Demi menyelamatkan reputasi keluarga dari skandal korupsi, Sarayu Hantoro-putri bungsu Presiden-dipaksa menikah dengan Harsa Soedjatmiko, seorang hakim bereputasi bagus yang lebih tua dua belas tahun.
Yang mulanya sebagai pernikahan politik berubah menjadi ladang intrik, ambisi, dan tarik ulur perasaan.
Ketika skandal demi skandal membayangi Sarayu, Harsa semakin terikat hingga Sarayu menyadari, laki-laki yang ia anggap pelindung ternyata punya agenda sendiri. Di balik wajah dinginnya, Harsa adalah pemain yang tak kalah berbahaya dari keluarganya.
Namun, saat cinta mulai tumbuh di antara mereka, pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling licik melainkan siapa yang lebih hancur saat semuanya runtuh....
Mohon dipahami kalau review ini bersifat pribadi, yes.
Sebetulnya ceritanya bisa aja jadi bagus tapi ya gitulah, bukan buatku aja kayaknya.
1. Mari aku cerita dari narasinya dulu.
Waktu aku baca prolog, aku merasa narasinya enak dan smooth. Tapi pas makin ke belakang kok makin giniii, kataku. Beneran kering dan repetitif parah. Aku kasih contoh deh. Ini cuplikan aja betapa repetitifnya ini narasi.
"Harsa turun dari mobil, melihat Farida sedang merokok. Dia baru tahu Farida merokok, karena dia hanya tahu Sarayu yang merokok. Tidak ada informasi bahwa Farida merokok. Kemungkinan besar ditutupi atau Farida merokok diam-diam." Hal. 774
Berapa kata Farida dan merokok dalam paragraf itu? Maksudnya, itu bisa kok dipangkas. Karena nggak hal perlu pembaca tahu. Klo Harsa nggak tahu Farida merokok ya udah, yg baca juga thu klo Farida antara nyembunyiin itu. Dia presiden juga.
Dan itu nggak cuman satu doang. Aku ambil dari halaman terakhir karena gampang nyarinya aja. Banyaaaaaak banget yang repetitif kayak gitu dan itu bikin cape dibaca karena kebanyakan nggak penting juga.
Selain repetitif, info dumping paraaaaaah. Kek, kalau misalkan ngobrolin keluarga Hartanto, bisa itu satu keluarga diceritain kerjaannya apa umurnya berapa istrinya siapa. Maksudnya, itu cukup jadi background tokoh tanpa perlu semua di spill di buku. Lagian ini ada pohon keluarganya. Gambar, diagram, dan bagan itu juga bercerita. Nggak perlu kok diceritain semua. Lagian hal itu nggak berpengaruh apa-apa ke cerita. Mau ada atau enggak juga nggak bikin plot ceritanya berubah atau nambah layer ke karakter kok.
Dan yang terkahir, head hopping. 😭 Entah ya, mungkin sekarang head hopping nih bukan "a thing" sekarang karena aku baca buku dri Wattpad kok pada head hopping. Mksdnya, omnicient tuh kan ada aturannya biar transisinya enak dan—kalau ngutip dari kata Kak Pin—arah "kamera"-nya enak. Nggak jumpy dan bisa lebih flawless.
Jadinya, karena hal-hal di atas, narasinya kerasa kering dan emotionless. Cuman ada satu momen yg bikin sedih dan aku berkaca2. Pas di rumah sakit. Itu sedih respons Sarayu-nya.
2. Build up dan plot
Harus kuakui, build up hubungan Harsa sama Serayunya bagus. Dia flow-nya enak dan nggak terasa terburu-buru juga. Step by step-nya kerasa.
Sesudah itu mulai draggy dan stagnan. Gini, sebelumnya aku dikasih tahu klo ini political romance, dan aku berekspektasi minimal mereka 50-50 tapi ternyta ini lebih ke 70-30. Politiknya kayak cuman tempelan, dan ceritanya lebih mirip ke slice of life aja ini tuh. Padahal aku udah agak berharap dengan Harsa sebagai Hakim dan Sarayu sebagai pengacara. Tapi kasus-kasus di awal cuman satu yang si cowok bunbun pacarnya itu, itu pun dia malah nggak dilanjutin lagi karena ganti hakim (alasannya reasonable, yes. Tapi aku craving for the real case juga lho). Kupikir ada kasus pengganti yang lebih rumit tapii.........(We're getting there).
Skandal-skandalnya juga nggak yang bikin greget. Toh cuman ada terus hilang. Nggak ada dampak apa-apa ke tokoh-tokohnya.
Teruuus, adalah satu big reveal yang ngubah dinamika Sarayu-Harsa. Tapi alih-alih bikin hubungan mereka gonjang ganjing, malah nggak ada yang berubah. Toh perjanjian mereka dilanggar dan kayak nggak ada artinya juga.
Harsa yang bilang pengen dibenci Sarayu aja nggak ada perang dulu dalam batinnya. Maksdnya kek antara pengen menghindar tapi mendekat. Atau mau nolong tapi inget lagi jauhin. Maksudku, kagak ada gitu momen si Harsa frustrasi. Malah aku yang frustrasi jiiiib inimah kenapa begini. 😭
Yang bikin aku aneh dan heran, ini ada kasus menarik tentang wartawati. Dan surprisingly itu jadi inti ceritanya. Tapi kenapa aku harus nunggu dulu sampe di tengah siiìiiiiiiiiih??? Masalahnya, kasus awal-awal (yg mana nggak ada kasus di awal, dan cuman skandal2 tidak berarti) juga nggak ada yang menggiring ke kasus wartawati.
YANG BIKIN GONG-NYA 😭, Secepat kasus ini dateng, semudah pula kasus ini ditangani. Semuanya selesai dengan cepat dan begitu aja. Semua aman terkendali karena presiden turun tangan. Pokoknya semua aman terkendali. Pelakunya ketahuan siapa aja, dan ya udah tinggal munculin skandal. Selesai.
Plot Atman ini nih yang jadi gong-nya. Tapi toh nggak terlalu berdampak ke kasus wartawati. Padahal udah ada yg meninggoy sampe dipenggal kepala tapi penangannya gitu doang. Toh ujung2nya kasus Atman ini cuman berpengaruh ke kasus penembakan Harsa, kok.
Jadi ya, buku 828 halaman ini sebetulnya bisa dipangkas biar lebih padet. Apalagi isinya sebetulnya kebanyakan lovey dovey doang. Awal2 okelah, tapi kalau kebanyakan jdinya ya too much. Aku paham sih, banyak pembaca yg bakalan kecewa kalau adegan ewita di KK tidak masuk buku, tapi ya ... ah entahlah. Karena setengah awal nih emang lovey dovey. Yang mana itu 414-san mereka lovey dovey. 😭
Tapi kan 100 halaman terakhir juga lovey dovey karena extras dan kilas balik. 😭😭
Jadi ya, mungkin ini bukunya lebih ke slice of life romance with political hint.
Nah ada juga si Adyatma. Gini lho, aku tahu beberapa orang ada yang suka akhir yang bahagia adalah ketika semua tokoh akhirnya dari jahat berubah jadi malaikat. Dan aku enggak menentang itu, kok. Maksudku ada tokoh yang jahat tapi dia punya redemption yang oke dan jadinya acceptable. Tapi Adyatma ini, setelah maaf2an ama Sarayu, kagak ada canggung2nya sama sekali jiib. Mana kan dia nyangka Sarayu sama Gyan tuh anak selungkuhan. Apa ya, emang yang namanya fiksi itu nggak harus masuk akal, tapi kan ada yang namanya kelogisan cerita. Jadi kenapa Adyatma bisa berakhir se-welcome itu pada akhirnya? Entahlah. Maksudku, perlu proses untuk akhirnya hubungan mereka seluwes itu. Ini buku tebel lho.
Kek contohlah si Farida gitu maksudku. Dia nih emang licik. Dah minta maaf tapi tetep aja busuk manfaatin anak. Yah walopun abis itu nggak lagi sih.
Oh sama ada satu lagi pas skandal Harsa. Entah kenapa respons netijen ini tidak natural, wkwk.
Sarayu kan banyak skandal dan dunia itu jahat sama perempuan. Jadi kenapa pas ada skandal Harsa selingkuh, respons jahat ke Sarayu tuh nggak ada samsek padahal dia tuh sebelumnya ada skandal selingkuh juga. Jdinya, skandal Sarayu di awal tuh tidak ada artinya juga untuk cerita.
Teruuus. Aku tahu ini buku pertama dari series Soedjatmiko, tapi serius gengs, tokoh di sini banyak banget gehel. 🤣🤣 Aku tahu sih untuk pengenalan buat series-series selanjutnya, tapi jdinya cape aja. Sekali lagi, toh nggak berperan banyak juga. Berasa kayak pas nonton Gundala-nya Joko Anwar yg semua tokoh dijejelin. 🙂↔️
3. Karakterisasi
a) Aku mau mulai dari Harsa deh. 😭 Yaampun dia nih tidak ada cacatnya sama sekali. Dan (my personal preference) aku nggak gitu suka sama tokoh yang Too Good To Be True. Dia nih terlalu malaikat dan kagak ada flaw-nya. Jadinya tokohnya boring dan bland. Udah agak manusiawi tuh dia benci si Atman, terus tiba-tiba dia sayang Atman. Aku merasa nih tokoh tuh terlalu disayang sampe nggak tega untuk ngasih kebusukan ke dia.
"Oh tapi dia memanfaatkan Sarayu"
Nope. Yang memanfaatkan Sarayu itu Farida sama Ben. Harsa ini lebih kayak orang yang berusaha buat bikin Sarayu kagak sakit hati pas udah ke reveal semuanya. Toh ujung-ujungnya dia juga jujur. Yang bikin greget adalah kagak ada juga yearning-nya dia karena dibenci Sarayu. Toh Sarayu marahnya tidak tampak. 😭
Padahal pas awal aku agak tertarik nih ke Harsa karena keknya dia punya niat tersembunyi, lah tahunya semua skandal dari Ben. Karena pas awal kan si Harsa jebak Sarayu tuh yg Sadawira. Tpi kek udah aja jiiib itu doang. 😭
Mana Sarayu langsung percaya lagi ama Harsa. Aduh stress banget akuh. 😭
Mana makin lama makin clingy parah dan jadinya giung aku geli sendiri. Entah ya, apakah templete cerita Wattpad dan AU ini cowoknya harus clingy ke ceweknya seperti bayi?
Padahal di awal dia seperti cowok keren dan dewasa, tapi semua berubah setelah ewita menyerang.
b) Terus ada Sarayu
Sebetulnya yang sangat disayangkan dari Sarayu tuh satu, sih. Dia nggak kayak pengacara. Asli ya, kukira dia ama Harsa ngobrol bakalan adu kepintaran. Secara mereka Hakim dan pengacara. Tahunya seperti bocil yang lagi ... yah gitulah. Nggak ada satu pun yang menggambarkan dia ini pengacara kredibel. Aku jadi suudzon dia nih joki apa ya pas kuliah? Yah tapi apa yang aku harapkan ketika pekerjaan di sini cuman tempelan aja. 😭
Dan templete banget juga pas cewek penuh skandal ini ternyata baik hati seperti malaikat dan senang membantu sesama. 🙂↕️🙂↕️
c) Villain
Karena di sini villain-nya banyak. Aku ambil yang oke aja. Atman sama Gohar. Karena dua ini konsisten jahatnya. Farida juga oke sih. Dia konsisten liciknya. Ujung2nya malah 3 orang ini yang lebih berkarakter dari tokoh utama. Karena:
- Tujuan mereka ini jelas. Apa yang mereka lakukan itu untuk mencapai tujuan mereka. (Gohar ini nggak ada, sih. Dia mah emang jahat aja).
-Background mereka juga jelas. Atman yang kegagalan dalam keluarga dan aku rasa dia nih punya ASPD. Cuman si Atman lebih berlayer juga lho dri tokoh utama. Karena dia ternyta punya kekurangan juga.
-Di ending juga Atman ama Gohar gk ada redemption jadi ya udah oke tuh. Soalnya nggak semua tokoh hrus dikasih redemption.
d) Extras
Extras-nya mengganggu, sih, wkwkwk. Preeti, Jandra, Zodi, dan Ben itu mirip banget. Kayak satu orang. Mon maap tapi tiap Sarayu ngobrol ama Jandra aku selalu merasa dia ini cowok kemayu. 😭
Trus sodara Harsa yang lain kayak Sadawira, Resis, sama Wibawa juga penulisan karakternya sama. Mereka disebut beda itu dari deskripsi tapi nggak begitu keliatan bedanya apa. Yep telling banget.
Sadawira juga terlalu maksa untuk dibikin jadi orang melek politik, wkwkw. Aku gak tahu penilaian Harsa dari mana kenapa Sada dibilang melek politik dan layak jadi presiden. Kerjaannya bikin skandal melulu.
Iya, iya, itu kalau misalkan nyeritain Sada udah bakalan jadi satu novel sendiri. Tapi y udahlah, mungkin emang nanti ada di cerita Sada kenapa dia layak padahal kagak ada layak2nya. Kerjaan ewita sama cewek. Presiden macam apah inih??
Ya udah segitu aja reviewnya. Kalau ada yang lain yang keingetan, aku edit lagi. 😭😭
Btw, sebetulnya aku penasaran banget ama si Wibawa, tapi gimana nantilah. Mungkin aku baca dlu di wp biar ketahuan entu buku bisa tahan kubaca sampe tamat atau enggak.
Soalnya buku klo udah dibeli tidak ada istilah DLDR buatku.
This entire review has been hidden because of spoilers.