Jump to ratings and reviews

Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero

"Aku merasa menjalani hidup menggunakan topeng."

Entah sudah berapa kali ucapan seperti itu terlontar dari bibir pasien yang datang ke ruang konsultasi. Kemungkinan, kamu pun pernah mengucapkan hal seperti itu, bukan?

Beberapa orang akan mengatakan, "Kita harus tampil apa adanya, jangan menggunakan topeng!" Tapi, menit yang sama ketika topeng itu dilepas, dunia tidak siap melihat wajah asli kita. Akhirnya, kita menggunakan kembali topeng yang selama ini membuat kita diterima oleh masyarakat.

Buku ini membahas tentang bagaimana trauma dan pengalaman masa kecil menempa topeng yang kita gunakan hari ini.

Dari luar, kita adalah dewasa yang tampak tangguh. Tapi di dalam, sebenarnya kita hanyalah seorang anak ketakutan yang berlindung di balik topeng superhero.

268 pages, Paperback

Published May 6, 2026

Loading...
Loading...

About the author

Andreas Kurniawan

7 books122 followers
A psychiatrist with a sense of humor

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
162 (73%)
4 stars
50 (22%)
3 stars
7 (3%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 72 reviews
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,485 followers
June 5, 2026
Buku ketiga dr. Andreas yang saya baca, dan tentu saja, saya sangat menikmatinya. Buku 'Cuci Piring' spesifik membahas duka, sementara buku 'Semangka', topiknya berkembang lebih banyak tentang menjalani hidup sebagai orang dewasa. Nah, buku 'Stroberi / Superhero' ini juga bahasannya cukup macam-macam, tapi payung besarnya adalah 'inner child' (dan, menurut saya, 'self-acceptance').

Saya pribadi termasuk orang yang tidak banyak mengasosiasikan masalah hidup saya dengan inner child, tapi di buku ini, cara dr. Andreas menuliskannya betul-betul mengalir. Kalau di buku 'Semangka' ada Lalin, di buku ini ada Stelora dan Viktor. Perlahan kita dibawa ke kehidupan Stelora dan Viktor dengan luka-luka masa kecilnya dan bagaimana itu mempengaruhi hidup mereka sebagai orang dewasa, juga orang tua.

Seru banget deh pokoknya. Hal yang saya suka adalah bagaimana buku ini bisa mempuk-puk secara realistis, bukan tipe yang membuat kita berlarut-larut menyalahkan masa kecil dan pola asuh orang tua kita di zaman dulu. Selain itu, ada banyak referensi buku untuk dibaca-baca, dan pastinya, jokes-jokes dr. Andreas yang dengan mudah bisa kita bayangkan beliau katakan secara live 😂👍🏼

Walau temanya berat tapi penyampaiannya segar dan mengalir banget. Recommended pokoknya! ✨️
Profile Image for Yolan.
37 reviews
July 15, 2026
buku ini berbeda dari buku self improvement yang pernah aku baca sebelumnya.

sedikit banyaknya, buku ini mengubah sudut pandang saya tentang cara mencintai diri sendiri, tentang perilaku manusia, dan tentang semua luka yang pernah kita lalui selama ini.

yang aku suka dari buku ini, penulisnya tidak serta merta mengajak kita untuk terus selalu mengajak kita positif thinking. tapi, kita diberikan pilihan dengan kemungkinan konsekuensinya.

jadi, mau pilih mana mau menjalani hidup dengan menderita sampai akhir atau mau menjalani hidup dengan rasa damai sampai akhir?
Profile Image for Karisma Vinda.
13 reviews
June 26, 2026
Rating dariku terkait buku ini 4.5 dari 5 :)

Sebenernya agak bimbang mau ngasih 4 atau 4.5, karena aku tuh tipe orang yang beli buku self improvement hanya jika merasa relate sama judul atau reviewnya/butuh insight tentang suatu hal (Harusnya gaboleh gini yaaa huehue).

Jujur aku tertarik baca buku ini karena dari judulnya aku punya ekspetasi bahwa aku akan relate dengan permasalahan yang diangkat oleh buku ini, tapi ternyata 'jenis luka' yang ada di buku ini tuh (alhamdulillahnya) tidak relate di aku. Jadi pas baca agak kecewa karena sebenarnya aku berharap menemukan jawaban dari "luka" yang aku punya wkwkwk 🙏 Walaupun begitu, cukup banyak kata2 mutiara yang bisa aku catat dari buku ini sebagai pengingat 💌

Fyi, ini buku pertama dari Dr. Andreas yang aku baca, dan aku bisa bilang ini salah satu buku self improvement yang menyenangkan untuk dibaca karena bahasanya nggak kaku dan menurutku cukup lucu.
Profile Image for theresia cleopatra.
199 reviews3 followers
May 28, 2026
as always, suka banget dengan penulisan dr. Andreas 😭🫰🏼 bener-bener ngalir dan berasa kayak lagi denger cerita gitu, alias bahasanya ga kaku bagi ku. Terus yaa, ini tuh berasa kayak aku lagi konseling juga ❤️😇 bener-bener tiap baca tuh kayak “TRUE TRUEEE”, “Sepakattt 🤝🏼”, atau “omg, baru tahu tentang ini”.
pokoknya recommended buat kalian semua yang suka baca nonfiksi tapi pengen yang rasanya kayak lagi curhat. ya recommended buat semua orang lah.
Profile Image for Aries Setiadi.
Author 2 books7 followers
September 30, 2026
Buku kedua dari dr. Andreas Kurniawan yang saya baca, setelah Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring. Kalau buku Seorang Pria terasa lebih ringan untuk saya ikuti, buku ini terasa jauh lebih berat. Bukan karena bahasanya sulit (justru tulisannya mudah dipahami), tetapi karena beberapa bagian di buku ini membuat kita terlalu dekat dengan hal-hal yang mungkin selama ini kita "simpan" jauh-jauh.
Profile Image for alinea.
55 reviews6 followers
July 24, 2026
As always, dr. Andreas ga pernah gagal dengan buku-bukunya. Sebagai pecinta fiksi mentok, baca bukunya ga pernah terasa seperti digurui. Hangatt sekalii setiap kata-katanya. BESTTTT.
Profile Image for Readingwithhirai.
273 reviews8 followers
July 30, 2026
“Mengapa sebuah topeng bisa terbentuk dalam diri seseorang? Apakah seseorang yang mengenakan topeng lantas bisa disebut palsu?”

Menyelesaikan buku Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero membawaku dalam perjalanan panjang seolah menemukan beberapa bagian rumpang yang tak pernah mendapatkan jawaban selama ini. Banyak hal bersinggungan dengan luka, pengalaman dan masa laluku sehingga memang butuh waktu lebih lama untuk bisa menyelesaikannya. Buku ini berisi cerita perjalanan para pasien dr. Andreas Kurniawan saat konseling. Bisa disimpulkan bahwa dari beragam cerita yang terjadi memang kunci utamanya tetap sama yakni “ketidaksempurnaan dalam hidup atau mempertanyakan hidup yang tidak sempurna.” Sama sepertiku, mereka semua juga bertanya-tanya tentang “Mengapa saya begini-begini saja?” Melihat kehidupan orang lain sekilas dari media sosial ternyata sangat mampu menghancurkan semangat yang susah payah kita bangun selama ini. Padahal cuplikan 1 menit itu tentu saja tak mampu mewakili keseluruhan hidup teman kita.

Bahasan di dalamnya sangat related dengan apa yang aku rasakan maupun apa yang terjadi di lingkungan sekitarku. Seringkali aku bertanya “Sebenarnya untuk apa aku dilahirkan? Memangnya aku memiliki fungsi penting di dunia ini?” Ternyata beberapa faktor krusial mampu mengikis rasa percaya diri dan membuat seseorang merasa tidak berharga, salah satunya pola asuh dan luka masa kecil. Dari sinilah mereka yang terluka itu mulai memahami pola dan membangun tameng agar mendapatkan rasa “aman” itu. Tameng itulah yang disebut dengan topeng dan masing-masing tempat membutuhkan jenis topeng berbeda seperti topeng saat bekerja di luar rumah, topeng bersama pasangan atau bahkan topeng saat menghadapi kedua orang tua.

Buku ini terdiri dari 12 bab menarik lengkap dengan penjabaran cerita pengalaman pasien konseling, istilah medis yang dilengkapi dengan penjelasan langsung dan juga korelasi dari sebab akibat yang lengkap dengan jawabannya. Bahasa yang digunakan sangat ringan, mengalir, mudah dipahami dan tidak mengulang bahasan yang sama sehingga tidak monoton. Penulis berhasil membangun ikatan cerita antara pembaca, pengalaman personal dan juga menyentil luka yang sengaja disembunyikan. Hal itulah yang membuat komunikasi berhasil dibangun, seperti halnya diriku yang mengingat kembali memori saat-saat masa kecilku, perlakuan orang tuaku dan juga berbagai topeng yang tanpa sadar kubuat meskipun saat ini beberapa di antaranya sudah kulepaskan. Menurutku buku ini bisa menjadi media komunikasi untuk diri sendiri sebagai sarana memaafkan apa yang sudah terjadi. Arti memaafkan juga ternyata sangat luas, tidak mudah diterapkan dan tidak bisa dipaksakan. Isinya bukan hanya sekedar cerita namun lekat dengan solusi yang bisa kita lakukan selanjutnya jika berada dalam posisi tersebut.

Beberapa orang merasa tidak perlu berobat atau sekedar berkonsultasi atas masalah yang dialaminya karena merasa bisa menyelesaikannya sendiri padahal ada batas-batas tertentu yang mengharuskan mereka menemui seorang profesional. Hal ini erat hubungannya dengan trauma yang dibawa, kita memang bukanlah orang yang menyebabkan trauma itu namun jika tak ditangani dengan benar maka korbannya bukan hanya kita sendiri melainkan generasi selanjutnya. Aku sangat merekomendasikan buku ini untukmu yang berusaha mencintai diri sendiri, berdamai dengan luka masa kecil dan juga sedang membangun boundaries yang lebih realistis. Isinya sangat menyentuh, related dan banyak hal yang bisa dipetik untuk pembelajaran lebih lanjut.

Hampir Semua Orang Merasakan Hal yang Sama
Sering kali aku bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada diriku sendiri, mengapa aku sering mempertanyakan hal-hal yang membuatku sedih, seperti bagaimana masa depanku? Apakah aku bisa sukses? Apakah aku bisa terbebas dari kemiskinan ini? Apakah aku nantinya juga akan menemukan tambatan hati dan memiliki kesempatan menjadi seorang ibu? Berita baiknya setelah membaca buku ini ternyata aku tidak sendirian. Banyak orang mempertanyakan tentang diri mereka yang begini-begini saja hanya karena melihat kehidupan orang lain yang terlihat mudah. Ternyata hampir semua orang mempertanyakan kehidupan yang tidak sempurna karena menggunakan kehidupan orang lain sebagai parameternya. Bahkan tak jarang juga yang mempertanyakan untuk apa dirinya dilahirkan? Apa manfaatnya di dunia ini? Tenang saja, jika kamu merasakan hal itu akupun juga sering mempertanyakannya. Lahir di dunia ini menuntut kita untuk memilih hidup santai atau yang penuh tantangan. Keduanya jelas sama-sama memiliki kelebihan, orang yang memilih hidup penuh tantangan biasanya lebih berani, sebaliknya orang yang hidup santai biasanya untuk menghindari resiko. Kita punya kesempatan untuk mencoba keduanya dan berani mengambil resiko atas keputusan yang sudah dibuat. Tidak perlu lagi menyalahkan apa yang sudah terjadi lebih baik jalani dengan hati-hati bagaimana kedepannya sembari menata ulang apa yang rumpang dari jejak yang sudah kita tinggalkan.

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi People Pleaser?
Seorang people pleaser memiliki beban yang sangat berat dalam menghabiskan 24 jam sehari apalagi jika bertemu dengan orang-orang tidak tahu diri atau sengaja memang untuk memanfaatkan mereka. Orang yang tidak enakan memiliki kecenderungan untuk selalu membuat semua orang senang jadi mereka enggan untuk berkata “tidak” atas apapun yang sebenarnya memang tidak ingin dilakukan. Sayangnya mereka sama sekali tak bisa mengutarakannya, bahkan isi kepala dan hatinya berbeda dengan apa yang diucapkan. Ternyata seorang people pleaser terbentuk akibat pola asuh di masa kecilnya. Mereka yang terpaksa menggunakan topeng anak baik-baik agar terhindar dari kemarahan orang tua meskipun sebenarnya mereka tidak ingin melakukannya. Mereka ini akan memikirkan orang lain seperti kekecewaan, keraguan atau mungkin keengganan mereka untuk datang kembali. Padahal tentu saja tidak semua orang berhak untuk dipertahankan bukan? Pola ini akan terus berlanjut, berulang dan berputar tanpa batas menggerogoti boundaries yang tak pernah dibangun itu. Dampaknya, seorang people pleaser akan lebih mudah kelelahan bukan hanya lelah fisik namun juga mentalnya.

Semua Orang Mengenakan Topeng
Buku ini membahas tentang berbagai jenis topeng yang digunakan untuk kebutuhan sosial masing-masing orang. Topeng untuk bertemu bos dan teman kantor jelas berbeda dengan topeng yang digunakan untuk bertemu pasangan maupun orang tua. Topeng-topeng itu otomatis terbentuk dari pola kebiasaan berulang karena ketika menggunakannya seseorang itu menemukan rasa “aman” dan “nyaman”. Berita baiknya semua orang memang mengenakan topeng namun perlu dipahami bahwa penggunaan topeng itu ada batasnya dan jangan sampai melekat dengan identitas dirimu. Untuk tahu kapan waktunya melepas topeng adalah ketika kamu sudah merasa tidak nyaman lagi menggunakannya dan kehilangan rasa aman saat mengenakannya. Jangan sampai memaksa atau membiarkan topeng itu terlalu lama karena bisa membuatmu kehilangan diri sendiri yang sesungguhnya.

Warisan Trauma yang Harus Diputus Rantainya
Perlu dipahami bahwa sebuah trauma seharusnya cukup berhenti di diri sendiri jangan pernah membiarkannya tumbuh apalagi sampai berpindah ke generasi selanjutnya. Warisan tidak hanya berupa harta melainkan juga trauma yang lahir dari ucapan, perilaku maupun pola asuh baik dengan sadar maupun tanpa sadar. Banyak orang merasa enggan berkunjung ke profesional karena menganggap ceritanya terlalu sepele dan takut disepelekan padahal setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menghadapi konflik. Sadarilah kapan waktunya diri sendiri memang membutuhkan bantuan profesional agar benar-benar sembuh dan memutus rantai trauma itu. Hal ini dikarenakan orang yang dirugikan bukan hanya dirimu sendiri melainkan generasi selanjutnya melalui kegiatan parenting dan hubungan anak dengan orang tua. Kamu memiliki tanggungjawab besar untuk memutus sekaligus menyembuhkan dirimu sendiri. Banyak orang denial dan merasa tidak adil ketika harus menjalani sesi konseling karena merasa menjadi korban. Namun kita tak bisa diam di tempat apalagi hanya melihat masa lalu, lihatlah masa depan. Jika trauma itu tetap dibiarkan ada dalam dirimu maka kamu juga sekaligus mengajak generasimu selanjutnya untuk tenggelam di dalamnya. Cara terbaik untuk memutus rantai trauma adalah berawal dari kesadaran akan kesehatan mental diri sendiri.

Apa yang Menarik dari Buku Ini?
Aku suka sekali dengan keseluruhan pemabahasan dalam buku ini, saking mengalirnya membuatku seperti membaca kisah pengalaman pasien biasa. Namun uniknya aku merasa related! Banyak hal yang cocok dengan apa yang aku rasakan, aku takutkan atau bahkan yang sedang aku hadapi selama ini. Buku ini seolah merangkul, memvalidasi, memberikan jawaban dan pengertian dari setiap pertanyaan yang selama ini hanya menggantung tanpa jawaban. Dokter Andreas menuliskannya dengan ringan, minim istilah medis bahkan jika ada istilah rumit langsung diberikan penjabaran yang mudah dipahami.

Seberapa Jauh Buku Ini Mencapai Tujuannya?
Buku Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero jelas sudah mencapai tujuannya untuk memberikan penjabaran terkait tiga topik utama yakni anak, topeng dan superhero. Korelasi yang terbangun dari ketiganya sangat lekat dengan pola asuh dan luka masa kecil. Banyak bahasan menarik lengkap dengan penjabaran dan solusi yang bisa diambil. Buku ini tidak melakukan pengulangan bahasan dan memberikan kejutan baru di setiap babnya.

Bagian Mana yang Paling Disukai?
Dari 12 bahasan pokok di dalam buku ini aku paling suka dengan topik nomor 10 yakni “Seorang Dokter yang Membohongi Pasiennya”. Rasanya hancur, sedih, terluka dan bingung jadi satu jika berada di posisi sang dokter yang menangani pasien luka bakar itu. Dia adalah seorang suami sekaligus ayah dan kepala keluarga yang menanyakan kondisi istri dan putrinya. Sayangnya sang istri dan buah hati sudah meninggal namun dokter tak sampai hati mengatakannya pada pasien. Kesedihannya belum usai di situ melainkan ditutup dengan sang bapak yang juga menyusul mereka. Berita baiknya mereka bertemu di kehidupan selanjutnya, berita buruknya mereka semua meninggal tanpa tahu kebenaran dari sang dokter. Rasanya sedih banget dan akupun pasti juga akan melakukan kebohongan sama seperti yang dilakukan sang dokter. Terkadang sesuatu memang tak harus gamblang diucapkan untuk menjaga perasaan orang yang sedang membutuhkan pemulihan bukan? Namun apakah dengan berbohong itu berarti cara yang diambil sudah benar? Bagaimana menurutmu?

Apakah Buku ini Dilengkapi Rujukan dan Istilah Medis?
Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman sesi konsultasi pasien dari dokter Andreas yang dirangkum dan disesuaikan dengan apa yang banyak dirasakan oleh semua orang. Dokter juga menyisipkan istilah medis, rujukan dan penelitian lain langsung ke dalam buku sehingga membuat semua penjelasannya lebih mengalir. Semua pembahasan di dalamnya terasa seimbang dan nyaman untuk dibaca oleh orang awam.

Pelajaran yang Didapatkan dari Buku
Kita adalah manusia yang terlahir sempurna namun tak perlu menjadi sempurna sesuai standar lingkungan. Apa yang kita lihat sekilas belum sepenuhnya benar, nyatanya setiap orang memang memiliki masalahnya masing-masing. Kamu merasa gagal? Coba lihatlah perjalanan yang sudah berhasil kamu lalui, orang-orang yang pernah kamu tolong, rintangan yang berhasil kamu lewati untuk sampai di tahap ini. Lalu, apakah pantas kamu melabeli dirimu sebagai seseorang yang gagal? Nyatanya kita sudah menjadi superhero untuk hal-hal yang ada dalam perjalanan hidup. Tak perlu menjadi superhero untuk orang lain, menjadi superhero untuk diri sendiri saja sudah cukup.

Buku Ini Cocok untuk Siapa?
Buku ini sangat cocok untukmu yang sedang menjalani proses penerimaan diri, berdamai dengan luka dan tertarik belajar mengenai sisi bahasan psikologi terkait inner child, trauma dan juga pola asuh orang tua yang turun temurun. Kamu akan mendapatkan banyak insight menarik dengan penjabaran gamblang sehingga lebih mudah diterima.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
338 reviews8 followers
September 19, 2026
Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero karya dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ merupakan buku self improvement yang membahas bagaimana trauma dan pengalaman masa kecil membentuk "topeng" yang kita pakai saat dewasa. Dari luar kita tampak tangguh, tapi di dalam mungkin masih ada anak kecil yang ketakutan dan berlindung di balik topeng itu. Penulis menuturkan gagasannya lewat kisah Stelora dan Viktor, dengan topeng superhero mereka masing-masing.

Aku selalu suka cara penulis bercerita, ia piawai menggubah materi yang sebenarnya bisa saja terasa berat untuk orang awam yang tidak akrab dengan istilah medis dan psikologi, tapi penulis berhasil menyederhanakannya lewat perumpamaan dan bahasa yang mudah dimengerti.

Hal lain yang aku sukai, alih-alih terasa seperti membaca buku nonfiksi yang biasanya menggunakan bahasa yang berat dan baku, aku justru menikmatinya seperti membaca bacaan fiksi. Aku tidak merasa sedang diajari atau digurui, tapi diajak mendengarkan sebuah kisah.
Profile Image for Mithaza Monica.
134 reviews9 followers
May 25, 2026
Review lengkap nanti akan aku tulis di blog. Walau entahlah aku udah lama banget nggak nulis review buku non-fiksi. Kayak bingung mau nulis darimana. Ditambah isi buku ini tuh kek ‘daging’ bangeet haha.

Meski ini buku ketiga dr. Andreas yang terbit, ini kali pertama aku membaca buku beliau. Dan… aku SUKAA! Dua buku beliau sebelumnya, buku Cuci Piring dan Buah Semangka tiba-tiba auto masuk wishlist 😆 terima kasih buat yang meratjuni aku untuk ikutan PO buku ini kemarin 😌

Intinya sih buku ini membahas tentang manusia (diri kita) pasti memakai topeng dalam menjalani kehidupan sehari2. Dan ternyata… perjalanan hidup kita dari kecil hingga dewasa inilah yang membentuk berbagai macam topeng kita.

Aku suka gaya menulis dr. Andreas yang luwes. Sehingga buku non-fiksi ini bisa dinikmati dengan nyaman (padahal aku jarang baca non-fiksi 🥲). Perpaduan antara scene dialog dgn pasien tuh smooth banget, eh tiba-tiba udah baca narasi penjelasan yang panjang.

Penjelasan narasinya pun enak diikuti karena aku kayak diajak ngobrol gitu. Engga berasa baca non-fiksi dan buku ini teman perjalananku tiap ga dapat tempat duduk di KRL wkwk. Daripada gabut mending baca buku 🤓

Sangking sukanya aku dengan buku ini, rasanya pengeeen bangeet bisa mengingat tiap detail isi buku ini agar bisa aku praktekkan/coba dalam kehidupan nyata 🥲
Profile Image for Dintamay.
33 reviews
May 29, 2026
Sebagai manusia yang digolongkan menjadi kelompok usia dewasa, sering sekali kita harus memerankan beberapa peran sekaligus. Peran sebagai anak, sebagai rekan kerja, sebagai ibu, sebagai kakak dan berbagai peran yang harus kita jalankan. Pertanyaan yang sering muncul adalah "apakah kita berani menujukkan diri kita yang sesungguhnya?". Ternyata Carl Jung telah membahasnya melalui konsep persona dan shadow. Bisa dikatakan buku ini adalah terapi lembut untuk memahami persona kita sebagai orang dewasa dan kita diajak untuk menelaah kembali apa saja yang telah kita lalui. Kita diajak pelan-pelan untuk belajar membuat batasan, memaafkan petani strawberry (yang akan kalian ketahui siapa itu petani strawberry setelah membaca buku ini), mengendurkan keterikatan dengan sesuatu, merapikan ruangan untuk mengurangi beban. Pada akhirnya buku ini adalah buku self help yang benar benar membantu pembacanya jika disimak baik-baik dan dijalankan semua tips-tips dan anjurannya.
71 reviews
June 26, 2026
Lewat buku ini, dr. Andreas ingin menjelaskan bahwa memakai topeng bukanlah sebuah kesalahan, apalagi dosa. Bahkan, memakai topeng adalah salah satu cara kita bertahan hidup. Namun, kita harus menyadari topeng yang kita pakai, dan menggunakannya dengan tepat, sesuai pada tempatnya. Ada beberapa kisah pasien dr. Andreas (tentu identitasnya disamarkan) yang dibahas dalam buku ini dalam bentuk narasi cerita yang ringan dan tidak membosankan. Dari beberapa cerita itu, kita dapat memahami bahwa orang-orang ini (dan bahkan kita juga) punya masalah masa lalu yang membuatnya berperilaku dan bersikap seperti saat ini. Di bagian akhir, dr. Andreas juga mengingatkan bahwa selain inner child, kita juga punya inner parent yang bertindak layaknya orang tua yang bijaksana saat kita menghadapi hal-hal berat dalam hidup. Inner parent inilah yang tanpa sadar telah membuat kita semua menjadi seorang superhero.
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 17 books65 followers
June 30, 2026
"Sebenarnya, dalam keluarga disfungsional sekalipun tetap ditemukan apresiasi dan cinta, tapi harganya sangat mahal: harus menurut, berprestasi, atau jadi anak baik." Hal.19.

Setelah hadir dengan buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring (2023) dan Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya (2025) yang oleh dr.Andreas sendiri ia menyingkatnya dengan "Buku Cuci Piring" dan "Buku Semangka", di tahun ini dr.Andreas kembali lagi dengan buku terbarunya yang banyak menyoroti tentang hubungan orang tua dan anak.

Saya beruntung, Minggu 7 Juni lalu berkesempatan untuk berbincang -walau singkat ketika sesi meminta tanda tangan, di acara peluncuran "Buku Superhero" ini di Gramedia Burlian, Palembang. Bisa dibilang, pertemuan dengan dr.Andreas -yang buku pertamanya berhasil bikin saya nangis itu, datang di saat yang tepat. Pertemuan itu hadir di saat kondisi psikis saya pun sedang tidak baik-baik saja. Dan, ada banyak sekali insight yang saya dapatkan, dan dilengkapi lagi ketika saya berhasil menuntaskan "Buku Superhero" ini.

Sebagai mantan seorang people pleaser, saya agak tersentak juga ketika membaca salah satu bagian di buku ini.

""People pleaser bermula dari parent pleaser." Ada sosok orang tua yang memberikan tuntutan tanpa diimbangi apresiasi dan diskusi dua arah. Seorang anak harus menurut agar merasa pantasi dicintai. Seorang anak yang tumbuh dalam rumah seperti ini mau tidak mau harus memasang mode parent pleasing untuk bisa bertahan hidup." Hal.37.

Tanpa bermaksud "menyalahkan" orang tua, jujur saja, ya apa yang disampaikan oleh dr.Andreas ini ada benarnya. Mungkin ada bentuk didikan orang tua yang kurang tepat sehingga saya menjadi seorang yang people pleaser untuk waktu yang sangat lama. Hingga entah kapan, di satu hari saya memasang tulisan "ex-people pleaser" di akun media sosial saya dan sejak itu saya berusaha untuk lebih kejam menolak permintaan atau lebih selektif untuk menyenangkan orang lain.

Sebagaimana buku-buku sebelumnya, di "Buku Superhero" ini, pembaca akan diperkenalkan ke pasien dr.Andreas yang kali ini ada dua yakni Stelora dan Viktor yang sama-sama punya hubungan tak mulus dengan orang tua masing-masing mereka. Stelora seumur hidupnya berada di bawah controlling sang ibu, sementara Viktor harus mengubur mimpi-mimpinya karena sang ayah begitu keras memaksanya masuk ke dunia militer.

Tak hanya dari segi fisik, secara cara berkomunikasi Viktor ini sangat mengintimidasi. Dr.Andreas dalam tulisannya beberapa kali menunjukkan ketidaknyamanannya di balik "topeng" psikiaternya. Namun, ya, itu dia tugas seorang psikiater, untuk menggali kenapa pasiennya bisa berperangai seperti itu.

"Nama saya Viktor."

"Salam kenal, saya Andreas"

"Sudah tahu. Saya bisa lihat nama Anda di depan."

"Oh, ya, benar juga. Ada yang bisa saya bantu?"

"Ya ada, lah. Makanya saya ke sini."

"Baik.... Apakah boleh diceritakan apa yang membuat Viktor datang ke sini?"

"Ya boleh, lah. Kalau nggak boleh, ngapain saya ke sini?" Hal.55

Wah gak kebayang kalau saya yang berada di posisi dr.Andreas saya itu. Istilahnya ya jiper juga. Tapi, jam terbang nggak bisa bohong sih, ya. Walaupun pertemuan pertama itu jauh dari mulus, namun dengan ilmu yang dipelajari di kedokteran, akhirnya dr.Andreas menemukan cara-cara untuk menggali masalah yang ada di pasiennya ini.

Ini yang menjadi salah satu keunggulan dari (buku yang ditulis oleh) dr.Andreas. Kasus-kasus yang ia angkat terasa dekat. Kita tentu mengenal satu-dua teman atau kerabat yang punya perangai seperti Viktor, bukan? atau jangan-jangan diri kita sendiri yang seperti itu. Dan, jujur jika ketemu orang kayak itu, yang ada di pikiran saya, "seberat apa hidup yang sudah kamu jalani, mas/mbak"

"Satu-satunya cara memahami penderitaan adalah dengan masuk ke penderitaan tersebut. Itulah mengapa kita tidak mau mendengarkan motivator yang tidak pernah menjalani hidup susah atau anak seorang miliuner yang menjelaskan cara membangun bisnis dari nol." Hal.160.

Lalu, berlanjut ke pasien lainnya -Stelora tadi. Ada satu hal menarik yang dijelaskan oleh dr.Andreas ke Stelora dalam sesi pertemuan mereka. "Ketika sudah siap, maafkan orangtuamu karena tidak mampu mencintaimu dengan cara yang kamu butuhkan. Mereka memperlakukanmu berdasarkan cara yang mereka ketahui. Lalu, kalau sudah, maafkan dirimu sendiri kalau kamu pernah mencari cinta penggantinya di tempat yang salah dan dari orang yang salah."

"....Faktanya, beberapa orang memang sungguh-sungguh jahat, kan? Tugasmu mungkin bukan memaafkan mereka yang sudah kamu anggap sebagai monster itu. Tugasmu adalah untuk tidak menjadi monster yang sama." Hal.172.

Ah menarik, ada satu bab yang bikin aku terharu banget, yakni bab "Seorang Dokter yang Membohongi Pasiennya" di mana dr.Andreas untuk pertama kalinya (dan mungkin satu-satunya) harus berbohong ke pasiennya dikarenakan pasiennya ini.

"Sebagai dokter, aku sebisa mungkin berusaha jujur pada pasien dan keluarganya. Bukankah kepercayaan adalah dasar penting untuk suatu terapi? Tapi, aku pernah berbohong kepada pasienku, seorang pria berusia tiga puluhan tahun." Hal.181.

Saya gak akan ngebocorin kebohongan macam apa yang dilakukan oleh dr.Andreas, itu tugas kalian sebagai pembaca untuk mencari tahunya sendiri. Yang jelas, "Buku Superhero" ini bagus banget. Bahkan, saya merasa buku ini jauh lebih bagus (atau lebih tepat dan dibutuhkan oleh saya) dibandingkan "Buku Semangka".

Semoga makin banyak psikiater atau psikolog yang menulis buku seapik ini. Bagus banget!

Skor 9/10
Profile Image for wulanss28.
47 reviews1 follower
June 14, 2026
Ini buku self-help pertama yang kubaca, dan buku ini sangaaaaat nyaman dibaca. Banyak noted yang sayang bermanfaat untuk dipraktikkan.
Profile Image for Virka Melita.
41 reviews
July 21, 2026
buku ini membuatku memahami kalau di dalam diri orang dewasa terdapat seorang anak yang berusaha menyampaikan lukanya.

luka yang mungkin terjadi karena rumahnya tidak utuh atau tidak berfungsi normal seperti rumah lainnya.

untuk bisa melalui hari, kita selalu memakai sebuah topeng, menggantinya dengan topeng yang lain agar kita bisa merasa diterima, dan ternyata itu bukanlah suatu hal yang buruk, kita hanya perlu menguatkan identitas diri kita di balik topeng itu.
Profile Image for Neneng Lestari.
321 reviews1 follower
October 4, 2026
​Selesai membaca ini, rasanya lega.⠀
⠀
​Melalui tokoh bernama Stelora dan Viktor, penulis sangat lihai merangkum pokok-pokok utama trauma yang disebabkan oleh keluarga. Aku belum pernah baca buku dr. Andreas sebelumnya, tapi buku ini sangat pas untuk kita yang pernah melalui masa anak-anak dengan orang tua yang keras.⠀
⠀
​Aku sengaja menyebut "keras", tidak menyebut toxic ataupun strict parent, karena setiap masalah yang kita alami pasti berbeda-beda. Namun yang pasti, buku ini membantu kita melihat luka masa lalu dengan cara yang lebih bijak, tanpa harus menyalahkan siapa-siapa.⠀
⠀
​Temanya mungkin sudah familiar di antara teman-teman, seperti inner child, trauma, luka, dan persona (semacam istilah untuk "topeng" yang sering kali kita gunakan untuk menyesuaikan diri dengan norma masyarakat). Tapi yang begitu spesial, dr. Andreas menulisnya dengan sangat dekat dengan pembaca. Seolah-olah Stelora dan Viktor itu adalah diri kita, bukan sekadar pasien dr. Andreas yang disamarkan.⠀
⠀
​Hampir semuanya relate dengan yang aku rasakan. Mungkin tidak sama persis seperti yang Stelora rasakan, tapi yang namanya anak-anak, kita mana pernah paham alasan orang tua mendadak marah atas tindakan kita—yang mungkin terlihat sepele bagi kita saat itu. Rasa jengkel, sakit hati, dan kecewa memang sempat menghiasi masa kecil kita. Namun bersyukurlah, rasa sakit itu tidak kita wariskan menjadi lisan yang gampang mencela, karena kita paham betul betapa rapuhnya hati saat menerima ucapan jahat manusia.⠀
⠀
​Sebagai seorang anak, aku yakin Stelora adalah gambaran versi kita saat ini. Bedanya, beban yang ia tanggung mungkin terasa lebih berat daripada yang kita rasakan (atau bisa jadi sama, hanya bedanya kita belum berani duduk di depan dr. Andreas).⠀
⠀
​Dan aku setuju dengan semua yang dr. Andreas sampaikan. Bahwa ada saatnya topeng itu berani kita lepaskan, tanpa perlu takut orang-orang akan menjauhi kita. Sudah saatnya pula kita memaafkan apa yang dulu pernah terjadi, bukan karena kita sudah sepenuhnya sembuh, melainkan sebagai bentuk penerimaan agar beban hidup terasa lebih ringan.⠀
⠀
​Akhir kata, buku ini bukan cuma cerita tentang luka, tapi tentang bagaimana kita belajar memeluk dan berdamai dengan diri sendiri.⠀
⠀
​"Peran kita adalah untuk memutus rantai tersebut."⠀
⠀
— dr. Andreas
Profile Image for Andina.
69 reviews31 followers
October 5, 2026
Ketika pertama kali aku membeli buku ini, aku tidak pernah menyangka bahwa isinya sangat sangat menampol diri ini.

Ternyata bagaimana pengalaman masa kecil, terutama hubungan kita dengan orang tua, ternyata bisa terus hidup dalam diri kita bahkan setelah kita tumbuh dewasa...seseorang yang tumbuh dengan kritik dan tuntutan mungkin tanpa sadar membawa pola yang sama hingga dewasa.

dr. Andreas membahas mengenai inner parent yang akupun asing dengan istilah tersebut sebelumnya. Eric Berne membagi parent ego state menjadi critical parent dan nurturing parent dimana ketika seseorang tumbuh bersama orang tua yang sering mengkritik atau menyalahkan, suara tersebut bisa ikut tumbuh bersamanya…akhirnya, bahkan ketika sudah dewasa, kita bisa menjadi critical parent bagi diri sendiri

Selain itu ada satu hal yang menjadi highlight di buku ini, yaitu tentang bagaimana membangun boundaries untuk aku yang sudah lama menjadi people pleaser. Ada kata-kata yang MAKJLEEB

“Jangan bakar dirimu untuk membuat orang lain menjadi hangat”🥲🫣

meskipun di buku ini, aku belajar untuk LEBIH BERANI mengatakan TIDAK, tapi tidak kemudian menyuruh pembacanya berhenti menjadi orang baik…dr. Andreas justru membedakan antara healthy giver dan self-sacrificing giver…kita masih boleh membantu, peduli, dan memberi kepada orang lain, tetapi tanpa harus kehilangan diri sendiri.

aku akhirnya juga memahami bahwa boundaries itu bukanlah tembok yang membatasi kita dengan orang lain, namun seperti pintu dan jendela yang kuncinya berada di tangan kita sendiri, jadi kita yang menentukan kapan mendekat dan kapan kita mengambil jarak.

Bagiku, buku ini mengajarkan aku untuk menerima bahwa ada bagian dari diri kita yang terluka, tanpa membiarkan luka tersebut menentukan seluruh hidup kita.

Belajar membuat batas tanpa kehilangan kebaikan.

Belajar mengatakan tidak tanpa merasa menjadi orang jahat.

Dan yang paling penting, belajar menjadi sosok dewasa yang dulu mungkin dibutuhkan oleh anak kecil dalam diri kita sendiri 🙂🙂

~you can still be kind without abandoning yourself~🥹🥹
Profile Image for Ms.TDA.
330 reviews11 followers
July 1, 2026
🎡Pada akhirnya, hidup adalah tentang bagaimana kita memilih utk menghabiskan waktu di taman hiburan tak terbata sini. Kita tidak pernah meminta utk di lahirkan, tetapi kita memiliki kekuatan utk menciptakan makna dan keberuntungan dalam hidup kita sendiri. Kadang terasa membingungkan ketika kita berjalan tanpa peta dan tutorial, tapi bukankah menemukan hal baru juga tak kalah menariknya? 🗺️

Ngomong tentang “rumah”, secara psikologis, manusia selalu butuh utk berinteraksi dg apa pun. Yg membuat rumah menjadi suatu tempat yang nyaman bukanlah gedungnya yg besar, tapi interaksi di dalamnya. Dok..😶‍🌫️🏡

🚏Interaksi yg paling tulus justru ditemukan bukan dengan orang yang memberikan uang, melainkan orang yang memberikan ruang berkembang. Kita punya tugas mengembangkan diri. Bukan salahmu bila kamu tumbuh besar dalam lingkungan yg tdk memenuhi kebutuhan itu. Tanggung jawabmu adalah memenuhi utk dirimu sendiri. 👤

🏚️Tubuh itu seperti rumah, semakin luas rumah dan semakin banyak ruangannya, maka butuh perencanaan lebih baik lagi. Dan semakin banyak kisah yg dijalani, maka ruangan dalam jiwa kita pun semakin luas (bahkan makin berantakan). Maka, merapikan dirimu adalah prioritas, bukan pilihan kalau sempat. 🏡

👧🏻Buku ini aku mencangkup nya sbg buku parenting yg memeluk diri inner child kita. Disebutkan juga menurut Eric Berne, ada 2 jenis parent ego state yg berbeda: critical parent dan nurturing parent. Kita bisa menjadi salah satu dari keduanya, tergantung seperti apa sosok orangtua/dewasa yg dikenal dan bagaimana kita menjalani hidup selama ini. Dan sisi kanak2 dalam diri kita tidak jahat dan tidak perlu disingkirkan, karena anak kecil dalam diri kita terus bergerak dan butuh sesuatu. 👩🏻

Tugas kita sbg pemilik tubuh adalah memenuhi kebutuhan itu dan terus berlatih dg bijaksana. Pulih terjadi bukan ketika kita menghilangkan bagian yg terluka itu, melainkan menerima luka tsb sbg bagian dari hidup kita. ❤️‍🩹🥹
Profile Image for Gilland.
78 reviews1 follower
September 17, 2026
Ini adalah buku ketiga dari seri tulisan dr. Andreas Kurniawan yang aku tamatkan. Kalau di buku pertama (yang soal cuci piring) kita diajak menyelami grief, lalu di buku kedua (pohon semangka) belajar memaknai hidup, seri ketiga ini benar-benar fokus pada penerimaan diri atau self-acceptance dan berdamai dengan masa lalu.

Premis utamanya sangat relatable: dari luar kita mungkin terlihat sebagai orang dewasa yang tangguh, padahal jauh di dalam, kita sering kali cuma anak kecil yang ketakutan dan bersembunyi di balik topeng pahlawan super. Kita terbiasa gonta-ganti topeng untuk bisa bertahan menghadapi hari dan agar diterima oleh lingkungan sosial. Buku ini menyadarkan kalau memakai topeng itu sama sekali bukan hal yang buruk. Esensinya adalah bagaimana kita bisa memperkuat identitas asli yang ada di baliknya.

Ada beberapa bab yang rasanya seperti menampar bolak-balik (dalam artian positif!). Penjelasan di dalamnya sangat personal buatku, terutama karena pembahasannya soal boundaries dan konsep parts benar-benar sejalan dengan apa yang sering didiskusikan bersama psikologku. Khususnya untuk bagian Stelora.

Secara garis besar, aku justru melihat karya ini sebagai buku parenting, tapi secara spesifik ditujukan untuk mengasuh inner child kita sendiri. Sisi kanak-kanak itu ternyata bukan sesuatu yang jahat atau harus disingkirkan, ia terus bergerak dan hanya butuh dirangkul.

Di masyarakat yang sering menuntut kita untuk selalu tampil tak terkalahkan, membahas luka sering kali masih jadi hal tabu. Padahal, buku ini mengingatkan bahwa trauma bukan untuk dimusuhi. Mengakui dan hadir untuk luka tersebut justru adalah bagian utuh dari menjalani hidup. Sangat direkomendasikan untuk siapa saja yang sedang belajar berdamai dengan diri sendiri.
Profile Image for Mahesa.
6 reviews
July 27, 2026
buku ini hampir membuatku menangis. aku mau bilang kalau kalian ingin mengenal diriku lebih dekat cobalah baca buku ini. semua traumanya hampir 80% ada di aku semua. aku lagi gak kehilangan siapapun tapi aku hampir kehilangan diriku sendiri karena berusaha selalu menutup diri ini dengan topeng yang sedang kupakai. buku ini aku tamatkan 2 bulan lebih. saat kata-katanya mentrigger, aku selalu memulai jeda untuk gak baca buku ini. aku yang selalu berkata "kenapa?" menanyakan sesuatu yang tiada ujungnya seperti layaknya manusia yang kehilangan arah. tetapi lewat buku ini, aku merasa mendapatkan panduan/petunjuk dari apa yang aku cari selama ini, dari apa yang aku pertanyakan selama aku hidup di dunia ini. ini adalah buku pertama dr. andreas yang kubaca dan untungnya ini juga buku pertama yang dapat tanda tangan dari beliau. aku juga mendapatkan foto bersama dengan beliau. how luckily i am.

ok back to my review, buku ini rekomen buat kalian yang punya masalah dengan orangtua, trauma masa lalu, takut akan masa depan, selalu negative thinking dan selalu menyalahkan diri sendiri. ada salah satu kutipan dari buku ini yang aku suka.

"Jangan meminta dari orang yang tidak bisa memenuhi itu. orang tuamu mungkin adalah toko bangunan. Kalau kamu datang ke toko itu dan meminta bubur, merek tidak bisa memberikannya. Bukan berarti mereka jahat, tapi karena memang mereka tidak bisa menyediakannya. kalau mau minta paku dan gergaji, mereka punya banyak, tuh."

sebenarnya kalimat ini agak ambigu kalau diartikan secara gamblang, tetapi aku dapat pointnya.
Profile Image for Soraya Nur Aina.
198 reviews2 followers
June 28, 2026
Buku ketiga dr. Andreas yang aku baca dan ini subyektif, tapi ngena di buku ini daripada buku kedua. Mungkin karena sebagian relate. Baca buku ini saat kondisi anxiety lagi naik-naiknya dan terasa dipeluk langsung dengan sesama tokoh di buku ini, Stelora :). Trenyuh saat baca kisah Bapak B yang menderita Luka Bakar.

Stelora dan kecemasannya yang mengawali kalimat "kalau aku begini, dokter marah nggak?". Dari buku ini aku belajar bahwa cara terbaik mengatasinya ya exposure therapy atau hadapi langsung kecemasan itu. Ini berhubungan juga dengan konsep reality check yang berkaitan dengan kecemasan "benarkah itu akan terjadi?" atau konsep bandingkan kecemasanmu dengan kenyataan saat ini. Sejalan juga dengan konsep predicton - correction = otak manusia selalu membuat prediksi yang belum tentu benar dan seringkali tanpa sadar kita berusaha membuktikan prediksi itu. Konsep ini membuktikan bahwa pikiran kita bisa salah.

Seperti biasa, aku belajar banyak sekali dari buku-buku tulisan beliau seperti apa itu Efek Proust dan konsep inner parent plus reparenting. Belajar juga kalau otak memang harus diberi stimulus terus, makanya hukuman terberat seorang narapidana adalah penahanan sendiri (solitary confinement).

Ubahlah pandanganmu tentang pola pengasuhan orang tua bukan "mereka melakukan yang terbaik" tapi "mereka melakukan yang terbaik, yang mereka bisa, saat itu"
Profile Image for Adara Kirana.
Author 2 books213 followers
August 2, 2026
4.0

Suka banget sama berbagai pembahasan tentang identitas diri kita, yang terbentuk dari berbagai pengalaman yang membentuk kita di masa lalu, terutama masa kecil. Buku ini banyak membahas tentang bagaimana kita sebagai orang dewasa, kemungkinan besar terbentuk karena hal-hal yang terjadi kepada kita di masa kecil. Disampaikan dengan gaya bahasa yang santai dan lucu, buku ini nyaman sekali dibaca walaupun membahas hal-hal yang cukup berat. Bahasan tentang orangtua juga sangat “ngena” di saya. Mungkin saya juga harus menerapkan hal-hal yang disampaikan dr. Andreas di buku ini untuk memutus rantai dengan masa lalu saya :’).

—

“Aku menyadari bahwa identitas bukan sesuatu yang dite-mukan—itu adalah sesuatu yang kita bentuk dengan segala pilihan kita, dan pilihan orang-orang lain di sekeliling kita.”

—

“Sebagian besar dari orangtua hanyalah orang yang membawa warisan luka dan ketidaktahuan mereka sendiri. Dalam pemahamannya, mereka mengenakan topeng superhero yang memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya. Kenyataannya, orangtua memberikan apa yang mereka pikir kita butuhkan, bukan apa yang sungguh-sungguh kita butuhkan. Kadang kedua hal itu selaras (makanan, pendidikan, atau rumah) dan kadang tidak.”

—

“Karena, hal terpenting yang bisa kamu lakukan saat ini adalah memberi batasan antara masa lalu dan masa kini. Ada sebuah rantai yang menghubungkan keduanya, yang perlu kita putus.”
Profile Image for Sinta Maharani.
122 reviews11 followers
August 15, 2026
Tanpa berpikir panjang, bahkan sebelum menyelesaikan buku ini, aku tau aku akan memberikan nilai absolut ☆5/5 dan menambahkannya ke daftar buku rekomendasi.
Dua kata: BAGUS BANGET. Seperti dua buku sebelumnya, dr. Andreas berhasil menyetuh hati para pembacanya.
Topik dalam buku ini bisa dibilang "dalam", mengenai sesuatu yang cukup melekat pada diri kita namun sering kita abaikan, namun dr. Andreas dengan indah mengemasnya dalam kalimat-kalimat sederhana yang berarti. Bahasan tentang boundaries, kecenderungan people pleaser, inner child, trauma masa lalu, kecemasa masa mendatang, dan tentu saja topeng yang kita gunakan di masyarakat—semua ini sangat relevan dengan apa yang kita (atau aku) sering rasakan. Bahkan ada juga bab tentang perilaku orangtua. Seperti biasa, dr. Andreas mengingatkan tentang penerimaan dan being mindful diselipi dengan humor renyah sehingga pembaca tidak bosan dan ingin terus terhubung, penasaran dengan halaman-halaman selanjutnya. Soft selling yang dilakukan pun sama sekali tidak mengganggu! Rasanya seperti mengobrol langsung dengan beliau. Sangat hangat.
Aku suka alur cerita Stelora, Lorelai, Viktor, dan cerita-cerita tambahan lainnya yang mempermudah pembaca untuk menyerap pelajaran lebih dalam. Mengharukan dan inspiratif. Banyak juga kutipan-kutipan atau ringkasan dari buku-buku penulis hebat yang ditinjau dengan bahasa yang mudah.
If youre thinking of buying this book, then do ut now! This book will help you. This book will save you.
Profile Image for Xell.
21 reviews3 followers
August 17, 2026
Novel ini adalah buku self improvement pertama yang berhasil aku tamatkan selama ini, walaupun membutuhkan waktu 28 hari untuk menyelesaikan buku ini tapi buku ini berhasil menyelesaikanku. banyak hal yang bisa aku ambil dan aku pelajari dari buku ini termasuk bagaimana mengubah kebiasaan buruk dan mindset yang kita punya.

Aku belajar bahwa ““lukamu bukan salahmu, tapi sembuh adalah tanggung jawabmu.” walaupun terdengar biasa tapi menurutku ini adalah fakta bahwa kita tidak bisa terus-terusan menyalahkan manusia atau keadaan atas apa yang kita alami, kita hanya bisa menerima,menyelesaikan, dan berdamai dengan itu. walaupun aku tau sulit sekali rasanya untuk melakukan itu, tapi pasti hidup akan jauh lebih mudah setelahnya.

Aku juga belajar untuk tidak membawa masalah yang aku alami di tempat yang lain ke tempat baru yang orang dan situasinya juga pasti berbeda, karena itu hanya akan menambah beban pikiran dan beban hati yang kita punya. istilah “what’s on here, stays here.” adalah peribahasa yang menggambarkan kondisi ini, kita tidak mungkin terus terusan membahas dan mengomel
tentang hal yang sama kepada semua orang karena itu hanya akan menyebar hal negatif. Untuk kalian yang mencoba berdamai dengan apapun itu terutama keluarga, coba baca buku ini
Profile Image for heiyoelvin ♡.
25 reviews
August 17, 2026
BAGUS BANGET.

Di samping urutan terbitnya yang tepat, aku sangat mengapresiasi semua ilustrasi dan contoh yang mudah dipahami pembaca. Menurut aku, Dr. Andreas sangat bijaksana untuk share buku pertama dengan bobot emosi yang sangat berat tapi penjelasan yang tidak terlalu banyak. Setelah itu dilanjutkan dengan buku kedua yang mulai diselipkan banyak informasi dan pelajaran-pelajaran berharga. Buku yang ketiga ini, emosi yang ditimbulkan tidak seberat 2 buku sebelumnya, tapi penjelasannya jauh lebih teknis dan jujur otak dan mental aku sudah siap untuk belajar lebih banyak. Aku sangat bersyukur beliau mencantumkan semua buku-buku yang dia catut guna dipelajari lebih lanjut.

Bagi kamu yang belum baca bukunya. Saranku tetap bacalah dari buku pertama, sekalipun keadaanmu tidak sedang berduka. Namun, kalo kamu tidak mau ikut caraku, buku ketiga ini pun tidak ada hubungannya dengan 2 buku sebelumnya jadi bisa saja kalau kamu mau baca dari sini.
Profile Image for Rizqi M..
2 reviews1 follower
August 15, 2026
Buku Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero jadi buku kedua dari dr. Andreas yang kubaca (yang Pohon Semangka belum selesai. hehe). Secara keseluruhan, tema yang diangkat sangat dekat sama seperti tema di buku Cuci Piring.

Lalu, kisah Stelora, Viktor, dan Pak B (RIP) sangat-sangat "menyenangkan" untuk dibaca dan cerita ketiganya menjadi "rem" dari rangkaian teori psikologi yang disampaikan. Theatre of mind saya langsung serasa ada di serial-serial rumah sakit.

Pengalaman membaca buku ini cukup fluktuatif. Jujur di bagian membersihkan rumah saya agak skimming karena rasanya analogi yang dipakai terlalu panjang. Terlebih lagi, saya sudah familiar dengan paparan soal Konmari Method (alumni decluttering-nya! 🙋‍♂️). Untuk yang belum terpapar saya rasa akan sebaliknya, informasi soal Konmari Method ini bisa jadi sesuatu yang mungkin life-changing.
Profile Image for Karina Mariz.
4 reviews
May 23, 2026
Beli 3 buku dr. Andreas di saat yang bersamaan, di saat aku benar-benar merasa perlu untuk memperbaiki luka batin yang membentuk karakter dan sifatku sekarang. This is his 3-rd book, yet I chose to read this first.

I found this book helpful, banyak banget parts yang aku tandain. Cocok buat yang mau break generational trauma atau simply trauma masa kecilnya aja. Kamu akan menemukan bahasan seperti tentang child vs parent ego state, juga perbedaan antara tidak tahu, tidak mau, dan tidak mampu, yang menurutku sangat berguna untuk menganalisis kejadian-kejadian di masa lalu yang masih terasa menyakitkan, lalu perlahan membantu proses memahami dan memaafkan. Terakhir, bahasan mengenai parts. Ah, kalau penasaran coba baca saja bukunya. ;)
Profile Image for Erica.
12 reviews
June 9, 2026
first time sampe PO buku!!! I'll be waiting for dr. andreas 4th book and will do the same thing again.

I reflected a lot while I was reading this book-- which made me grateful to have my parents.

the writing flows like water, just as you'd expect if you've read his other books. I guess some people are blessed with such excellent storytelling skills hahaha-- but ofc comes with dedication.

i guess the one star missing because I lost it a bit on the part where he wrote the step by step. The explanation is a bit dragging for things so simple.

do i recommend? ofc i do. I hope we can all find our own way to heal 💛

Profile Image for Safitri Agustin.
3 reviews1 follower
August 9, 2026
Buku ini menyapa anak dalam diri kita masing-masing. Ternyata anak tersebut tidak perlu menjadi apa yang orangtua sampaikan atau eskpektasikan tentang dia, dia hanya perlu menjadi dirinya yang utuh dan pulih.

Belajar untuk senantiasa secara sadar dalam merasakan, memahami, memproses luka masa lalu menjadi jalan untuk bisa memilih masa kini yang lebih bijak.

Mungkin banyak hal yang belum mendapat jawaban di masa lalu, masih ada kemarahan yang belum tercerna, yang terbawa hingga saat ini. Buku ini menemani kita berjalan ke arah sudut pandang dan sikap yang lebih mindfullness dalam memaknai luka inner child dengan menjadi wise parent untuk diri kita sendiri.
Profile Image for Jihan Aulia Zahra.
93 reviews2 followers
October 5, 2026
Dari 3 bukunya dr. Andreas, surprisingly aku malah ga begitu relate dengan buku pertama karena (alhamdulillah) belum mengalami duka (dalam artian ditinggalkan orang terkasih ke alam lain). Aku kira buku semangka sudah paling aku banget, ternyata buakakakak apalah buku topeng ini takut banget kalau-kalau ada CCTV ngintai di kamarku tiap malam kemudian buku ini hadir sebagai laporan klinis hasil pengintaian and YES angry eldest daughter with mother-wound problems seeking a therapist is sooo relatable these days. Untungnya Gen Y dan Gen Z nih udah pada pinter buat memutus rantai generational trauma.
Profile Image for Penti R.
15 reviews
May 7, 2026
Buku pertama dari dr. Andreas Kurniawan yang aku beli dan baca. Setelah membaca buku ini, jadi kepengin buat baca buku lainnya.
Bagus, tentang kita yang sering memakai topeng ketika ke luar rumah atau bertemu orang lain.
Ada saatnya kita melepas topeng itu ketika kita sedang sendirian atau berada dengan orang yang kita rasa aman untuk melepasnya.
Pembahasannya lebih banyak tentang menerima luka dan bagaimana cara kita memaafkan orang-orang yang memberikan luka itu ketika kita kecil, dan trauma itu perlu di sembuhkan agar tidak diwariskan.
Displaying 1 - 30 of 72 reviews