Jump to ratings and reviews
Rate this book

Time Traveler

Time After Time: Jatuh Cinta Sekali Lagi

Rate this book
Waktu bisa saja mengelabuimu. Mengambil yang kau inginkan. Menjauhkan yang kau impikan. Memberi yang tak pernah kau harapkan. Mendatangkan seseorang yang nyaris tak kau duga.

Lewat sebuah paket misterius, pintu masa lalu terbuka. Kau tiba-tiba saja diberi kesempatan menelusuri rahasia.

Akankah kau mengambil kesempatan yang mungkin hanya dalam dongeng belaka?

Lasja yang masih berkabung kehilangan sang Ayah memutuskan mengambil kesempatan itu. Ada kenangan indah yang ingin ia ulang. Ada rahasia yang ingin ia ketahui kebenarannya.

Namun, ternyata, ada kalanya, masa lalu memang seharusnya dibiarkan menjadi masa lalu.
Perjalananan waktu itu seharusnya tak pernah terjadi. Untuk apa jika itu hanya membuatnya kehilangan lagi?

Ketika kehilangan satu hal, berarti kau akan mendapatkan hal lain yang lebih berarti. Lasja pernah percaya akan hal itu. Tetapi, tidak hari ini, ketika tidak hanya cinta, masa lalu pun ternyata mengkhianatinya. Ia hanya ingin kembali, bagaimanapun caranya.

Akankah waktu mampu membawa gadis itu kembali, juga jatuh cinta sekali lagi?

280 pages, Paperback

First published March 9, 2015

4 people are currently reading
118 people want to read

About the author

Aditia Yudis

16 books20 followers
Kunjungi Aditia di:

Facebook: adhiet07@yahoo.com

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (12%)
4 stars
22 (31%)
3 stars
35 (50%)
2 stars
3 (4%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 30 of 31 reviews
Profile Image for Mandewi.
575 reviews10 followers
May 6, 2015
Time After Time adalah yang pertama kali ‘mengenalkan’ saya pada Aditia Yudis dan saya langsung merasa terlambat tahu bahwa cara bercerita Aditia Yudis sungguh asyik. Semacam page turner. Nggak heran kalau saya habiskan Time After Time hanya dalam waktu kurang lebih empat jam. Empat jam yang menyenangkan.

Dari segi cerita, baru kali ini saya membaca cerita mengenai perjalanan lintas waktu yang ditulis oleh penulis Indonesia (saya pernah baca The Time Traveler’s Wife karya Audrey Niffenegger dan saya jatuh cinta). Dan selayaknya cerita mengenai time travel, maka logika dan keterkaitan cerita antarmasa benar-benar menjadi hal yang krusial. Di bagian ini, Time After Time berhasil.

Ketika membaca judul novel ini, yang ada di bayangan saya adalah perjalanan (lintas waktu) yang berkali-kali. Time After Time. Tapi perjalanan yang dilakukan Lasja ternyata hanya satu kali. Tak disengaja bahkan. Dan baru disadari belakangan bahwa perjalanan yang tak disengaja tersebut bisa ia jadikan ajang untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang menghantuinya belakangan ini, khususnya setelah kematian sang ayah. Pertanyaan tersebut adalah mengenai ibunya. Seseorang yang tidak pernah diceritakan secara gamblang oleh ayahnya sendiri. Sekalipun Lasja adalah anak kandung mereka berdua.

Dan di Surabaya tahun 1989-lah Lasja terdampar.

*

Beberapa catatan dari saya untuk Time After Time:
1. Surabaya tahun 1989. Deskripsi tentang Surabaya pada masa itu, tidak terlalu masuk ke bayangan saya. Kejadian, kalimat dalam percakapan, suasana, dan sebagainya kurang jadul.

2. Adegan mencari kompas. Scene tentang Lasja mencari kompasnya yang hilang, terlalu panjang. Berhari-hari, sih, tapi rasanya terlalu bertele-tele kalau setiap hari menceritakan hal yang sama. Mencari di lokasi yang sama, dengan hasil yang sama.

3. Kata yang hilang. Ada banyak kata yang hilang. Tidak mengurangi makna cerita, sih, tapi terbacanya jadi rada janggal (detail halamannya menyusul, deh. Tak buka lagi novelnya nanti).

4. Halaman 217. Agak bingung di bagian ini. Ceritanya Tami janjian ketemu sama Lasja juga Lendra. Tapi Lendra katanya nggak bisa datang. Tapi masih di adegan yang sama, tahu-tahu Tami ngobrol dengan Lendra dan Lasja merasa dicuekin. Lalu Lasja sms sahabatnya, bilang kalau dia lagi makan sama Lendra. Heu?

5. Tami. Tokoh Tami ini gunanya buat apa? Maksud saya, selain sebagai orang yang mengenalkan Lendra ke Lasja.

6. Ada bagian ketika Lasja menyimpan kompas itu di tumpukan batu di kolam ikan, tetapi di bagian berikutnya, Lasja mengambil kompas dari laci meja. Hmm..

*

Secara keseluruhan, tiga bintang untuk Time After Time yang menyenangkan. \m/
Profile Image for Pattrycia.
351 reviews
April 14, 2015
Ceritanya bagus sih, saya suka. Tentang cinta yang tak kenal waktu, masih awet bahkan setelah 25 tahun. Aduh kyknya Lendra itu tipe om2 keren yaa.. Namun ada bberapa hal yang bikin saya bingung. Ada beberapa statement yang ditulis tanpa diberi penjelasan lebih lanjut & juga inkonsistensi. Seingat saya kompas itu disimpan Lasja di dalam kotak di kolam ikan, tapi pada hal 250 disebutkan bahwa Lasja mengambil kompas itu dari laci di dalam kamar. Ini apa emg sy yg krg konsen pas baca atau gmn ya? Editannya juga agak mengganggu (huruf kapital yg tdk pd tempatnya & tanda baca). Jujur saya krg ngerti ttg konsep time travel & efeknya pd kehidupan nyata, karena yah saya blom pernah ktm org yg pernah time travel. Awalnya agak skeptis sih sama seri gagas yang baru ini, karena temanya kan masih jarang bgt, tp yah setelah baca not bad kok ternyata ceritanya.
Profile Image for sofiaidrish.
145 reviews26 followers
June 2, 2015
~ First Impression ~
Pertama kali tahu tentang novel ini lewat gambar yang diunggah sama Adit di facebooknya. Aku masih ingat gambar itu sebuah tagline tentang novel terbarunya ini. Dan aku langsung antusias tak sabar ingin novel itu cepat terbit. Kali ini Adit memberikan sentuhan fantasi dalam kisah romannya. Selain itu akhirnya Gagasmedia memberikan sentuhan berbeda pada karya-karya yang diterbitkannya karena sejauh ini aku belum pernah tahu ada genre fantasi yang diterbitkan Gagasmedia. Dan ketika semua proses menunggu novel ini selesai dan covernya diunggah secara resmi oleh Gagasmedia, aku semakin berharap bisa mengikuti kisah Lasja dalam Time After Time. Ohya, novel ini merupakan seri Time Travel yang dikeluarkan oleh Gagasmedia tahun ini. Setelah sukses dengan seri Setiap Tempat Punya Cerita, seri 7 Deadly Sins, tahun ini Gagasmedia memiliki banyak proyek buku seri yang segenre meskipun tidak secara cerita saling berhubungan. Selain seri Time Travel ini adalah seri Love Cycle.
Sebagai penyuka fantasi dan sci-fi—meskipun belum bisa dikatakan fans beneran—aku selalu tertarik dengan sesuatu yang bernapaskan fantasi dan sci-fi. Pengetahuanku tentang karya-karya fantasi dan sci-fi sendiri pun sama sekali tidak bisa dikatakan banyak. Selain itu, belum banyak penulis tanah air yang memfokuskan dan mengkhususkan diri sebagai penulis fiksi ilmiah dan fantasi secara penuh.
Dan ketika novel ini rilis, aku beneran nggak sabar pengen baca!
~ The Story ~
Lasja Kirana yang baru saja kehilangan Ayahnya mendapatkan paket misterius bermuatan sebuah kompas. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan benda itu namun seseorang yang tak kalah misterius dengan paket itu menyuruhnya dan menerornya untuk mempergunakan kompas itu. Lasja bisa mendapatkan semua jawaban dari pertanyaannya tentang masa lalu keluarganya dan mungkin dia bisa menemukan cintanya.
Kompas itu membawa Lasja pada sebuah masa dimana Ayah, Ibu dan Lasja kecil masih menjadi sebuah keluarga kecil bahagia. Lasja tak tahu untuk apa dia ada di masa itu dan apa tujuannya. Sampai akhirnya dia tahu bahwa kedatangannya di masa itu untuk mencegah hal buruk terjadi pada keluarganya, untuk mencegah sebuah kekacauan besar yang akan menyakiti hati orang yang paling ia sayangi. Namun justru hal yang tak diharapkanlah yang terjadi. Apapun usaha Lasja, bahkan dia sudah menempuh perjalanan menembus waktu kembali ke masa lalu... Lasja takkan bisa mencegah seseorang itu pergi. Lasja tetap saja kehilangan Leia, Ibunya yang lebih memilih kembali ke masanya dan meninggalkan Ayah dan Lasja kecil. Itu semua takkan terjadi jika Banyu memberikan kompasnya sejak awal. Lasja takkan terjebak di masa itu terlalu lama, Lasja bisa merencanakan sesuatu yang lebih matang dan rapi untuk mengubah masa lalu jika Banyu tak egois dengan menyembunyikan kompas itu—satu-satunya cara untuk kembali. Namun memang benar, cinta mampu mengubah tindakan apapun menjadi terasa benar. Lasja yang dikuasai rasa kecewa dan marah karena pengkhianatan dan patah hati memutuskan untuk meninggalkan pemuda itu, Banyu, pemuda kikuk yang sangat perhatian padanya. Banyu yang telah ia buat jatuh cinta. Lasja tak pernah tahu bahwa efek yang diciptakannya terhadap Banyu sungguh begitu kuat hingga membuat Banyu tidak berhenti mencintainya hingga kini.
Hingga akhirnya Banyu menemukan Lasja terlebih dahulu. Di masa dimana dia bukanlah pemuda belasan tahun yang masih kikuk menyatakan cintanya. Dia menemukan gadis dari masa lalunya itu. Lasja tidak menyangka jika waktu begitu licik dan mempermainkannya. Banyu adalah salah satu dari bagian masa lalu yang sangat dihindari Lasja. Namun hatinya tak bisa berbohong jika kehadiran Banyu sangat berarti untuknya.
Ide cerita yang BRILIAN! Aku suka kronologi ceritanya, sebab-akibatnya, posisi karakternya dan konflik pribadi masing-masing, konflik antartokohnya. Ini reaksi kimia dan fisika yang sukses.
~ Characters ~
Lasja Kirana
Gadis bernama Lasja ini terkesan sangat introvert dan pendiam. Sepanjang kisah aku jarang sekali mendapatinya ceria atau berseri-seri bahagia. Atau mungkin karena pengaruh suasana ceritanya ya? Mungkin karena pada saat itu, Lasja baru saja kehilangan Ayah yang sangat ia cintai. Lalu sepanjang kisah Lasja harus menghadapi banyak hal yang sebenarnya tidak dia harapkan. Lasja juga terlalu murung dan kehilangan semangat. Dia bahkan sempat terpuruk dan putus asa menjalani kehidupannya setelah kembali dari masa lalu. Kurasa Lasja bisa sedikit lebih tegar dan kuat dan mempersiapkan diri jika bertemu lagi dengan Leia atau Banyu. Pun Lasja mungkin bisa sedikit lebih memahami keputusan Leia untuk meninggalkan Ayahnya saat itu seperti yang ia lakukan pada Banyu. Lasja dan Leia ini memiliki kemiripan. Ohya, pelafalan nama Lasja ini seperti apa ya? Apakah seperti ‘La-sya’ atau ‘Las-ya’ atau ‘Las-ca’ atau ‘Las-ja’? Selama membaca aku melafalkan nama Lasja dengan ‘La-sya’.
Banyu a.ka. Lendra
Selama membaca yang terbayang dalam imajinasiku, Lendra ini adalah Benedict Cumberbatch. Hahaha, entahlah. Seperti halnya Lasja, karakter Lendra di sini juga terkesan serius dan still. Lendra terlalu sempurna untuk bisa jadi kenyataan. Mungkinkah ada pria seperti Dimas, ayah Lasja dan Lendra ini? Dua puluh lima tahun dan masih tetap mencintai satu perempuan saja? Mungkin mereka ada. Mungkin... Aku suka ketika Banyu dan Lasja terlibat kesepakatan yang melibatkan Arwen dan Aragorn. Itu menghibur sekaligus benar-benar mencairkan suasana sendu dan statis pada saat itu.
Kurasa karakter-karakter yang terbangun dalam Time After Time ini lebih ‘tenang’ dan dewasa. Aku tak tahu, aku sedikit berharap Lendra yang masih menjadi Banyu lebih semarak, menarik dan jahil. Banyu justru tampak terlalu dewasa dan kikuk untuk usianya yang belasan tahun. Atau memang karakternya seperti ini, ya? Tapi kalau seumpama aku ada di posisi Banyu saat itu, aku pasti mengerjai Lasja habis-habisan. Membuat gadis itu jengkel, marah, kesal dengan kejahilan-kejahilan remaja laki-laki dan membuat Lasja tidak bisa melupakannya. Atau mungkin karena budaya di masa itu tidak mendukung karakter yang seperti itu, ya? Ah, entahlah... aku hanya berpikir kalau Lasja sudah terlalu pusing dan serius dengan masalahnya, mungkin hadirnya Banyu bisa menjadi ice-breaker.

Overall, aku menikmati buku ini. Juga sangat menyukai ide ceritanya. Namun suasana yang terbangun dari kisah ini dituturkan dengan pace yang lembut dan cenderung pelan. Pergerakan ceritanya pas tapi lagi-lagi atmosfer yang tercipta mengingatkanku pada gerak lambat adegan-adegan sedih dalam film. Suasana sendu, sedih dan melankolisnya dapat banget. Mungkin karena kisahnya sedikit drama dan agak tragis ya jadinya aura novel ini terasa seperti penghujung hari yang sendu dengan warna jingga yang memudar samar ditelan petang.
Terimkasih untuk Adit dan Gagasmedia karena aku bisa mendapatkan novel ini. Novel ini adalah gift dari kompetisi #RabuMenulis yang diadakan Gagasmedia dan penulis-penulisnya dalam rangka promo #TimeTravelSeries. Aku sangat-sangat berterimakasih bisa mengikuti kisah perjalanan waktu Lasja ini.
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
June 9, 2015
Ini bukan pertama kalinya aku membaca karya Aditia Yudis, kali ini Kak Adit datang dengan novel barunya yang bertemakan "Time Travel". Ini tentang kisah Lasja Kirana. Sejak kematian ayahnya, Lasja kembali hidup sendiri saja di rumahnya. Namun, ketenangannya terusik, telepon misterius yang senantiasa hadir menjadi seperti teror untuknya. Apalagi telepon itu selalu menanyakan paket untuknya, sesuatu yang Lasja sendiri tidak mengerti.

Hingga kemudian, Lasja menemukan paket itu. Ternyata paket itu berisi sebuah kompas dan itu bukanlah kompas biasa. Kompas itu ternyata bisa membawanya ke masa lalu. Apalagi Lasja mulai meragukan ayahnya, apakah benar ayahnya menyimpan rahasia darinya? Hingga Lasja pun akhirnya menggunakan kompas itu dan Lasja pun terlempar ke masa kecilnya, saat Lasja masih hidup bersama ayah dan ibunya.

"Rasa penasaran bisa membunuhmu. Rasa penasaran bisa menjungkirbalikkan hidupmu dalam sesaat saja. Tapi, hidupmu tidak akan lengkap sampai rasa penasaranmu tuntas."

Lasja pun mulai mengurai masa lalu. Lasja pun memuaskan rasa ingin tahunya tentang ibunya, sesuatu yang seakan tabu untuk dibicarakan dengan ayahnya sejak kebakaran 25tahun lalu. Tetapi, Lasja dibuat terkejut dengan kenyataan yang hadir didepan matanya. Lasja berusaha untuk menghentikan semuanya dan mengubah takdir, tapi sanggupkah?

Lasja pun terjebak di masa lalu, kompasnya hilang. Akhirnya Lasja pun bertemu dengan Banyu dan kedekatan mereka malah menimbulkan rasa yang tidak biasa. Tetapi Lasja harus pulang ke rumahnya. Bagaimana akhir kisah Lasja?

Membaca novel ini tidak membutuhkan waktu yang lama, aku cukup menikmatinya. Mengambil setting di Surabaya, sebagai pembaca aku diajak untuk menemani Lasja mengurai masa lalunya dan memuaskan rasa penasarannya tentang sosok ibunya. Perjalanannya kembali ke masa lalu tidak hanya membuka kisah masa lalunya tentang keluarganya, tetapi juga meninggalkan sesuatu dan itu ternyata memberi efek di masa depan.
Profile Image for Dian Maya.
194 reviews12 followers
August 19, 2015
Sedikitpun saya tidak pernah mengira akan sebegitu sukanya sama ide cerita novel ini. Awal membacanya, saya tidak menaruh ekspektasi apa-apa karena Time After Time adalah pengalaman pertama saya membaca tulisan Aditia Yudis. Dan diluar perkiraan saya, ternyata perkenalan ini begitu mengesankan. Bagaimana tidak, Time After Time bikin saya sibuk menerka-nerka sendiri akan seperti apa kelanjutan tiap lembarannya. In short, I can’t put it down.

Jadilah saya dengan sekali duduk, langsung habis seketika. Herannya lagi, saya membaca di tempat ramai dikelilingi musik pula, saat lagi ngumpul bareng teman-teman. Dalam keadaan normal, saya tidak bisa membaca di tempat umum yang bising. Saya butuh tempat sunyi untuk mencerna dengan baik sebuah cerita. Tapi tidak seperti itu saat membaca Time After Time. Novel ini membius saya, seperti Lasja yang dibius oleh paket dari pengirim misterius yang mengakibatkan ia harus terperangkap di masa lalu selama beberapa waktu. Bertemu dengan orang-orang paling berharga dalam hidupnya. Namun masa lalu, tetaplah masa lalu. Mungkin saja ia terlihat indah, namun masa depan selalu memberikan harapan yang lebih manis.

Satu hal yang saya sayangkan, tokoh Lendra kurang digali lebih mendalam sehingga semua rangkaian kejadian rasanya seperti kebetulan belaka. Ibu Lasja pun demikian, tahu-tahu datang, tahu-tahu pergi tanpa dijelaskan lebih lanjut. Mungkin ada baiknya jika karakter-karakter utama di sini diperdalam lagi biar kami (para pembaca) bisa lebih dekat dengan mereka, bisa memahami perasaan mereka. Tapi, di atas semuanya, Time After Time salah satu novel dengan ide cerita terunik yang pernah saya baca. Saya berterima kasih kepada penulis karena sudah ‘melahirkan’ cerita semanis sekaligus sepilu ini. Semoga nih ya ada lelaki di dunia nyata, seperti Lendra, yang mencintai saya sampai sebegitu dalamnya hingga rela menunggu hingga 25 tahun dan happy ending pada akhirnya. Aamiin.
Profile Image for Danis Syamra.
15 reviews2 followers
March 18, 2015
Novel Time After Time ini bercerita tentang Lasja yang baru saja kehilangan Ayahnya mendapatkan sebuah paket berisi Kompas aneh. Kompas yang tidak menunjuk ke arah utara. Kompas ini adalah jalan untuk bisa kembali ke masa lalu.

Dalam novel ini dibagi menjadi 2 cerita pada 2 masa; masa saat ini dan masa lalu. Berbekal rasa penasaran dengan siapa Ibunya, Lasja memutuskan untuk kembali ke masa di mana Ibunya masih ada.

Ternyata, memang benar istilah: Lebih baik kamu tidak tahu, daripada kamu tahu namun akan merasa kecewa. Persepsi Lasja tentang Ibunya buyar saat dia kembali ke masa lalu dan mengetahui alasan ke mana ibunya menghilang. Dia mengalami masalah ketika Kompas nya hilang, hal yang membuat dia harus tinggal sejenak di masa lalu. Di masa lalu ini juga di bertemu seseorang yang jatuh cinta kepadanya. Hal yang membuat Lasja menghadapi beberapa masalah ketika sudah kembali ke masanya saat ini.

Konflik dalam novel ini terasa agak sedihnya ya pas bagian Lasja liat dan bertemu dengan ibunya, lalu saat terjadi permasalahan antara dia, ibunya dan ayahnya di masa lalu. :(

Baca sendiri deh yah. Kalau gua ceritain lebih banyak nanti jadinya spoiler. Hehehe

Novel Time After Time ini adalah novel seri Time Traveller dari Gagasmedia. Baca novel ini mesti pelan-pelan yah biar nggak kehilangan beberapa detailnya. :D
Profile Image for Yuu Sasih.
Author 6 books46 followers
April 28, 2015
Selesai dalam sehari. ;___;

Dan bukunya saya masukkan ke genre fantasy alih-alih sci-fi. Pertimbangan pribadi, sih, soalnya time-travel dan keberadaan kompasnya tidak dalam setting alamiah dan lebih seperti "benda ajaib", jadi masuk fantasy daripada sci-fi. hehe.

Sebenarnya misteri dan alur ceritanya ketebak dari awal (banget), sih, dan sepertinya kak Tia juga nggak berusaha menyembunyikan misterinya. Tapi tetep nggak bisa berhenti baca karena gaya nulisnya enaaaaak banget. Saya selalu jadi penggemar tulisan kak Tia, walau kadang ada kesan kak Tia nulis dengan kalimat-kalimat bahasa inggris di kepalanya. Banyak ungkapan yang seperti "diterjemahkan" dari bahasa Inggris dan nggak umum di bahasa Indonesia. Sisi negatifnya, jadi rada susah bayangin Surabaya era 80-an ketika bahasanya ala terjemahan.

Sayangnya masih banyak saltik dan editing yang terlewat, tapi nggak terlalu banyak sampai mengganggu kenyamanan membaca.
Profile Image for Akaigita.
Author 7 books240 followers
August 16, 2017
Novel versi paperback karya Aditia Yudis pertama yang kubaca. Sebelumnya mengikuti serial Potret yang diterbitkan setiap akhir pekan di storial.co. Karena nuansa Potret itu gelap dan 'berat', aku jadi berekspektasi terlalu tinggi buat novel ini. Aditia Yudis 'versi penerbit major' ternyata adalah penulis yang manis.
Profile Image for Gita.
116 reviews2 followers
April 4, 2018
This book is such a page turner, saya penasaran apa yg bakalan terjadi sm tokohnya sampe2 ga bisa berhenti baca, sayangnya ceritanya mudah ditebak pas sampe pertengahan cerita tapi tetep saya tamatin si bacanya hehe
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 2 books103 followers
December 22, 2019
86-2019
Kalau dengar Time After Time bawaannya pengen nyanyi XD
Aku suka idenya.. Kembali ke masa lalu. Juga suka dengan detail-detail kecil yang tersebar, kayak buku sketsa di awal dan kaitannya di tengah cerita. Bagian menyembunyikan itu jadi keinget dongeng bidadari yang selendangnya disembunyikan biar ga bisa balik lagi. Kusuka dan sukses untuk Kak Adit ')
Profile Image for nasya.
845 reviews
August 2, 2024
Konsep cerita yang cukup unik, tetapi masih tergolong ringan, karena pembahasannya mudah untuk dipahami. Walau sebetulnya masih penasaran tentang Tita/Tata(?) yang temennya Lasja dari Jogja, penasaran dia ketemu sama Lendra aja si...
Profile Image for Titi Iskandar.
4 reviews2 followers
April 20, 2015
Pernah terpikir ingin kembali ke masa lalu?
Atau begini, pernah terpikir hanya untuk ‘berlibur’ ke masa lalu? Karena tujuannya ‘berlibur’, maka sifatnya hanya sementara bukan?
Kalau misalkan kau punya kesempatan itu, apa kau akan melakukannya--kembali ke masa lalumu itu? Lalu apa tujuanmu untuk kembali?
Apa yang kau inginkan dari masa lalumu itu?

Apa? Aku baru saja mendengar sebuah jawaban! Ya, di antara kalian yang ingin berkunjung ke masa lalu. Aku dengar barusan, kau ingin memperbaiki kesalahanmu di masa lalu? Iya begitu?
Tapi bagaimana jika tujuanmu itu ternyata mendatangkan kebalikannya? Alih-alih kau datang untuk tidak mengulangi kesalahanmu, lalu memperbaikinya, tapi yang ada kau malah menemukan kesalahan yang lain. Atau, saat kau ingin menemukan sebuah jawaban dari masa lalumu yang menjadi misteri hingga kini, yang ditutupi oleh seseorang, kemudian saat kau kembali, kau mendapati bahwa dirimulah sendiri yang menjadi penyebab dari kejadian yang kini kau alami, di masa kini.
Oh, oh! Lalu bagaimana jika kau tak menemukan jalan untuk ‘pulang’. Pulang ke masamu di masa depan?

Inilah yang dialami seorang gadis berusia 26 tahun bernama Lasja. Banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya mengenai masa lalunya. Masa lalu ayah dan ibunya. Ibunya yang selalu menjadi misteri untuk dirinya. Dan ayahnya tak pernah mengungkit perihal ibunya itu hingga ia meninggalkan Lasja selama-lamanya. Lalu Lasja menerima sebuah paket berisi kompas yang dikirim dari seorang wanita yang meneleponnya secara misterius.

Karena rasa penasaran yang begitu kuat, akhirnya Lasja pergi ke masa lalunya. Masa ketika ia masih ditimang-timang Ibu. Ya, Lasja bertemu Ibu yang selama ini tak pernah dikenalnya. Selama 26 tahun, Lasja hanya mengenal Ayah, tapi tak dengan Ibu. Dari penuturan Ayah, Ibu meninggal saat kebakaran rumah mereka terjadi, ketika Lasja kecil. Dan seperti rumah mereka, kisah dan kenangan tentang Ibu pun seperti ikut terbakar. Hangus dan lenyap. Akan tetapi Lasja tak pernah menemukan kebakaran itu. Semua yang telah diceritakan Ayah tentang Ibu selama ini hanyalah sebuah bualan. Omong kosong. Kebohongan.

Ketika Lasja bertemu ibu dan ayahnya di masa lalu, dan berteman dengannya, Lasja menemukan jawaban yang selama ini berkecamuk dalam kepalanya. Misteri tentang ibunya--siapa ibunya sebenarnya. Tak seperti jawaban lainnya yang datang untuk menuntaskan sebuah pertanyaan, apa yang Lasja temui malah menghadapkan dirinya dengan rahasia-rahasia lainnya. Ini ibarat teka-teki beruntun. Satu terjawab untuk dihadapkan pada teka-teki berikutnya.

Keadaan Lasja di masa lalu semakin kacau. Ia gamang. Setelah kehilangan kompasnya yang dapat membawanya pulang ke masa depan, Lasja kembali dihadapkan pada persoalan hati yang seperti ingin menjebaknya untuk tetap tinggal di masa lalu. Bagaimana mungkin, saat kau kembali untuk memperbaiki masa lalumu, tapi kau terperangkap oleh cinta pada seseorang yang telah menolongmu selama ‘berlibur’ ke masa lalumu itu? Dan bagaimana jika kau telah berhasil kembali ke masa depanmu, masa kehidupan kinimu, kau kembali bertemu dengan cintamu itu? Cinta yang baru saja berkembang selama beberapa bulan bagimu, tapi puluhan tahun bagi dia? Tapi inilah yang terjadi pada Lasja. Yang menemukan rahasia ibunya sekaligus cintanya di masa lalu.

Time After Time merupakan salah satu dari tiga novel yang dikeluarkan Gagas Media dengan tema time travel. Ceritanya benar-benar mengikuti grafik alur, mulai dari eksposition, raising action, climax, anti-climax, hingga falling action. Berbeda dari alur dari novel yang biasa saya baca yang alurnya kadang terasa turun naik. Kesan pertama saya dapatkan dari kalimat pembuka pada prolog novel ini. Aditia Yudis, penulis novel ini, menulis begini: Pada akhirnya, apa yang dimiliki hanya kenangan. Terkesan dalam dan bermakna. Tetapi selanjutnya, bagi saya sendiri, saya kurang menikmati ceritanya. Saya tidak menemukan kekuatan karakter dari tokoh-tokoh pada awal cerita. Entah, mungkin ini dipengaruhi oleh kesukaan saya pada karakter tokoh yang kuat, juga ekspektasi awal saya yang membayangkan karakter tokoh dengan tema novel seperti ini pastilah unik-unik. Yang kemudian saya temui adalah bosan. Tapi tenang… kebosanan saya itu terbayar ketika cerita mencapai klimaks. Saya terbawa emosi ketika Lasja menemukan jawaban atas rahasia ibunya. Klimaks yang cukup emosional menurut saya pribadi.

Untuk novel bertema time travel seperti ini, ceritanya sendiri cukup sederhana, tidak terkesan rumit bagi pembaca yang kurang begitu suka dengan cerita-cerita seperti ini. Rasa penasaran yang ditimbulkan pun dirasa lumayan. Lumayan untuk menerka-nerka, juga sekaligus untuk segera menuntaskan seluruh ceritanya. Rasanya, novel ini lebih menekankan kepada drama keluarga, karena saya kurang mendapatkan emosional dari kisah cinta tokoh utama sendiri. Oh ya, di beberapa bagian, masih ditemukan adanya kesalahan ketikan (typo), seperti kata yang berulang, hurup kecil dan kapital yang salah posisi. Novel ini tetap bisa menjadi pilihan untuk kalian yang penasaran dengan tema yang diusung penerbit. Kata terakhir yang bisa saya berikan untuk Time After Time: pas.
Profile Image for Dewi Natalia.
114 reviews14 followers
June 4, 2019
Pertama kalinya baca buku Indonesia dengan konsep time travel dan ternyata bagus juga. Aku sampai rela begadang demi menyelesaikan buku ini. Ditunggu karya2 selanjutnya kak Aditia Yudis!
Profile Image for Agus Dwi R.
137 reviews8 followers
December 31, 2015
Buku terakhir yg saya baca di tahun 2015 ini. Bertema time travel, lebih tepatnya drama dengan sentuhan time travel.

Menceritakan Lasja, seorang gadis berusia 25an, yg baru saja kehilangan ayahnya. Mereka hanya tinggal berdua saja sejak Lasja kecil, karena ibunya meninggal dalam kebakaran di rumah. Tapi setelah pemakaman ayahnya, muncul telepon2 misterius yang memberitahu Lasja kalau kebakaran itu tidak benar, dan tentang sebuah kompas yang dikirimkan ke Lasja.

Lasja yang penasaran ingin mengetahui lebih banyak tentang ibunya, entah sengaja atau tidak, mengaktifkan kompas itu dan membawanya ke masa lalu, ke tahun 1989, 25 tahun yg lalu. Ya, ternyata kompas itu merupakan mesin waktu.

Perjalanan ke masa lalu ternyata membawa kesulitan untuk Lasja. Dia ingin langsung kembali ke rumah (masanya), tapi kompasnya hilang. Selama kompasnya belum ditemukan, Lasja meminta bantuan kepada seorang Banyu, seorang anak muda yg berumur 16, 10 tahun lebih muda darinya, untuk menumpang tinggal di rumahnya. Lasja juga mendatangi dan bertemu langsung dengan ayah dan ibunya, juga bayi Lasja yg baru berumur setahun.

Lasja ternyata terjebak di masa itu lebih lama dari yg diharapkannya, sampai 2 bulan. Beberapa hal terungkap, hal-hal yang mengejutkan dan membuatnya kecewa, juga sebuah kesalahan yang dilakukannya, yg berdampak besar pada kehidupannya.

-OoO-

Ada hal yang cukup mengganggu selama membaca buku ini, yaitu banyaknya kesalahan tulis, kalimat atau penggunaan kata yang kurang pas, juga dialog yang tidak konsisten antara menggunakan bahasa yg formal atau tidak. Sepertinya proofreadingnya ga jalan sama sekali. Gw kurang paham ini apakah tanggung jawab mutlak proofreader (penyelaras aksara) saja, atau editor jg harusnya memantau. Soalnya editor yg tercantum ada 2, Jia dan Nico. Kenapa dibiarkan? Btw ini sudah kedua kalinya, bukunya Adit yang saya baca, proofreadingnya ga beres. Sebelumnya, Biru pada Januari.

Mengenai cerita, gw lebih suka di bagian kedua, ketika Lasja berada di masa lalu. Interaksi antara dia dan karakter lain: Banyu, Dimas (ayahnya), dan Leia (ibunya), yg akan menimbulkan paradoks atau masalah, ini bagian yg seru-serunya. Ketika kembali lagi ke masa sekarang, ceritanya jadi monoton, terutama karena karakter Lasja-nya down dan cuma mengurung diri di rumah.

Karakter di buku ini:
Lasja
Lendra: pria matang berusia 40 tahun yang dikenalkan oleh Tami
Effie: teman baik Lasja dari kecil
Tami: teman Lasja yg jauh lebih tua, seumuran Lendra
Dimas (Ayah)
Leia: ibu Lasja yg dia temui di masa lalu.
Banyu: pemuda yg menjadi teman Lasja di masa lalu.

Banyu ternyata adalah Lendra. Yang selama 25 tahun tetap mencintai Lasja. Sulit dipercaya ya. Tapi memang banyak aspek cerita ini yg ga biasa. Tentang hubungan Lasja dengan Banyu/Lendra.
Pertama kali Banyu bertemu Lasja, Banyu 16 dan Lasja 26, Banyu jatuh cinta dan Lasja pun sepertinya membalas. Kemudian Lasja tahu kalo Banyu ngumpetin kompasnya, dan merebutnya kembali, menggunakannya untuk pulang.

25 tahun berlalu. Banyu menjadi Lendra (nama lengkapnya Wirama Syailendra Banyu, kayak nama orang di twitter), dan kayaknya ga nyari cewek lain, masih tetap cintanya sama Lasja aja. Ga move on. Katanya terus mencari Lasja. Padahal kalo dipikir, rumahnya Banyu dan rumah ayahnya Lasja ga terlalu jauh, dan Banyu tau nama lengkap dan tanggal lahir Lasja. Kalo misalnya dia nemu Lasja yg masih bayi, dia bisa memperhatikan Lasja tumbuh sampai dewasa.

Baca di review lain, keberadaan Tami ga jelas. Cuma untuk mengenalkan Lendra ke Lasja. Dan bodoh sebenarnya, karena disebutkan dia suka ke Lendra, tapi terus kenapa 'diserahkan' ke Lasja. Emangnya ga memperhitungkan kalo bakal terjadi hubungan antara mereka?

Trus ada lagi yg komplain, kok Lasja waktu marah2 di depan makam ayahnya, nyebut pake 'kamu'? Ga sopan ya. Kalo waktu dia marah2 sama ibunya sih wajar aja, karena ibunya udah meninggalkan mereka dari kecil.

Selebihnya gw ga begitu suka karakternya Lasja, juga Lendra. Lasja plin plan, suka gatau diri, udah dibantuin malah judes. Lendra/Banyu juga, baik waktu remaja atau dewasa, agresif, posesif, tiap hari nyamperin Lasja, padahal baru kenal.

Hal-hal unik di buku ini. Ibunya Lasja menggunakan nama Leia sebagai samaran. Lasja menggunakan nama Arwen. Banyu membalas dengan menggunakan nama Aragorn. Berbagai referensi tentang Star Wars, Tolkien, Dr Who, dan fiksi ilmiah lain di buku ini emang ciri khas Adit banget.

Terlepas dari segala kekurangan, salut karena buku ini mengangkat tema time travel yg masih jarang banget di novel2 lokal.

Oiya, suka sama kemasan bukunya, cover dan warnanya bagus. Memang Gagas juara dalam hal ini.
Profile Image for shain.
24 reviews
August 31, 2018
Bacaan luang yang cukup nyenengin, meski ada beberapa typo dan ejaan salah di sana-sini. Alurnya ketebak, sih. Dan sayangnya saya cuma suka Banyu (Banyu di masa lalu ya, yang manggil Lasja pake saya-kamu, bukan Lendra.)

Ini kali pertama saya kenalan sama tulisan page-turnernya mbak Adit. Tapi karena kesannya nggak terlalu bikin 'wah', jadi saya tunda dulu buat stalking buku-buku lain doi.

Profile Image for Ruru.
47 reviews4 followers
October 29, 2015
Buku ini bercerita tentang Lasja yang baru saja kehilangan ayahnya karena penyakit. Ibu Lasja sendiri sudah tidak ada sejak Lasja masih kecil sekali. Tiba-tiba saja Lasja dapat paket aneh, yang membuatnya bisa kembali ke masa lalu. Ia pun menjadi saksi detik-detik ia kehilangan sang ibu 25 tahun silam....

*

To be honest, saya suka banget ide ceritanya. Keren. Konflik (klimaks awal?) di tengah buku itu keren. Saya suka.

Tapi... menurut saya masih banyak kekurangannya. Kekurangan yang sebetulnya bisa diperbaiki.

1. Menurut saya, adegan-adegannya nggak ngalir. Kayak banyak yang patah-patah. Lompat-lompat. Terutama reaksi semua karakternya. Sering banget terasa nggak natural gitu. Bikin mikir, kalo saya ada di posisi si A, saya (atau orang kebanyakan) nggak akan bereaksi kayak gitu. Dan itu sering banget. Dahi jadi ngernyit mulu bacanya.

2. Banyak hal yang terkesan nggak konsisten, atau tepatnya kayak ada bagian yang hilang. Beberapa diantaranya:
a. Waktu ketemu Tami di akhir-akhir, katanya Lendra ga bisa dateng tapi tiba-tiba ada sama Tami udah ngobrol aja. Ga jelas kapan munculnya.
b. Lasja minta maaf sama Lendra karena 'sikap kasarnya kemarin', padahal nggak ditulis sama sekali kalo Lasja bersikap kasar ke Lendra.
c. Lasja ambil kompas di laci, padahal sebelumnya dibilang ditaro di tumpukan batu.
d.
e.

3. Salah satu kekurangan juga, 'masa lalu' sama 'masa sekarang' nggak kerasa bedanya. Seriously. Lasja bilang beda, kuno, dll, tapi nggak terasa begitu. Biasa aja.

4. Karakter Tami dan Ratu terasa... 'kasian'. Abis udah dibangun karakter kayak gini gitu tapi nggak dikasih 'ending'. Okelah ini cerita tentang Lasja, tapi dua karakter itu juga udah berperan banyak. Nggak adil aja gitu kalo nggak ada kejelasan di akhirnya. Apalagi Tami yang notabene naksir sama Lendra...


Well, semoga selanjutnya tulisan Mbak Aditia Yudis nggak terasa 'bolong-bolong' lagi. Ditunggu tulisan selanjutnya, Mbak! :)

PS. Bukannya LoTR baru terbit di Indonesia taun 2000an ya? Atau udah pernah ada sebelumnya? Hm... Mungkin Banyu dan ortu Lasja baca yang versi Inggris ya...?
Profile Image for Atria Dewi Sartika.
115 reviews10 followers
August 26, 2015
Lasja yang baru saja kehilangan sang ayah merasakan kekosongan dalam hidupnya. Selain itu, ada satu pertanyaan yang sudah lama bergelayut di hatinya dan hanya bisa dijawab oleh sang ayah. Ia mulai merasa ada yang aneh dalam penuturan sang ayah tentang ibunya. Namun dengan meninggalnya lelaki yang sejak kecil menjaganya tersebut, maka pertanyaan itu akan terkubur selamanya.

Hingga mendadak seorang perempuan menghubunginya dan mengirimkan sebuah paket misterius padanya. Paket yang berisi sebuah kompas antik. Awalnya Lasja tidak mengerti, apa manfaat kompas tersebut. Hingga suatu hari, tanpa sengaja kompas tersebut membawa Lasja ke masa lalu.

Sayangnya, setibanya di sana Lasja malah kehilangan kompas itu. Lasja pun terjebak di masa lalu. Di masa saat orang tuanya masih bersama. Maka tidak salah jika Lasja mencoba mengenal ibu yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Sekaligus mencari tahu dan jika perlu mencegah ibunya pergi dari kehidupan ia dan ayahnya.

Namun ternyata itu tidak semudah yang ia pikir. Ia malah harus menanggung kebencian dan rasa bersalah karenanya. Selain itu, bisakah Lasja kembali ke masa depan?

Dan bagaimana dengan Banyu? Laki – laki yang sangat baik hati dan mau menampung Lasja yang terdampar di masa lalu. Menampung Lasja yang orang asing dan bahkan membantu Lasja. Banyu yang ternyata menyimpan cinta di hatinya.


***

keseluruhan cerita yang menggunakan sudut pandang orang ketiga ini memiliki kerumitannya sendiri. Alur cerita? Saya bingung ingin menyebutnya. Yang paling tepat adalah “alur maju dengan waktu yang mundur”. Ya kehidupan Lasja berlanjut di masa lalu.

Sayangnya, menurut saya setting kota Surabaya baik di masa kini maupun di masa lalu kurang tereksplor. Kehidupan sosialnya pun begitu. Cerita benar – benar berpusat di kehidupan Lasja. Lingkungan sekitarnya kurang dijelaskan.

Tapi ide twist time traveler-nya tetap menarik.

Karakter tokohnya cukup konsisten. Terutama karakter Ibu Lasja. Dia menyebalkan. Sedang Banyu? Hingga akhir tetap tipe laki – laki manis impian perempuan ya. (>_<)

Oiya, sedikit saran. Tulisannya masih terasa kurang mengalir. Masih terkesan agak kaku dan serius. Tapi sejauh ini masih enak buat dinikmati. Terutama jika sudah memasuki pertengahan buku.

Kisah yang menarik, Mbak Aditia Yudis. Saya tunggu karya berikutnya yaaaa.
Profile Image for Dian Achdiani.
207 reviews26 followers
March 18, 2015
Poinnya 3,5 tapi covernya lutju, dijadiin 4 aja deh XD

Time travel rasa lokal, dengan media kompas. Kompas yang tidak menunjukkan arah utara.

Tema utama buku ini adalah seorang Lasja yang bertualang ke masa lalu karena penasaran ingin tahu siapa sebenarnya ibunya. Dari sini saja cerita sudah terbagi dalam dua masa, masa sekarang dan masa lalu (tahun 1989). Tapi dalam bagian 'masa sekarang' itu, terdapat beberapa saat di mana Lasja mengenang masa 'agak lalu' bersama almarhum ayahnya. Sepertinya akan lebih baik kalau font-nya dibedakan atau dibuat italic, biar rada beda...

Trus, agak heran juga waktu Lasja ziarah ke makam ayahnya, kok sama ayah ngomongnya 'aku' 'kamu' sama ayah...

Dan waktu baca bagian Lasja besar sedang menggendong bayi Lasja itu... berasa nonton Prime Spock lagi ngobrol sama Spock (tapi Spock kan engga dipangku Prime Spock, tukas Tia XDD) Gimana ya rasanya, ngobrol dengan diri kita dari masa datang?

Salah satu ke'kagok'an saat membaca adalah saat Lasja kembali ke masa sekarang, dengan jeda waktu dua bulan. Upaya Lasja untuk membuat orang lain percaya 'bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi' itu sepertinya agak kurang. Bagaimanapun, dua bulan itu lama... Biasanya dalam cerita time travel, saat si tokoh kembali ke masa sekarang, ia tidak kehilangan masa sedetikpun, alias tetap di saat ia menghilang ke masa lalu...

Satu lagi, baca Dimas menyembunyikan kompasnya Leia, kok berasa Dimas itu Jaka Tarub yang nyembunyiin selendang si bidadari ya? :p

Baydeway, cerita ini engga bisa dibaca selintas, bacalah perlahan-lahan, lagipula biar jangan cepet abis XDD

#pelukLendra XDD
Profile Image for Mita Oktavia.
Author 1 book10 followers
May 2, 2015
Not bad lah untuk 'perkenalan' gue dengan karyanya Aditia yudis ini. Jujur aja ini novel dia yang baru pertama kali gue baca. Terlepas daripada clue-clue yang cepet banget gue sadari dan sebenernya isi ceritanya udah ketebak di Awal tapi gue sepakat kalo gayanya Adit ini ngalir, bikin gue betah lama-lama membacanya dan menamatkan ini buku nggak sampai sehari! Walau semacam pengen nampol tokoh Lasja dan Ratu hahaha tapi gue suka sih karakter Lasja, terus karakter Lendra juga bikin melted. Baru kali ini gue suka karakter om-om hahaha gue jadi membayangkan Lendra ini om-om ganteng yang bahkan nggak keliatan tua sama sekali. Walau banyak pertanyaan muncul dalam benak gue saat baca ini semacam ceritanya nggak masuk akal, tapi karena alurnya yang rapi, gue nggak menemukan kekosongan dalam cerita ini dan jadinya ceritanya logis-logis aja. Gue bisa hanyut dalam kisah ini dengan tidak mengacuhkan kenyataan bahwa gue sebenernya udah tau inti cerita ini dari awal.
Sebetulnya gue rada berharap kalo latar 'masa lalu'nya kayak yang berbau sejarahnya ini bisa lebih di eksplor lagi sih soalnya sayang banget gitu udah balik ke masa lalu tapi ya cuma gitu-gitu aja, tapi gue sadar sih sama benang merah ceritanya apa jadinya nggak mungkin juga kalo terlalu menonjolkan sisi sejarahnya kan.
Terlepas dari itu semua, gue lumayan tertarik sama karya-karya Aditia Yudis yang lainnya nih. :)

Oh iya, gue suka covernya, warna ijo♥
123 reviews
July 21, 2016
Bingung mau ngeriew apa toh dasarnya aku nggak bisa ngereview. Tapi yang pasti aku suka ceritanya, memang ada beberapa hal yang mudah ditebak tapi aku sangat menikmati alurnya, proses bagaimana hal yang kutebak itu bisa terjadi sangat menarik. Penulisnya pinter banget buat semuanya terlihat lancar nggak ada yang keliru, pastinya kan cukup ribet kalau nyeritain flashback, informasi nggak boleh ada yang ketuker.

Awal baca buku ini moodku sedang tidak bagus, dan setelahnya moodku mulai membaik. Moodbooster baget.

Setelah baca bab 11, aku jadi membuat kesimpulan Tuhan tidak mengijinkmengijinkan kita kembali ke masa lalu karena semuanya akan sama saja, tidak ada yang bisa dirubah. Kalau ada yang dirubah maka kita tidak mungkin bisa kembali ke masa lalu, bahakan mungkin kita nggak akan ada. Waktu itu tentang dulu-kini-akan datang. Semuanya saling berkesinambungan. Dirubah satu dampaknya akan menjalar kemana-mana di kemudian hari. Semua sudah takdir, hal yang sudah ditetapkan dengan pasti. Gimana menurut kalian? Mending balik ke masa lalu atau nahan penasaran?

Novel ini sangat recommended buat yang suka cerita petualangan, keluarga, roman.
Ceritanya penuh teka-teki dan banyak informasi yang ternyata berhubungan sama pemecahan masalahnya, jadi kalau punya daya ingat kurang (kayak aku) harus baca dengan konsentrasi cukup biar nggak ada yang kelewatan.

Semoga reviewnya berguna. Arigatou.
Profile Image for Ifnur Hikmah.
Author 5 books13 followers
April 17, 2015
What will you do if yould go to your past? Maybe you will erase some of your fault so you can live a better life in a present time. Or, maybe you would face someone in your past and ask her/him to do something related to your present life?

Lasja bisa kembali ke masa lalu berkat sebuah kompas. Niat awal untuk mencari tahu sesuatu di masa lalunya berubah jadi bencana ketika dia kehilangan kompas. Namun, niat Lasja 'berkunjung' ke masa lalu pun tuntas ketika dia bisa mencari tahu apa yang terjadi di sana. Hmm... what is that? You can read the book if you want to know haha...

Hmmm... kalau biasanya kita diajak berkelana ke masa depan, kali ini kita diajak melihat Surabaya di masa lalu. jadi bertanya-tanya, apa yang akan aku lakukan kalau punya kompas yang bisa membawa ke masa lalu, seperti punya Lasja? Hmm...

Sebenarnya sudah baca novel ini sejak masih berupa draft beberapa tahun lalu *cough* dan ketika baca dalam bentuk buku, sensasinya pun beda. Mungkin karena gue udah lupa-lupa ingat baca yang versi draft jadinya ketika baca versi buku jadi kayak baca dari awal lagi. Tentunya, masih pusing dengan konsep waktu di novel ini. Tapi, kalau bacanya dalam keadaan santai dan mau mikir dikit, mungkin enggak bakalan terlalu pusing hehe.

Two thumbs up buat Adit. Looking forward for your next novel
Profile Image for Wahyu.
11 reviews1 follower
April 12, 2015
Sebelum beli bukunya aku cek dulu di goodreads berapa sih ini ratingnya, haha. Maklum, saat di toko buku aku cuman pengen nyari textbook kuliah dan gak ada niatan buat beli buku fiksi. Okelah setelah cek, suka sama covernya, ambil deh. hehehe
Alur ceritanya bagus banget, hampir gak ketebak apalagi tentang masa lalu ibunya. Misal tentang si A akhirnya dengan si B, yaah kalo udah sering baca novel mungkin udah bisa mengira-ngira. *maaf spoiler
Abis liat sinopsis di back covernya, menurutkuu bagus lho kalo di ceritanya menggunakan tata bahasa yang baku, misalnya penggunaan 'tidak' dibanding 'nggak', dan banyak lainnya. Jadi pembaca bakalan makin nyaman buat baca bukunya dan makin terhanyut lah, hehe. Sayang soalnya dengan alur cerita yang baguus banget, tapi ada sedikiit flaws pas di penuturan cerita. It's worth reading, buat kalian yang tidak terlalu pay attention tentang bahasa penulisan pengarang :)
36 reviews
May 1, 2015
3,5 stars

Time after time bercerita tentang Lasja yang baru saja kehilangan Ayahnya pergi ke masa lalu. Selain untuk melihat Ayahnya sekali lagi, dia juga ingin mengetahui alasan mengapa Ibunya pergi meninggalkan mereka.
Saat berada di masa lalu, ia tidak sengaja menghilangkan kompas yang merupakan jalan pulangnya ke masa depan. Dia akhirnya tinggal di rumah seorang remaja pria.
Ide cerita unik, dan ada kejutan juga yang nggak saya sangka-sangka, tapi mungkin gaya bahasa Kak Aditia Yudis ini nggak cocok buat saya sehingga banyak banget part yang di skip-skip.
Profile Image for Eri Cahyono.
57 reviews7 followers
April 21, 2016
Belum banyak kisah time travel yang saya baca, kabanyakan dari format film, dan buku ini cukup asik untuk dibaca dengan cerita time travelnya.
Logika tentang fantasi time travel juga rapi, penulis berusaha menciptakan konsep "time travelnya" dalam buku ini.

Tokoh yang disajikan tidak terlalu banyak dan dapat "menempatkan diri" dengan baik. Tapi saya tidak begitu dapat menangkap karakter tokoh utama yang kuat.
Bahasanya ringan dan mengalir sederhana.

Terimakasih, Aditia Yudis :)
Profile Image for Nadia Syafiqoh.
23 reviews1 follower
May 26, 2015
Ceritanya sih menarik... buktinya bisa selesai saya baca kurang dari sehari. Haha... mungkin juga karena saya sangat suka tema time travel. Tapi cerita ini agak mudah ketebak, walau bikin penasaran juga. Trus ada kalimat-kalimat di mana subjek gak konsisten, dan alur yang sepertinya melompat-lompat bikin agak bingung.
Overall, I like it ^_^
Profile Image for Anggrek.
Author 3 books11 followers
June 28, 2015
Bacaan adalah perihal selera. Saya tidak begitu menyukai novel ini karena dengan mengusung tema Time Traveler terasa begitu mirip romance biasa yang bahkan dari awal sudah mudah ditebak. Padahal, saya menantikan petualangan yang lebih berani dari itu.
Displaying 1 - 30 of 31 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.