Buku ini jauh lebih tipis daripada buku pertama. Kira-kira mungkin nyaris separuhnya. Tapi tetap informatif.
Berbeda dengan buku pertama yang lebih banyak membahas dunia forensik berdasarkan kasus per kasus (kasus-kasus yang menghebohkan seperti Pembunuhan Munir, Skandal Bre-X, dsb), buku keduanya ini lebih membahas pola kasus secara global. Pola kasus yang dibahas adalah:
1. Kasus malapraktik
2. Klinik aborsi
3. Pembunuhan anak oleh ibu
4. Kasus kejahatan seksual
5. Kasus bunuh diri
6. Kasus penembakan
7. Kecelakaan pesawat
8. Kasus kerusuhan
9. Penyalahangunaan obat tidur dan narkoba.
Selain itu dr. Mun'im juga meluruskan anggapan masyarakat umum bahwa dokter forensik hanya berurusan dengan mayat. Kedokteran forensik pun memiliki layanan forensik klinik yang berurusan dengan orang-orang yang masih hidup untuk berbagai kasus. Misalnya kasus penyalahgunaan narkoba, KDRT, HAM, dsb.
***
Dalam bab pertamanya, dr. Mun'im langsung membahas soal dilema dokter. Masyarakat seharusnya memperlakukan dokter seperti manusia biasa yang juga bisa melakukan kekeliruan. Juga bisa melakukan kejahatan (seperti aborsi ilegal). Bukan sosok yang pasti suci. Dokter forensik yang dikenal nyentrik ini juga menjelaskan prosedur dari organisasi profesi kedokteran terkait ketika menindak anggotanya yang diduga melakukan malapraktik atau melanggar kode etik. Dengan blak-blakan dia mengatakan bahwa kode etik kedokteran tidak menjamin para dokter pasti mematuhinya. Dan bahwa seharusnya dewan organisasi-organisasi ini bisa lebih tegas dalam mendisiplinkan para dokter yang melakukan kesalahan.
"Jangan profesinya yang dibela."
"Profesi dokter sama saja kedudukannya dengan profesi lain."
***
Paling ngilu itu waktu dr. Mun'im membahas soal kasus aborsi dan kejahatan pembunuhan anak.
Nanti dilanjut lagi. Mau lanjut baca Dunia Forensik Itu Lucu.
***
"Kalau kita menutupi kebenaran karena merasa takut atau tak enak hati, itu justru yang melanggar etika," kata dokter Mun'im pada suatu wawancara (halaman 172)