Jump to ratings and reviews
Rate this book

Trilogi Sukram #1-3

Trilogi Soekram

Rate this book
Edisi komplet dari Trilogi Soekram, yang sebelumnya diterbitkan dalam 3 buku terpisah, yaitu: Pengarang Telah Mati, Pengarang Belum Mati, dan Pengarang Tak Pernah Mati.

-------------------------

Saudara, saya Soekram, tokoh sebuah cerita yang ditulis oleh seorang pengarang. Ia seenaknya saja memberi saya nama Soekram, yang konon berasal dari bahasa asing yang artinya— ah, saya lupa. Tapi sudahlah. Apa pun nama saya, saya harus menerimanya, bukan? Pengarang itu sudah payah sekali kesehatannya, kalau tiba-tiba ia mati, dan cerita tentang saya belum selesai, bagaimana nasib saya—yang menjadi tokoh utama ceritanya? Saya tidak bisa ditinggalkannya begitu saja, bukan? Saya mohon Saudara berbuat sesuatu. Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono berkisah tentang tokoh

Soekram yang tiba-tiba loncat keluar dari cerita dan menggugat sang pengarang. Mengapa ia tak selesai ditulis. Mengapa ia tak bisa menentukan jalan ceritanya sendiri. Mengapa ia tak bisa menjadi pengarang. Mengapa kisah cintanya disusun dengan rumit. Antara Soekram dan Ida, Soekram dan Rosa, Soekram dan istrinya (tentu saja). Sejumlah pertanyaan itu membungkus kisah Soekram yang
mengambil latar di kampus, rumah tangga, dan peristiwa huru-hara Mei 98. Novel karya penyair besar Indonesia ini menunjukkan hubungan paling kompleks sekaligus paling sejati antara pengarang dan tokoh di dalam tulisannya.

274 pages, Paperback

First published March 1, 2015

65 people are currently reading
368 people want to read

About the author

Sapardi Djoko Damono

122 books1,587 followers
Riwayat hidup
Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Karya-karya
Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.

Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.

Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.

Kumpulan Puisi/Prosa

* "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
* "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
* "Mata Pisau" (1974)
* "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
* "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
* "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
* "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
* "Perahu Kertas" (1983)
* "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
* "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
* "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
* "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
* "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
* "Hujan Bulan Juni" (1994)
* "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
* "Arloji" (1998)
* "Ayat-ayat Api" (2000)
* "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
* "Mata Jendela" (2002)
* "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
* "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
* "Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
* "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)

Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya.

* Album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu.
* Album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari.
* Album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu
* Album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu
* satu lagu dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.

Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.

Buku

* "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
59 (13%)
4 stars
147 (33%)
3 stars
184 (41%)
2 stars
41 (9%)
1 star
11 (2%)
Displaying 1 - 30 of 97 reviews
Profile Image for Grasia Lingga.
5 reviews102 followers
July 8, 2015
Review : TRILOGI SOEKRAM, Kepengaranganmu sudah sampai di Bagian yang Mana?

Hahaha, saya memulainya dengan haha. Itu seperti respon kebingungan saya untuk menangkap apa sebenarnya yang diinginkan seorang Sapardi dalam trilogy pengarang ini. Saya seperti mendapatkan sesuatu yang special, penting tapi tidak jelas apa. saya dipaksa untuk meliarkan pikirkan, memberanikan diri, mengarang apa saja. namanya juga karangan. Apa saja. itu perintahnya, paling tidak itu yang saya tangkap. Seorang pengarang harus berani memunculkan tokoh dan karakter yang gila dan aneh sekaligus, sekalipun tidak diterima banyak orang, tapi toh itu hanya karangan. Mungkin pertama-tama memang seperti itu dulu.

Soekram dilahirkan secara sederhana oleh Sapardi. Lewat komputer jadul, dan disimpan di selipan-selipan file yang mulanya tak berarti, dan entah karena apa, Soekram melarikan diri, menemukan dirinya sendiri, dan menyusun ceritanya sendiri, meninggalkan Sapardi, bahkan menebar gossip pada edisi ’Pengarang Belum Mati’ , bahwa pengarang pertama (yang dalam hal ini, saya tangkap adalah Sapardi) sudah mati. Ia tebar gossip itu, agar ia bebas melanjutkan kisahnya sendiri, tanpa pengarang lain. bahkan dengan berani, ia memunculkan tokoh-tokoh baru, kekasih-kekasihnya, istrinya, anaknya dan konflik-konflik diantara kedua, ketiga dan kempat orang diantaranya.

Soekram itu cerdik, dan sedikit plin plan, di akhir cerita, dia ketakutan sendiri atas apa yang dia rancang dan susun. Dan dia sangat ingin menyenangkan dirinya sendiri, dan dia tahu betul bagaimana caranya. Yang saya pikirkan, apa sebenarnya yang dipikirkan seorang Sapardi, sehingga merelakan tokoh yang ia ciptakan menentukan sendiri nasibnya tanpa ia (Sapardi) ribet memikirkannya.

Pada trilogy pertama ‘Pengarang Sudah Mati’: Konflik yang dihadirkan Sapardi adalah konflik batin antar tokoh, terutama Soekram yang kebingungan menentukan sikap pada perempuan-perempuan yang ia atau Sapardi yang ciptakan. Rosa, ida dan tentu saja istrinya. Ini seperti praktek poligami yang belum dan tinggal menunggu di halalkan lewat ritual agama. Soekram dengan mudah bergaya sok suci dan lugu, saat berhadapan dengan istrinya, dan dalam cerita ini, tentu saja istrinya harus pura-pura tidak tahu dan harus merasa kasihan kalau melihat suaminya, Soekram itu pulang dan kelelahan. Ia harus buru-buru menyiapkan teh, air hangat dan obrolan sapa basa basi untuk menunjukkan bahwa ia (istrinya) tidak mencurigai hubungannya dengan mahasiswinya, Rosa. Seperti halnya konstruksi yang sudah dibangun masyarakat kita, bahwa seorang istri yang baik adalah ia yang setia menunggui suaminya pulang kerja, entahpun kerja apa. entahpun apa perangainya di luar sana, entahpun apa yang ia (suami) lakukan di luar sana. Seorang istri yang baik, tentu saja harus siap dengan resiko apapun, pun dengan jawaban kesal suami saat obrolan basa basi dimulai. Harus sabar, harus manut, ya tentu harus terima nasib jadi istri. Sapardi menggambarkannya dengan jelas.

Padahal, istri Soekram, dulunya adalah teman kuliahnya, yang sama pintarnya, yang sama hebatnya, tapi harus kalah dengan konstruksi. Bahwa perempuan pada pertarungan terakhirnya, harus setia menunggui suami pulang kerja. Dan kalau boleh, jangan ikut-ikut kerja.

Pada cerita ‘Pengarang Sudah Mati’ juga, Sapardi membuat pengelompokan dan tingkatan kelas tokoh lewat nama. Dan itu jelas saja bias sekali. Nama Rosa diberikan pada tokoh mahasiswi, aktivis yang penuh semangat. Yang pada akhirnya, dicintai Soekram pula. Ida adalah nama yang diberikan Sapardi untuk selingkuhannya, hampir bisa dikatakan istri kedua tak sahnya. Minuk adalah nama istrinya yang paling sah. Dari pemilihan nama, tentu secara sadar dan tidak sadar, kita sepakat, atau anggap saja hanya saya yang sepakat, bahwa tanpa dijelaskanpun, pembaca sudah tahu, bahwa pemberian nama ‘Minuk’ yang entah apa artinya itu seperti nama perempuan tua, istri tua dan sekali-sekali nama asisten rumah tangga. Seperti menjelaskan bahwa seorang istri yang hanya bisanya di rumah, sembarang saja diberi nama. Walau entah dalam bahasa apa, ‘Minuk’ memilki makna yang lebih indah dari apa yang saya tangkap. Tapi maksud saya, disana ada kelas yang sengaja di bangun oleh Sapardi, ataupun Soekram untuk menjelaskan apa itu perempuan. Dan bagi saya, itu sama sekali tidak menyenangkan.

“yang di hadapannya adalah minuk, istrinya. Tetap menatapnya dari seberang meja makan. Anaknya tidur. Anak umur setahun belum bisa bermimpi”

Tidak hanya itu, pada akhirnya, perihal cerita ini adalah jebakan bagi pembaca yang hanya memilki nilai sastra yang masih standar. Di satu sisi, ia begitu terlihat sederhana, bahasa-bahasa sederhana, konflik-konflik sederhana, dan tokoh-tokoh yang sudah tentu sederhana, tapi Sapardi membuat alur yang cukup rumit. Susunan cerita yang cukup memutar otak. Sapardi memaksa pembaca, khususnya saya harus fokus, hapal, dan ingat betul tiap alur yang dia bangun pada tiap-tiap episode. Seperti melompat-lompat, tapi berbenang merah, dan bagi siapa saja yang tidak memperhatikan dengan jelas, tentu akan menganggap bahwa trilogy ini adalah cerita yang konyol.

Satu hal yang membuat saya sangat terkesan adalah, Sapardi berhasil membunuh pengarang dalam cerita ini. iya, pengarag benar-benar mati di bagian ini. bagian dimana pengarang tidak punya pilihan dan ide cerita yang menarik selain kisah seorang dosen pintar, memilki istri yang biasa saja dan satu orang anak laki-laki yang belum bisa bermimpi. lalu selingkuh dengan rekan kerja, dan selingkuh pula dengan mahasiswinya karena intensitas pertemuan yang seringkali teerjadi. Tentu tanpa diketahui dan disadari istrinya. Lalu muncul konflik batin, dan tidak ada pertengkaran anatar Soekram dan Minuk, istrinya. Karena memang tidak ada pilihan di antara keduanya untuk bertengkar. Yang saya pahami, dari bagian ini, entah benar, entah salah, Sapardi berusaha menjelaskan, kematian pengarang dimulai dari ketiadaan ide baru dan berani. Sehingga ia memunculkan cerita yang sungguh standar. Iya, pada bagian ini,Sapardi berhasil membunuh pengarang.

Pada trilogy ke dua, “Pengarang Belum Mati”, Soekram menebar gossip bahwa pengarangnya sudah mati, lalu dengan atas hak pribadi, ia merasa direstui untuk melanjutkan alur cerita, karena ia berhak menuntut pengarang terkait nasibnya dalam sebuah cerita. Begitulah kira-kira. Lalu, pengarang yang lain muncul, dan mengabarkan bahwa pengarang yang menciptakan Soekram itu belum mati. Ia hidup kembali, atau dia memang tidak pernah mati. Hanya Soekram saja yang terlalu berambisi untuk menuliskan ceritanya sendiri.

“tetapi, pertemuan pertama toh sering merupakan ukuran yang bisa dipergunakan untuk menentukan apakah persahabatan perlu diteruskan atau tidak”

Kutipan itu merupakan perjalanan pertama pada cerita kedua ini. dari awal, Soekram sendiri berhak memutuskan kepada siapa dia berteman, kepada siapa dia jatuh cinta, dan kepada siapa dia percaya. Masih bercerita soal romansa pemuda yang galau. Karena konflik yang muncul bukan hanya soal laki-laki dan perempuan, lalu pacaran, lalu menebar kemesraan, lalu marah-marahan, lalu berkelahi dan lalu mengakhiri hubungan. Tidak. Konflik yang dimunculkan Sapardi ataupun Soekram adalah konflik dua orang yang jatuh cinta, tapi ya itu beda keyakinan terkait menyoal urusan ketuhanan. Sempat membuat Soekram tidak terima, bingung, dan kacau, tapi toh. Ia percaya keberadaan Tuhan.walau sejak kecil, ia tidak pernah diajari shalat, berdoapun tidak.

“Tetapi, jauh di sebuah sudut terpencil di hatinya ia percaya bahwa Tuhan, atau entah apa pun namanya, ada”

Pada bagian ini, Sapardi menggambarkan bagaimana indahnya bersama dalam keberbedaan. Soekram di beri teman dari Bali, dan mereka bisa akur. Hingga pada akhirnya, jatuh cinta pada Maria, perempuan Katolik. Sudah bisa tebak lah kan bagaimaa rumitnya perjalanan cinta mereka. Dan sudah pasti, tanpa restu.

“ Ucapkan terimakasih kepada jalan, meskipun tidak akan pernah membawamu ke suatu tujuan yang jelas. Ia menengok ke kiri-kanan. Lengang”

Pada bagian ini, Sapardi berhasil menghidupi pengarang lagi. ia munculkan konflik yang seringkali muncul di masyarakat tapi sulit untuk dibahas dan dibicarakan. Keberagaman. Sapardi menghidupkan kembali persoalan-persoalan remeh temeh namun penting. Saya melihat bahwa cara menghidupi pengarang adalah peka terhadap urusan-urusan sederhana, mampu menjelaskan atau memungkinkan member gambaran dan solusi terbaik, yang mesti dilakukan. Sapardi mencoba menghidupi pengarang dengan member ide-ide baru, tapi masih dalam tahap kesadaran. Tahap persoalan sosial, tahap konflik kebatinan antara manusia dan tuhan yang entah dimana. Sapardi menghidupi pengarang dengan masuk pada ruang-ruang privat, yang memungkinkan untuk kita otak atik lagi, atau kita perdebatkan lagi, atau kita sepakati. Dan pada bagian ini, Pengarang hidup kembali dengan gagasan sederhana dan tentu saja baru.

Pada trilogy ke tiga “ Pengarang Tak Pernah Mati” , saya menangkap bahwa pada bagian ini, Sapardi membuktikan bahwa kekuasaan terbesar pada sebuah karya sastra ada pada pengarangnya, bukan pada keadaan, bukan pada tokoh, bukan pula pada apa yang sudah tertanam di masyarakat. Sapardi menunjukkan kekuasaan penuhnya, bahwa apapun bisa kau ceritakan, selama itu murni dari kesadaranmu, murni dari hatimu, murni dari pengetahuanmu.

Ceritanya terlihat konyol, dan asal-asalan, bagaimana mungkin seorang tokoh yang diciptakan mampu menjalani karakter dan alur sesuai kemauannya, bukan apa maunya pengarang. Bahkan, pertanyaan konyol muncul setelah membacanya, “Apakah, kita tidak pernah bertanya atau paling tidak memikirkan apakah tokoh yang kita ciptakan menyenangi perannya?” atau “Mungkinkah sebenarnya, sebagai pengarang kita begitu egois, sehingga kita cenderung menuliskan apa yang menyenangkan menurut kita? apa yang kita sukai? Apa yang tidak bertentangan dengan masyarakat? Atau bagaimana alur ini berjalan aman dan lancar, tanpa ada yang bertanya, sebenarnya ini cerita apa?”

Sampai disini, saya bisa merasakan kekuatan Sapardi, ia dengan berani merubah-rubah cerita sejarah. Ini yang sering kita lupakan, bahwa legenda adalah legenda, siapa yang berhak atasnya? Selain pengarang itu sendiri. Dan kita tidak perlu menuhankan alur cerita dan penokohan, sehingga harus berjalan sesuai apa yang sudah lebih dahulu diceritakan. Seperti halnya, Kartini, Siti Nurbaya, Datuk Meringgih, Samsul, dan Hanafi. Tokoh-tokoh tersebut di aduk-aduk oleh Soekram, sesuka hatinya, tanpa peduli apa nanti komentar masyarakat yang sudah menganggap cerita tersebut adalah cerita sejarah. Yang kebenarannya juga masih dalam tanda tanya sebenarnya. Lagi-lagi, kekuasaan terbesar sebuah cerita ada pada pengarang. Paling tidak, itulah yang saya tangkap dari cerita ke tiga trilogy Soekram. Pada bagian mana kepengaranganmu sekarang tinggal?

Dan pada akhirnya, seberapa hebatpun tokoh yang kau ciptakan, seberapa tangguh dan beraninyapun peran yang dia mainkan, pengarang tetap berkuasa membuat dia sengsara, ketakutan, dan ya kehilangan. “Soekram sudah pulang ke masa depan”.
Profile Image for fayza R.
227 reviews56 followers
August 24, 2016
*bingung mau kasih berapa bintang, antara 4 dan 5*
okeee pada akhirnyaa 5! *yeeeee* *hands clapping*

hari ini hari Rabu! Drakor W-Two Worlds ep 10 rilis dong yaaa malem ini lalayeye
oke, iya, ini enggak penting bahas drakor W nya (tapi buat Faizah penting)
tapi etapiiiii agak sedikit ada irisannya sama cerita Trilogi Soekram ini, bagian si tokoh yang diciptakan pengarang protes akan ceritanya dan pengen bikin alur sesuai keinginan dia. NAH.

dan endingnya, bikin ekspresi Faizah semacam,
"HAH?" (mata melirik ke kanan)
"HAH?" (mata melirik ke kiri)
"DUH" (memejamkan mata)
Lalu mengerutkan kening sampe kerut banget banget banget


Sebentar, ini bleber banget apa yang mau ditulis (dan pasti bakal ada yang kelewat aja teuteuup)
Sebelumnya, angkat topi dulu sama SDD, enggak pernah kecewa sama karyanya (cuma kadang kasian aja, kadang sama sebuah penerbit serasa terlalu di forsir tenaganya huhu). Dan, ini, genius dalam kesederhanaan kata. Khasnya SDD. Kalau baca sekilas pasti menganggap ceritanya gak jelas banget, terkesan asal-asalan, yang penting Soekram bahagia, tapi bacanya pelan-pelan, gak usah di-skip, karena di dalam kalimat-kalimat yang menurut kita enggak penting itulah letak kepentingannya.

Jadi buku ini dibagi menjadi 3 bagian,
1. Pengarang telah mati
(di bagian ini, Soekram merasa hidupnya ngegantung dan nyalahin pengarang karena keburu wafat duluan sebelum menyelesaikan ceritanya)

2. Pengarang belum mati
(di bagian ini, Soekram nyebar gosip bahwa pengarangnya sudah wafat dan menemui sahabat si pengarang, lalu minta dilanjutkan cerita tentang kehidupannya)

3. Pengarang tak pernah mati
(disini, cerita bergulir segimana Soekram, semau Soekram, Soekram adalah si tokoh juga pengarang ceritanya)

Awalnya agak rumit bacanya, karena lompat-lompat setting yang digunakan si Soekram, tapi lama kelamaan malah merasa tersedot ke obrolan ceplas ceplos semau Soekram. Ceritanya cukup apik, tentang perjuangan, tentang cinta, tentang harta, dll dikemas dalam bentuk kalimat sederhana, terkesan nyeleneh padahal jleb.

Setting waktu dan tempat yang diambil juga lompat-lompat, di US, di Jakarta th 1998 (reformasi), sampai makan pil waktu ke zaman penjajahan Belanda. Dan. Err, tetiba ngakak karena ada tokoh Marah Rusli dalam cerita ini.

Plotnya asik, bikin penasaran pengen baca sampe selesai dengan pertanyaan 'terus nasib Soekram di akhir gimana ? Karena dia adalah si pengarang juga tokoh utama'.

Ada satu kalimat yang diulang-ulang SDD di buku ini,

"Di padang pasir tidak ada larangan memakan pasir. Dan tentunya tidak juga dilarang kalau tidak memakan pasir.", "Jangan kunyah pasir itu , Soekram."
Sampai sekarang masih mencari maknanya, mmmm atau ini cuma Faizah aja yang terlalu memikirkan kalimat ini terlalu dalam ?
Tapi-penasaran.

Profile Image for Irul Hudonegoro.
10 reviews13 followers
April 18, 2015
Damono mencoba memunculkan kembali dialektika 'Pengarang Telah Mati', 'Pengarang Belum Mati', dan 'Pengarang Tidak Pernah Mati' dalam sebuah cerita. Memang cerita menjadi sulit untuk dinikmati, namun menjadi sangat menarik ketika kita membaca dari frame dialektika tersebut. Di bagian pertama, yang diberi tajuk Pengarang Telah Mati, Damono membuat cerita dari si tokoh utama menjadi sangat longgar. Membuat kita selalu bertanya tanya, 'ini tokoh utama macam apa?', dan memaksa kita untuk membuat tafsir terhadap tokoh utama. Di bagian kedua, Damono mencoba menghadirkan peran penulis dengan membuat cerita yg agak rapat, tokoh yg agak punya karakter kuat, dan mencoba mengarahkan kita sebagai pembaca pada pemahaman terhadap maksud makna yang dibuatnya. Di bagian ketiga, 'Pengarang tidak pernah mati', cerita menjadi agak kacau. Berbagai tokoh dari cerita lain dimasukkannya. Seolah ia ingin menunjukkan bahwa itulah yang terjadi saat pembaca/kritikus melakukan tafsir terhadap sebuah karya sastra. Memang sering kali seorang kritikus melakukan pembandingan tokoh antara karya satu dan karya lain, atau pembandingan terhadap beberapa hal dari unsur di dalam karya tersebut. Dari sanalah seolah muncul pengarang baru. Pengarang baru yang muncul karena telah melakukan dekonstruksi terhadap sebuah karya.

Kira-kira seperti hal itu yang aku tangkap dari buku ini.
Profile Image for Alvin Zirtaf.
Author 4 books31 followers
June 20, 2015
Cerita pertama masih dimaafkan. Cerita kedua masih dimaklumi. Cerita ketiga... Cukup! Dirumit-rumitkan, seakan kisahnya belum ruwet sejak awal. Sekali penyair, akan selalu menjadi penyair, sepertinya.
Profile Image for Nau.
195 reviews
December 25, 2017
sebenarnya, ketika aku menyelesaikan buku ini, aku agak dilema ingin memberi berapa bintang untuk ini. sebenarnya bukan karena buku ini jelek atau semacamnya, tetapi buku ini punya plus dan minus yang sama beratnya dan membuatku bimbang.

di sisi plus, Sapardi cukup jenius dalam menciptakan sebuah kisah tentang seorang tokoh fiksi bernama Soekram yang menggugat nasibnya pada seorang editor, yang merupakan teman dari pencipta Soekram yang meninggal dunia. dari titik itu, sudah terlihat bagaimana Soekram mengalami pergolakan tentang keinginannya untuk mengubah kisah hidupnya dengan satu cara: menulis ceritanya sendiri sehingga ia tidak dapat "mati" (yang justru cukup lucu karena tokoh fiksi, tentu saja tak dapat mati). ditambah dengan narasi yang mendetail dan puitis, cerita ini menjadi lebih menarik daripada yang lain.

di sisi minus, kisah di buku ini sebenarnya tidak punya plot yang jelas dan cenderung "mengambang". padahal aku mengharapkan ada banyak cerita tentang Soekram dan masalah yang menimpanya, mulai dari para perempuan yang ada di hidupnya dan keadaan yang kacau pada kerusuhan 98. ternyata cerita soal itu hanya dijelaskan pada bagian pertama saja. ditambah narasinya yang tidak "to the point" karena ya pasti lah, banyak banget ungkapan-ungkapan puitis untuk mendramatisir ceritanya :")


4 bintang (3.5 dibulatkan ke atas) untuk ini meskipun cerita di dalamnya kurang sesuai dengan ekspetasiku :")

(dan aku panjang lebar di review dengan bahasa indonesia karena ASDFGHKL KENAPA CERITANYA HARUS SEPERTI INI?!)
Profile Image for mollusskka.
250 reviews159 followers
July 1, 2020

Ini pertama kalinya aku baca karya Pak Sapardi Djoko Damono. And you know what's worst? I don't even know that this great writer even exist, hihi, sorry I'm so left behind. Yang penting aku sudah pernah membaca salah satu karyanya sebelum mati hehehe.

Well, sebelum sempat baca buku ini aku sempat googling siapa gerangan Pak Sapardi ini dan mengapa ia menjadi salah satu sosok penting dalam dunia sastra Indonesia. Ternyata Pak Sapardi ini seorang penulis puisi toh. Maksudku karya-karyanya lebih banyak dalam bentuk puisi.

Nah, pas aku baca buku bab awal. aku bingung. Kenapa seperti ini gaya berceritanya? Lumayan sulit dimengerti dan entah apakah dia sebenarnya cuma menulis puisi dalam bentuk narasi.

Tapi, ternyata enggak. Di beberapa bagian aku menemukan kalau ini bukan puisi, tapi serangkaian kata yang kudu dibaca dua kali bahkan lebih biar lebih ngerti. But still it's hard to understand and to follow. Hiks. Aku udah bertekad untuk memberi cerita ini tiga bintang. He's not good in making novel. He's a poet.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk take it easy. Baca aja, gak usah terlalu berusaha memahami. Entah bagaimana, aku malah mulai bisa mengikuti jalan ceritanya. Dan itu seru! Seperti menyusun puzzle-puzzle yang berantakan hehehe. Penuh misteri. am I a drama queen here? Dan rangkaian kata yang membingungkan itu bikin aku bersemangat untuk mengartikannya. Meski tetep ada yang sulit aku cerna.

Hmm, tokohnya boleh namanya Soekram. Tapi aku masih bertanya-tanya apakah ketiga bagian cerita ini sebenernya saling berhubungan? Kalo yang bagian satu dan dua sih aku masih bisa menduga kalo mereka berhubungan, tapi kalo sama bagian yang ketiga, rasa-rasanya terlalu jauh. Padahal tadinya aku udah bersemangat kalo yang ketiga akan menjadi kuncinya. Kayak cerita detektif gitu. Aduh, jadi agak kecewa juga sih sebenernya.

Tapi setidaknya ada satu benang yang menghubungkan bagian ketiga dengan dua bagian sebelumnya, yaitu tentang arti perjuangan. Mungkin Pak Sapardi punya pendapat pribadi soal perjuangan, apalagi marak kekerasan atau terorisme yang berdalihkan agama, juga peran para ksatria dalam Perang Bharatayudha. Bahkan perjuangan Yesus sampai menderita seperti itu tak layak diberi predikat pahlawan.

Mungkin Pak Sapardi inginnya berjuang tanpa kekerasan karena yang menjadi lawan adalah sesungguhnya kerabat kita sendiri, dan perjuangan itu nggak harus jauh-jauh dan juga sampai babak belur biar dikata Syuhada. "Karena Syuhada ditetapkan dari sana, bukan direkayasa." Lihat apa yang ada di sekitar kita dan cari tahu apa yang bisa kita bantu untuk memperbaiki kehidupan.

Sebenernya soal Syuhada itu kan sulit dipastikan apakah ia diciptakan dari sana atau direkayasa. Karena takdir sendiri sulit ditebak. Bagaimana kita tahu apakah kita memang ditakdirkan untuk menjadi Syuhada atau kita hanya mengusahakannya??? Hard to tell, actually. But in some parts I agree with his opinion. I don't really like violance like blood and gun and punch and kick etc.

Kata-kata Pak Sapardi yang paling bikin aku penasaran adalah "Di padang pasir tidak ada larangan memakan pasir. Dan tentunya tidak juga dilarang kalau tidak memakan pasir." dan "Jangan kunyah pasir itu , Soekram." Jadi pasir ini apaan sih artinya???

Profile Image for Rai Indah Nurbani.
9 reviews9 followers
June 2, 2016
Ini adalah buku pertama Sapardi yang aku baca. Bagian pertama lumayan, bagian kedua OK, bagian ketiga benar-benar ngejelimet buatku. Mungkin karena aku baru saja hijrah ke dunia sastra jadi kurang paham betul dengan isi novel ini; atau memang tujuan novel ini adalah membuat bingung pembacanya (akibat perilaku Soekram yang seenaknya bikin cerita sendiri). Butuh kerja keras buat pembaca awam sepertiku untuk membaca novel ini sampai selesai.
Profile Image for Hidayu Hatta.
Author 4 books10 followers
January 11, 2018
Novel ini meresahkan. Di sela-sela halamannya membangkitkan perasaan yang tak enak. Perihal perjuangan, perihal cinta, hidup, Tuhan.

Menurut saya, ia berkisar manusia yang mahu menjadi Tuhan demi merencanakan jalan cerita sendiri, tapi akhirnya pening dan tidak mengerti.
Profile Image for David Dewata.
341 reviews3 followers
June 28, 2016
Nggak paham. Buku ini terlalu "tinggi" bagi saya
Profile Image for Aya Prita.
168 reviews21 followers
August 13, 2016
Sebulan penuh ini dihabiskan membaca karya Sapardi terus.
Saya masih bosan sama karya-karya kontemporer luar yang notabene begitu aja, serius buooosen banget. Ternyata, pilihan saya memilih membaca karya-karya Sapardi.... bener-bener healing banget. Pilihan saya tepat ohohoho.

Setelah saya dibuat il-feel sama novel "Hujan Bulan Juni" baca review saya dimari, saya dibuat terkesan lagi sama Sapardi. Baik, langsung saja.

-yes:
1. Struktur penulisan. Masih seperti novel "Hujan Bulan Juni", saya masih kagum kekurang-ajaran si Sapardi untuk membuat struktur penulisan. Dia masih berani membuat penulisan fiksi bak sebuah puisi, namun masing-masing masih memiliki arus yang tenang. Dia masih mempertahankan penulisan di era postmodernis dimana gamau terkait dengan teori-teori sedemikian rupa.

2. Gaya bahasa. Celetukan bahasa Jawanya. Masih membuat saya terkesima!

3. Ide cerita->alur cerita. Serius, di buku ini ide ceritanya wow banget. Nah, yang bikin saya terkesima lagi, kan kebanyakan semua penulis punya ide cerita yang wow, tapi pas dibaca... ga dapet feelingnya. Nah, si Sapardi ini berhasil menggambarkan si Soekram yang seenaknya sendiri bikin cerita, ubah-ubah cerita.. sampe berantem sama si pengarang asli agar dia menang terus. Akhirnya? Kalau ending-nya sih, saya angkat topi! Beneran nih, heart-breaking machine!


-no:
1. The time-bending alias alurnya yang loncat-loncat. Oke, saya fifty-fifty sama alur ceritanya. Suka iya, nggak suka iya.. Well, dia penulis posmodernis, dan jelas dia nggak bakalan lihat pakem-pakem penulisan fiksi. Tapi, kalau dibaca... Juga bikin bingung banget sih.

2. Soekram. Well, good job, Sapardi, saya jadi buenci banget sama Soekram. Dari seenaknya sendiri bikin cerita, sampe pemilihan cewek-ceweknya.

Overall, buku ini bagus untuk makanan otak. Sekali-sekali lah otaknya diajak naik roller coaster *ketawa getir*
Profile Image for Devianti Kusumastuti.
8 reviews27 followers
September 18, 2015
belum sampai selesai membaca bab kedua, saya mulai lelah dan memutuskan untuk tidak melanjutkan membaca novel ini hingga waktu yg belum bisa ditentukan. otak saya gagal memahami gaya penulisan serta alur cerita yang rumit. ya mungkin begitulah gaya sapardi bercerita, yang sayangnya tidak berjodoh dengan saya. hehehe
Profile Image for Jessica Huwae.
Author 7 books32 followers
July 4, 2015
Ketika tulisan pengarang favoritmu tidak lagi menggentarkanmu, mungkin waktunya dalam proses pembacaan dan penikmatan sastra dalam hidupmu sudah berakhir. Dan untuk Pak SDD, ternyata saya hanya suka bila dia menulis puisi dan esai saja.
Profile Image for Farissa.
237 reviews28 followers
February 21, 2016
DNF

Saya ingin sekali menyukai buku ini. Tapi entahlah, rasanya tidak bisa.

Saya cukup menyukai bagian pertama, tapi pada bagian kedua saya benar-benar harus bersusah payah untuk membacanya.

Akhirnya saya menyerah. Mungkin buku yang seperti ini memang bukan buat saya.
Profile Image for Hib.
47 reviews6 followers
November 6, 2024
Ini sih bukan bukunya yang jelek, tapi guanya yang ga paham "sastra"nya hahahaha. Meskipun hah heh hoh bacanya, tapi mungkin dengan menuliskannya kembali bisa sedikit melerai untaian benang ruwet di kepala.

Buku ini dibagi menjadi 3 bagian:
1. Pengarang Telah Mati
Di cerita ini, pengarang cerita Soekram dikisahkan telah mati sebelum menyelesaikan cerita yang dibuatnya (ya cerita Soekram itu sendiri). Maka dari itu si Soekram yang mana harusnya dia ini kan cerita fiksi ya, tapi dia bangkit dan menggugat ke teman si pengarang yang mana editornya si pengarang untuk berbuat sesuatu. Akhirnya si editor ini membuka lagi file-file cerita yang belum sempat diterbitkan. Cerita berlatar waktu tragedi 98 di Jakarta, Soekram yang merupakan dosen muda yang baru pulang dari studi luar negerinya, terjebak di situasi rusuh 98 dan kisah cinta segi empatnya (?) dengan 3 wanita termasuk istri sahnya. Mengapa Soekram bangkit dan menggugat ke editor pengarang? Tak lain tak bukan karena dia mau abadi dalam sebuah cerita. Karena menurutnya untuk apa tokoh rekaan diciptakan kalau bukan untuk diterbitkan dan dikenal oleh orang banyak?

“Rupanya Soekram tahu bahwa jika file-file itu tidak dibuka, ia belum menjadi tokoh (tokoh fiksi baru menjadi ada jika dibaca, jika sudah masuk ke benak manusia). Jika semua yang pernah ditulis sahabatku itu lenyap dan belum sempat dibaca, roh Soekram akan mengembara”


“Oasis yang dengan sabar menunggu pengembara yang menempuh perjalanan, dan mungkin tersesat, di padang pasir. Pengembara selalu saja membayangkan oasis semacam itu, meskipun sering kali hanya, sayang sekali, menemukan oasis lain.”


Soekram dan oasis. Istrinya oasis dalam rumahnya. Ida oasis dalam perantauan di tengah kerinduannya dengan rumah. Rosa oasis di kampusnya mengajar, di tengah hiruk pikuk kerusuhan Mei 98. Tapi ini salah. Lalu, apakah semua laki-laki selalu tidak cukup dengan 1 oasis saja?

Nah, dari sini permasalahan berlanjut. Tokoh penulis yang katanya sudah mati itu datang lagi menemui editor dan menggugat mengapa isi ceritanya demikian. Maka dari itu berlanjutlah di bagian selanjutnya.

2. Pengarang Belum Mati
Pengarang yang entahlah sudah mati atau belum itu memberikan naskah asli cerita Soekram yang dibuatnya sendiri. Dia menuntut sang editor untuk bertanggung-jawab dengan menerbitkan kembali naskah yang asli. Tapi yang membingungkan (setidaknya untukku) adalah latar waktu yang digunakan mundur ketika Seokram kuliah masih menjadi mahasiswa. Mulai dari cerita masa kecil, sejarah keluarga, persahabatan, dan percintaan semasa kuliah. Menyinggung perihal lingkungannya yang sarat akan perbedaan SARA. Di akhir, diceritakan Soekram diperintahkan untuk masuk kedalam gua yang terkenal untuk pesugihan (?) di Daerah Madiun. Tapi ga paham deh apa sebenarnya maksud yang ingin disampaikan.

3. Pengarang Tak Pernah Mati

"Aku sama sekali tidak tertarik lagi akan celoteh Soekram, tokoh rekaan yang ternyata tidak hanya ingin abadi tetapi juga ingin menulis kisahnya sendiri."


Bagian ini makin lucu lagi. Jadi, si Soekram ga hanya puas di situ aja. Lebih jauh lagi, dia ingin menuliskan cerita versinya sendiri. Bahasa yang lebih kasarnya lagi, dia ingin mengotak-atik cerita pengarang lain yang tidak ada hubungannya dengan dirinya maupun pengarangnya sendiri. Kita ditarik mundur lebih jauh lagi di masa penjajahan, lebih tepatnya masa ketika cerita sejarah Siti Nurbaya ada. Yap benar, Soekram menyusup dalam cerita sejarah terkenal Siti Nurbaya. Dan cerita yang dibuatnya sangat jauh berbeda dibandingkan dengan cerita aslinya yang pernah kita dengar atau baca semasa kecil. Soekram seenaknya saja memasukkan dirinya sebagai tokoh di antara Datuk Meringgih dan Siti Nurbaya lalu mengacak-acak alur ceritanya. Dan mengejutkannya lagi, di bagian menjelang akhir, sang penulis jadi-jadian akan bertemu dengan pengarang asli dari cerita Siti Nurbaya ini.

"Jadi, Anda juga mengenal mereka?"

"Bukan hanya kenal, Kram. Akulah yang dulu menciptakan mereka."

"Kau menciptakan mereka lagi sekarang, tanpa meminta izin dariku!"


ke-soktau-anku berkata kalau buku ini ingin menunjukkan kalau apapun isi ceritanya ya terserah si pengarang. Mau pembaca ga suka ya namanya pengarang punya hak mutlak untuk menentukan kemana arah cerita tokoh rekaannya. Buku ini tuh kayak menggambarkan Sapardi ngobrol sama tokoh-tokoh rekaannya gitu.

Semar memerhatikan semua yang dilakukan Soekram, yang menunjukkan betapa tak pahamnya dia akan kisah yang ditulisnya sendiri.


Jadi, apakah sebenarnya Semar ini adalah mata-mata dari masa depan aka pengarang asli Soekram?

"Soekram sudah pulang ke masa depan!"


Tapi misteri kutipan satu ini yang konsisten dari awal sampai akhir ada, tapi masih belum ketemu juga apa artinya.
Di padang pasir tidak pernah ada larangan untuk memakan pasir.
Profile Image for Vanda Deosar.
68 reviews4 followers
September 28, 2017
Saudara, saya Soekram, tokoh sebuah cerita yang ditulis oleh pengarang. Ia seenaknya saja memberi saya nama Soekram, yang konon artinya berasal dari bahasa asing yang artinya – ah, saya lupa. Tapi sudahlah. Apapun nama saya, saya harus menerimanya, bukan? Pengarang itu sudah payah sekali kesehatannya, kalau tiba-tiba ia mati, dan cerita tentang saya belum selesai, bagaimana nasib saya – yang menjadi tokoh utama ceritanya? Saya tidak bisa ditinggalkannya begitu saja, bukan? Saya mohon Saudara berbuat sesuatu.

Begitulah sinopsis yang terpampang di bagian belakang sampul buku, menarik bukan? Jujur selain karena suka dengan pengarangnya, buku ini menarik dari segi ceritanya. Awalnya saya pikir ini hanya menceritakan konflik antara pengarang dan tokoh yang dikarangnya. Ternyata, bukan! Ditulis dalam 3 cerita, pengarang telah mati, pengarang belum mati dan pengarang tak pernah mati, Sapardi Djoko Damono mengemas kisah Soekram dalam alur yang semau-mau pengarang, semau-mau tokohnya namun bermakna.

Mengapa ia tak selesai ditulis? Mengapa ia tak bisa menentukan jalan ceritanya sendiri? Mengapa ia tak bisa menjadi pengarang? Mengapa kisah cintanya disusun rumit? Antara Soekram dan Ida, Soekram dan Rosa, Soekram dan istrinya (tentu saja) serta Soekram dan Siti Nurbaya. Inilah alasan mengapa tokoh itu loncat keluar dari kisahnya dan menuntut untuk menulis jalan ceritanya sendiri.
Bagian cerita pertama menceritakan Soekram yang pulang dari masa mengajarnya di daerah dan kembali ke tanah Jawa bersama isterinya, semenjak di daerah, Soekram berselingkuh dengan Ida, perasaan Soekram sangat kompleks antara lari ke Ida atau isterinya di rumah. Semasa di Tanah Jawa, Soekram mengajar di universitas (menurut saya ini kampus Trisakti) dan bertemu dengan mahasiswanya yang mengagumi Soekram karena juangnya untuk Indonesia, Rosa, yang entah kenapa dari sekedar makan siang bareng di kampus menjadi bobo bareng di hotel. Berlatar kejadian tragedi 98, Soekram dihadapkan untuk memilih antara mahasiswanya atau para dosen, cerita di akhiri dengan bentrok mahasiswa dan aparat.

Bagian kedua, jujur saya bingung, tiba-tiba cerita lompat begitu saja ke masa kecil Soekram dan
keluarganya. Kenapa Soekram menjadi ikut-ikutan politik juga dijelaskan dan lebih banyak membahas agama serta politik. Dibanding keluarganya yang lain, nenek Soekramlah yang paling sering dan selalu menasehati Soekram untuk sholat.

“Kau sudah sholat, Soekram? – hal. 113

Lalu dibayangkannya sosok Maria yang dia taksir dan menurut dia, Maria juga naksir, secara tidak langsung merayunya ke gereja.

“O ya, ayahku bilang ia pernah melihatmu ikut misa di Gereja Kota Baru. Mungkin ia salah lihat” – Hal. 117

Soekram yang tidak pernah sholat dan berharap menjadi pacar Maria pun bingung, mana agamanya. Ketika bingung dengan agamanya, ayahnya yang fanatik partai banteng pun menyuruh-nyuruh Soekram untuk menjadi kader partai. Sedangkan adiknya, berandalan pemberontak yang berjuang untuk mengusir para “londoh” dari tanah Jawa akhirnya harus mendekam di penjara.

Petani itu tersungkur, darah di dadanya
Matanya masih menyala juga
Tidak akan kumaafkan setan-setan ini
Tak boleh berkeliaran setan-setan ini

Soekram yang menjadi kader partai agar terlihat berguna dan tidak mau kalah dengan adiknya, selalu diingatkan sesuatu oleh teman-temannya :

“Kau boleh makan pasir, Soekram. Ini bukan padang pasir” – hal. 113

Dan sampailah pada cerita akhir yang menurutku sangat mengada-ada, Soekram pergi ke Sumatera untuk membantu perjuangan Datuk Meringgih dan jadilah cinta segitiga antara Datuk – Soekram – Siti Nurbaya. Karena bagian ini adalah kemauan Soekram dan dia yang menulis kisah ceritanya, Soekramlah pemenang dari segala-galanya.

Ujung-ujungnya penulis datang dan marah-marah, lama kelamaan pengarang kesal dengan tokoh ciptaannya, namun tak berani juga mematikan tokoh tersebut karena bagaimanapun pengarang bisa mati namun tokoh ciptaan akan terus abadi.

Overall, saya terhibur sekali dengan kisah Soekram, bahasa yang digunakan sangat menyentuh karena memang yang menulis penyair hehe. Saya juga agak sedikit takjub dengan tokohnya yang muslim walau bukan muslim yang baik, diselipkan beberapa doa dan bacaan shalawat nabi SAW. Walau sinopsisnya begitu, nyatanya kisah Soekram dikemas dengan tema yang sangat kompleks. Sukses banget buku ini bikin kesal sama tokoh dan pengarangnya. Pikiran saya pun setiap baca kisah beliau adalah : ini serius nih? Sambil ketawa-tawa. Novel karya penyair besar Indonesia ini sangat menunjukan hubungan yang rumit sekaligus paling sejati antara pengarang dan tokoh utama tulisannya. Menurut saya, teman-teman yang sangat menyukai kisah sedikit rumit dan bikin kesal namun dikemas dalam bahasa sastra yang kental, buku ini wajib sekali dibaca!
Profile Image for Umara' Nur Rahmi.
62 reviews5 followers
April 26, 2020
"Tidak ada apa pun di dunia ini selain kosong, sebab hanya dalam yang kosong itulah kita menemukan isi. Isi, dengan demikian hanya bisa bersama yang kosong, wadahnya. Bukankah langit kosong tetapi isi ? Dan bukankah hatimu penuh dengan isi tetapi kosong?" (Hlm. 112)
➖➖➖➖

Saya sebenarnya bingung ingin memberikan review seperti apa untuk novel ini 😅

Tapi, berhubung saya baru saja menyelesaikannya, biar tidak lupa, saya coba saja dulu menuliskan apa yang masih membekas dari kisah dalam novel ini.

Adalah Soekram, tokoh utama yang ditulis oleh seorang pengarang, yang katanya sudah mati tapi ternyata belum, dan mungkin tidak pernah mati. Namun, karena penasaran akhirnya ia mencoba "loncat" dari cerita dan menuntut pengarang karena masih belum jelas akhir dari nasibnya. Yang saat sudah sampai akhir, memang tidak jelas juga nasibnya bagaimana 😅

Seperti judulnya "Trilogi Soekram" novel ini menceritakan 3 bagian kehidupan tokoh Soekram yang ternyata tidak memiliki kaitan satu sama lain, atau ternyata memiliki keterkaitan ? Entahlah. Nah kan, saya sendiri bingung...😂

Mungkin satu kata yang menjadikannya memiliki keterkaitan adalah kata "perjuangan". Yaa, hanya melalui kata ini akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa kisah dalam novel ini sedang membahas tentang perjuangan dari beragam latar kisah yang "kesana-kemari" 😅

"Ucapkan terima kasih kepada jalan, meskipun tidak akan pernah membawamu ke suatu tujuan yang jelas" (Hlm. 100)

Di bagian "Pengarang Telah Mati" saya sempat dibuat jengkel akan tokoh Soekram dan ingin mengatainya "Dasar laki-laki!!". Tapi, saya sadar bahwa saya tidak memiliki hak untuk berkata demikian, karena mungkin, itu bagian dari fitrahnya sebagai laki-laki, "Aah..dasar laki-laki" eh..kok saya malah mengatakannya? 😅

Di bagian "Pengarang Belum Mati" saya mulai merasa bahwa tokoh Soekram menjadi lebih bijak, terlihat dari alur cerita yang sedikit tidak mulai lebih serius. Ketika menjelang akhir ceritanya bersama tokoh Maria yang cukup pelik, saya justru ingin mengatakan, "Tuh, rasa-in...!!" 😂

Dan terakhir, pada bagian "Pengarang Tak Pernah Mati" saya justru dibuat terpingkal-pingkal. Kenapa pula Datuk Meringgih, Sitti Nurbaya, Samsul, dll tiba-tiba dibawa serta dalam alur cerita yang sangat berlawanan dari kisah karangan "Marah Rusli" itu ? Jadilah alur kisah dalam novel Sitti Nurbaya yang pernah saya baca (baru sebagian) ambyar 😂

Sampai sini, siapakah Soekram ini sebenarnya ? 😅

Tapi, baiklah, sekarang mari coba lebih serius. Abaikan saja apa yang saya tulis di atas. Sebenarnya, secara tidak langsung, pengarang (sesungguhnya - Eyang Sapardi) mungkin sedang ingin menekankan kita untuk lebih menelisik lagi apa yang dimaksud dengan demokrasi, revolusi, nasionalis, penjajah dan terjajah, kaum proletar, keyakinan dan banyak lainnya yang akhirnya membuat saya sadar bahwa jika dikaitkan dengan kata "perjuangan" itu semua tidak mudah, apalagi saat mengimplementasikannya. Apalagi jika dihadapkan untuk melawan pemerintah yang "neko-neko". Apalagi jika dihadapi oleh situasi yang cukup genting. Apalagi jika sudah berkaitan dengan perasaan. Apalagi... apalagi dan apalagi lainnya 😆

Intinya, ada banyak hal yang harus dipikirkan, dan novel ini seperti hadir sebagai teman untuk menemani kita selama proses berpikir tersebut. Walaupun mungkin, beberapa darinya tidak menemukan jawaban yang pasti..😅

Overall, saya suka membaca novel ini, karena saya masih bisa mengikuti alur kisahnya yang "kesana-kemari" itu dengan baik dan sampai tuntas 👏

Novel ini saya rekomendasikan bagi teman-teman yang ingin ikut berpikir kritis, sebagaimana jalan berpikirnya Soekram. Tokoh rekaan, juga pengarang rekaan, tapi ingin dianggap ada dan mengabadi.

"Bahwa yang dinyatakan sebagai demokrasi itu ternyata sama sekali tidak ada hubungannya dengan demokrasi yang dibayangkan. Tetapi siapa yang membayangkan? Apa pula yang dibayangkan oleh siapa itu ? Memang dirasakannya bahwa demokrasi sudah menjadi sarapan setiap orang. Mungkin." (Hlm. 49)

"Revolusi yang sedang berjalan sekarang ini banci, harus ada revolusi yang sungguh-sungguh, yang besar, yang membebaskan petani dari setan desa dan memerdekakan buruh dari setan kota" (Hlm. 106)

"Karena sejak awal ia diyakinkan bahwa bahasa di manapun sama saja, yakni bahasa pikiran dan perasaan, bahasa persaudaraan, bahasa yang telah diciptakan agar semua bisa saling memahami dan menghayati. Masalahnya adalah bagaimana kita menangkap tanda-tanda yang mendasari bahasa itu, yang sumbernya ada dalam diri setiap orang. Dan diri orang itu, kata kakeknya yang kebatinan, sama saja di mana pun, meskipun berlain-lainan." (Hlm. 168)
Profile Image for Fitria.
7 reviews
March 23, 2017
Cerita pertama mengisahkan Soekram, tokoh utama yang tidak terima bahwa pengarangnya mati, bahkan sudah dikuburkan. Ia mendatangi sahabat pengarang untuk melihat dan meneruskan cerita, tentu saja atas usul cerita dari Soekram sendiri. Sehingga di cerita pertama adalah cerita dari pengarang yang belum selesai, tentang Soekram yang seorang dosen, sudah menikah, namun mempunyai hubungan gelap dengan Ida. Ia juga mulai menyukai mahasiswanya bernama Rosa. Ah Soekram disini, adalah sesosok lelaki biasa yang mudah jatuh cinta namun memegang kuat idealismenya. Dia tidak mau ikut-ikutan, karena settingnya saat Mei 98. Aku lebih suka Soekram di cerita pertama ini, karena Soekram disini digambarkan sebagai lelaki yang bijak, tidak melulu menuruti nafsu dan lingkungan yang huru-hara, ia lelaki yang masuk akal, menurutku.

"Suasana di tanah air terasa semakin panas. Kami di sini seperti hanya melakukan tindakan demi tindakan, tanpa sepenuhnya tahu untuk apa. Dan ke mana arahnya. Dan apa kelanjutannya. Dan mahasiswaku, anak-anak cerdas yang selalu tampak bersemangat itu. Mereka nanti mendapat apa dari itu semua?" (Hal. 71-72)

Berikut cuplikan dari surel Ida yang dikirimkan ke Soekram.

"Aku mencintaimu, Kram. Tidak peduli kau sudah beristri dan punya anak. Aku punya hak untuk mencintaimu, seperti halnya-tentu saja-istrimu." (Hal. 42)

"Aku mencintaimu, Kram. Ah, film. Tapi aku memang mencintaimu dan tidak ingin kau menceraikan istrimu dan meninggalkan anakmu. Kau tahu itu. Dan aku juga merasakan kau mencintaiku, meskipun sama sekali tidak ingin menceraikan istrimu karena kau memang mencintainya. Mungkin benar, laki-laki bisa mencintai beberapa perempuan sekaligus, tapi aku tak bisa. Aku perempuan. Dan akan tetap hanya mencintaimu." (Hal. 42)

Dan berikut jawaban Soekram kepada Ida.

"Kau tentu tahu makna sebuah keluarga, setidaknya dari apa yang sering diocehkan profesor sinting itu. Oasis yang dengan sabar menunggu pengembara yang menempuh perjalanan dan mungkin tersesat, di padang pasir. Pengembara selalu saja membayangkan oasis semacam itu, meskipun sering kali hanya, sayang sekali, menemukan oasis lain." (Hal. 71)

Cerita kedua berkisah tentang Soekram yang masih menjadi mahasiswa sekaligus aktivis. Sebenarnya saya tidak begitu memahami isi cerita kedua, disini Soekram harus mencari sebanyak-banyaknya orang untuk masuk ke dalam organisasinya. Idealismenya masih ada namun mulai terkikis, karena secara realita terkadang memang idealisme itu tidak diperlukan masyarakat kebanyakan. Itu yang saya tangkap disini, terkadang kita hanya perlu melakukan apa yang sudah tradisi.

"Tidak ada apa pun di dunia ini selain yang kosong, sebab hanya dalam yang kosong itulah kita menemukan isi. Isi, dengan demikian hanya bisa ada bersama yang kosong, wadahnya. Bukankah langit kosong tetapi isi? Dan bukankah hatimu penuh dengan isi tetapi kosong?" (Hal. 112)

"Ucapkan terima kasih kepada jalan, meskipun tidak akan pernah membawamu ke suatu tujuan yang jelas." (Hal. 100)

Lalu beranjak ke cerita ketiga, disini Soekram benar-benar tidak setuju dengan cerita kedua. Ia mengambil alih penuh cerita ketiga, ia ingin menjadi pengarangnya sendiri. Ia bahkan menghadirkan Datuk Maringgih (atau Datuk Meringgih), Siti Nurbaya, Kartini, Sena, Parta, bahkan Marah. Namanya juga Soekram, tokoh utama cerita yang membuat ceritanya sendiri, jadi ya suka-suka dia. Dikisahkan Soekram yang mulai menyukai Siti Nurbaya, namun Siti Nurbaya telah jatuh hati kepada Datuk Meringgih karena perjuangannya. Ketika justru Siti Nurbaya dan Datuk Meringgih memilih pergi bersama, disinilah Marah muncul menghentikan usaha Soekram yang mengejar mereka. Ia mengatakan bahwa Siti Nurbaya dan Datuk Meringgih itu sudah mati, janganlah dicari lagi.

Intinya dari buku ini yang saya tangkap, bahwa kita tidak bisa memaksakan keinginan kita seenak jidat. Ada aturan yang berlaku, ada "Pengarang Yang Agung" yang sudah menentukan cerita kita. Kita hanya perlu melakukan tugas kita, jangan sok-sok membuat jalan cerita sendiri, itu sudah ada pengarangnya sendiri. Entah saya yang lagi down atau apa, tapi saya memahami buku ini seperti itu. Terlepas dari ceritanya, saya suka gaya bahasa Bapak Sapardi, tentu saja, tak diragukan lagi. Serta ide yang diambil, bagaimana bisa seorang tokoh utama sebuah cerita malah mengarang kisahnya sendiri. Jadi teringat sama Drama Korea W, yang pecinta Drakor pasti tahu.
Profile Image for Dyah.
27 reviews8 followers
April 29, 2022
Di padang pasir tidak ada larangan untuk memakan pasir.


Saya rasa ini salah satu underrated classicnya SDD. Sebetulnya sebelum menulis ini saya sempat mengintip dulu laman bukunya, sekadar penasaran pikiran orang, dan ternyata agak kaget juga saya mendapati cukup banyak yang tidak suka. Begitu selesai membaca ini langsung jadi favorit saya.

Mulanya saya baca karena dua hal: saya kangen SDD, dan saya kangen baca sastra Indonesia lagi. Premis sinopsisnya sangat menggelitik saya. Sekalipun ternyata butuh lebih lama bagi saya menyelesaikan ini daripada yang diperkirakan, karena beberapa hal, buku ini saya yakin jadi salah satu highlight perjalanan membaca saya tahun ini.

Pada level permukaan sinopsisnya sudah menjelaskan ini buku soal apa: hubungan antara pengarang dan karakternya. Rumit, kadang saling marah-marah, tapi toh ternyata ada timbal-balik juga meski ditampik. Saya sendiri merasa sangat relate sebagai penulis. Perkara karakter ini memang amat ngena, rupanya, bagi saya setidaknya, karena ragangan yang awalnya A ketika ditulis ternyata jadi B karena karakternya "bandel". Ada kalanya saya merasa seperti Pengarang kreatornya Soekram: wah, punya karakter kok ya susah diatur. Punya karakter kok ya melunjak. Tapi ya, sebagaimana sang Pengarang di babak ketiga, ya sudah, biarlah karakter itu mau berbuat apa semau mereka. Nanti juga keblinger sendiri.

Di level yang lebih dalam, novel ini padat dan susah dikunyah juga saking penuhnya, walau secara jumlah halaman ia sangat tipis, dan ditulis dalam fragmen kecil-kecil. Barangkali SDD sengaja supaya lebih mudah dikunyah. Di antara beberapa topik yang diangkatnya di sini ialah: kosmologi fiksi, modernitas, agama, moralitas, serta seksualitas. Dan itu yang saya ingat dan saya tangkap saja. Sebagaimana pula orang lain, ada beberapa hal yang terbang di atas kepala saya, ga ketangkep, tapi saya rasa memang pada akhirnya novel ini harus dinikmati dengan sejumlah kerelaan untuk menikmati ketidaktahuan itu. Seperti pula Datuk Meringgih di akhir babak ketiga: kau tidak selalu tahu dan tidak harus selalu tahu. Begitu.

Selain gaya penulisan SDD yang khas, novel ini jadi sangat seru karena saya menangkap beberapa referensi pop culture yang sebetulnya bukan pop culture juga, seperti misalnya polemik revolusi belum selesai vs revolusi telah selesai di 50-an, dan mistik Islam, dan tentu saja, kesusastraan Indonesia (seperti Pram). Saya merasa jadi murid yang menangkap lelucon lama dosen sepuhnya. Sekalipun saya tidak mengelak bahwa, terutama pada beberapa bagian, cara SDD membawakan novel ini terkesan menggurui, hal tersebut saya rasa dilakukan dengan fantastis. Ia membiarkan banyak hal mengambang, tidak jelas dieja di halaman, dan itu hal yang patut dikagumi bagi saya. SDD seumpama membiarkan siapapun yang berkehendak menikmati untuk menikmatinya; tidak meminta dipahami, tidak menuntut dimengerti.

Penokohan Soekram dalam ketiga babak pun terasa sangat cerdas: mereka adalah tiga orang berbeda yang satu orang. Bagaimana? Ya, seperti Spider-Mannya Maguire berbeda dengan Spider-Mannya Garfield atau Holland. Dalam masing-masing ketiga babak itu ia berhadapan dengan tiga hal berbeda, tapi kegamangannya terus terasa sekalipun dengan nuansa lain. Soekram babak pertama nampak apatis bahkan ketika Reformasi hampir lahir. Soekram babak kedua cukup idealis di tengah gejolak Orde Lama. Dan Soekram babak ketiga, melancong ke masa kolonial, adalah protagonis yang bukan protagonis; protagonis yang tidak tahu caranya jadi protagonis.

Kekurangan buku ini, bila disebut demikian, adalah (selain nada cerita yang bisa terkesan menggurui) chauvinisme laki-laki Soekram. Hal tersebut tidak terlalu ditentangkan secara naratif, atau bahkan dikritisi. Kehadirannya cukup tebal di beberapa bagian sehingga saya sulit juga mengabaikannya. Namun memang dasar saya sudah kepincut SDD duluan, ya, saya bisa menutup mata sampai selesai sebelum menilik ulang.

Saya selalu belajar banyak cara menulis dari SDD. Dari buku ini pun saya memetik lebih banyak hal dari yang saya duga ketika memulainya.
Profile Image for Prasdenny.
26 reviews4 followers
May 4, 2018
...
TRILOGI SOEKRAM
Sapardi Djoko Damono

Trilogi Soekram tercipta dari tiga proses penciptaan yang berbeda. Trilogi pertama adalah Pengarang Telah Mati, bercerita tentang tokoh Soekram yang tercipta dari leburan dua pengarang: yang asli dan dirinya. Trilogi kedua adalah Pengarang Belum Mati bercerita tentang Soekram yang tercipta murni dari pengarang aslinya. Trilogi ketiga adalah Pengarang Tak Pernah Mati bercerita tentang Soekram yang ditulis oleh dirinya sendiri.

Isu perjuangan prakemerdekaan dan prareformasi menjadi latar kisah trilogi ini. Tokoh dan penokohan hadir secara unik, terlebih di trilogi yang ketiga terdapat intertekstualitas yang meminjam kisah lain seperti Ajo Sidi dari Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis, kemudian Datuk Meringgih dan Sitti Nurbaya beserta Marah sebagai Marah Rusli yang hadir sebagai tokoh. Begitu pula Semar tokoh pewayangan yang hadir sebagai tokoh yang absurd. Intertekstualitas ini menjelma deskontruksi kisah baru yang menyatu di dalam kisah Soekram.

Beberapa makna yang terkandung berisi tentang renungan ketuhanan. Soekram merepresentasi sebagai manusia yang berusaha mendobrak takdir, bernegosiasi terhadap Pencipta dan berusaha menjadi Pencipta bagi kehidupannya sendiri.

Isu perjuangan, cinta, bahkan ketuhanan menyatu dalam sebuah cerita yang memukai karena kekayaan makna dan kecerdasan strukturalnya. Cerita tersebut berjudul Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono.
Profile Image for Ariefiandi Firman.
25 reviews38 followers
January 18, 2018
Saya mengetahui Sapardi Djoko Damono sebagai seorang penyair yang sangat handal menyampaikan pesan cinta dengan cara yang indah, tidak sama sekali terkesan picisan, dan elegan. Banyak sekali kata kata baru yang saya dapatkan dari puisi puisi Sapardi. Diksinya selalu terasa pas tepat sararan. Namun, saya baru mengetahui bahwa ternyata Sapardi juga menulis cerpen, yang pada akhirnya Trilogi Soekram ini adalah buku Sapardi yang saya baca pertama kali yang juga merupakan gabungan dari tiga cerpen yang sudah dia buat sebelumnya.

Pada bagian 1, tidak ada kesulitan bagi saya untuk memahami setiap isi dari kalimat yang tersaji. Penggambaran yang liar tentang bagaimana seorang tokoh utama dari sebuah cerita yang tidak puas terkait nasib yang ia terima merupakan sebuah pembukaan yang cukup menarik dan lucu untuk saya pribadi. Namun, saya kurang mendapatkan feelnya ketika perubahan cerita yang cukup masif dari segi konteks cerita dan juga zona tempat dan waktu dari satu bagian ke bagian lain, sampai di ending yang menurut saya terlalu 'keluar kotak'. Ya tapi mohon diwajarkan saja, imaji saya memang tidak begitu baik dan saya bukanlah seseorang yang memahami seni dalam konteks yang sangat spesifik hehehe. Buku ini tetap menarik untuk dibaca, tapi jangan sampai kaget dengan plot dimensi waktu dan tempat yang berpindah dengan kecepatan cahaya (lebe')
Profile Image for Hëb.
170 reviews7 followers
February 27, 2021
Singkatnya -buku ini merupakan gabungan dari tiga bagian buku yang aslinya ditulis terpisah oleh Sapardi. Gagasan awalnya bagus; tentang seorang tokoh fiksi alias Soekram yang bersikeras ingin menentukan nasib dan jalan ceritanya sendiri, tanpa perlu diciptakan oleh pengarang. Ide ini membuatku teringat dengan beberapa teori sastra yang menyebutkan bahwa pengarang ibarat 'Tuhan' di dunia fiksi yang ia buat, termasuk kehidupan tokoh-tokohnya. Begitupula dengan Soekram. Ketika pengarangnya mati dan cerita tentangnya belum usai, ia ingin membuat ceritanya sendiri. Kurang lebih demikian yang dipaparkan di bagian pertama. Bagian ini juga menceritakan kehidupan Soekram dengan latar waktu '98 ketika negara sedang riuh oleh huru-hara reformasi.

Bagian kedua, latar waktu bergerak mundur; menceritakan kehidupan Soekram ketika kuliah, berikut dengan beragam 'perang ideologi' yang ia temui di lingkungan kampus, bahkan keluarga. Bagian ketiga mundur lebih jauh lagi; Soekram melawat ke Tanah Melayu, di zaman yang sama dengan era Datuk Maringgih dan Sitti Nurbaya. Ia terlibat banyak kejadian di sana.

Ketika membaca ketiga bagian tersebut, aku merasa bingung dan banyak mengerutkan dahi. Cukup banyak kalimat-kalimat serupa metafora yang perlu pemahaman yang berkaitan dengan tokoh maupun alur cerita. Pun, transisi maupun dinamika cerita Soekram di sini seharusnya tidak perlu diambil pusing, toh Soekram 'hanyalah' tokoh fiksi yang ingin menentukan nasibnya sendiri.

Profile Image for Hannah Hoo.
7 reviews
April 25, 2025
Trilogi Soekram (Edisi Komplet) oleh Sapardi Djoko Damono.

Soekram tokoh dalam novel yang meloncat keluar dari dunia fiksinya, hendak menggugat penulis mengapa kisahnya tak kunjung dilanjutkan? Ia pun kemudian mengetahui penulisnya telah wafat.

Ia kemudian menemui sahabat penulis, menolak terima kisah hidupnya berhenti begitu saja.

Sebagai tokoh fiksi, ia merasa berhak untuk melanjutkan hidup 🤣. Kocak banget lu Soekram, pengen gue tonjok wkwkkwk.

Novel ini mengambil peristiwa huru-hara Mei 98. Juga menceritakan bagaimana perjalanan Soekram bersama kaum proletariat dalam misi perjuangannya melawan rezim saat itu.

Cerita ini juga dibalut kisah romansa Soekram yang sangat embuh 😂.

Setelah selesai baca, aku menyimpulkan ini novel memang khas Pak Sapardi.

Beliau suka memasukkan dan bahkan meleburkan tokoh karangannya ke dalam karya fiksi lain—tak terkecuali si Soekram ini.

Kali ini Soekram melebur ke dalam kisah legendaris Sitti Nurbaya karangan Marah Roesli. Berhubung ini adalah kisah Soekram, ia bebas saja mengada-ada tokoh dalam Sitti Nurbaya dengan karakteristik yang ia mau 😂.

Aku kaget waktu Soekram tiba-tiba ketemu Marah, gak ekspek 🤣.

Endingnya ditutup dengan lumayan mengesankan, walau entah kenapa aku merasa kurang puas—mungkin karena aku masih berusaha mencoba memproses, jadi gini aja hak hidup yang Soekram perjuangin itu?

Personal rate: 4,5/5 ⭐.
Profile Image for Farah.
15 reviews
December 4, 2022
Sebelum itu, aku merasa sepertinya aku tidak mengerti inti atau pesan si penulis buku. Selain itu, review yang aku tulis ini mungkin terlihat seperti spoiler, meskipun tidak seratus persen.


Jujur, buku ini mempunyai premis yang bagus. Aku penasaran karena blurb ceritanya menarik. Tapi isinya ternyata sedikit mengecewakan, menurutku. Ringkasnya, buku ini bercerita tentang 3 sudut pandang dengan zaman berbeda. Pertama, bagaimana si pengarang mati dan tokoh di dalam ceritanya ingin tahu jalan cerita ke depannya. Kedua, pengarang itu belum mati, ia ingin editor dan penerbitnya menerbitkan cerita versi miliknya. Ketiga, pengarang tidak pernah mati karena ceritanya ditulis sendiri oleh si tokoh cerita, Soekram itu sendiri. Kukira dari sudut pandang itu akan menemukan klimaks yang membuat pembaca semakin penasaran dan meninggalkan perasaan (entah itu, kesal, senang atau sedih), tapi nyatanya ceritanya berakhir begitu saja. Iya, begitu saja. Selain itu, gaya bercerita di buku ini begitu membosankan (maaf ini berdasarkan subjektivitasku).


Selain itu, aku masih tidak mengerti apa maksudnya mengunyah pasir, ping-pong-ping-pong. Buku ini hampir aja jadi dnf, tapi aku tetap membacanya sampai habis.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for far.
34 reviews13 followers
April 6, 2023
Pernah nggak membaca atau mendengar kalimat seperti "pengarang tidak menciptakan tokoh-tokohnya, tapi membiarkan mereka hidup sesuai dengan keinginannya" atau kalimat-kalimat yang serupa? Sapardi dalam novel ini mencoba membicarakan hal itu dengan cara yang unik. Protes dan keluh-kesah Seokram seolah-olah menyenggol soal pengarang adalah 'Tuhan' yang bebas menciptakan apa saja dalam dunianya. Novelnya dibagi menjadi tiga babak dengan alur dan dimensi yang lompat-lompat. Cukup buat bingung, tapi di situ serunya. Walaupun kadang tiba-tiba muncul, "Hah?" tetap lanjut baca ke halaman berikutnya. (I miss you, Eyang). Ada kalimat yang cukup sering muncul di sini, "Di padang pasir tidak ada larangan untuk memakan pasir." Apa maksudnya? Bingung? Sama. Tapi ya sudahlah, mungkin, ketidaktahuan itu harus dibiarkan tetap ada seperti kita yang tidak pernah tahu nasib tokoh-tokoh setelah buku ditutup.

Terakhir, kalau kamu menulis atau membaca, apakah kamu lebih suka menganggap 'Pengarang Telah Mati', 'Pengarang Belum Mati', atau 'Pengarang Tidak Pernah Mati'?
Profile Image for Karna Bimantara.
22 reviews3 followers
June 14, 2017
Trilogi Soekram, tentang perjalanan hidup seorang Soekram. Soekram sebagai penulis dan Soekram sebagai tokoh rekaan sang penulis. Dua-duanya hidup dan menceritakan kisahnya masing-masing sebagai pribadi terpisah yang mempunyai kisah hidupnya sendiri. Tentang kisah Soekram dengan Ida, istrinya dan Rosa. Di lain kisah, juga tentang Soekram, Sitti Nurbaya dan Datuk Meringgih.

"Di padang pasir tidak ada larangan untuk memakan pasir". Adagium yang sering muncul tapi sampai akhir cerita saya tetap tidak paham apa artinya, apa maknanya dan hubungannya dengan keseluruhan cerita.

Tapi secara keseluruhan, ide ceritanya menarik, orisinil dan menggelitik. Ditambah gaya penceritaan yang sangat dinamis, mengalir, santai tapi tetap cerdas dalam pemilihan diksi dan alur cerita.

Top!!
86 reviews2 followers
July 9, 2023
Sinopsis awal yang bilang Soekram adalah seorang tokoh yang keluar dari buku dan menuntut ceritanya dilanjutkan karena pengarangnya meninggal dengan latar belakang Indonesia tahun 1960-1998 jadi premis yang unik dan bikin cukup penasaran. Awalnya.

Tapi setelah ditamatkan, rasanya gak ketemu sama fokus ceritanya. Fokusnya tetap ke Soekram, tapi cara Soekram diceritakan di sini rasanya lompat-lompat. Penggambaran Indonesia di masa-masa kritis juga rasanya kuranh dapet. Kayak, seharusnya Soekram di sini ngapain sih? Terus kenapa Soekram sebegitu penting buat diceritain di masa ini?

Gak tau sih, tapi ya gitulah,
Profile Image for Amal Bastian.
115 reviews4 followers
May 30, 2017
Seperti menyelam ke kedalaman liang pikir si penulis, yang entah bagaimana juga menjadi tokoh dalam karangan rekaannya sendiri, dengan segala keruwetan dan rentetan pertanyaan yang berjibaku dalam tiga zaman, tiga cerita, dan tiga polemik. Membingungkan menjadi kenikmatan tersendiri. Bahasa renyah dan mengalir, tapi menjebak dalam beberapa plot khusus ketika tokoh Soekram dan tokoh lain bertransisi karakter menjadi tokoh lain dengan nama sama, atau hampir sama. Mengambil unsur kisah dan sejarah bangsa yang diramu dengan sentuhan berbeda hingga menghasilkan alur cerita yang tak biasa.
Profile Image for Heru Prasetio.
210 reviews2 followers
June 16, 2020
“Pengarang Belum Mati, Pengarang Sudah Mati dan Pengarang Tak Pernah Mati. Trilogo ini rumit, penuh dengan letupan-letupan dan juga abstrak. Menghadirkan sudut pandang dan pencerita di luar kelaziman sudut pandang dalam karya sastra. Ada dua dimensi yang dihadirkan yakni dunia rekaan dan dunia nyata dalam cerita. Oh iya, fakta bahwa tokoh utama dapat menggugat pengarang yang menciptakannya adalah hal yang sangat menarik dan baru bagi saya.”
Displaying 1 - 30 of 97 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.