Dalam selubung tulah itu kudengar desahmu untuk terakhir kalinya: Manusia mati dan tak berbahagia… Tapi kepada apa menuntut jawab? Tinggal semesta lekas menguap bak niat baik orang dewasa. Sedang kehendak dalam diri tak lagi bisa— Ada, namun tidak lagi bisa menggerakkan apa-apa.
Dea Anugrah is a writer based in Jakarta, Indonesia. His most recent poetry collection Misa Arwah (2015) was longlisted in 2016 Khatulistiwa Literary Award. His collection of short stories Bakat Menggonggong (2016) was recognized by Rolling Stone Indonesia magazine as one of the best Indonesian books of 2016; it was also shortlisted in 2017 Khatulistiwa Literary Award. He regularly writes essays and journalistic reports for Tirto.id.
Istilah Misa berasal dari kata bahasa Latin kuno missa yang secara harafiah berarti pergi berpencar atau diutus. Kata ini dipakai dalam rumusan pengutusan dalam bagian akhir Perayaan Ekaristi yang berbunyi "Ite, missa est" (Pergilah, tugas perutusan telah diberikan) yang dalam Tata Perayaan Ekaristi di Indonesia dipakai rumusan kata-kata "Marilah pergi. Kita diutus."(Wikipedia)
Sedangkan ekaristi berasal dari bahasa Yunani eucharistia, yang artinya pujian atau syukur. Jadi, arti kata ekaristi mementingkan apa yang kita akukan dalam Misa, yaitu memuji, bersyukur, dan berterima kasih kepada Tuhan atas kebaikan-Nya. Dikatakan bahwa ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan umat.
Pada saat yang sama, ketika membaca puisi-puisi di dalamnya, saya sedang berbincang dengan Zane tentang alam semesta. Alam semesta yang bermula dari ledakan besar, menjadi bintang, bintang menjadi bintang-bintang, lalu menjadi galaksi, dan galaksi-galaksi. Alam semesta selalu berkembang, begitu juga tubuhku. Dengan serius, dia berkata. Itu namanya entropi. Entropi alam semesta adalah mengembangnya alam semesta. Aku diam saja mendengar kata-katanya. Dia melanjutkan, entropi itu dikenal pada termodinamika. Entropi adalah es batu di dalam gelas, juga gula yang diaduk dalam segelas teh. Ia juga berarti transformasi. Ada banyak hal yang tampaknya berubah tanpa alasan. Begitu juga tubuhku, katanya. Entropi di dalam tubuh adalah ketidakteraturan. Ketidakteraturan itu akan semakin tidak teratur. Kita bisa memperlambat entropi itu dengan olahraga. Ucapannya sulit kubantah.
Sajak-sajak Dea Anugrah juga adalah sebuah entropi. Kecemasanlah yang menjadi entropinya. Ditegaskan dalam baris sajaknya,
Sebab kecemasan itu tak pernah usai.
Bicara sajak Dea juga bicara pengetahuan dan intertekstualitas. Simak sajak pertamanya yang berjudul Teringat Kuburan di Desa
selembar daun jati tua
jatuh
di atas sebuah makam purba
o, pengetahuan, mengapa manusia
ingin bahagia?
Dari sajak ini saja aku jadi teringat pada banyak hal. Ada Ezra Pound, Subagyo Sastrowardoyo, Sheila on 7 dan Goenawan Muhammad.
Ezra Pound kukenal karena imajismenya. Imaji daun jati yang dihadirkan Dea juga menarik. Karena lama tinggal di Jogja, jadi kurasa Dea paham betul kalau daun jati itulah yang berguna memerahkan gudeg. Yang disukai banyak orang biasanya adalah yang terbungkus di dalam daun jati, bukan daun jatinya. Sama seperti ketika aku berkunjung ke Jogja, kami makan nasi Jamblang di emperan jalan. Makanan khas Cirebon itu juga dibungkus daun jati.
Namun, Dea tak puas dengan imajisme semata. Ia membubuhkan pertanyaan. Pertanyaan yang pernah dilontarkan Sheila on 7, juga Goenawan Muhammad. Bedanya, Dea menggunakan kata "ingin", bukan "ada", atau "butuh". Di sini, Dea mengatakan bahwa manusia memiliki arti nafs itu.
Kekontrasan antara kedua hal itu menimbulkan kesadaran akan peran manusia untuk mementingkan orang lain dulu ketimbang mementingkan diri sendiri. Diletakkannya sajak ini di awallah yang juga membuatku teringat pada sajak Subagyo Sastrowardoyo.
NADA AWAL
Oleh :Subagyo Sastrowardoyo
Tugasku hanya menterjemah
gerak daun yang tergantung
di ranting yang letih. Rahasia
membutuhkan kata yang terucap
di puncak sepi. Ketika daun jatuh
tak ada titik darah. tapi
di ruang kelam ada yang merasa
kehilangan dan mengaduh pedih
Jika kita mencermati keduanya, ada persamaan alasan. Ini yang membuat Dea menulis Misa Arwah sebagai persembahan untuk Subagyo Sastrowardoyo.
Hanya saja, entropi Dea dan kecemasannya itu masih belum terlihat batasnya. Ibarat gula tadi, diaduk di dalam gelas, ia akan memaniskan seisi gelas. Tak berpuas di situ, bila pun gula itu ditumpahkan ke lautan, ada upaya dari Dea untuk memaniskan lautan. Tampak Dea berusaha mendefinisikan ulang banyak kejadian. Ia tak puas dengan definisi yang diterimanya (misal dalam sajak Ad Ignorantiam--yang bahasa gaulnya, "Hoi, apa kita sudah cukup bukti untuk menyimpulkan sesuatu?)
Akan tak bijak rasanya kalau semua sajaknya dibahas satu-satu dan akan habis isi otakku dikurasnya, meski itu mungkin belum akan cukup juga pada kemungkinan tafsir yang bisa didapatkan.
Sebagai seorang pembaca prosa, sejujurnya saya tidak begitu paham dengan puisi. Akan tetapi, Buku Misa Arwah yang ditulis Dea membuat saya cukup menikmati puisi-puisi yang ada di dalamnya--meskipun tidak semua puisinya bisa saya pahami. Beberapa puisi favorit saya di buku ini adalah: Misa Arwah, Subagio Sastrowardoyo, Sebab Matahari Tak Pernah Bisa Menghapus Kesedihan, Ode Untuk Tubuh Perempuan, Untuk Vivian Bullwinkel, Doa Bapa Kami, Di Depan Cermin, Sanur, Di Sini, di Tempat Ini, dan Lagu Tidur. Semua puisi tersebut ditulis dalam bahasa sederhana yang bisa saya pahami dan maknai dengan pengalaman saya sendiri. Selain itu, saya sangat menyukai cara Dea menutup kumpulan puisinya dengan puisi "Kepada Pembaca" yang begitu jujur. Saat membaca buku ini, saya hampir selalu terbawa dan merasa sedih. Entah apakah itu yang dirasakan Dea juga saat menulisnya atau tidak. Yang jelas, saya suka sekali buku ini. :)
Setelah membaca cerpen dan buku non-fiksinya yang saya sukai sekali, saya anggap Dea jago sekali bermain kata-kata. Atau setidaknya senang mengulik dan membuktikan Bahasa Indonesia memiliki kata yang sangat kaya. Jadi penasaran dengan buku puisinya yang masuk daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2016 ini (yang setelah dicari dimana-mana dan habis, untungnya terbit ulang, dengan sampul baru pula.) Puisinya ini naik tingkat. Saking asingnya diksi dan kalimatnya, tidak semua puisi di buku ini bisa menggenggam jiwa saya—pinjam kata-kata dari puisinya Dea sendiri. Saya tidak sebegitu mampu memahami buku puisi, sih. Tapi tidak menyurutkan kebagusannya. Soalnya sekalinya tergenggam, hampir remuk saking kuatnya. Kemuraman puisi-puisinya—iya abu-abu sekali rasanya buku ini—bikin merasa hidup dekat sekali dengan kuburan. Aduh, kehidupan dan kuburan ini. Saya kutip puisi pembukanya berjudul “Teringat Kuburan di Desa”. Selembar daun jati tua jatuh di atas makam purba Pengetahuan, mengapa manusia ingin bahagia?
seperti ujung benai sehelai / mudah luput dari lubang jarum, / adakalanya sebuah puisi / tak bisa menggenggam jiwamu. ngak bisa setop senyum waktu baca 'kepada pembaca', karena walaupun iya, ada puisi didalam ini yang hanya nge-poke dan ada yang tidak mau ingin coba sama sekali, kebanyakan tidak. ngak bisa stop nge-bracket bait demi bait dan underlining sama muterin pensil di kata-kata yang aku gk ngerti, dan aku suka. aku suka terjun ke dunia ini. it's worth reading it. i kinda feel like a new person.
favorites: tentang percakapan, sebab matahari tak pernah bisa menghapus kesedihan, setiap kali mataku terpejam (!!! lain adalah kata yang kekal terima kasih tuhan aku ada disini), di tepi kali serayu, sebelum hari terakhir, alas tidur (!!!), mungkin akan ada, ad ignorantium, di sini di tempat ini, kepada pembaca (!!!). iya, banyak.
Bagaimana membedakan mana puisi baik dan mana yang cuma kata-kata tai? Bagaimana mengapresiasi puisi? Oh kamu bertanya pada orang yang dungu akan puisi. Maaf.
Meski dibuka dengan dua puisi yang bagus, bagian awal buku puisi ini terasa biasa saja. Namun, lamat-lamat membaiklah keadaan. Dari tengah menuju akhir buku ini akhirnya menemukan jati dirinya, dan puisi-puisi yang Dea tulis indah dalam kemuramannya.
Wah, ternyata Dea Anugerah ini berbakat menjadi penyair. Puisi-puisinya baru kali ini saya baca dan baguuus. Beberapa puisi malah terasa dalam maknanya.
Judul favorit : - Tentang Percakapan - Sebab Matahari Tak Pernah Bisa Menghapus Kesedihan - Di Teli Kali Serayu - Ad Ignorantiam
“Aku sedang membaca buku kumpulan puisi. Tipis saja. Tapi itu sudah cukup menguras perasaan. Begitu sampulnya terbuka, sekeliling seolah langsung berubah menjadi sepia. Virus-virus kecemasan berloncatan dari lembar-lembar kertasnya yang ringan.”
“Buku semacam itu tidak seharusnya kamu baca. Hidup sudah cukup membuatmu cemas.”
“Tapi buku ini beda. Ia memang menghembuskan cemas. Tapi ia juga membuka ruang-ruang yang kemungkinan bisa menjadi penawar. Oh ya, lagi pun ini bukan sekadar buku puisi yang bisa dibaca dengan cepat. Aku harus mengulang beberapa bagian hanya demi memberikan kesempatan kepada otakku untuk berpikir.”
“Contoh?”
“Seandainya kutulis sebuah nama pada kulit trembesi atau sebaris frasa di atas bangku taman ini akankah kita abadi?”
“Rasanya aku harus membacanya juga. Apa judulnya?”
“Misa Arwah & Puisi-Puisi Lainnya.”
“Siapa penulisnya?”
“Dea Anugrah.”
“Oh, pantas. Perempuan memang selalu begitu. Kami diciptakan untuk dapat mengaduk-aduk perasaan semudah mengaduk-aduk sup.”
Misa Arwah, Sebelum Hari Terakhir, Doa Bapa Kami, dan Kepada Pembaca menjadi favorit. Sebenarnya kurang paham sih dengan puisi dan tidak berusaha untuk memahami, meskipun pernah punya pacar penyair #halahwi!
Sampulnya bagus. Tapi ada beberapa judul yang kurang pas dengan EYD. Misalnya dalam menulis "Di" (Teringat Kuburan Di Desa), ini puisi pertama dan langsung menohok karena salah tulis. Cedi saya. "Untuk" (Ode Untuk Tubuh Perempuan dan Variasi Untuk Sebuah Peristiwa).
Atau memang sengaja ditulis begitu? Saya rasa ngga deh. Hehe
Kenapa memberi empat bintang meski tidak paham puisi? Apakah segala hal harus selalu ada alasannya?
Puisi-puisi di dalam buku ini memiliki "imagery" yang akan membuat pembaca terbawa pada menuju alam puisi. Kemampuan yang tidak mudah bagi seseorang yang hendak atau sedang belajar menulis puisi.
Kepada Dea:
Semoga suatu waktu kita bertemu dan berbincang beberapa hal tentang puisi-puisi dalam buku ini.
Penyair muda berbakat lainnya telat muncul. Saya rasa karya Dea Anugrah di sini terlihat cukup matang untuk sebuah karya puisi dari seorang seusianya. Favorit saya ada dalam puisi terakhir berjudul 'Kepada Pembaca'
Mungkin aku terlalu bodoh untuk memahami puisi-puisi yang begitu banyak ditulis. Perkataan-perkataan yang tak langsung dan dijangka atau disangka puitis oleh penulisnya, buat aku tercari-cari apa bendalah yang sedang dikarang para penulis puisi. Mungkin kerana puisi dalam pemahaman dan fahaman aku ialah apa yang bergelodak di hati dan terus dicatatkan, kemudian hanya diedit berkali-kali (pun tak apa), berbanding kata-kata yang ditulis dan dirasakan sebagai puisi walhal bukan. Kerana itu ada orang boleh menganjurkan kelas puisi atau bengkel puisi, yang sebenarnya lebih kepada diada-adakan. Sesuatu yang benar-benar tulus dan datang dari hati -seperti piawaian aku pada puisi- masakan boleh dibuat kelas atau bengkel? Puisi lebih kepada spontaneous, atau kata-kata yang telah tersimpan lama hasil pembacaan dan pergelutan (mungkin penulis puisi begitu banyak hari ini kurang membaca?) yang kemudian terhambur keluar dengan perkataan-perkataan yang menikam, hasil dari emosi dan intelektual, dua ramuan yang diadunkan ini akhirnya barulah menjadi suatu puisi yang mengujakan.
Maaf kurang cakap pasal buku ini. Secara luaran lawa, kertas, kulit buku dan rekabentuk dalam. Selainnya, untuk aku tak capai piawaian yang sedap.
melengkapkanku yang sudah lama tak membaca kumpulan puisi dalam kurun waktu bertahun-tahun. ringkas dan mantab. puisi dengan ragam peristiwa. melesap dalam tabir waktu yang berlapis. imaji dan pemilihan-bahasa yang menggaung meski dalam nada rendah. atau sedikit kemasaman-keraguan, pada takdir. pada apa saja yang dipertanyakan. lengkap dan bisa dibaca berkali-kali untuk merasakan perasaan membaca yang berbeda.
gaung dan nada-cara-bertuturnya masih memantulkan, atau mungkin masih ada beberapa suara pengaruh puisi pak GM (?) aku rasa.
Isinya agaknya (sejauh yang bisa saya tangkap) mengajak pembaca memaknai kembali soal perasaan duka, kematian, kehilangan, serta spiritualitas dan eksistensi manusia. Mungkin ada beberapa lainnya yang belum saya tangkap hanya dengan membacanya satu-dua kali.
Kumpulan puisi yang saya rasa cukup untuk bacaan santai (terlepas isinya yang cenderung pendek dan bukunya pun tipis). Gaya bahasanya sederhana, jadi dapat dinikmati tanpa harus berpusing diri.
Puisi-puisi di buku ini hawanya suram. Bukan yang semata-mata sedih, tetapi lebih kepada perasaan kosong, hening sejenak, dan entah.
Puisi terakhir berjudul Kepada Pembaca terasa sangat menggambarkan bagaimana saya membaca buku ini. Memang tidak semua isinya saya pahami, sebagian mungkin hanya bisa saya nikmati (tanpa peduli maksudnya).
Tertulis, " Seperti ujung benang sehelai mudah luput dari lubang jarum adakalanya sebuah puisi tak bisa menggenggam jiwamu...."
Rasanya puisi Kepada Pembaca sangat cocok diletakkan di akhir, bukan di tengah apalagi di awal. Membuatmu tak perlu membaca ulang, tapi justru mengingat perjalanan panjang awal hingga akhir buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Agaknya sedikit keliru membaca Kertas Basah lebih dulu ketimbang Misa Arwah. Saya, yang pertama-tama begitu gandrung dengan Kertas Basah, merasakan anti-klimaks saat membaca kumpulan puisi yang satu ini. Buku ini seperti kilas balik pencapaian puitik dari Kertas Basah. Dan setelah melihat&memahami tanggal terbitnya, sepertinya bukan seperti lagi, tetapi memang begitu adanya. Meskipun begitu, puisi-puisi dalam buku ini tetap menggemaskan.
Baru kali ini menamatkan buku kumpulan puisi. Kata-kata yang digunakan Dea pada buku ini menurutku sangat hemat dan pas. Tidak muluk-muluk dengan kosakata yang wah. Tetapi rangkaiannya tetap indah. Kesan gloomy selalu menyelimuti saat tiap bait dibaca dan tiap bait diresapi. Mungkin karena momennya pas--atau memang saya mengepaskan waktunya, membuat kata-kata nya lebih meresap.
27 puisi yg sarat kemuraman. kesedihan-kesedihan yg begitu dekat dan tak terhindarkan. kesedihan yg musti diterima saja, tidak bisa dielakkan. kemuraman yg dikemas bang dea dalam permainan diksi yg apik.
Ada 27 puisi di buku ini. Dan sebagian besar harus saya akui belum mampu saya pahami dan maknai betul. Hanya sebagian kecil. Tapi yg kecil itupun menyenangkan sekali! Haha
Isu-isu seputar kematian, kesakitan, duka, bahagia dan hal-hal spiritual bertebaran. Saya berhasil memungut beberapa untuk disimpan. Seperti salah satu pertanyaan dalam puisi "Teringat Kuburan Desa" yg mempertanyakan keinginan manusia untuk bahagia. Seolah kebahagiaan di desa yg harusnya begitu sederhana telah mati, dibunuh kebahagian versi kota yg penuh modernisasi.
Puisi lain yg menarik adalah "Sebelum hari terakhir". Bait terakhirnya terasa menghantam kuat sekali. Haha berima dan pilihan katanya ganas.
Tapi tentu saja puisi favorit saya dari buku ini adalah puisi terakhir sebelum halaman "Tentang Penulis". Entah memang Dea sengaja menempatkan puisi "Kepada Pembaca" di urutan terakhir atau tidak, yg jelas saya merasa puisi ini sangat mewakili saya sebagai pembaca yg minim ilmu dan kedalaman rasa untuk memahami puisi. Haha karena "Adakalanya sebuah puisi tak bisa menggenggam jiwamu".
Kemarin malem liat Dea live IG, dia bilang "sapi kan biasa yah, terus balet juga biasa, sepatu roda juga biasa, tapi kalo orang berkepala sapi, nari balet pakai sepatu roda, itu baru luar biasa."
Siangnya baca Misa Arwah. Dan, yah puisi-puisi Dea Anugrah di buku tersebut seperti orang berkepala sapi, nari balet pakai sepatu roda. Sulit dimengeri tapi tetap menarik tuk dibaca.
Siapa yang tak tertarik melihat seorang penari balet berkepala sapi menari menggunakan sepatu roda? Sepertinya tak ada.