Jump to ratings and reviews
Rate this book

Memasak Harapan

Rate this book
Di halaman-halaman “Api Kartini”, majalah terbitan Gerwani di akhir 1950-an, gagasan tentang kebangsaan dan peran perempuan berdampingan dengan resep masakan dan cerita dari saudari-saudari yang sama-sama bergerak di berbagai belahan dunia.

Dari sana kami mulai: membaca arsip-arsip ini, memasak ulang resep yang tersaji, menulis kembali apa yang kami rasakan ketika api kecil itu dinyalakan lagi di dapur kami sendiri.

Memasak Harapan adalah tujuh esai yang dihidangkan untuk mengingat nenek-nenek revolusioner kita.

Selamat mencicipi.

***

Memasak Harapan disajikan dari dapur POST Editions, kantin untuk hidangan yang diracik dan dimasak bersama di POST Bookshop, Pasar Santa, Jakarta.

73 pages, Paperback

Published April 1, 2026

Loading...
Loading...

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
47 (46%)
4 stars
45 (44%)
3 stars
7 (6%)
2 stars
1 (<1%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 27 of 27 reviews
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,067 reviews2,030 followers
October 1, 2026
Zaman aku masih sekolah dulu, tanggal 30 September dan 1 Oktober selalu jadi satu paket peristiwa. "Berkat Pancasila lah, kita selamat," kurang lebih itu potongan kalimat yang kuingat. Ternyata, itu semua cuma "agenda" si ytta.

Kemarin, aku merekomendasikan Sinar Mata Penuh Harapan--kumpulan cerpen dari majalah Api Kartini--sebagai bentuk merawat ingatan terhadap penghapusan paksa kelompok intelektual perempuan yang progresif ketika itu.

Hari ini, di tanggal 1 Oktober, aku merekomendasikan sebuah bacaan yang tidak kalah pentingnya.

Memasak Harapan tidak hanya sekadar buku tentang melawan lupa dan merawat ingatan. Melainkan juga tentang intepretasi generasi atas Gerwani dan Api Kartini.

Delapan penulis yang pernah hidup dan bersekolah di bawah kekuasaan Orde Baru pasti tidak asing dengan propaganda-propaganda tentang Gerwani. Penulis-penulis ini kemudian mengintepretasikan salah satu rubrik dari majalah Api Kartini menjadi sebuah "perjalanan" reflektif. Dan rubrik itu adalah rubrik Masakan.

Delapan orang memilih satu edisi Api Kartini untuk kemudian dicoba resep masakannya. Mereka kemudian menulis apapun yang mereka rasakan. Baik itu tentang kesulitannya menerjemahkan kosakata, ingatan tentang apa itu "pulang" dan "rumah", hingga kompleksitas dalam sebuah organisasi perempuan.

Satu hal yang kemudian aku bisa ambil dari Memasak Harapan: with compassion, collective can thrive more. Bertengkar & kegagalan sudah pasti ada. Tapi dengan compassion, kita bisa terus berusaha dan mencoba. Termasuk, perkara menjajal resep masakan.

Ada yang gagal. Ada yang berhasil. Tapi toh delapan penulis ini tetap bersedia untuk menyusun tulisan, membuatnya menjadi buku yang indah untuk dibaca. The compassion that they poured into their writings, juga harapan agar kolektif bisa semakin kuat, terasa juga kepadaku sebagai pembaca.

The book is beyond beautiful. Meski belum sukses membuatku ingin mencoba resep-resep itu, setidaknya buku ini berhasil membuatku ingin membaca Api Kartini.
Profile Image for Willy Alfarius.
111 reviews11 followers
July 24, 2026
Salah satu cara merespons sekaligus mengaktivasi arsip yang cukup menyenangkan ya begini ini: mempraktikkan resep masakan yang ada di majalah lawas. Arsipnya nggak tanggung-tanggung; majalah Api Kartini terbitan Gerwani sejak 1959 hingga pra-1965. Buku ini berisi delapan esai yang cukup reflektif sembari memberikan konteks, mengisahkan para penulis yang mencoba meracik dan mengolah makanan berdasarkan resep yang ada di majalah organisasi perempuan progresif ini.

Praktik ini seperti hendak membilang kembali, bahwa selain proaktif dan militan di lapangan politik dan organisasi publik, Gerwani juga begitu perhatian dengan hal-hal yang domestik mulai dari mengurus anak, sandangan, sampai perkara pangan di rumah. Puluhan tahun distigma sebagai perempuan “seram” dan pemberontak, realitanya Gerwani ya sama dengan perempuan pada umumnya. Yang publik dan domestik bisa berjalan seiring. Sekaligus aku jadi kepikiran, betapa memang perempuan selalu menanggung beban lebih di dalam institusi rumah tangga (jadi lanang-lanang suami kalo males membantu gawean omah perlu dikamplengi wae).
Profile Image for Nad..
192 reviews18 followers
May 10, 2026
Kalau bukan karena buku ini, saya tidak akan terpantik untuk mengenal lebih dalam soal Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Alih alih disajikan dengan cerita yang menyayat hati sebagaimana banyak buku sejarah Indonesia 1965, buku ini disajikan dengan hangat dan penuh harap.

Tersaji seperti sepiring hangat masakan ibu dari dapur. Karena secara harfiah “memasak” dalam judulnya memang betul betul cerita tentang memasak ulang resep Indonesia dari jaman tersebut (seperti: pergedel tomat dan eskrim susu kelapa).

Tak hanya resep makanan, buku ini tersaji lengkap dengan ‘lauk sampingan’ berupa kisah perjuangan perempuan Indonesia di era 60an untuk mendapatkan kebijakan yang setara di hadapan UU, hingga cerita para perempuan eksil politik yang mencari suaka di negeri orang. Nyam nyam.
Profile Image for Wilo.
91 reviews1 follower
April 27, 2026
Suka sekali konsepnya, menghidupkan kembali majalah Api Kartini dengan cara memasak kembali resep-resep yang ada di dalamnya dan membuat refleksi terhadap itu.

Menurutku pribadi, potongan dan foto dari beberapa bagian majalah Api Kartini juga merupakan sebuah sentuhan menarik dari buku ini. Aku jadi tersadar bahwa begitu banyak yang berubah dari Bahasa Indonesia, dimulai dari pengejaannya hingga pilihan katanya.

Personal Fav: Minuman Ketan Hitam yang Belum Selesai oleh Teddy & Maesy. Penutup yang menurut ku penting dan tepat.
Profile Image for raafi.
981 reviews472 followers
April 25, 2026
Buku ini mungkin akan saya bawa ke mana-mana untuk menjaga api/asa yang mungkin kerap redup. Untunglah, tipis. Bagus sekali masing-masing dengan caranya. Hangat, penuh harap.
Profile Image for Anggid Primastiti.
67 reviews
September 11, 2026
Sungguh sangat-sangat amat bagus! Tulisannya apik sekaliiii aku bisa merasakan setiap cerita dan masakan dan peristiwa dan apapun yang tertulis disini punya jiwa dan makna yg dalam. BAGUS 👏🏼⭐️
Profile Image for Fatma.
43 reviews1 follower
August 18, 2026
overall, sangat heartwarming dan seru banget pengemasan refleksinya dari resep-resep Api Kartini. belajar banyak dari buku ini, hopecore dan lawancore!

• bagian pertama. "kurasa memasak sendiri adalah sebuah kegiatan mengasihi diri sendiri. memasak adalah sebuah aksi mengasihi" 🍳

• bagian kedua. refleksi yang dekat denganku karena lekat ke pertemanan & solidaritas itu. menurutku, tanpa teman, kayanya ku tidak mampu bertahan di dunia busuk ini. haruskah recreate resep api kartini dg sahabat-sahabat seperti bageur & teman2 kongsi8 🤔

• bagian ketiga. refleksi menohok sih karena penulisan sejarah '65 beneran se-tidak-akuntabel itu... apakah "pelurusan sejarah" di forum-forum kecil sudah cukup, sementara sejarah yang didikte di buku paket sekolah mendemonisasi dan minim menyinggung perjuangan PKI, Lekra, BTI, SOBSI, Pemuda Rakyat, Gerwani, dll.

• bagian keempat. agar-agar selalu ingat ini membekas banget lagi... terima kasih Riz & Aru karena jadi kayak ikutan ngobrol di situ, huehehe. banyak berkenalan dengan bestie-bestie Gerwani yang keren: Mia Bustam, Francisca Fanggidaes, S.K. Trimurti, Umi Sardjono, Siti Rukiah, Carmel Budiarjo, Salawati Daud. also wondering kalau negara gak takut dan gak jahat sama perempuan to the point merrka menangkap, menahan, membungkam, mengeksil — Indonesia sudah semerdeka apa ya? huft

• bagian kelima. outrageous banget... sepakat dengan refleksi bahwa "kebencian terhadap perempuan sudah berlangsung sejak lama dan terus berulang." huft sedih kapan ya women's liberation tersebut.. kapan ya liberation for all the oppressed tersebut...

• bagian keenam. SEDIH dan jadi ingin membaca "dari kamp ke kamp" - Mia Bustam. belajar banyak hal di refleksi ini... bener juga bahwa label "nomaden" kerap disematkan ke masyarakat asli, padahal praktiknya penjajah yang nomaden dan mencaplok tanah dan mencuri semuanya untuk kepentingan mereka sendiri... udah maling, masyarakat asli pun dimiskinkan dan dipersekusi alias THE AUDACITY! pada praktiknya ini beneran semasif itu terjadi di dunia dan juga tentunya di Indonesia sendiri dah (oleh penguasa dan pengusaha tai). sebal.

• bagian ketujuh. chapter yang juga sangat dekat..... kadang perjuangan itu cukup depresif karena jalannya tampak gak berujung dan terjal. merasa hopeless aja dengan kejahatan yang skalanya semasif ini dan dimana-mana. dari chapter ini aku jadi penasaran sama Mak Ompreng ini bejir beliau slay dan selalu menyerukan bahwa perlawanan itu bisa dikobarkan mereka yang berada di ranah domestik (alias sepakat BGT). di akar rumput sekarang, ku juga suka liat ibu-ibu demo bawa panci gitu melawan program gaje macam MBG, dan mereka super slay super konsisten melawan.

"seperti fermentasi yang harus dicoba lagi, gerakan juga harus terus diulang, diperbaiki, dijaga agar tidak mati."

"entah fermentasi ini akan berhasil atau tidak. kalau gagal lagi, kami tahu bahwa kami akan kembali mencobanya. dan entah kapan, dan dalam bentuk apa, kami menaruh harapan sesuatu yang indah akan muncul di sana. sesuatu yang memberi kehidupan." # perseverance (in the face of grief) core
Profile Image for Chrys Tsai.
17 reviews
June 20, 2026
to be completely honest, Memasak Harapan is not something i would naturally pick up (i pick it up for the sake of bookclub i’ll be attending this weekend). i know embarrassingly little about indonesian history, and before reading this book, i barely knew anything about gerwani beyond the fragments of narratives fed to us through school textbooks and popular discourse. i certainly did not expect a short collection of essays centered around food and recipes to send me down a rabbit hole about one of the darkest chapters in our nation’s history.

yet somehow, it did.

what makes this book fascinating is that it transforms something as ordinary as food into something profoundly political. recipes are not merely recipes. they are archives. they are memories. they are testimonies. through Api Kartini, the women of gerwani were not only sharing what they cooked, but also expressing aspirations, identities, and visions for a different society. perhaps that is what makes the subsequent destruction of gerwani all the more tragic. what was erased was not merely an organization, but a collection of hopes, voices, and ordinary lives.

reading this book prompted me to read more about gerwani itself, its contributions, and the horrifying violence that followed 1965. it made me realize how effective state narratives can be in shaping collective memory. for decades, we inherited simplified stories, convenient villains, and selective amnesia. entire groups of people were reduced to caricatures while their humanity was deliberately stripped away.

in that sense, Memasak Harapan feels less like a book about food and more like an act of resistance. by revisiting recipes found in Api Kartini, the authors are doing something much larger: they are reclaiming memories that had been buried and reminding us that history does not only belong to generals, politicians, and victors. sometimes, history survives in recipes scribbled on old magazines.

i personally find that there is something deeply poetic about that.

because governments can censor books, rewrite narratives, and erase names from official histories. but memories have strange ways of surviving. sometimes through stories. sometimes through photographs. and sometimes, unexpectedly, through food.

this is a short read, but an intensely political one. not because it shouts slogans or preaches ideology, but because it forces readers to confront uncomfortable questions about memory, history, and who gets to decide which stories deserve to be remembered.

more importantly, it reminded me that forgetting is never a neutral act.

and perhaps remembering, no matter how small the gesture, is itself a form of resistance.

another 5 stars and good job for POST press.
Profile Image for Soui.
19 reviews
June 4, 2026
Buku terbaik yang aku baca bulan-bulan ini, buku mengenai Gerwani, gerakan feminis Indonesia yang sangat progresif. Dikemas dengan resep penuh cinta dari majalah Api Kartini, buku ini memadukan 'memasak' dengan sejarah. Sebagai seorang perempuan, buku ini terasa sangat dekat dengan aku pribadi.

Ketika propaganda rezim orde baru mengenai Gerwani terus mengakar, buku ini menghadirkan pengenalan manis untuk memberitahu banyak orang tentang 'apa sebenarnya yang dilakukan Gerwani.'

Bayangkan sebanyak apa perempuan yang mengetahui haknya, mengetahui nilai dirinya sebagai perempuan, dan seberapa banyak perempuan yang tidak abai dengan politik karena Gerwani masih bergriliya sampai hari ini. Tapi sayang, Harto nampaknya tidak terlalu suka mengasihi perempuan yang terlalu progresif.

Membaca buku ini terasa seperti membaca buku resep nenek, dengan pembawaan penulisan seperti sedang bergosip dengan teman, buku ini menghadirkan sejarah dengan kedekatan personal.

Orang-orang mengutuk Gerwani, tapi yang dilakukan Gerwani sangat bermakna, membantu perempuan belajar baca, tulis, dan berhitung. Sambil mengajarkan berpolitik, mereka membantu perempuan dalam urusan domestik pula, seperti memasak, berbagi resep, tips mengurus anak dan bayi, nutrisi anak, menjahit, bahkan cara merawat dan mempercantik diri. Seperti Ibu yang pintar dan mempunya gelar pendidikan tinggi mengajarkan putrinya untuk mandiri dan berdaya.

Mari merawat ingatan melalui sejarah manis yang bisa dibicarakan di dapur, sambil memasak, dan menghidangkan makanan penuh kasih.
Profile Image for Nyimas Gandasari.
44 reviews7 followers
July 16, 2026
Meski nggak persis sama, tp buku ini mengingatkan saya pada film Julie & Julia. Julie Powell, penulis yg punya projek menuliskan dan mereplika resep koki TV terkenal, Julia Child, yg memperkenalkan masakan Perancis pada publik AS. Memasak Harapan juga mengumpulkan sejumlah penulis yang menceritakan kembali (sebelumnya me-recook) resep2 yang ditulis di majalah Api Kartini besutan Gerwani.

Menurut saya, buku ini punya semangat yg sama dg film Julie & Julia. Mereka bukan sedang bernostalgia dengan resep-resep yang ditulis perempuan2 progresif di Gerwani. Mereka juga berefleksi, menyusuri jejak2 semangat dan berupaya memilin pemahaman ttg sejumlah isu dengan konteks masa yg berbeda, lewat masakan. Seperti halnya Julie Powell yang berhasil menemukan gairah Julia Child dibalik resep2 yang ia coba.

Buku ini ditulis para penulisnya dengan beragam format yang asyik dan bikin orang seperti saya jadi mau ikutan recook sejumlah resep masakan.

Semua "hidangan" dalam buku ini sa suka, tapi paling berkesan dengan "Agar-Agar Tidak Lupa" dan "Merawat Api Kartini". Keduanya membuat saya membayangkan solidaritas perempuan2 masa itu (gimana guyubnya, rumpinya, dan tentu saja pemikiran serta perjuangan yg pilu). Tetapi, ketujuh esai dalam buku ini sama "lezat" dan "bergizinya", seperti hidangan lintas masa yang diramu dengan bumbu-bumbu sejarah, nostalgia, dan perenungan yg ciamik.
Profile Image for sitsal.
26 reviews
September 17, 2026
Buku ini aku baca buat selingan waktu aku mulai suntuk baca karena gak cocok sama buku sebelumnya. Berhasil menyelamatkanku dari risiko reading slump karena isinya ringan tapi gatau kenapa kerasa heart warming. Mungkin karena isi dari buku ini deket banget di hati, resep masakan, jadi keinget umiku yang jago banget masak. Aku wondering gimana umiku bisa jadi jago masak kayak skrg? Apakah diajarin sama mbahku? Apakah masakan2 umikku resep turun temurun keluarga? Terus jadi membayangkan kalau mbahku punya privilage lebih di masa itu apakah bisa menikmati membaca terbitan Api Kartini? Aku jadi bertanya2 gimana kehidupan mbahku dulu. Jadi kepingin menggali cerita dari beliau. Terus aku ngerasa bersyukur banget skrg kita hidup di jaman yang lebih modern, dimana kita bisa dengan mudah searching apapun yang kita pingin tahu, beda dengan dulu yang harus buka buku atau majalah cetak hanya untuk cari satu resep. Selain itu baca buku ini ngebuat aku kagum sama ibu2 Gerwani yang punya pemikrian progresif, yang gak cuman jago berorganisasi tapi juga jago dalam urusan domestik. Dari dulu sampe skrg perempuan itu rasanya kayak super woman yaa? Selalu bisa melakukan apa aja, menjalankan berbagai peran secara bersamaan. Aku jadi kepingin belajar lebih dalam kisah tentang para ibu ibu Gerwani ini.
Profile Image for Naysilla Taufiq.
100 reviews
July 5, 2026
aku beli buku ini via online dari buku Akik. sebenernya waktu di Jakarta kebelet bangeeet mau ke Post Press, tapi ga keburu waktuuu :( selak balik Jogjiz jadi yaudalaaah beli di Jogja waeh.

kesanku baca buku ini sebenernya nyampur sih. cantik, estetik, magic, keren, dan jadi pengen menchallenge diri sendiri untuk nyobain resepnya >,<

kuhabiskan buku ini dalam perjalanan pulang-pergi Jogja Solo waktu anter Sarimah jalan-jalan eksplor kota Oslo itu :D meski dibaca sambil berdiri, effortnya ga seberapa dibanding mereka-mereka, para perempuan Gerwani.

selain pengen nyoba resep dari Api Kartini (dan baca Api Kartini di web Logos), aku juga jadi check out buku Tandus-nya, S. Rukiah karena ini juga kebetulan banget. entah karena apa, di tengah aku baca buku ini, tiba-tiba bang Bilven ngabarin buku Tandus ada stoknya lagi karena returan yang masuk ke Ultimus. jadi, yaudah, ga ragu langsung mau meneruskan baca Tandus setelah ini!
Profile Image for Reynata.
58 reviews
July 25, 2026
⭐️ 4.3/5

Oh how i love this book. Merawat ingatan dan memasak harapan melalui resep-resep masakan yang dekat dan terasa sangat hangat. Benar-benar seperti pulang ke rumah dan pelukan nenek.

Buku Memasak Harapan ini terdiri dari 7 esai yang menyelami Gerwani dari sisi yang sebenar-benarnya. Ketujuh esai di dalam buku ini bersumber dari resep masakan yang tercantum dalam Majalah Api Kartini. Majalah Api Kartini adalah perwujudan atas harapan-harapan para perempuan Gerwani untuk merealisasikan dunia yang lebih setara & layak huni bagi para perempuan di seluruh penjuru negeri. Membayangkan apa yang menimpa para perempuan visioner ini setelahnya bener-bener bikin gw sesek banget. Apa-apa saja yang sudah dinyalakan Gerwani ini gak boleh redup apalagi mati. Perlu bagi kita untuk terus menjaga dan merawat nyala tersebut agar senantiasa terang dan menghangatkan, utamanya ditengah kepemimpinan rezim yang terlampau hilang arah dan jahat ini. Hidup perempuan yang melawan!
Profile Image for Thalia Tashya.
106 reviews1 follower
August 15, 2026
when you think that history in your school textbook already cover it all, it’s wrong. here’s to see the other point of view of indonesian history, especially through women and food. two topics that cannot be separated. kita diajak kembali untuk menjajal kehidupan perempuan dan dapur di masa lampau lewat tulisan-tulisan yang terinspirasi dari majalah Api Kartini. tentu dengan fakta baru ini pun aku melakukan riset sendiri apa itu majalah yang disebutkan dan menemukan sebuah website yang menyimpan arsip majalah dari edisi pertama. another reason to be alive and curious! lewat buku ini aku mengenang lagi masak-masakan yang dulu sering dihidangkan di rumah oleh nenek. beberapa ada yang mirip meskipun cara memasak dan bahannya berbeda. begitu caranya mengenang masa lalu.

aku juga begitu takjub dengan kegigihan para perempuan untuk menuntut haknya. kita hari ini adalah buah jeripayah perempuan-perempuan hebat di masa lalu, meskipun sampai hari ini rasanya masih saja terjajah karena bentuk penjajahan pun semakin nampak tak kasat mata padahal ia nyata. aku menulis di hari kemerdekaan indonesia ke-81 yang nampaknya tidak sangat sejalan dengan apa artinya merdeka itu sendiri.
Profile Image for calista.
92 reviews
May 12, 2026
keren BANGET???? WOW. Suka banget konsep bukunya, dari deskripsi resep yang dimasak sampe train of thoughts penulis2 pada saat ngulik resepnya. & it amazes me how the amazing women of Gerwani bisa bikin majalah sekeren Api Kartini yang isinya nggak cuma tips2 kecantikan/domestik tapi juga tentang perlawanan (really love the mak2 julid section hehe) jadi penasaran buat cari majalah2nya di common archive deh… anyway the misconception of Gerwani really needs to be stopped.. in fact mereka keren bgt krn mau memberdayakan diri & sesama perempuan di tahun segitu dimana referensi masih minim dan susah nyarinya. ayolahhhh jaman dulu udah seprogresif itu, masa di jaman kita mau dibikin mundur lagi (ehhhhh). kayaknya bakalan jadi buku yang sering kubaca ulang.
Profile Image for F'.
5 reviews
July 21, 2026
Buku ini disajikan dengan sangat apik. Rasanya, saya seperti ikut diajak memasak resep-resep masakan majalah Api Kartini, juga merasakan paniknya penulis dalam proses penulisan karya ini. Wkwkw.

Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana setiap hidangan menyelipkan kisah tentang perjuangan para tokoh GERWANI dalam memperjuangkan hak-hak perempuan (usia minimal pernikahan, pendidikan, poligami, dan lain-lain). Bentuk perjuangan mereka terasa begitu kompleks, tetapi disampaikan dengan cara-cara sederhana. Hal ini seperti mengingatkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, menyajikan sepiring masakan di atas meja.

Agar-agar Selalu Ingat menjadi 'hidangan' favoritku di buku ini.
Profile Image for qila.
67 reviews
August 19, 2026
Selain dikemas menjadi kumpulan esai berhalaman tipis yang dapat selesai dibaca dalam sekali duduk, buku ini dibuat dengan format berwarna yang dilengkapi dengan foto, ilustrasi dan arsip-arsip dari majalah Api Kartini, jadi tampilannya sangat menyenangkan mata. Sambil baca, kita bisa sambil buka arsip majalah Api Kartini di internet, dan, eh… jadi keasyikan.

‘Agar-agar Selalu Diingat’ adalah ‘hidangan’ favoritku. karena dari percakapan Riz dan Aru, aku jadi berkenalan dengan tokoh perempuan Gerwani dan bagaimana kehidupan dan perjuangan para kawan dan puan di masa itu. Selain kisah-kisahnya yang membangkitkan semangat dan harapan, resep masakan yang disuguhkan seperti tahu berontak dan es krim susu kelapa rasanya ingin sekali aku coba!
Profile Image for Jihan Aulia Zahra.
93 reviews2 followers
September 15, 2026
First in my bloodline to read and dig information about Gerwani 🫡

Aku cuman tau Gerwani sepintas saja sebagai organisasi wanita yang progresif sebelum gerakan G30S/PKI. Despite dulu waktu sekolah dibilangnya mereka isinya perempuan-perempuan simpatisan atau istri dari simpatisan PKI, tapi semakin aku dewasa, semakin banyak sejarah yang aku pelajari jauh dari buku-buku sejarah sekolah cetakan pemerintah.

Sambil baca ini, aku beneran kebayang lagi redaktur dan editorial majalah Api Kartini kalau hidup di zaman sekarang jadi perempuan-perempuan pintar, cerdas, dan merdeka. A baddie I could say.
Profile Image for Arif Suwardi.
3 reviews
June 8, 2026
Memasak Harapan memuat tujuh esai reflektif dari para penulis saat memasak resep-resep lawas dari Api Kartini, majalah yang diterbitkan oleh Gerwani.

Seluruh esai di dalamnya ditulis dengan sangat hangat. Beberapa esai merefleksikan bahwa perjuangan perempuan tidak melulu berkutat di ranah domestik, melainkan bertumbuh hingga ranah politik.

Bagi saya—dan mungkin pembaca lain—buku ini menjadi gerbang pembuka yang ramah untuk mengenal Gerwani secara lebih intim sekaligus mengikis stigma negatif yang selama ini telanjur melekat di nama mereka.
31 reviews
July 23, 2026
Naskah ini memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan karena tata letaknya yang ciamik, warna kertasnya yang hangat, dan tentu tulisan demi tulisan yang dirangkai secara indah. Pembawaan tulisannya ringan tetapi tetap sarat akan makna dan kompleks dalam menjalin kelindan kehidupan perempuan yang ingin dipetakan melalui edisi-edisi Api Kartini. Bagian top favoritku yang ditulis Riz karena ada banyak fakta sejarah yang turut dicantumkan. Aku jadi bisa snowballing dari situ. Kumpulan esai ini tipis, tapi menurutku perlu dibaca berulang kali untuk mengendapkan isinya lebih dalam.
Profile Image for diah.
20 reviews
June 1, 2026
Keren banget konsepnya! Memasak ulang hidangan dari resep yang diambil dari "Api Kartini". Sesekali terharu mengingat harapan dan semangat perempuan-perempuan untuk berdaya di masa itu dan merasa tidak sendiri dalam geram terhadap keadaan di negeri sendiri dan keadaan dunia global.

Suka (dan setuju) sekali dengan kutipan "We are the granddaughters of Gerwani you couldn't burn"
Profile Image for Maudy.
184 reviews5 followers
May 2, 2026
the concept was a 10 out of 10 idea. a perfect book for Kartini’s Day, i promoted it on my office’s book club❤️
Profile Image for fayzza.
35 reviews
May 10, 2026
“agar-agar selalu ingat” ended up being my favourite story. it’s written as an interview between aru and riz, which makes it more intimate than the others. through their conversation, we hear about gerwani members mia, francisca, yu tri, umi, siti, carmel, and salawati as gerwani besties; women with ideals, friendships, and lives.

growing up in indo, i was taught the same narrative many people were: gerwani as cruel communist women tied to the violence of G30S/PKI. reading this book made me genuinely sit there thinking, damn, i really fell for men’s propaganda because the women portrayed here were fighting for things that now sound painfully basic and should NEVER been radical: equal access to education, the right to own property, the freedom to travel abroad without needing a husband’s permission. AND AND what i liked most is the story doesn't feel preachy, just telling us what happened between the gerwani besties
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
338 reviews8 followers
May 12, 2026
Memasak Harapan merupakan buku yang tipis saja dan berisi tujuh esai reflektif yang lahir dari proses membaca ulang arsip Api Kartini,sebuah majalah terbitan Gerwani di akhir 1950-an, lalu para penulis dalam buku ini memasak ulang resep-resep lawas yang ada di dalamnya. Mereka mengolah kembali resep-resep itu di dapur masing-masing, sambil menuliskan apa yang mereka rasakan—perpaduan antara nostalgia kuliner dan penggalian sejarah yang selama ini jarang dibicarakan.

Aku benar-benar cinta sama tulisan-tulisan di buku ini. Hangat dan penuh makna, persis seperti aroma masakan yang lagi dimasak pelan-pelan. Yang bikin buku ini istimewa, ia berhasil mengubah sesuatu yang sesederhana resep masakan jadi pintu masuk untuk mengenal sisi lain sejarah perempuan Indonesia.

Tidak ada satu pun bagian yang aku tidak suka, memang sesayang itu aku sama buku ini. Tipis, tapi berat maknanya, dan rasanya ini akan jadi buku yang akan aku baca ulang kapan pun butuh pengingat bahwa hal sekecil memasak pun bisa menyimpan sejarah dan harapan.
Displaying 1 - 27 of 27 reviews