What do you think?
Rate this book


274 pages, Paperback
First published March 1, 2015
Ini pertama kalinya aku baca karya Pak Sapardi Djoko Damono. And you know what's worst? I don't even know that this great writer even exist, hihi, sorry I'm so left behind. Yang penting aku sudah pernah membaca salah satu karyanya sebelum mati hehehe.
Well, sebelum sempat baca buku ini aku sempat googling siapa gerangan Pak Sapardi ini dan mengapa ia menjadi salah satu sosok penting dalam dunia sastra Indonesia. Ternyata Pak Sapardi ini seorang penulis puisi toh. Maksudku karya-karyanya lebih banyak dalam bentuk puisi.
Nah, pas aku baca buku bab awal. aku bingung. Kenapa seperti ini gaya berceritanya? Lumayan sulit dimengerti dan entah apakah dia sebenarnya cuma menulis puisi dalam bentuk narasi.
Tapi, ternyata enggak. Di beberapa bagian aku menemukan kalau ini bukan puisi, tapi serangkaian kata yang kudu dibaca dua kali bahkan lebih biar lebih ngerti. But still it's hard to understand and to follow. Hiks. Aku udah bertekad untuk memberi cerita ini tiga bintang. He's not good in making novel. He's a poet.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk take it easy. Baca aja, gak usah terlalu berusaha memahami. Entah bagaimana, aku malah mulai bisa mengikuti jalan ceritanya. Dan itu seru! Seperti menyusun puzzle-puzzle yang berantakan hehehe. Penuh misteri. am I a drama queen here? Dan rangkaian kata yang membingungkan itu bikin aku bersemangat untuk mengartikannya. Meski tetep ada yang sulit aku cerna.
Hmm, tokohnya boleh namanya Soekram. Tapi aku masih bertanya-tanya apakah ketiga bagian cerita ini sebenernya saling berhubungan? Kalo yang bagian satu dan dua sih aku masih bisa menduga kalo mereka berhubungan, tapi kalo sama bagian yang ketiga, rasa-rasanya terlalu jauh. Padahal tadinya aku udah bersemangat kalo yang ketiga akan menjadi kuncinya. Kayak cerita detektif gitu. Aduh, jadi agak kecewa juga sih sebenernya.
Tapi setidaknya ada satu benang yang menghubungkan bagian ketiga dengan dua bagian sebelumnya, yaitu tentang arti perjuangan. Mungkin Pak Sapardi punya pendapat pribadi soal perjuangan, apalagi marak kekerasan atau terorisme yang berdalihkan agama, juga peran para ksatria dalam Perang Bharatayudha. Bahkan perjuangan Yesus sampai menderita seperti itu tak layak diberi predikat pahlawan.
Mungkin Pak Sapardi inginnya berjuang tanpa kekerasan karena yang menjadi lawan adalah sesungguhnya kerabat kita sendiri, dan perjuangan itu nggak harus jauh-jauh dan juga sampai babak belur biar dikata Syuhada. "Karena Syuhada ditetapkan dari sana, bukan direkayasa." Lihat apa yang ada di sekitar kita dan cari tahu apa yang bisa kita bantu untuk memperbaiki kehidupan.
Sebenernya soal Syuhada itu kan sulit dipastikan apakah ia diciptakan dari sana atau direkayasa. Karena takdir sendiri sulit ditebak. Bagaimana kita tahu apakah kita memang ditakdirkan untuk menjadi Syuhada atau kita hanya mengusahakannya??? Hard to tell, actually. But in some parts I agree with his opinion. I don't really like violance like blood and gun and punch and kick etc.
Kata-kata Pak Sapardi yang paling bikin aku penasaran adalah "Di padang pasir tidak ada larangan memakan pasir. Dan tentunya tidak juga dilarang kalau tidak memakan pasir." dan "Jangan kunyah pasir itu , Soekram." Jadi pasir ini apaan sih artinya???
“Rupanya Soekram tahu bahwa jika file-file itu tidak dibuka, ia belum menjadi tokoh (tokoh fiksi baru menjadi ada jika dibaca, jika sudah masuk ke benak manusia). Jika semua yang pernah ditulis sahabatku itu lenyap dan belum sempat dibaca, roh Soekram akan mengembara”
“Oasis yang dengan sabar menunggu pengembara yang menempuh perjalanan, dan mungkin tersesat, di padang pasir. Pengembara selalu saja membayangkan oasis semacam itu, meskipun sering kali hanya, sayang sekali, menemukan oasis lain.”
"Aku sama sekali tidak tertarik lagi akan celoteh Soekram, tokoh rekaan yang ternyata tidak hanya ingin abadi tetapi juga ingin menulis kisahnya sendiri."
"Jadi, Anda juga mengenal mereka?"
"Bukan hanya kenal, Kram. Akulah yang dulu menciptakan mereka."
"Kau menciptakan mereka lagi sekarang, tanpa meminta izin dariku!"
Semar memerhatikan semua yang dilakukan Soekram, yang menunjukkan betapa tak pahamnya dia akan kisah yang ditulisnya sendiri.
"Soekram sudah pulang ke masa depan!"
Di padang pasir tidak pernah ada larangan untuk memakan pasir.
Di padang pasir tidak ada larangan untuk memakan pasir.