Jump to ratings and reviews

The Boy in the Suit - Bocah Berjas

Solo hanya ingin jadi normal. Dia mau punya nama yang biasa saja, berharap bisa beli seragam betulan yang pas untuknya, juga kepingin punya ibu yang tidak mengalami Semua Bikin Marah seperti Morag. Tetapi yang paling penting, dia ingin sekali berhenti menyusup ke acara pemakaman untuk mendapatkan makanan gratis.

Suatu hari, Solo dan Morag menyusup ke acara pemakaman atlet selebritas dan mereka tertangkap basah. Jurnalis yang ada di sana memotret mereka dan mencetak artikel tentang mereka di koran-koran. Dalam sekejap, Solo dan Morag jadi viral. Setelah itu jendela rumah mereka dilempari telur, Morag tidak bisa mendapatkan pekerjaan, sementara Solo masih perlu beli seragam sekolah.

Kondisi Semua Bikin Marah Morag makin parah, dan suatu hari, dia pergi begitu saja. Meninggalkan Solo.

376 pages, Paperback

Published May 27, 2026

Loading...
Loading...

About the author

James Fox

89 books15 followers

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
127 (48%)
4 stars
104 (39%)
3 stars
31 (11%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 50 reviews
Profile Image for Kaye.
123 reviews2 followers
February 11, 2025
I'm a bit torn by this book. As a former teacher, I've met many real cases like Solo over the years...

Overall, I enjoyed reading the book. It reminded me of how important it is not to ask children in school to tell you or write about, how good their weekend/holiday was. For many, its grim. It's just that they dont know it. Yet. A good book about kids with issues.

But. And for me it's a big but. The but that meant I didn't give it 5 stars.

But I did not like, or recognise, the depiction of teachers, schools and how this boy was treated.
Primary teachers notice a lot. Yes, sometimes the kids are good at masking, at hiding the truth about life at home. Often school becomes their safe, happy space - they like the routines, knowing there's good everyday and people there whose behaviour is also routine, predictable, kind. There are rules which are applied if they go you far...

In truth, I didn't like how the school and teachers were shown to be uncaring, not noticing anything even surprised by events. At many schools , (Secondary can, I know be very different) we use an electronic system to record our observations, things we've heard things that might, one day, be really important. Primary schools are not perfect but better than media, including books, depicts. It just makes me cross and I knew much of the story was unlikely.

As was the tale of the school trip. These days the Risk assessment rules would not mean that the teacher didn't have a register or forget to do a headcount. A trip is like a military campaign. 30 children out means 30 children back. In an activity Promary children would definitely NOT be wandering around a town. They definitely would not be without supervision or regular check ups. The bus would not do what it did.

That annoyed me too!

So despite being annoyed, I enjoyed reading a well written story of a child in need of parenting. It makes you think. How many more are out there. We need to find them and help them, even if that's the last thing their parents wants, at that moment, to happen
Profile Image for aynsrtn.
665 reviews28 followers
July 8, 2026
❝Itulah sebabnya aku menamaimu Solo. Karena kaulah satu-satunya yang kubutuhkan. Kau, anakku yang tampan, adalah yang terbaik!❞ (hlm. 25)

Middle grade memang genre hurt-comfort favoritku. Comfort karena selalu mengingatkanku pada masa-masa anak-anak menuju remaja yang sedang seru-serunya. Hurt karena kesedihannya sering kali terasa begitu nyata. Anak-anak sekecil itu harus berhadapan dengan dunia orang dewasa yang gemar menghakimi.

Buku ini bercerita tentang Solo Walker yang beberapa kali menyusup ke acara pemakaman bersama ibunya, Morag, hanya untuk mendapatkan makanan gratis. Suatu hari mereka ketahuan, lalu videonya menjadi viral. Tagar "bocah pemakaman" dan "ibu pemakaman" ramai diperbincangkan di media sosial. Di dunia nyata, hidup Solo pun semakin berat. Ia menjadi sasaran perundungan di sekolah, harus menghadapi berbagai aturan yang tidak ia pahami, dan tiba-tiba ditinggalkan Morag. Sesuai namanya, Solo benar-benar merasa sendiri.

Relasi ibu dan anak laki-laki.
Cerita disampaikan melalui sudut pandang orang pertama, yaitu Solo, anak laki-laki berusia sepuluh tahun. Meskipun masih kecil, cara berpikirnya terasa jauh lebih dewasa daripada usianya. Ia sebenarnya sudah lelah harus terus menyusup ke acara pemakaman dan beberapa kali meminta Morag berhenti. Solo pun merasa kagok dengan seragamnya yang beda sendiri. Ia selalu memakai jas yang kedodoran. Namun, ia juga paham keadaan mereka. Jangankan membeli seragam baru yang sesuai aturan sekolah, untuk makan saja mereka harus mencari cara agar tetap bertahan hidup.

Yang paling kusukai dari buku ini adalah dinamika hubungan Solo dan Morag. Di tengah segala keterbatasan, mereka tetap menjadi tempat pulang satu sama lain. Morag hanya punya Solo, dan Solo pun hanya ingin bersama ibunya.

Ibu yang tak ingin dipanggil ibu.
Saat membaca buku ini, aku sempat bertanya-tanya mengapa Morag tidak ingin dipanggil ibu, mami, bunda, atau panggilan sejenis. Ia lebih memilih dipanggil dengan namanya sendiri.

"Mami. Dia bilang panggilan itu membuatnya merasa 'bukan seperti dirinya' setiap kali ada yang memanggilnya Mami. Seolah-olah dia tidak pernah memiliki hidupnya sendiri sebelum aku lahir. Dia selalu lebih suka dipanggil Morag sejak aku masih kecil." (hlm. 77)

Menurut Solo, alasannya sesederhana itu. Namun, aku menangkapnya sedikit berbeda. Aku merasa Morag tidak ingin dipanggil ibu karena ia tidak pernah merasa dirinya cukup pantas menyandang peran itu.

Di awal cerita, Morag terlihat begitu plenger. Saat Solo sudah cemas ketahuan menyusup ke acara pemakaman, Morag justru masih sempat menggoda bartender. Ia juga beberapa kali menggunakan Solo agar orang lain merasa iba—mengaku kecopetan supaya boleh naik bus gratis atau mengatakan Solo kelaparan agar diberi makanan.

Namun, semakin jauh membaca, semakin terlihat bahwa Morag sebenarnya tidak pernah nyaman hidup dengan cara seperti itu. Ia mencatat semua utang, makanan yang pernah diambil tanpa membayar, hingga bantuan yang pernah diterimanya. Ia berharap suatu hari nanti bisa melunasi semuanya ketika mendapatkan pekerjaan yang layak.

Di situlah aku menyadari bahwa Morag bukanlah ibu yang buruk. Ia hanyalah seseorang yang terus-menerus dipaksa bertahan oleh keadaan.

Solo yang selalu solo.
Di tengah kemiskinan yang mereka alami, sebenarnya banyak orang ingin membantu. Ada guru yang peduli, kepala sekolah yang memberikan voucher makanan, hingga tetangga yang menawarkan bantuan. Namun, Solo hampir selalu menolaknya.

"Kenapa sih semua orang selalu menyuruhku meminta bantuan? Itu memalukan. Aku bisa mengurus semuanya." (hlm. 199)

Kalimat itu terasa menyakitkan karena keluar dari mulut anak berusia sepuluh tahun.

Menurutku, Solo bukan sekadar gengsi. Ia sudah terlalu sering dikecewakan hingga kehilangan kepercayaan pada orang dewasa. Mereka berbicara dengan bahasa yang terlalu rumit, membuat Solo merasa semakin terasing. Akibatnya, ia memilih memikul semuanya sendirian, meski sebenarnya sangat membutuhkan pertolongan.

Chetna sebagai antitesis Solo.
Kehadiran Chetna menjadi penyeimbang yang menarik. Ia adalah kebalikan Solo dalam banyak hal. Jika Solo menganggap melanggar aturan sebagai sesuatu yang biasa demi bertahan hidup, Chetna justru takut berbuat salah karena ingin menjadi murid terbaik. Jika Solo memendam semua perasaannya, Chetna tidak ragu bercerita kepada orang tua maupun guru.

Melalui dua tokoh ini, penulis menunjukkan bagaimana pola asuh dan lingkungan membentuk cara seorang anak memandang dunia. Solo tumbuh dengan rasa tidak percaya, sedangkan Chetna tumbuh dengan keyakinan bahwa selalu ada orang dewasa yang bisa dimintai bantuan.

Rekomendasi.
Satu-satunya hal yang sedikit menggangguku adalah penyelesaian akhirnya yang terasa cukup cepat. Aku masih ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Solo setelah semua yang ia lalui.

Kalau kalian penasaran mengapa dari tadi aku lebih banyak membahas Morag, sementara sosok ayah Solo nyaris tidak disebutkan, jawabannya ada di dalam buku ini. Jadi, bacalah buku ini #bersiaplah.

Bagiku, The Boy in The Suit bukan hanya cerita tentang kemiskinan. Buku ini juga berbicara tentang harga diri, rasa malu, serta bagaimana seorang anak tetap berusaha mencintai ibunya meskipun dunia terus menghakiminya.

🌹 4,5 bintang untuk "Dahulu aku selalu merasa aku sebatang kara, bahwa aku sendirian. Persis seperti namaku, Solo. Tapi, aku merasa aku tidak akan solo lagi." di halaman 369.
Profile Image for Jackie.
139 reviews1 follower
January 11, 2025
I’m not sure how any other books I read in 2025 will top this one! Dang, what a start. This book made me tear up more than once, but it’s such a good read. Will be recommending to everyone I know. Also loved my dog’s best friend made an appearance, IYKYK. 5 stars… would give 6 if I could!
Profile Image for Jiyan Demir.
27 reviews
January 11, 2025
A book that made my heart full of all sorts of emotions. Mainly felt very sad for Solo having to go through all of that at such a young age. But it is soooo interesting to read this book from his point of view with his thoughts and understanding his emotions. Highly recommend 5/5!
Profile Image for Samantha Morgan.
126 reviews2 followers
June 9, 2025
So I really enjoyed this, and it’s certainly a book corner keeper. The story was believable and I felt myself empathising with several of the characters.

But. And it’s a big but.

As a teacher, there is absolutely no way in a million years that anyone would get away with treating Solo the way Mrs Carmichael did. Or with losing two children on a school trip AND returning back to school without them. That part was so unbelievable that I had to deduct a whole star.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for nadinosaurus.
370 reviews8 followers
August 26, 2026


Tadinya, aku mau menyerah di 100 halaman pertama. Rentetan peristiwa yang dilalui Solo terlalu menegangkan, menyakitkan, dan terlampau menguras emosiku. Solo dan ibunya, Morag, berpindah dari satu pemakaman ke pemakaman lain untuk mendapatkan makanan gratis—tentu saja dalam upaya bertahan hidup sebagai orang tua tunggal tanpa pekerjaan.

Meski berani melanjutkan, di pertengahan buku keputusanku lagi-lagi diuji. Sikap Solo pada Chetna membuatku merasa tidak nyaman. Bagian ini seakan-akan menggambarkan besarnya dampak pengasuhan yang tidak sehat dan terasa manipulatif. Solo secara naluriah mereplikasi sikap-sikap Morag. Kesadarannya akan konsekuensi seakan tidak cukup membuatnya lepas dari rantai tersebut. Sedihnya, banyak anak-anak seperti Solo di dunia yang kita tinggali.

Makanan di buku ini bukan sekedar tempelan. Narasi Solo menggambarkan rasa, tekstur, dan bentuk masing-masing mereka. Mulai dari keju berbalur tepung roti yang nyaris gepeng dari tas Morag, roti lapis dengan ham yang hampir berlendir, hingga panekuk di piring. Detailnya juga mewakili kelas sosial, pengalaman hidup, dan emosi Solo.

The Boy in the Suit melampaui ekspektasiku. Isu psikologis dan sosial yang selama ini dekat dengan dunia anak-anak dikemas rapi-rapi dalam hidup Solo. Segalanya memiliki pesan. Realitas manusia tidak pernah sederhana, tidak hitam putih. Satu individu tidak bisa dijelaskan lewat satu label saja.
Profile Image for Denise Gale.
83 reviews5 followers
May 3, 2024
I was sent an ARC by the publisher in exchange for an honest review so thank you Scholastics as i really loved this book!
This is certainly a story for our times and an important one to tell for several reasons. Meet Solo a young boy who lives with his single mum Morag who has taken to attending funerals for the sole purpose of eating the food on offer. Solo is not very good at keeping a low profile at these events and they are eventually caught out, consequently their lives become more complicated. This book tackles themes around poverty and mental health and the awful impact it can have on children especially when there is no family support network to fall back on. It highlights the importance of community and sharing problems but also it highlights the importance of kindness. My heart broke for Solo who seemed to be fighting a losing battle with both his mum and other adults around him. It is aimed at middle grade readers and so ultimatly it left me feeling hopeful with the understanding that sometimes problems can only be solved with the help of others you just need to know who to ask.
I would highly recommend this book, it would be a great story for 10 or 11 plus and will certainly encourage some great class discussions helping to foster empathy and kindness. It’s also a timely reminder that as adults we need to be more in touch with those around us and make sure we do our own due diligence when it comes to kids that might be struggling.
This book is perfect for fans of Boy at the Back of the Class and Goldfish Boy, I would highly recommend and can’t wait to read more books by this author.
Profile Image for Mrs Walsh.
973 reviews8 followers
September 24, 2024
Well that was an absolute rollercoaster of emotions!!! A beautifully written book with some hard hitting themes. A book I think should be read by all children and adults. ABSOLUTE PERFECTION!!
324 reviews1 follower
July 28, 2025
4.5/5 - great book
8 reviews
January 14, 2026
loved it so much. nearly cried and was funny at the same time.
1,064 reviews4 followers
July 15, 2026
Mooi verhaal over kinderarmoede en leven met ouders met psychische problemen. Er zitten stomme beslissingen in, maar hoofdpersonage Solo is dan ook nog maar tien jaar. Het einde is misschien iets te rooskleurig, maar met de zware thema’s van het boek is dat eigenlijk wel nodig in kinderboek voor lezertjes van rond de tien.
Profile Image for Readingwithhirai.
272 reviews8 followers
September 15, 2026
“Bocah pemakaman, begitu julukan orang-orang terhadap Solo. Banyak yang tak dimengertinya termasuk kondisi Semua Bikin Marah Morag.”

Menyelesaikan buku ini dengan perasaan tak karuan ada sisi haru, sedih dan bahagia sekaligus lega semuanya jadi satu. Aku sedih banget waktu ngebayangin Solo dan Morag harus menyusup ke pemakaman untuk mendapatkan makanan. Mereka tidak hanya makan di tempat melainkan juga membungkus beberapa makanan untuk dibawa pulang. Kehidupan Solo dan Morag jelas sangat kekurangan namun Morag selalu menunjukkan sisi egonya yang menutup akses bantuan dari manapun untuknya dan Solo. Apalagi saat mereka berdua akhirnya ketahuan dan diviralkan karena kelakuannya itu, bukan hanya Morag yang malu namun Solo juga pasti sangat ketakutan. Waktu di sekolah adalah waktu yang dibenci Solo. Selain tidak punya seragam sesuai ketentuan, teman-temannya selalu membulinya dengan sebutan “Bocah Pemakaman”. Kelakuan Solo di sekolah memang selalu menimbulkan amarah pada guru-gurunya sampai suatu hari mereka mengetahui alasan mengapa Solo menjadi seperti itu.

Alur buku ini cukup cepat berpindah dari satu scene ke scene lainnya, menariknya setiap bahasan baru selalu memunculkan perkembangan konflik dan penyelesaian yang menenangkan. Ada sisi tegang, ikut takut dan bingung apalagi saat Solo melakukan pencarian saat Morag hilang. Ada sisi menyebalkan juga dari Morag maupun Solo, ibu dan anak ini memang selalu memberikan kejutan. Kalau tak membaca sampai akhir sepertinya aku akan membenci keduanya. Untuk anak seusianya tentu saja Morag sudah sangat banyak melalui gelombang kehidupan yang pahit mulai dari kekurangan finansial dan kasih sayang. Sejak kecil dia hanya punya Morag sementara ayahnya sudah punya kehidupan baru bersama perempuan lain. Sebagai anak kecil, banyak yang tak dipahami Solo mulai dari kebiasaan Morag saat mengalami “Semua Bikin Marah” begitu mereka menyebutnya. Solo menganggap semua itu hal biasa, dia menyukai hal-hal sederhana seperti ceruk tempat tidurnya yang kumuh. Bukan hanya menjelaskan sisi sedih dari sudut pandang Solo (anak-anak) namun juga ada sentuhan kisah perjalanan seseorang sembuh dari kesehatan mental di dalamnya. Terjemahan buku ini sangat luwes dengan ukuran dan jenis font yang nyaman di mata membuatku semakin betah baca bukunya sampi akhir.

Banyak kejadian dalam satu alur buku ini namun bagusnya semua terselesaikan dengan baik tidak ada yang menggantung dan tetap nyambung melengkapi satu sama lain. Rasanya seperti beneran masuk dalam kisah hidup Solo, bertemu anak-anak yang lugu, labil dan banyak mengambil keputusan tanpa berpikir sampai dengan orang dewasa dengan kepala beragam mulai dari yang banyak menyimpan rahasia, mengandalkan ego sampai yang kehilangan arah sekalipun. Solo bukanlah anak nakal, dia hanya tak tahu harus bagaimana agar dianggap normal. Dia bahkan bisa berteman dan melihat sisi baik dari orang-orang yang berbuat baik padanya.
Anak kecil itu hanya menyerap apa yang dilihat dan didengarnya, begitupun Morag menceritakan tentang ayah dan kehidupan barunya. Anak kecil itu tak punya banyak kuasa apalagi ketika tidak dilibatkan dalam kepentingan keluarga seperti saat Morag menutup akses bantuan untuk makanan maupun seragam. Begitupun anak kecil hanya berharap bisa hidup seperti sedia kala tak peduli kemewahan apa yang didapatkan setelahnya. Mereka sulit membaca keadaan, mereka hanya mampu berdoa semoga setelah bangun tidur kejadian mengerikan itu hanyalah mimpi buruk, begitupun yang dialami Solo saat Morag hilang.

Begitulah perjalanan hidup Solo mulai dari mendapatkan perundungan sampai akhirnya menemukan ketenangan dan rasa aman. Buku ini benar-benar memberikan banyak nasihat kehidupan bukan hanya untuk anak-anak namun juga untuk orang dewasa mulai dari bagaimana memandang sebuah kasus viral, bagaimana bereaksi terhadap kesusahan orang lain, bagaimana mencerna keadaan yang baru serta bagaimana mendengar penjelasan orang lain. Bagaimanapun juga setelah bencana besar itu kehidupan normal yang diimpikan Solo bisa tercapai. Buku ini cocok untukmu yang suka cerita hangat, mengharukan, penuh makna, perjuangan dan juga pengorbanan dari sisi keluarga, teman maupun orang sekitar.

Sekilas tentang Novel
The Boy in the Suit (Bocah Berjas) merupakan buku untuk pembaca usia 10 tahun ke atas yang memberikan sisi kehangatan dan mengharukan di dalamnya. Pembaca akan bertemu dengan Solo dan Ibunya, Morag dalam sebuah pemakaman. Mereka tidak diundang, bukan juga kerabat dekat melainkan untuk kepentingan menyusup mendapatkan makanan gratis. Sayangnya kali ini mereka ketahuan dan masuk dalam berita viral. Kejadian itu membuat kehidupan Morag dan Solo semakin menyedihkan. Buku ini membawa kita dalam perjalanan menarik tentang lika-liku kehidupan Solo dalam sudut pandangnya sampai dia menemukan kehidupan normal yang diidam-idamkannya itu.

Bocah Pemakanan dan Seorang Ibu yang Memanfaatkan
Bocah pemakaman dan seorang ibu yang memanfaatkan, begitu anggapan orang-orang yang memberitakan mereka berdua setelah kejadian viral mencuri makanan di pemakaman. Solo dan Morag adalah ibu dan anak dengan hubungan unik, mereka sangat dekat, nyentrik tapi juga terlalu bebas. Dari buku ini aku melihat bahwa anak itu benar-benar meniru apa yang dilakukan orang tuanya seperti saat Morag menolak bantuan seragam dan makanan. Begitupun Solo menolak bantuan untuk mencari Morag yang hilang. Mereka berdua sering salah paham karena komunikasinya buruk ditambah Morag yang mengalami kejadian “Semua Bikin Marah” yang tak dipahami Solo. Meskipun begitu rasa sayang di antara mereka berdua itu tulus, Solo tetap memilih ibunya apapun kondisinya begitupun Morag yang selalu merindukan putra kesayangannya.

Kehidupan Normal yang Diimpikan Solo
Solo hanya ingin hidup normal, sebenarnya hidup normal seperti apa yang diinginkannya? Makan makanan dengan membelinya di swalayan atau toko makanan atau membeli seragam tanpa harus memikirkan biaya? Begitulah Solo dianggap tak normal karena mencuri makanan di pemakaman dan kehadirannya di sekolah dengan seragam awut-awutan itu. Solo marah pada ibunya yang tak bisa memberikan kehidupan normal itu apalagi tanggapan Morag juga tak pernah serius. Sampai akhirnya Solo dihadapkan dalam kenyataan menyedihkan, hidup normal seperti orang-orang tanpa Morag atau kembali menjadi putra Morag dengan segala hal aneh itu. Sayangnya Morag sama sekali tak bisa memilih antara keduanya, semuanya mengalir begitu saja.

Pencarian yang Menegangkan
Buku ini ada sisi petualangan menegangkan juga saat Solo mencari Morag yang hilang. Dibandingkan meminta tolong ke orang dewasa dirinya justru melakukan pencarian tanpa persiapan yang baik. Awalnya baik-baik saja sampai akhirnya dia mendapatkan kesulitan. Dari situlah semua orang akhirnya tahu Morag menghilang. Solo ketakutan, dia takut kali ini akan diviralkan lagi namun tanggapan orang-orang di sekitarnya berbeda, mereka justru merangkulnya. Dia benar-benar tak memahami apa yang dialaminya yang jelas dia merindukan Morag.

Akhir yang Melegakan
Solo menemukan sisi kehidupan normal yang diimpikannya setelah melalui banyak ketegangan dalam hidupnya. Akhir yang cukup melegakan karena masing-masing masalahnya mulai menemukan titik terang. Solo memahami apa yang terjadi begitupun ayahnya yang kembali hadir di kehidupannya. Solo mulai mencerna apa yang sebenarnya terjadi mulai dari kejadian viral itu, bertemunya kembali dengan sang ayah sampai kondisi kesehatan Morag setelah ditemukan. Solo adalah anak yang tabah dan berpikir sangat dewasa, dia perlahan bisa menerima semua hal menyedihkan dalam hidupnya. Setelah pintu itu berhasil ditutup dia membuka pintu lain dengan kehidupan baru yang lebih menyenangkan di dalamnya.

Apa yang Menarik dan Kurang dari Buku Ini?
Buku ini menceritakan betapa menyedihkannya kemiskinan membelenggu dari sisi orang tua tunggal dan anak kecil. Kemiskinan membuat Morag dan Solo harus berpindah dari pemakaman ke pemakaman lain hanya untuk mendapatkan makanan. Mereka juga sering menipu dan mencuri untuk mendapatkan tumpangan maupun sekedar kebutuhan seragam sekolah. Buku ini menguarkan sisi menarik dari isi kepala Solo maupun Morag dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada. Ceritanya sangat menghangatkan dan mampu menyentil hatiku membuatku terisak saat berhasil menyelesaikannya. Kita akan melihat perjalanan Solo dalam mulai menyelesaikan masing-masing benang ruwet dalam hidupnya.

Konsep, Penokohan, Alur dan Eksekusi Cerita
Konsepnya menarik banyak hal yang aku tahu setelah baca buku ini seperti makanan apa saja yang ada di pemakanan, makanan apa yang menurut Solo enak dan makanan apa saja yang menurutnya paling tidak enak di pemakaman sampai alasan mereka mencuri makanan. Tidak banyak tokoh hadir dalam satu alur cerita seperti Solo si bocah pemakaman, Morag sang ibu bocah pemakaman, Chetna, Ayah Solo, Imelda, teman-teman Solo dan guru-guru yang mendampingi perjuangannya. Penulis mengeksekusi ceritanya sangat baik tanpa meninggalkan konflik yang belum terselesaikan.

Kesan dan Perasaanku Saat Membaca Buku Ini
Aku sangat menikmati keseluruhan ceritanya mulai dari dinamika hubungan dan konflik ibu anak antara Solo dan Morag. Morag merupakan ibu yang nyentrik dan unik, dia sangat bebas dan santai meskipun sebenarnya menyimpan bom yang siap kapan saja bisa meledak. Aku dibuat menangis, haru, sedih, bingung, kesal dan bahagia dalam satu alur. Perasaanku sangat sedih memikirkan Solo yang tak tahu harus berbuat apa saat itu, dia terhipnotis kebiasaan Morag yang selalu menolak bantuan sehingga dia merasa hilangnya Morag harus ditemukannya sendiri. Sayangnya hal itu membuat masalahnya semakin besar dan menyeret lebih banyak orang lagi. Rasanya hatiku sakit, Morag dan Solo mencuri makanan untuk bertahan hidup namun mereka diviralkan segitunya. Seharusnya kasus itu berhenti sampai situ saja namun sayangnya Morag juga menambah masalah semakin runyam. Adakalanya aku benci Morag maupun Solo namun ada sisi lain yang membuatku ingin memeluk keduanya.

Pelajaran dan Pesan yang Diberikan dari Cerita
Banyak sekali pelajaran dan pesan kehidupan yang diberikan dari bukunya mulai dari berhenti memandang kehidupan orang lain yang lebih baik dari kita adalah surga apalagi membuat standar kebahagiaan dari kehidupan orang lain. Masih banyak orang-orang yang kesulitannya lebih dari kita bahkan sekedar makan untuk besok pagi saja mereka harus memutar strategi seperti Solo dan Morag. Pahami bahwa setiap hubungan yang terpenting adalah komunikasi, Morag dan Solo tak memiliki sisi komunikasi layaknya anak dan ibu sehingga mereka banyak salah memahami perspektif. Berhentilah menjadi seseorang yang egois, pahami kapan waktunya kamu memang membutuhkan bantuan karena menerima bantuan tidak akan membuatmu terlihat menyedihkan. Morag menutup akses bantuan untuknya dan Solo karena egonya yang tinggi sehingga mereka terjebak dalam masalah lebih besar dari sebelumnya. Kita harus bisa melihat dua sisi berbeda dari sesuatu yang kita dengarkan untuk menilai mana benar dan mana yang salah agar tidak menyesal nantinya. Sebagai anak kecil jangan merasa bisa menyelesaikan apapun sendirian termasuk ketika anggota keluargamu satu-satunya sudah tak pulang berhari-hari. Beranilah meminta tolong untuk segera mendapatkan bantuan lebih pasti dari orang dewasa dan pihak berwajib.

Buku Ini Cocok untuk Siapa?
Awalnya aku mengira buku ini ditujukan untuk usia dewasa ternyata untuk U10+ meskipun tema yang dibawa cukup berat namun ceritanya dikemas ringan sangat aman untuk edukasi dan diskusi bersama si kecil. Buku ini cocok untukmu yang suka dengan cerita hangat, mengharukan dan penuh perjuangan dengan akhir yang melegakan. Semuanya saling berkaitan dari satu konflik ke konflik lain dan bagusnya satu persatu terselesaikan dengan baik. Banyak hal mengejutkan mungkin juga bikin tegang justru itulah yang membuat buku ini berbeda dan betah kubaca sampai tuntas.
Profile Image for Nic.
329 reviews5 followers
November 2, 2024
Solo lives with his mum- known as Morag to everyone, including Solo. She is struggling in myriad ways and spiralling, pulling Solo along with her. Morag’s mental health problems have led to unemployment, poor decisions, estrangement form those who could help and extreme behaviours. Solo, is our fallible narrator, and we read a lot between the lines of his child’s take on proceedings. The effect of this is often heartbreaking.

Things take a very public and very embarrassing turn, when Morag and Solo are caught at a celebrity’s funeral and make the headlines. This is only the start of Solo’s problems. But sometimes, things have to get so much worse before they can begin to get better.

When I first started to read this novel, I worried that the surreal world of funeral crashing would lessen the impact of the wider messages of Solo’s story. As I read the last page, sobbing, I knew what a great job James Fox had done in a) writing an engaging story people are going to read from cover to cover and b) showing the blight of poverty and mental health struggles on people’s lives. Solo’s suit is a sad symbol of his vulnerability. The funeral crashing is a symptom of marginalisation and desperation.

This is a sometimes difficult read- Fox makes you care deeply about the characters and yet we stand by unable to help. We also see the role of schools in the treatment of their young people-getting it very wrong and then the power of getting it right. It definitely made me wince a few times. I really liked the way Morag was ultimately treated with respect as somebody who was ill, despite it causing huge failings in her safeguarding of Solo. It’s also sometimes really funny and I think James Fox has managed to show that the human experience isn’t black and white: you can be down and almost out, but humour persists.
Profile Image for Tizy97.
58 reviews3 followers
April 18, 2026
Molto caruccio. Una lettura scorrevole ma molto riflessiva. Solo non ha mai compreso il carico emotivo e psicologico che ha dovuto sopportare. Molto interessante che l’autore ci ha fatto comprendere la gravità della situazione come occhio esterno nonostante a parlare fosse un bambino di 10 anni in prima persona. Avrei preferito che l’autore magari si soffermasse sugli aspetti negativi che alla fine Morgan ha scatenato. La situazione di Solo entrava nella sfera di abusi psicologici e non mi andava giù che Morgan è stata per tutto il tempo quasi giustificata con il fatto che non stesse bene. Avrei preferito che Solo si confrontasse con la madre per le lettere e i soldi rifiutati da parte del padre che le mandava. Questo aspetto “egoista” della madre che insisteva nel rifiutare l’aiuto dicendo che non aveva bisogno faceva morire di fame e di freddo un bambino. Ma alla fine ci sta che Solo tutto ciò che vedeva era solo sua madre e la voleva con sé. Spero che rimanga con il padre e che senta la madre, sì, ma non ci ritorni ad abitarci insieme.
La parte centrale è stata un po’ superflua dal mio punto di vista. Tutto quel cercare la madre da parte sua e di Chetna l’ho trovato tedioso. Ammetto che quando è stata presentata Chetna avevo paura che diventasse il solito libro di formazione con la ragazzina tsundere e il protagonista che facevano cose. Invece Chetna è stata davvero un bel personaggio, molto d’aiuto a Solo.
La parte iniziale mi ha incuriosito molto e la parte finale è stata molto soddisfacente. Un bel libro.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Amelia.
88 reviews
August 31, 2025
This book is so very real in a way......

As soon as I first saw this book on GoodReads, I was intrigued. Who is the boy in the suit? Why is he wearing the suit?

I remember seeing the book in my local library but couldn't borrow it as I didn't have my library card and when I wanted to borrow it another time, the book had already been borrowed. The third time, I finally got to borrow the book.....and I'm so glad I did.

I don't often enjoy books that have been released in the past few years.....I know that sounds pretty random and probably kind of weird but it's just something about the modern slang and over-use of pop-culture that irritates me.......thankfully "The Boy In The Suit" avoided that.

Solo felt like such a real character: he had flaws, he had good traits, he had weaknesses and most of all, he had personality. The way he was written felt realistic enough for somebody who is supposed to be 10-years-old but still mature in his own way.

His love for his mum, Morag, was heartwarming in a sense because you don't often see that in kids books (parents are usually an embarrassing liability!) The way she was portrayed as a loving but not-so perfect mother was moving.

This book is probably more for younger kids rather than the teenager I am but I truly enjoyed every bit of it.

This book is author James Fox's debut: I am looking forward to seeing what books he writes next. 🌟🌟🌟🌟🌟
Profile Image for Richard.
357 reviews
November 25, 2025
Ten year old Solo just wants to be normal. His school uniform doesn't fit, his Mum makes him crash funerals to get free food and then there are the big bad reds which his Mum seems to suffer more with on an ever increasing basis. When Solo and his mum crash the funeral of a celebrity and are caught doing so, suddenly everyone knows their business and then to make matters worse Solo's Mum goes missing.

I don't usually review the books I read with my children but this was such a perfect, beautifully written and moving book about a family struggling to survive that I wanted to share. This is a story about a forgotten family who are struggling to pay for the basics in modern Britain because on the outside everything seems fine. As a consequence, the author explores the mental health implications of living day to day, not knowing where your next meal is coming from and trying to provide a good life for your children while also putting on a brave face for them so they are not weighed down with parental worries. The story also explores that unbreakable bond between child and parent, when it comes down to it, even if they are offered a better life elsewhere, all they really want is their parent to be safe and happy and with them. Moving and funny. I would highly recommend it.
Profile Image for Arimi Reads.
1,053 reviews12 followers
February 17, 2025
This one was highly emotional. It was also a really triggering read for me personally, but I'm glad I finished the book.

The Boy in the Suit is a heartfelt and poignant novel that masterfully balances serious themes with moments of humour. Solo, the ten-year-old protagonist, navigates the challenges of his mother's mental health struggles and their financial hardships with a resilience that is both inspiring and endearing. Despite the gravity of his circumstances, Solo's witty observations and the humorous interactions with his friends provide much-needed levity throughout the narrative.

The author's ability to infuse comedy into the story not only makes Solo's journey more relatable but also highlights the importance of hope and laughter in the face of adversity. While the novel delves deep into issues like child poverty and parental mental health, its lighthearted moments ensure an engaging and uplifting read. Fans of middle-grade fiction that tackles real-life issues with a touch of humor will find The Boy in the Suit both moving and entertaining.

A part of me wishes this book had a sequel. But another part of me is glad it doesn't.
Profile Image for Han☕️.
130 reviews21 followers
October 15, 2024
4.5/5

As someone who has seen this type of situation play out in real life, I can say how accurate this book portrayed it. While not all stories like this will be the same, I found this such a heartbreaking and heartwarming tale of such a difficult topic. Especially from the child’s perspective.

The author did an incredible job at writing a book for a younger audience on this such a hard hitting theme, while making it accessible for older audiences too. I like to think this would be an amazing read for any child to better understand others, and those you may have negative feelings towards.

I didn’t expect to enjoy this as much as I did and I hope that it gives an insight into how much some may struggle without even realising it. I don’t want to give anything away but I recommend this to everyone🤍
Profile Image for Snarhooked.
592 reviews2 followers
December 26, 2025
I quite liked this story and it would be a good class read for developing empathy. As an adult reading it, I thought there were a few too many unrealistic aspects. The mum refuses to consider going to a food bank or accepting other offers of help but will, in public view, plead with shopworkers to give her items for free. The media naming and essentially threatening a child. One teacher ignoring Solo's signs of neglect and another member of staff noticing but giving him things rather than raising awareness of it. The farce of the school trip. But I think these are aspects that the majority of the target audience wouldn't be concerned by.

I really liked Chetna and was glad she was there to make sensible decisions. She also worked well as a way for Solo to realise things weren't the way they should be in his life.
Profile Image for Leonie.
Author 2 books65 followers
February 16, 2026
OMG this book almost made me tear up from emotions it was incredibly sad going toward the end but everything wrapped up in such a happy way that I truly enjoyed this book so much we meet a ten year old Solo who’s mother is struggling with her mental health known as the big bad reds which means Solo doesn’t live his age life as an only child he struggles to do a lot for his own as a ten year old one thing I loved about this book was how Fox captured the cost of living crisis and mental health and being an only child at such a young age having a mum that doesn’t live like a normal mother and dealing with angers, and pain also the humour in this book was also sweet and I adored Chetna she was such a great character making Solo feel not alone within it all
Profile Image for Ella-Mae Campling.
248 reviews60 followers
October 27, 2024
A beautiful, needed book. But definitely one that works well in classroom settings or for emotionally developed kids that work well around sad subject matter. This book beautifully discusses the impact and necessity of community in times of strife, and has important messages on the importance of empathy for all. I think this is a beautiful book, but may be quite a lot for the younger minded children/ younger tweens. I know my young 13 year old sister is very wary of material that she would find challenging, so this would be more difficult for her. This book is not one suited for all, but those who can read it, will find many essential messages.
Profile Image for Manic Booksy Dreamgirl.
443 reviews22 followers
February 10, 2025
Already my favourite book of 2025, absolutely incredible read that everyone should check out as soon as possible.

I've often bemoaned the lack of Working Class stories in Children's Publishing and this book was the perfect antidote to my complaints. I haven't felt this understood or represented in fiction since I read Jaqueline Wilsons 'The Illustrated Mum' as a little girl.

This book made me laugh, it made me cry and i'll be recommending it to every young reader I met.
Profile Image for Kelly Garlinge.
172 reviews
September 28, 2024
This was a beautiful, touching book that actually left in with some surprise tears! As someone who works with young people, I know that this is a story all too familiar to many young people but it’s one you won’t find voiced very often.
The perfect book to open up important conversations with young people.
219 reviews
October 20, 2024
Wow!! What a whirlwind of emotions in this book. The main theme explores a child’s perspective of the cost of living crisis and the large impact it can have on a family.

Everyone needs a Chetna to be their cheerleader and help you through difficult situations even if you are unsure.

Also covers the supportive network of split-families.
Profile Image for Rose Edwards.
66 reviews
October 29, 2024
Incredible read! A fantastic insight into child poverty, and how the child goes to all lengths in school to hide the facts from other children and the teachers.
Although this is a child's book, and UKS2 /MG /LKS3 book, I think its an important book for children, young people and adults of all ages to read.
An absolute pleasure to read, even though you want to cry and hug little Solo at times.
Profile Image for Astrid Lim.
1,373 reviews48 followers
December 2, 2024
This book has a great theme of mental health, parenting, and social justice especially in UK during this economy. But, sometimes Morag (the Mom) made me so mad I can't enjoy the story anymore lol. However, it's getting better in the middle of the book and the ending is sweet too. It's just - why the worst parent has the best kid?? Not fair, lol
Profile Image for Tara Elliott-Lopéz.
16 reviews
June 19, 2026
Lo siento pero que aburrimiento, se que la historia es importante para unos individuales y aprecio entender las dificultades de la gente pero no lo encontré muy interesante hasta los últimos capítulos. Aunque no me da pena de haber leer porque creo que me ayudó entender las percepciones de gente differentes.
Profile Image for Carina.
205 reviews
November 9, 2024
4.6/5

I saw it in the bookstore, saw a quote from the author of Tracy Beaker, read the blurb and knew I had to buy. If you like this, I recommend the books (also middle grade appropriate) My Name is Leon by Kit de Waal and After Zero by Christina Collins.
Displaying 1 - 30 of 50 reviews