Kisah dalam Novel ini terjadi ketika Belanda menyerang Kerajaan Bone di bawah pemerintahan Raja Bone ke-31, Lapawawoi Karaeng Sigeri, tahun 1904-1905. Untuk menyerang kerajaan Bone, Belanda mengerahkan 1.332 personel militer, 575 personel non-tempur, tujuh kapal perang, 316 ekor kuda, dan berton-ton mesiu.
RUMPA'NA BONE atau Runtuhnya Kerajaan Bone, walaupun fiktif, dirangkai dengan fakta-fakta sejarah. Ribuan pasukan tewas dari kedua belah pihak dalam pertempuran massal di Pantai Bajoe'. Ini membuktikan nilai-nilai patriotisme rakyat Bugis-Makassar saat melawan penguasa Eropa.
Dalam karya fiksi ini, kita dapat menemukan kearifan lokal dalam adat-istiadat rakyat Bugis-Makassar yang menjadi jati diri dari etnis itu sampai sekarang. Demikian pula nilai-nilai kemanusiaan dalam perang yang menyentuh dan mengharukan. Semangat kebebasan dan jiwa merdeka orang Bugis-Makassar termanifestasi sat melawan kolonialisme. Kecintaan pada kebebasan ini pula yang terlihat dalam semangat pantang menyerah rakyat Sulawesi Selatan pada perang kemerdekaan menegakkan NKRI.
Novel sejarah dengan latar belakang etnis Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan, seperti yang kita baca dalam novel ini, masih langka di Indonesia.
Selama setahun terakhir, Bone meninggalkan kesan spesial secara mendalam bagi saya. Setelah Makassar, daerah ini menjadi tujuan paling populer saya karena urusan eks pekerjaan. Yap, bahkan mengalahkan kabupaten kelahiran sendiri, Bulukumba.
Daerah ini bukan hanya sekadar tempat saya berdiam saat berkunjung. Mengenali Bone berarti berkenalan dengan adat dan budaya Bugis yang masih kental. Demikianlah saya mengagumi daerah yang pernah dinakhodai Arungpone La Pawawoi Karaeng Sigeri, Batara Tungke'na Bone.
Nah, buku Rumpa'na Bone mengisahkan (dengan beberapa bumbu fiktif) terkait keruntuhan Kerajaan Bone saat masa kepemimpinan La Pawawoi lebih dari 100 tahun silam. Kisah suram kerajaan terbesar di Sulsel saat ini menjadi hal yang menarik dijadikan pelajaran berharga.
Aksi heroik rakyat Bone membela kerajaannya begitu tergambar secara gamblang. Semakin meneguhkan prinsip siri' yang selama ini melekat pada jiwa orang Bugis. Meski terus dibombardir oleh pasukan Belanda, raja Bone beserta rakyatnya memilih untuk terus melawan. Tak ada kata takluk jika konsekuensinya harus tertindas.
Meskipun demikian, beberapa bagian di buku ini tidak begitu menarik. Not a really page turner. Ada beberapa hal yang tidak penting, bahkan tidak berpengaruh pada keseluruhan isi buku. Di bagian awal, alur terasa begitu membosankan.
Pada akhirnya, buku ini memberikan gambaran umum situasi yang terjadi selama masa perlawanan imperialisme. Tinggal kita sebagai generasi mendatang menjadikan kisah ini sebagai spirit untuk berjuang melawan penindasan dalam bentuk apapun.
Saya hendak mengutip semangat perjuangan Arungpone La Pawawoi: "Mauna sia labela teppa risalewang langi'rekkua tellesangmuni ada assiturukenna kitaa' napaturungede Nabi Muhammad, nabiku. Apa iya riwatakku mangngolo sia watangkaleku temmangngolo sia bela atikku ri Kompanie'---Walaupun aku akan terdampar di luar bumi sekalipun asalkan saya tidak goyah keyakinanku kepada kitab yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, nabi saya. Karena itu adalah pendirianku, biar tubuhku menghadap atau tertawan, tetapi hatiku sudah pantang bersua dengan kompeni Belanda."
Semangat perjuangan itulah, oleh La Pawawoi terus digelorakan. Kendati ia telah ditawan oleh penjajah Belanda, sikap amanah atas sumpah kepada rakyat dan taat pada adat yang dijunjung tinggi tak pernah luntur dan memudar. Semoga kita bisa meneruskan prinsipnya.
Ada beberapa hal yang membuat saya bingung dengan fiksi sejarah ini. Pertama, awalnya saya kira Petta Sele', salah satu anggota keluarga Kerajaan Bone, yang dijadikan tokoh utamanya. Namun, ternyata bukan. Lantas, saya bingung, cerita-cerita di awal, seperti persahabatannya dengan perwira Belanda Letnan van den Briek, kisah ketika memimpin rombongan untuk menghadiri Jubelium Ratu Wilhemina, dan kisah romansanya dengan I Bunga Rosi, itu fungsinya apa, karena setelahnya tidak dimasukkan lagi ke dalam alur cerita. Tokoh utamanya pun ternyata adalah sang raja Kerajaan Bone saat itu, yaitu Lapawawoi Karaeng Sigeri.
Hal kedua yang membuat saya bingung adalah gak ada penjelasan tentang sebab dibalik bergeloranya api kebencian rakyat Bone kepada (Hindia) Belanda, setelah sebelumnya kerajaannya sendiri menjalin hubungan baik dengan Pemerintah Hindia Belanda. Terus, penjelasan sebab dibalik Belanda tiba-tiba memerintahkan pemerintahannya di tanah Macassar untuk menguasai wilayah Kerajaan Bone pun perlu dielaborasi lebih lanjut. Kenapa kalo perdagangan di sekitar wilayah Bone tetap dikontrol oleh Kerajaan Bone membuat pendapatan Hindia Belanda turun dua puluh persen? Dua poin ini menandakan seperti ada missing link dalam kronologis sejarahnya.
Hal terakhir yang membuat saya bingung dengan fiksi sejarah ini adalah genrenya. Diniatkan sebagai fiksi sejarah namun lebih terasa seperti buku non-fiksi sejarah. Lebih khusus lagi buku sejarah tentang "Pertempuran di Pantai Bajoe' tahun 1904-1905". Terlalu banyak detail-detail, seperti strategi kedua belah pihak dan jalannya pertempuran hari demi hari, yang membuat gelora api rakyat Bone yang menyala-nyala saat itu tidak bisa saya rasakan.
Secara keseluruhan, saya tidak bisa menikmati fiksi sejarah ini. Lain halnya jika sejak awal buku ini diniatkan sebagai buku non-fiksi sejarah.
Saya kira ini buku bakal membosankan, ternyataaa diriku sangat menikmatinyaaa 😍😍😍 sungguh rasa haru, tegang, dan sedih berkecamuk saat menyimak perjuangan Arumpone beserta rakyatnya dalam melawan penjajahan Belanda. Buku ini memberi penyegaran kembali di tengah2 literatur sejarah yang masih Jawa-sentris. Sesuai dengan judulnya, Rumpa’na Bone yang berarti Runtuhnya Kerajaan Bone, maka endingnya sudah bisa ditebak. Meskipun begitu, tetap saja jiwa patriotik yang ada di dalam diri ini tergugah, tapi lebih merupakan rasa bangga karena Indonesia, khususnya Bone, memiliki sosok seperti Arumpone ini. Luar biasa 👏👏👏
Catatan tambahan: menurut saya, sepertinya kisah Petta Sele’ dan I Bunga Rosi di awal cerita tidak begitu diperlukan karena tidak disinggung lagi hingga akhir cerita. Ini seperti pemanis kisah yang agak dipaksakan. Hanya dengan memberikan deskripsi singkat mengenai pelanggaran Panggadareng saya rasa sudah cukup.
Berkisah tentang perlawanan kerajaan Bone kepada Belanda ..
Awalnya saya kira setting cerita tentang sepak terjang 2 anakarung yaitu Petta Selle dan Petta Torro, namun ternyata bukan, justru Arumpone yang menjadi inti cerita..
Di tengah langkanya novel sejarah, terutama sejarah perlawanan terhadap Belanda di luar jawa, buku ini memberikan pengetahuan tambahan tentang perjuangan anak bangsa melawan penjajahan Belanda terutama di luar jawa..
Bahwa banyak perjuangan2 melawan Belanda atau kolonialisme di luar sana yang tidak terekam itu adalah fakta, karena di Indonesia waktu itu belum terbiasa dgn kegiatan "mencatat", atau malah di Indonesia ini "lupa" akan sejarah?? Bisa jadi...