Sebuah cerita yang menyisakan aroma akan meninggalkan kesan yang tak henti-hentinya merasuk dan bergerak dalam imajinasi pembaca. Bahkan lama setelah dibaca, cerita akan terkuak terus dan tak henti pada titik terakhir cerita. Sedangkan kejutan pada akhir sebuah cerita memberi kepuasan, dan kita paham bahwa kepuasan sekaligus juga menenggelamkan kita dalam kelupaan.
Dua belas cerpen yang terkumpul di edisi khusus Esquire ini tak hanya memberikan kesan dan kepuasan semacam itu, tapi juga memotret sisi kehidupan manusia-manusia urban dengan geliat hasrat, belitan problema, dan pencarian jati diri. Beberapa cerpen dari kumpulan ini bisa dibandingkan dengan karyakarya paling modern di mancanegara dan memberi gambaran yang cukup mewakili perkembangan cerpen di Indonesia dari masa ke masa.
Baca di kereta perjalanan Jakarta ke Semarang. Judul favorit tentu Semua Orang Pandai Mencuri dari Eka Kurniawan dan satu lagi Cinta Semanis Racun dari Anton Kurnia
Sarapan pagi dengan kopi dan kumpulan cerpen. Paling suka menghabiskan sebuah buku yang dimulai sebangun tidur, masih dalam posisi berbaring dan malas-malasan.
Ada empat cerpen kesukaan saya di sini:
Semua Orang Pandai Mencuri dari Eka Kurniawan Cinta Semanis Racun dari Anton Kurnia Sepatu Kulit Ular Warna Merah dari Seno Gumira Aji Darma Lelaki Muda itu Menangis dari Cok Sawitri
3 bintang karena cerpennya Eka Kurniawan. Ada juga beberapa yang lumayan sih. By the way cerpen pertama ngingetin saya sama kebiasaannya Phil & Claire di Modern Family. Hahaha
Dua belas cerpen yang diinterpretasikan sebagai liuk tubuh perempuan di sampul buku ini. Tajuknya diambil dari judul cerpen Eka Kurniawan yang sebetulnya, kalau boleh jujur, tidak menggairahkan sama sekali. Kurasa Cinta Semanis Racun milik Anto Kurnia lebih bikin penasaran. Kebetulan, dua cerpen mereka menjadi favorit saya di buku ini. Aroma kedua cerpen ini berbeda dengan sepuluh lainnya. Sementara kebanyakan berlatar kehidupan metropolitan, Eka dan Anton menampilkan tokoh-tokoh yang lebih merakyat: gubuk, tembakau, tarian budaya, takhayul. Meski sama-sama menyoal cinta dan gairah, milik keduanya terasa berada di jalur yang berbeda.
Yang lain, tentu saja, tidak bisa dikatakan bintang satu. Mengutip kata pengantar Richard Oh, "beberapa cerpen dari kumpulan ini bisa dibandingkan dengan karya-karya paling modern di mancanegara, sedangkan sebagian lainnya masih mencoba mengejutkan.". Cerpen Tommy F. Awuy dan editor chief majalah ini, Dwi Sutarjantono, misalnya. Mereka mencoba mengejutkan pembaca dengan akhir cerita yang "oh my god, seriously?!" meski masih menyayangkan teknik bercerita yang terkesan ala kadarnya. Cerpen Dina Oktaviani tidak bisa dikatakan main-main. Manisnya bukan main. Bukan penuh dengan kejutan, melainkan arus sungai yang mendayu-dayu; membawamu pada melankoli dua sejoli.
Ah, buku terbitan lima tahun lalu yang membuatku googling majalah seperti apa itu Esquire dan tanpa sengaja menemukan Sophia Latjuba di sampul salah satu edisinya. Tiga perlima. Aku cinta Eka Kurniawan.
Sebenarnya ini bukan tipe bacaan ku. Tapi sejauh ini, aku suka dengan beberapa cerpen yang ada di dalamnya. Di awal buku, terdapat cerpen yang membuatku tertarik untuk membacanya. Mengisahkan tentang sepasang suami istri yang sedang merayakan wedding anniversary dengan cara yang unik. Mereka bermain peran seolah orang yang tidak saling kenal, dan menceritakan masing-masing pasangan nya. Lalu aku juga suka dengan cerita kedua karya Eka Kurniawan, mengisahkan tentang seorang perempuan yang dibutakan akan cinta belianya, ia sampai menikah dengan laki-laki pujaannya meskipun tanpa restu dari orang tua. Laki-laki itu tidak mempunyai pekerjaan hanya sebagai seorang pencuri, untuk memenuhi kebutuhannya sang perempuan pergi ke luar negeri untuk menjadi TKW. Sepulang dari luar negeri ia dalam keadaan hamil karena ulah anak majikannya, ia menggugurkan janinnya agar suaminya tidak marah. Namun, di saat semuanya kembali normal datang seorang perempuan yang menggendong bayi datang kerumahnya, ia mengaku sebagai istri dari suaminya. Akhirnya, sang perempuan itu ditinggalkan oleh suaminya, dan menjadi luntang-lantung di jalanan.
Dari sisi jumlah halaman, buku ini terbilang tipis. Hanya 136 halaman. Tapi isinya, sungguh berbobot. Ketika buku ini terbit, beberapa nama yang ada mungkin belum "seganas" sekarang. Tapi bakat dan keindahan karya sudah mulai terlihat.
Tanpa sengaja, mata saya menatap buku ini di antar puluhan buku obral yang dijajakan di area kantor. Mungkin memang jodoh, mata saya langsung tertuju pada nama Anton Kurnia. Sejak lama mengenal Mas Anton, bisa dipastikan tak ingin melewatkan karyanya.
Kekurangan buku ini, versi saya tentunya, silakan jika ada yang tidak sependapat, kisahnya yang seakan dipangkas. Beberapa kisahmenurut saya berpotensi lebih panjang lagi, seolah-olah penulis ingin segera menuntaskan kisah atas nama ketrbatasan halaman.
Baru menikmati kisah, sesat kemudian kisah sudah berakhir. Belum puas rasanya membaca. Tapi begitulah hidup, tak bisa selalu mendapatkan yang kita mau bukan?
Eh..., nama Tommy yang ada di kover, apakah sama demgan dosen itu ya..., *mikir dulu sebelum memastikan *
"Buku ini berisikan 12 cerpen yang pernah dimuat di majalah pria dewasa Esquire Indonesia. Cerpen yang terkumpul di buku ini tidak hanya memberikan kepuasan bagi pembaca, tapi juga memotret sisi kehidupan manusia-manusia urban dengan geliat hasrat belitan problema dan pencarian jati diri. Karena hobiku jalan, maka cerpen favorit di buku ini adalah 'Di Ujung Jalan Orchard'. Mengungkap sisi gelap jalan yang sangat populer di Singapura."
Buku yang bagus, banyak isi cerpen dengan latar cerita tentang hal-hal yang masih ada di sekitar kita seperti psk, lgbt, pecandu dan lain-lain. Gaya penulisan yang baik dan bagus, kental akan nilai sastra. Di rekomendasikan untuk 21+ karena mengandung unsur dewasa pada setiap penulisan cerpen di dalamnya.
Begitulah antologi bermacam penulis: ada yang bagus, ada yang biasa saja, ada juga yang jelek. Mana-mana saja yang begitu di buku ini? Kukira tiap orang punya pendapat pribadi berkenaan dengan selera pribadi pula.
Judul-judul favoritku: - Lelaki Muda Itu Menangis - Lelaki dengan Ransel - Semua Orang Pandai Mencuri
3 bintang untuk cerpen karya eka kurniawan, dina oktaviani, dan tommy f. awuy. beberapa cerita harus saya baca lebih dari sekali agar dapat dimengerti. buku ini dapat dihabiskan dalam satu kali duduk
Kumpulan cerpen dari banyak penulis hebat, mulai dari Djenar sampai SGA. Ada cerpen yang bagus, yang meninggalkan kesan mendalam. Namun ada juga cerpen yang cukup dinikmati (tanpa memikirkan kejelasan endingnya).
Selain kumpulan cerpen keluaran Kompas, beberapa hari lalu saya juga membeli antologi milik majalah Esquire sebagai bacaan ringan. Kedua buku itu memang memiliki muatan yang berbeda. Semua Orang Pandai Mencuri milik Esquire jika dicari padanannya, bolehlah dibilang setipe dengan Femina. Cuma majalah ini biasanya dibaca pria. Tidak ada kekhususan bahwa ceritanya harus tentang laki-laki. Walaupun Femina dominan cerita mengenai kaum hawa.
Mari membuka struktur dari kumcer ini. Terkumpul 12 cerpen untuk seri yang pertama dari dua seri yang diterbitkan di tahun yang sama. Jika melihat keseluruhan kontributor yang ada, tidak akan jauh beda dengan kumpulan cerpen Kompas yang identik dengan nama Seno Gumira Ajidarma, Agus Noor, Djenar Maesa Ayu, dan Eka Kurniawan. Selain itu ada juga Alex R. Nainggolan, Anton Kurnia, Bre Redana, Cok Sawitri, Dina Oktaviani, Dwi Sutarjantono, Edo Wallad, Restoe Prawinegoro Ibrahin, dan Tommy F. Awuy. Ini membuat saya bertanya-tanya, apakah ukuran berkualitasnya sebuah antologi ditentukan dengan kemunculan nama-nama itu. Memang, beda rasanya ketika kita membeli buku—bukan karena faktor tulisan teman kita atau tulisan kita sendiri di sana—yang seluruh kontributornya orang-orang yang asing di telinga bahkan di jejaring sosial pun sama sekali tidak pernah eksis dengan yang punya jam terbang di luar rata-rata. Cover Buku Semua Orang Pandai Mencuri
Membaca buku ini, akan membawa kita ke zona metropolis yang mapan, dengan perkara-perkara kehidupan yang bisa ditemukan di film atau sinetron zaman sekarang. Bukan mengangkat konflik-konflik lokal yang seakan tiada pernah ada habisnya untuk diangkat ke permukaan. Pembaca cerpen Kompas ketika mulai membaca cerita pertama berjudul Dinda & Ben menganggap ada “spoiler” yang tanpa sengaja tertuliskan pada pertengahan cerpen sehingga kejutan yang disiapkan pada akhir cerita tidak lagi memberikan dampak maksimal kepada pembaca. “Kesalahan” itu tertutupi oleh cerpen Eka Kurniawan yang berjudul Semua Orang Pandai Mencuri. Penggunaan teknik flash-forward menciptakan kerumitan pada pembaca untuk menebak sosok pencurinya. Saya rasa, teknik flash-forward yang sukses adalah yang mampu membuat pembaca lelah untuk menebak-nebak—asalkan dimanfaatkan secara maksimum.
Wanita dari Blok Cepu (Bre Redana} dan Hilang Ditelan Rumah (Djenar Maesa Ayu) mengembalikan saya pada tahap kurang terpuaskan dengan suguhan cerita yang ditawarkan, lagi-lagi karena sungguh sepertinya pernah membaca cerita ini sebelumnya tapi saya buka tipe pengingat yang baik, dan saya memastikan sama sekali belum pernah membaca majalah Esquire. Semoga ada yang bisa mengingatkan saya kembali untuk jawabannya.
Di cerita berikutnya mood saya kembali naik dengan hadirnya Sepatu Kulit Ular Warna Merah milik Seno Gumira Ajidarma. Masih dengan kemisteriusan yang menyiksa pembaca sampai kalimat penutup. Kesederhanaan ide yang kemudian dimasak dengan kemewahan eksekusi.
Cerita tentang LGBT dihadirkan oleh Dwi Sutarjantono dengan judul Di Ujung Jalan Orchard. Kebodohan saya adalah terlalu lekat dengan cerita-cerita LGBT sehingga kembali bisa menebak ke mana angin mengembuskan jalan ceritanya sampai ke hilir ending yang sayangnya ditutup dengan terlalu halus atau tipikal(?).
Dejavu saya alami ketika membaca Sebutir Peluru untuk sang Bapak. Seorang PSK yang menghabiskan malamnya dengan klien yang membayarnya mahal, bukan klien biasa, namun ada tujuan di baliknya. Memutar kembali slide memori masa lalu dan ditutup dengan sebuah kalimat yang membuat alis saya terangkat dan membatin kesal, andai adegan penembakan yang sadis itulah cerita dihentikan. Saya pernah—entah membaca atau menonton—alur mirip seperti ini. Bodohnya saya karena terlalu banyak menonton/membaca. Semakin sering menemui perulangan-perulangan yang berarti.
Cok Sawitri hadir dengan Lelaki Muda Itu Menangis, cerpen absurd yang bukan makanan favorit saya dengan kata lain saya butuh pembacaan lebih dari sekali untuk memahami, sementara saya tidak sabar untuk segera membaca cerita selanjutnya milik Edo Wallad (Lelaki dengan Ransel), Cinta Semanis Racun (Anton Kurniawan), Dina Oktaviani (Perempuan Pertama), hingga khatam pada Alex Nainggolan “Hmm…”
Saya paham betul, setiap media akan punya rasa yang berbeda-beda sebagai penanda identitas. Itulah sebabnya di dunia ini ada banyak sekali media cetak dan digital penyedia ruang cerpen. Setiap media punya batasan kemapanan cerita yang tidak akan pernah sama, muatan kompleksitas yang pasti tidak sama tinggi, menciptakan aroma yang khas, tidak tercampur baur dengan mudahnya. Meskipun, seorang penulis bisa masuk ke media mana pun yang disukainya atau itu disebab permintaan khusus sang redaktur yang ingin menciptakan impresi secara tersirat kepada para pembaca setianya. Hadirnya Seno, Djenar, Eka Kurniawan tidak serta-merta membuat antologi Semua Orang Pandai Mencuri beraroma Kompas. Sembilan cerpen lainnya memastikan diri menjadi tiang identitas Esquire yang kokoh dalam buku setebal 136 halaman. Seperti judul karya Eka Kurniawan, Semua Orang Pandai Mencuri. Dengan caranya masing-masing untuk tujuan yang mungkin sukar kita pahami dengan akal sesehat apa pun juga.
Pemilihan cerpennya cukup selektif. Beragam tema tapi ada benang merah yang bisa diambil yaitu cerita tentang manusia urban dengan segala kompleksitas yang dialami dan dihadapinya. Menarik...
Cerpen-cerpen yang berjudul: 'Lelaki dan Ransel', 'Semua Orang Pandai Mencuri', dan 'Sebutir Peluru untuk Bapak' (walau di bagian akhir...) adalah favorit saya. Sisanya, bolehlah.
Semua Orang Pandai Mencuri: KumCer Esquire #1 Penulis : Alex R. Nainggolan, Anton Kurnia, Bre Redana, Cok Sawitri, Dina Oktaviani, Djenar Maesa Ayu, Dwi Sutarjantono, Edo Wallad, Eka Kurniawan, Restoe Prawironegoro Ibrahim, Seno Gumira Ajidarma, Tomi F. Awuy . . Kumpulan cerpen dari berbagai penulis. Judul buku diambil dari judul cerpen milik Eka Kurniawan. Ada 12 cerita yg didominasi cerita-cerita dengan setting waktu modern. Khas masyarakat kota metropolitan. . . Buku ini tipis. Mudah dibawa kemana2 jd cocok untuk penyuka buku yg memiliki waktu luang terbatas. Karena buku ini bs dihabiskan tidak lebih dari 5 jam
Selingkuhan dari bukunya Paulo Coelho (Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk Dan Menangis) yang kok lama ya saya selesain.
Akhirnya saya baca karyanya Eka Kurniawan juga "Semua Orang Pandai Mencuri." MESKIPUN, cerpen pertama yang hari ini saya baca adalah Kumcer Esquire #2 karyanya Agus Noor "Sepotong Bibir Paling Indah." (Duh, belum bisa move on nih dari Cerita Buat Para Kekasih, bagus ngedh) Rupanya, saya suka kumcer dengan satu tema begitu. Tentang perempuan dan kekejian 98. Hum. Hum.
Ketemu lagi sama Djenar Maesa Ayu, dibanding kumcernya Mereka Bilang Saya Monyet "Hilang Ditelan Rumah" ini dikemas dalam bahasa yang lebih sederhana.
Ada juga karyanya SGA "Sepatu Kulit Ular Warna Merah" sukak.. sukak..
Penulis yang lain waa.. waa.. waa.. pas baca profil mereka saya jiper. Kapan kira-kira cerpen saya nembus majalah/koran? Padahal nulis aja belum. YHAHA.
Tahun ini tahunnya baca karya-karya penulis lokal nih. Siap-siap ngerampok di toko buku bentar lagi. Ahe.
Sayang covernya gak pakai foto cewek bergaun merah bersepatu merah. Kayaknya lebih oke.
Terus cerpen terakhir buku ini karya Alex Nainggolan "Hmm.." terasa dekat (beneran dekat) ditulis di Duri Kosambi cobak. OM. RUMAH KITA DEKETAN OM?! Ajakin saya ngopi pliss. Saya tadi sempet kaget sama rasa digaya bahasanya (sebelum lihat penutup di mana cerpen ini dibuat) mirip seseorang. Tapi mereka entitas yang berbeda lah ya. Kayaknya karakter yang saya sukai ada di sini. Si perempuan.
"Dinda & Ben" -nya Tommy F. Awuy, sukak endingnya, lucuk, manyis kehidupan rumah tangganya dan cara mereka merayakan pesta pernikahannya yang kesekian.
Kayaknya setiap cerpen di sini punya kesan sendiri-sendiri buat saya. Toh mereka tidak satu tema juga.
"Sebutir Peluru Untuk Sang Bapak" Restoe Prawironegoro Ibrahim juga terngiang-ngiang ceritanya. Twistnya "Di Ujung Jalan Orchard" Dwi Sutajartono, OMG, boleh.. boleh..
Tapi karya Djenar emang membuat rindu rumah. Huvt. Saya lagi di rumah.
"Lelaki Muda Itu Menangis" Cok Sawitri bikin ngakak sih. Padahal itu ironi. Tapi... lucu saja.
"Lelaki Dengan Ransel" Edo Wallad, well, membuat saya berfikir untuk tidak menikahi laki-laki seperti itu, atau jatuh cinta pada orang seperti itu, males yang males (atau sebenernya justru saya malah seperti si lelaki yang selalu berfikir masih ada satu gunung lagi untuk kudaki, jadi aku tidak bisa menetap)
"Cinta Semanis Racun" Anton Kurniawan, ngok ngok, saya suka analogi tentang daun lupa dan derai tawa (masukin dalam catatan untuk dipakai dalam deskribsi suatu hari nanti, dengan kredit si om)
Sementara "Perempuan Pertama" -nya Dina Oktaviani ini ironi juga sih, dua sahabat laki-laki dan perempuan yang akhirnya jatuh cinta, tapi cowoknya gay, yhaha. Rekomendasi nih buat si "PIP" dia pernah enggak mengalami hal seperti ini. Lalu ternyata saya adalah Len #HEH lama tidak keep in touch sama kelompok itu, padahal sepanjang bulan ini saya udah dapet pesan dari 2 orang di antara mereka yang ngajak hangout. Hm. Hm. Hm. Lalu kena penyakit mager keluar rumah. Huvt. Padahal tiba di Jakarta aja belum. Saya suka di sini, sementara tanggung jawab sudah memanggil-manggil pulang. Kenapa :(
Apa yang paling saya sukai dari membaca kumpulan cerpen semacam ini? Setiap kisah meminta kita berpikir lebih jauh!
Entah menebak bagian akhirnya, atau sekedar menelisik lebih jauh tentang makna sebenarnya-yang ingin penulis sampaikan. Well, ada kepuasan tersendiri jika berhasil menaklukkan "tantangan" tersebut. :D
Sekalipun beberapa cerita mengangkat tema tentang LGBT, tapi cukup menghibur mendapati "mereka" diwartakan dengan cara yang tak "begitu-begitu" melulu. ;)
Tapi, kalau diminta memilih... saya lebih suka Esquire #2 :D
Favorit saya, karyanya Eka Kurniawan, yang paling mumet plotnya. Pantas dipilih untuk jadi judul buku. Kalau kumcer Kompas, judul bukunya diambil dari Cerpen Terbaik. Bisa diterapkan juga di buku ini.
Selain itu, saya suka cerpen-cerpen ini: 1. Dinda & Ben karya Tommy F. Awuy 2. Sepotong Bibir Paling Indah Agus Noor 3. Lelaki Muda Itu Menangis karya Cok Sawitri
Walaupun saya juga menggemari SGA, sayang di buku ini cerpen SGA tidak menonjol, padahal judulnya sangat menonjol.
Hampir semua cerita menyuguhkan realis, kisah hubungan perempuan dan lelaki yang penuh ironi. Kehidupan dan jalannya tak selamanya selalu berjalan dan ebrakhir mulus, kadang terjal dan menyakitkan. Ada kalanya kita melihat, merasa tanpa mampu berbuat apa-apa....
Di luar ekskpektasi saya secara pribadi. Cerpen yang membuat saya terkejut hanya ada 3: 'Semua orang pandai mencuri', 'Dinda & ben', dan 'Lelaki dengan ransel'. Selebihnya hanya cerpen realis yang terlalu kaya dalam pergulatan emosi yang sebenarnya sederhana.
Banyak nama beken dari dunia persilatan sastra cerita pendek, meski cerpennya bukan favorit gw. Cerpen yg cukup menarik buat gw: Dinda & Ben, Di Ujung Jalan Orchard, Sebuah Peluru untuk sang Bapak dan Lelaki dengan Ransel.