Dan apabila pada akhirnya kamu menyadari bahwa apa pun—apa pun—yang kau lakukan, kau akan tetap berakhir jadi kau yang sekarang, apakah kau akan terus menjadi kau? Atau seseorang lain, yang selalu kau sembunyikan di laci di lemari tua di sudut gudang, di belakang papan setrika yang patah tetapi masih disimpan?” kata tokoh “aku” di salah satu cerpen di buku ini. Itulah sebagian pertanyaan yang terus dijawab dan dibantah di buku ini. Dari sudut pandang serangkaian sepupu Batak Toba queer, sebagian bahkan tidak pernah saling kenal, cerita-cerita di buku ini menggaungkan keterhubungannya, dan mengisahkan beberapa bagian kehidupan Batak Toba kontemporer yang kerap luput dari pandangan khalayak.
Norman Erikson Pasaribu was born in Jakarta in 1990. His first short story collection Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu (Only You Know How Much Longer I Should Wait) was shortlisted for the 2014 Khatulistiwa Literary Award for Prose. His debut poetry collection Sergius Mencari Bacchus (Sergius Seeks Bacchus) won the 2015 Jakarta Arts Council Poetry Competition, was shortlisted for the 2016 Khatulistiwa Literary Award for Poetry and named by Tempo as one of the best poetry collections of that year.
Rasanya ingin tak menyudahi setiap cerita di sini. Kesenangan, keharuan, kekhawatiran, dan ketakutannya sungguh familier. Saya menyoroti hubungan orangtua-anak yang kerap terpatri pada hampir ceritanya.
Walaupun terlampau singkat, “Panggilan Telepon dari Perantauan” menjadi yang paling membekas. Saya membacanya berkali-kali. Kesan nyaman sekaligus waswas dari satu paragraf itu amat saya akrabi.
Membaca Nama-Nama Lain untuk Masa Lalu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Cerita-cerita di sini intim, cerdas, dan mempunyai hati dan pengalaman yang mendalam. Di Nama-Nama Lain untuk Masa Lalu, Norman bermain-main dengan takdir dan waktu, tokoh-tokohnya ada dalam cerita yang saling menyangkut satu sama lain, dirangkai dengan begitu intim dan jujur. Beberapa cerita terasa sangat marah, lainnya terasa pedih, namun semuanya terbaca intim dan cerdas dalam penulisannya yang bermain-main dengan satu premis sederhana: Waktu dan Keadaan. Agak sulit memilih cerita favorit--sama seperti ketika membaca buku-buku Norman sebelumnya. Seluruh cerita dirangkai untuk saling mengikat satu sama lain dan bergantung pada lainnya. Namun, ada dua cerita yang meninggalkan kesan lebih dalam yaitu Hari Kelulusan dan Asal-Usul Bandit: sebuah Epilog. Hari Kelulusan membahas tentang perkawinan paksa antara seorang Gay dengan seorang wanita--sebuah pemaksaan heteronormatif yang sedihnya, lumrah kita jumpai. Di sini, tidak saja kita menemukan Akhir Bahagia (yang bagaimana? bisa dibaca sendiri), tapi juga satu kritik kuat terhadap sistem heteronormatif, yang tentu saja, menguntungkan kaum stret sendiri. Sebuah cerpen yang mengandung kemarahan, namun juga harapan di akhirnya. Di Asal-Usul Bandit: sebuah Epilog, kita diajak membayangkan sebuah kenyataan paralel di mana ada sosok Janus--sebuah Teman Hidup Canggih yang mempunyai kekasih-kekasih yang posesif. Kemisteriusan Janus-Janus ini kemudian menimbulkan rasa penasaran pemiliknya--yang menggulirkan cerita yang cerdas ini sampai akhir yang menjadikan mereka Bandit. Begitu intim, begitu indah, dan begitu cerdas. Sebuah buku yang menyenangkan untuk dibaca.
Aku suka sekali dengan "kejujuran" di cerpen-cerpen terbaru Norman ini. Aku merasa dihadiahi pepatah, "mending ya begini apa adanya, daripada banyak kamuflase yang menjengkelkan."
Cerpen kesukaan versi saya: Teori Belalai, dan Hari Kelulusan.
selesai membaca buku ini kala masjid-masjid di sekeliling rumah mengumandangkan azan subuh dan sahabatku dan pacarnya tidur nyenyak di sampingku, inilah pengalaman membaca yang lagi-lagi akan kuingat selamanya. semoga kita terus merayakan yang tersisa, merelakan yang terampas, dan mengingat segalanya.
/
finished reading this book when the mosques around my house began to call for morning prayer and my best friend and her boyfriend was fast asleep next to me, this is another reading experience that i will remember forever. may we always celebrate the remains, release the stolen, and remember everything.
Absolutely breathtaking! Sumpah, suwer, I'm trying to be objective, but this book is literally breathtaking. Kombinasi kocak, sendu, gila yang gak kuduga, sampe kadang tercekat karena cara bercerita, kisah pertemuan-pertemuan yang menegangkan, dan perasaan yang muncul dalam diriku begitu... baru? Hal yang juga menurutku menarik perhatianku adalah soal penggunaan kata "kita" di beberapa cerpen, yang tak ku pahami sepenuhnya siapa "kita" itu, tetapi "kita" terdengar pas. An instant favorite! <3
Sastra queer —saya bukan bermaksud untuk menciptakan/memberikan denominasi baru atas genre sastra— yang bisa ditulis oleh queer maupun yang “bercerita” tentang queer, menurut saya, sering kali tidak mendapatkan spotlight —kalau itu diperlukan, atau setidaknya apresiasi dan eksplorasi sebagai bagian perlawanan atas budaya heteronormativitas— di antara jenis sastra lain.
Norman melalui kumcer ini menggarisbawahi, menebalkan, dan tentu mengangkat —saya yakin dengan kesadaran dan bangga— isu yang saya kira pasti dialami queer, atau setidaknya wni yang sadar kelas dan dimensi gender, betapa susahnya menjadi “diri” atau aku-yang-sendiri maupun aku-yang-kolektif atas identitas yang saya yakin tidak ada yang dapat memilih.
i love you tragedy. i love you devotion. i love you love that shattered me into pieces. i love you centuries-long yearning. i love you all consuming love. i love you hunger as desire. i love you monstrous intimacy.
Buku Norman Erikson Pasaribu pertamaku (dan masih berharap bisa bertemu cerita-ceritanya yang lain). Cerita-ceritanya seperti jendela yang memperlihatkan cerita kita yang pernah dan di kaca jendela itu, refleksiku yang sekarang terpampang nyata.