What do you think?


Madilog dalam Gambar - Berpikir Kritis ala Tan Malaka Agar Akal Tak Mudah Diakali
“Dunia sedang absurd, dan logika kita sedang dikepung hoaks. Masihkah mau mengandalkan ‘katanya’?”
Di era ketika narasi kebencian dan informasi palsu membanjiri layar ponsel, warisan pemikiran Tan Malaka hadir kembali bukan sebagai dogma, melainkan sebagai senjata intelektual. Hadir dilengkapi format gambar yang mudah dicerna, buku ini mampu menjadi jembatan antara filsafat materialisme, dialektika, dan logika dengan realitas digital yang serba cepat.
Ini bukan buku sejarah, tapi panduan bertahan hidup bagi pikiran yang merdeka!
Di era ketika narasi kebencian dan informasi palsu membanjiri layar ponsel, warisan pemikiran Tan Malaka hadir kembali bukan sebagai dogma, melainkan sebagai senjata intelektual. Hadir dilengkapi format gambar yang mudah dicerna, buku ini mampu menjadi jembatan antara filsafat materialisme, dialektika, dan logika dengan realitas digital yang serba cepat.
Ini bukan buku sejarah, tapi panduan bertahan hidup bagi pikiran yang merdeka!
156 pages, Paperback
Published April 22, 2026
About the author
Tan Malaka
66 books347 followersTan Malaka (1894 - February 21, 1949) was an Indonesian nationalist activist and communist leader. A staunch critic of both the colonial Dutch East Indies government and the republican Sukarno administration that governed the country after the Indonesian National Revolution, he was also frequently in conflict with the leadership of the Communist Party of Indonesia (PKI), Indonesia's primary radical political party in the 1920s and again in the 1940s.
A political outsider for most of his life, Tan Malaka spent a large part of his life in exile from Indonesia, and was constantly threatened with arrest by the Dutch authorities and their allies. Despite this apparent marginalization, however, he played a key intellectual role in linking the international communist movement to Southeast Asia's anti-colonial movements. He was declared a "hero of the national revolution" by act of Indonesia's parliament in 1963.
A political outsider for most of his life, Tan Malaka spent a large part of his life in exile from Indonesia, and was constantly threatened with arrest by the Dutch authorities and their allies. Despite this apparent marginalization, however, he played a key intellectual role in linking the international communist movement to Southeast Asia's anti-colonial movements. He was declared a "hero of the national revolution" by act of Indonesia's parliament in 1963.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
June 13, 2026
Saya beri bintang 5 bukan karena sempurna atau tanpa 'catatan pribadi' tertentu, tapi karena rasanya buku ini menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Buku ini menjelaskan madilog dengan cara yang sangat sederhana dan mudah dipahami, dibantu dengan ilustrasi dan komik. Lebih dari itu, yang menarik buat saya adalah bagaimana konsep madilog ini kemudian dijabarkan dengan contoh-contoh yang relevan dengan situasi politik hari ini. Misalnya bagaimana Tan Malaka mengkritik kausalitas yang umumnya dianggap linier, buku ini menjelaskannya melalui contoh malas -> miskin, padahal kemiskinan itu begitu kompleks dan struktural.
Bagi teman-teman yang membaca buku Tan Malaka versi asli dan sudah memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik, mungkin justru malah ingin mengkritisi buku ini karena ada kecenderungan oversimplifikasi dan pemilihan contoh yang kentara sekali ada di pihak oposisi rezim saat ini. Namun, jika kita melihat konteks hari ini dan target audiens buku ini, 'Madilog Dalam Gambar' menjadi medium yang praktis untuk memantik kepedulian politik dan rasa ingin tahu generasi muda tentang pemikiran Tan Malaka. Sangat straight to the point.
Anak saya usia 10 tahun pun jadi tertarik bertanya-tanya tentang Tan Malaka dan Madilog. Sungguh jadi pembuka percakapan politik dan upaya bernalar dengan tertib. Sesuatu yang darurat untuk dibicarakan oleh orang Indonesia hari ini, apalagi jika kita bercita-cita membangun massa yang terorganisir, sadar politik, dan aktif dalam gerakan.
Bagi teman-teman yang membaca buku Tan Malaka versi asli dan sudah memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik, mungkin justru malah ingin mengkritisi buku ini karena ada kecenderungan oversimplifikasi dan pemilihan contoh yang kentara sekali ada di pihak oposisi rezim saat ini. Namun, jika kita melihat konteks hari ini dan target audiens buku ini, 'Madilog Dalam Gambar' menjadi medium yang praktis untuk memantik kepedulian politik dan rasa ingin tahu generasi muda tentang pemikiran Tan Malaka. Sangat straight to the point.
Anak saya usia 10 tahun pun jadi tertarik bertanya-tanya tentang Tan Malaka dan Madilog. Sungguh jadi pembuka percakapan politik dan upaya bernalar dengan tertib. Sesuatu yang darurat untuk dibicarakan oleh orang Indonesia hari ini, apalagi jika kita bercita-cita membangun massa yang terorganisir, sadar politik, dan aktif dalam gerakan.
September 5, 2026
Saya membeli Madilog dalam Gambar karena dua alasan: pertama, saya selalu senang ketika ada buku yang berusaha menjelaskan konsep-konsep susah dengan sederhana, apalagi melalui gambar. Kedua, karena buku Madilog buatan Tan Malaka yang asli sudah ngendon di rak saya bertahun-tahun tapi tidak juga saya baca. Jadi saya pikir, mungkin buku ini akhirnya bisa membuat saya mendapat sedikit esensi pemikiran Tan Malaka tanpa perlu membaca buku aslinya yang cukup tebal.
Alias: cari jalan pintas menuju ilmu. Namanya juga usaha.
Dan setelah membaca Madilog dalam Gambar, saya bisa bilang saya mendapatkan jauh lebih banyak dari yang tadinya saya harapkan. Tidak hanya bukunya relatif mudah dibaca untuk topik sesulit ini, tapi, surprisingly, di tengah berbagai prahara kehidupan dewasa, konsep Madilog ternyata membantu saya melihat hidup dengan lebih jernih.
Quick recap: Madilog ternyata semacam arahan cara berpikir kritis ala Tan Malaka, yang mengajak kita melihat dunia dengan lebih jernih melalui MAterialisme, DIalektika, dan LOGika. It is very interesting.
Materialisme di sini tentu bukan berarti mata duitan, tapi berpegangan pada dunia material: apa yang nyata, apa yang bisa kita amati, dan apa yang dapat kita periksa—alih-alih buru-buru menjelaskan sesuatu melalui hal-hal gaib atau mistis. Dialektika mengajak kita melihat dunia sebagai sesuatu yang terus bergerak, berubah, dan penuh pertentangan; sementara pikiran dan tindakan manusia juga berinteraksi dengan kondisi nyata tersebut. Dan logika ya, as it sounds: berpikir secara logis.
Dan walaupun Madilog sendiri ditulis udah lama banget—tahun 1940-an—surprisingly, cara berpikir ini terasa sangat applicable dalam kehidupan kita hari ini. Rasanya sambil membaca, saya terus berpikir: kurangnya kemampuan melihat kenyataan dengan kritis seperti ini masih jadi masalah untuk Indonesia, mungkin juga dunia hari ini.
Tapi lebih-lebih, ternyata, untuk diri saya sendiri.
Karena sambil membaca buku ini, sebetulnya saya pribadi lagi punya banyak masalah juga di dunia kerja. Saya melihat orang-orang dengan reputasi indah gemilang, dengan kata-kata yang manis dan terdengar dalam dan tulus. Tapi di sisi lain, saya melihat tindakan mereka bukan hanya tidak sampai pada ideal yang mereka katakan—kadang justru mengkhianatinya.
Saya seperti melihat raja yang telanjang, tapi diminta untuk bilang bahwa ia pakai baju.
Dan karena semua orang bilang saya salah lihat, lama-lama saya jadi berpikir: apa saya yang salah?
Tapi membaca buku ini membuat saya sadar bahwa jawabannya sebetulnya sederhana.
I have to trust what I see. Not how people want me to see.
Kalau saya ingin terlepas dari belenggu-belenggu yang mengungkung saya, saya harus berani melihat dunia apa adanya. Walaupun orang lain tidak melihatnya. Walaupun orang lain ingin saya melihat sesuatu yang berbeda.
Jika raja telanjang, maka ia telanjang.
Jadi, walaupun Madilog mungkin dibayangkan sebagai alat pembebasan sebuah bangsa—cara bagi individu-individu untuk membebaskan pikirannya dari berbagai bentuk penjajahan—ternyata saya pun mendapatkan manfaat yang sangat personal darinya: ia membantu saya melihat hidup saya sendiri dengan lebih jernih.
Dan karena Madilog pada akhirnya berakar juga pada pemikiran Marxist, ternyata jawaban dari permasalahan kehidupan saya pada akhirnya adalah: saya harus jadi Marxist.
Saya harus, seperti Tan Malaka, berontak terhadap orang-orang yang dengan mulut manis berusaha bilang bahwa kerja saya, usaha saya, tak seberarti ide-ide dan jabatan mereka 💙.
Adapun saya tidak bisa memberikan nilai 5/5 untuk buku ini karena, di beberapa bagian, saya masih berharap bahasa dan contoh yang ditampilkan bisa dibuat lebih ringan. Saya memberikan nilai 4/5 dalam kacamata saya sebagai penulis, bukan sebagai pembaca.
Sebagai pembaca—saya menikmatinya dengan sempurna.
Terima kasih kepada penulis, penerbit, dan segenap orang yang, lewat buku ini, membantu saya menjernihkan pikiran saya.
Alias: cari jalan pintas menuju ilmu. Namanya juga usaha.
Dan setelah membaca Madilog dalam Gambar, saya bisa bilang saya mendapatkan jauh lebih banyak dari yang tadinya saya harapkan. Tidak hanya bukunya relatif mudah dibaca untuk topik sesulit ini, tapi, surprisingly, di tengah berbagai prahara kehidupan dewasa, konsep Madilog ternyata membantu saya melihat hidup dengan lebih jernih.
Quick recap: Madilog ternyata semacam arahan cara berpikir kritis ala Tan Malaka, yang mengajak kita melihat dunia dengan lebih jernih melalui MAterialisme, DIalektika, dan LOGika. It is very interesting.
Materialisme di sini tentu bukan berarti mata duitan, tapi berpegangan pada dunia material: apa yang nyata, apa yang bisa kita amati, dan apa yang dapat kita periksa—alih-alih buru-buru menjelaskan sesuatu melalui hal-hal gaib atau mistis. Dialektika mengajak kita melihat dunia sebagai sesuatu yang terus bergerak, berubah, dan penuh pertentangan; sementara pikiran dan tindakan manusia juga berinteraksi dengan kondisi nyata tersebut. Dan logika ya, as it sounds: berpikir secara logis.
Dan walaupun Madilog sendiri ditulis udah lama banget—tahun 1940-an—surprisingly, cara berpikir ini terasa sangat applicable dalam kehidupan kita hari ini. Rasanya sambil membaca, saya terus berpikir: kurangnya kemampuan melihat kenyataan dengan kritis seperti ini masih jadi masalah untuk Indonesia, mungkin juga dunia hari ini.
Tapi lebih-lebih, ternyata, untuk diri saya sendiri.
Karena sambil membaca buku ini, sebetulnya saya pribadi lagi punya banyak masalah juga di dunia kerja. Saya melihat orang-orang dengan reputasi indah gemilang, dengan kata-kata yang manis dan terdengar dalam dan tulus. Tapi di sisi lain, saya melihat tindakan mereka bukan hanya tidak sampai pada ideal yang mereka katakan—kadang justru mengkhianatinya.
Saya seperti melihat raja yang telanjang, tapi diminta untuk bilang bahwa ia pakai baju.
Dan karena semua orang bilang saya salah lihat, lama-lama saya jadi berpikir: apa saya yang salah?
Tapi membaca buku ini membuat saya sadar bahwa jawabannya sebetulnya sederhana.
I have to trust what I see. Not how people want me to see.
Kalau saya ingin terlepas dari belenggu-belenggu yang mengungkung saya, saya harus berani melihat dunia apa adanya. Walaupun orang lain tidak melihatnya. Walaupun orang lain ingin saya melihat sesuatu yang berbeda.
Jika raja telanjang, maka ia telanjang.
Jadi, walaupun Madilog mungkin dibayangkan sebagai alat pembebasan sebuah bangsa—cara bagi individu-individu untuk membebaskan pikirannya dari berbagai bentuk penjajahan—ternyata saya pun mendapatkan manfaat yang sangat personal darinya: ia membantu saya melihat hidup saya sendiri dengan lebih jernih.
Dan karena Madilog pada akhirnya berakar juga pada pemikiran Marxist, ternyata jawaban dari permasalahan kehidupan saya pada akhirnya adalah: saya harus jadi Marxist.
Saya harus, seperti Tan Malaka, berontak terhadap orang-orang yang dengan mulut manis berusaha bilang bahwa kerja saya, usaha saya, tak seberarti ide-ide dan jabatan mereka 💙.
Adapun saya tidak bisa memberikan nilai 5/5 untuk buku ini karena, di beberapa bagian, saya masih berharap bahasa dan contoh yang ditampilkan bisa dibuat lebih ringan. Saya memberikan nilai 4/5 dalam kacamata saya sebagai penulis, bukan sebagai pembaca.
Sebagai pembaca—saya menikmatinya dengan sempurna.
Terima kasih kepada penulis, penerbit, dan segenap orang yang, lewat buku ini, membantu saya menjernihkan pikiran saya.
May 16, 2026
Tadinya saya kira isinya akan 90% gambar ternyata gambar digunakan sebagai ilustrasi dalam menjelaskan konsep. Karena banyak konsep yang harus dijelaskan sehingga cukup banyak gambar ilustrasinya, hampir di setiap halaman ada dari 134 halaman. Menjadi tidak membosankan karena tidak hanya berisi teks.
Pemaparan jelas dan mudah dipahami. Apalagi dengan contoh konteks yang sesuai dg kondisi Indonesia saat ini. Seperti belajar berpikir Madilog dalam melihat isu yang sedang berkembang.
Yang selalu ditekankan adalah berlandaskan material, dengan dialektika menggunakan logika berpikir yang benar. Diajarkan cara yang benar dan diberitahukan cara yang salah.
Menurutku buku ini wajib dibaca agar tidak tergulung informasi di media sosial sehingga tidak mengenali isu sesungguhnya.
Pemaparan jelas dan mudah dipahami. Apalagi dengan contoh konteks yang sesuai dg kondisi Indonesia saat ini. Seperti belajar berpikir Madilog dalam melihat isu yang sedang berkembang.
Yang selalu ditekankan adalah berlandaskan material, dengan dialektika menggunakan logika berpikir yang benar. Diajarkan cara yang benar dan diberitahukan cara yang salah.
Menurutku buku ini wajib dibaca agar tidak tergulung informasi di media sosial sehingga tidak mengenali isu sesungguhnya.
July 4, 2026
This book generally fun to read, with "Bahasa Bayi" writting and generally conveyed Ibrahim's ideas in Madilog pretty effective and relatively easy to grasp. The downside I think is in last chapter "Madilog Menjelaskan Indonesia 2025", it turned into rhetorical pretty fast, using Madilog as pebbles to the regime, nothing wrong with throwing rocks at Prabowo, but this chapter clearly rhetorical, clearly in "progressive" camp, feels less like an application of Madilog's critical method and more like a contemporary political interpretation inspired by it, annoyed me that more on Adornian because Negative Dialectic still matters for me, reality just too complex, material incentives and other contexts must counts.
May 27, 2026
Untungnya baca ini dulu, baca ini saja masih harus berpikir keras. Bagusnya buku ini diberi contoh terkini. Lebih banyak memberi contoh soal kondisi negara. Materialisme yang kudu banget sesuai empiris mungkin agak gimana gitu kalau membahas agama. Namun, buku ini tidak memberi contoh ke arah agama, tp lebih ke mistis, mistis yang hantu2 dan kepercayaan2 yang begitulah. Pun materialisme dimaksud itu jangan pasrah2 banget sm dogma, tanya donk, dinalar donk, jangan iya iya aja yang jatohnya jd fanatik tanpa ilmu. Gitu sih.
August 11, 2026
Critical Thinking becomes one of the most essential aspects these days. Let alone, we are overwhelmed by today's cheesy and not-so-important issues around. We have to force ourselves to probably think harder than before. This book simplify Tan's thought in the most possible way. Loved how it connects MADILOG with every day's issues (although, some of them are tend to be more "political"). Now, I know why Tan and Sjahrir turned each other back then. From now on, students have to dig and digest this man's ideas to the fullest.
June 23, 2026
Pengingat untuk membaca dan menyelesaikan Madilog...
August 23, 2026
Buku yang menjabarkan bagaimana cara berpikir kritis ala Tan Malaka dengan banyak contoh nyata melalui kejadian terkini. Harusnya pemerintah baca sih, supaya paham apa yang harus dilakukan 😥
August 30, 2026
Seru, relatable, meski ada beberapa kalimat yang susunannya katanya rada membingungkan
Displaying 1 - 9 of 9 reviews









