Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-Kehidupan Setelahnya adalah undangan untuk menelusuri luka yang tak selalu berdarah, kehilangan yang tak selalu berkabung, dan cinta yang tak selalu bisa diberi nama. Dari kabut Pontianak yang tak kunjung reda, ke Yogyakarta tempat garis-garis kehidupan bertemu dan bersatu, hingga kuil di Bangkok tempat nama bisa dilahirkan kembali—ketiga belas cerita di buku ini ditulis untuk mereka yang dilupakan, yang dikaburkan dalam dokumen, yang dimakamkan tanpa nisan, yang dipaksa hilang oleh sistem yang rusak dan negara yang tak hadir. Untuk cinta-cinta yang hanya bisa hidup dalam ingatan, untuk tubuh-tubuh yang diperjuangkan agar diakui, untuk semua orang yang diam-diam bertahan.
"Awi Chin meramu kisah-kisah asing menjadi lebih dekat, kisah yang pernah kita dengar selintas dan tak bisa terjamah. Pembaca diajak menjalani kehidupan para tokoh lewat diksi yang lincah." Ratih Kumala
"Awi Chin melakukan eksplorasi yang non-antroposentris dalam antologi ini. Kita diajak mendengar pohon dan hewan-hewan bicara tentang hidup mereka, bagaimana mereka melihat manusia dan masalah-masalah aktual di dunia. Cerpen-cerpen ini juga membuka dengan lembut tetapi lebar ruang untuk subjek queer bicara tentang tubuh dan rasa. Semuanya terasa sangat reflektif dan kritis secara bersamaan." Ramayda Akmal
"Membaca cerpen-cerpen Awi, ada rasa manis cinta yang sayangnya tidak berlaku untuk semua. Ketika egoisme mengatasnamakan hukum, norma, dan agama, maka manusia sedang mereduksi makna dan membatasi siapa yang berhak merasakan cinta. Getir, indah, pedih, tapi nyata. Seperti itu rasanya hidup di dunia Awi dalam buku ini." Dian Purnomo
Awi Chin is an Indonesian writer and translator, and the founder of the independent library Taksu Pustaka and the bookstore and sustainable café Taksu Book Café in South Jakarta. His debut Indonesian-language novel, Yang Tak Kunjung Usai (2020), received critical acclaim and marked his emergence as a distinctive literary voice.
He was longlisted for the Jakarta Arts Council Novel Competition in 2025, and his translation work appeared in Mekong Review (May 2026). His work has also been selected for the New Writers Speculative Showcase at the 82nd World Science Fiction Convention in Glasgow.
Awi was an Emerging Writer at the Ubud Writers & Readers Festival (2022) and a resident at AIR Literature Västra Götaland through Gothenburg City of Literature, Sweden. A Chevening Scholar, he holds an MSc in Creative Writing from the University of Edinburgh.
His writing engages with themes of identity, memory, queerness, grief, and cultural displacement, often moving between Indonesia and its global diasporas. He is represented by Jacaranda Literature Agency.
Cerita-cerita favoritku: 1. Raibnya Abdul Hakeem-Irshad 2. Api yang Mengenal Belas Kasihan 3. Antara Malam dan Bulan yang Mengeras 4. Memek Cina 5. Kematian Begitu Indah dan Kita Akan Merasakannya 6. Dengan ini Saya Meminta Maaf 7. Untuk Sebuah Nama dan Kehidupan-Kehidupan Setelahnya 8. Kabut dan Asap
Kematian kecil yang kita pilih dan kehidupan-kehidupan setelahnya (Little death we choose and live hereafter) adalah buku pertama yang saya baca dari Awi Chin. Sebuah kumpulan cerita (13 cerita lebih tepatnya) tentang kematian, duka, kehilangan, cinta, keluarga, persahabatan, apa lagi ya? Yang jelas buku sepanjang 148 halaman ini luar biasa mengaduk-aduk perasaan saya sebagai pembaca baru.
Awi Chin seperti punya khas dan gaya berceritanya sendiri. Diksi-diksinya cantik dan magis. Cerita-cerita yang ditulis begitu otentik dan orisinil, seperti mendegar cerita-cerita folkore atau pengalaman pribadi yang baru untuk pertama kalinya diceritakan.
Sebagai pembaca baru awal mulanya saya cukup kesusahan dalam memahami latar budaya-budaya, bahasa daerah, yang digunakan oleh Awi Chin, namun hal tersebut tidak menjadi masalah karena saya pada akhirnya paham-paham juga kok dan malah sedikit membuat saya harus browsing-browsing untuk mencari tahu.
Saya mengenal Awi Chin sebagai penulis yang pro terhadap kaum Queer karena di buku ini sangat terasa sekali dominasi urusan relationship kaum Queer. Dan di sinilah saya melihat keistimewaan dari tulisannya. Bila mana ada seorang penulis yang mampu merepresentasikan kaum Queer di Indonesia dengan cara yang baik, benar, dan positif saya melihat bahwa Awi Chin mampu untuk melalukan itu.
Saya pun jadi ingin membaca karya-karya Awi Chin yang lain bila diberi kesempatan. Sebuah 4,7⭐️/5⭐️ saya berikan kepada buku kumpulan cerita yang apik, cantik, orisinil dan sedikit menyeramkan ini.
Berikut rating untuk setiap judul-judulnya :
Untuk sebuah nama & kehidupan-kehidupan setelahnya : 3/5 Antara malam & bulan yang mengeras : 3/5 Kitty : 3/5 Kabut asap : 5/5 Sang pemeluk pohon : 4/5 Raibnya Abdul Hakeem-Irshad : 3/5 Garis lurus : 3/5 Memek cina : 4/5 Dengan ini saya meminta maaf : 4/5 Kematian begitu indah dan kita akan merasakannya : 5/5 Lima elemen Laksmi : 3/5 Pernikahan adalah kematian kecil yang kita pilih : 4/5 Api hang mengenal belas kasih : 5/5
Benar-benar membaca banyak cerita di buku ini terasa memicu kesedihan, rasanya apa ya? berasa bolong di hati. Awi Chin kayaknya memang cukup konsisten untuk menulis soal queer, keterbatasan, minoritas dan hal-hal lainnya, itu yang membuat cerita-cerita di dalamnya terasa berbeda.
This feels like a love letter (in a form of a book) to Chindo and queer writers in Indonesia. At the same time, this book can be an invitation to the people from the ‘majority’ who are willing to listen and understand the voice of the ones from the ‘minority’. I have so much thoughts about each story, so I annotated every single one of them.
Originally, I rated this book 4.5/5. Since Goodreads doesn’t allow it and I feel this book deserves more than 4 stars, I’ll make it 5!