Sapardi Djoko Damono merupakan salah satu legenda dalam kesusastraan Indonesia. la dikenal luas melalui karya-karyanya, seperti Hujan Bulan Juni, DukaMu Abadi, Ayat-Ayat Api, dan lainnya. Selain sebagai sastrawan, ia juga seorang akademisi dan penerjemah. Buku ini lahir dari proses panjang penerjemahan The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary karya Abdullah Yusuf Ali.
Mulanya, buku ini diterbitkan sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada sosok yang sangat dikaguminya, legenda sastra sekaligus penerjemah, Ali Audah, yang saat itu merayakan usia ke-90. Rasa hormat tersebut mewujud dalam 90 rangkuman terpilih yang disajikan dalam buku ini, sekaligus menjadikan Para Utusan Lain sebelum Dia Telah Lahir dan 90 Rangkuman bagi Ali Audah sebagai monumen persahabatan bagi kedua sosok legenda yang kesederhanaannya mengilhami banyak pembacanya.
Riwayat hidup Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".
Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.
Karya-karya Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.
Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.
Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.
Kumpulan Puisi/Prosa
* "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969) * "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway) * "Mata Pisau" (1974) * "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis) * "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan) * "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan) * "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya) * "Perahu Kertas" (1983) * "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia) * "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn) * "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn) * "Afrika yang Resah (1988; terjemahan) * "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks) * "Hujan Bulan Juni" (1994) * "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling) * "Arloji" (1998) * "Ayat-ayat Api" (2000) * "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen) * "Mata Jendela" (2002) * "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002) * "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen) * "Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun) * "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
Musikalisasi Puisi
Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya.
* Album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu. * Album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari. * Album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu * Album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu * satu lagu dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.
Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.
Buku
* "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.
Terjemahan Sapardi Djoko Damono atas Commentaries (C) dalam Tafsir Abdullah Yusuf Ali, ulama agung Pakistan. SDD diminta sahabatnya menerjemahkan 300 komentar (kemudian difusikan sebagai rangkuman/R) dan hanya dimuat 90 saja dalam buku ini. Ali Audah menerjemahkan tafsir puitik A. Yusuf Ali kemudian diresapi SDD sebagai "bayang-bayang" substansi. Terjemahan Al-Quran yang diupayakan Ali Audah turut memperkaya bangunan terjemah Indonesia di samping "Bacaan Mulia" HB Jassin atau versi Mahmud Yunus.
Seperti yang kutulis di foto, ini adalah terjemahan dari running commentary yang ditulis Abdullah Yusuf Ali ketika menyusun The Holy Qur'an. Ketika menyusun buku tersebut, Yusuf Ali menulis running commentary berdasarkan Al-Qur'an yang tengah dia terjemahkan dan tafsirkan. Running commentary inilah kemudian yang menjadi prosa indah di buku ini.
Buku inj sendiri tipis. Aku membacanya dalam perjalanan 1,5 jam ketika mudik lalu. Isinya sendiri indah dengan pilihan kata yang khas karya puisi-puisi Pak Sapardi. Dilengkapi juga dengan ilustrasi yang membuat bukunya makin-makin memanjakan mata meski tidak banyak ilustrasinya 😍🫶
Sayangnya menurutku karena commentary tersebut berdasarkan Al-Qur'an, aku merasa proses membacanya kurang komplit. Karena pengetahuanku pribadi pun kurang jadi beberapa bagian bikin aku berpikir cukup lama buat menerka ini tuh berdasarkan ayat mana. Memang paling pas dibaca utuh dalam buku The Holy Qur'an tersebut.
Tapi hal ini tetap gak mengubah kalo buku ini indah dan menyentuh dan bikin aku pengen mendalami Al-Qur'an lebih lagi buat lebih memahami konteksnya 🫶
The Holy Qur'an ini sendiri pernah diterjemahkan Pak Ali Audah ke bahasa Indonesia. Nah ketika beliau menerjemahkan itu, Pak Ali Audah mengajak Pak Sapardi terlibat untuk menerjemahkan bagian running commentary-nya dengan bahasa puitis. Lalu lahirlah naskah ini yang menjadi hadiah persahabatan dan lalu di 2026 ini diterbitkan oleh Shiramedia. Kurang lebih begini cerita latar belakang buku ini. Semoga kesimpulan yang aku tulis tidak ada yang keliru.
Intinya bukunya aku sangat rekomendasikan buatmu yang rindu karya Pak Sapardi dan buat semua saudara seimanku 🥰✨️