Entah sudah berapa kali ucapan seperti itu terlontar dari bibir pasien yang datang ke ruang konsultasi. Kemungkinan, kamu pun pernah mengucapkan hal seperti itu, bukan?
Beberapa orang akan mengatakan, "Kita harus tampil apa adanya, jangan menggunakan topeng!" Tapi, menit yang sama ketika topeng itu dilepas, dunia tidak siap melihat wajah asli kita. Akhirnya, kita menggunakan kembali topeng yang selama ini membuat kita diterima oleh masyarakat.
Buku ini membahas tentang bagaimana trauma dan pengalaman masa kecil menempa topeng yang kita gunakan hari ini.
Dari luar, kita adalah dewasa yang tampak tangguh. Tapi di dalam, sebenarnya kita hanyalah seorang anak ketakutan yang berlindung di balik topeng superhero.
Buku pertama dari dr. Andreas Kurniawan yang aku beli dan baca. Setelah membaca buku ini, jadi kepengin buat baca buku lainnya. Bagus, tentang kita yang sering memakai topeng ketika ke luar rumah atau bertemu orang lain. Ada saatnya kita melepas topeng itu ketika kita sedang sendirian atau berada dengan orang yang kita rasa aman untuk melepasnya. Pembahasannya lebih banyak tentang menerima luka dan bagaimana cara kita memaafkan orang-orang yang memberikan luka itu ketika kita kecil, dan trauma itu perlu di sembuhkan agar tidak diwariskan.
These three books made me reflect on mental awareness. We mask, hide, talk, and sometimes need to be alone. Whatever the reason, hiding behind a mask obscures our true colors. But the truth is that I'm currently projecting and facing the goal of improving myself, becoming more productive, and not procrastinating on everything I've accomplished.