What do you think?


Nama-Nama Lain untuk Masa Lalu
Dan apabila pada akhirnya kamu menyadari bahwa apa pun—apa pun—yang kau lakukan, kau akan tetap berakhir jadi kau yang sekarang, apakah kau akan terus menjadi kau? Atau seseorang lain, yang selalu kau sembunyikan di laci di lemari tua di sudut gudang, di belakang papan setrika yang patah tetapi masih disimpan?” kata tokoh “aku” di salah satu cerpen di buku ini. Itulah sebagian pertanyaan yang terus dijawab dan dibantah di buku ini. Dari sudut pandang serangkaian sepupu Batak Toba queer, sebagian bahkan tidak pernah saling kenal, cerita-cerita di buku ini menggaungkan keterhubungannya, dan mengisahkan beberapa bagian kehidupan Batak Toba kontemporer yang kerap luput dari pandangan khalayak.
244 pages, Paperback
Published March 13, 2026
About the author
Norman Erikson Pasaribu
15 books102 followersNorman Erikson Pasaribu was born in Jakarta in 1990. His first short story collection Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu (Only You Know How Much Longer I Should Wait) was shortlisted for the 2014 Khatulistiwa Literary Award for Prose. His debut poetry collection Sergius Mencari Bacchus (Sergius Seeks Bacchus) won the 2015 Jakarta Arts Council Poetry Competition, was shortlisted for the 2016 Khatulistiwa Literary Award for Poetry and named by Tempo as one of the best poetry collections of that year.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 29 of 29 reviews
April 5, 2026
Rasanya ingin tak menyudahi setiap cerita di sini. Kesenangan, keharuan, kekhawatiran, dan ketakutannya sungguh familier. Saya menyoroti hubungan orangtua-anak yang kerap terpatri pada hampir ceritanya.
Walaupun terlampau singkat, “Panggilan Telepon dari Perantauan” menjadi yang paling membekas. Saya membacanya berkali-kali. Kesan nyaman sekaligus waswas dari satu paragraf itu amat saya akrabi.
Walaupun terlampau singkat, “Panggilan Telepon dari Perantauan” menjadi yang paling membekas. Saya membacanya berkali-kali. Kesan nyaman sekaligus waswas dari satu paragraf itu amat saya akrabi.
May 22, 2026
perasaan setelah baca Bahagia & Lapar. betapa buku ini akan buat aku terus lapar dalam tahuntahun yang akan datang. Lapar dalam perenungan untuk terus mengingat bertanya membayangkan keutuhan, ketuhanan. ke-diri-an.
rasanya aku terlalu DERAS excited sendiri pas kelar baca, aku berharap bisa menerjemahkan semua perasaan & ledakan pikiranku wkwk. kompleksitas itu, layer-layer itu.
banyak banget cerita yang kusuka tapi cerita Asal Usul Bandit benerbener bikin aku teriak ini dia SASTRAGHHHHHG. betapa 3 urutan cerita terakhir benerbener memberi benangnya konteksnya kaya visi Ka Norman kaya utuh walau tak semua memang dijawab tapi ya itulah yang membuat ini menyenangkan untuk terus lapar & curiga.
kompleksitas itu sekaligus halhal yang dengan jelas kau sadari juga. lapisanlapisan yang selama ini selalu ada, tak pernah pulang.
rasanya aku terlalu DERAS excited sendiri pas kelar baca, aku berharap bisa menerjemahkan semua perasaan & ledakan pikiranku wkwk. kompleksitas itu, layer-layer itu.
banyak banget cerita yang kusuka tapi cerita Asal Usul Bandit benerbener bikin aku teriak ini dia SASTRAGHHHHHG. betapa 3 urutan cerita terakhir benerbener memberi benangnya konteksnya kaya visi Ka Norman kaya utuh walau tak semua memang dijawab tapi ya itulah yang membuat ini menyenangkan untuk terus lapar & curiga.
kompleksitas itu sekaligus halhal yang dengan jelas kau sadari juga. lapisanlapisan yang selama ini selalu ada, tak pernah pulang.
March 24, 2026
Membaca Nama-Nama Lain untuk Masa Lalu adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Cerita-cerita di sini intim, cerdas, dan mempunyai hati dan pengalaman yang mendalam. Di Nama-Nama Lain untuk Masa Lalu, Norman bermain-main dengan takdir dan waktu, tokoh-tokohnya ada dalam cerita yang saling menyangkut satu sama lain, dirangkai dengan begitu intim dan jujur. Beberapa cerita terasa sangat marah, lainnya terasa pedih, namun semuanya terbaca intim dan cerdas dalam penulisannya yang bermain-main dengan satu premis sederhana: Waktu dan Keadaan.
Agak sulit memilih cerita favorit--sama seperti ketika membaca buku-buku Norman sebelumnya. Seluruh cerita dirangkai untuk saling mengikat satu sama lain dan bergantung pada lainnya. Namun, ada dua cerita yang meninggalkan kesan lebih dalam yaitu Hari Kelulusan dan Asal-Usul Bandit: sebuah Epilog. Hari Kelulusan membahas tentang perkawinan paksa antara seorang Gay dengan seorang wanita--sebuah pemaksaan heteronormatif yang sedihnya, lumrah kita jumpai. Di sini, tidak saja kita menemukan Akhir Bahagia (yang bagaimana? bisa dibaca sendiri), tapi juga satu kritik kuat terhadap sistem heteronormatif, yang tentu saja, menguntungkan kaum stret sendiri. Sebuah cerpen yang mengandung kemarahan, namun juga harapan di akhirnya.
Di Asal-Usul Bandit: sebuah Epilog, kita diajak membayangkan sebuah kenyataan paralel di mana ada sosok Janus--sebuah Teman Hidup Canggih yang mempunyai kekasih-kekasih yang posesif. Kemisteriusan Janus-Janus ini kemudian menimbulkan rasa penasaran pemiliknya--yang menggulirkan cerita yang cerdas ini sampai akhir yang menjadikan mereka Bandit.
Begitu intim, begitu indah, dan begitu cerdas. Sebuah buku yang menyenangkan untuk dibaca.
Agak sulit memilih cerita favorit--sama seperti ketika membaca buku-buku Norman sebelumnya. Seluruh cerita dirangkai untuk saling mengikat satu sama lain dan bergantung pada lainnya. Namun, ada dua cerita yang meninggalkan kesan lebih dalam yaitu Hari Kelulusan dan Asal-Usul Bandit: sebuah Epilog. Hari Kelulusan membahas tentang perkawinan paksa antara seorang Gay dengan seorang wanita--sebuah pemaksaan heteronormatif yang sedihnya, lumrah kita jumpai. Di sini, tidak saja kita menemukan Akhir Bahagia (yang bagaimana? bisa dibaca sendiri), tapi juga satu kritik kuat terhadap sistem heteronormatif, yang tentu saja, menguntungkan kaum stret sendiri. Sebuah cerpen yang mengandung kemarahan, namun juga harapan di akhirnya.
Di Asal-Usul Bandit: sebuah Epilog, kita diajak membayangkan sebuah kenyataan paralel di mana ada sosok Janus--sebuah Teman Hidup Canggih yang mempunyai kekasih-kekasih yang posesif. Kemisteriusan Janus-Janus ini kemudian menimbulkan rasa penasaran pemiliknya--yang menggulirkan cerita yang cerdas ini sampai akhir yang menjadikan mereka Bandit.
Begitu intim, begitu indah, dan begitu cerdas. Sebuah buku yang menyenangkan untuk dibaca.
May 22, 2026
Dari prosa metafora eksistensialis (simbolisme matahari sebagai sosok multitafsir) sampai urban-pop yang nyeni (sekumpulan geng queer yang berisik menghantar teman mereka yang terpaksa menikah secara hetero), Norman Erikson Pasaribu terus menjelajahi tema-tema unik tak biasa dalam kumcer teranyarnya ini. Masih membahas tema queer yang tiada matinya, Nama-Nama Lain untuk Masa Lalu lebih dewasa dalam bertutur. Karakter-karakternya umumnya adalah mereka yang menua dan restrospektif tehadap masa lalu mereka yang terepresi di dunia heteronormatif nan homofobik ini. Kumcer yang mapan, menusuk dan merasuk.
August 8, 2026
5.0
Suka sekali sama semua kumpulan cerita di sini. Mengangkat sudut pandang dari persepupuan Batak Toba queer yang saling terhubung, cerita-cerita di sini memainkan sudut waktu, perspektif diri, sampai fantasi terkait penemuan jati diri dan cinta dalam berbagai bentuk, yang dikemas dengan sangat menarik untuk dibaca. Cerita-cerita favorit saya adalah:
- Asal-usul Bandit: Sebuah Epilog
- Teori Belalai
- Persiapan untuk Masa Lalu
- Hari Kelulusan
("Asal-usul Bandit: Sebuah Epilog" cukup mengejutkan untuk saya. Seperti membaca cuplikan naskah drama Black Mirror tapi yang terasa cukup dekat dengan dunia kita saat ini.)
--
"apakah pada suatu struktur queerfobik, keselamatan dan kenyamanan manusia stret harus selalu diprioritaskan? Dipastikan bebas dari kerusakan-kerusakan kolateral dari queerfobia itu sendiri? Apa manusia stret harus selalu selamat dari dampak buruk queerfobia? Kemudian—mengapa harus Anggiat yang punya jawaban dari semua pertanyaan? Mengapa bukan orang-orang yang mempertahankan keberlangsungan struktur sosial yang mudarat ini?"
--
"Kalau kau yang dulu tahu bagaimana kau yang sekarang, apakah kau yang dulu akan terus melanjutkan hidupnya? Apakah ia akan merawat hidupnya untuk memastikan ia akan betul-betul menjadi kau? Dan apabila pada akhirnya kau tahu apa pun—apa pun—yang kau lakukan, kau akan tetap berakhir jadi kau yang sekarang, apakah kau akan terus menjadi kau? Atau seseorang lain, yang selalu kau sembunyikan di laci di lemari tua di sudut gudang, di belakang papan setrika yang patah tetapi masih disimpan?"
--
"Kamu tentu tahu bahwa apa yang terjadi pada suatu hari tak berawal pada hari itu, tetapi dari puluhan, barangkali ratusan, hari lalu. Seekor gajah berbelalai panjang dahulu kala adalah anak gajah yang berbelalai pendek. Apa yang terjadi pada saya dan dia sore itu, saya yakin berasal dari lima belas tahun lalu, dan yang terjadi lima belas tahun lalu berasal dari ratusan tahun lalu, dan yang terjadi ratusan tahun lalu, ribuan tahun. Seperti semua cerita pendek yang baik berawal dari jauh sebelum kalimat pertama."
--
"Mereka bilang dunia simulasi ini bisa saja disusun agar kamu tidak menjadi dirimu. Agar kamu tertarik belajar memancing, misalnya, afinitasmu terhadap gunung harus diredam. Semacam itulah. Mungkin kamu memang harus mencintai orang lain, kata seorang tuhan kecil. Mungkin. Sungguh tak ada yang bisa kukonfirmasi, jadi beginilah aku membayangkannya:
1) di atas sana kita dua laki-laki yang saling mencintai, 2) di sini kita dua laki-laki yang mencari perempuan, 3) barangkali di atas sana bahkan tidak ada gender."
--
Suka sekali sama semua kumpulan cerita di sini. Mengangkat sudut pandang dari persepupuan Batak Toba queer yang saling terhubung, cerita-cerita di sini memainkan sudut waktu, perspektif diri, sampai fantasi terkait penemuan jati diri dan cinta dalam berbagai bentuk, yang dikemas dengan sangat menarik untuk dibaca. Cerita-cerita favorit saya adalah:
- Asal-usul Bandit: Sebuah Epilog
- Teori Belalai
- Persiapan untuk Masa Lalu
- Hari Kelulusan
("Asal-usul Bandit: Sebuah Epilog" cukup mengejutkan untuk saya. Seperti membaca cuplikan naskah drama Black Mirror tapi yang terasa cukup dekat dengan dunia kita saat ini.)
--
"apakah pada suatu struktur queerfobik, keselamatan dan kenyamanan manusia stret harus selalu diprioritaskan? Dipastikan bebas dari kerusakan-kerusakan kolateral dari queerfobia itu sendiri? Apa manusia stret harus selalu selamat dari dampak buruk queerfobia? Kemudian—mengapa harus Anggiat yang punya jawaban dari semua pertanyaan? Mengapa bukan orang-orang yang mempertahankan keberlangsungan struktur sosial yang mudarat ini?"
--
"Kalau kau yang dulu tahu bagaimana kau yang sekarang, apakah kau yang dulu akan terus melanjutkan hidupnya? Apakah ia akan merawat hidupnya untuk memastikan ia akan betul-betul menjadi kau? Dan apabila pada akhirnya kau tahu apa pun—apa pun—yang kau lakukan, kau akan tetap berakhir jadi kau yang sekarang, apakah kau akan terus menjadi kau? Atau seseorang lain, yang selalu kau sembunyikan di laci di lemari tua di sudut gudang, di belakang papan setrika yang patah tetapi masih disimpan?"
--
"Kamu tentu tahu bahwa apa yang terjadi pada suatu hari tak berawal pada hari itu, tetapi dari puluhan, barangkali ratusan, hari lalu. Seekor gajah berbelalai panjang dahulu kala adalah anak gajah yang berbelalai pendek. Apa yang terjadi pada saya dan dia sore itu, saya yakin berasal dari lima belas tahun lalu, dan yang terjadi lima belas tahun lalu berasal dari ratusan tahun lalu, dan yang terjadi ratusan tahun lalu, ribuan tahun. Seperti semua cerita pendek yang baik berawal dari jauh sebelum kalimat pertama."
--
"Mereka bilang dunia simulasi ini bisa saja disusun agar kamu tidak menjadi dirimu. Agar kamu tertarik belajar memancing, misalnya, afinitasmu terhadap gunung harus diredam. Semacam itulah. Mungkin kamu memang harus mencintai orang lain, kata seorang tuhan kecil. Mungkin. Sungguh tak ada yang bisa kukonfirmasi, jadi beginilah aku membayangkannya:
1) di atas sana kita dua laki-laki yang saling mencintai, 2) di sini kita dua laki-laki yang mencari perempuan, 3) barangkali di atas sana bahkan tidak ada gender."
--
March 25, 2026
Aku suka sekali dengan "kejujuran" di cerpen-cerpen terbaru Norman ini. Aku merasa dihadiahi pepatah, "mending ya begini apa adanya, daripada banyak kamuflase yang menjengkelkan."
Cerpen kesukaan versi saya: Teori Belalai, dan Hari Kelulusan.
Cerpen kesukaan versi saya: Teori Belalai, dan Hari Kelulusan.
March 22, 2026
insanely good! & undoubtedly funny!!!
fav stories:
1) hari kelulusan
2) ny dilema
3) tahun-tahun
4) myjanus (asal-usul bandit)
5) adegan-adegan tak berurutan
fav stories:
1) hari kelulusan
2) ny dilema
3) tahun-tahun
4) myjanus (asal-usul bandit)
5) adegan-adegan tak berurutan
May 29, 2026
Seperti biasa, narasi khas Norman nyaris selalu indah, walaupun isu yang diangkat lagi-lagi tentang kelindan permasalahan dari dan oleh tokoh-tokoh dengan identitas queer, Batak, serta Kristen. Bedanya tulisan-tulisan Norman di sini tampak lebih transparan dan juga (lebih) lucu, padahal latar belakang kisah yang diangkat demikian muram. Cerita-cerita favoritku adalah “Tahun-Tahun” dan “Teori Belalai”.
“Dalam pernikahan kami yang seumur Pop Mie, tak sekali pun aku pernah mengangkat tanganku kepada Liana, atau bahkan meneriakinya, meskipun betul pernikahan kami dengan cepat menjadi tawar dan pada akhirnya kami jarang mengobrol, apalagi berhubungan seks. Ketiadaan seks—lubang kosong menganga penuh telur kecoak dan tai cicak—barangkali bisa jadi karpet merah untuk kekerasan di novel-novel George Orwell, tetapi pembaca novelku (orang-orang budiman yang melek huruf dan takut akan Tuhan) akan dengan cepat menyadari bahwa novel ini sama sekali tidak Orwellian, bahkan anti-Orwellian, jadi ayolah.” — Tahun-Tahun
“Itu mungkin. Kamu tentu tahu bahwa apa yang terjadi pada suatu hari tak berawal pada hari itu, tetapi dari puluhan, barangkali ratusan, hari lalu. Seekor gajah berbelalai panjang dahulu kala adalah anak gajah yang berbelalai pendek. Apa yang terjadi pada saya dan dia sore itu, saya yakin berasal dari lima belas tahun lalu, dan yang terjadi lima belas tahun lalu berasal dari ratusan tahun lalu, dan yang terjadi ratusan tahun lalu, ribuan tahun. Seperti semua cerita pendek yang baik berawal dari jauh sebelum kalimat pertama. [...]” — Teori Belalai
“Dalam pernikahan kami yang seumur Pop Mie, tak sekali pun aku pernah mengangkat tanganku kepada Liana, atau bahkan meneriakinya, meskipun betul pernikahan kami dengan cepat menjadi tawar dan pada akhirnya kami jarang mengobrol, apalagi berhubungan seks. Ketiadaan seks—lubang kosong menganga penuh telur kecoak dan tai cicak—barangkali bisa jadi karpet merah untuk kekerasan di novel-novel George Orwell, tetapi pembaca novelku (orang-orang budiman yang melek huruf dan takut akan Tuhan) akan dengan cepat menyadari bahwa novel ini sama sekali tidak Orwellian, bahkan anti-Orwellian, jadi ayolah.” — Tahun-Tahun
“Itu mungkin. Kamu tentu tahu bahwa apa yang terjadi pada suatu hari tak berawal pada hari itu, tetapi dari puluhan, barangkali ratusan, hari lalu. Seekor gajah berbelalai panjang dahulu kala adalah anak gajah yang berbelalai pendek. Apa yang terjadi pada saya dan dia sore itu, saya yakin berasal dari lima belas tahun lalu, dan yang terjadi lima belas tahun lalu berasal dari ratusan tahun lalu, dan yang terjadi ratusan tahun lalu, ribuan tahun. Seperti semua cerita pendek yang baik berawal dari jauh sebelum kalimat pertama. [...]” — Teori Belalai
March 30, 2026
selalu amazed membaca karya kak Norman dengan penulisannya yang lebih terasa seperti baca pikirannya langsung just like how I read Virginia Woolf.
sama seperti "Cerita-cerita bahagia, hampir seluruhnya", susah buat menyebutkan cerita yang paling saya suka di buku ini karena semuanya bagus!
I think each stories are intertwined with each other but my small brain just doesn't have the 1TB capacity to dig deeper.
sama seperti "Cerita-cerita bahagia, hampir seluruhnya", susah buat menyebutkan cerita yang paling saya suka di buku ini karena semuanya bagus!
I think each stories are intertwined with each other but my small brain just doesn't have the 1TB capacity to dig deeper.
April 14, 2026
Sastra queer —saya bukan bermaksud untuk menciptakan/memberikan denominasi baru atas genre sastra— yang bisa ditulis oleh queer maupun yang “bercerita” tentang queer, menurut saya, sering kali tidak mendapatkan spotlight —kalau itu diperlukan, atau setidaknya apresiasi dan eksplorasi sebagai bagian perlawanan atas budaya heteronormativitas— di antara jenis sastra lain.
Norman melalui kumcer ini menggarisbawahi, menebalkan, dan tentu mengangkat —saya yakin dengan kesadaran dan bangga— isu yang saya kira pasti dialami queer, atau setidaknya wni yang sadar kelas dan dimensi gender, betapa susahnya menjadi “diri” atau aku-yang-sendiri maupun aku-yang-kolektif atas identitas yang saya yakin tidak ada yang dapat memilih.
Terima kasih Norman, semoga sehat selalu.
Norman melalui kumcer ini menggarisbawahi, menebalkan, dan tentu mengangkat —saya yakin dengan kesadaran dan bangga— isu yang saya kira pasti dialami queer, atau setidaknya wni yang sadar kelas dan dimensi gender, betapa susahnya menjadi “diri” atau aku-yang-sendiri maupun aku-yang-kolektif atas identitas yang saya yakin tidak ada yang dapat memilih.
Terima kasih Norman, semoga sehat selalu.
May 18, 2026
4.5/5
/
selesai membaca buku ini kala masjid-masjid di sekeliling rumah mengumandangkan azan subuh dan sahabatku dan pacarnya tidur nyenyak di sampingku, inilah pengalaman membaca yang lagi-lagi akan kuingat selamanya. semoga kita terus merayakan yang tersisa, merelakan yang terampas, dan mengingat segalanya.
/
finished reading this book when the mosques around my house began to call for morning prayer and my best friend and her boyfriend was fast asleep next to me, this is another reading experience that i will remember forever. may we always celebrate the remains, release the stolen, and remember everything.
/
selesai membaca buku ini kala masjid-masjid di sekeliling rumah mengumandangkan azan subuh dan sahabatku dan pacarnya tidur nyenyak di sampingku, inilah pengalaman membaca yang lagi-lagi akan kuingat selamanya. semoga kita terus merayakan yang tersisa, merelakan yang terampas, dan mengingat segalanya.
/
finished reading this book when the mosques around my house began to call for morning prayer and my best friend and her boyfriend was fast asleep next to me, this is another reading experience that i will remember forever. may we always celebrate the remains, release the stolen, and remember everything.
October 3, 2026
dua kata: tidak biasa.
ini buku kumpulan cerpen dari Norman Erikson Pasaribu pertama yang kubaca, dan kesan pertamaku adalah: wow, this guy's weird (in a good way).
banyak referensi-referensi niche yang akupun kurang tau dan gabisa memahami kalau ga googling dulu (maklum, sy orang STEM yang akhir2 ini blm sempat baca banyak buku lagi) seperti Virginia Woolf's Mrs. Dalloway, simulasi & simulakra, dll.
kehidupan Batak Kristen & Katolik queer (queer = gay man) digambarkan dgn begitu raw-nya pada buku ini. beneran gaada yang ditutupi, dan aku sbg pembaca ngerasanya "wow, cerita2 ini terasa personal dan tokoh2nya vulnerable banget kepada para pembaca".
alur2 cerpennya yang cukup liar dan gak biasa (membutuhkan a lot of nerdiness and a lil bit of 'tism) bikin buku ini kerasa seru banget, asli. nyeleneh dan ada-ada aja.
my personal fav: Tahun-Tahun
cerpen terunik: Asal-usul Bandit: Sebuah Epilog
4 stars. i had a great time ⭐️⭐️⭐️⭐️
ini buku kumpulan cerpen dari Norman Erikson Pasaribu pertama yang kubaca, dan kesan pertamaku adalah: wow, this guy's weird (in a good way).
banyak referensi-referensi niche yang akupun kurang tau dan gabisa memahami kalau ga googling dulu (maklum, sy orang STEM yang akhir2 ini blm sempat baca banyak buku lagi) seperti Virginia Woolf's Mrs. Dalloway, simulasi & simulakra, dll.
kehidupan Batak Kristen & Katolik queer (queer = gay man) digambarkan dgn begitu raw-nya pada buku ini. beneran gaada yang ditutupi, dan aku sbg pembaca ngerasanya "wow, cerita2 ini terasa personal dan tokoh2nya vulnerable banget kepada para pembaca".
alur2 cerpennya yang cukup liar dan gak biasa (membutuhkan a lot of nerdiness and a lil bit of 'tism) bikin buku ini kerasa seru banget, asli. nyeleneh dan ada-ada aja.
my personal fav: Tahun-Tahun
cerpen terunik: Asal-usul Bandit: Sebuah Epilog
4 stars. i had a great time ⭐️⭐️⭐️⭐️
April 7, 2026
Absolutely breathtaking! Sumpah, suwer, I'm trying to be objective, but this book is literally breathtaking. Kombinasi kocak, sendu, gila yang gak kuduga, sampe kadang tercekat karena cara bercerita, kisah pertemuan-pertemuan yang menegangkan, dan perasaan yang muncul dalam diriku begitu... baru? Hal yang juga menurutku menarik perhatianku adalah soal penggunaan kata "kita" di beberapa cerpen, yang tak ku pahami sepenuhnya siapa "kita" itu, tetapi "kita" terdengar pas. An instant favorite! <3
March 24, 2026
i love you tragedy. i love you devotion. i love you love that shattered me into pieces. i love you centuries-long yearning. i love you all consuming love. i love you hunger as desire. i love you monstrous intimacy.
September 22, 2026
I like how Norman makes queer stories feel both intimate and strangely universal. His characters are often people whose lives seem too ordinary, too temporary, or too complicated to become the “main story.” Yet Norman makes those small experiences feel deeply significant. I especially loved how he plays with time and narrative structure. In some stories, the fragmented scenes slowly piece together a relationship without ever making the technique feel like a gimmick. “Some goes even further, shifting between perspectives and layers of storytelling in ways that can be disorienting but never feel forced. Beneath all the formal experimentation, though, there is something very tender about these stories. They are about people trying to love, survive, and make sense of themselves in a world that does not always make room for them. Maybe that is what I like most about Norman: he makes the lives of the “figuran” feel worth looking at, without ever needing to turn them into heroes.
July 28, 2026
beberapa cerita menyentuh saya sampai-sampai saya tergerak untuk menulis cerita saya sendiri. beberapa yang lain berada di garis antara mentah dan berdaya. beberapa lainnya memaksa saya memutar mata. tapi rasa tidak hilang di tiap bait karena dengan tiga identitas spesifik (kristen, batak dan queer) norman erikson pasaribu menjadikan buku ini sebagai upaya menjadi penyintas di dunia yang tidak pernah masuk akal untuk orang-orang di pinggiran jurang. warna yang penting dalam sastra indonesia.
August 22, 2026
Hari Kelulusan dan Asal-usul Bandit: Sebuah Epilog are my favorites :)
September 24, 2026
3.5/5
Queer bukan hal yang familiar buatku.
Membaca ini membantuku mengenal dan mengerti dunia itu. Kompleksnya latar belakang dan rumitnya jalinan hubungan di setiap cerita diterjemahkan dengan diksi yang indah. Satu kalimat kadang perlu baca kedua atau ketiga kali, mengkaji.
“Pada akhirnya, di dunia ini, apa yang bisa kita genggam erat di tangan kita? Apa yang bisa kita simpan di saku kemeja dan kita bawa ke masa depan?” .
Queer bukan hal yang familiar buatku.
Membaca ini membantuku mengenal dan mengerti dunia itu. Kompleksnya latar belakang dan rumitnya jalinan hubungan di setiap cerita diterjemahkan dengan diksi yang indah. Satu kalimat kadang perlu baca kedua atau ketiga kali, mengkaji.
“Pada akhirnya, di dunia ini, apa yang bisa kita genggam erat di tangan kita? Apa yang bisa kita simpan di saku kemeja dan kita bawa ke masa depan?” .
May 12, 2026
Buku Norman Erikson Pasaribu pertamaku (dan masih berharap bisa bertemu cerita-ceritanya yang lain). Cerita-ceritanya seperti jendela yang memperlihatkan cerita kita yang pernah dan di kaca jendela itu, refleksiku yang sekarang terpampang nyata.
Read
August 25, 2026wow one of the only books where i really really highly rate its style of writing more than anything (im a noob who doesnt get Literature and runs to Plot often) but wow he’s such a good Writer
June 28, 2026
“Di toko buku yang selalu lapar ini, aku tak bisa menemukanmu, tidak di antara orang orang, tidak di antara buku buku.”
Menyenangkan sekali membaca kumpulan cerpen ini, cerita ceritanya dekat dengan tema Batak, Kristen, juga Queer.
Semuanya diceritakan dengan menarik oleh Norman. Cerita favoritku tentu saja yang kedua, “Hari Kelulusan”.
Menyenangkan sekali membaca kumpulan cerpen ini, cerita ceritanya dekat dengan tema Batak, Kristen, juga Queer.
Semuanya diceritakan dengan menarik oleh Norman. Cerita favoritku tentu saja yang kedua, “Hari Kelulusan”.
June 7, 2026
Ada beberapa cerpen yang memang bagus, ada yang alurnya agak lamban. Latar budaya memberikan keunikan dalam bercerita, meski ada beberapa kata serapan yang terasa agak mengganggu, sehingga kalimat terasa mekanis dan tidak alami. Tapi secara keseluruhan, plotnya unik.
June 20, 2026
(3.75 stars) as always norman pasaribu can always extract emotions out of me in a way no other writers could ever replicate. while some of these stories deal with themes we’ve seen before in his other books, this one particularly always ends in a bittersweet way. having sex with your friend before they leave this country, imagining a life with someone after the first meet, losing the love of your life (then not).. these stories are succinct yet very well written, descriptive in its nature and as always deft. more norman pasaribu please!
March 28, 2026
Wow, what an experience.
April 9, 2026
sastra masa depan bukan slop hari ini
June 8, 2026
Cerita favoritku:
1. Tahun-tahun
2. Adegan-Adegan Tak Berurutan dari Kencan Pertama Mereka, Beberapa Bulan Sebelum Ia Wisuda
3. Teori Belalai
1. Tahun-tahun
2. Adegan-Adegan Tak Berurutan dari Kencan Pertama Mereka, Beberapa Bulan Sebelum Ia Wisuda
3. Teori Belalai
June 24, 2026
Kok bisa ada orang nulis sebagus ini
June 26, 2026
Aku suka ide pokok penulisan buku ini, seolah merupakan nyawa bagi "queer" di Indonesia yang selalu mengalami diskriminasi sehingga tidak bisa menjadi diri sendiri. Lalu mau menjadi apa atau siapa?
April 7, 2026
Ah, aku begitu menyukainya!
Displaying 1 - 29 of 29 reviews




























