Selama setahun terakhir, Bone meninggalkan kesan spesial secara mendalam bagi saya. Setelah Makassar, daerah ini menjadi tujuan paling populer saya karena urusan eks pekerjaan. Yap, bahkan mengalahkan kabupaten kelahiran sendiri, Bulukumba.
Daerah ini bukan hanya sekadar tempat saya berdiam saat berkunjung. Mengenali Bone berarti berkenalan dengan adat dan budaya Bugis yang masih kental. Demikianlah saya mengagumi daerah yang pernah dinakhodai Arungpone La Pawawoi Karaeng Sigeri, Batara Tungke'na Bone.
Nah, buku Rumpa'na Bone mengisahkan (dengan beberapa bumbu fiktif) terkait keruntuhan Kerajaan Bone saat masa kepemimpinan La Pawawoi lebih dari 100 tahun silam. Kisah suram kerajaan terbesar di Sulsel saat ini menjadi hal yang menarik dijadikan pelajaran berharga.
Aksi heroik rakyat Bone membela kerajaannya begitu tergambar secara gamblang. Semakin meneguhkan prinsip siri' yang selama ini melekat pada jiwa orang Bugis. Meski terus dibombardir oleh pasukan Belanda, raja Bone beserta rakyatnya memilih untuk terus melawan. Tak ada kata takluk jika konsekuensinya harus tertindas.
Meskipun demikian, beberapa bagian di buku ini tidak begitu menarik. Not a really page turner. Ada beberapa hal yang tidak penting, bahkan tidak berpengaruh pada keseluruhan isi buku. Di bagian awal, alur terasa begitu membosankan.
Pada akhirnya, buku ini memberikan gambaran umum situasi yang terjadi selama masa perlawanan imperialisme. Tinggal kita sebagai generasi mendatang menjadikan kisah ini sebagai spirit untuk berjuang melawan penindasan dalam bentuk apapun.
Saya hendak mengutip semangat perjuangan Arungpone La Pawawoi: "Mauna sia labela teppa risalewang langi'rekkua tellesangmuni ada assiturukenna kitaa' napaturungede Nabi Muhammad, nabiku. Apa iya riwatakku mangngolo sia watangkaleku temmangngolo sia bela atikku ri Kompanie'---Walaupun aku akan terdampar di luar bumi sekalipun asalkan saya tidak goyah keyakinanku kepada kitab yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, nabi saya. Karena itu adalah pendirianku, biar tubuhku menghadap atau tertawan, tetapi hatiku sudah pantang bersua dengan kompeni Belanda."
Semangat perjuangan itulah, oleh La Pawawoi terus digelorakan. Kendati ia telah ditawan oleh penjajah Belanda, sikap amanah atas sumpah kepada rakyat dan taat pada adat yang dijunjung tinggi tak pernah luntur dan memudar. Semoga kita bisa meneruskan prinsipnya.
Kurru' sumange!