Morteza Motahhari (Persian: مرتضی مطهری) was an Iranian Twelver Shia scholar, philosopher, and lecturer. Motahhari is considered to have an important influence on the ideologies of the Islamic Republic, among others. He was a co-founder of Hosseiniye Ershad and the Combatant Clergy Association (Jāme'e-ye Rowhāniyat-e Mobārez). He was a disciple of Ruhollah Khomeini during the Shah's reign and formed the Council of the Islamic Revolution at Khomeini's request. He was chairman of the council at the time of his assassination.
awal lihat daftar isinya ga nangkep runtutan alurnya, kok kayak esai2 sembarang. dan kurang tertarik. beberapa hari setelahnya dapet ajaran, beberapa pelajaran memerlukan "penkondisian jiwa" tertentu untuk bisa memahaminya dengan pemahaman yang benderang. Setelah coba ngelakuin beberapa tata "pengkondisian jiwa", beh ternyata bener kelihatan terang alur tulisannya gimana. Buku pertama yang tak baca dengan melakukan tata "pengkondisian jiwa" dulu setiap mau bacanya. Pengalaman lah..
Kalau menilai buku ini sih, secara perfek aku bilang banyak kekurangan (terutama dalam tata penyuntingan naskah dari sisi huruf (font), perataan teks (margin), dan wajah isi maupun sampul (lay out)). Di luar segala kekurangannya itu, khas daripada "perekaman" 10 ceramah penulis ini ialah penyampaian umum, ringkas, yang memang lebih mendahulukan sampainya pemahaman kepada pembaca daripada keakuratan referensi2 yang digunakan. Beberapa tokoh seperti Henri Bergson, Bertrand Russel, ibn Sina, hingga Sigmund Freud dan Carl G. Jung dikutip baik perkataan maupun pemikirannya tanpa disertai penyantuman sumber yang jelas. Namun daripada sebuah kekurangan, itu lebih menjadi sisi khas daripada apa yang dibawakan oleh penulis, agar tidak menyulitkan pembaca awam pada perujukan referensi2 tertentu (yang tentu saja diktat yang cukup berat).
Dengan penyampaian penulis yang rasanya langsung merasuk ke pemahaman (dengan tambahan quranic taste), entah karena pengkondisian jiwa yang tak lakukan setiap sebelum baca atau memang pemaparannya yang benderang, hampir perfek lah kalau ga ada kekurangan2 dari sisi penerbitannya.
Saya membaca edisi revisinya yakni Teori Pengetahuan. Muthahhari adalah seorang Syiah imamah (yang tentu saja saya tidak setuju dalam hal ini karena saya Sunni), tetapi buku ini baik dalam hal filsafat. Muthahhari adalah seorang intelektual yg berpengetahuan luas dan telah membaca banyak buku. Ini bisa dilihat dari cara ia menjelaskan berbagai pandang-pandangan dunia atau tokoh.
Selagi kita baca, kita juga bisa melihat ada beberapa perubahan pendapat yang kecil dari apa yang disampaikan Muthahhari ttg suatu topik; entah perubahan sudut pandangnya atau hanya perubahan cara menyampaikan sudut pandangnya, saya tdk tahu. Saya cukup bingung saat ia menjelaskan pandangan Plato karena penjelasannya agak berbeda dengan yang saya lihat di buku "Alam Filsafat Yunani", yah mungkin hanya perbedaan cara memahami teksnya ya. Ia juga melakukan strawman terhadap konsep ijma' Ahlussunah, yg membuat saya mempertanyakan kritikannya yg lain. Tapi jika memang benar ada beberapa kritikannya yang strawman, setidaknya ia membalas strawman itu dengan baik dan tidak keluar topik. Tapi secara umum bagus sih
Buku ini harus dibaca oleh para pemikir kerana masalah kebantrakan ideologi ialah kerana epistemologi yg rapuh. Buku ini cukup baik dalam memahamkan saya epistemologi menurut Islam.