Minden könyvesbolt olyan, mint egy bűvös erdő. A titokzatos polcok között bolyongva valódi ritkaságokra, rejtett kincsekre lelhetünk, amelyek elgondolkodtatnak, álmodozásra késztetnek, sőt olykor az egész életünket megváltoztatják.
Ez történik A sarki könyvesbolt névtelen főhősnőjével is. A tizenéves lány igazi vadóc: anya nélkül nőtt fel egy erőszakos, szerencsejáték-függő apa mellett, nincsenek barátai, és az iskolában is állandóan bajba kerül. A rá váró, kilátástalannak tűnő jövő elől menekülve lázas kutatásba fog, hogy megtalálja rég nem látott anyját, és választ kapjon a kérdésre, miért hagyta el őt. A nyomok egy különleges könyvesboltba vezetik, amely azonnal elvarázsolja. Az üzlet hamarosan nemcsak a munkahelye, de az otthona is lesz, a szorgos hétköznapokat azonban különös vásárlók érkezése árnyékolja be...
A koreai szerző, Casey könyve hamisítatlan lélekgyógyító regény, amely nem csupán megható felnövéstörténet, hanem óda a könyvek varázslatos világához.
❝Bisa dibilang, tujuanku pergi ke toko buku adalah untuk mengalami gesekan yang menyenangkan dengan buku-buku yang secara kebetulan menyapaku.❞
Ayahnya memang baru saja meninggal, tetapi “Aku” sejatinya sudah tidak punya tempat pulang sejak ibunya pergi 10 tahun yang lalu. “Aku” pun tumbuh dengan kesepian dan luka batin, hingga akhirnya menemukan penyembuhan lewat sebuah toko buku. Di The Library, langkahnya dengan sang Ibu semakin dekat, membuka kesempatan untuk menebus kerinduan dan segala tanya yang selama ini mendambakan jawaban.
Buku ini unik banget! Sampai akhir, kita nggak tahu “Aku” ini sebenarnya namanya siapa, pun dengan tokoh-tokoh lain di buku ini yang diberikan nama panggilan khusus; Kuku Kaki, Hiki, Belek. Interaksi “Aku” dan temen-temennya juga lucu! ASBUN BANGET! Terkadang mereka tuh ada di kondisi yang-penting-NGOMONG, bukan ngomong-yang-PENTING. HAHAHA. Pokoknya dari ngatain satu sama lain [lovingly] sampai ngatain aparat #OOPS.
Made in Library pada dasarnya ngajakin kita mengikuti proses bangkitnya “Aku”. Keteguhan terpancar darinya yang meski hidup bersama ayah penjudi di tengah kesulitan ekonomi dan putus sekolah, tapi tak lantas membiarkan hidupnya berakhir begitu saja. Dan untungnya, dia nggak sendirian menghadapinya. Bersama Kuku Kaki, Hiki, dan Belek, walau masing-masing berada dalam kesulitan berbeda, mereka dapat berbagi perjuangan serupa dan saling menarik satu sama lain untuk bangkit bersama.
The Library nggak sekadar jadi latar cerita, tapi hadir sebagai hiburan dan penyembuhan yang membantu “Aku” bangkit dari luka yang ikut tumbuh bersama dirinya. Proses penyembuhan diri dan hubungannya dengan buku ini digambarkan dengan hangat. Di sana, “Aku” bertemu dengan Ibu Pengurus dan Kak Kenari yang menyambutnya dengan hangat sejak menjadi pelanggan hingga bergabung menjadi pegawai. “Aku” juga belajar banyak dari Ibu Pengurus, bahwa orang-orang yang terlihat baik-baik saja bisa jadi pada kenyataannya adalah orang-orang kuat yang sedang mengatasi tragedi dengan hati yang lapang. Sebagai pembaca, aku melihat bahwa kebaikan yang diterima tokoh utama “Aku” inilah yang mendorong dirinya untuk melakukan hal yang sama pada Kuku Kaki, Hiki, dan Belek. “Aku” ingin Kuku Kaki sukses dengan studionya, Hiki nggak lagi mengurung diri, dan Belek bisa menyelesaikan perkuliahan dengan baik.
Berdamai dalam hidup bagi “Aku” sendiri nggak hanya hidup mandiri dan lepas dari ayah yang gila judi, tetapi juga dengan menemukan ibunya. Nggak jarang kalau lihat sepasang ibu-anak di toko buku, “Aku” jadi keinget ibunya. Perasaan dia ke ibunya nih sebenarnya tarik-ulur, pengin ketemu tapi takut ibunya udah punya kehidupan lebih baik tanpa dirinya dan tentunya dia nggak mau mengacaukannya. Sedih banget, tapi ternyata lebih sedih lagi waktu tahu alasan ibunya "pergi".
Konsep The Library terasa seperti toko buku yang aku dambakan! Tata ruang hangat dan ramah anak, meja-kursi untuk membaca, papan pembaca untuk berbagi ulasan, pegawai yang paham betul buku untuk direkomendasikan. Mereka nggak hanya membangun bisnis, tetapi juga komunitas. Sebagaimana bagi “Aku”, membaca bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, melainkan akar yang menjadi penguat dalam menjalani hidup. Penulis juga tampak menikmati momen menyisipkan judul-judul seperti The Little Prince, The Old Man and the Sea, One Hundred Years of Solitude, hingga Cosmos, membuat novel ini terasa seperti surat cinta dari pembaca untuk pembaca lain.
Overall, Made in Library terasa cocok dibaca saat piknik di cuaca yang cerah; kisah di dalamnya mengantarkan sensasi hangat yang menjalar pelan, menghadirkan ketenangan, bahwa walau merasa hidup terasa sudah hancur, kita masih punya peluang untuk pulih, sebab setiap orang punya kesempatan untuk terlahir kembali.