Rumah van Sander, sebuah rumah misterius yang terletak di tengah hutan Desa Bukit Kabut. Bangunan tua yang tak pernah benar-benar ditinggalkan. Konon, rumah itu adalah tempat bersemayam Wangkara, makhluk legenda yang namanya tidak boleh disebut lantang. Sekali namanya disebut, mereka akan mengundang malapetaka. Aiwa Diajeng mengira kepindahannya ke Desa Bukit Kabut adalah awal hidup baru yang nyaman. Hari-hari Ai yang awalnya terasa aman, kini tinggallah angan. Di desa yang menyimpan rahasia dan kabut yang tak pernah benar-benar menghilang, Ai dipaksa menghadapi kengerian yang tak terkirakan.
”Karena rasa takut itu adiktif, manusia senang memacu adrenalin. Cerita hantu bikin mereka mendapatkan sensasi, maka banyak orang menikmatinya walaupun belum mengetahui faktanya. (p.151-152)
Sebuah buku tipis namun padat karya tentang suatu desa bernama Bukit Kabut yang memiliki sebuah rumah milik seorang Belanda bernama Maks van Sander. Rumah itu pun menjadi angker dan menyimpan tulah. Konon katanya ada satu kata yang tidak boleh disebutkan di desa itu, jika kau tak ingin celaka.
Membaca karya kedua dari penulis, aku bisa menangkap benang merah bahwa penulisnya memiliki keresahan yang ia tuangkan dalam bentuk tulisan. Berbeda dengan November Fog yang mengusung tema darderdor—dalam arti sebenarnya, Rumah van Sander ini lebih kalem dengan menggabungkan nuansa horor dan urban legend.
Memiliki halaman kurang dari 200, buku ini sebenarnya agak lama “panas”-nya. Karena di ¾ cerita dipergunakan untuk world building. Diajak buat mengenal Desa Bukit Kabut lebih dekat. Rumah Van Sander itu apa dan ada apa di dalamnya. Serta satu per satu warga desanya yang memiliki rahasia yang tak biasa. Baru deh sisa ¼ begitu brang breng brong nggak dikasih nafas. Intens banget.
Aku suka isu yang diangkat. Semua yang terjadi di desa itu sebenarnya bisa dijawab secara logika, namun manusia—atau warga sana lebih suka yang mistis dan horor padahal gimana kalau itu hanyalah framing? Lebih serem mana antara antek-antek asing sesungguhnya atau mem-framing antek asing padahal yang busuk orang dalamnya sendiri? Wow! Bersiaplah 👀
Sebab, manusia yang paling menakutkan daripada iblis dan setan sekalipun. Di buku ini, ya, kalau di kisah nyata jadi inget teror pocong dan kolor ijo. Kurang lebih polanya demikian.
Yang jadi catatan adalah ada 1 bab yang isinya kompilasi alias rangkuman dari apa yang terjadi. Jadi, sebelum bab itu, ada twist yang bikin wagelasehh OMG wow! Sebenarnya lebih baik kalau pembaca sendiri yang menyimpulkan apa yang terjadi di sana. Namun sayangnya, penulisnya malah merekap itu semua. Ya, jadi kesimpulan yang diarahkan, huhu. Sayang banget. Mungkin biar ga multitafsir, ya, tapi bentuknya tuh kayak rangkuman.
Untuk ending ya beginilah kalau novel thriller sih, yang open dan unhinged memang bikin greget.
Jadi, kamu yang udah baca, tim P akan menerima atau tim P akan menolak?
Akhir kata, buku ini direkomendasikan bagi kamu yang suka genre horor dengan balutan mitos dan urban legend. Bisa dibaca sekali duduk. Twist wagelahseh bersiaplah.