Jump to ratings and reviews
Rate this book

Multiidentitas

Rate this book
Gimana kalau ternyata cara memenangkan kehidupan adalah bukan dengan menjadi yang terbaik, tapi menjadi yang paling berbeda?
Gimana kalau kunci membangun konsep diri yang tangguh adalah dengan menggunakan identitasmu yang beragam untuk membangun konsep diri yang tahan perbandingan?
Buku Multiidentitas akan meyakinkanmu bahwa selama ini kamu sudah punya amunisinya.

192 pages, Paperback

First published May 2, 2026

Loading...
Loading...

About the author

Zahid Ibrahim

1 book10 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
42 (43%)
4 stars
47 (48%)
3 stars
7 (7%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 38 reviews
Profile Image for Khalisha.
58 reviews3 followers
June 24, 2026
Sempat ragu untuk beli buku ini karena takut overhype. Belum lagi jika melihat latar belakang Zahid yang seorang YouTuber, sebelumnya banyak profesi serupa menerbitkan buku dan kurang cocok dalam membuat narasi. Jujur kaget pas baca buku ini ternyata tulisan Zahid bagus banget! Mungkin Zahid bisa menambahkan penulis sebagai tambahan identitasnya. Biasanya aku butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan buku non fiksi, terutama buku pengembangan diri seperti ini, tapi buku ini bisa selesai aku baca kurang dari sebulan!

Tulisan Zahid mudah banget dipahami dan tidak terkesan menggurui. Selama baca buku ini rasanya seperti ngobrol bersama teman yang sedang berbagi pengalaman dan mengajak kita untuk merefleksikan kehidupan kita sendiri. Hal menarik lainnya, Zahid berusaha menggunakan Bahasa Indonesia sebaik mungkin. Kata-kata dalam Bahasa Inggris yang sering digunakan oleh banyak orang, diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, sehingga beberapa kali aku kaget "oh ada ya Bahasa Indonesianya dari kata ini" dan tentu menambah bendahara kosa kata Bahasa Indonesiaku!

Seperti yang Zahid tulis di bagian Intro, buku ini tidak harus dibaca urut dari halaman pertama hingga akhir. Setiap bagiannya bisa dibaca secara terpisah. Setiap sub bab terdiri dari beberapa halaman saja dan tidak membosankan, rasanya seperti membaca tulisan-tulisan Zahid di Substack. Hal itu juga yang membantuku bisa lebih cepat menyelesaikan buku ini dibandingkan dengan buku pengembangan diri lainnya.

Baca buku ini di usiaku yang memasuki 20an awal dan merasa sebagai fresh graduate hilang arah. Pinggiran buku ini menjadi warna-warni karena banyak sekali sticky notes yang aku tempelkan untuk menandai kalimat-kalimat yang aku suka. Buku ini berhasil meyakinkanku kalau semua orang memiliki keunikannya masing-masing, dan kita tidak bisa iri terhadap orang lain karena kita juga mungkin tidak bisa menjalani keseluruhan hidup mereka. Buku ini mengajak kita untuk hidup multiidentitas, dan bagaimana cara memaksimalkannya. Sering kali aku merasa minder dengan teman-teman yang hidupnya terlihat lebih sukses atau lebih nyaman. Buku ini menjelaskan bahwa dengan multiidentitas kita bisa fokus terhadap diri sendiri.

Di buku ini, Zahid mengakui jika dirinya memiliki privilege, dan multiidentitas lebih mudah dijalankan oleh orang yang sudah memenuhi beberapa kebutuhan hidupnya. Aku juga suka bagian yang menjelaskan rasa tidak nyaman menjadi berbeda di lingkungan yang homogen, dan bagaimana kita mencoba berdamai dengan perbedaan tersebut. Pengalaman-pengalaman Zahid di buku ini menurutku sesuai dan dapat membantu banyak Gen Z yang bingung dalam hidupnya

Dengan multiidentitas kita bisa menempatkan diri dengan identitas yang berbeda-beda ketika menghadapi orang lain, alias saya aslinya 1000 orang~

Saat aku mendapati diri iri dengan pencapaian, kehidupan, atau aspek diri orang lain, aku bertanya pada diri sendiri, "Kalau aku harus bertukar posisi dengan orang tersebut, termasuk merelakan segala ketertarikan, kenalan, keluarga, memori, pengalaman hidup, tim bola favorit, dekorasi rumah, dan kucing-kucingku. Apakah aku bersedia?"
Profile Image for HackAlchemy.
25 reviews
June 4, 2026
Banyak self improvement book biasanya terlalu sibuk menyuruh pembacanya jadi “lebih hebat”, sementara buku ini ngajak kita berhenti sebentar dan mempertanyakan kenapa kita terus merasa tertinggal dari orang lain.

Konsep tentang “monoidentitas” juga masuk akal buatku. Kadang kita terlalu menggantungkan harga diri pada satu hal saja. Entah itu nilai, kampus, pekerjaan, jabatan, atau pencapaian tertentu. Akhirnya ketika satu hal itu gagal, rasanya hidup ikut runtuh. Dari situ aku mulai paham maksud tentang pentingnya punya banyak identitas dalam hidup. Bahwa seseorang bisa jadi pekerja, teman, penulis, pelari, penonton bola, atau sekadar manusia yang punya banyak sisi lain di luar tuntutan sosial.

Aku juga suka karena buku ini terasa personal. Banyak bagian yang tidak terdengar seperti teori, tapi seperti obrolan dari seseorang yang benar-benar pernah ada di fase bingung, insecure, dan merasa tertinggal. Beberapa pembahasannya tentang comparison dan definisi sukses juga bikin aku sadar kalau selama ini mungkin aku terlalu sering melihat hidup sebagai perlombaan.

Bukan tipe buku yang kasih solusi instan atau motivasi berlebihan, setelah selesai baca, aku jadi sedikit lebih tenang melihat hidup dan tidak terlalu keras ke diri sendiri.
11 reviews
July 20, 2026
Ide yang grandiose, low-risk untuk orang-orang yang berkecukupan, namun kurang cocok atau risikonya terlalu besar untuk orang yang berada di tengah pembangunan karier. Ide yang sangat bahaya apabila beberapa konteks dihilangkan atau tidak dibaca.

Kata kunci nya adalah fokus. Meski memiliki banyak „kepribadian“ alangkah baiknya tetap memberikan yang maksimal ketika berada dalam kepribadian tersebut.

Beberapa bagian agak terkesan tergesa-gesa, karena banyak juga yang dibahas. Namun secara konteks cukup jelas poin utamanya. Kalau ada Zwischenfazit sepertinya ok.

Pada kondisi yang sangat ideal, sangat mungkin untuk memiliki multiidentitas namun tetap menerapkan treatment monoidentitas ke setiap identitasnya agar growth menjadi eksponensial.

Profile Image for nattie.
9 reviews1 follower
May 12, 2026
i have been a long-time watcher of zahid’s youtube channel since his covid and twitter days, so when i learned that he’s writing a book, i immediately pre-ordered one.

right of the bat, i immediately noticed how unique the book is written. the introductory page begins with two questions that will set the goal of the book, which kinda reminds me of a thesis research question. i’m a nerd, so i love that.

the book’s dna is actually very simple: that is, a person should develop multiple identities, as to avoid the crisis of losing oneself when one’s monoidentity doesn’t work anymore. there are also a lot of references, summaries, and simple explanations to some concepts on some of the most famous self help books written out there, to further strengthen zahid’s point. which helps a lot. it’s also fascinating and intriguing to read some of his past experiences, the ups and downs, and how he reflects on it now.

but most importantly and above all, what i really appreciate from zahid’s book, is his recognition of privilege, and the way he talks about it.

sometimes when i read self help books written by influencers and individuals, it’s easy for me to roll my eyes when they talk about their accomplishments, and how hard they claim it was to get there. the topic of privilege are rarely brushed on so oftentimes, i can’t help but to scoff.

but not zahid.

in the first few pages, zahid is quick to note that the book is intended for people with privilege. he will later then, continue to emphasize it on a later chapter where he talks about the maslow’s hierarchy of needs. when he talks about his accomplishments and how he gets to where he is now, he keeps reminding the readers that success are mostly based on luck as well. this is not something a lot of people can do when writing about their experiences, so hats off to zahid for this.

overall, an excellent first book. congratulations, zahid. i’m excited for more!
Profile Image for Tesa.
5 reviews1 follower
May 15, 2026
short and a very memorable read. and BENERAN this book is such a reflection to what we face today, especially in indo😔 Identity Crisis and we have to face the FAST paced of modernity. Kita sebagai orang indo yang sangat terpengaruhi sama konstruksi sosial yang built by brick BY GENERATIONSS we fell blind to these standards. okay so these are some of the great points i see in this book:

- mengejar Return of Investment (RoI) a positive impact untuk kebutuhan jangka panjang, bukan untuk memenuhi ekspektasi sosial sementara, Ego-Status-etc.
- Zero-sum Game: -1 +1=0, hidup tidak lagi soal siapa menang siapa kalah, tapi tentang menjalani kehidupan yg autentik dan BEBAS dari jebakan PERBANDINGAN tanpa henti.
- Don’t chase being number one but be a category of one
- Maslow’s Hierarchy of Needs: Monoidentitas is on Esteem Needs (kebutuhan harga diri), this is where seseorang lebih mengejar pengakuan eksternal sebagai VALIDASI utama dirinya
-WHILE multi identitas ini on the tippy top of the pyramid, Self Actualization, where a person gak ngurus sm pencapaian eksternal semata tapi lebih menghidupi visinya yg beragam
- but hey to get to the tippy top of this pyramid is a luxury/ kemewahan, to know your soul deeply on who and what you are, youu must’ve conquered all the primary needs
- Konsekuensi tinggal di masyarakat yang individualismenya rendah adalah kita perlu berusaha keras untuk tidak terlihat berbeda satu sama lain. kita kerap meminjam ukuran moralitas kelompok untuk menilai diri sendiri
- Rendahnya diferensiasi diri
Intrapsychic Level: kemampuan membedakan pikiran dan perasaan tanpa terdikte oleh emosi, merasakan marsh tanpa menerjemahkan sebagai sebuah aksi
Interpersonal Level: kapasitas untuk memiliki kedekatan emosional dengan orang lain tanpa harus kehilangan kepekaan terhadap diri sendiri.
- Apabila identitasmu berakar pada nilai, bukan pada aktivitas, kamu akan selalu punya tempat untuk kembali.
- Keberanian sering kali lebih dibutuhkan untuk berhenti daripada sekedar bertahan.
- Find your Everadapting Self

Great job Zahid!
Profile Image for amrifaizalm.
32 reviews
August 23, 2026
Buku ini seolah benar-benar ditulis untukku yang tertarik akan banyak hal dan sempat ragu akan apa yang sebenarnya kucari. Dengan adanya konsep multiidentitas yang dibahas di sini, aku menjadi lebih mengenal diriku yang bisa mengarah pada keragaman identitas itu. Meskipun begitu, multiidentitas juga berhadapan dengan faktor kecukupan ekonomi dan konteks budaya kolektif di sini. Selain itu, sebagai karya debut buku, beberapa bab tersaji kurang mendalam dan sempat terasa patah.
Profile Image for Yudho.
26 reviews23 followers
August 11, 2026
Sejak SMA sampai kuliah, jujur saja, kata “motivasional” selalu erat saya kaitkan dengan buku-buku self-help yang justru cenderung saya hindari. Mungkin karena referensi saya waktu itu kurang banyak. Sebagai generasi milenial, tren motivasi yang saya kenal memang banyak yang setipe dengan Mario Teguh: tentang keberanian, kerja keras, pantang menyerah, dan bagaimana kita sendirilah yang menentukan kesuksesan.

Waktu itu saya belum akrab dengan istilah privilege, namun rasa tidak nyaman terhadap cara pandang yang menyamaratakan titik “sukses” seseorang sebenarnya sudah muncul.

Misalnya, bagaimana mungkin Ujian Nasional disamaratakan untuk semua sekolah ketika kualitas pendidikan saja belum merata? Bagaimana mungkin contoh keberhasilan pendidikan terus-menerus mengambil sekolah-sekolah tertentu, sementara kondisi sekolah lain jauh berbeda?

Atau ketika seseorang mengatakan bahwa kita harus berani mengambil risiko. Bukankah keberanian juga bisa menjadi privilege? Kalau seseorang mendapat beasiswa untuk kuliah di luar kota, misalnya, keberanian untuk meninggalkan keluarga tetap menjadi persoalan lain bagi mereka yang sejak awal menjadi tumpuan keluarga. Begitu juga dengan nasihat “jangan takut gagal”. Mudah mengatakannya ketika kita bisa berkali-kali gagal, memulai kembali, dan masih memiliki modal untuk bertahan. Tetapi bagaimana dengan seseorang yang modalnya merupakan tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun dengan susah payah? Lalu, penemuan akan ilustrasi seekor ikan, monyet, dan burung diminta berlomba memanjat pohon dengan garis start yang sama menjadi awal mulai pemahaman persoalan tentang seberapa keras seseorang berusaha. namun tidak pernah benar-benar memulai dari titik yang sama.

Dan alasan saya membicarakan semua ini ketika membahas Multiidentitas adalah karena Zahid Ibrahim menurut saya cukup sadar terhadap persoalan tersebut.

Konsep multiidentitas yang ia tawarkan akan terasa kurang lengkap jika privilege tidak ikut dibicarakan. Tanpa kesadaran itu, gagasan tentang “menjadi banyak hal” bisa dengan mudah berubah menjadi nasihat motivasional lain yang menyuruh kita bekerja lebih keras tanpa melihat kondisi yang membentuk hidup kita.

Yang menarik, konsep multiidentitas sendiri sebenarnya sederhana dan sangat mudah diaplikasikan dalam kehidupan.

Kita tidak harus meletakkan seluruh harga diri pada satu hal saja. Ketika pekerjaan, pendidikan, hubungan, atau satu ambisi tertentu runtuh, seluruh identitas kita tidak harus ikut runtuh bersamanya.

Dengan multiidentitas, mungkin respons terhadap kegagalan bisa sesederhana: “Ya sudahlah.”

Bukan dalam arti menyerah, tetapi tawakal, berserah, dan ikhlas setelah kita memahami bahwa hidup memang tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita.

Mencabangkan minat dengan “meng-kagebunshinnojutsu” diri sendiri juga bukan berarti kita menjadi seperti dalam film The Worst Person in the World: berpindah-pindah minat tanpa pernah benar-benar menentukan apa yang kita mau, lalu terjebak dalam kebingungan tanpa ujung.

Bukan itu maksudnya.

Kita tetap harus memberikan usaha. Tetap harus membangun pola agar suatu minat berkembang dan menjadi bagian dari identitas kita. Yang berubah adalah cara kita memandang keberhasilan.

Seperti yang ditulis Zahid, kita perlu “menarik makna dari berbagai domain hidup yang menjadikanmu bahagia di titik manapun dalam pendakian.”

Menurut saya, di situlah inti multiidentitas. Dan jujur, what a lifetime to be Gen Z.

Mereka tumbuh dengan akses informasi yang jauh lebih mudah. Mereka juga punya bahasa untuk membicarakan kesehatan mental, privilege, ketimpangan sosial, dan ekspektasi yang tidak masuk akal. Kesadaran semacam ini membuat mereka punya peluang lebih besar untuk menavigasi hidup tanpa harus terus-menerus menghakimi pilihan dan kesulitan orang lain.

Zahid menuliskan: “Cara pandang ini justru membuat kita berpikir lebih realistis bahwa sebagian besar orang tak akan kebagian porsi kekayaan yang sama. Kamu tidak menentukan nasibmu sendirian. Ada sistem yang dengan seluruh kekuatannya bekerja keras menahanmu di tempat atau kian menjerumuskanmu pada ketidakberuntungan.”

Keren.

Bayangkan kalau kalimat seperti ini diucapkan sekitar 2010–2015 oleh seorang YouTuber ketika sedang membicarakan kegagalan. Bisa jadi ia justru disebut punya mental korban, terlalu menyalahkan keadaan, atau kurang bekerja keras. Karena di saat itu kegagalan dalam bermasyaratak sebagai efek dari ketimpangan sosial antara si kaya dan si miskin dimana gagalnya penguasa dalam bersikap adil disederhanakan menjadi... malas.

Sekarang, semakin banyak orang mulai mempertanyakan asumsi tersebut. Generasi yang lebih muda mulai berani mengatakan bahwa mungkin ekspektasi yang dibebankan kepada mereka memang tidak masuk akal. Mungkin sistem yang tersedia memang membuat sebagian orang harus bekerja jauh lebih keras hanya untuk mendapatkan titik awal yang sama. Dan konsep Multiidentitas hadir di tengah kesadaran itu. Alih-alih menciptakan definisi kesuksesan yang kaku dan hanya bisa dicapai dalam satu bentuk, Zahid mengajak kita untuk beradaptasi dengan keadaan. Melihat dunia. Melihat komunitas lain.

Menemukan cara berpikir yang berbeda. Meninggalkan sesuatu ketika memang sudah tidak sesuai, lalu mencoba jalur lain.

“Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan beradaptasi, meninggalkan hal yang tidak lagi sesuai, serta mencoba jalur baru adalah bentuk kemenangan sesungguhnya.”

Saya suka gagasan ini karena ia tidak menjanjikan bahwa kita akan selalu berhasil.

Ia justru mengajarkan bahwa ketika satu bagian dari hidup kita gagal, masih ada bagian lain yang bisa menjadi tempat kita bertumbuh.

Zahid juga mengatakan: "Memang akan selalu ada orang yang lebih sukses, lebih cerdas, lebih kaya, atau lebih keren dalam suatu bidang. Tapi, tidak ada orang yang sama persis seperti kita dengan kombinasi pengalaman, minat, pemikiran unik, keluarga, dan lingkungan sosial yang kita miliki.”

Dan ini terasa relevan sekali dengan kehidupan kita yang masih sangat akrab dengan monoidentitas.

Di Indonesia, ekspektasi sosial sering kali memiliki bentuk yang begitu spesifik: pekerjaan bonafide, tabungan ratusan juta, menikah, punya anak yang kalau bisa semuanya sudah tercapai sebelum usia 25 tahun.

Dengan beramai-ramai sadar akan ekspektasi yang tidak masuk akal ini, mungkin sistem yang asa akan berubah. Rasa aman atas diri sendiri akan tercapai sehingga kecemasan kian berkurang. Kita akan merayakan diri kita yang beragam itu. Menghadapi kegagalan sebagai bagian dalam hidup yang tak terlelakkan alih-alih membuatnya sebagai keruntuhan yang tak kan bisa dibangun kembali dengan segala daya usaha.
Profile Image for alia.
21 reviews1 follower
June 26, 2026
Sepertinya aku adalah target pasar yang sangat cocok bagi buku Multiidentitas. Sebagai seorang dewasa muda dengan penyakit minder kronis sejak kecil, hampir tiada hari yang terlewati kecuali aku membandingkan diriku dengan orang lain. Kalau aku tidak sehebat A, B, C di bidang D, E, atau F, aku 'gagal'. Bisikan-bisikan jahat dari kepalaku sedikit demi sedikit menghancurkan nilai diriku dari dalam. Kebahagiaanku sempat dikekang oleh penjara pikiran yang kuciptakan sendiri.

Namun baru-baru ini, beberapa saat sebelum buku Multiidentitas 'mengetuk' pintu rumahku, melalui berbagai pengalaman hidup dan uluran tangan Tuhan, aku mulai berdamai dengan diriku sendiri. Bisikan-bisikan itu mulai digantikan oleh suara yang lebih baik, suportif, dan penuh kasih. Lalu ketika membaca buku ini, suara tersebut semakin menguat saja, seakan senang karena telah divalidasi oleh ide-ide di dalamnya.

Buku Multiidentitas membantu membisukan suara-suara jahat di kepalaku, sekaligus mengantarkanku pada fondasi self-love yang lama kudambakan. Konsep utama yang kudapat dari buku ini adalah bahwa menjadi 'berbeda' dan 'terbaik dalam kategori tersendiri' adalah yang seharusnya dijunjung oleh setiap individu, daripada menjadi yang 'terbaik di antara semua orang'. Aku tidak perlu pusing lagi memikirkan nilai diriku terhadap A, B, C di bidang D, E, atau F. Aku hanya perlu fokus pada kombinasi segala perspektif, minat, pengalaman, dan bidang-bidang kesukaanku yang membuatku unik dan 'satu-satunya', sampai nilai diriku terasa tidak masuk akal bila disandingkan dengan siapa pun insannya di muka bumi ini. Konsep ini berpotensi mengakar di alam bawah sadarku dan pada akhirnya menggantikan konsep lama di mana perbandingan diri dengan orang lain terasa seperti sesuatu yang wajar.

Aku juga suka sekali ide yang ditawarkan buku ini mengenai pengutamaan kolaborasi dibandingkan kompetisi. Rasanya seperti deja vu, mengingat seberapa repetitifnya nilai 'kolaborasi' ini ditekankan di jurusanku. Ternyata para dosen dan petinggi-petinggi kampus itu benar. Kolaborasi adalah suatu aspek sosial sangat berharga yang seringkali diredam oleh tingginya tekanan sosial untuk berkompetisi. Aku tidak ingin lagi melihat teman, anak tetangga, atau bahkan kerabat sendiri sebagai 'lawan', namun sebagai 'rekan kolaboratif' yang dapat membantuku mencapai target dan mimpi-mimpi pribadi.

Buku Multiidentitas mengingatkanku kembali pada pola pikir sederhana yang seringkali dibungkam oleh hiruk-pikuk masyarakat yang mengutamakan monoidentitas: "We are each on our own journey." Keren terusss Zahid!
2 reviews
July 7, 2026
‎Singkat saja: calon buku terfavorit saya tahun ini! By the way, let me start this review with: saya sangat percaya buku ini bisa menyelamatkan asa hidup ribuan orang setiap tahunnya. Baiklah, mungkin itu terdengar cukup ragebait, but I'm just being real; most people really need this kind of book nowadays. Kompetisi, perbanding-bandingan, menang atau kalah, dan sebagainya: saya yakin kehidupan manusia hari ini tidak dapat terlepas dari istilah-istilah tersebut. Dan bukannya mendorong pertumbuhan positif, persaingan yang selalu timbul dengan sendirinya itu justru seringkali berperan sebagai benalu. Maka buku ini hadir menjadi "antitesis" yang menyegarkan dari permasalahan internasional ini: Multiidentitas. Pokok utama yang digagas Bang Zahid dalam buku ini adalah tentang bagaimana kehidupan seorang manusia seharusnya dibersamai oleh beragam identitas yang membuat dirinya menjadi unik dan "beda sendiri", alih-alih dikendalikan oleh satu identitas saja yang sering kali malah membuat hidup kita selalu berhawa dead or alive. Tapi tidak hanya sebatas menjelaskan bahwa "jadilah otentik untuk hidup lebih bermakna!", lewat buku ini Bang Zahid benar-benar menumpahkan segala rupa pemikirannya mengenai topik ini secara terperinci. Ada saja perspektif-perspektif unik yang unexpectedly beliau hubungkan dengan tema besar Multiidentitas ini. So somehow, keholistikan pembahasan yang disajikan membuat buku ini tak ubahnya sebuah tulisan yang diperuntukkan secara inklusif. Bahkan lebih daripada itu (jika tidaklah berlebihan), mungkin saya bisa menasbihkan inti kandungannya sebagai salah satu metode atau cara berkehidupan yang underrated. Awalnya saya terpincut membeli buku ini karena pembahasannya yang beresonansi erat dengan saya. But eventually, saya sadar bahwa (nyaris) semua orang hari ini memerlukannya. Saya menaruh harapan besar bagi meluasnya keberdampakan dari buku tipis ini.  One of the most relatable (so me!) book I've ever read. Congrats untuk buku pertamanya, Bang Zahid!
Profile Image for Elya Azmi.
23 reviews
June 21, 2026
Don't put all your eggs in one basket.

Memang bener banget, hidup menjadi mono identitas tidak akan ada habisnya, akan ada org yg lebih pintar, lebih kaya, lebih sukses dari kita. Hidup dengan multiidentitas menjadikan kita melihat diri kita tidak cuma dari satu aspek saja, sementara ada pilihan lain untuk kita bisa melihat dari berbagai identitas lain, dan dari keunikan tiap individu.

Life based on zero sum game itu sangat capekkk... and very draining energy banget... ada 1 orang yg menang dilain sisi ada 1 orang yang kalah.

Sekarang setelah melihat buku ini melihat orang yg menang yasudah im happy for it,
tanpa ada embel embel mendefinisikan diri kita sebagai orang yg kalah, karena kita hidup di track masing masing, dan lawan kita adalah diri sendiri bukan orang lain.

Salah satu cara menjadi multiidentitas yang sedang dan akan aku bangun adalah belajar bahasa Jerman, dan mencoba melihat apakah akan terbuka kepribadian baru yg selama ini tersembunyi didalam diri ku, dan kita lihat seberapa banyak opportunities yg akan terbuka nantinya...

Vielen Dank Zahid for this amazing book ❤️
Salam dari sesama anak Riau (Minas).
Profile Image for Tasya Annisa.
21 reviews
July 6, 2026
I FEEL SO EXPOSED. Banyak halaman buku ini yang membuatku merasa “duh gue banget” “aakkk #relatebang” dan mungkin akan kamu rasakan juga. Zahid dengan luwesnya mengurai keresahan dan padatnya isi kepala era transisi hidup (pendewasaan) yang tidak bisa banyak orang ungkapkan dengan lantang.

Krisis identitas terasa begitu menyiksa disaat kita tanpa sadar memaksa diri untuk memilih dan menjadi 1 (satu) yang sesuai dengan standar sosial dari sekian banyak identitas yang kita punya. Zahid dalam buku ini meminta kita untuk percaya kalau bisa menjadi banyak (multiidentitas) kenapa harus satu (monoidentitas)?

Aku suka bagaimana Zahid membagikan eksperimen dan pengalamannya hidupnya sehingga ketika membaca, kita seakan punya contoh “mendobrak” yang berhasil. Buku ini dengan mudah dibaca tuntas dalam sehari, namun untuk mengaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari akan butuh waktu yang lama. Karena rasanya akan bertarung dengan lingkungan dan pikiran kita sendiri.

TLDR; strong enough to make you doing deep reflection. such a good book to read if you are in your identity crisis era😬✌🏻
1 review1 follower
August 20, 2026
Aku kasih bintang 5 karna aku enjoy bgt baca bukunya dan karna personally lagi relate di kondisi aku saat kni. Buku ini seperti “seorang teman baik”.
Penulisan di bukunya cukup gampang dipahami. Kayak lagi dengar seorang teman dekat yang sedang menceritakan kisah hidupnya beserta pemikiran2 nya yang menginspirasi selama perjalanan hidup itu.
Secara isi, bukanlah substansi yang “wah banget aku belum pernah mengetahui hal ini sebelumnya”, sehingga untuk beberapa orang mungkin bukunya sederhana atau biasa aja.
Tapi buat aku buku ini menjadi penyemangat baru untuk semakin mengeksplor diri dan menjadi autentik. Membuatku meyakini bahwa mimpi menjadi terasa mungkin untuk digapai, seperti mendapat kekuatan atas keresahan akan identitas2 ku. Buat yang lagi mempertanyakan identitas dan galau dengan pekerjaan, hobby, atau status yang sampe “sebenernya aku siapa sih?”, nah buku ini cocok sih. Dapat memberi “pencerahan” akan itu semua.
Dan menjadi spesial karna ini buku pertama yang aku selesaikan di 2026, and somehow, this book got me out of my reading slump era.
Profile Image for aethreall.
2 reviews
May 31, 2026
Sangat menantikan sekali meluncurnya buku ini dari seorang Zahid Ibrahim semenjak pertama kali aku mengetahui fokus utama yang akan dibahas buku ini. Multi identitas merupakan bahasan yang cukup menarik perhatianku dari Kak Zahid. Karena bagaimana tidak, akhir-akhir ini ternyata merupakan masanya aku mencap diriku sedang mengalami fase krisis identitas, di mana aku bingung sekali bagaimana aku memperkenalkan diriku pada orang lain secara langsung maupun lewat media sosial (personal branding) karena kegemaranku yang beragam. Dorongan membaca buku ini muncul dengan harapan dapat menambah insight, sekaligus memperkuat jati diriku saat ini sembari menumbuhkan kesadaran bahwasanya “There's nothing wrong with having multiple passions”.

Dan akhirnya sangat puas sekali dengan pengalaman membacanya. Rasanya juga pemahamanku terkait konsep multi identitas ini jadi terlihat semakin jelas dari sebelumnya. Dukungan visualisasi, penganalogian, kutipan penulis/tokoh lain, serta cerita pengalaman pribadi penulis sangat membantuku dalam upaya menangkap tiap intisari dari pembahasan topik yang dibahas.
Profile Image for alifia tn.
12 reviews
August 17, 2026
as someone who doesn’t know Zahid personally, barely even aware of his presence on social media, this book definitely introduced me to a side of him I had never known before. my first 50 pages were basically me mengerutkan dahi... the first chapter felt quite self-centered, although perhaps that is precisely the point: starting from the writer’s own background, experiences, and perspective before gradually opening up to something bigger.

but once I entered the second chapter, I found myself struggling with the flow. it made me pause quite often and wonder where the argument was going. that said, this is definitely a thought-provoking book. even when I disagreed with certain ideas, it made me question my own assumptions and I think that is one of the book’s strengths.

I didn't agree with everything in this book and honestly I think that's what made it an interesting read. maybe that was the intention, to provoke, to challenge the way we define success and ambition. and it certainly did. it left me with more questions than answers but perhaps that's exactly what a thought-provoking book is supposed to do.
Profile Image for avenoir.
3 reviews1 follower
August 19, 2026
Buku pertama dari Zahid, yang notabene memulai karirnya sebagai seorang Youtuber. Sebenarnya di beberapa videonya, Zahid sudah menunjukkan adanya konsep multiidentitas yang ia jadikan prinsip hidup, namun secara implisit. Kali ini, ia menunjukkannya dan juga memberikan nama konsep tersebut sebagai multiidentitas. Aku yakin terminologi ini sudah ada dan banyak dipakai sebelumnya. Namun di kalangan influencer maupun penulis buku di Indonesia, agaknya baru Zahid yang benar-benar menggaungkan konsep ini. Bukunya mostly perjalanan Zahid dimulai dari pencarian jati diri, cerita mengenai alasan ia memilih sesuatu yang kemudian dikaitkan dengan konsep multiidentitas. Aku suka cara zahid bercerita, karena di dalam buku ini, ia tidak serta merta mengklaim tiap bait berasal dari dirinya sendiri, namun disertai rujukannya. Ini membuat pembaca seolah ingin melihat langsung kutipan yang dimaksud dengan membaca langsung buku yang dimention Zahid.
Profile Image for Azizah Zah.
1 review
July 7, 2026
Thanks zahid udah nulis buku yang ringan tapi tetep bermakna. Buku ini membuka sudut pandang tentang bagaimana seseorang bisa memiliki banyak identitas dalam hidupnya. Bahasanya ringan, tapi isinya bikin refleksi tentang diri sendiri dan cara kita melihat orang lain. Singkat, menarik, dan cukup membekas setelah selesai dibaca✨ Ditunggu karya selanjutnya, yaa🤜🤛
Profile Image for Alifa Rachmah.
5 reviews
July 10, 2026
“daging” bgt. menurutku buku karya Bang Zahid ini termasuk bacaan berat namun dikemas dengan bahasa yang lebih sederhana. sejujurnya aku sempat terpikir “wah kok rasa baca skripsi ya? tapi dengan pembawaan yang lebih santai & seru”
karena banyak bgt referensi yang bagus dan jelas asal-muasalnya kemudian dikombinasikan dengan pengalaman pribadi beliau sendiri, kereen!
Profile Image for レモン🍋.
4 reviews
June 20, 2026
Interesting tittlee indeed. Bikin pingin penasaran dan pingin langsung baca.
Part fav saya ada di bagian, positioning dan mengatur waktu untuk masing-masing identitas.
Def recommend this book, especially for high schoolers, fresh-year uni students, and gen Zs 🤭
Profile Image for Hannah Amaya.
26 reviews
June 27, 2026
Kukira isi bukunya akan sulit dipahami dan jauh dari jangkauan pikiranku, ternyata sangat relate bagi kondisi kehidupanku saat ini. Tulisannya mudah sekali dipahami dan bagiku ini menjadi salah-satu buku non fiksi yg bisa aku selesaikan dalam 1 hari.
2 reviews
July 11, 2026
This book is presented in a simple yet meaningful way for every reader. It reminds us to stay true to ourselves, because following a path that’s crowded with followers is exhausting and takes much longer to succeed on
3 reviews
June 14, 2026
Konsep multiidentitas di dalam buku ini seperti satu sosok manusia yang punya banyak keahlian. Perspektif yang bagus walaupun menurut saya merasa penerjemahannya agak mirip dengan hobi atau kegemaran atau pekerjaan alternatif. Identitas baru akan terbentuk jika kita sukses dan menjadi expert di dalam hobi, kegemaran, dan pekerjaan lain tersebut. Namun dengan pertanyaan tersebut, buku ini berhasil menggugah semangat untuk tidak hanya menekuni satu hal dan gagal total dalam satu hal saja karena itulah satu satunya harapan kita. Melainkan membuat kehidupan alternatif yang membuat kita merasa saya tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang saja. Bahwa kita bisa menjadi berhasil dalam banyak hal.
Profile Image for Tiaak.
18 reviews
September 15, 2026
3.8/5
The concept of this book is kinda tricky actually, you have to stand with one principal, so you won't trap in a condition as a "kutu loncat" and end up in "got nothing" situation.

SO

In my opinion, you must have your "monoidentity" first(smthing that u proud and happy to have), so you can explore to other things and become multyidentity
Profile Image for Arifa Sofia.
25 reviews
September 8, 2026
Totally start with a blank point, but I make it bold to read it slowly, it totally works. This book makes me proud of myself even more. Thanks zahid,
Profile Image for ruby.
15 reviews
August 26, 2026
Secara personal, karya ini sangat dekat dengan saya karena mengangkat hal-hal yang menjadi dasar dari nilai yang saya pegang.

Saya kagum dengan Zahid Ibrahim karena berhasil menuliskan framework tentang multiidentitas dengan jelas dan rapi. Gagasan ini menurut saya menjadi semakin penting karena kita berada di dunia yang tidak pasti—sedikit mengingatkan saya pada buku Range. Jadi, kemampuan untuk beradaptasi serta mengubah pola pikir dan tindakan ke arah yang lebih relevan dan sehat sangat dibutuhkan.

Tidak seperti banyak self-help book lainnya, buku ini termasuk cukup pendek. Tetapi justru dari sini kita bisa melihat seberapa padat dan efisien isinya, sampai kita tetap bisa mendapatkan gambaran framework secara keseluruhan.

Menurut saya, gagasan dalam buku ini akan sangat berguna jika dibaca oleh lebih banyak orang, karena menanamkan pemikiran seperti ini bisa membantu kita, baik untuk diri kita sekarang maupun di masa depan.

Semakin banyak orang yang merasa terbantu menemukan arah hidupnya, semakin sedikit kebutuhan untuk terus membandingkan diri atau merasa iri dengan kehidupan orang lain. Mungkin masing-masing dari kita juga bisa menjadi lebih bahagia dengan jalannya sendiri. Dan siapa tahu, dunia juga jadi sedikit lebih damai.

Setidaknya, itu salah satu dampak yang saya bayangkan jika semakin banyak orang mencoba mengimplementasikan pemikiran ini.
Profile Image for Zahwa Nur  Habibah.
1 review
July 7, 2026
Aku memang belum selesai baca Multiidentitas, dan itu memang sengaja. Aku benar-benar pengen menikmati setiap halamannya tanpa buru-buru menyelesaikannya, karena hampir setiap bagian bikin aku berhenti sejenak buat merenung.

Sejauh ini, buku ini berhasil membuka cara pandang aku. Banyak hal yang sebelumnya nggak pernah kepikiran, tapi ternyata masuk akal ketika dijelaskan dari sudut pandang yang berbeda. Yang paling aku suka, bahasanya ringan dan mudah dipahami. Sebagai orang yang kadang kesulitan baca buku pengembangan diri karena terasa terlalu berat, Multiidentitas justru bikin aku pengen terus lanjut baca.

Ada satu kutipan yang menurut aku menunjukkan kalau Bang Zahid benar-benar memikirkan pembacanya:
"Kalau membaca seluruhnya terasa berat, pilih saja bagian dari daftar isi yang paling relevan dengan kehidupanmu saat ini, dan mulailah dari sana."

Buat aku, kutipan ini terasa hangat banget. Bang Zahid nggak memaksa pembacanya untuk langsung menyelesaikan semuanya, tapi justru memberi ruang untuk menikmati buku ini dengan cara masing-masing.

Buku ini juga mengingatkan kalau kita boleh punya keinginan untuk jadi orang yang hebat, tapi tetap harus realistis. Jangan sampai menggantungkan semuanya pada satu tempat atau satu pilihan saja. Kita perlu punya jalan lain, supaya ketika salah satunya nggak berjalan sesuai harapan, kita masih punya kesempatan untuk terus melangkah.

Terus ada satu kutipan lagi yang menurut aku benar-benar membekas:
"Meskipun akan selalu ada orang yang lebih sukses, lebih cerdas, lebih kaya, atau lebih keren dalam satu bidang, tidak akan pernah ada orang yang sama persis seperti kita dengan kombinasi pengalaman, minat, pemikiran, keluarga, dan lingkungan sosial yang kita miliki. Hidup tidak lagi soal siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi tentang menjalani kehidupan yang autentik, bermakna, dan terbebas dari jebakan perbandingan tanpa henti."

Kutipan ini benar-benar ngingetin aku kalau kita nggak perlu terus-terusan membandingkan diri dengan orang lain. Selalu akan ada orang yang lebih unggul dalam suatu hal, tapi mereka tetap nggak akan pernah bisa menjadi kita.

Walaupun belum selesai membacanya, sejauh ini Multiidentitas sudah meninggalkan kesan yang dalam buat aku. Aku nggak sabar buat melanjutkan setiap halamannya, tapi tetap pelan-pelan, karena aku benar-benar pengen menikmati setiap prosesnya.

Ditunggu pertemuan berikutnya, Bang Zahid. Biar bisa nambah koleksi tanda tangan warna hijau. Sekarang udah ada yang warna hitam, merah, dan biru.
Profile Image for Aufa Putri.
1 review
June 20, 2026
Worth reading, especially if you're in your early 20s.

Menurutku, konsep multiidentitas yang dibawa Zahid cukup terasa relevan dengan realita hari ini. Baginya, manusia tidak seharusnya direduksi menjadi satu label, satu profesi, atau satu pencapaian. Kita memang seringkali terlalu melekat pada satu identitas; pekerjaan, jabatan, prestasi, sampai lupa bahwa diri kita jauh lebih luas dari itu. Zahid mengajak kita membangun fondasi diri yang lebih luas dan berakar pada nilai atau prinsip hidup apa yang kita bawa sedari awal, bukan semata-mata hanya karena pengakuan eksternal saja.

Cara Zahid menyampaikan ide-idenya juga enak diikuti. Banyak analogi, cerita personal, dan referensi yang membuat konsep-konsep yang cukup abstrak terasa dekat dan membumi untukku. Rasanya, lebih seperti duduk dan mengobrol dengan seseorang yang pernah mengalami kebingungan yang sama, lalu ia membagikan refleksi yang ia temukan di sepanjang perjalanan hidupnya.

Dua kutipan yang paling aku highlight:
"Jadilah satu-satunya dalam kategorimu sendiri." dan "Jalan keluarnya bukanlah dengan terus menambah upaya untuk memanjat lebih tinggi, tetapi menemukan makna dari berbagai aspek kehidupan yang membuatmu bahagia di titik mana pun dalam perjalanan."

What I really enjoyed is that this book doesn't try to convince us to constantly become more. Instead, it gently invites us to understand ourselves a little better. Alih-alih ngasih motivasi instan, buku ini lebih terasa seperti sebuah diskusi tentang comparison, validation, identity crisis, dan gimana caranya tetap menemukan makna di tengah hidup yang semakin fast-paced. Beberapa bagian buku ini juga aku highlight sebagai pengingat kalau hidup gak harus selalu dilihat sebagai kompetisi tanpa akhir, dan gak semua hal harus dimonetisasi. Sometimes, it's enough just because it matters to you.

A short yet memorable read! Daaan menurutku, hal-hal di atas yang membuat buku ini terasa begitu relevan untuk generasi kita. Tabik!
Displaying 1 - 30 of 38 reviews