Buku ini memuat 100 cerita Seno Gumira Ajidarma, yang ditulis dan dimuat berbagai media antara 1976 sampai 2025, dalam rentang 49 tahun. Eksistensi manusia, hiperbola, dan teknik pengamatan disebut sebagai tiga siasat di dalamnya, yang mengarungi berbagai tema dan gaya. Sebagai hiburan, kritik sosial, maupun penjelajahan susastra.
“… cerita-cerita dalam buku ini dapat menjadi teman yang menginspirasi Anda.” —Andina Dwifatma
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.
He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.
Meski aku tidak tahu bagaimana menulis reviu yang benar, rencananya setiap cerita akan kuberi reviu. Daripada reviu yang selayaknya, mungkin ini lebih mirip komentar semata.
Entah mungkin itu nantinya hanya akan jadi sekadar wacana atau akan memang terlaksana. Pokoknya kumulai sajalah:
[Tiga Siasat Seno Gumira Ajidarma: Semacam Kata Pengantar]: kalau boleh jujur, ini adalah ketidakperluan, rasanya aku membuang waktuku untuk membaca 9 halaman kata-kata yang sama sekali tidak ingin aku baca. Paling tidak buatlah pengantar yang menarik dan tidak semembosankan ini. Tak jelas benar untuk apa bagian ini.
1. [Daun] Permulaan yang menarik, dengan akhir yang menggantung. 2. [Rokok] perumpamaan hidup dengan sesuatu yang saya tidak sukai sehingga kurang bisa memahami. Dapat dimengerti, hanya kurang bisa setuju karena tidak sudi hidup dipersamakan dengan rokok. 3. [Tentang Seorang Perempuan dan Kucingnya] apakah perempuan yang ditemukan oleh kucing adalah perempuan yang sama di peron stasiun? Kejadian manakah yang lebih dahulu, perempuan itu menunggu di stasiun atau lebih dulu ditemukan sang kucing. 4. [Orang yang Selalu Ketakutan] seperti yang dikatakan penutur di awal cerita: cerita ini datar, tanpa klimaks, dan tanpa suprise. Salahku juga mengira dia berbohong. Dan sayang sekali, padahal cerita ini bisa jadi lebih menarik, bukannya yang sekarang tidak menarik, hanya akan lebih menarik.
5. [Dunia Gorda] Bisa terbayang bagaimana lelahnya kehidupan Gorda menjalani keduanya. Luar biasa lelaki ini sanggup satu tahun lebih menjalaninya. 4/5.
6. [Tante W] miris memang, kadang yang terbiasa jadi tidak terasa selain saat menghilang. 7. [Yang Paling Gombal dalam Hidup ini] Astaga, karena sate ayamkah ini.
8. [Nyanyian Sepanjang Sungai] Luar biasa benar kemampuan si tokoh penutur dalam menghadapi keadaan tersebut. Jelas kalau aku yang mengalami, sudah gila dibuatnya. Cerita ini membawa kengerian yang sunyi. 4/5 untuk kemampuannya menimbulkan rasa ngeri yang senyap.
9. [Long Puh] ... Jadi itu adalah bagian dari mimpi buruk atau memang kenyataan yang kelam? Entahlah, sepertinya sampai akhirpun tak kutemukan jawabnya. 10. [Katakan, Aku Mendengarnya] nah kan, kelepasan. Tapi lupakan itu sejenak, jadi bagaimana nasib Rina? 11. [Hooiyyaaaiyyooo!] Sungguh sulit untuk menuliskan judul ini, dan entah bagaimana membacanya. Namun, tak sesulit apa yang dialami Mintuk. 12. [Bayi Siapa Menangis di Semak-Semak] waduh, judul yang cukup waduh. Dan mengapa si penutur terus mengulang 'baru dilahirkan lima menit yang lalu,' mencurigakan. Dan yah, enam paragraf terakhir membuat cerita ini sedikit berkurang menurut seleraku. 3,5/5 untuk keseluruhan, 4/5 kalau saja enam paragraf terakhir itu tiada. 13. [Dua Lelaki] Astaga, itu sebabnya dari tadi kau diam saja kisanak. 14. [Cerita dari Sebuah Pantai] Siti yang malang.
Sejauh ini, yang paling menarik: Dunia Gorda, Nyanyian Sepanjang Sungai