Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.
4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan.
Abd. Gafur adalah pria kelahiran Makassar 29 Juli 1986 yang punya kebiasaan memandangi langit-langit kamar di malam hari sambil berpikir "Seharusnya saya bisa melakukannya dengan lebih baik." Ia begitu menyukai filsafat dan hukum. Prestasi yang pernah dia raih di antaranya adalah juara III tingkat nasional (bersama tim delegasi Unair) pada Kompetisi Legislative Drafting UU Tipikor di Semarang tahun 2013 dan menjadi wisudawan terbaik Universitas Airlangga pada tahun yang sama. Kini ia bekerja di Kantor Pusat Dirjen Perbendaharaan. Sebelumnya ia pernah bertugas di KPPN Kendari. Tulisannya dapat ditemui di: http://abdulgafur.tumblr.com. Ia bisa disapa di akun Twitter @DaengGafur.
Empat sahabat, empat pegawai dirjen perbendaharaan: Gayatri, Pring, Gafur, Arga, terbelit cinta segi banyak yang rumit. Gayatri yang jatuh cinta pada Pring, Pring yang menjalani long distance marriage dengan Indah, Gafur yang ingin menikahi Dira, dan Arga yang mencintai Dira. Dari sinopsis singkat ini, bisa dibayangkan betapa kacaunya hubungan keempatnya setelah jalinan cinta mereka terungkap bagi satu sama lain.Empat cinta mencoba menemukan jalannya, di tengah guncangnya persahabatan mereka.
Begitu mengetahui bahwa novel ini ditulis oleh pegawai kementrian keuangan, saya segera memutuskan untuk membacanya. Berharap dapat menemukan skandal ranum di dalamnya. Sayangnya, saya harus kecewa. Ini mengingatkan saya saat hendak mengajukan judul tugas akhir dulu. Saat itu, saya dan teman-tean seangkatan di Fakultas Kesehatan Masyarakat, sangat senang membahas ‘Infeksi Nosokomial’. Yakni infeksi yang tidak diderita pasien setelah lebih kurang tujuh puluh dua jam berada di rumah sakit atau pusat layanan kesehatan yang lebih kecil. Infeksi nosokomial dapat terjadi apabila, misalnya, perawat atau dokter merawat seorang pasien yang menderita infeksi karena mikroorganisme patogen tertentu, kemudian perawat atau dokter merawat pasien lain yang rentan atau yang daya tahan tubuhnya rendah, maka mikroorganisme dapat ditularkan. Pada dasarnya, paramedis bertindak sebagai vektor. Maka penelitian seputar infeksi nosokomial ini sangat sulit kami lakukan dan hampir mustahil, mengingat, solidnya organisasi yang hendak diteliti. Staf dan jajaran pejabat rumah sakit akan menutup-nutupi kasus tersebut karena berhubungan dengan nama baik rumah sakit. Hal ini disebabkan infeksi nosokomial terjadi karena kelengahan paramedis. Karena itu, saya bisa memaklumi jika upaya kritik yang dilakukan keempat penulis novel ini hanya terhenti pada taraf sindiran.
Sangat menarik, menyimak para birokrat muda berbicara tentang cinta. Di tengah ritme kerja yang gila-gilaan, menyisihkan waktu untuk mencintai dan meminta dicintai, sangat romantis. Ada yang salah jatuh cinta, ada yang terbelah cintanya, ada yang gigih mengejar cinta, ada yang malu-malu unjuk cinta. Sambil membungkus rapi kisah cinta yang pelik, keempat penulis ini tampaknya sedang melakukan katarsis untuk kehidupan mereka selama menjadi pegawai dirjen perbendaharaan (hanya saja, saya tidak berani menebak-nebak mana yang benar terjad dan mana yang fiktif belaka). Penugasan yang tiba-tiba, pekerjaan yang menuntut totalitas dan lembur yang sering, mutasi yang mengejutkan, dan hidup terasing di daerah terpencil nun jauh dari keluarga dan kampung halaman, juga kekasih. Agak terdengar seperti mission impossible. Penugasan ke banyak daerah di seantero Nusantara tampaknya sulit dinikmati oleh Gayatri, Pring, Gafur, dan Arga. Tapi seperti kata Gayatri, semesta bekerja dengan cara yang tidak terduga, pengalaman di kampung orang membelajarkan mereka tentang banyak hal. Gafur, contohnya. Di Kendari, Sulawesi Tenggara, Gafur bertemu seorang violinis yang mengajarkannya cara membangun rumah bercat putih bercerobong asap di dalam hatinya, untuk menyimpan Dira selamanya di sana (Ah, sebelum saya melupakannya. Sebagai orang Kendari, saya senang menemukan kota saya dituliskan di sini. Subyektif memang, tapi sangat menyenangkan melihat kampung halaman kita dituliskan dalam sebuah cerita fiksi. Sebuah kota kelas tiga, kata Gafur. Haha!). Pring, yang berada di Sumbawa dan jauh dari istrinya akhirnya menyadari, bahwa mencintai adalah keputusan. Sehingga ia pun memutuskan wanita mana yang sepantasnya ia genggam tangannya mulai saat ini dan untuk selamanya. Ketangguhan Gayatri, Pring, Gafur, dan Arga benar-benar teruji lewat kisah cinta mereka. Tampak jelas perkembangan karakter keempatnya setelah melalui konflik personal mereka yang beragam. Sayangnya, alurnya bergerak lamban untuk mencapai klimaks. Padahal konflik sudah dimulai sejak cerita bermula, tapi menanjak dengan terengah-engah, dan baru memuncak di seperlima bagian menjelang akhir. Penyelesaiannya pun, meski sangat realistis, tapi terasa tidak memuaskan. Saya menyayangkan keempat tokohnya tidak bertemu muka untuk merapikan kekusutan hubungan mereka.
Sesungguhnya, buku ini memiliki potensi untuk dikembangkan, digarap dalam dimensi yang lebih lebar. Melihat deskripsinya yang kaya, dan sudut pandang pengisahannya yang luas. Banyak hal bisa dikemukakan. Terutama latar belakang kedaerahan masing-masing tokohnya, yang mempengaruhi tokoh-tokohnya dalam memandang segala hal di sekelilingnya dan menyikapinya. Sesungguhnya, ada banyak aspek lagi yang bisa dieksplorasi untuk menyempurnakan buku ini. semoga hal itu dapat terwujud dalam karya keempat penulis ini di masa mendatang, baik secara solo maupun keroyokan seperti ini lagi. Ditilik dari kemasan, buku ini menggunakan font yang sangat ramah untuk mata. Spasi dan tata letaknya pun nyaman di mata. Ia juga dikemas dengan sampul yang sederhana tapi tampak penuh makna. Putih polos dengan tanda bibir bergincu. Ini semua memang tentang cinta, tidak diragukan lagi. Sebuah kisah cinta bintang empat yang dituliskan oleh pegawai perbendaharaan. Apik dan emosional.
Kantor pemerintah mana yang memfasilitasi hobi pegawainya di bidang literasi? Yak, Ditjen Perbendaharaan. Bersyukur banget bisa terlibat dalam proyek ambisius ini, mengenalkan DJPB ke masyarakat (yang lebih) luas. Meski kami kesulitan menyusun kalimat teknis supaya lebih mudah dimengerti, memotong bagian-bagian yang sangat amat segmented dan dirasa tak penting untuk diketahui masyarakat, memasukkan unsur roman supaya lebih menjual, 4 Musim Cinta termasuk berhasil.
Sebagai bagian dari birokrasi juga sebagai penikmat karya fiksi pada umumnya, saya rasa memang ada beberapa bagian yang terasa kaku. Birokrat banget. Tapi percayalah, itu adalah kalimat paling sederhana yang bisa kami susun ketika itu. x))
Selamat DJPB. Selamat satu dekade. Selamat menjadi instansi yang paham pentingnya menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan. Pekerjaan dan hobi. *ketjup basah*
Alur Ceritanya mendebarkan, berpindah-pindah sudut pandang ketika membacanya membuat petualangan perasaan terasa lebih dalam. Tokoh kesukaan saya adalah Arga. Di antara perasaan dan pemikiran Pring, Gayatri, dan Gafur yang sangat dalam, Arga jadi terasa lebih manusia (lho?). Mungkin ini karena karena saya merasa sudut pandang Arga sebagai semacam jeda atau ruang istirahat untuk perasaan saya setelah sedikit kelelahan merasakan Gayatri, Gafur, dan Pring.
Pada akhirnya yang benar-benar hidup adalah cinta yang murni dihabiskan dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.
Pertama kali saya berkenalan dengan Pringadi Abdi Surya adalah enam tahun lalu, di tahun 2009. Saat itu saya mencari-cari sebuah buku dan bertemulah antologi puisinya, Alusi. Sejak membaca Alusi, saya seperti bertemu teman lama. Tak henti saya membaca dan seperti tersihir oleh puisi Pringadi. Saya juga rajin membaca puisi dan cerpen-cerpennya di Facebook. Kalau boleh dibilang, saya menyukai hampir seluruh tulisan-tulisannya. Dan kali ini hadirlah 4 Musim Cinta, novel pertamanya. Menariknya, novel ini tidak ditulis sendiri, melainkan oleh empat orang abdi negara, birokrat muda.
Banyak tuduhan yang saya layangkan pada 4 Musim Cinta. Pertama, saya kira hanya tulisan Pringadi yang menarik, karena ia telah lama berkecimpung di dunia kepenulisan, sementara nama lainnya belum saya kenal. Kedua, saya mengira Gayatri akan menjadi tokoh tunggal dimana seluruh plot bermula atau bermuara padanya. Bukankah di novel ini ada tiga pria dan satu wanita. Tidak salah mengira mereka saling cinta bukan? Dan ketiga, saya kira novel mengenai Kementrian Keuangan, Perbendaharaan, dan PNS akan berat dan membosankan. Saya benar-benar salah!
Hal pertama yang saya sadari ketika mulai membaca novel ini adalah; saya sudah sampai halaman keseratus! Tidak sadar telah mencapai halaman yang jauh, padahal biasanya saya berhenti setelah halaman tujuh puluh. Empat Musim Cinta membuat saya tak melakukannya. Narasi novel ini sangat mengalir, seperti penulisnya menceritakan langsung di hadapan. Cara bertutur keempat penulis ini sangat mengagumkan. Saya hampir tidak percaya dengan tuduhan sebelumnya, hanya karena belum familiar dengan nama-nama mereka.
Kedua, dakwaan saya ketika membaca halaman belakang ini salah. Saya sempat mengira ketiga pemuda itu memperebutkan Gayatri dan seluruh cerita berpusat pada Gayatri. “....Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang.” Kalimat tersebut semakin mengukuhkan dakwaan saya. Ternyata novel ini hendak menceritakan empat tokoh dengan lika-liku cintanya.
Ketiga, Mandewi, Gafur, Puguh, dan Pringadi punya cara yang menyenangkan untuk menyampaikan informasi ‘berat’ tentang Kementrian Keuangan dan tugasnya. Mulai dari kehidupan pegawai yang tak lepas dari mutasi, kesibukan di kantor pusat, dan tugas mereka sebagai pengatur pengeluaran negara. Semakin menyenangkan ketika menyadari bahwa saya tak sadar sedang diseret ke sana! Awalnya saya buta mengenai pekerjaan Direktorat Jenderal Perbendaharaan, lika-liku kehidupan PNS, dan mitos mengenai orang perbendaharaan yang makmur. Namun betapa kehidupan yang diceritakan empat penulis ini tidak pernah mudah. Jauh dari keluarga, penghasilan yang habis untuk tiket mudik, pun tantangan untuk tetap menjadi ‘manusia’ selama bekerja di Jakarta.
Kita selalu punya perasaan bahwa novel yang sedang kita baca adalah novel bagus atau tidak. Bahkan ketika memasuki bab pertama, paragraf pertama, dan kalimat pertama. Ketika membaca ‘rupa harapan’ yang dimaksud Arga, saya langsung jatuh cinta; it will be nice. Dan tidak seperti kebiasaan saya untuk skip ketika ingin ke toilet, ingin makan, distraksi, atau ada notifikasi di handphone, saya melakukan pengecualian pada 4 Musim Cinta.
Namun saya khawatir, 4 Musim Cinta tidak sesuai dengan ekspektasi saya mengenai karakteristik tokoh-tokohnya. Penggambaran mengenai tokoh terlihat sangat minim, padahal ruang untuk memvisualkan tokoh dalam novel terbuka sangat lebar. Saya masih abu-abu jika membayangkan bagaimana rupa Gayatri, Arga, dan Gafur. Kecuali Pringadi yang sudah pernah saya lihat fotonya sebelumnya. Apakah Gayatri bertampang manis, apa wajahnya lonjong atau bulat, warna bibirnya, dan yang lainnya. Gafur juga hanya dideskripsikan sebagai lelaki berbulu dan memiliki kulit berminyak. Sangat kurang bagi saya yang haus visual.
Bicara mengenai plot, saya bingung mengenai plot ceritanya. Apakah mereka pernah bertemu sebelum Imah Seniman? Bagaimana mereka bisa bersahabat jika baru sekali bertemu? Apa bisa sekali pertemuan membuat empat orang bersahabat? Saya tidak melihat intensitas keempatnya menghabiskan waktu hingga menjadi akrab. Hanya potongan satu tokoh dengan tokoh lain.
Saya baru paham setelah membaca kembali. Para penulis mengambil rentang waktu Imah Seniman di Lembang hingga setahun kemudian Arga dan Gayatri bertemu di kedai kopi atau telepon Pring pada Gafur. Saya pikir keduanya bisa saja terjadi bersamaan. Satu lagi bahwa Arga – Gafur – Gayatri sudah kenal sebelumnya. Pertemuan mereka bertiga dengan Pringadi baru terjadi di Imah Seniman.
Mengetahui latar belakang Pringadi sebagai cerpenis, saya was-was seperti apa ia akan mengakhiri novelnya. Dan seperti ciri khas Pringadi mengakhiri ceritanya, novel ini tak berakhir bahagia. Gafur dan Arga harus melupakan Dira yang mereka perebutkan, sementara Gayatri harus kecewa untuk ketiga kalinya. Hanya Pringadi yang akan bahagia dengan kelahiran anaknya. Lantas, apakah Pringadi benar-benar bahagia tanpa Gayatri? Siapa yang tahu. Pada akhirnya yang benar-benar hidup adalah cinta yang murni dihabiskan dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya. Hanya kesetiaan Indah yang berakhir bahagia.
Padahal saya berharap sebuah akhir yang manis untuk novel. Bagaimanapun juga pembaca novel Indonesia biasa disuguhkan dengan akhir yang bahagia. Namun sepertinya keempat penulis ini tidak ingin mengikuti perilaku pasar. Barangkali ingin seperti pekerjaan mereka mengatur arus keuangan, mereka mengatur ending mereka sendiri.
Pada akhirnya saya mengakui bahwa novel ini Inspiratif, Menggetarkan, Menghanyutkan! Seperti yang disampaikan Ahmad Fuadi di cover belakang. Saya paham bahwa tak peduli siapa yang menulisnya dan latar belakangnya, orang hanya ingin membaca novel berkualitas. Mandewi, Gafur, Puguh, dan Pringadi mampu menyajikan itu.
Sebagai penutup, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan dari novel ini. Apakah judul buku setebal 334 halaman yang dibaca Arga dan apakah gadis purnama Arga itu benar-benar ada? Tak kutemukan jawabannya di buku ini. (*)
4 musim cinta adalah buku yang saya temukan dengan tidak sengaja di pojokan gramedia jalan merdeka, bandung. Saat membaca sinopsis novel ini, saya tidak tau harus mengharapkan cerita macam apa dari buku ini, tetapi karena saya sedang senggang akhirnya saya membeli dan mencoba membacanya. Buku ini bercerita tentang arga gafur pring dan gayatri, 4 pegawai pemerintah yang bersahabat dengan kisah cinta yang terkait satu sama lain. Buku ini dapat dibilang melebihi ekspektasi saya. Tuturan bahasa yang cukup puitis membuat suasana yang berbeda dan nyaman. Ceritanya menarik dan cukup real, tidak klise atau sok romantis seperti sebagian novel cinta. Satu kekurangan dari buku ini yaitu pembawaannya yang agak lambat. Awal mulanya saya sempat bosan dan berhenti membaca beberapa minggu. Namun saat mencapai pertengahan sampai ke akhir buku, alurnya makin baik dan membuat saya tidak bisa berhenti membaca.
Awal cerita, bisa dikatakan membosankan. Sangat membosankan. Tapi entah kenapa, ada something dalam cerita ini. Mungkin karena kisah dan karakternya Pringadi dan Gayatri yang kuat. Tapi... yang lainnya juga punya andil, sih. Termasuk Arga. Bisa saya katakan ini cerita yang tidak biasa. Cerita yang butuh kepekaan. Ringan dan beratnya naik turun dan saling menyusul. Akh... sulit menjelaskannya secara bahasa yang biasa. Yang jelas, buku ini punya something. Itu saja
“...Dan perasaan kehilangan mungkin adalah puncak romantisme yang dimiliki manusia. Aku mengucapkan terima kasih kepada rasa sakit yang telah mengajariku arti hidup, kepada harapan yang membuatku kembali bangun di pagi hari untuk bekerja, dan kepada sosok Dira di dalam ingatanku yang memutuskan untuk pergi tanpa jejak, menghilang begitu saja dari kehidupanku...” (4 Musim Cinta )
Inspiratif, menggetarkan. Memang itulah kesan yang ditampilkan para penulis melalui novel ini. 4 Musim Cinta merupakan novel kolaborasi yang ditulis oleh empat penulis muda, yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai Perbendaharaan Negara; Mandewi (Gayatri), Pring, Gafur dan Puguh. Novel ini secara tidak langsung “menggambarkan” berbagai realita yang dialami para penulis; suka-duka, berbagai situasi sulit saat menjalankan tugas dan kewajibannya. Bukti kecerdasan para penulis terlihat pada bagaimana mereka dapat meramu karyanya menjadi salah satu karya sastra yang elegant. Dialog-dialog para tokoh dan uraian-uraian singkat mampu menghipnotis; menuntun pembaca merasakan sensasi yang diutarakan para penulis, seolah menyaksikan sebuah drama via novel; bahagia, sedih, pilu, dilema, kecewa.
Novel ini bercerita tentang empat birokrat muda, satu wanita; Gayatri, dan tiga pria; Pring, Gafur, Arga, yang mengemban tugas sebagai abdi negara, sebagai staf Perbendaharaan Negara yang ditugaskan di beberapa pelosok wilayah Indonesia. Cerita berawal dari keempatnya yang dipertemukan dalam sebuah ajang lomba menulis dan workshop kepenulisan yang diadakan di Imah Seniman, sebuah kampung wisata di kawasan Lembang Jawa Barat. Atas kesaamaan profesi, dengan segala seluk-beluk hidup yang dimilikinya, benih-benih persahabatan pun mulai tumbuh bersemi, bahkan berkelanjutan hingga mereka kembali ke tempat di mana mereka ditugaskan.
Gayatri, wanita cantik, cerdas, kelahiran Denpasar ini ditempat-tugaskan di kantor Perbendaharaaan Pusat, Jakarta. Ia pecinta sastra. Pernah mengalami trauma dalam dunia percintaan. Sempat menjalin hubungan dengan seorang pria yang sangat dicintainya, Adam, namun kandas, putus di tengah jalan karena perbedaan pandangan, visi, agama dan budaya. Adam meninggalkannya, memilih menikah dengan gadis yang dipilih ibunya, dan menetap di Aceh. Ditinggal-pergi orang yang sangat dicintainya, sontak mengubah Gayatri menjadi sosok wanita yang sulit membuka hati untuk memulai lembaran cinta baru. Semuanya berubah saat waktu mempertemukan dia dengan Pring, sosok yang kemudian mampu meluluhlantakkan benteng pertahanan hatinya yang telah lama ia bangun.
Pring. Lelaki kelahiran Palembang ini, telah menikah di usia muda. Kebahagiaan yang ia alami di awal pernikahaan sempat mendapat cobaan berat, saat mahligai pernikahannya diterjang dahsyatnya badai pergolakan batin. Tuntutan profesi mengharuskan dirinya berpisah dengan Indah, istri tercintanya. Keinginan Indah yang ingin melanjutkan kuliah Pascasarjananya turut memperparah situasi yang dihadapi. Keinginan agar istrinya tetap di rumah, citra istri ideal yang siap dan sigap menyambut suami pulang kerja, menyiapkan sarapan dan segala kewajibannya sebagai seorang istri pun sirna. Gelombang cemburu, putus asa mewarnai langkah hidup Pring. Profesi menuntutnya menempuh hidup seorang diri di tempat yang berbeda, terasa asing di pelosok negeri; Sumbawa dan Kalabahi. Semuanya mulai berubah saat ia mengenal dan berjumpa dengan Gayatri, yang kemudian keduanya terjebak dalam benih-benih cinta terlarang.
Gafur. Pria Makasar ini sangat menyukai ilmu Filsafat dan Hukum. Awal kisah cintanya bermula saat bertemu Dira, seorang barista asal Sunda yang bekerja sebagai pelayan di salah satu coffee shop di Jakarta. Perjalanan cinta mereka ternyata tak semudah yang ia harapkan. Dira enggan menikah lantaran trauma akan masa lalu yang masih menghantuinya. Semuanya bermula saat ayah kandungnya pergi meninggalkan ibu dan keluarganya, dan memilih menikah dengan perempuan lain. Ibunya bunuh diri, meninggalkan ia dan adik-adiknya beberapa waktu setelah pengkhiantan itu terjadi. Stigma dan ketakutan terhadap pria yang dicintainya suatu saat bisa saja meninggalkan dirinya, membuat Dira memilih untuk cukup mencintai orang yang benar ia cintai tanpa harus menikah. Suatu kenyataan berat yang harus dihadapi Gafur, karena ia benar-benar mencintai Dira. Hubungan cinta mereka berlanjut dan mulai menghadapi pasang surut saat keduanya harus berpisah. Gafur ditugaskan ke KPPN Kendari, memaksa dirinya meninggalkan Dira di Jakarta.
Cerita lain datang dari Arga. Pria asli Jawa ini banyak dikenal sebagai sosok yang nyaris tak pernah terlihat tenggelam dalam kesendirian. Namun di sisi lain ia selalu mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan kasih dengan wanita dan pernah dua kali gagal. Kenyataan itu seakan membaik saat ia diperkenalkan Gayatri kepada Dira. Baginya, perjumpaan dengan Dira seolah membangkitkan kembali semangat hidupnya, membangkitkan keterpurukannya saat gagal menjalin cinta. Kehadiran Dira pula yang menginspirasi hidupnya. Arga belum menyadari sama sekali bahwa wanita yang ia cintai sekarang adalah kekasih sahabatnya sendiri, Gafur. Kisah ini berlanjut, jauh lebih dalam, jauh lebih menghanyutkan. Berbagai kesulitan terus dihadapi; tuntutan profesi yang tidak mudah, keterbatasan yang ada di daerah tempat tugas masing-masing, hingga berujung pada masalah pribadi; cinta. Intensitas komunikasi dan perjumpaan yang semakin jarang antara Pring dan Indah, menjadikan ia semakin merasa asing dengan dunianya sendiri, didera sepi dan rindu. Namun demikian, hadirnya Gayatri seolah menepis kesendirian yang dialaminya. Waktu berlalu, Pring mulai terjebak dalam pesona Gayatri. Benih-benih cinta terlarang yang semestinya dihindari pasca pernikahan tumbuh tak terelakkan. Gayatri pun demikian. Terpikat daya magis puitis yang melekat dalam diri Pring, sosok yang benar-benar membuatnya tak berdaya; jiwa dan raganya. Hadirnya Pring seolah mendorong dirinya jatuh cinta lagi setelah sekian lama ditinggal Adam, setelah sekian lama ia menutup rapat-rapat pintu hatinya. Ia sadar, itu hubungan terlarang; Pring telah menikah.
Kisah lainnya juga dirasakan kedua sahabat, Gafur dan Arga, yang sama-sama mencintai Dira. Dalam suatu waktu saat menjalankan tugas dinas di Kendari, keduanya baru menyadari bahwa ternyata mereka sama-sama terjebak dalam cinta yang sama; sama- sama mencintai wanita yang dipujanya. Dihadapkan pada kenyataaan pahit tersebut, mengantar mereka terlibat dalam pertengkaran hebat. Pupus sudah harapan Arga untuk memiliki Dira, saat mengetahui sosok yang ia cintai ternyata mencintai dan dicintai oleh orang yang sangat ia kenal, Gafur, sahabatnya sendiri. Kehadiran Dira yang dianggap menjadi sebongkah harapan; harapan untuk memilikinya, Dira yang membuat hidupnya yang tak pernah terencana lebih bermakna, kini hilang; musnah, meninggalkan luka. Kesetian dan persahabatan benar-benar diuji dan dipertaruhkan. Hujatan, amarah dan kecewa terhadap sahabat sendiri karena merasa dikhianati benar-benar tak bisa dihindari.
Akhir cerita, setelah melewati pertengkaran hebat tersebut, Dira menghilang tanpa kabar; menghilang dari hidup Gafur; sosok yang ia cintai, dan mengilang dari semua orang-orang Perbendaharaan yang pernah dikenalnya itu; Arga, dan Gayatri. Suatu waktu Gafur sempat meluangkan waktunya ke Jakarta mencari Dira. Tak pernah ditemukannya sama sekali. Dira yang sangat ia cintai benar-benar menghilang; pergi dari kehidupannya. Gafur memutuskan kembali ke Kendari, ke tempat ia ditugaskan, mengabdi sebagai pegawai Perbendaharaan di kota tersebut. Pring kembali pada pelukan Indah, kembali dari kenyataan yang hampir menjerembapkan dirinya jauh pada hubungan terlarang. Gayatri tengah menyibukkan diri, berusaha mengejar beasiswa untuk menempuh pendidikan Pascasarjananya. Begitu pula Arga, kembali menjalankan aktivitas hariannya sebagai pegawai Perbendaharaan di Jakarta.
*** Keistimewaan sekaligus menjadi kekuatan novel ini terletak pada konsistensi penulis dan orisinalitas berbagai kisah sehari-hari, yang merepresentasikan idialisme, harapan dan keyakinan para penulis sendiri dengan berbagai kenyataan yang harus mereka hadapi saat menjalankan tugas dan kewajibannya. Melalui novel ini tersirat pula hubungan persahabatan dan percintaan yang bisa saja selalu menjadi “yang” dipertaruhkan; dikorbankan dan tak terelakkan dalam setiap situasi pelik. Penggunaan diksi yang cerdas dan dialog yang segar serta penuturan ungkapan-ungkapan menjadi nilai tambah tersendiri yang menempatkan novel ini memiliki makna penting yang mungkin bisa digunakan pembaca sebagai referensi dan bahan permenungan dalam hidupnya. Satu di antaranya tentang filosofi kopi. “Hidup seperti kopi. Bahwa hidup ini pahit, tak beda dengan kopi. Tinggal bagaimana cara kita menikmatinya. Apakah kita akan memberinya gula atau menambahkan susu ke dalamnya, itu tergantung selera. Bila kita salah menakar apa yang kita tambahkan, kita juga yang akan menikmatinya” (4 Musim Cinta_hal. 309).
Nilai tambah lain dari novel ini terlihat dalam kelihaian para penulis menyatukan idenya masing-masing membentuk suatu kesatuan karya sastra yang elegant. Tentu saja menyatukan sesuatu yang beda bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi menuntun pembaca agar benar-benar memahami setiap jalan cerita, mampu menangkap pesan tersirat yang hendak disampaikan penulis, baik melalui setiap dialog para tokoh dan uraian-uraiannya. Hal tersebut benar-benar ada dalam novel ini, sehingga karya ini patut diapresiasi. Namun sebagaimana halnya dalam suatu karya, pasti ada keunggulan dan kelemahan tersendiri. Serangkaian plot yang kurang plausible juga ditemukan dalam novel ini sehingga kadang sedikit menyulitkan pembaca memahami beberapa bagian cerita. Ada beberapa jokes yang coba tampilkan penulis, tapi kesannya kurang pecah, kurang bikin ngakak. Tampilan sampul dengan bibir merah merekah sebenarnya sudah mempertegas dan memberi identitas “dewasa”. Apalagi ada pendeskripsian tentang keintiman lewat sentuhan fisik (bibir) dan tidur bersama. Oleh karenanya novel ini direkomendasikan untuk pembaca yang sudah dewasa. Anjuran saya akan lebih baik jika novel ini memasang signal novel dewasa, kalau perlu dengan batasan umur yang jelas meskipun perlu kita akui bahwa pada kenyataannya tidak ada kontrol khusus yang bisa diberlakukan pada pembeli dan pembaca, saat buku sudah dilempar ke pasaran.
Bertolak dari kelebihan dan kekurangannya, saya memberikan apresiasi untuk buku ini. Terutama untuk kecerdasan para penulis dalam meramu kisah, tema cerita yang menarik; tentang cinta, persahabatan dan pengabdian. Apresiasi untuk keahlian para penulis dalam mengolah kata-kata sehingga setiap dialog dan uraian dalam buku ini menarik untuk dibaca dan disimak. Apresiasi juga untuk akhir cerita yang pilu namun sarat dengan hikmah kehidupan. Jadi, novel ini bisa juga digunakan pembaca sebagai bahan referensi tambahan, karena sarat akan pesan moral; pengabdian dan kesetiaan.
Judul Buku : 4 MUSIM CINTA Penulis : Komang Ayu Kumaradewi, Abdul Gafur, Puguh Hermawan, Pringadi Abdi Surya Penerbit : Exchange Tahun Terbit : 2015 Jumlah Halaman : 332 Halaman ISBN : 9786027202429
Judul: 4 Musim Cinta Penulis: Abdul Gafur, Pringadi AS, Puguh Hermawan, Mandewi Penerbit: Exchange Tahun Terbit: Maret 2015 Jumlah Halaman: 333 ISBN: 9786027202429
CINTA merupakan benang merah novel 4 Musim Cinta (Exchange, 2015) karya Mandewi, Gafur, Puguh, dan Pringadi. Empat pengarang yang berprofesi sebagai birokrat, menuliskan empat tokoh sentral yang juga memiliki profesi sebagai birokrat. Mereka muda dan jatuh cinta. Ide novel ini dengan mudah memikat kita untuk jatuh cinta pada untaian kisah yang dipintal para pengarangnya.
Ketika Birokrat Muda Jatuh Cinta
Novel 4 Musim Cinta tidak menuturkan pergantian musim secara geografis. Kata 4 Musim tampaknya merupakan simbolisme empat karakter tokoh sentralnya yang memang terlibat petualangan dan upaya menemukan cinta. Gayatri, perempuan Bali yang berkarakter kuat dan mandiri, sehingga menyulitkan dirinya menemukan pria yang mampu membuat dirinya menyadari keberadaan ruang kosong dalam setiap diri—sebuah ruang yang menjadi tempat tumbuhnya benih-benih cinta. Gafur, pria Makassar yang memiliki karakter kompleks dan terbiasa berhubungan seks dengan kekasih yang berbeda, mengakibatkan dirinya meragukan pernikahan. Pring yang tengah memperjuangkan cinta dalam jalinan pernikahan, membuat kisah 4 Musim Cinta menjadi spesial. Kehadiran Arga, pria Jawa yang dihantui dilema cinta dan selalu gagal menjalin cinta, menjalinan kisah seluruh karakter menjadi sinergis.
Sejauh ini, belum ada konvensi dalam mengaitkan karakter manusia (tokoh fiksi) pada jenis-jenis musim. Masing-masing negara memiliki persepsi terhadap musim. Bila merujuk pada gugusan fonetik, tokoh Pring rentan direlevansikan dengan musim semi (spring). Bahkan, ia pun memiliki kecerdasan linguistik dan ahli mengukir kata-kata puitik. Kalimat sederhana bisa dituturkan dengan berbunga-bunga khas musim semi. Tapi, bila merujuk pada kebudayaan Jepang, musim semi (spring) lebih tepat diwakili Gafur. Sebab, musim semi dalam bahasa Jepang adalah eufemisme dari seks. Eufemisme ini dikukuhkan dengan karya seni ‘shunga’ (gambar musim semi) yang memang menampilkan gambar-gambar erotis dan hubungan seks. Di antara empat tokoh yang membangun pondasi 4 Musim Cinta, Gafur merupakan pribadi yang memberi warna kental seksualitas dan menempati posisi musim semi dalam perspektif budaya Jepang. Karena itu, ‘empat musim’ dalam novel ini lebih tepat merujuk pada simbolisme empat karakter yang membangun cerita: Pring, Gafur, Gayatri, dan Arga. Simbolisme ini bebas ditafsirkan sesuai kerangka budaya yang membentuk imaji para pembaca.
Sayangnya, ide penulisan 4 Musim Cinta dengan empat penulis dan empat tokoh sentral, tampaknya menjebak penokohan menjadi ‘tokoh kolektif’. Implikasinya, proses individuasi tokoh utama menjadi kurang maksimal. Pergantian tokoh dan setting yang dapat disebut berlangsung terlalu cepat, rentan mengakibatkan distraksi narasi dan alur menjadi kehilangan ketajaman fokus. Bahkan, pada sebagian bab akhir, terdapat peristiwa yang terlalu singkat dan seolah berganti dalam hitungan menit. Seolah-olah sebagian besar peristiwa terjadi dalam waktu bersamaan. Bila pengarang membubuhkan ‘tanggal dan tempat’ sebagai pembukaan pada beberapa bab penting, pembaca akan lebih mudah masuk ke dalam ruang dalam dimensi cerita.
Birokrasi negara yang menjadi daya tarik dan keunikan novel ini, juga kurang diolah. Porsi birokrasi negara dalam 4 Musim Cinta masih berada di permukaan, yaitu kesibukan dan keluhan-keluhan para birokrat muda dalam suasana kerja yang paternalistik dan monoton. Kasus korupsi yang menjadi polemik besar dalam birokrasi negara hanya diulas dalam beberapa kalimat (lihat hal. 220). Hingga bab terakhir, tidak terlihat upaya (inovasi) para tokoh untuk mengubah kondisi atau sistem yang tidak kondusif tersebut.
Meskipun narasi menggunakan bahasa yang cenderung mudah dipahami, perubahan setting dan pergantian tokoh yang cepat, menuntut ‘kesabaran’ dalam menuntaskan membacanya. Dan melihat materi yang ditawarkan pengarang, 4 Musim Cinta tidak akan lengkap tanpa diberi label ‘17+’. Sebab, sebagian tokoh terlibat dalam relasi cinta yang ‘tidak biasa’ dan cukup gamblang menuturkan seksualitas yang melanggar tabu.
Dalam narasi novel 4 Musim Cinta, terjadi begitu banyak repetisi mengenai minat menulis, pertanyaan-pertanyaan tentang cinta, dan suasana monoton birokrasi negara. Repetisi tersebut rentan menimbulkan kejenuhan pembaca. Porsi ‘dialog’ mendominasi peristiwa. Hal ini mengakibatkan para tokoh terkesan ‘cerewet’ dan menggurui pembaca. Padahal, untuk meneguhkan eksistensi karakter, narasi merupakan jalan yang efektif.
Dari beragam sisi kekurangan dan kelebihan 4 Musim Cinta, keberadaan cinta dalam belenggu budaya misoginis membuat novel ini menjadi istimewa.
Sisi-sisi Sekeping Cinta
Memang, selintas kisah 4 Musim Cinta tidak menunjukkan warna feminis atau kritik terhadap bias gender dalam masyarakat. Rasa bahasa dan pilihan diksi pun tidak membuat dahi berkerut. Namun, disadari atau tidak oleh para pengarangnya, pondasi kisah yang meraka pintal, telah direbut relasi ‘budaya seks’ dalam tatanan masyarakat misoginis. Secara harfiah misoginis artinya ‘membenci perempuan’. Realitasnya, budaya misoginis dapat berwujud diskriminasi seksual, kecenderungan menyalahkan perempuan, kekerasan domestik, dan anggapan perempuan sebagai objek seksual.
Kesadaran misoginis bisa leluasa menyelinap dalam kesadaran pribadi yang dinilai baik atau bermoral, sebagaimana suami Indah (Pring). Pandangan Pring terhadap perempuan, menempatkan definisi misoginis yang representatif, sebagaimana pernyataan berikut: Citra perempuan ideal di mataku masihlah seseorang yang siap dan sigap menyambut suami pulang kerja, menyiapkan sarapan, membuatkan segelas teh hangat dengan sedikit gula kesukaanku. Aku tidak pernah membayangkan memiliki istri yang saat aku pulang kerja tak ada di rumah karena sibuk bekerja. Suami dan anak adalah prioritas (hal. 100). Dari pernyataan Pring terlihat penilaian bahwa posisi perempuan sebagai subordinat pria (the second sex) dan pria menjadi pemilik hak otoritas (superior). Hal ini ditegaskan ketidaksetujuan Pring pada keinginan istrinya (Indah) untuk melanjutkan pendidikan S2.
Uniknya, pada konteks Pring-Indah, terlihat pergeseran kesadaran misoginis yang sangat kental. Indah berani menyatakan pendapat dan meraih kendali situasi. Dalam tatanan misoginis, istri ‘tidak dibenarkan’ untuk maju dan meninggalkan ‘kewajiban’ pelayanan domestiknya. Meskipun menimbulkan keretakan dan diwarnai perselingkuhan dengan Gayatri, Pring memberi izin bagi Indah untuk melanjutkan studi S2 di ITB. Pada relasi Pring-Indah terlihat potensi pemaknaan cinta sebagai bentuk upaya dalam pembebasan dari belenggu misoginis. Memang, cinta semestinya tidak mengikat atau memunculkan dominasi, melainkan membebaskan masing-masing pribadi untuk mengaktualisasikan diri dan mengalami pertumbuhan secara intelektual-spiritual.
Di sisi lain, terdapat relasi misoginis yang masih mengakar. Hal ini terdapat pada kekasih Gafur, Dira. Dira merepresentasikan pribadi yang mengalami trauma dan represi tradisi misoginis. Dira mengidentifikasi pria pada sosok ayahnya yang meninggalkan ibunya. Ayah Dira terpikat pada perempuan lain. Dalam tatanan misoginis, perempuan dirugikan. Posisi perempuan cenderung lebih mengarah pada pelayanan kebutuhan pria. Setelah tidak dibutuhkan, perempuan akan ditinggalkan pria (suami). Perempuan pun menjadi tergantung pada peran pria yang dominan.
Setelah ditinggal ayahnya, Ibu Dira memutuskan untuk bunuh diri. Dari pengalaman traumatis ini, Dira memiliki kebencian pada pernikahan dan melunturkan kepercayaan pada pria, sebagaimana pernyataannya: Aku memang perempuan biasa yang membutuhkan laki-laki, setidaknya untuk kupeluk pada malam hari [...] Tapi, aku tak butuh pernikahan, Gafur. Aku tak ingin mengikat laki-laki dengan sebuah surat dan tanggung jawab. Itu bisa membuat mereka gila. Dan pada akhirnya mereka juga akan pergi meninggalkanku. Dan jika hal itu terjadi, akan terasa jauh lebih sakit. Kau tak mau kan, kalau aku nanti menjadi istri menyedihkan yang ditinggal suaminya, lalu menjadi gila dan bunuh diri? (hal. 156). Dari teks ini terlihat, kebencian Dira pada pernikahan adalah salah satu efek negatif misoginis, yaitu depresi seorang ibu (istri) yang diturunkan pada anaknya.
Bila seorang perempuan tidak mandiri sebagai individu, ia akan selalu didefinisikan simbol kuasa misoginis (pria) sebagaimana yang dialami Dira. Meskipun Dira terlihat dominan, ia mengalami kerapuhan dalam dirinya. Sikap dominan merupakan mekanisme pertahanan diri dalam memikul trauma represi misoginis. Dira tidak percaya pada komitmen pria, sehingga tubuhnya menjadi objek seksual para pria yang ‘disangka’-nya sebagai kekasih, sebagaimana pernyataannya: Aku tidur dengan semua kekasihku. Seperti yang baru saja kita lakukan (hal. 85). Kecenderungan berganti-ganti pasangan seks, merupakan salah satu perilaku yang dimiliki seorang pengidap gangguan mental (psikologis). Hal ini ditandai menghilangnya Dira secara misterius di penghujung cerita yang mengindikasikan dirinya anti-sosial.
Uniknya, Gafur ataupun Arga mengalami kesalahan persepsi dalam memahami pribadi Dira. Kedua birokrat muda ini tidak menyadari bahwa karakter kuat dan mandiri yang dimiliki Dira merupakan sebuah mekanisme pertahanan diri. Ketidaktahuan Gafur dan Arga pada ‘penyakit mental’ yang diidap Dira, mengakibatkan mereka jatuh cinta perempuan Sunda ini. Kisah cinta segitiga antara Dira dengan Gafur dan Arga membuat ‘suspence’ 4 Musim Cinta penuh hentakan yang mendebarkan.
Selain Dira dan Indah, Gayatri menjadi perempuan yang memegang peran kuat dalam novel 4 Musim Cinta. Untuk beradaptasi dengan lingkungan yang misoginis, Gayatri ‘bertransformasi’ menjadi pribadi yang berkarakter kuat dan bebas. Ia mampu keluar dari kungkungan budaya misoginis yang masih memengaruhi adat Bali. Gayatri merupakan salah satu perempuan yang berupaya membebaskan diri dari kungkungan misoginis-primordial. Agak disayangkan, eksotisme adat Bali yang berpotensi memperkaya kisah, tidak diangkat secara detil.
Meskipun berada dalam lingkungan yang tidak nyaman bagi perempuan, Gayatri memilih jalan aktualisasi diri untuk beradaptasi. Ia seolah terobsesi untuk setara dengan pria. Hal ini dibuktikannya dengan mandiri secara pemikiran dan finansial. Belenggu misoginis tidak lagi menghancurkan dirinya. Bahkan, Gayatri pun memiliki kebebasan untuk memilih pria dan tidak keberatan dengan stigma negatif pada dirinya yang belum juga menikah, sebagaimana pernyataannya: Yeah, right. Perawan tua. kamu punya julukan tepat buatku (hal. 228). Selain itu, Gayatri pun memiliki kesadaran eksistensial sebagaimana pernyataannya: Pertemanan adalah penting, tetapi pertemanan dengan dirimu sendiri adalah yang terpenting (hal. 114). Dengan bersahabat dengan diri sendiri, menerima kekurangan-kelebihan diri, perempuan tidak akan rentan atau reaktif dengan gangguan yang timbul dalam tradisi misoginis. Gayatri memiliki kemerdekaan psikologis. Patah hati dan cinta yang belum menemukan muara, tidak membuat Gayatri putus asa meretas masa depan gemilang.
Perjalanan Menemukan Cinta
Budaya misoginis menuntut kepatuhan perempuan. Budaya ini rentan membuat perempuan rentan kehilangan hak otonom atas tubuh dan eksistensi sebagai pribadi yang memiliki hak azasi. Sifat perempuan dalam konstruksi budaya misoginis akan menyulitkan perempuan untuk mengaktualisasikan diri dalam lingkungan kerja yang paternalistik dan kompetitif. Budaya misoginis tidak hanya merugikan perempuan, melainkan menghambat kita dalam upaya penemuan cinta. Kita pun sudah sering menyaksikan dalam kehidupan nyata, betapa rapuhnya pernikahan (relasi/komitmen sejenisnya) dalam tatanan budaya misoginis.; selalu dibayang-bayangi perceraian, perselingkuhan, pertengkaran, kekerasan domestik, dan trauma. Hal ini disebabkan, konsepsi (pemahaman) pada cinta telah kehilangan esensi dan bercinta dinilai sebagai pelampiasan hasrat biologis, sehingga tereduksi dari kosmos. Akibatnya, obesesi pada cinta menimbulkan keraguan (ketidakpastian), hubungan seks sering kali menyisakan siksaan rasa hampa, dan pernikahan rentan dinilai merampas kebebasan perempuan. Tidak mengherankan, sebagian feminis radikal menuduh bahwa pernikahan merupakan perbudakan seksual (pelacuran) yang dilembagakan.
Novel 4 Musim Cinta menandai pergeseran kesadaran dalam memaknai cinta dari ranah misoginis menuju arah yang meneguhkan hak asasi. Tokoh Pring menghadirkan jawaban yang segar terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang cinta dan pernikahan yang sering direduksi pengaruh misoginis. Bahkan, secara esensial, pandangan Pring identik dengan definisi klasik tentang cinta yang diutarakan Milan Kundera.
Dalam The Unbearable Lightness of Being, Milan Kundera mendefinisikan cinta yang universal dan esensial: Bercinta dengan seorang wanita dan tidur dengan seorang wanita merupakan nafsu yang terpisah, bukan hanya berbeda, namun bertolak belakang. Cinta tidak memberinya merasakan hasrat untuk melakukan suatu persetubuhan (suatu hasrat yang meluas pada jumlah wanita yang tiada terbatas) namun pada hasrat untuk berbagi tidur (suatu hasrat yang terbatas pada satu orang wanita.
Di sisi lain, dalam memahami cinta, Pring dipengaruhi pemikiran seorang temannya, bahwa; Jatuh cinta dan mencintai adalah dua hal yang berbeda. Sebagai lelaki kita bisa jatuh cinta berkali-kali kepada orang yang sama atau orang yang berbeda. Tapi, mencintai adalah keputusan. Sekali kita sudah memutuskan untuk mencintai, maka mencintailah selamanya. Nikmati prosesnya. Pahit atau manis (hal. 314).
Meskipun terdapat perbedaan bahasa, secara esensial cara Pring memandang cinta, identik dengan definisi cinta dalam pandangan Milan Kundera tersebut. Bahwa ‘hubungan cinta secara ideal’ adalah relasi monogami atau kesetiaan pada seorang belahan jiwa.
Peran Pring sebagai satu-satunya tokoh yang menikah dan memberi izin bagi istrinya (Indah) untuk mengaktualisasikan diri (melanjutkan studi S2); menandai pergeseran cinta dalam kuasa kesadaran misoginis menuju relasi yang memanusiakan. Dalam pandangan Pring, cinta bukanlah sekadar hasrat biologis; setelah hasrat itu tuntas dengan hubungan seks, cinta berakhir dan menyisakan hampa. Tujuan relasi cinta dilembagakan melalui pernikahan adalah untuk mengukuhkan kemanusiaan. Pernikahan mengukuhkan keberadaan cinta dalam sebuah sistem sosial budaya. Perempuan (istri) bukanlah perhiasan atau benda yang dikuasai pria (suami). Perempuan (istri) adalah mitra seperjalanan dan keberadaannya meneguhkan eksistensi pria.
Dalam relasi heteroseksual, pria tidak akan utuh tanpa kehadiran perempuan. Kemuliaan pria (suami) terletak pada kehormatan perempuan (istri). Pria (suami) tidak akan dihormati perempuan (istri) bila ia tidak menghormati impian-impian perempuan (istri) untuk meraih kemajuan. Niat Pring menamakan anak pertamanya Gayatri (teman perempuannya yang memiliki kemerdekaan psikologis) menunjukkan bahwa dirinya membuka diri untuk kemajuan perempuan.
Semuanya berubah, tanpa henti (Pantha Rei-Herakleitos). Demikian pula dengan esensi cinta. Novel 4 Musim Cinta menuntun pembaca untuk lebih memahami esensi cinta di zaman modern. Cinta yang berabad-abad dibelenggu kuasa misoginis, telah bertransformasi menuju arah yang lebih manusiawi. Bahwa, cinta bukan sekadar ketertarikan (ikatan) fisik dalam pengaruh hasrat seksual. Seksualitas merupakan berkah Ilahi dan energi kehidupan. Bila dimanfaatkan untuk tujuan yang mulia; cinta akan mengantarkan manusia menuju pencapaian-pencapaian spiritual dan melestarikan kemanusiaan. Hubungan seks yang didasari cinta melahirkan kasih sayang dan kekuatan. Cinta membuat kehidupan layak untuk diperjuangkan dan pernikahan membawa kebahagiaan.
Novel 4 Musim Cinta: Musim Cinta PNS yang Belum Bisa Dipanen
Judul Buku : 4 Musim Cinta Penulis : Mandewi, Gafur, Puguh, Pringadi Penerbit : Exchange Kota & Tahun Terbit : Jakarta, 2015 Cetakan : Pertama Halaman : 332 Hal, 20 Harga : Rp 59.500,- Peresensi : @DebbyNiken
Novel ini ditulis oleh 4 orang PNS (Pegawai Negeri Sipil) dari Kementrian Keuangan, yatu Mandewi/Komang Ayu Komaradewi, Abd. Gafur, Puguh Hermawan dan Pringadi Abdi Surya.Jejak kepenulisan penulis-penulisnya seperti Mandewi, Abd.Gafur dan Pringadi ada di dunia maya dan memang kontinyu menampilkan karya-karya seperti Cerpen, Puisi dan tulisan-tulisan lainnya. Bahkan Mandewi telah menerbitkan buku kumpulan flash fiction sementara Pringadi lebih banyak dikenal sebagai penyair dan Cerpenis sejak 2009. Artinya novel ini bukan novel yang asal ditulis meski profesi penulis utamanya adalah PNS.
Novel ini bertutur tentang kisah 4 orang sahabat yang dipertemukan karena sama-sama PNS Departemen Keuangan, terdiri seorang birokrat perempuan dan tiga orang birokrat laki-laki. Empat birokrat yang mulai menjalin persahabatan sejak kegiatan-kegiatan pelatihan dari Dinas dan bersambung ke dunia maya.
Tokoh utamanya adalah Gayatri, Pringadi, Arga dan Gafur yang kelihatannya berusia menjelang 30 tahun. Persahabatan mereka mengalami pasang surut saat ada yang terlibat cinta segitiga. Gayatri dan Pringadi yang saling menyukai namun Pringadi telah beristri, dan sahabat mereka Arga dan Gafur menyukai gadis barista yang sama, Dira.
Cover Novel 4 Musim Cinta cukup bagus, sederhana dan catcheye, namun entah mengapa judulnya mirip dengan buku (Kumcer) Empat Musim Cinta : Tentang Kamu, Aku dan Dia yang terbit tahun 2010. Meski saya sepakat dengan judul novel ini rasanya tetap ada yang mengganjal.
Teknik penceritaan novel ini cukup kuat dengan 4 point of view didukung oleh bahasa yang puitik, satire dan kecantikan setting tempat. Sedangkan karakter tokohnya beberapa ada yang kuat dan ada yang masih belum tuntas.
Gayatri perempuan Bali yang bertipikal, mandiri, tangguh namun selalu jatuh cinta pada sosok yang tidak tepat. Baik Adam maupun Pring adalah orang-orang yang berbeda suku, agama, budaya, terlebih Pring telah mempunyai istri. Saya cukup memahami mengapa Gayatri jatuh cinta lagi dengan orang yang salah. .... Sedikit demi sedikit, bayangan masa depanku yang sudah diikat Pring dengan tatapan matanya, puisi-puisinya, juga kata-kata manisnya, membuatku nyaman sekaligus tidak nyaman. Mengapa perempuan mudah sekali luluh oleh tatapan mata, juga kata-kata?.... (Hal 259: 4 Musim Cinta)
Sayang sekali untuk penokohan Pring kurang dibuat secara detil bagaimana kepenyairannya. Gayatri yang digambarkan mengagumi sosok Pring yang penyair, namun hanya sedikit kita menemukan puitisnya Pring. Ada kalimat puitik dari Pring yang membuat saya de javu pada puisi Lautan Asmara di novel Senopati Pamungkas milik Arswendo
…Kenapa kita tidak iri pada hujan, Gayatri? Yang jatuh dan pecah hanya untuk sebuah kerinduan (Hal 116 : 4 Musim Cinta)
Pring bagi saya di sini adalah tokoh antagonis, sadar saat selingkuh, sadar membuat luka bagi Gayatri dan dirinya sendiri. Dan mungkin sebenarnya terlalu pengecut untuk memilih. Apakah harus ada orang kedua baru bisa merasakan jatuh cinta lagi pada orang pertama ?
….Gayatri, menegenalmu adalah cara semesta mengingatkanku bahwa cinta itu ada… (Hal 265: 4 Musim Cinta)
Kemudian persinggungan tokoh Arga yang introvert dan melankoli dengan tokoh Gafur yang lugas. Gafur merupakan tokoh kesukaan saya, jujur dengan sahwatnya, jujur dengan idealismenya. Saya tersenyum membaca kebiasaannya masturbasi dan kalimat-kalimat satirenya. Saya kira, hanya dalam fiksi kita diijinkan meliarkan fantasi atau memotret realitas apa adanya, Selain itu tokoh Dira, membuat novel ini sangat berwarna. Percakapan-percakapan cerdasnya dengan Gafur cukup filosofis. Seperti di bawah ini:
… Tahukah kau, Gafur? Kesedihan mungkin hal paling indah yang pernah diciptakan Tuhan. Dalam kesedihankamu bisa lebih menghormati hidupmu dan apa pun yang dulu pernah kamu miliki. Mungkin itu sebabnya ia sering datang tiba-toba, merembes di hatimu dan membasahinya.. (Hal 85: 4 Musim Cinta)
Konflik Arga dan Gafur yang “memperebutkan” Dira inilah yang menyatukan cerita dengan apik. Jahitan dalam 4 novel ini lumayan rapi bahkan kita tidak menyadari bahwa novel ini ditulis oleh 4 orang karena bahasa yang hampir sewarna di masing-masing point of view-nya. Sayang ada beberapa ganjalan sedikit, ada beberapa bahasa yang kurang “macho” dalam beberapa percakapan tokoh prianya. Meskipun ending ceritanya menyedihkan bagi semua tokohnya, saya akui novel ini lumayan mengaduk emosi.
Unsur kebaruan dalam novel ini adalah setting profesi. Sebagai Novel yang ditulis oleh 4 birokrat dan mendapat tempat terhormat di lingkungan dinasnya, bahkan para penulis ini mengawali novel ini dari even di lingkungan dinas, ini membuktikan bahwa ternyata ada dinas/kementrian yang mampu mewadahi impian terpendam dan kreativitas birokratnya. Menjadi PNS ternyata bisa jadi tidak membosankan, tidak melulu menjadi “baut” yang berpikir dan bekerja untuk Negara saja.
Sayang di Novel ini kita hanya melihat “otokritik” yang nanggung lingkungan dinas- khususnya, Kementrian Keuangan-, jangan berharap ada cerita tentang korupsi, para penulis masih menggambarkan tahapan awal seorang birokrat yang harus siap dimutasi. Halaman-halaman awal novel ini seperti manjadi area keluh kesah birokrat kita.
…orang-orang yang bekerja di Perbendaharaan adalah ujung tombak pencairan uang Republik ini yang jauh dari rumah, hidup berpindah-pindah dengan tingkat kesejahteraan yang relatif mengkhawatirkan. Sebagian besar penghasilan habis untuk membeli tiket mudik (Hal 22: 4 Musim Cinta) … Kau benar, Pring, Negara memang tidak selamanya jadi pemersatu (Hal 97: 4 Musim Cinta- saat Gafur hendak mutasi ke Kendari)
Meski sempat disinggung perihal sebagian perilaku birokrat yang menganut seks bebas, perilaku masturbasi itu adalah robekan “imaji” dari penulis yang masih terbilang muda ini. Percakapan-percakapan Gafur- Dira juga membuat kita akan paham bagaimana gambaran pekerjaan di lingkungan Kementrian Keuangan.
Membaca novel ini akan membuka mata kita bahwa tidak ada kehidupan yang biasa-biasa saja, hidup selalu memberi kita pilihan-pilihan dan kemungkinan, pun bila kita tidak memilih mungkin waktu dan semesta yang akan memilihkan sesuatu itu untuk kita. Saya masih percaya hidup bukan hanya tentang perkara mengatasi kekecewaan. Terimakasih untuk para penulis yang mengisi batin dan pengetahuan baru.
Pertama kali tahu tentang 4 Musim Cinta: Sebuah Novel ini, hati saya langsung diliputi penasaran. Dan kagum, sebetulnya. Bagaimana tidak, novel ini ditulis oleh empat PNS Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan RI. Satu –atau dua- di antaranya adalah kakak kelas saya di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Otak yang biasanya tertuju pada angka dan uang ternyata mampu merangkai kata-kata indah dalam jalinan kisah berlatar belakang lingkungan birokrasi. Jadi best seller di beberapa cabang Gramedia pula.
Mengambil latar belakang instansi Ditjen Perbendaharaan, novel ini berkisah tentang empat birokrat muda: Gayatri, Pring, Gafur, dan Arga. Mereka bekerja di pulau yang berbeda: Jawa, Sumbawa, dan Sulawesi. Mutasi di Ditjen Perbendaharaan memang tak kenal lokasi. Seorang pelaksana di Jakarta dapat langsung ditugaskan ke Kendari seperti yang dialami tokoh Gafur dalam novel ini. Fenomena mutasi ini cukup banyak dibahas dalam novel, terutama sebagai kesedihan dan keluh kesah Gafur karena harus melupakan kekasihnya di Jakarta.
Keempat tokoh utama diceritakan menjadi akrab dan bersahabat berkat Diklat Kepenulisan Kreatif yang diadakan instansi mereka di Lembang, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat. Gayatri yang cantik, single, namun sendu karena belum bisa move on dari kekasih lamanya, menjadi pesona bagi ketiga lelaki sahabatnya. Khususnya Pring sang penyair. Bahkan setelah keempat birokrat tersebut kembali dari diklat dan terpisah pulau, Pring masih rutin mengobrol dengan Gayatri, mengirim kata-kata puitis, bahkan membacakan puisi untuknya. Dapat ditebak, benih-benih harapan tumbuh dalam hati si Gadis Bali. Konflik muncul saat ia mengetahui status Pring: Menikah tanpa anak. Apa yang harus ia lakukan? Apakah kisah cinta Gayatri dan Pring akan berlanjut? Tegakah Pring meninggalkan istri yang tak meragukan kesetiaannya walau mereka hidup terpisah pulau?
Lain Pring, lain pula Arga. Tempat curhat Gayatri ini selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Itu sebabnya ia amat dipenuhi ekspektasi tinggi saat Gayatri memperkenalkannya dengan Dira, barista di kafe kopi langganan mereka. Arga sungguh tertarik pada Dira, tanpa mengetahui bahwa cintanya itu akan mempertaruhkan persahabatannya dengan Gafur ...
Minus dan Plus
Tiada karya yang sempurna, begitu pula novel ini. Para penulis menggunakan sudut pandang orang pertama (aku) pada tiap tokohnya. Penggunaan sudut pandang ini mengizinkan pembaca melarungi pikiran tokoh-tokohnya begitu dalam sampai hampir tak berujung. Setengah bagian dari novel ini berisi pikiran para tokoh yang tak berhubungan dengan alur cerita. Alurnya pun menjadi lambat sehingga pembaca harus bersabar hingga ke tengah novel untuk menemukan pengembangan konfliknya. Untungnya, bahasa yang digunakan sangat enak dan mengalir. Konflik memuncak menjelang akhir novel, memancing rasa penasaran pembaca untuk terus melaju demi mengetahui akhir kisah keempat sahabat tersebut. Alangkah baiknya bila konflik dibangun dengan lebih tajam, sehingga pembaca akan makin terpikat pada kisahnya.
Sebagai novel yang berlatar belakang kehidupan PNS, sebenarnya penulis dapat menyisipkan kisah atau karakter heroik pada cerita yang melambangkan perjuangan para abdi negara di tanah rantau. Hal ini –menurut saya- akan menularkan aura yang lebih positif dibanding keluh kesah pekerjaan yang menumpuk ataupun ketidakbahagiaan akibat mutasi. Hal lain yang saya sayangkan adalah betapa bebasnya hubungan antara lelaki dan perempuan yang digambarkan dalam novel ini. Khayalan tokoh lelaki –yang sayangnya bernama sangat islami- pun digambarkan dengan begitu vulgar. Semua digambarkan dengan datar sehingga saya berpikir, inikah realita pergaulan muda-mudi di Indonesia? Adakah hal ini telah dianggap biasa sehingga ‘wajar’ bila ditampilkan dalam cerita?
Bagaimanapun, novel ini telah meninggalkan pesan yang begitu mendalam pada hati saya: bahwa kita tak bisa mempercayai pasangan sepenuhnya tanpa usaha untuk mempertahankannya. Bahwa salah satu cara untuk membuat suami tidak setia adalah dengan membuatnya tak ridho atas tindakan kita. Bahwa manusia adalah makhluk yang tak terduga keputusannya. Bagaimana dengan kesan Anda?
Judul Buku : 4 Musim Cinta: Sebuah Novel Penulis : Mandewi, Gafur, Puguh, Pringadi Penerbit : Exchange Kota & Tahun Terbit : Jakarta, 2015 Cetakan : Pertama Halaman : 332 Hal, 20 Harga : Rp 59.500,- Peresensi : Inten Ratna Sari
SEBUAH NOVEL AMBISIUS YANG DITULIS 4 PEJABAT NEGARA
betapa tahun-tahun berharga terbuang percuma mencari bahagia ke mana-mana sementara sepanjang masa bahagia berada di dalam diri kita serupa sebutir benih terlunta menanti berbunga
1. Pernahkah kamu membaca sebuah novel yang ditulis oleh empat orang sekaligus? 2. Pernahkah kamu membaca sebuah novel yang ditulis oleh pejabat negara?
Bisa aku perkirakan, jawaban yang paling banyak adalah tidak pernah. Kalaupun ada, tentu sangat sedikit jumlahnya. Dan “4 Musim Cinta” (EMC) adalah sebuah novel yang ditulis oleh empat orang yang semuanya pejabat negara. Pejabat negara bidang Perbendaharaan Negara yang bernaung di bawah Departemen Keuangan RI. Tidak sedikit dari kamu yang mungkin pesimistis dengan novel yang ditulis oleh lebih dari dua orang. Jika kamu pesimistis, kamu tidak sendirian. Mulanya aku pun demikian. Juga beberapa orang yang pertama kali mengetahui bahwa EMC ditulis oleh empat orang, apalagi semuanya pejabat negara. Ya, pejabat negara yang setiap hari berurusan dengan angka, uang, di depan layar komputer mereka.
Tetapi ketika aku dan beberapa orang, yang awalnya pesimistis dengan novel ini, selesai membacanya, anggapan itu akhirnya tak cukup punya bukti. Kecurigaan bahwa novel ini hanya akan memuat fragmen-fragmen kisah atau pengalaman dari masing-masing penulis yang kemudian dipaksa-paksakan untuk menyatu dalam sebuah buku akhirnya sirna. EMC ditulis oleh Mandewi, Gafur, Puguh, dan Pringadi, didasarkan pada pengalaman nyata mereka ketika bertugas di berbagai daerah di seluruh Nusantara. Seting tempat kisahnya sangat beragam. Pringadi, pria Palembang yang pernah tiga tahun bertugas di Sumbawa; Gafur, pria Makassar yang pernah bertugas di Kendari; Puguh, pria Purworejo yang pernah bertugas di Natuna; dan Mandewi, gadis Bali yang bertugas di Jakarta. Alur kisahnya maju-mundur, sangat susah bagi pembaca untuk menebak apa yang akan terjadi pada bagian-bagian selanjutnya ketika sudah mulai membaca, hingga akhir. Tetapi semuanya itu terjalin menjadi sebuah kisah utuh tentang kehidupan cinta empat pejabat negara. Problem logika, koherensi, dan konsistensi tuturan, dapat diatasi dengan baik oleh para story teller-nya.
Terlepas dari keberhasilan para penulis dalam mengatasi problem penyusunan sebuah tulisan, yang bahkan sering kali dialami oleh banyak penulis tunggal, kisah dalam EMC pun tidaklah klise. Ada banyak sekali tuturan filosofis di dalamnya; dialog-dialog yang intens, cerdas, dan menggelitik pikiran; serta kuatnya penggambaran karakter beberapa tokoh di dalamnya. Judul “4 Musim Cinta” pun sangat menarik untuk direnungkan. Kenapa menggunakan frasa 4 musim? Aku sendiri tertarik mengaitkan 4 tokoh utama di dalam novel ini dengan 4 musim di bumi: Gayatri yang dingin, “cold inside”, merepresentasi musim dingin; Pring yang berbunga-bunga dalam kata, sang penebar puisi, merepresentasi musim semi; Arga yang selalu gagal dalam berhubungan dengan wanita merepresentasi musim gugur; dan Gafur yang “hot” dengan kekasih dan wanita-wanitanya merepresentasi musim panas. Sebuah judul yang sangat cerdas.
Dengan berbagai kualitas yang disuguhkannya, juga mengingat novel ini ditulis oleh empat pejabat negara, tak berlebihan jika aku katakan novel ini sebagai sebuah upaya yang ambisius dalam sastra Indonesia, yang layak mendapatkan apresiasi tersendiri.
Sebuah novel yang inspiratif ,penyampaian yang begitu natural .Alur maju mundur, dimana novel menceritakan keadaan empat orang birokrat muda yang dipertemukan dalam satu moment yang sama kemudian harus kembali ke masa lalu untuk menjelaskan beberapa birokrat muda itu telah saling mengenal sebelumnya dan akhirnya kembali maju dengan menceritakan sebuah perpisahan antara seorang sahabat dan cinta yang tak kunjung mendapat titik temu apakah cinta akan selalu tersimpan atau ia akan terhapus oleh sebuah penghapus yang selalu kita sebut dengan “waktu”.
Amanat yang tercantum dalam novel ini begitu membangun dan mudah di pahami terlihat sederhana tetapi ada keistimewaannya “Hidup itu seperti kopi”. Terserah kita yang mau memberinya pemanis seperti apa dan seberapa banyak. Begitupun dengan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan kita harus memikirkan takaran resikonya. Pahit, manis, dan hambar pun tidak bisa kita hindari, hanya bisa disiasati dengan kemampuan rasa.iyaaa…dengan kemampuan rasa, salah satu indera yang hanya dimiliki oleh makhluk ciptaan Tuhan yang disebut manusia. Manusia lah yang menentukan pilihan hidupnya apakah ia akan hidup dengan rasa pahit, atau manis, bahkan hambar. Itu tergantung dari seberapa banyak takaran kopi dan pemanis yang ia masukan kedalam air pada sebuah cangkir bernama kehidupan.
Keunggulan Novel : Novel ini mengajarkan kita akan apa artinya kehidupan yang sesungguhnya dan membuka paradigma kita tentang sebuah cinta, persahabatan, kesetiaan, dan tugas negara. Bahasanya sangat alami dan jujur dari para penulisnya. Menarik dan inspiratif sehingga kita akan dihanyutkan oleh alur ceritanya yang mudah dipahami. Rangkaian cerita yang disusun dengan apik. Pewatakan tokoh yang mudah dipahami dan digambarkan secara jelas dalam cerita ini. Dan novel ini salah satu bentuk cerita yang dipersembahkan untuk memaknai bahwa “rasa” itu selalu ada.
Novel ini sangat menarik untuk dibaca oleh siapa saja. Terutama para abdi Negara atau selaku pekerja pada umumnya. Karena konsepnya diangkat dari hal-hal sederhana yang sering terjadi dalam kehidupan. Sesuai dengan konsepnya novel ini banyak mengandung nilai pilosofi untuk memaknai hidup dan juga memberikan kita inspirasi, sehingga pesan dan kesannya mengalir secara alami kedalam lubuk hati dan pikiran.
Buku ini untuk memenuhi New Author Reading Challenge 2015
3,4 dari 5 bintang!
"Hidup seperti kopi. Aku sudah mencoba berkali-kali mencari perbandingan lain, tapi selalu kembali ke kopi lagi. Bahwa hidup ini pahit, tak beda dengan kopi. Tinggal bagaimana cara kita menikmatinya. Apakah kita akan memberinya gula atau menambahkan susu ke dalamnya, itu tergantung selera. Bila kita salah menakar apa yang kita tambahkan, kita juga yang akan menikmatinya. Apakah akan terlalu manis hingga mendatangkan penyakit atau cukup sebagai penawar pahit. Apakah akan direguk sampai habis atau ditinggalkan begitu saja?"
bumbu kisah persahabatan dan percintaan yang diracik dengan manis, konflik yang pas takarannya dan yah favorit saya disini ceritanya Gafur dan Dira yang cukup tragis dan menyayat hati saya
Ketika ditanya apa bagusnya novel ini, sebagai penulisnya, aku menjawab novel ini punya khazanah baru dan kaya dan ditulis dengan cara yang tidak mainstream.
Aku tak akan menyebut bagianku sebagai yang terbaik di novel ini, terlepas dari semua penulis berperan dalam keseluruhan cerita, saling mengisi, mengoreksi dan memberi masukan. AKu menyukai cara menulis Gafur yang lepas, tanpa beban, dan berhasil menghidupkan tokoh favoritku di sini. Tokoh yang seolah-olah bukanlah tokoh utama tapi dia memiliki peran sentral di dalamnya.
Em, ceritanya bagus. Tentang cinta diantara sekelumit orang yang saling berhubungan. Alurnya rapi, nggak ada miss timing, walaupun menggunakan 4 POV yang berbeda. Aku suka bagaimana 4 penulis ini bercerita. Kalimatnya dari tegas hingga manis dan menggetarkan. Apalagi Pring. PoV nya Pring manis banget saat bertutur.
Sayangnya aku agak pusing juga sih, karena alur maju-mundur yang digunakan tiap POV disini. Empat POV dengan alur yang maju-mundur. Twist di ending cerita okey juga. Walaupun aku lebih suka jika mereka semua pada akhirnya berpasangan :D.
Anti-mainstream. Sebuah novel yang tak biasa, ditulis oleh empat orang dengan empat sudut pandang. Juga dengan akhir yang tak biasa. Mengejutkan. Tapi menurutku ini bukan novel yang tergolong ringan tapi juga tidak berat. Namun tetap bisa dinikmati karena kalimat-kalimatnya yang padat dan cerdas! Banyak pelajaran yang bisa diambil. Banyak informasi yang diberikan. Rasakan saja sensasi 4 musim dalam satu buku!
Jika hanya mengandalkan kemampuan mencabik-cabik rasa penasaran pembaca, maka novel ini telah berhasil. Bahkan, ia mencabiknya hingga tak bersisa, alias saya tak punya rasa penasaran lagi. Ceritanya terlampau mudah ditebak. Lantas, apa yang membuatnya istimewa?
Buku ini membuat pembacanya merasakan setiap karakternya. Saya sangat menyukai tokoh Gafur yang sangat persuasif, menggambarkan karakter seorang lelaki yang terlena dengan cinta dari Dira. Kisah Gayatri dan Pring juga sangat mendebarkan. Benar-benar menggambarkan kehidupan karyawan-karyawati Indonesia dengan problem2 yang tengah dihadapinya.
Ini adalah sebuah upaya yang sangat berani. Sebuah novel yang ditulis oleh lebih dari satu orang biasanya sering gagal dalam penulisan. Tapi novel ini cukup berhasil. Saya memberikan bintang lima karena keberanian para penulis melakukan uji coba yang sangat berani dan berhasil ini!
Penulis : Abdul Gafur, Mandewi, Pringadi Abdi Surya, Puguh Hermawan
Penerbit : Exchange – PT. Kaurama Buana Antara
Tahun Terbit : April 2015
Tebal Buku : 332 Halaman
Harga Buku : Rp. 59.500,00
--------
Novel ini saya dapatkan dari penulisnya langsung saat menghadiri acara di kampus beberapa waktu yang lalu.
4 Musim Cinta adalah novel kuartet pertama yang saya baca. Sangat menarik bagi saya untuk membacanya lantaran jarang sekali sebuah novel ditulis oleh 4 orang sekaligus, terlebih lagi keempatnya adalah seorang pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Kementrian Keuangan yang berhubungan langsung dengan pemerintahan. Novel ini pun membahas bagaimana sisi lain dari kehidupan seorang birokrat yang selama ini dipandang masyarakat memiliki kehidupan yang makmur dan mahsyur. Mungkin bayangan dan anggapan orang-orang sebelum membaca novel ini akan terasa berat lantaran berkisah mengenai kehidupan para pegawai yang hanya berkutat dengan kebijakan pemerintah, isu politik, serta pengalaman kerja yang dianggap terlalu membosankan untuk dibaca. Namun, 4 Musim Cinta membantah semua anggapan tersebut.
Hal pertama yang menarik dari novel ini adalah covernya yang sederhana namun elegan. Bagi saya, cover merupakan elemen penting dari sebuah buku. Cover dapat diibaratkan sebagai wajah dari sebuah buku, dan merupakan penggambaran awal apakah buku tersebut menarik atau tidak untuk dibaca. Cover dalam 4 Musim Cinta adalah kecupan bibir merah merona yang merupakan bibir asli dari seorang perempuan.
Jika dilihat dari judulnya memang sama sekali tidak ada hubungannya antara bibir tersebut dengan kata ‘4 Musim’ yang dipakai pada novel. Namun pemilihan cover ini sebenarnya mengandung filosofi yang sangat indah dan anggun. Warna pada covernya yang dominan putih dan merah seolah melambangkan nasionalisme. Hal ini sangat menggambarkan keempat tokoh yang merupakan Pegawai Negeri Sipil, yang siap mengabdi dan ditempatkan dimana saja bahkan jauh dari keluarga. Idealisme yang seolah terkalahkan oleh nasionalisme. Sama halnya dengan pemilihan bibir yang seolah menggambarkan sebuah keberanian untuk mengungkapkan sesuatu dan bertutur kata, entah itu kata-kata jujur, puitis, kebenaran ataupun dusta.
4 Musim Cinta merupakan novel yang tergolong anti mainstream, dengan mengambil sudut pandang dari keempat tokoh yang bersangkutan. Para pembaca seolah dipaksa untuk ikut berpetualang dalam pergolakan pemikiran dan perasaan keempat tokohnya. Mengambil premis persahabatan diantara lika-liku kehidupan birokrat yang tergolong usia matang dan dewasa merupakan daya tarik tersendiri bagi novel ini, merupakan langkah yang berani disaat masyarakat saat ini masih terhanyut pada demam cerita-cerita romansa dan persahabatan remaja. Novel ini bercerita mengenai 4 orang birokrat muda yang memiliki permasalahan yang sama dalam hidupnya yaitu: Cinta.
Gayatri yang kembali merasakan jatuh cinta setelah putus dengan Adam, kekasihnya lantaran perbedaan prinsip dan keyakinan, namun yang menjadi masalah adalah ia jatuh cinta kepada Pring yang sudah memiliki istri. Pring seorang lelaki yang telah menikah muda, dan lantaran pekerjaan ia ditempatkan di Sumbawa harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Indah, istrinya yang memutuskan untuk melanjutkan studinya di Bandung. Sementara Gafur, menjalin hubungan yang cukup serius dengan seorang barista yang bernama Dira, yang enggan menikah lantaran suatu hal di masa lalu. Dan Arga, lelaki yang selalu gagal dalam urusan percintaan karena selalu terlambat mengungkapkan perasaannya hingga ia menemukan seorang wanita pujaannya. Akan ada banyak kejutan yang dihadirkan dalam novel ini mengenai nasib para tokohnya. Sebuah plot cerita yang sering ditemui pada novel-novel sejenis, namun dikemas dengan cara berbeda dan tidak biasa.
Pemilihan sudut pandang yang berpindah pindah antara tokoh satu dan tokoh lain, serta alur cerita yang maju mundur mengantarkan para pembaca untuk turut serta menerka-nerka kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya pada sang tokoh, serta menghubungkan rangkaian kejadian yang dialami oleh para tokoh. Meski keempat penulis memiliki gaya penulisan yang berbeda dalam memberikan penggambaran baik dari segi cerita maupun tokoh, namun hal ini tidak membuat cerita dalam novel ini menjadi klise dan membingungkan. Semua tokoh dalam novel ini pun memiliki karakter yang sangat kuat, dan memiliki peran yang penting dalam rangkaian cerita di novel ini, sehingga tidak ada satupun tokoh yang sekedar numpang lewat. Tokoh favorit saya dalam novel ini adalah Dira. Dira digambarkan sebagai tokoh yang mempunyai pandangan lain mengenai kehidupan dan masalah-masalah yang ia hadapi. Meskipun hanya sebagai tokoh sampingan, namun saya rasa Dira adalah tokoh sentral dalam novel ini. Mengenai kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam novel ini juga disampaikan oleh penulis dengan sangat apik melalui pemikiran tokohnya.
Tidak hanya membahas soal cinta, dalam novel ini banyak sekali mengandung diksi-diksi yang indah namun tetap dapat dicerna oleh para pembaca, karena kalimat dan tutur bahasa yang digunakan ringan dan sederhana. Dialog-dialog yang ditampilkan juga cukup segar namun cerdas, mengingat para tokoh yang sudah memasuki usia dewasa. Keempat penulis membuat para pembaca mudah untuk menikmati setiap perjalanan kisah para tokoh, dan membiarkan para tokoh hidup dalam imajinasi liar para pembacanya. Selain itu, banyak quotes, kritik sosial, dan filosofi tentang kehidupan yang disertakan dalam novel ini. Disisipkan pula sedikit informasi tentang dunia kerja yang digeluti para tokoh, termasuk mengenai konsekuensi atas pekerjaan tersebut, salah satunya ketika Gayatri tak bisa menghadiri ngaben ayahnya karena pekerjaan dan pilihan hidup yang telah ia pilih. Sungguh ironis, namun faktanya hal itu banyak terjadi disekitar kita. Namun tentu saja, pengetahuan dan informasi tentang dunia Kementrian Keuangan khususnya Direktorat Jenderal Perbendaharaan disampaikan para penulis dengan cara yang ringan dan tidak membosankan.
Namun sayangnya, penggunaan latar tempat yang beragam seperti Jakarta, Sabang, Kendari, Sumbawa, dan Natuna tidak dideskripsikan dengan cukup jelas. Padahal, akan sangat indah apabila disertai dengan pendeskripsian latar yang kuat, sehingga pembaca dapat memvisualkan tempat-tempat tersebut melalui imajinasinya. Mengenai judul 4 Musim Cinta saya sendiri memaknai judul tersebut merupakan gambaran dari karakter 4 tokoh utama yang mewakili 4 musim. Gayatri yang dingin, dan tertutup soal perasaannya mewakili musim dingin, Pring yang menebar cinta melalui puisi puisi romantis mewakili musim semi. Gafur dengan dunia-nya yang penuh hasrat dan gairah seolah menggambarkan musim panas. Serta Arga yang selalu gagal dalam hubungan percintaan layaknya musim gugur.
Jika Anda mencari sebuah buku yang memberikan sensasi dan pandangan lain mengenai cinta dan harapan, 4 Musim Cinta adalah jawaban yang tepat. Akan ada banyak selentingan kalimat-kalimat indah yang membuat anda mengerutkan dahi, berpikir sejenak, kemudian tersenyum mengikuti jalan pikiran para tokoh. Rasakan sensasi 4 Musim dalam satu buku yang hanya akan Anda temukan di novel ini. Saya memberi 4 dari 5 bintang untuk novel ini. Very recomended!
Ini adalah sebuah Novel yang ditulis berbanyak yang pertama kali saya baca, Selain problema cinta yang begitu pelik, disajikan pula problema pekerjaan dengan begitu apik, saya yang non-PNS, menjadi tahu dan bisa merasakan suka dukanya menjadi PNS. Beberapa (yang bisa dibilang) kritik terhadap sistem birokrasi pemerintah juga dipaparkan secara lugas, menambah nilai keunikan novel ini, selain pemaparan mengenai cinta, persahabatan dan kehidupan yang sangat filosofis. Banyak hal menarik yang disampaikan yang kadang saya baca bolak-balik dua atau tiga kali untuk menikmati berulang kesan indah dan wah yang ditimbulkannya. Namun ada beberapa repetisi deskripsi kejadian yang sedikit mengganggu yang (mungkin) memang tak bisa dihindari mengingat novel ini menggunakan sudut pandang dari tokohnya yang berbeda-beda, tapi menurut saya kejadian yang sama saya rasa tidak usah diceritakan dengan dua atau lebih dari sudut pandang tokoh yang terlibat dalamnya. Tapi overall tetap novel ini memiliki jalan cerita yang begitu menggugah perasaan, bahkan di saat hati saya sedang diliputi kegembiraan, novel ini mampu membuat saya bersedih, hehe. salaman.
4 rasa cinta yang dibawa keempat karakter terasa seperti 4 musim dengan ciri khas masing-masing dan tetap menampilkan sisi romantisme tersendiri meskipun sedang mengisahkan musim yang paling dingin.
Saya beri 4 bintang, suka dengan kesabaran penulisnya menguak rahasia-rahasia tokoh dengan perlahan, dengan bahasa yang mengalir.
Cintaku Belahan jiwaku Benarkah cinta merubah segalanya? Mungkin.... Cinta membuatmu semakin kuat Cinta membuatku semakin tegar Menjalani proses jatuh cinta dan mencintai Mengubah rasa cinta menjadi sayang Kisah kita, seperti kisah Gayatri di hal 107 Tapi kita menyikapinya dengan berbeda Karena untuk kita tidak ada kata kehilangan Karena cinta adalah sayang