Ketika membicarakan kesuksesan dan kebahagiaan, orang-orang sering kali mengaitkannya dengan kerja keras, pengorbanan, dan hidup yang bergelimang kesempurnaan. Terlebih saat ini, kita berada di tengah hustle culture, fenomena yang diam-diam menggerogoti kesehatan mental dari dalam.
Buku ini hadir sebagai panduan untuk menghadapi kegagalan, bangkit dari titik terendah, menjaga konsistensi, mengelola stres, serta berpikir ulang tentang arti kebahagiaan dan keberhasilan tanpa kehilangan diri sendiri. Buku ini menekankan bahwa keberhargaan diri dan pencapaian hidup tak diukur dari kuantitas dan kecepatan, tapi melalui kesadaran, welas asih diri, dan kemampuan untuk terus berkembang.
Buku ini mengajak kita untuk rehat tanpa harus merasa bersalah. Seringkali kita merasa hidup selalu terburu-buru, harus bisa menyelesaikan semua tugas dalam satu waktu, atau kesal jika terlalu buang-buang waktu.... [yup that's me].
Waktu awal baca buku ini, aku merasa buku ini memang sebagai pesan untukku yang selalu maunya buru-buru. Aku suka penjelasan dalam buku ini karena lebih dibedah, dipahami, dan divalidasi perasaannya. Hanya saja nggak semua orang bisa punya waktu jeda yang lama untuk menata diri. Ada orang yang tidak punya cuti dan harus bergerak cepat untuk melanjutkan hidup, serta alasan lain.
Meskipun begitu, aku bisa mengerti pesan dari buku ini untuk tetap pelan dalam melangkah, istirahat sejenak untuk menghindari burnout, menyiapkan hal-hal yang membuat excited, hal-hal yang perlu dihadapi ketika kehilangan arah passion dan comfort zone, dan bagian akhir yang berisi kita tidak mencari kebahagiaan.
Overall buku self-help ini ringan dan santai. Bisa dibaca sekali duduk, mengalir, dan cocok buat pembaca yang lagi merasa sedang terburu-buru dalam menjalani hidup.