Jump to ratings and reviews
Rate this book

Dari Villa Isola ke Bumi Siliwangi

Rate this book
Di kilometer 8 Lembangweg - kini Jalan Setiabudhi - di atas lahan 7,5 hektar, berdiri gedung indah seluas 12 ribu meter persegi. Itulah Villa Isola, milik D.W. Berrety, raja media nan flamboyan di Hindia Belanda.

Dibangun pada tahun 1932-1933 dengan gaya Streamline Moderne dari Art Deco yang terbilang anyar pada dekade tersebut, bangunan ini masih megah dengan nama Bumi Siliwangi, sebagai bagian dari Universitas Pendidikan Indonesia.

Mengapa dinamakan Villa Isola? Apa arti nama itu? Bahkan Hans Dokkum, sekretaris empunya vila, pernah berucap muram: “Isola, di balik dinding luar bangunan yang megah bisa tercium sesuatu yang hampa, tidak adanya kehidupan yang harmonis, juga kebahagiaan keluarga: hanya pameran kekuasaan dan selera.” Apa yang sesungguhnya terjadi di balik kecantikan salah satu ikon Kota Kembang itu? Kematian tragis Berrety sendiri setahun setelah rampungnya villa tersebut menjadi misteri hingga kini.

134 pages, Paperback

First published January 1, 2015

5 people are currently reading
19 people want to read

About the author

Sudarsono Katam

15 books4 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (36%)
4 stars
5 (45%)
3 stars
2 (18%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
March 3, 2015
Sejarah panjang Villa Isola (villa terpencil) sejak awal dibangun hingga kini bernama Bumi Siliwangi plus kisah tragis D.W Barrety ini terdapat dalam buku ini. Secara sistematis penulis memulai buku ini ke dalam delapan bagian, dimulai dari Lokasi Villa Isola di masa Hindia Belanda, lalu tentang Rancang Bangun Villa Isola dimana di bagian ini dibahas segi arsitektural bangunannya yang unik dan mendahului zamannya yaitu gaya Streamline Art Deco dengan elemen art deco (Art Deco dengan lengkungan Streamline) rancangan CP. Wolff Schoemaker yang membuka jalan bagi A.F Aalbers untuk membuat Savoy Homan sebagai salah satu karya monumentalnya. Di bagian ini juga secara deskriptif penulis menginformasikan ruangan-ruangan yang ada di tiap lantainya beserta taman-taman yang mengelilinginya.


Di bagian ketiga, buku ini menyajikan riwayat hidup pemilik Villa Isola, Dominique Willem Berretty (1890-1934) kelahiran Jogyakarta yang merupakan anak dari pasangan ayah berdarah Italia - Perancis dan ibu orang Jawa (Maria Salem). Berretty yang pernah bekerja sebagai jurnalis di Java Bode (1915) ini akhirnya mendirikan perusahaan jasa berita dan telegraf ANETA di Batavia yang membuatnya menjadi seorang milyader dan raja media yang paling berpengaruh di Hindia Belanda karena kemampuannya memonopoli berita-berita di Hindia Belanda saat itu . Berretty adalah orang yang sangat energik, tidak saja dalam kehidupan bisnisnya , tetapi juga kehidupan pribadinya. Antara tahun 1912-1934 ia enam kali menikah dan mempunyai lima anak.

Gosip-gosip tentang D.W. Berretty yang flamboyan serta gaya hidupnya yang mewah, pergaulannya yang luas dan dikelilingi oleh para wanita cantik membuat dirinya banyak digunjingkan orang. Karenanya di akhir bagian ini penulis mengetangahkan gosip-gosip tentang Berretty. Salah satu gosip yang sempat beredar adalah tentang salah seorang anak perempuannya yang bunuh diri dengan cara gantung diri di salah satu pohon besar di halaman Villa Isola. Sedangkan gosip yang paling sensasional mengatakan bahwa D.W. Berrety menjalin asmara dengan putri Gubernur Jendral B.C. de Jonge. Hubungan ini tidak direstui oleh de Jonge sehingga kelak menghadirkan spekulasi bahwa kematiannya Berrety ada kaitannya dengan hubungan terlarangnya dengan anak sang Gubernur Jenderal,. Dugaan bahwa kematian dalam kecelakaan pesawat sengaja dibuat juga dilandasi dugaan bahwa Berretty adalah mata-mata Jepang.

Bagian ke empat yang berjudul Villa Isola berisi tentang sejarah pembangunan gedung. Dimulai dari peletakan batu pertama pada tanggal 12 Maret 1933 yang dihadiri oleh Wali Kota Bandung, Bupati Bandung, Penghulu Bandung, beberapa anggota Volksraad, dan pejabat-pejabat penting lainnya. Dengan waktu yang relatif singkat (Oktober 1932- Maret 1933/ 5 bulan) 700 buruh dikerahkan untuk menyelesaikan gedung megah Villa Isola dengan luas 12.000 m di lahan seluas 7,5 ha. Namun gedung itu baru diresmikan delapan bulan setelah bangunan selesai, yaitu pada tanggal 18 Desember 1933.

Setelah mendeskirpsikan suasana peletakan batu pertama, malam menjelang peresmian, dan peresmian gedung bagian ini juga menyuguhkan puluhan foto-foto panorama Villa Isola dari udara, eksterior bangunan dari berbagai sudut, interior dalam, dan foto-foto lingkungan dan taman-taman di sekitar bangunan.

Bagian ini ditutup dengan sub bab mengenai akhir nasib Isola paska meninggalnya Berretty. Villa Isola akhirnya dijual dan dimiliki oleh Hotel Homan. Setelah Jepang mendarat di Pulau Jawa, Villa Isola dijadikan termpat tinggal dan kantor Komandan Divisi Tentara Hindia Belanda. Setelah itu berturut-turut Villa ini berganti fungsi yaitu dijadikan markas tentara Jepang, kediaman sementara Jenderal Immamura, markas Kenpetai, museum kemenangan Jepang, markas tentara Sekutu, dan terbengkalai rusak parah selama masa revolusi kemerdekaan.

Bagian selanjutnya buku ini mengetengahkan riwayat Villa Isola yang berubah namanya menjadi Bumi Siliwangi setelah dibeli pemerintah (Kementerian P.P. dan K) seharga Rp. 1.500.000,- pada tahun 1954. Villa Isola akhirnya difungsikan sebagai tempat perkuliahan dan perkantoran Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Bandung (sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia/UPI). Pada upacara peresmian dan pembukaan PTPG tanggal 20 Oktober 1954 nama Bumi Siliwangi diresmikan sebagai pengganti nama Villa Isola oleh Mr. Muh. Yamin, menteri P.P dan K saat itu.

Di bagian ini dibahas dan disertakan foto-foto perbaikan dan pembangunan kembali Villa Isola dari yang tadinya hampir mirip puing akibat perang menjadi bangunan yang kembali megah. Walau ada beberapa perubahan untungnya semua dilakukan dengan mempertahankan kondisi aslinya sehingga walau interior dalam banyak berubah namun eksterior bangunan tetap dipertahankan sesuai aslinya kecuali adanya penambahan bangunan baru di bekas taman di atap Villa Isola.

Dua bagian akhir buku ini membahas bagaimana pada tahun 2010 UPI memulai sebuah pekerjaan besar, yaitu menata kembali lingkungan Bumi Siliwangi dengan tujuan untuk mengembalikan Bumi Siliwangi yang asri seperti ketika masih bernama Villa Isola. Buku ini ditutup dengan bab reflektif berjudul Villa Isola Karya Monumental yang hingga kini tetap menjadi salah satu ikon kota Bandung.

Sebagai tambahan buku ini juga menyajikan galeri beberapa foto-foto berwarna Villa Isola tahun 2011 jepretan Lulus Abadi yang artistik.


Sebelum buku ini sebenarnya sudah ada buku lain tentang Villa Isola dengan judul yang hampir sama dengan buku ini yaitu Dari Isola ke Bumi Siliwangi - Menyusuri Jejak-jejak PTPG FKIP Unpad, IKIP Bandung Rudini Sirait, dkk (Komodo Books, 2011), namun buku tersebut tidak membahas Villa Isola secara khusus melainkan tentang sejarah panjang PTPG hingga Universitas Pendidikan Indonesia.

Sebagai sebuah buku yang membahas sejarah Villa Isola beserta kisah pemiliknya buku ini bisa dikatakan cukup lengkap. Sayangnya di buku ini tidak diinformasikan siapa yang memberi nama Bumi Siliwangi setelah gedung ini menjadi bagian dari PTPG padahal nama tersebut merupakan bagian dari sejarah gedung ini. Nama Bumi Siliwangi ini diambil dari soneta Bumi Siliwangi karya Mr. Muh. Yamin yang dibacakan di akhir pidato peresmian bangunan ini di tahun 1954.

Selain itu kisah bagaimana Villa Isola di jaman revolusi kemerdekaan hanya dibahas sekilas padahal ada beberapa hal penting yang bisa diinformasikan lebih rinci lagi saat gedung ini dipakai oleh pejuang-pejuang kemerdekaan untuk menghalau tentara sekutu sehingga nilai kesejarahan gedung ini akan semakin berharga dan dapat diketahui oleh generasi sekarang.

Terlepas dari kekurangannya buku ini bisa dipakai sebagai buku rujukan bagi mereka yang ingin mengetahui sejarah salah satu ikon kota Bandung yang megah dan monumental. Selain itu adanya ratusan foto-foto lama maupun baru dengan kualitas cetak yang bagus merupakan sebuah usaha yang sangat layak mendapat apresiasi positif karena dengan demikian ratusan foto-foto Villa Isola yang selama ini terserak di berbagai media cetak dan online kini terkumpul dalam sebuah buku yang kaya akan informasi.
Profile Image for Hadi Iswanto.
46 reviews1 follower
December 19, 2019
Tahun 2010 sampai akhir 2014 saya berkesempatan bersekolah di Universitas Pendidikan Indonesia. Villa Isola menjadi sangat dekat dengan kehidupan saya masa itu. Waktu itu telah beralih fungsi menjadi gedung rektorat UPI. Pernah beberapa kali masuk ke dalamnya untuk mengurus administrasi kegiatan kemahasiswaan. Dulu, saya sempat heran tatkala memperhatikan sisi kanan dan kiri puncak, tampak berbeda sekali dengan desain bagian lainnya yang berpadu harmonis. Baru setelah membaca buku ini saya dapatkan jawabannya. Penulis buku ini mengisahkan sejarah Villa Isola dengan apik. Rentetan peristiwa dirangkum dengan padat dan menggunakan bahasa yang sederhana. Cover buku ini menggunakan foto Villa Isola yang tampak tenggelam dalam langit biru, suasana yang otentik, mungkinkah menjadi inspirasi bagi warna almamater UPI ? terakhir sepakat dengan penulis, meski Villa Isola telah diubah namanya oleh pemerintah menjadi Bumi Siliwangi, masyarakat lebih mengenal pada nama Villa Isola.
Profile Image for affn.
35 reviews
March 11, 2019
Udah 4 Semester di UPI, baru tersadarkan tentang Villa Isola setelah baca buku ini. Banyak misteri yang narik untuk diteliti saat ini.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.