Judul: Jurnal Cinta Andromeda
Isi: Jurnal Cinta-nya Andromeda. Atau, Jurnal Bagaimana Edith menjadi Edith.
Sigh... 2.7 bintang deh..
Pertama, saya tertipu dengan blurb-nya dan cover-nya yang cantik. Saya diberi ekspektasi bahwa cerita ini akan menuturkan suasana yang berlatar laut yang indah, lalu kebucinan yang menyayat hati tentang Andromeda kepada Edith (mmf soalnya aku memang lagi butuh bacaan bucinㅠㅠ). Tapi saya nggak merasakan keromantisannya sama sekali, meskipun maksudnya bukan cerita yang menye-menye pula. Dari awal sampai pertengahan buku cuma membahas; Edith yang begitu cantik dan mulia, dengan keluarga yang juga sangat mulia, dengan anak-anak bulenya, dengan kemampuan memasak sebagai Asisten Chef... yang sebenarnya, pesona Edith menurut saya belum tergambar dengan baik. Penuturan dialognya di awal-awal juga terkesan seperti... idk, mendikte? Meskipun perlu diapresiasi bahwa penulisnya sebenarnya bertujuan untuk membuka pikiran pembaca, memberi pesan dengan hal-hal baik. Tapi menurut saya masih kurang mulus.
Pada akhirnya, setelah pertengahan buku baru benar-benar terungkap kekacauan Edith itu sendiri. Which is good. Ketidaksempurnaan dan kerapuhan yang menggoda. Padahal Edith-nya aja yang memang genit dan gatel, apalagi sama bule (well, jika memang bertujuan untuk membuat pembaca gregetan dan kesal, ini berhasil). Tapi sekali lagi, karena buku ini tentang "Jurnal Cinta-nya Andromeda", maka tiba-tiba hop! Pindahlah sudut pandang begitu aja buat menceritakan masa lalunya Edith. Loh, ini si Andro sebenarnya dibiarkan tau, tapi darimana? Mungkin ini karena saya aja yang missed, mungkin.
Salah satunya yang bikin saya akhirnya agak respect ama Edith justru karena membangkang ke Prof. Krasna. Menurut saya kebaikan orangtuanya itu agak lebay(?), sampai makan tempe-tahu setiap hari karena prihatin dengan orang-orang yang kekurangan. Maaf saya nggak bisa relate sama kebaikan yang menurut saya kesannya seperti nggak menghargai diri sendiri begitu:(
Karena ada nama Andromeda di judulnya, mari kita bahas sedikit tentang dia. Pilihan namanya bagus, tapi karakternya masih terasa ngambang(?). Kasihan sih iya sama bocah yang dibutakan 'cinta' ini, tapi saya lebih kasihan lagi sama Manggis. Haduh.
Thanks to this corona-quarantine thing, saya sempat mau berhenti baca aja, tapi ternyata bisa juga dibaca sampai habis. Tapi... bukan cuma karena soal karantina tersebut, buku ini sebenarnya potensial karena ceritanya memang unik. Hanya saja masih kurang rapi, seperti pemilihan judul misalnya, pemilihan sudut pandang, dsb. Lalu setelah selesai saya baru menyadari bahwa ini buku yang terbit 18 tahun yang lalu. Wow! (terima kasih diskon grobmart yang telah mempertemukan saya dengan buku ini). Saya rasa jika ditulis lagi 18 tahun kemudian, pasti akan lebih berkembang dan jauh lebih baik lagi.
(Wow panjang nyinyirnya).