Aku benar-benar berharap agar seluruh pembaca khususnya para wanita, suatu saan nanti mampu berteriak secara lantang bersamaku dengan mengatakan, “Selamat Tinggal Tuhanku Aku Perempuan Merdeka”, tapi tenang saja, ini bukanlah bentuk pelarian diri dari Tuhan Sang Maha, ini hanya bentuk pembangkangan terhadap tuhan yang berwujud manusia, baik yang bersemayam dalam diri manusia sendiri maupun dalam wujud ciptaan yang lainnya.
Namun, aku mohon, maklumkan saja jika lembaran-lembaran buku ini nantinya akan diisi dengan tulisan-tulisan yang mungkin memuakkan, dan jika benar-benar mencapai titik itu, tutup saja bukunya, campakkan ia ke sudut kamar, kemudian berwudhu dan setelah itu aku berharap ia akan dipungut dan dibaca lagi.
Buku ini menceritakan tentang pengalaman-pengalaman hidup penulis dan dituangkan dalam sudut pandangnya sendiri. Secara garis besar, saya seperti sedang membaca buku harian seseorang, hanya saja dalam bahasa penyampaian yang lebih komunikatif sehingga pembaca dapat memahami hampir keseluruhan latar belakang cerita sang penulis. Sepertiga awal dari keseluruhan halaman buku ini membuat saya geram dengan fase kehidupan dan sudut pandang penulis dalam menuangkan pengalaman-pengalaman spiritualnya. Setelah melewati fase dua pertiga, saya dibuat jatuh cinta dengan buku ini. Buku ini membuat saya kesal sekaligus terkesan. Emosi saya naik-turun, namun tidak mengurangi minat saya untuk membaca seluruh isi buku ini. Overall, ini buku yang “lumayan” bagus untuk dibaca.