Menggambar adalah satu-satunya kegiatan yang membuat Ranya merasa hidup. Dia bahkan membuka drawing commission di sekolah yang menghasilkan uang untuk ditabung, membeli perlengkapan menggambar, juga menambah uang jajan.
Masalahnya, Ibu sudah membuat keputusan. Ranya harus melanjutkan kuliah di jurusan Akuntansi, mengikuti jejak Kak Una. Nantinya, dia harus bekerja di bank—menggantikan tugas Kak Una sebagai tulang punggung keluarga, sebab Kak Una harus mulai memikirkan pernikahan.
Meski sangat mencintai keluarganya, keputusan itu membuat Ranya merasa seperti dipaksa shutdown—mati, menerima tanpa ruang untuk memilih.
Namun, ketika sebuah kesempatan kuliah di jurusan Seni muncul, akankah Ranya cukup berani untuk mengambilnya?
Shutdown mengusung premis yang bisa dikategorikan nggak asing lagi, lalu kenapa aku sangat suka buku yang tebalnya cuma 100-an halaman ini? Karena pengemasannya sangat baik, ngena di hati, dan di saat-saat tertentu terasa magis. Jam terbang penulis memang nggak bohong, sih.
Dari paragraf pembuka, kita langsung tahu apa yang sedang terjadi dalam hidup Ranya, juga perasaannya. Mungkin sudut pandang orang pertama yang digunakan Mas Nara berperan besar, ya, tapi terus aku berpikir: eh, "suara" Ranya oke, padahal penulisnya bukan perempuan (dan jelas nggak remaja lagi wkwkwk maaf, Mas, hanya berusaha jujur di reviu ini). Di bab pertama kita pun kenalan sama Gamal, si pendukung nomor 1 Ranya. Aku langsung suka interaksi mereka, biarpun kemudian di bagian-bagian menjelang akhir, ada beberapa hal yang menurutku bisa dieksekusi dengan jalan lain. Ini masalah selera aja, sih, bukan sesuatu yang berpengaruh ke kenyamanan membaca.
Karakter-karakter yang membangun keluarga Ranya tuh seperti nyata. Kayak ... kalau kita ke luar rumah, mungkin bakal ketemu sama cerita-cerita serupa (atau malah ada di dalam rumah kita sendiri). Aku suka banget paragraf awal di bab kedua, dan jujur ini yang bikin aku sangat merekomendasikan bukunya. Kekuatan Mas Nara kurasa di narasi, ya, aku sering menemukan mataku berkaca-kaca di bagian-bagian itu, tapi terus bisa cekikikan pula di dialognya.
Aku mau mengapresiasi riset yang Mas Nara lakukan buat proses Ranya masuk universitas, soalnya aku pribadi yang punya pekerjaan nyerempet ke situ nggak pernah mau nulis tentang hal itu wkwkwk. Stres duluan, monmaap.
Hebatnya buku ini, aku sebagai anak sulung yang harusnya lebih relate ke Kak Una, tetap bisa memahami Ranya. Aku paham alasan-alasan yang mendasari keputusannya, bahkan ikut berempati juga sama seluruh anggota keluarganya. Jadi pengin baca kisahnya Kak Una secara lebih lengkap :')
Dari segi teknis, masih ada beberapa kata yang menurutku bisa disesuaikan, juga dicek lagi ke KBBI (tapi kalau ternyata itu disengaja atau gaya selingkung penerbit, sah-sah aja, kok). Dan, ini mungkin masalah selera juga, tapi aku agak terganggu sama betapa banyaknya penggunaan tanda "?!". Bukan hal besar, cuma efektivitasnya jadi berkurang di kepalaku.
Secara keseluruhan, light novel pertama yang kubaca dari Bentang Belia ini sangat aku rekomendasikan. Aku akan sangat menunggu karya-karya terbaru Mas Nara!
Apa keputusan besar yang pernah kamu ambil saat remaja??
Ranya tau dirinya berbakat dan sangat senang menggambar. Dia bahkan membuka drawing commission untuk menabung dan menambah uang jajan. Tapi tak ada yang mendukung hobinya ini. Ibu dan Bapak memintanya mengambil jurusan Akuntansi saat kuliah nanti! Setelahnya Ranya harus kerja di bank, menggantikan Kak Una jadi tulang punggung keluarga!! 😔
Ranya bimbang, haruskah dia menuruti perintah orang tuanya dan mematikan mimpinya? Di saat seperti itu, Gamal hadir menemani Ranya. Gamal juga mempertanyakan kebahagiaan Ranya. Tapi ini tak pernah mudah.. Bapak sakit keras, harus rutin cuci darah. Trez, adik Ranya juga harus rutin mengonsumsi obat. Sementara Ibu hanya berjualan ayam goreng. Ranya juga tak tega melihat Kak Una yang bekerja keras sambil menyembunyikan kesedihannya 😭 Ranya harus bagaimana??
🎨✨🎨 Baca review buku lainnya di IG ku @tika_nia
Novel tipis ini bisa ku selesaikan dalam sehari saja. Gaya bahasanya ringan tetapi konfliknya tetap terasa 😃 Ini semua tentang sandwich generation, mimpi, harapan, keluarga, rasa bimbang, dan kisah cinta di masa SMA 💗 Aku juga tertarik dengan issue tentang Down Sindrom yang menyentuh hati dalam novel ini 🤍✨
Beberapa insight yang ku dapat saat membacanya: • Setiap mimpi punya kesempatan untuk menjadi nyata, cobalah untuk mewujudkannya 💫 • Beban yang berat akan terasa lebih ringan saat ada seseorang yang tulus di sisi kita 😊 • Tidak semua beban harus kamu tanggung sendirian, sesekali bercerita pada orang yang kamu percaya bisa meringankannya.
Aku mempunyai satu trik dalam memulai membaca sebuah buku. Apakah akan langsung melanjutkannya atau aku tahan dulu dan sambil baca buku lain? Yaitu trik 3 bab pertama. Menurutku kalau 3 bab pertama sangat “hooked” dan buat aku nggak berhenti baca, maka aku akan melanjutkan buku ini sampai selesai dan tidak “menyelingkuhinya” dengan current read yang lain. Dan itulah yang aku rasakan saat membaca buku ini.
Saat kamu memulai baca chapter 1, kamu akan disuguhi paragraf ini: Aku seperti punya dua wajah. Satu kupasang di rumah, satu lagi kupakai di sekolah. Wajah di rumah adalah Ranya Khalil yang telah lama mati, karena diam merupakan syarat mutlak menjadi anak tengah perempuan yang baik, bukan pembangkang. Namun, di sekolah aku berbeda. Aku merasa bebas. Tombol hidupku seperti ditekan otomatis bahkan sejak aku melangkah ke luar rumah. (p.1)
Dyemn, this broke me into pieces. Lalu, masuk ke paragraf pertama chapter 2: Keluargaku seperti bangunan tua yang rapuh. Dari luar terlihat normal, tapi di dalamnya kami mati-matian bertahan. Kami memiliki kebiasaan mengubur emosi dalam-dalam, menjadikan rumah sempit ini seperti kuburan. Entah sampai kapan rumah ini bisa menampung bangkai-bangkai emosi tertahan kami, sebelum salah satu dari kami meledak dan merobohkan semua tatanan keluarga ini. (p.11)
Wow. Penulisnya begitu piawai memainkan diksi yang sederhana, namun sanggup memporak-porandakan hati pembaca, hiks.
Buku ini berkisah tentang Ranya atau akrab disapa Ranyul (Ranya Tuyul) yang di masa akhir SMA-nya berdiri di atas dua pilihan: 1) masuk jurusan seperti yang diinginkan ibunya, yang penting bisa kerja di BUMN seperti kakaknya, tetapi menyalahi keinginan dan passion Ranya; atau 2) memilih jurusan yang diinginkan Ranya, meskipun itu harus berargumentasi dengan orang tuanya karena jurusan yang Ranya dambakan dianggap “tidak menguntungkan” menurut ibunya. Pedih. Dan di akhir dirinya ingin shutdown, Gamal datang kehidupan Ranya memberikan harapan bahwa hidup kita adalah jalan yang kita pilih sendiri.
Mari buat program 1 Gamal untuk 1 anak tengah perempuan!! Karena Gamal ini sungguh sosok yang begitu fit dengan karakter anak tengah yang kerap diabaikan, perasaannya tidak penting, terlupakan, mengalah kepada adik, dan menerima dengan lapang kepada kakak, maka Gamal hadir untuk menjadikanmu satu-satunya dan dunianya. Luar biasa, Gamal.
Adegan yang paling aku suka (ini kalau dialihwahanakan menjadi film sungguh epik, sinematis, dramatis deh), yaitu saat Ranya “meledak”. Apa yang selama ini ia pendam, dia keluarkan semua, dan membuat tension sungguh begitu padat, rapat, dan mampu melahap semuanya. Konfrontasi Ibunya pun ditutup dengan, “apakah kalian juga pernah menanyakan apa Ibu bahagia di rumah ini?”
Nangislah awak ini. Karakter ibu yang bak karakter antagonis dalam kehidupan anak perempuannya, menjelma menjadi karakter yang menyimpan luka yang sama besarnya, yang tanpa sadar menurunkannya kepada anaknya. Generational trauma.
Namun, sayangnya, tensi tinggi itu dapat konklusi yang buru-buru. Dragging. Ibaratnya kamu nangis di bab 12, masih nangis tuh, eh di bab 13 udah tamat aja, kayak hah? Belum selesai ini, bang, nangisnya? Closure-nya sungguh cepet banget. Padahal di fase klimaks itu seharusnya ada fase cooling down dulu agar hati tentram, sebelum ke penutup. Lagi-lagi karena halamannya yang terbatas, ya. Jadi dibuat cepat selesai, huhu.
Meski demikian, aku sukaaaaa buku ini. Banyak insight dan membuka perspektif lain tentang generational trauma, mimpi, dan juga cinta. Soal romansanya pun tipis-tipis uwu gitu khas remaja.
Akhir kata, jika suka cerita teenlit-young adult dengan isu keluarga yang kuat, bisa dibaca sekali duduk, bacalah buku ini.
Light novel pertama yang aku tulis ini cukup padat dan to the point. Isu yang kuambil dekat dengan masalah remaja: mengenai minat jurusan setelah lulus yang bertabrakan dengan keinginan orang tua. Serta bagaimana anak tengah, mencoba menempatkan diri dalam keluarga yang seringnya lebih fokus kepada anak pertama dan terakhir. Cerita ini semoga memberi insight baik untuk para remaja, juga para pembaca bahkan orang tua.
Kak Nara dan kemampuan magical-nya dalam menarasikan perasaan. Selalu luar biasa!
Rasanya nggak percaya buku setipis 130an halaman ini berhasil bikin aku nangis sesenggukan di lembar-lembar terakhirnya. Jadi kangen dan pengen baca karya Kak Nara yang lain lagi…