Selamat datang di Pulau X. Pulau tempat mukjizat terjadi setiap hari. Tanah tandus bisa berbuah. Penyakit bisa sembuh. Dan, semua orang percaya pada satu hal: Pamasa adalah wakil Sang Agung di dunia.
Ale tumbuh memuja Pamasa sama seperti semua orang di Pulau X. Meski ada banyak hal yang tidak pernah dibicarakan. Penyucian yang selalu berakhir dengan tubuh tak bernyawa. Anak-anak yang dipilih mengabdi,lalu menghilang tanpa pernah kembali. Rahasia-rahasia yang terasa suram dan gelap di balik sucinya dinding balai. Ketika mulai mempertanyakan semuanya, keyakinan Ale tak bisa lagi sama.
Di Pulau X, iman bukan sesuatu yang dimiliki; iman adalah sesuatu yang diawasi.
Disclaimer: Review di bawah ini saya copas langsung dari thread yang saya buat di Twitter.
Rating: 2.5/5 ⭐ ⚠️ Spoiler alert ⚠️
Di balik kehebohan media sosial (cover yang ditutup stiker yang memancing FOMO), Sesat gagal menopang premisnya. Ekspektasi: Thriller psikologis/horor sekte yang deep. Realita: Ceritanya runtuh karena logika dan world-building-nya berantakan, serta terlalu bergantung pada shock value.
Kelemahan paling fatal terletak pada world-building yang kontradiktif. Pulau X diceritakan terisolasi total dari dunia luar. Namun, pada saat yang sama, keluarga Dhatya rutin berdagang keluar menggunakan kapal. Kok bisa arus informasi diblok sempurna padahal jalur logistiknya terbuka? Penulis gagal memberikan justifikasi untuk plot hole ini.
Selain itu, ada elemen yang terasa hanya pajangan agar dunianya terlihat meyakinkan. Ada sistem ukur fiktif "tuk" (setengah meter), tetapi tidak ada integrasi ke dalam mekanisme cerita. Di samping itu, gambar peta di awal buku juga menurut saya misleading. Dunianya (Pulau X) digambarkan luas, ada beberapa Pos (atau kampung), dan area luas yang dilabeli "Daerah Asing" dengan adanya mitos makhluk pemakan manusia. Namun, sepanjang cerita hanya fokus di balai, daerah lain tidak pernah dieksplorasi. Semua jadi terasa hanya "tempelan".
Klaim bahwa pulau ini terisolasi juga semakin hancur dengan adanya diksi eksternal pulau bernuansa agama yang dipakai dalam dialog (zina, haram, fitnah, munafik). Pemakaian istilah yang berasal dari "agama luar" menurut saya menjadi sebuah cacat logika dalam world-building. Aneh rasanya melihat komunitas terisolasi dengan agama utama, Tuhan, dan kitab sucinya sendiri, tetapi memakai diksi dari agama luar pulau. Seharusnya mereka secara natural mengembangkan leksikonnya sendiri. Kemunculan diksi asing ini membuat ilusi isolasi kultural di buku ini menjadi lemah.
Masih soal world-building malas dan plot hole, keberadaan agama utama dan "Agama F" (agama baru yang dicap sesat oleh Pamasa) di Pulau X ini terasa sangat mentah. Penulis sama sekali tidak memberikan landasan filosofis atau sejarah asal-usul yang solid untuk keduanya. Latar belakang keduanya kosong melompong tanpa kedalaman sama sekali. Kehadiran agama F juga terasa hanya sebagai tempelan instan sebagai plot device atau jalan pintas agar ceritanya memiliki konflik.
Siapa Pamasa? Pamasa adalah orang nomor satu di Pulau X, perpanjangan tangan Sang Agung, katanya. Pamasa digambarkan bisa mengubah, menambah, atau menghapus ayat kitab suci seenaknya. Ayat baru kontradiktif? Pamasa masa bodoh. Pokoknya ngawur, mirip presiden yang bikin rupiah lemah. Selain mengacak-acak ayat, dia juga mengondisikan penduduk pulau untuk percaya bahwa cairan tubuh yang keluar dari Pamasa adalah air suci. Penduduk pulau direduksi menjadi NPC satu dimensi yang bergerak seragam di bawah manipulasi, tanpa ada dinamika hierarki kelas yang dieksplorasi.
Mengingat tidak ada latar belakang sejarah agama utama di Pulau X, rasanya penulis memang tidak mau repot-repot memberikan justifikasi logis mengenai proses indoktrinasi Pamasa terhadap penduduk Pulau X. Penulis membiarkan pembaca menelan mentah-mentah alasan mengapa penduduk bisa sebegitu pasrahnya percaya dan menerima begitu saja ajaran meminum air seni Pamasa yang dianggap sebagai air suci. Terkesan hanya untuk shock value saja, menurut saya.
Jumlah halaman (sekitar 230-an) tidak bisa menjadi pembenaran fakta bahwa karakterisasi dalam novel ini cukup lemah dan membingungkan. Ale (salah satu tokoh utama) pasif, tidak punya fondasi karakter selain menjadi "pion" yang ditarik ke dalam balai (rumah ibadah utama dan tempat tinggal Pamasa) oleh Pamasa Dhatya. Ia murni digunakan sebagai alat sandera untuk memanipulasi dan memaksa ibu angkat Ale (Kedul) agar baikan dan balikan dengan Pamasa. Motivasi yang kurang kuat untuk premis bagus novel ini.
Novel ini sering berganti POV antara Ale dan Pamasa Dhatya, tetapi menurut saya gagal menjaga keutuhan karakter. Dari POV Ale, Dhatya adalah tiran kejam dan kotor. Namun, saat berganti ke POV Dhatya, ia mendadak digambarkan memiliki moralitas tinggi (bahkan menurut Kama, kakak Dhatya) dan tidak tegaan. Penggambaran karakternya cukup inkonsisten. Hal ini diperburuk dengan penggunaan alur maju-mundur dan pelabelan kalender yang tidak rapi di awal setiap bab. Misalnya: "Tahun 841 Kalender X" (tahunnya jelas), dan di bab berikutnya tahunnya disensor, "Tahun 8YY, Kalender X". Butuh usaha ekstra agar orientasi waktu pembaca tidak kacau. Saya pribadi tidak mau repot-repot menghitung manual, karena sudah terlalu lelah dengan banyaknya pertanyaan yang tidak terjawab di buku ini.
Horor di buku ini sama sekali tidak dibangun melalui atmosfer isolasi atau ketegangan psikologis, melainkan melalui eksploitasi visual yang sadis dan menjijikkan (amputasi bagian tubuh, hingga praktik pedofilia oleh Kama).
Begitu juga ending-nya, nasib Ale diakhiri dengan eksekusi shock value murni. Detailnya tidak akan saya tulis, agar tidak terlalu spoiler wkwk. Intinya, karena tidak ada ikatan emosional dan character development yang kuat terhadap Ale sejak awal, ending-nya tidak terasa memukul, melainkan hanya sekadar cara cepat penulis untuk mengakhiri cerita. Klimaksnya dieksekusi terburu-buru, membiarkan konflik struktural pulau menggantung tanpa kejelasan. Pada akhirnya, semua penderitaan karakter nihil payoff. Murni hanya eksploitasi penderitaan yang hampa.
Kesimpulannya, "Sesat" sebenarnya punya premis sekte terisolasi yang fresh. Dialognya masih natural, dan ada ruang untuk eksplorasi trauma para antagonisnya (Dhatya & Kama). Sayangnya, potensi ini ambyar karena eksekusi yang terburu-buru. Akan lebih maksimal jika energi yang digunakan untuk menyajikan daya tarik eksternal (mulai dari gimik cover ditutup stiker hingga sisipan kuis kepribadian yang kurang esensial di akhir buku) dialihkan untuk memperkuat struktur world-building yang masih menyisakan banyak lubang.
Akhir kata, bagi kamu penikmat misteri yang mencari world-building solid dan rapi, buku ini kemungkinan besar akan kurang cocok, atau membuat kecewa. Jangan berekspektasi banyak. Namun, kalau kamu sekadar butuh thriller kelam yang menyajikan shock value visual yang ekstrem (ada beberapa ilustrasi scene juga berukuran full satu halaman yang cakep) dan bisa tutup mata soal logika dunianya, "Sesat" masih lumayan menghibur.
This entire review has been hidden because of spoilers.
this book contains: cult, pedophilia, child abuse, child rape, children as sex slaves, abuse of power, graphic violence
first of all, i feel bad for the people who live in this island. i can't even imagine living in an island with no contact to the outside world whatsoever. the only way for them to get out is probably working as a slave for that literal child rapist kama because apparently they're the only one who own ships in the island AND THAT IS IF THEY'RE ALLOWED TO, which i'm not sure if they would grant such luxury to slaves.
in it's entirety, buku ini cukup triggering. selain mengandung trigger warning yang aku cantumkan di atas, buku ini mengangkat issue yang tidak banyak orang berani untuk membicarakannya, but i'm sure a lot of people are uncomfortably aware of it, seperti pemuka agama yang menyimpang jauh dari ajaran agama (pamasa dhatya) dan rape victim turns perpetrator (kama).
by the way, there is no justification for their actions. "but they were abused when they were children" is not enough for the mental, physical, spiritual, and sexual abuse they've caused to the countless of children and the people of the island. "but pamasa dhatya di-blackmail kakaknya, if he didn't do what kama said, he would harm his son" IS NOT ENOUGH REASON TO KEEP GOING. and he went too far. anyway, my point is there is and will not enough 'buts' to justify what they did.
inilah kenapa segala hal penting untuk dipertanyakan. termasuk agama. terlebih agama. selama 'perpanjangan tangan' Tuhan, pemuka agama, penafsir kitab, individu bergelar apapun itu yang mengklaim dirinya pelayan Tuhan masih berwujud manusia, semua yang ia katakan dan lakukan sangat penting untuk dipertanyakan. apalagi yang menyimpang dan bertolak belakang dari ajaran yang seharusnya. i'm not a religious person myself, so this is huge coming from me. i'm saying this not in the religious way, but because that's just logic. if things differ from how they're supposed to be, shouldn't you question why?
this book is very political if you think about it. this book is about religion but actually it's more about politics. politics wrapped prettily and neatly in the name of religion. let's break it down:
1. there is no man higher than pamasa in this island.
perkataan pamasa dianggap mutlak. perkataan pamasa adalah hukum. padahal pamasa adalah manusia. manusia yang penuh dosa at that. ia menciptakan ajaran sesuka hatinya, menghalalkan apapun mengatasnamakan tuhannya. and on top of that, with that absolute power in his hands, he abuses it to the max to fulfill his wicked pedophile brother's wishes. and he cuts everything that gets in his way. if that's not dictatorship then i don't know what is.
2. mereka mengendalikan rakyat dan ekonomi di pulau x dengan ajaran agama.
mereka membuat rakyat bergantung sepenuhnya ke balai, memanipulasi rakyat untuk berpikir bahwa mukjizat datang dari puji-pujian mereka kepada pamasa dan sang agung. selama mereka taat dan percaya, mereka akan selamat, mereka akan dibantu, mereka akan hidup. dan sebaliknya, jika mereka membelot ke agama lain, mereka akan dihabisi dan dianggap pengkhianat. dengan kata lain, rakyat tidak memiliki hak untuk memilih agama. mereka bahkan tidak memiliki hak untuk memakan buah tertentu. they almost have no rights.
3. the people in this island live in complete isolation.
mereka tinggal di pulau tapi hanya ada dua dermaga dan dikuasai oleh orang-orang berada. sulit untuk masuk ataupun keluar dari pulau ini karena yang memiliki akses ke kapal adalah orang-orang kaya di pos 1, membuat rakyat di pulau x mudah untuk dikontrol karena tidak ada informasi dan pengetahuan dari dunia luar yang masuk ke pulau x tentang kehidupan layak yang sebagaimana seharusnya. akses ke negara awan pun eksklusif hanya untuk orang-orang tertentu. they're trapped.
i have nothing to say about ale. it's very clear she's written as a tool to expand the story. she had a tragic birth, lives a tragic life, and has a tragic death awaiting.
if i had to describe this book in one liner like those new york times best seller reviews on the cover, it would be 'unapologetically explicit' or 'unapologetically bold' because it IS explicit and bold and it's supposed to make you uncomfortable.
now i wanna talk about the little quiz in the end which i found a bit funny putting that in the book considering as a reader myself, i always vision and position myself as a fly on the wall, not as a participant, or even worse self-inserting myself as one of the characters. so no, thank you, i don't want anything to do with balai or pulau x, i'm good. i'm just kidding, of course, i know they put it there as some moral test, to see what would the readers do in those situations, what kind of person they are, such and such. but personally, i would just kms T___T
Sesat was an enjoyable read, but it did not quite live up to the expectations I had built while reading the first half of the novel.
The story follows Ale, a devoted follower of a religious sect led by Pamasa, a figure who is worshipped almost like a god. After witnessing several contradictions within the teachings and being influenced by Kedul, one of the few people who openly questions the sect, Ale gradually begins to doubt everything he once believed. His search for the truth eventually uncovers a web of manipulation, exploitation, and hidden relationships buried beneath the group’s sacred image.
What I enjoyed most was the premise. The idea of a cult-like community where questioning the leader is forbidden immediately caught my attention. The novel also explores themes of power, blind faith, and how authority can be used to control people. Ale’s growing doubts felt believable, making it easy to follow his journey.
However, I expected the mystery to be more complex. The early chapters created a strong sense of intrigue, making me think there would be deeper secrets behind the sect and Pamasa’s position as its leader. Instead, most of the revelations turned out to be more straightforward than I anticipated. While the twists were relevant to the story, they did not leave the strong impact I was hoping for.
Perhaps my expectations were influenced by books that focus heavily on cults and unsettling mysteries. While reading Sesat, I was reminded of Kinki Region, which constantly deepens its mystery and creates an atmosphere of unease. In comparison, Sesat feels more like a social critique about manipulation and abuse of power than a truly mind-bending horror mystery.
The ending was tragic and fitting for the story’s themes, though I wished some character arcs, particularly Kedul’s, had been explored further.
Overall, Sesat is an engaging novel with an interesting premise and important themes. Although the twists were not as shocking as I expected, I still enjoyed the reading experience and appreciate what the author was trying to convey.
Well, I guess I have a lot of opinions about this book, and since I am also a blabber myself, maybe this will be another long review from me. This is all based on my opinion, yappp.
The great things about this book: * Interesting premise. I think the “cult” , "twisted faith", and “religious sect” topic is sort of fresh and a good idea for a novel especially here in Indonesia. * The story is easy to follow through. The writer, for me, has a good writing style, so I could finish the book in less than 2 days. * I know this might be a marketing gimmick, but the hidden cover is also great element that added a point of curiosity to my list of reasons for reading this book besides the story.
Anyway, there are some letdowns in this book, especially because I think my expectations were high due to the mostly positive reviews.
– I think it is more of a dictator book rather than a “cult” exploration. The scenes where they believe in the religion without questioning it are not convincing enough. And I think that the people inside the “Balai” already knew that what they were doing was wrong, but they would rather do it because they were afraid of what the higher up would do to them. Pamasa acts more like a dictator than a sect leader. I just think that, for a cult or sect, a lot of people inside the “Balai” do not follow the teachings, while usually they tend to always obey because they have a strong belief system, right? Like being brainwashed. But here, it seems like they are controlled with fear rather than “twisted faith.” *** Atau memang sebetulnya lebih berfokus ke politik agama ketimbang ajaran agama sesat kah??? Tp judulnya aja SESAT yaz... hmmm
– In addition to that, how twisted the religion itself is also not really clear. I expected more explanation about the way they pray and what the belief system is like, so that I could squint my eyes while reading because of how nonsensical it is. But I don’t think I experienced that enough. Only some khotbah in each chapter, I guess? And some slight descriptions of how people wanted to drink Pamasa’s pee 🤮😇 but because of what? The miracle scenes are also not really being well described. Like, how can the people think that Pamasa is their savior, and how this religion cultivates itself in their lives is not described enough in this book (to me).
– Also, I feel that Pamasa’s character is not really explored enough. Okay, we can see Pamasa’s childhood background, but the reasoning is still not convincing enough for me. I think it would also be more interesting if the writer showed us how the religion and the people in the 'Balai' operated during Dhatya’s days before he became Pamasa. I just want to know whether this twisted regime was already going on before his rule, so that he also got fed up with this BS, or whether he was the one who started the regime. How much contrast was there? Because there were only slight hints.
– To me, no90 was more clear headed than Ale. In some conversations, she knew what was going on and how fishy 'Balai' was, but she also knew how to adapt and survive. If I remember correctly, she was also the one hinting that the children were being shipped away to satisfy Kama’s desires and resentment toward Dhatya. I understand that Ale should have a conflicting mind because of Kedul’s influence on her, stating that the religion was not good and not wanting Ale to believe in it. But no90 also had that same conscience. That’s why I also think they are more like trapped workers inside the 'Balai' rather than strong cult believers, so Ale’s conflicting side is not convincing enough to read because the people around her also seem to think the same way she does.
– For me, there are a lot of stupid actions taken by many characters in this book. Like there is orange eating ban and I still don’t understand why no98 still wanted to eat oranges after they had already cut her tongue off, and she was eating one while there was a new roommate being transferred in. Wasn’t the last time she got caught because the old roommate was the one who reported her to the higher up? Stupid, right? You don’t even know yet what this roommate is going to be like. After got caught, she asked Ale 'friend or enemy' what if Ale also told the higher up about you first thing in the morning. Aren’t you afraid they will chop your head off this time, girl?
– Also, how addictive can an orange be?! It is not an addictive substance that will make you go insane if you don’t eat it again, right? Like, it is not heroin, I guess? It is just an orange, girl. You really gamble your life just for an orange?! Unless the writer convinces us that because they had never tasted an orange before and because the religion banned it, people went crazy about oranges after having a taste of one. In another scene, there is another person caught eating an orange and he shouts, “It’s only an orange!” Then that means it is still the same orange we know, right? Enough, with the orange rant I guess. Lol 🤣
– Because the first iyamisu book I read was a book by Minato Kanae. I think this iyamisu book might be like that too, about exploring how dark human emotions can be and how 'sick' someone can become. But the “iya” of this book comes from the amount of gore and child rape scenes, so of course it is not comforting to read. And there is almost no “misu” in this book (for me). I think it is more of a horror/gore book to me.
– The publisher should consider putting a 21+ label on it in the first place. Because they already state that there will be child rape and abuse, how come the label is 15+?? What if there are 'bocil-bocil' who buy and read this book? I still remember the Tamani and Kama scene in the horse stall, and there are more and more child rape scenes after that. Yuck 🤢 No no ya.
- I don't want to comment about the ending 😮💨 After those spent time reading the book and with that kind of an ending... 😇🙏🏻 you should have known better Ale. She is not smart at all, how come Dhatya thinks Ale is smart? She still a naive child...
I was considering giving it 2 stars because I think my expectations were high because of some review and this book fell short of them. But I guess it is still somewhat decent, just maybe not what I expected. *** Pesan moral : Ingatlah untuk jangan mabuk-mabukan, seperti mabuk miras, mabuk cinta, maupun mabuk agama 😇🙏🏻
This entire review has been hidden because of spoilers.
Membaca Sesat dengan ekspektasi bahwa ia bisa seperti About a Place in the Kinki Region --bukan dari segi mockumentary-nya, melainkan tentang sekte di sebuah pulau yang menjadi ide cerita dari novel ini.
Iyamisu kedua karya Naomi Midori, jujur saja aku menantinya. Setelah dibuat terpukau dengan bagaimana Pasien membuatku takjub hanya dalam sekali duduk, maka aku rasa tidak berlebihan jika aku mengharapkan sesuatu yang di atas Pasien.
Premis Sesat menarik. Sebuah pulau dengan pemimpin sekte yang katanya merupakan titisan Sang Agung. Apa yang dikatakan oleh Yang Terpilih adalah ucapan Sang Agung. Warga harus tunduk atau hukuman dan azab menanti. Warga tidak diperbolehkan bertanya mengapa dan bagaimana bisa. Menurut atau dituntut.
Sejak halaman pembuka, sudah ada trigger warning kalau novel ini akan menyebabkan perasaan tidak nyaman. Seperti misal: kekerasan terhadap anak dan hewan, juga pedofilia. I thought I could brush it off, but I was wrong. Adegan-adegan tersebut berulang di beberapa bagian cerita. Ada yang begitu mendetil sehingga membuatku benar-benar tidak nyaman. Tapi karena keburu ingin menyelesaikan novel ini--penasaran dengan akhir cerita dan nasib tokoh utama--aku bablas saja.
Sayangnya, buatku pribadi, ending-nya terasa "biasa saja." Aku agak berharap open ending yang membuatku punya intepretasi ini-itu terhadap apa yang terjadi selama cerita. Namun rupanya, penulis memilih untuk mengakhirinya begitu saja.
The book is gripping. Hanya saja aku merasa bahwa nama-nama tokohnya terlalu aneh--bahkan cringe bagiku. Meski dijelaskan oleh penulis pada akhir buku bahwa nama-nama tersebut adalah kata-kata yang diambilnya dari beragam bahasa, tapi tetap saja terasa ganjil di kepalaku.
In short, Sesat bisa menjadi bacaan selingan bagi mereka yang tengah mencari iyamisu lokal.
Premisnya sih menarik. Tema kayak kultus, sekte, dan keyakinan aneh itu lumayan klise tapi masih cocok jadi ide novel, apalagi di Indonesia. Ceritanya gampang diikuti, gaya penulisannya enak, makanya bisa habisin baca buku ini dalam sehari. Dan soal hidden cover ini cuma gimmick marketing, tapi keren juga, bikin makin penasaran pengen baca.
Cuma sayangnya, aku setuju sama salah satu reviewer yang menyebutkan kalua bukunya lebih kerasa kayak cerita diktator daripada eksplorasi kultus. .
Terus soal Dhatya. Dia baik, tapi pengecut. Maksudku, .
Daripada merinding, aku malah sedih dan miris bacanya. . Beberapa tokoh sayangnya cuma jadi pajangan (sama hal nya kayak Pos-pos lainnya), padahal bisa dieksplor lebih dalam. Mungkin penulisnya takut ceritanya melebar kemana-mana, akhirnya fokusnya cuma ke Ale dan Dhatya. Tapi dampaknya jadi banyak hal yang bikin penasaran. Oh iya, moment mungkin enaknya dipanjangin sedikit aja, , imo.
Di novel ini hampir ga ada plot twist sama sekali, ceritanya mengalir begitu doang. Kalau ada pun cuma . Tapi alurnya oke, berhasil bikin aku tertarik masuk ke cerita dan bayangin situasinya. Unik juga sih ada kuis di akhir, dan pengakuan asli dari penulisnya bikin balik ke realita.
Aku tertarik membaca buku ini karena penasaran dengan cover yang katanya menakutkan itu. Selain itu, katanya ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis ditambah bumbu2 kemewahan dan keseraman, dan seperti genre bukunya menjijikkan. 😅 Meski begitu aku sudah siap dengan segala hal2 yang menjijikkan itu yang memang di luar nalar tapi sudah diprediksi✌😅
Buku ini menceritakan tentang Ale, yang ingin masuk balai dan mengabdi pada Pamasa (pemuka agama) yang dianggapnya membawa keajaiban dan keberkahan, bisa menolong, menyembuhkan orang sakit, dan menumbuhkan tanaman dan tanah gersang. Kata Pamasa, semua itu berkat Sang Agung. Namun, ibu angkat Ale, Kendhul, eelalu berusaha mencegah Ale masuk balai dan mengingkari semua ajaran Pamasa Dhatya. Selain itu, banyak hal misterius yang terjadi di desa Ale di mana anak-anak banyak yang hilang dan tak pernah kembali setelah masuk Balai.
Maka yang jadi pertanyaan siapa Sang Agung? Siapa Pamasa Dhatya? Apa alasan Kendhul mengingkari ajaran Pamasa? Apa yang sebenarnya terjadi pada anak-anak di balai?
*** ⚠️Spoiler ⚠️
⚠️Cerita mengandung kekerasan, pelecehan, pemerkos**n, child abuse, pedofilia, perdagangan anak, gambaran berdarah-darah, dan hal-hal menjijikkan⚠️🔞
Awal perasaan saya membaca buku ini seperti saya membaca Ronggeng Dukuh Paruk (menggambarkan paket combo kemiskinan dan kebodohan yang terjadi di suatu daerah 😌sehingga mudah percaya akan hal-hal yang dianggap keajaiban padahal itu hal logis yang bisa dipelajari) dan juga Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur (dari sudut pandang Ale, yang sangat ingin belajar dan mengabdi pada ajaran Pamasa layaknya Kirana yang sangat ingin dan bersemangat belajar agama) . Sebuah perasaan sedih dan miris.
Sudut Pandang dibagi dua yaitu dari Sisi Ale dan Sisi Pamasa Dhatya. Dua2nya sama agak bikin kesal karena ya karakternya plinplan 😌.Namun, aku masih suka POV Ale karena kita diajak bertualang menelusuri balai dan rahasianya. Sesungguhnya aku tidak peduli dengan POV Pamasa Dhatya. Kayak sebuah diary yang pada akhirnya kamu memilih jalan yang salah. Rasa kesal membaca POV Pamasa Dhatya itu lebih tinggi daripada saat aku membaca Absolute Justice. Semua kata-kata Pamasa kayak bikin emosi mirip p#m#rint*h skrang😌✋. Kayak mending kamu diem deh...
Latarnya digambarkan mirip seperti The Silence (Akiyoshi Rikako). Pulau terpencil yang hanya bisa dijangkau dengan kapal. Penulisan latar baik tempat maupun waktu, dibuatjuga tampak misterius. Beberapa ada yang mengkritik tapi aku malah suka dengan hal itu katena ya konsepnya begitu. Sejalan dengan penamaan anak-anak yang masuk balai yang menggunakan penomoran. Menghilangkan identitas mereka, sudah mirip tahanan di penjara.
Adegan-adegan tidak manusiawi sepanjang cerita. Rahasia-rahasia yang akhirnya terbuka. Aku sebenarnya sudah mati rasa 😅✌ Aku agak relate ke Ale yang semangat belajar sesuatu tapi aku tak seberani dia 🙏aku respek padanya. Hingga akhir dia mengungkap kebenaran rahasia balai, dia akhirnya mengalahkan kekeraskepalaannya pada apa yang dipercayainya. Dia cerdas dan yakin dengan nuraninya. Mungkin didikan Kedul. Sampai akhir dia masih percaya pada ibu angkat yang amat disayanginya. Sama hal nya Kedul yang sangat menyayangi Ale. Perasaan membaca POV Ale dari pertengahan hingga akhir sama saat aku membaca Laut Bercerita( meski belum selesai aku baca buku ini 🙏😅)
Sampai akhir nuraniku selalu memaki Pamasa ✋🤣setiap baca POV Pamasa, aku tertawa akan pemikiran bodohnya. Kemudian pada Sang Agung yang dimaksud, aku sudah tak peduli. Dia adalah gambaran orang2 yang tak terjamah di dunia nyata. Kalian mau melawan nya? Niat saja tidak cukup, karena ya akan berakhir seperti mereka yang hilang. Aku hanya berdoa mereka yang Seperti Sang Agung, mendapatkan ganjaran yang setimpal di kemudian hari. Ada yang bilang itu krna masa lalu mereka. Mereka tak mendapat cinta yang murni. Namun, meski Pamasa mendapatkannya, dia tetaplah tak menyadarinya (makanya kubilang dia bodoh😌✋) Tentang Rai? Entahlah...Aku tak mau memahaminya. Sama seperti kisah Pamasa dan Sang Agung.
Tentang keyakinan dan moralitas? Keyakinan dari hati. Bagi yang bingung mana kebenaran dan kejahatan dalam suatu keyakinannya, tanyakanlah pada akal sehat dan nuranimu. Tuhan akan memberi jawabannya. Jika akalmu tak sehat dan jiwamu terombang-ambing. Lihatlah pegunungan lautan, dan alam sekitar. Bertanyalah pada Sang Pencipta mereka(yang jelas bukan manusia) apa yang harus kulakukan?
Jika pandangannya sudah tak sesuai denganmu, menjauhlah. Meskipun mungkin itu dari ajaran agamamu, Tuhan memberimu akal untuk berpikir dan hati untuk merasa,. Keputusanmu akan selalu kembali padamu. Meski kita harus mati demi mempertahankan akal sehat dan nurani kita, maka Tuhan selalu punya jalan terbaik. Sebelum menjadi Kirana (Tuhan Izinkan aku jadi Pelacur) yang merasa terkhianati dan sebelum menjadi Ale yang merasa lega meski harus mati.
Ending sesuai ekspektasi? Gak sesuai ekspektasi tapi Sudah diprediksi (karena aku biasanya memprediksi 2 ending) Kecewa? Gak terlalu. Ada yang suka karena dibilang cukup realistis. Justru aku ingin yang fiktif(di mana biasanya kebenaran yang menang 😅✋). Tapi, tidak masalah. Cukup tahu✌Ada yang bilang setelah baca ini rasanya hampa, hmm kalau sku sedikit, kyk ada paku kecil nancap di hatiku dan dicabut. Tak masalah karena lukanya sedikit tapi tetap membekas 🙏
Bagi pecinta genre iyamisu, aku merekomendasikan buku ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
I ALWAYS LOVE BUKU YANG MENGANGKAT KISAH TENTANG SEKTE YANG SESAT!!! >_< Buku kedua dari Naomi Midori ini sungguh unik. Sesat menceritakan tentang sebuah keyakinan yang dipimpin oleh Pamasa Dhatya, sosok yang disebut sebagai perpanjangan tangan Sang Agung. Semua ajaran yang ia berikan harus dipuja, disembah, dan diamalkan oleh penduduk Pulau X.
Awalnya tidak ada keanehan apa pun dan semuanya terasa dinormalisasi seperti biasa. Namun, setelah Ale dipanggil untuk mengabdi dan masuk ke balai, semuanya mulai terlihat jelas. Ajaran ini penuh keraguan, kebingungan, dan ketakutan. Ale menyimpan banyak tanda tanya. “Ini… kok… aneh. Bener ga sih kayak gini?” Kira-kira begitulah suara hati Ale yang terus mempertanyakan banyak hal. Sayangnya, Ale tidak bisa berbuat macam-macam. Dia tahu ada sesuatu yang salah, tetapi dipaksa untuk mematikan semua indranya terhadap apa yang ia lihat dan dengar tentang Pamasa, termasuk apa yang terjadi di dalam balai terhadap perempuan serta anak-anak.
Pace ceritanya menurutku cukup pelan di awal, tetapi semakin masuk ke kehidupan di balai, rasa penasarannya makin besar dan bikin susah berhenti baca. SUMPAH PAGE TURNER BANGET. Naomi Midori berhasil membangun atmosfer yang claustrophobic dan mencekam. Selama membaca, AKU = ALE yang benar-benar terjebak dan ga tahu harus gimana lagi sama semua keanehan ini:”). Buku ini juga berhasil bikin aku merasa tidak nyaman sepanjang membaca. Ada beberapa adegan yang bikin aku genuinely uncomfortable pas baca sampai reaksiku tuh kayak, “HOEKKK 😭”. GUYS, I JUST WANT TO SAY… kalian harus siapin mental, pikiran, dan perut pas baca buku ini, karena banyak adegan trigger warning yang cukup menjijikkan dan bikin pengen muntah. Adegan seperti kekerasan terhadap anak dan kekerasan seksual dideskripsikan dengan cukup jelas.
Aku juga jadi mengerti alasan kenapa Pamasa Dhatya bisa tumbuh menjadi sosok seperti itu, yang ternyata dipengaruhi oleh trauma psikologis masa kecil serta lingkungan keluarga yang berantakan. POV Pamasa Dhatya menurutku menarik karena pembaca jadi bisa melihat cara pikir seseorang yang merasa dirinya paling benar dan suci. SOK BANGET DAH.
Beberapa hal yang aku suka dari buku ini, pertama, terdapat ilustrasi seperti peta Pulau X, peta Balai, dan beberapa gambar lain yang menggambarkan adegan tertentu. Bagus banget! Kedua, penggunaan dua POV dari Ale dan Pamasa Dhatya membuat ceritanya lebih lengkap. Ketiga, latar waktunya ditulis dengan detail sehingga pembaca tidak bingung dengan alur maju-mundur cerita. Selain itu, di awal bab juga terdapat ayat-ayat dari Kitab Sasar yang disebarkan kepada penduduk Pulau X. Jujur, isi kitabnya ngaco banget, Kek… APAAN INI?! 😭 bener-bener dibuat se-manipulatif dan se-plenger mungkin buat penduduk.
Saran yang ingin kusampaikan terkait buku ini adalah menurutku nama “Pulau X” akan terasa lebih menarik dan autentik jika penulis memberikan nama khusus untuk pulau tersebut. Penulis sebenarnya bisa saja menciptakan nama apa pun agar world-building-nya terasa lebih hidup. Selain itu, cerita di buku ini menurutku masih bisa dielaborasi lebih jauh, terutama mengenai pos-pos yang ada di Pulau X. Karena terdapat enam pos di peta, masing-masing pos sebenarnya bisa diceritakan lebih detail beserta tokoh-tokoh di dalamnya. ((Kebayangnya sih kayak distrik di buku The Hunger Games.)) Memang di buku Sesat ini sudah dijelaskan sedikit, seperti pos 4 dan 5 yang merupakan area penduduk miskin, tetapi menurutku akan lebih menarik jika tiap pos dieksplor lebih dalam. Lalu, karakter Kedul, ibu angkatnya Ale, menurutku masih kurang dieksplor. Setelah Ale masuk balai, keberadaannya hampir tidak pernah dibahas lagi sampai akhir cerita. Aku cuma butuh kejelasan aja sih… dia sebenarnya masih hidup atau tidak? Dan kenapa dia tidak berusaha datang ke balai untuk menyelamatkan Ale? Terakhir, tentang ending-nya. Reaksiku pertama kali literally kayak, “hah? gitu aja?” 😭 Bagus sih, cuma aku merasa ending-nya masih butuh sedikit penjelasan tambahan. Walaupun begitu, kalau dipikir-pikir lagi, penutup tersebut cukup realistis jika melihat semua hal yang sudah Ale lalui selama ini.
Walaupun ada beberapa bagian yang menurutku masih kurang dieksplor, secara keseluruhan Sesat tetap jadi bacaan yang unsettling dan bikin mikir tentang bagaimana sebuah keyakinan bisa memanipulasi manusia. Setelah selesai baca, perasaan yang tertinggal lebih ke rasa tidak nyaman dan bingung karena melihat bagaimana manusia bisa begitu mudah dimanipulasi atas nama keyakinan yang padahal itu adalah SESAT.
Kedua kali baca cerita kak Naomi dan berhasil dibuat speechless sama jalan ceritanya🤧 walau gak se-gong Pasien, Sesat ini punya daya tariknya sendiri dan menurutku plot yang disuguhi sama kak Naomi ini gak bisa ditebak jalan ceritanya, konflik-konfliknya menurutku mencekam sih tbh, the tension is so good‼️ terus Sesat ini bukan cerita dengan plot twist besar yang ngagetin tapi lebih ke rahasia-rahasia yang cukup mindblown dan rahasia-rahasia itu terungkap pelan-pelan seiring berjalannya cerita🤯 mantep sih menurutku! Kalo kalian penasaran sama cerita misteri tentang sekte sesat, you should read this book☝🏻 cuma memang menurutku ada beberapa hole ya dalam ceritanya terutama endingnya menurutku kurang greget setelah cerita yang tension-nya semantep itu, endingnya kayak loyo menurutku😭 open ending-nya gak pas menurutku, sayang banget deh terus ada beberapa hal dalam cerita ini yang kurang dieksplor dengan baik dan bikin hole ya, salah satunya world building-nya yang menurutku agak nimbulin pertanyaan. Diceritain Pulau X ini terisolasi total but at the same time, ada pengiriman keluar dari pulau itu (?) terus belom lagi ada beberapa hal lain seperti Agama F yang gak dijelasin seperti apa agama ini dan cuma sebatas agama ini tuh dianggap bertentanganlah sama kepercayaan di Pulau X, kurang dieksplor aja menurutku jadi sebagai pembaca tuh aku bertanya-tanya soal Agama F, entahlah banyak yang bikin aku bertanya-tanya selama baca😭
Alurnya gunain alur maju-mundur dengan switching POV antara Ale (masa kini) dan Dhatya (masa lalu + kini) kalo aku simpulin. Okeilah buat flow alurnya, ngalirnya okei menurutku but sadly, di awal aku baca ini aku blank aja gitu wkwkwk entah aku yang emang gak mudeng atau susah aja buat masuk ke ceritanya di awal apalagi benang merah antar tokohnya agak buat pusing ya bahkan aku sampai nyatet nama-nama tokohnya supaya lebih paham sama plotnya and thankfully, it works!😌 ya menurutku sih switching POV nya menarik jadi ada dual timeline dengan dua cerita yang akan bertemu di ujung yang sama, nice idea sih dan emang ya cakeplah buat cerita misteri gitu ya☝🏻 terus boleh dibilang tension di puncak konfliknya ya cakep, kerasa tegangnya but sadly, endingnya agak bikin kacau menurutku padahal udah gong banget jalan ceritanya wkwkwk😭 gatau deh yaa ges, aku kecewa sama endingnya
Narasinya menurutku okei, gaya bahasanya lugas dan gampang sih buat mahamin penjelasan di cerita ini cuma memang beberapa hal dalam ceritanya yang kurang dieksplor jadi nimbulin pertanyaan di benakku selama baca dan aku juga liat banyak yang berpendapat sama soal “hole” dalam cerita ini🤧 showing dan telling di narasinya menurutku okeilah, bisa aku bayangin dunia di dalam buku Sesat ini dan suasananya kebayang juga sih menurutku, sensasi deg-degannya okeilah✨
Tokoh dan penokohannya termasuk okei walau emang agak bingung sama si Ale ini😭 dibilang ada perkembangan karakter atau nggak ya ada sih, perkembangan POVnya dia aja sama kepercayaan dia, begitu masuk Balai ya dia jadi kebuka matanya ngeliat kelakuan asli si Pamasa wkwkwk. Terus kalo soal tokoh yang masih jadi pertanyaanku, Kedul mana ya? Kok bener-bener gak nyariin si Ale (anak angkat Kedul), padahal Kedul itu saksi hidup kelakuan Pamasa dan kakaknya Pamasa?😭 apa karena marah sama Ale yang milih ke Balai? Gatau deh🤧 si Pamasa nya juga jujur aku bingung mau simpulin dia kayak gimana tapi kek pemimpin yang sebenernya gak bisa mimpin sih cuma diktator aja. Udah gitu aja menurutku🤡 Buat tokoh antagonisnya yang gak bisa kusebutin namanya, GILA SIH KATAKU‼️ EDANNN. Kelakuannya bener-bener kayak binatangnya, jahat sih menurutku even dia juga korban di masa lalu tu gak membenarkan apa yang dia perbuat😭 hadeh hadehlah kataku, makanya ditaruh TWs di awal tu supaya reader lebih siap mental aja pas baca soalnya bener-bener huekk sih adegan jahat-jahatnya itu🫣 mual bangettt🤢 ish ish ish, dahlah aku bingung mau komenin apalagi soal tokoh-tokohnya.
Overall, it’s a quiet good CTM book🙌🏻 cocok buat kalian suka buku yang bahas sekte sesat, walau gak dieksplor banget sih ya tapi masih ok menurutku😌☝🏻
Bagaimana jika pada akhirnya kamu mempertanyakan kepercayaan yang selama ini kamu percayai? Buku ini nggak bikin kamu jadi sesat tapi justru membuat kita bisa menggunakan akal logika yang lebih baik. Bener-bener kasus yang di luar kepala, seolah kekejaman sengaja dibalut dalam sebuah kedok agama yang menyesatkan, definisi manusia tak berperasaan!! Buku Sesat karya Naomi Midori akan membawamu masuk ke dalam lika-liku pergolakan batin tokoh taat bernama Ale. Sejak kecil dia sudah memuja Pamasa sama seperti semua orang di Pulau X. Baginya Pamasa adalah sang penolong dan penguasa, Ale selalu meyangkal hal-hal buruk apapun tentang Pamasa bahkan ketika sesuatu itu terucap dari ibunya sendiri. Tak banyak clue yang bisa aku raba dari buku ini sejak pertama kali menyentuh bagian prolognya, akupun bertanya-tanya dan berspekulasi apakah nantinya buku ini akan menyentuh sisi persekutuan dengan setan atau menekankan sisi gelap manusia. Sampai akhirnya aku sadar bahwa sesuatu yang besar sudah menungguku di pertengahan cerita.
Ale punya seorang ibu angkat bernama Kedul, hubungan mereka memang aneh tidak selayaknya seorang ibu dan anak bahkan sering berselisih paham. Bagi Kedul, banyak hal aneh yang dari aturan yang dibuat Pamasa namun menurut Ale Pamasa adalah penolong yang agung. Pamasa kerap mengambil anak-anak dari untuk masuk ke balai. Tak pernah ada yang tahu nasib anak-anak yang tak pernah kembali itu. Yang jelas keluarganya pasti akan makmur. Katanya anak-anak itu pilihan yang paling baik di antara yang paling baik, tidak dengan Ale. Itulah mengapa ketika panggilan itu datang padanya dia cukup terkejut namun juga merasa diberkahi.
Ale masih mencerna apa yang terjadi padanya, perihal rahasia peristiwa malam yang dilihatnya itu, tangisan Kedul yang tak biasanya sampai hatinya yang mulai bimbang. Seolah melihat apa yang tersembungi dari bungkus luar, Ale seperti mengalami mimpi buruk berkepanjangan. Dia tidak hanya berjuang untuk bertahan namun juga menghalau pikirannya sendiri. Pertanyaan demi pertanyaan semakin banyak berkecamuk dalam dirinya, apakah selama ini memang dirinya salah menilai? Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian sudut pandang tokoh penting dalam cerita sehingga kita bisa melihat bagaimana suara hati dan sisi perspektif yang lebih detail dari pemikiran mereka. Banyak hal mengejutkan saat melihat sisi sudut pandang Pamasa begitupun dengan ketakutan yang dialami Ale. Kisahnya kompleks, semua masalahnya berawal dari akar bagaimana pohon itu dirawat serta trauma yang dibawa sampai besar. Satu pohon menumpas pohon lain namun mereka sengaja menyembunyikannya dengan tawaran lain yang lebih menggiurkan sekaligus menyelamatkan. Sayangnya kali ini yang kumaksud bukan tentang pohon.
Alurnya mudah dipahami dengan kilas cerita masa lalu sebagai jawaban dari pertanyaan yang muncul tentang kepercayaan di Pulau X tersebut. Semuanya terungkap secara perlahan menjawab teka-teki kecil sampai besar dari seluruh alur jalan cerita yang linier. Kita akan tahu alasan Pamasa memilih jalan tersebut serta siapa yang mengendalikan siapa termasuk nasib Ale di akhir cerita. Buku ini menguarkan rasa tegang, tidak nyaman dan gelisah saat mengikuti nasib akhir dari tokoh Ale. Benar-benar kisah yang mengerikan dan membuatku frustasi apalagi ketika tahu tak pernah ada ujung dan pengakhiran dari semua yang terjadi itu. Sebenarnya masih banyak yang belum terjawab seperti ada apa dengan daerah itu dan bagaimana dengan kepercayaan terdahulu namun mungkin saja dibuat tetap menjadi misteri sampai buku ini habis. Buku ini memang menonjol dari sisi kejutan, detail gore khas iyamisu dan menarik untuk dinikmati.
This is the second book by Naomi Midori that I've read. It was a really enjoyable read, but I have to say it didn't quite live up to the high expectations I'd built up while reading the second half of the story.
Ceritanya berpusat pada tokoh utama bernama Ale yang tinggal di Pulau X, sebuah wilayah terisolasi tempat mukjizat tampak terjadi setiap hari. Di pulau ini, seluruh warga masyarakat mempercayai dan menyembah sosok Pamasa, yang dipercaya sebagai wakil atau perpanjangan tangan dari “Sang Agung” di dunia. Namun, di balik kesucian tersebut, iman bukanlah sesuatu yang dijalankan dengan bebas, melainkan sesuatu yang diawasi ketat.
Kisah ini terdiri dari dua perspektif utama dari tokohnya, yaitu Ale dan Pamasa Dhatya. Melalui sudut pandang Ale, pembaca diajak untuk mengikuti perjalanan ketika ia dipanggil oleh Pamasa untuk menjalankan tugas di balai. Sedangkan, melalui sudut pandang Pamasa Dhatya, pembaca ditarik mundur menuju kilas balik kehidupan sebelum ia diangkat menjadi Pamasa atau orang teratas di Pulau X.
Buku ini mengusung tema tentang agama, iman, keyakinan, dan kontrol sosial dalam sebuah komunitas yang mengagungkan satu figur. Aku suka dengan cara penulis membangun kritik tentang bagaimana sebuah kepercayaan bisa digunakan untuk mengontrol dan mengawasi masyarakat, bukan sekadar keyakinan pribadi yang bebas.
Hal yang aku suka dari buku ini adalah ceritanya yang mengalir. Gaya bahasa yang digunakan ringan tetapi tetap berhasil memberikan suasana paranoia yang dirasakan oleh Ale ketika berada di balai, serta alur ceritanya mudah dipahami. Sayangnya, ada beberapa hal yang belum dijelaskan secara mendalam dalam buku ini, seperti latar belakang Pulau X, asal-usul Agama X, serta alasan mengapa masyarakat di pulau tersebut bisa terjebak dalam doktrin yang membuat mereka menganut Agama X dan memuja Pamasa.
Saat membaca bagian awal, aku benar-benar menikmati ketegangan alurnya yang memancing rasa penasaran. Namun, di paruh kedua ceritanya agak mengecewakan karena sebenarnya alurnya tidak seperti yang aku harapkan, dan ceritanya hanya berputar di sekitar balai saja. Aku mengharapkan banyak hal ketika pertama kali melihat peta di awal buku, karena ada daerah asing yang belum terjamah. Aku pikir tokoh utamanya bakal menjelajah daerah tersebut, tapi ternyata tidak ada pembahasan mengenai itu sama sekali, jadi kesannya daerah tersebut seperti hanya tempelan saja.
Sebagai buku yang termasuk dalam genre iyamisu atau psychological thriller, meskipun buku ini membahas tentang manipulasi psikologis terhadap anak. Bagaimana lingkungan yang berisi kekerasan, tekanan, dan pengalaman traumatis bisa membentuk cara berpikir seseorang. Namun, menurutku, buku ini lebih menekankan pada adegan kekerasan (gore) daripada bagian yang berkaitan dengan psikologis.
It was an atmospheric iyamisu karena buku ini membuat perasaan tidak nyaman, seperti mual, merinding, jijik, dan bahkan marah ketika membacanya. But the ending messed up the book, at least for me! Eksekusi ending-nya terasa terlalu terburu-buru dan justru membuatnya berakhir sebagai open-ending. Mungkin maksudnya agar pembaca bisa menebak-nebak, tapi rasanya jadi kurang mengejutkan setelah melalui semua konfliknya.
Overall, it's still worth reading for anyone who enjoys the iyamisu genre.
Sesat adalah sebuah lompatan yang cukup memuaskan dari Naomi Midori. Meskipun memiliki halaman yang lebih tebal dari karya sebelumnya, buku ini terasa jauh lebih padat, terstruktur, dan sangat mengalir untuk dibaca. Penulis mempertahankan nuansa kelam Iyamisu yang menjadi ciri khasnya, namun mengeksekusinya dengan kematangan yang jauh lebih baik.
Cerita ini dibangun melalui dua sudut pandang yang bertolak belakang: Ale, seorang jemaah biasa, dan Dhatya, sang figur pemimpin kultus yang dipanggil "Pamasa". Di satu sisi, kita dihadapkan pada perjalanan psikologis Ale yang pada awalnya sangat meyakini ajaran agamanya, namun lambat laun mulai menemukan celah ketidakpercayaan. Di sisi lain, kita diajak menyelami masa lalu Dhatya—sebuah penceritaan tentang trauma mendalam dan kekerasan di masa kecil akibat keluarga yang mabuk agama, serta bagaimana rentetan tragedi dan rasa hutang budi perlahan membentuk sosoknya di masa depan. Dinamika keduanya direkatkan oleh kehadiran karakter Kedul, sosok yang menolak taat secara membabi buta karena ia mengetahui persis jejak gelap dari tokoh agama tersebut.
Salah satu kekuatan terbesar dari novel ini adalah gaya penceritaannya yang sangat membumi. Diksinya mudah dicerna, dan penggambaran latar, situasi, hingga percakapan antartokohnya dieksekusi dengan sangat realistis tanpa terasa dipaksakan.
Namun, kengerian sejati dari Sesat justru terletak pada pesan tersiratnya. Jika kita menyingkirkan label "kultus" dan mengganti sosok pemimpin tersebut dengan figur otoritas di kehidupan nyata—seperti atasan kerja, kepala daerah, atau tokoh masyarakat—kengerian itu seketika terasa sangat dekat dan nyata. Menyaksikan bagaimana sekelompok orang menelan mentah-mentah apa pun yang diucapkan pemimpinnya (jika ia bilang A, maka kebenarannya mutlak A, tanpa ada B atau C) adalah sebuah cerminan sosial yang mengerikan. Akhir ceritanya pun ditutup dengan sangat masuk akal; ini adalah penyelesaian yang memang paling tepat dan rasional dari sudut pandang penulis, karena penyelesaian dalam bentuk lain justru tidak akan relevan dengan cerita yang sudah dibangun.
Rutinitas hidup sering kali menumpulkan kewaspadaan kita terhadap sistem dan otoritas yang mengelilingi kita setiap hari. Ada kekhawatiran yang sangat nyata bahwa di tengah kepenatan, kita tanpa sadar menyerahkan kendali dan suara kita kepada mereka yang memiliki kuasa, hanya karena menaati secara buta terasa jauh lebih mudah daripada harus mempertanyakan segalanya. Namun, pada akhirnya, kita harus selalu menjaga kejernihan akal dan keberanian untuk menuntut kebenaran, sebab cahaya kebebasan sejati hanya akan menyala jika kita menolak untuk menutup mata di dalam kegelapan yang diciptakan oleh orang lain.
1. Pembangunan universe-nya cukup solid. Petanya juga membantu memberikan gambaran visual akan Pulau X.
2. Sistem kepercayaannya believable. Sekte di beberapa buku lain yang pernah saya baca juga ada yang sadis dan gila begitu, .
3. Cerita ini tidak hanya mengangkat sudut pandang Ale, melainkan juga sudut pandang Pamasa Dhatya selaku pemimpin sekte. Dengan teknik penulisan seperti itu, pembaca jadi mengerti alasan dan latar belakang Pamasa Dhatya dan segala keputusan yang diambilnya, Namun, menurut saya elemen "surprise"-nya akan lebih dapet kalau kedua PoV itu tidak diletakkan selang-seling, melainkan PoV Ale dulu sampai akhir, baru "revelation" dengan PoV Dhatya. Jadi "plot twist"-nya tetap terasa menggelegar karena ketika menutup buku pembaca bisa berkomentar, "Oooh ternyata gitu...."
4. Ending-nya menyebalkan karena terkesan "begitu doang" dan sangat predictable. Memang, karena menyadari bahwa buku ini adalah cerita iyamisu, saya selaku pembaca tidak mengharapkan ada penyelesaian bombastis seperti pembubaran sekte itu secara dramatis atau semacamnya yang memberikan rasa puas. Cuma di sini jadi kayak antiklimaks.
5. Sebagai cerita iyamisu, keseluruhan alur dan penokohan berhasil menyuntikkan perasaan tidak nyaman bagi pembaca. Di beberapa bagian pun suasana tegangnya cukup terjaga sampai bikin ikut deg-degan.
6. Gaya penceritaannya mengalir sekali. Kalau bukan karena muatan ceritanya yang sadis dan tidak mengenakkan, buku ini bisa banget dihabiskan sekali duduk.
7. Penasaran, kenapa rating usia pembacanya 15+? Mungkin seharusnya lebih tinggi karena banyak adegan--baik adegan gore maupun seksual--yang dideskripsikan cukup grafis.
Yang jelas, dengan Sesat ini Naomi Midori berhasil mengukuhkan diri sebagai salah satu penulis iyamisu yang karyanya patut untuk selalu ditunggu.
Kayaknya aku salah pilih timing buat baca buku ini.
Aku baca Sesat pakai mode fast reading karena dari awal sampai pertengahan aku belum benar-benar merasa “ketarik” sama ceritanya. Alurnya tetap bikin penasaran, tapi nggak sampai yang bikin aku susah berhenti baca.
Buatku, Sesat terasa seperti novel thriller klasik pada umumnya. Ada misteri, ada plot yang pelan-pelan dibuka, ada twist, dan atmosfer yang memang dibangun untuk membuat pembaca bertanya-tanya. Formula yang sebenarnya udah cukup familiar buat yang sering baca genre ini.
Mungkin karena ekspektasiku cukup tinggi, aku berharap akan menemukan sesuatu yang lebih berbeda atau lebih membekas. Tapi setelah selesai, perasaanku lebih ke… “oh, oke.” Bukan tipe buku yang akan terus kepikiran beberapa hari setelah ditutup.
Bukan berarti bukunya jelek. Menurutku ini lebih soal selera baca. Aku pribadi lebih suka thriller psikologis yang bikin aku mempertanyakan banyak hal atau punya karakter yang benar-benar tinggal di kepala setelah cerita selesai. Sementara Sesat buatku lebih terasa sebagai bacaan yang menghibur saat itu, tapi belum meninggalkan kesan yang dalam.
⭐ 3/5
Kalau kamu baru mulai masuk ke genre thriller atau misteri, buku ini mungkin tetap bisa jadi pilihan yang seru. Tapi buatku pribadi, ini salah satu buku yang selesai kubaca, lalu ya… selesai begitu saja.
Trigger warning udh ditaruh di depan bukunya ya jadi ya siap2 aja.
Aku pernah baca buku nonfiksi berjudul Sex Cult Nun, yg isinya kurang lebih sesuai judulnya, jd pas baca Sesat ini tidak terlalu kaget gimana2. Lagipula kebanyakan ajaran agama yg menyimpang itu karena nafsu jd sudah pasti itulah Salah satu yg akan kutemukan di buku ini. Aku jg udh familiar dengan "agama" yg mencuci otak pengikutnya sedemikian rupa. Jd faktor sesatnya jujur biasa aja.
Jd aku highlight yg tidak biasa buatku: bagian paling menarik dari Sesat adalah buku ini seperti hanya mengambil satu peristiwa, jadi tidak ada awalan (introduksi panjang lebar mengenai pulau X, agama ini, Kitabnya, Pamasa awalnya bagaimana dll), tidak ada juga akhiran. Buku ini hanya mengambil sekelumit kisah Ale & Pamasa Dhatya, yg hanyalah sekelumit dari potensi world building di pulau X.
Ngerti nggak sih maksudku LOL, kyak ada potensi terbuka bikin cerita lagi tentang pulau X ini dari sudut pandang orang lain & mungkin akan sama menariknya karena Masih ada yg belum dieksplor.
Jd meskipun jumlah halaman Sesat 250, aku ngerasanya ini kyak baca cerpen. And you know what they say about short stories; it's like a kiss with a stranger in the dark.
Saking hypeningnya buku Pasien, bahkan setelah buku keduanya Naomi yg judulnya Sesat ini, akhirnya gue beli bundling nih buku!
Sengaja pilih Sesat dulu sebagai bacaan pertamanya buku Naomi, karena buku ini gak ada plottwistnya, gak segreget Pasien, dan gak ada gore kaya di buku Pasien—katanya—KATANYA. Sial.
Ini penulisnya niat banget, sampai ngebuat ayat-ayat kitab agamanya. Sayangnya ditiap bab gak disisipi ayat-ayatnya, tapi ada isi khutbah jg.
Merasa ada yg kurang atau nggak ngeh, setelah tokoh utamanya masuk balai—layaknya seorang suster(?), kok ibadahnya gak setekun sebelum masuk balai ya? Pdhl inginnya orang-orang terpilih yg masuk balai ini akan ibadah lebih tekun sebelum terang-terangan dimanipulasi. Ini langsung dihajar aja sama kebusukan sekte.
Poor Kama, poor Dhatya.
Masuk akal tapi gak ngotak. Bener-bener miris sama dampak trauma. Jalan pikirnya jadi sesat. Hal dzalim jd lazim. Bahkan bukti nyatanya sudah terlihat dari anak-anak yg terlahir cacat. Mungkin begitu jadinya kl besar dikandang kuda.
Buku ini memiliki marketing yang bagus tapi isinya sangat mengecewakan. Peta-peta yang digunakan menurutku sangat useless karena yang dibahas hanya satu dari saja. Worldbuilding-nya juga sangat berantakan dan tidak konsisten, begitupun dengan karakter-karakternya. Tidak ada satupun yang dijelaskan secara mendalam sehingga pembaca menjadi tidak memiliki keterikatan dengan suasana, karakter, maupun cerita dari buku ini. Buku ini juga memiliki pemilihan diksi yang cukup menjijikkan bagiku karena ada minum urine, mutilasi, dan lainnya. Sampai akhir pun tidak ada perkembangan karakter dan banyak sekali plot hole. Buku ini tidak ada seram-seramnya (termasuk wajah yang ditutup itu lol), yang ada hanya kebingungan karena banyak sekali ketidakkonsistenan dan plot hole yang tidak pernah dijelaskan. Aku pikir penulis akan berkembang setelah menulis buku yang pertama tapi sepertinya sama saja, malah semakin berantakan.
Novel yang cukup booming karena covernya yg misterius ini bercerita soal Ale, penduduk pulau X yang penduduknya beragama X harus menyembah Pamasa yang dikatakan sebagai perpanjangan tangan dari Sang Agung. Awalnya Ale percaya 100% dengan keyakinannya ini tapi lama2 ia merasakan keanehan, apalagi dia ditugaskan untuk mengabdi di balai.
Novel yang bener2 bikin ga nyaman bacanya. Kaya sinting bgt ya aturan2 disini. Banyak banget unsur2 yang trigerring kaya child abuse, se*ual abuse, gore, dan banyak lagi. Premisnya sangat menarik. Tapi jujur menurutku eksekusinya kurang. Karakter Dathya sebagai Pamasa kaya beda gitu dari dia sebelum jd Pamasa dan setelahnya. Penasaran sama karakter Rai tapi malah kurang dieksplor. Endingnya juga kaya “lah gitu doang sih”. Hmmm aku jauh lebih suka sama pasien sih hihi. Tapiii worth to read kok! Rate: 3.5/5 ✨
Tidakkah seharusnya kau bertanya soal 'mengapa' dan 'bagaimana' sebelum memercayai atau melakukan sesuatu?
Akhirnya selesai juga baca novel keduanya Kak Naomi. Bisa dibilang ini agak lebih tebal sedikit dibanding novel pasien dan agak lebih berat sedikit. Untuk ceritanya masih sama seperti karya sebelumnya. Ada dua POV, dari sisi Ale dan Pamasa. Tidak sesadis cover novelnya tapi cukup bikin aku agak tidak nyaman ketika membacanya. Benaran sesesat itu penduduk pulau X. Yang aku sayangkan adalah, kenapa endingnya seperti itu kak? Udah di halaman akhir cerita tapi aku masih punya banyak pertanyaan, terutama soal kemana Kedul?
Memang benar kata orang-orang, apa yang kita alami, kita dengar, dan kita lihat, secara tidak langsung membuat karakter kita.
Bukunya bagus bagus bagus bgt beneran bagus, selama membaca ini aku deg degan dan penasaran ditiap halaman yang aku balik, kecuali untuk endingnya yang sedikit gak pas di aku, karena masih menyisakan tanda tanya apa yang terjadi setelah Ale bertemu Rai, apa yang akan terjadi pada Kedul? Dan seterusnya, aku juga merasa jijik dengan apa yang dilakukan Kama, aku kasihan tapi tak bisa membenarkan apa yang ia lakukan kepada anak-anak malang itu. Kalau saja Tamani nggak memanipulasi dan meng-grooming Kama, dan kalau saja Dhatya tidak mengkhianati kakaknya mungkin konflik dan utang utang budi itu bisa dihindari.
This entire review has been hidden because of spoilers.
begitu buka plastik bukunya dan liat covernya jujur jantung lompat dikit 3 gak ekspek langsung melihat covernya yang ditutup tutupi itu😭🤏🏻
INI CERITANYA GILA BANGET DAH kagak ada orang baik di sini… kalau gak jahat ya jahat banget🙄 sakit semua sakitt, sesat kabeh (ya judulnya juga sesat) banyak adegan disturbing yang bikin mual… ngeri… ente yakin ini buat umur 15+🤨❓
AKU SUKAAA BUKUNYA ada ilustrasinya, jujur keren tapi kaget plis?😊 terus di akhir juga ada kuis interaktif berhadiah 100 juta rupiah dipotong pajak 100% (aku gk cocok jadi umat pulau x alhamdulillah)
Awalnya saya tertarik karena premis tentang kepercayaan sesat dan tokoh utama yang mulai mempertanyakan keyakinannya. Sayangnya, semakin jauh saya membaca, semakin terasa bahwa novel ini lebih menonjolkan unsur gore dan kekerasan ekstrem daripada eksplorasi psikologis yang saya harapkan. Beberapa adegan terasa sangat tidak manusiawi hingga membuat saya tidak nyaman dan lelah secara mental. Bagi pembaca yang menyukai horor gore mungkin ini akan menjadi nilai tambah, tetapi bagi saya pribadi, tingkat kekerasannya justru mengganggu pengalaman membaca.
Selain urusan ilustrasi yang sangat menarik, sayang jumlahnya terbatas, bagian kuis yang hasilnya menentukan apakah seseorang layak menjadi umat di Pulau X, layak dicoba. Minimal untuk menguji diri bagaimana bersikap jika menjadi salah satu tokoh dalam kisah (buat saya lho).
Dan...,saya bukan masuk dalam golongan yang ideal buat jadi penghuni Pulau X, walau nyaris masuk kategori orang yang dibutuhkan Pulau X. Ternyata, selisih 1 pilihan bisa mempengaruhi banyak hal.
For someone who's been in a reading slump, this was quite a page-turner. Tapi banyak cukup banyak plot hole nya. Mungkin harusnya bisa lebih dijelasin filosofisnya. Beberapa kata juga kurang tepat penggunaannya untuk buku yang berlatar tempat seperti ini. World building nya masih kurang, transisi dari satu kejadian ke kejadian lain terlalu terburu-buru. Isinya mungkin cukup triggering dan jijik, tapi masih kurang berasa untuk genre iyamisu.
I’ve read stuff that’s way more disturbing than this, but when it comes to little kids being abused and enslaved? I just can’t handle it! This book is crazy! The plot is great! Even though there aren’t any explanations about the city or its system, it’s still really enjoyable! I swear, reading this was pretty stressful
This entire review has been hidden because of spoilers.
i'm gonna say this is the craziest book i've read this month. how tf she came out and bring this sensitive topic. i spend 4 hours to finish this book😭 i'm feeling angry, speechless, sad, nauseous at the same time.😭 the backstory somehow hurt me ... 🥲 i realize why hell is built by God , because people like them need to be punished. painfully.