap martabat manusia, lintas batas, tanpa ada sekat perbedaan geografi, warna kulit, agama, etnis, dan negara. Hal itu sangat tepat, karena pada dasarnya bicara hak asasi manusia (HAM) adalah bicara pengakuan terhadap martabat manusia, kemanusiaan, dan universal.
Siti Noor Laila, Komisioner Komnas HAM
Komunitas Kampoeng Jerami adalah wadah sebuah kampung yang penuh dengan semangat gotong-royong dan mengedepankan proses belajar bersama demi kemajuan dengan cara-cara sederhana, khususnya lewat sastra. Semua diarahkan untuk menebar persaudaraan dan pertemanan dengan tetap menjunjung hak dan tanggung jawab masing-masing. Begitu pula kegiatan-kegiatan Kamunitas Kampoeng Jerami menggerakkan rodanya dengan semangat bersama seperti belajar bersama tentang penulisan, tentang sastra, penerbitan buku, pelatihan dan pengenalan sastra di berbagai tempat.
Di luar prediksi! Saya mengira akan mendapatkan daftar nama penyair-penyair Madura saat mendatangi diskusi buku ini di Bandung. Ternyata, kota Madura hanya menjadi alamat pos sekretariat Komunitas Kampoeng Jerami. Hanya beberapa yang berasal dari Madura termasuk "ketua" penggerak komunitas ini.
Puisi-puisi dalam buku ini biasa saja dan sepertinya editor perlu lebih "awas" dalam menangani teks-teksnya.
Niat baiknya tentu diterima, menghubungkan banyak orang melalui puisi dan buku.