Dalam Kata Kota Kita, kita dibawa singgah dari Central Park di New York, purnama di Ankara, kemacetan di Jakarta, hingga indahnya Pantai Ora di Ambon. Dan seusai penjelajahan, kita dibuat tersenyum dan menyadari betapa kayanya kita sebagai manusia.
Kota-kota dalam kumpulan cerpen ini memberikan suaranya, menguarkan aroma, dan menunjukkan pemandangan yang ditulis dengan beragam tema, ditulis dengan beraneka gaya, mulai dari yang lincah ala MetroPop hingga mencekam ala novel horor.
Tujuh belas cerpen mengenai kota-kota yang berbeda ini menyajikan senyap dan riuh, tawa dan tangis, cinta dan kehilangan… Dan pada akhirnya membawa kita menuju kota yang menjadi tujuan pulang.
Para penulis adalah penulis yang terpilih dari Gramedia Writing Project batch 1.
Ayu Rianna adalah penggemar buku dan musik K-Pop yang jatuh cinta pada dunia kepenulisan sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Novelnya yang sudah terbit di Gramedia Pustaka Utama antara lain Teater Boneka (2014), Definitely Love (2014), That Summer (2017), A Love Like This (2022), dan Daisy (2023). Cerpennya juga pernah diterbitkan dalam kumpulan cerpen Kata Kota Kita (2015) bersama karya dari teman-teman Gramedia Writing Project angkatan pertama.
Selain aktif menulis dan berjejaring di beberapa komunitas, Ayu juga sedang aktif mengkampanyekan penggunaan kebaya dan wastra Nusantara dalam kehidupan sehari-hari.
Cerita dengan latar tempat yang kuat selalu menjadi mimpi basah buat saya. Kemampuan seorang penulis meramu sebuah cerita dan meleburkannya bersama dengan setting yang kuat diuji di sini. Saya sejujurnya berharap banyak dari kumpulan cerpen ini, saya mengharapkan latar tempat yang kuat yang nggak cuman diselipkan begitu aja. Setelah membaca buku ini, beberapa cerita hit, beberapa yang lain miss.
Saya repiu singkat per cerita ya. 1. Ora - Ayu Rianna Cerita ini diawali dengan sebuah cerpen romantis yang mengambil latar tempat di Ambon, Maluku. Saya mengharapkan sebuh cerita yang bisa membuka pikiran saya akan suatu kehidupan penduduk Maluku, atau kebudayaan Maluku, tetapi saya merasa cerita ini seperti cerita Jakarta ala-ala yang latarnya di Maluku. Konfliknya belum terasa (kalau tidak mau dibilang tidak ada) menghasilkan ending cerita yang menggantung. (2/5)
2. Berlari ke Pulau Dewata - Cindy Pricilla Bagian yang mengganggu saya adalah karakternya yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang yang baru bertemu bisa mengulik-ulik kehidupan pribadi orang lain? Dan sama seperti sebelumnya, konfliknya nyaris tidak terasa, kecuali kalau putus dan marah adalah suatu konflik, sehingga menghasilkan ending cerita yang tergesa-gesa. (1,5/5)
3. Ditelan Kerumunan - Djan Fraumi Saya sejujurnya enggak ngerti maksud cerita ini apa. Yang saya tangkap, Ditelan Kerumunan hanya menceritakan satu pengalaman seorang cowok naik bus kota, he bitched about it. Narasinya cukup mendetail, tetapi malah jatuhnya sedikit tidak fokus, misalnya waktu tiba-tiba ada narasi soal cara memotong botol Aqua untuk tempat menampung uang pengamen. Saya cuman senyum-senyum aja. (1,5/5)
4. Cinta dan Secangkir Cokelat Hangat - Dwi Ratih Ramadhany Menarik sekali membaca cerita dengan narator nonmanusia, dan Mbak Dwi melakukannya dengan baik. Gaya narasinya yang cantik biasanya bukan cangkir teh saya, sih, tetapi saya cukup lumayan bisa menikmatinya. Satu hal yang kurang memuaskan hanyalah ending-nya yang kurang gereget. Ini salah satu cerita yang latarnya hit buat saya. (2,5/5)
5. Let the Good Times Roll - Emha Eff Buat saya, cerita ini adalah cerita yang latarnya berhasil mengenai bull's eye harapan saya. Deskripsi New Orleans-nya terasa, dengan gaya berbahasa yang pas banget dengan kesukaan saya. Sayangnya, konfliknya cukup sering dipakai, dan kurang nge-twist. (4/5)
6. Sparks - Emilya Kusnadi Sparks ini bagus, tetapi mungkin kurang berkesan bagi saya. Latar New York yang digunakan hanya mengambil bagian Central Park saja. Manis sekaligus sedih, tetapi ya udah begitu saja. (2,5/5)
7. Mamon, Cintaku Padamu - Idawati Zhang Dari segi latar, ini miss menurut saya karena ceritanya sendiri bisa terjadi di kota mana pun. Namun, ceritanya benar-benar bagus dan saya suka sekali dengan ending-nya yang menohok. (3,5/5)
8. Sunflower - Lidya Renny Chrisnawaty Ini mungkin cerita terfavorit saya di buku ini. Saya bukan orang yang gampang ketipu dengan red herring yang disebar oleh penulis, tetapi ketika Mbak Lidya memberi hint yang jelas-jelas mencolok, saya dengan suksesnya langsung ketipu dengan ending-nya. Saya sudah sering baca cerita semacam ini, tetapi baru kali ini saya ketipu. Ini membuktikan bahwa tidak perlu ide yang heboh untuk bikin cerita yang bagus. (4,5/5)
9. Frau Traffea - Lily Marlina Frau Traffea ini menarik sekali karena mengambil tema mengenai wabah menari yang terjadi di Perancis tahun 1518. Saya sudah cukup sering membaca soal wabah yang sampai sekarang masih misteri ini, tetapi baru pertama kali saya tahu kalau yang memulai wabah itu adalah Frau Traffea. Deskripsi latarnya bagus dan kesan seramnya juga dapat. (3,5/5)
10. Asing - Marisa Jaya Sama dengan Mamon sebelumnya, buat saya latarnya masih miss karena kejadian ini bisa terjadi di kota mana pun. Meski gaya berceritanya lancar, saya belum bisa menemukan sesuatu yang spesial dari cerita ini. Ending yang dibuat sedemikian rupa belum berhasil membuat saya terperanjat. (2,5/5)
11. Bukan Sebuah Penyesalan - Orinthia Lee Latarnya miss buat saya karena bisa terjadi di mana saja. Cukup suka dengan sudut pandang orang ketiga, dengan kata ganti dia dan kamu, yang dipakai oleh penulis. Akhir ceritanya lumayan muncul out-of-nowhere. (2,5/5)
12. Pohon dan Cinta - Putra Zaman Cerita yang lumayan ringan dan latarnya hit. Ide ceritanya sangat sederhana, tetapi Mas Putra menulisnya dengan baik dan akhir ceritanya cukup manis. (3/5)
13. Di Balik Tirai Rindu - Rizky Noviyanti Cukup nyesek, ya, dan lumayan gelap. Akhir ceritanya lumayan twisted dan sinuous membuat saya enggak menyangka bakalan seperti itu. (3/5)
14. Bulungan - Tj Oetoro Seandainya saja Bulungan ini diletakkan sebelum Di Balik Tirai Rindu, saya bakalan kagum. Namun, akhir cerita yang mirip dan diletakkan secara back-to-back macam ini membuat saya biasa saja jadinya. (3/5)
15. Ankara di Bawah Purnama - Tsaki Daruchi Cukup berani meski saya tidak merasakan sesuatu yang spesial dari cerita ini. Bukan penggemar gaya bahasa cantik semacam ini, tetapi diksinya sangat kaya, dan alur ceritanya lumayan fluid. (3/5)
16. Jakarta - Yatzhiar Nao Hmmm... Yang ini sebetulnya juga tidak meninggalkan kesan yang mendalam buat saya. Ceritanya rapi, latarnya lumayan hit, tetapi konfliknya hanya sejenak, dan penyelesaiannya begitu saja. (2,5/5)
17. Amerta - Yulikha Elvitri Cerita ini sakit. Menyenangkan sekali membaca cerita dengan latar sebuah kota kecil seperti ini, dan latar tempatnya hit buat saya apalagi dengan tipe cerita drama prosedural polisi macam ginian. Saya suka bagian flashback-nya, membuat pembaca curiga akan satu karakter. Namun, penulis berhasil membuat pembaca bingung selama perjalanan membaca untuk menebak jawaban yang sebenarnya. (4/5)
Buku kumpulan cerpen ini merupakan karya keroyokan 17 penulis pendatang baru yang merupakan penulis terpilih pada Gramedia Writing Project Batch 1. Bagi yang belum tahu apa itu Gramedia Writing Project atau biasa disingkat GWP, yaitu seleksi pencarian bakat penulis, dimulai sejak tahun 2013 oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama.
Beberapa penulis yang berkontribusi di dalam buku ini bisa dibilang ada yang sudah saya kenal walau tidak secara langsung. Ada yang saling follow-follow-an dan berbalas mention di twitter. Ada yang sama-sama anggota BBI. Ada pula yang sering saya kunjungi blog, akun wattpad, atau akun gwp mereka. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu faktor yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini.
Karena rasanya tidak adil kalau di review ini saya hanya membahas cerpen-cerpen yang saya suka, dan karena hampir semua cerpennya favorit saya, rasanya nanggung jika tidak saya bahas satu per satu :D
“Masa lalu bisa berdampak buruk bagi dua orang yang menyimpan cinta dengan ragu. Harusnya mereka membicarakan rencana masa depan, bukan kenangan.”
Ora – Ayu Rianna Dibuka dengan cerpen klise, tapi ditulis dengan baik. Di cerpen ini penulis berhasil membawa saya ikut menikmati suasana Pantai Ora yang terkenal dengan keindahannya itu.
Berlari ke Pulau Dewata – Cindy Pricilla Berbeda dengan cerpen pertama yang agak serius, cerpen kedua ditulis dengan gaya kocak dan menggelitik. Bukan termasuk yang ‘wah’, tapi cukup menghibur.
Ditelan Kerumunan – Djan Fraumi Aneh. Dialog antar tokohnya nyeleneh. Apalagi dialog karakter Lindung. Kalau saya yang jadi Raga, pasti udah rada takut deh sama si Lindung ini x)). Gaya ngomongnya ... nggak seperti gaya bahasa yang dipakai orang pada umumnya. Sebenarnya isu yang berusaha diangkat penulis cukup menarik, cuma mengemas isu tersebut yang kurang. Terus menurut saya sik, sudut pandang yang dipakai kan sudut pandang orang pertama, tapi saya ngerasanya kayak baca dari sudut pandang orang ketiga.
Cinta dan Secangkir Cokelat Hangat – Dwi Ratih Ramadhany Rada maksa. Di awal saya pikir bakal menarik, karena saya mengira sudut pandang yang digunakan melalui sebuah benda di dalam atau di luar kafe. Ternyata si aku-nya adalah kota Malang itu sendiri -___-. Lagian si aku-nya ini maksa bener ngejodohin (lagi) Larisa sama Ragil. Sampe saya jadi kasian sama Gilang :(. Just not my cup of tea, I guess :))
“Let the Good Times Roll!” – Emha Eff Cerpen dengan pesan moral yang baik. Saya suka!
Sparks – Emilya Kusnaidi Udah baca Romansick? Nah cerpen ini bisa dibilang spin-off dari novel tersebut. Saya tidak akan membocorkan ceritanya, yang jelas saya sukak pake banget! Feels-nya itu loh, bisa tersampaikan dengan baik. Jadi ikutan patah hati :(. Dan judulnya, kok bisa sik mbak Emilya kepikiran judul catchy macam Romansick dan Sparks? Buat mbak Emilya, saya jadi penasaran dengan tulisan-tulisanmu selanjutnya, ditunggu yaa ;))
Mamon, Cintaku Padamu – Idawati Zhang I love love this short story. Berbeda dengan cerpen-cerpen sebelumnya, di sini penulis menuturkan kisah yang lebih dewasa dan ber-genre drama keluarga. Yang saya suka adalah bagaimana cara mbak Idawati*sok kenal* membuat kalimat di awal nantinya akan berhubungan dengan kalimat di akhir cerita.
Sunflower – Lidya Renny Chrisnawaty Kisah yang manis getir. Cukup oke walau saya sudah bisa menebak akan ke mana arah ceritanya bergulir.
Frau Troffea – Lily Marlina Di awal cerpen ini terasa menjanjikan, mengambil tema besar tentang misteri menyeramkan di Prancis tahun 1518. Cuma mengecewakan di akhir karena ending-nya yang ‘gitu doang’. Mungkin salah saya juga yang berekspektasi terlalu tinggi. Tapi serius, saya mengharapkan ending yang lebih ‘nendang’. Dan saya percaya kalau penulisnya bisa melakukan yang lebih baik lagi. Sayang sekali.
Asing – Marisa Jaya Unexpected! One of my favorites ;))
Bukan Sebuah Penyesalan – Orinthia Lee Kagum dengan kelihaian Orin dalam penggunaan sudut pandang cerpen ini, dan hal tersebut bikin rasa penasaran saya meningkat.
Pohon dan Cinta – Putra Zaman Saya suka cerpen ini bukan karena faktor Palembang-nya loh ya ;)) kisahnya sederhana tapi ngena banget. Apalagi ending-nya.
Di Balik Tirai Rindu – Rizky Noviyanti Cerpen yang memainkan perasaan saya. Tapi saya tidak bisa menerima twist-nya begitu saja. Sedikit kurang masuk akal.
Bulungan – Tj Oetoro Agak mirip dengan cerpen sebelumnya, tapi yang ini twist-nya cukup bisa diterima.
Ankara di Bawah Purnama – Tsaki Daruchi Mindblowing adalah kata yang tepat untuk menggambarkan cerpen ini. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul pun terjawab semua di akhir. Saya langsung bengong seketika setelah mengetahui semua fakta mengejutkan yang sebelumnya berhasil disimpan sang penulis rapat-rapat. Well done, Tha! :D
Jakarta – Yatzhiar Nao Saya bingung dengan apa sebenarnya yang ingin disampaikan penulis lewat cerpen ini. Bahwa perselingkuhan itu bisa juga berakhir manis? -__- bukan favorit saya, mungkin cuma masalah selera.
Amerta – Yulikha Elvitri Menegangkan di sepanjang cerita, tapi lagi-lagi agak kecewa dengan ending-nya. Judul yang dipilih menarik, saya langsung googling kata “amerta” yang ternyata berarti “ketidakmatian, tidak dapat mati, abadi”. Cocok dengan apa yang dikisahkan di cerpen.
“Cinta itu kayak tanaman, Re, semakin kamu pupuk akan makin subur. Tapi coba bayangin kalau tanaman yang kamu pupuk itu tanaman yang salah. Dia memang akan tetap tumbuh, tapi akan jadi pohon yang nggak kamu harapkan."
Pujian pertama harus saya berikan pada Gramedia Pustaka Utama dengan project GWP-nya. Menurut saya ajang pencarian menemukan bakat-bakat penulis baru dan membantu mengembangkan potensi mereka patut diapresiasi. Indonesia butuh lebih banyak penulis berkualitas lagi untuk semakin memajukan dunia perbukuan kita. Dan saya melihat banyak potensi dari penulis-penulis yang berkontribusi dalam kumpulan cerpen ini.
Pujian selanjutnya buat yang mendesain kavernya. Juga buat para editor yang telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Yah, walaupun tidak sepenuhnya sempurna karena masih ditemukan beberapa typo, tapi overall bukunya rapi.
Pujian terakhir tentu saja buat ke-17 penulis buku ini. Seperti yang saya bilang tadi, mereka sangat berpotensi untuk bisa menjadi the next Indonesian Idol penulis idola di Indonesia.
Kata Kota Kita memuat 17 cerita pendek (cerpen) yang membawa kita ke kisah dari masing-masing tempat. Saya cukup senang ketika mendapatkan kesempatan untuk membaca kumcer ini, dan ternyata saya bisa dibawa untuk menjelajahi ketujuh belas kisah dengan cepat. Saya tidak menyangka ketika sudah tiba di akhir kisah :)
Berikut opini singkat saya akan 17 kisah pada buku ini...
1. Ora (Ayu Rianna) Dengan membaca ini, saya dibawa ke Pantai Ora serta menyaksikan keindahannya. Ceritanya sendiri lumayan klasik, namun endingnya cukup membuat saya mendecakan lidah (dalam arti bagus ;))
2. Berlari ke Pulau Dewata (Cindy Pricilla) Sama seperti cerita sebelumnya, kali ini saya bisa merasakan keindahan Bali. Sayang, saya merasa idenya kurang matang ditambah penyelesaiannya kurang masuk akal saya. Tapi, saya suka nilai ceritanya.
3. Ditelan Kerumunan (Djan Fraumi) Suka idenya tentang bus kota. Menurut saya simple tapi dalam. Namun, saya kurang bisa memahami tokoh Lindung. Saya malah merasakan keberadaannya tidak diperlukan karena tidak membawa perubahan berarti (apa ini menurut saya saja?) Gilang sangat manusiawi, umumnya tokoh yang begini harusnya dibenci, tapi saya suka Gilang, rasanya keberadaannya mewakili keadaan beberapa orang, hahaha.
4. Cinta dan Secangkir Cokelat Hangat (Dwi Ratih Ramadhany) Termasuk ide cerita yang saya suka, ringan. Sempat penasaran dan bertanya-tanya akan siapa sosok "aku" Sayang penyelesaiannya bikin kesel campur sedih :")
5. "Let the Good Times Roll!" (Emba Eff) Mengangkat tema keluarga yang cukup umum. Tapi saya suka. Kita bisa dibawa ke keramaian New Orleans dengan baik. Apalagi pesan ceritanya cukup dalam. Btw, saya merasa judulnya kurang cocok dengan ceritanya..
6. Sparks (Emilya Kusnadi) Cerita yang super romantis! *silently-screaming Hanya sayang saja penyelesaiannya tidak cocok dengan saya :'( Seperti kata Ayuna sendiri, klise.
7. Mamon, Cintaku Padamu (Idawati Zhang) Salah satu cerita yang menarik dan disaat bersamaan kejam /plak Ceritanya sendiri membuat saya penasaran dan tidak gampang ditebak. Hanya penyelesaiannya membuat hati miris.
8. Sunflower (Lidya Renny Chrisnawaty) The endingggg.... Sangat tak terduga orz Masuk dalam cerita yang saya suka juga. Penulisnya bisa memainkan kata-kata.. Dari awal cerita simple tapi bikin ketagihan. Apalagi endingnya itu..Hohoho
Source: here, edit by me 9. Frau Traffea (Lily Marlina) Jujur, awalnya agak bingung sama ceritanya. Termasuk kedalam cerita yang bisa bikin saya merinding, hahaha...
10. Asing (Marisa Jaya) Alurnya cepat (atau saya yang cepat bacanya?) Awal yang damai dan akhirnya yang tak terduga. Hanya saya merasa kota Milan tidak banyak terekspos di cerita ini.
11. Bukan Sebuah Penyesalan (Orintha Lee) Saya suka bagaimana penulis menceritakan "kamu" saya suka penggunaan sudut pandangnya :) Hanya ceritanya cukup klasik.
12. Pohon dan Cinta (Putra Zaman) Ada juga cerita tentang mitos :) Penyelesaiannya agak miris dan manis.
13. Di Balik Tirai Rindu (Rizky Noviayanti) Fufufu.. Tipe cerita ini... Tetap saja bikin saya tidak menduga akhir ceritanya hingga hampir akhir cerita.
14. Bulungan (Tj.Oetoro) Penempatan ceritanya mesti diubah menurut saya, karena tipenya sama kayak cerita sebelumnya. Tapi ini merupakan salah satu cerita yang saya suka. Nilai cerita dapat dan tema cerita saya suka :)
15. Ankara di Bawah Purnama (Tsaki Daruchi) Termasuk kedalam cerita yang saya tidak bisa duga. Saya suka pengibaratannya. Endingnya miris juga membuat hati sedih.
16. Jakarta (Yatzhiar Nao) Ceritanya klasik dan saya rasa kurang dibangun dengan baik. Tapi saya suka dengan endingnya yang manis.
17. Amerta (Yuliskha Elvitri) Salah satu cerpen yang bikin kita menduga-duga, tapi untuk saya, dugaan saya salah.. hahaha
Sungguh menyenangkan bisa dapat kesempatan untuk membaca kumpulan cerpen ini. Semoga saja untuk kedepannya GWP bisa menghasilkan karya-karya lain yang menarik untuk dibaca ;)
Kata Kota Kita berisi 17 cerpen dengan setting berbagai kota (dalam dan luar negeri). Walau ada beberapa cerpen yang setting-nya sama dan cuma formalitas, tapi namanya karya fiksi tetap dinilai dari ceritanya. Tapi, aku mau nilai satu-satu sesuai pengetahuan dan selera.
1. Ora Sebenarnya ini cerita ironis, tapi ditulis dengan manis. Bacanya kayak lagi nonton film pendek atau potongan FTV.
2. Berlari ke Pulau Dewata Aku nggak bisa terima logika ceritanya. Sedekat-dekatnya seorang teman, kayaknya nggak mungkin sampai bela-belain terbang dari Jakarta ke Bali cuma buat menenangkan temannya yang lagi patah hati dan liburan ke Pulau Dewata. Cuma liburan. Sahabat sejati? Meh. Terus nongol stranger cowok yang sok asyik dan ujug-ujug menasihati si cewek patah hati. Aduh.
3. Ditelan Kerumunan Sorry to say, tapi baca cerpen ini rasanya buang-buang waktu. Narasi panjang dan deskripsi suasana bus yang detail, tapi nggak ada 'pesan' apa-apa sampai ending. Ending = judul. Udah.
4. Cinta dan Secangkir Cokelat Hangat Sebenarnya gaya bertutur penulis bagus. Pengambilan sudut pandangnya juga beda dari cerpen lain. Tapi, konflik antar tokohnya agak maksa.
5. Let The Good Time Roll! Suka! Gaya bercerita penulisnya asyik, tipe-tipe bahasa terjemahan, dan setting ceritanya kuat. Moral value-nya juga sampai ke pembaca. Favorit!
6. Sparks Kesannya hampir sama kayak cerpen Ora, ironis tapi manis. Cocok buat yang suka tulisan-tulisan sendu. Dan, aku suka.
7. Mamon, Cintaku Padamu! Salah satu cerpen favorit, walau setting ceritanya nggak ngaruh. Premisnya bagus.
8. Sunflower Deskripsi suasana kotanya visual. Bacanya kayak benar-banar lagi di Jogja. Plot twist-nya harusnya mudah ditebak, tapi aku malah nggak nebak dari awal.
9. Frau Traffea (loading)
10. Asing Ceritanya agak thriller. Lumayan suka.
11. Bukan Sebuah Penyesalan Suka pemilihan PoV yang unik, sudut pandang orang kedua serba tahu (iya bukan, ya?). Ceritanya bagus, tapi kurang sreg sama dialog tokohnya.
12. Pohon dan Cinta Mungkin cerpen ini yang setting kotanya paling kuat. Harusnya cerita ini bagus kalau klimaksnya nggak terburu-buru.
13. Di Balik Tirai Rindu (loading)
14. Bulungan Suka ide cerita dan gaya tulisannya. Plot twist-nya juga bisa diterima walau agak maksa.
15. Ankara di Bawah Purnama Favorit! Cerita paling beda dari yang lain. Mindblowing. Stensil. Diksinya keren.
16. Jakarta (loading)
17. Amerta Bagus! Kalau dikembangin jadi novel thriller-misteri, kayaknya bakal keren.
Let me first type down GPU's short stories I've read before. Autumn Once More. Little Stories. Cerita Cinta Indonesia. Can't lie that few titles within them three were quite good, but none of them was quite remarkable as a book. Yet I'm not giving up on such book from the same publisher, yet I gave this one a shot.
Yet, sadly, it tastes the same. Seventeen short stories, only two top-notch titles--'Sparks' by Emilya Kusnaidi and 'Bulungan' by TJ Oetoro.
'Sparks' got writing style that I could easily digest and storyline which I could easily relate. Metropop-ish with transferable feelings, for short. If there's a thing I need to complain, it's that I didn't grasp the glimpse of New York City. I'm so gonna read 'Romansick', its author solo novel. Then, I love 'Bulungan', a shortie inspired by true event--the old SMA IX and SMA XI rivalry, now known as SMAN 70 Jakarta. The setting was my playground, how could I not have chills all over my body along the story! I'd probably have cried at its flashback if only I didn't read it on the Commuter Line. It's just got cheated by where it's placed--the story before this one got similar twist. Too bad. And talking about positioning, the last story was totally misplaced--it made me feel terrified instead of warm when I reached the final page.
Others were mostly okay, few were meh. As a book of short stories that's supposed to tell us about cities, I couldn't say that this one worked. Many of these titles didn't give me quite insight about the city the stories took place--even in 'Sparks'. Therefore I gotta give credits to 'Ora' by Ayu Rianna and 'Cinta dan Daun' by Putra Zaman for succeeding at writing an original, irreplaceable setting. And to 'Bulungan', for sure.
Overall, it tastes like Cerita Cinta Indonesia only with authors whose name I barely knew--not that it's a bad thing, tho. And because I gave that book three stars, I'll give this one the same amount of light.
Ps: Please authors, "I nodded, but then I realised that he can't see me" kind of wording (at phonecalls) is way too overused....
Pps: Emha Eff, for the form you're using within your lines, it's chérie, not chère. De rien.
Ppps: Tsaki Daruchi, uh-oh. Your choice of words made me feel stupid af.
Kumcer Kata Kota Kita ini merupakan kumcer bertema Kota, yang ditulis oleh 17 finalis GWP (Gramedia Writing Project). Buat yang belum tau apa itu GWP, GWP itu adalah ajang pencarian bakat penulis baru yang diadakan oleh GPU pada tahun 2014 lalu.
Menurut saya sendiri, kumcer ini seperti tulisan eksperimental para penulisnya. Memang ada beberapa penulis yang tetep stick to the root, alias menulis cerpen dengan genre tulisan mereka yang biasanya. Tapi nggak sedikit juga yang malahan nulis cerpen dengan genre yang berbeda dengan tulisan mereka biasanya. Overall, semuanya bagus (meskipun, yeah, saya pasti bias, hahaha). Tapi ada beberapa sih yang jadi favorit saya, to name a few;
1.Mamon, Cintaku Padamu by Idawati Zhang Sejak awal suka dengan tulisan Idawati Zhang yang ngepop abis. Tapi di cerpennya kali ini, tulisan penulis terasa lebih dewasa, matang dan riil. Porsinya terasa pas untuk ukuran sebuah cerpen. Ngingetin sama tulisannya Clara Ng. Endingnya juga memuaskan, meskipun biasanya saya nggak suka ending kayak begini :p
2.Ankara di Bawah Purnama by Tsaki Daruchi Saya mengenal tulisan Tsaki Daruchi dari blog dan wattpad-nya. Dan, dengan tulisannya yang young adult banget itu, saya kaget penulis bisa bikin cerpen yang beda. Kali ini tulisannya lumayan ‘nyastra’ dengan plot twist yang nggak ketebak.
3.Ora by Ayu Rianna Seperti biasa, tulisan Ayu Rianna selalu manis dan krinyis-krinyis. Suka dengan interaksi dan chemistry diantara dua tokoh utamanya. Khas Metropop banget, meskipun nggak bersetting di kota metropolis. Latar yang dibangun juga asyik banget, keren karena bisa kepikiran memilih setting yang nggak biasa :3
Eh, tapi meskipun yang lain nggak saya sebut, bukan berarti yang lain nggak bagus ya. Hanya saja tiga cerpen ini yang ngena di hati saya :D
Ps. Sengaja nggak nge-rate supaya nggak bias. Abisnya ada tulisan saya juga sih, haha.
Yang saya suka dari buku kumcer keroyokan adalah, saya seakan melihat katalog penulis2 muda yang nantinya mungkin akan menjadi penulis favorit saya di masa depan. Novel ini seakan memfasilitasi pembacanya untuk membandingkan dan menimbang, sekaligus ikut mempelajari teknik menulis dan gaya menulis yang berbeda-beda.
Saya lumayan suka dengan ide menulis berlatarkan kota-kota di seluruh dunia. Kalaupun ada yang sedikit mengganjal adalah, saya menyayangkan beberapa penulis yang memilih latar kota yang sama. Memang, ini bukanlah kekurangan yang vital karena saya tahu banyak bagian kota yang bisa dieksplor. Tapi saya rasa akan lebih bagus kalau setiap penulis benar2 mengambil latar yang berbeda, juga dibatasi dalam satu negara, atau benar2 kota di seluruh benua.
Gara2 novel ini saya juga belajar bahwa ada banyak ide cerita yang bisa dieksplor berdasarkan suatu tempat. Bisa sisi wisatanya, kondisi di masa sekarang, sampai sejarah yang pernah terjadi di tempat tersebut.
Berikut adalah 5 cerpen personal favorite saya dari novel kumcer "Kata Kota Kita :
"Bulungan" karya TJ Oetoro, berlatar Jakarta. Saya tak akan bisa melihat area Bulungan dengan cara yang sama lagi. "Amerta" karya Yulikha Elvitri, berlatar Banjarnegara. Aura thriller-nya terasa, suka sekali :D "Frau Traffea" karya Lily Marlina, berlatar Strasbourg. Endingnya terasa terburu2, tapi masih oke. "Mamon, Cintaku Padamu" karya Idawati Zhang, berlatar Semarang. Untuk cerita pendek, kisahnya lumayan meninggalkan bekas. "Ankara di Bawah Purnama" karya Tsaki Daruchi, berlatar Ankara. Saya suka dengan perumpamaan : Aroma Rempah, Mata Maskulin dan Kopi Jantan.
Baca lebih lengkap review novel ini di blog Putri Review
Senang rasanya bisa satu buku sama kalian semua, penulis Gramedia Writing Project batch 1. :)
Cerpen-cerpen dalam buku Kata Kota Kita ini keren-keren, ditulis dengan beragam tema dan beraneka gaya. Kadang buat senyum-senyum sendiri, kadang buat melongo di akhir cerita karena twist-nya yang nggak tertebak.
Btw, cerpenku berjudul Berlari ke Pulau Dewata ada di hal.27. Ceritanya tentang patah hati dan bertemu dengan orang baru. Selamat membaca! ;)
Akhirnya bisa baca, setelah sibuk di RS berhari-hari :). Beda dengan kumcer Dunia Di Dalam Mata dulu yang warnanya senada, kali ini tipe ceritanya benar-benar bervariasi. Ada yang mellow, romantis, drama, bikin mau muntah (macam kalau nonton serial Hanniba), dark, horor, dll. Cerpen saya sendiri termasuk yang... hmmm... wah nggak jelas juga hahaha... Pastinya, ketika kamu membuka lembar berikut, kamu tidak akan bisa menduga cerita rasa apa yang bakal kamu kecap :).
4 bintang, diramu dari segi cover yang apik banget buat saya, disain halaman dalam, cerita yang ada, dan tentunya fakta kalau saya merasa sangat beruntung bisa bersanding dengan penulis-penulis canggih di sini, di bawah bendera penerbit yang menemani saya tumbuh sejak kecil. Bias? Ah, bukankah penilaian terhadap sebuah karya seni itu selalu bias? :)
From my point of view, these short stories could be your option if you were looking for a bridge to refresh your reading vibe. Every story has different genres, an unexpected plot twist, a little touch of supernatural or mystical idea, and not-cheesy-romance-at-all also a thriller vibe. All of those genres are suitable for ages 18 and older. Besides the genres, the writers used different settings and times, so it could count as a creative idea too. Fortunately, I did not get bored or annoyed, as I was expecting a fresh experience from a novel. The stories might leave you blank for their unanswered plot, but personally speaking, I was fine with it. I just guessed that was its form, leaving you questionably.
memutuskan baca buku ini karena beberapa akun di twitter merekomendasikan ini, tapi baca cerita-cerita awalnya aku merasa "kok kayak gini sih?" untuk ukuran buku yang cukup banyak direkomendasikan, kumcer di buku ini terlalu biasa, itu yang aku pikirkan waktu baca awal2 cerita. jadilah buku yang cuma 200an halaman ini aku baca cukup lama.
tapi ternyata judul-judul di pertengahan dan awal itu menarik banget, ada plot twistnya, dan adegan-adegan yang bikin amaze bangettt. dari 17 judul, favoritku adalah Sparks, Frau Troffea, Bulungan, Ankara di Bawah Purnama, dan Amerta.
Beberapa cerita di awal biasa banget & cenderung membosankan. Tapi mulai dari kisah dengan judul Sunflower dan seterusnya, mulai agak berbeda dan ide ceritanya menarik. Yang paling bikin kaget sih kisah Sunflower karangan mbak Lidya Renny, ga nyangka akhir ceritanya seperti itu.
Untuk cerita-cerita setelahnya, menurutku juga punya keunikan masing-masing. Setidaknya ga membosankan seperti kisah-kisah yang ada di awal.
Dua bintang buat dua kisah yang cukup kuat yaitu karangan Idawati Zang dan Tsaki Daruci.
Semenjak mendengar GWP, gue penasaran dengan apa yang akan dihasilkan, terlebih dengan pencarian bakat menulis dari seluruh indonesia yang ditampung untuk kemudian diretas menjadi penulis. yang gue tahu seleksinya cukup ketat, mereka harus membuat cerita terlebih dahulu di website dan harus, mesti, kudu dapet like atau view terbanyak biar masuk dan lolos jadi peserta terpilih.
Sebelumnya karya kolaborasi mereka antara lain Hijau - Hijau daun (sampai akhir),Teater Boneka (baru setengah), dan Badut oyen (belom beli).
Novel Kata Kota Kita punya : 1. Cover yang bagus walau susunan gambarnya acakadut, 2. Sinopsis yang lembut, 3. Isi cerita yang punya level berbeda -beda, kalo boleh dijelasin secara rinci 4 cerita diawal sangat FLAT, gue gak dapet apa - apa abis baca, buat gue males lanjut dan kalo diumpamakan tubuh gue jatoh. Skip. baru dicerita ke Lima yaitu 'Let The Good Times Roll', gue dapet beberapa pesan moral sehabis baca. gue ngerasa mendingan, satu level keatas, baru bisa bangun walau belom tegak sementara tangan dan kaki gue masih ditanah terduduk nyoba buat berdiri. dan pengharapan gue muncul dicerita berikutnya which is 'Spark', walau sebenernya sempet heran dengan keputusan Ayuna diusianya yang sudah dikatakan dewasa dan jangka waktu pacaran yang lama tapi keraguan diawal dan penyesalan yang dateng diakhir, gaya bahasa dicerita ini udah mulai enak. setelahnya ada Juaranya, ya 'Mamon, Cintaku padamu' bukan hanya soal cerita cecintaan tapi nilai hidup yang dalam, tsahhh bahasa gue sadap. nah kalo semua cerita di Kumcer kaya ini mungkin gue bakalan kasih 5 bintang. Cerita ke 7 ini dikatakan bagus karena selain gaya bahasa, alur, dan Twistnya yang cukup mencenangkan, walaupun sebenarnya dari keseluruhan cerita kurang mengexplore setting yang menjadi judul atau tema Kumcer ini sendiri. gue udah bisa berdiri pas selesai baca bagian ini. selanjutnya ada 'Sunflower' karya mba lidya, awalnya gue sempat kejebak sama ceritanya cuman dipertengahan gue udah mulai bisa nebak dan ya tebakan gue bener. dan endingnya dipake sebagai twist dan penegasan yang lumayan kocak. disini Gue masih bisa berdiri walau sedikit terguncang. lanjut ada Frau Troffea, gaya bahasanya bagus jadi enak dibaca, dengan idea yang mencekam tapi buat gue garuk pala diending, bertanya apa hubungan si Penari sama si Pelukis?, Coba kalo dikasih kejelasan semacam pacaran atau kakak adik, (sang kakak atau pacar ingin mengabadikan kematian sang perempuan dengan melukisnya dan mengutuk setiap orang yang menyuruhnya menari lalu membakarnya hidup-hidup, agar setiap orang yang menyentuh lukisan itu hidup sebagai penari yang menari diatas api) itu si saran loh ya. disini tubuh gue setengah terduduk hampir kembali ke posisi awal walau masih bisa bertaham. Cerita selanjutnya ada 'Asing', yang sama asingnya dengan isi cerita, atau ganti judul aja jadi Aneh. badan gue udah duduk lagi, lemes mau jatuh. Next, ada cerita 'Bukan sebuah Penyesalan', kak Lee *son kenal* ngambil POV ke 2 yang ciamik dengan twist yang ah kurang nendang. badan gue udah gak lemes, ada sedikit vitamin dimasukan. trus ada 'Pohon dan Cinta', ya ceritanya cukup menarik dengan alur yang baik. sedikit lagi vitamin ditambahkan. lalu cerita lainnya ada 'Dibalik Tirai Rindu' dan 'Bulungan' yang buat gue punya tema yang sama yaitu dipertemukan dengan hantu, bikin gue terenyit. badan gue kembali lemes, vitamin tadi udah habis. 'Ankara Dibawah Purnama', mungkin harus dikasih lebel 17 tahun keatas, soalnya anak seusia gue belom pantes baca yang 'be-anu-an', wait... usia gue? ya masih dibawah 17 *sepuluh tahun yang lalu*, beda sama tulisan Tsaki di Hijau - Hijau Daun yang 'yaelah' itu, cerita satu ini punya kualitas yang baik dengan komposisi yang pas. dari alur plus twistnya. badan gue kembali berdiri seperti dikasih vitamin secara bersamaan. tapi... dicerita berikutnya gue ambruk kembali keposisi gue ketika diawal baca bahkan lebih parah, tubuh gue kaya diselonjorin trus dipaksa buat terjun bebas dari bukit yang terjal *lebay*. gimana gak lebay coba lo baca aja sendiri cerita berjudul 'Jakarta' ini kaya minta dicela dan ya kata 'layak' mulai dipertanyakan. Cerita ini kaya kutu diberas raskin layak makan. emosi gue.. emosi !!! *minum aer- langsung dari galon-gak pake gelas*. Cerita terakhir melengkapi si kutu bukan Kumcer, soalnya bikin gue garuk pala.
Jadi kondisi akhir Badan gue terlentang ambruk tidur walau sempat mengecap berdiri dan beberapa Vitamin tapi belom mampu buat gue tegak. eaaaaa...
Dari sinopsis di bagian belakang dan pembukaan oleh Tim GWP, saya pikir 17 cerpen dalam buku ini akan menyajikan kota-kota yang berbeda. Namun, saya langsung kecewa ketika mendapati kota Yogyakarta untuk kedua kalinya. Disusul dengan Jakarta yang menjadi latar tiga cerpen.
Terlepas dari latar tempat yang menjadi tema utama, nyaris semua cerpen dalam buku ini membawa hal yang seragam, kisah cinta. Dan nyaris semua kisah cinta yang ada, berakhir dengan tidak bahagia. Apakah sekarang sedang tren sad ending dalam roman?
Semua cerpen berusaha memberikan twist yang tidak pernah disangka. Twist paling mengejutkan justru diberikan oleh cerpen-cerpen dengan unsur roman paling kental. Ada Asing, Di Balik Tirai Kerinduan, dan Ankara di Bawah Purnama yang menyajikan twist paling tidak tertebak.
Secara keseluruhan, Kata Kota Kita adalah buku yang menyenangkan. Beberapa penulis menghadirkan cerpen dengan gaya penulisan yang berbeda. Seperti Cinta dan Secangkir Cokelat Hangat yang ditulis dari sudut pandang benda mati berupa kedai dan Bukan Sebuah Penyesalan yang dibawakan dengan sudut padang orang ke-2.
Dengan rasa yang berbeda dari tiap penulis, aroma kota yang berbeda, dan twist-twist yang berusaha dihadirkan, cerpen dalam Kata Kota Kita merupakan kumpulan yang layak dibaca.
Bagus, but not that kind of jaw-dropping good. Some of them were amazing, some of them were ok, but some of them were a big fail. Ya beda sih, ada yang udah nulis novel, ada yang masih belom. So, okay, I get it.
Got some favorites. Here's the quick recap: 1. Sparks The premise was simple, but the execution's really good. Penulis hanya menampilkan sekilas saja tentang Central Park New York, tapi ambience yang dibangun oke. Saya segera mengafilasikan cerita ini dengan romcom-romcom Hollywood. And I'm a huge coldplay fans. So I have this big bias about the story. And the song. HAHA.
2. Let The Good Times Roll I love how the writers describes Mardi Grass. Penulisannya juga enak. Kayak baca terjemahan. Pas banget ada Avengers-nya, pas juga saya baru nonton film itu. Suka dengan analoginya.
3. Mamon, Cintaku padamu Cerita keluarga yang nggak klise. Nggak menggurui. Twist oke, dan penulisan lancar. Tapi yang terutama, saya suka dengan endingnya yang memuaskan.
4. Bulungan Bagus. Kesan Jakartanya dapet banget, dan bisa ngebayangin cerita ini beneran kejadian. Penulisannya rapi, dan nggak ngalor ngidul. Me-likey.
Overall, just okay. Karena ada cerita yang ugh -- flop banget.
1. ORA : 2,5/5 Eksplorasi setting-nya baik. Sayang, konfliknya agak flat.
2. BERLARI KE PULAU DEWATA : 1,5/5 Rada flat. Penyelesaian konfliknya 'gitu aja'.
3. DITELAN KERUMUNAN : 1/5 Sorry to say, tapi aku beneran gak ngerti apa yang mau disampaikan penulis lewat cerpen ini. Plotnya gambang dan flat banget.
4. CINTA DAN SECANGKIR COKELAT HANGAT : 2/5 POV-nya menarik. Beberapa dialog kaku, bikin kening mengernyit.
(sampai di sini kayaknya aku butuh Chitato biar gak flat.)
5. LET THE GOOD TIMES ROLL : 2,5/5
6. SPARKS : 3,5/5
7. MAMON, CINTAKU PADAMU : 3,5/5
8. SUNFLOWER : 3,5/5
9. FRAU TROFFEA : 3/5 Aku berharap lebih karena ide ceritanya sebenarnya menarik.
10. ASING : 2,5/5
11. BUKAN SEBUAH PENYESALAN : 2/5
12. POHON DAN CINTA : 2/5
13. DI BALIK TIRAI RINDU : 3/5 Twist-nya bagus.
14. BULUNGAN : 4/5 Sayang banget ditempatkan setelah 'DI BALIK TIRAI RINDU'.
Lumayan sik. Beberapa ada yang bagus, beberapa ada yang kayak baca cerpen di Tablo. Gue paling suka Sparks-nya Emilya Kusnaidi sama Ora-nya Ayu Rianna. Masbro, Mbaksis... nuncep bener! Eh sama Let The Good Times Roll-nya Emha Eff juga bagus! Suka banget endingnya, apalagi kalimat penutupnya !
Yang lain, yah, so-so, lah. Dibilang jelek banget gak, dibilang wah banget juga gak. Ini mah selera kayaknya, wong gue mah anaknya penakut. Jd yang thriller-thriller macem gue skip aja.
Btw, itu Eren-Ayuna yang ada di cerpen sparks itu Eren-Ayuna yang di Romansick bukan sik?? Kok kasian, sih Eren :(
Bagi saya, ini kumpulan cerpen gado gado. Yang artinya kekuatan cerpennya beraneka warna, mulai yang bagus banget, bagus dan yang biasa biasa saja. Nggak boleh bilang jelek karena saya juga belum tentu bisa bikin. Kritik saya terhadap buku ini, ada kota yang dipilih oleh lebih dari 2 penulis, yakni Jakarta. Padahal Indonesia punya lebih dari 300 kota.Juga setting tempat yang di beberapa cerpen terkesan tempelan atau bahkan nggak ada rasanya( padahal ini cerpen dengan tema besar tentang kota bukan?). Sementara di lain tulisan, deskripsi tentang kotanya too much.
lumayan asik walaupun awalnya mengira isinya tuh 1 kota 1. tapi ternyata ada beberapa cerita yang berlokasi sama meskipun ceritanya beda. sedikit kecewa karena tema yang diambil masalah cinta semua. kirain kayak komik oneshoot gitu yang 1 buku banyak cerita tapi nggak mlulu tentang cinta.
yang jadi kesukaan Sparks-nya Emilya Kusnaidi. bagus aja bikin mesem mesem dan cengengesan sendiri, bikin mikir juga ding!
Cerpen-cerpennya tampak digarap dengan serius, maka menghasilkan cerita-cerita yang menurutku bisa meninggalkan kesan untuk para pembacanya. Cerita-cerita favoritku: Asing, Amerta, Bulungan, Sunflower, dan Ankara di Bawah Purnama. Full review >> http://dedul-faithful.blogspot.co.id/...
Keren!!! Setiap Cerpen nya punya unsur surprising tersendiri...cara penulisan nya pun enak banget dibacanya...tapi ada beberapa judul yang kurang aku suka, Karena kota nya Hanya sebagi landscape bukan unsur Ceritanya...tapi overall...really good...
Congrats y buat semua penulis yang terlibat di dalam buku keren ini. Cerpen-cerpennya tdk terduga. Sangat menghibur. Buat yang ingin belajar nulis cerpen, bisa coba baca ini. Ditunggu karya2 solony.
Ada masanya saya tergila-gila dengan karya-karya sastra yang bertemakan "kota". Sekarang sih sudah tidak lagi, hahaha.
Tapi ketika melihat judul ini di iPusnas, saya langsung tertarik. Judulnya catchy, covernya juga bagus, warna pastel gambar peta kota yang ruwet dengan jalanan yang saling menyilang.
Cerpen yang paling saya suka dari buku kumpulan cerpen ini adalah "Amerta", cerpen terakhir di buku ini. Latar belakangnya di Banjarnegara. Jalan ceritanya rapi sekali, dialog-dialognya pun tidak maksa. Kesan seram dan keji pun sangat terasa. Dua jempol untuk Yulikha Elvitri!
Cerpen favorit kedua saya, Bulungan karya Tj Oetoro. Sebenarnya, cerita dengan alur seperti ini sudah banyak sekali bertebaran di mana-mana, hanya berbeda latar belakang tokoh dan sejarah apa yang terjadi di antara mereka. Cerpen Bulungan menyajikan kisah persahabatan yang hangat antara seorang pemuda dan ayah dari sahabatnya yang sudah meninggal. Deskripsi latar tempat di cerpen ini sangat baik, gaya penulisannya pun enak sekali untuk dibaca.
Jujur saja, dari tujuh belas cerpen yang disajikan, yang menempel dan berkesan untuk saya hanya dua cerpen ini. Kebanyakan cerita pendek di dalam buku ini ceritanya klise dan alurnya pun biasa-biasa saja. Deskripsi tentang kota latarnya pun banyak yang tidak rinci.
Ada beberapa kota yang dijadikan latar lebih dari satu kali sehingga membuat masing-masing ceritanya tidak unik. Jika saja satu kota hanya untuk satu cerita, mungkin cerita-ceritanya bisa lebih menempel dan tidak tercampur satu sama lain.
Hal lainnya yang agak mengganggu, beberapa cerpen yang menggunakan sudut pandang pertama ditempatkan secara berurutan. Sehingga semakin membuat satu cerpen dan yang lainnya rancu karena terlalu banyak kata "aku".
Tetapi, saya sungguh mengapresiasi seluruh penulis yang berkontribusi di dalam cerpen ini karena memulai untuk menulis itu memang tidak mudah, apalagi jumlah halaman dan katanya juga dibatasi
Dari 17 cerita itu ada 6 cerita yang saya suka. Let the Good Times Roll (Emha Eff) yang bercerita tentang seorang Maddie yang menemukan “Black Widownya”. Mamon, Cintaku Padamu (Idawati Zhang) tentang seorang ibu yang mengikhlaskan anaknya 😭 Ini cerita sedih bener dah. Lalu ada Pohon dan Cinta (Putra Zaman) tentang persahabatan yang berubah menjadi cinta dengan jalan yang tidak terduga. Di Balik Tirai Rindu (Rizky Noviyanti), cerita ini, ah sungguh kelam. Ala-ala thriller gitu deh. Dan yang terakhir ada Bulungan (TJ Oetoro) dan Amerta (Yulikha Elfitri).
Semua ceritanya sebetulnya berkesan. Ada yang romance, thriller, ada juga yang cerita tentang orang tua huhu. Sayangnya ada beberapa cerita yang kurang dieksplor tempatnya. Kayak semacam tempelan aja gitu. But, dari segi ceritanya, semua cukup bagus dan punya karakternya masing-masing.