Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-kehidupan Setelahnya

Rate this book
Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-Kehidupan Setelahnya adalah undangan untuk menelusuri luka yang tak selalu berdarah, kehilangan yang tak selalu berkabung, dan cinta yang tak selalu bisa diberi nama. Dari kabut Pontianak yang tak kunjung reda, ke Yogyakarta tempat garis-garis kehidupan bertemu dan bersatu, hingga kuil di Bangkok tempat nama bisa dilahirkan kembali—ketiga belas cerita di buku ini ditulis untuk mereka yang dilupakan, yang dikaburkan dalam dokumen, yang dimakamkan tanpa nisan, yang dipaksa hilang oleh sistem yang rusak dan negara yang tak hadir. Untuk cinta-cinta yang hanya bisa hidup dalam ingatan, untuk tubuh-tubuh yang diperjuangkan agar diakui, untuk semua orang yang diam-diam bertahan.



"Awi Chin meramu kisah-kisah asing menjadi lebih dekat, kisah yang pernah kita dengar selintas dan tak bisa terjamah. Pembaca diajak menjalani kehidupan para tokoh lewat diksi yang lincah."
Ratih Kumala

"Awi Chin melakukan eksplorasi yang non-antroposentris dalam antologi ini. Kita diajak mendengar pohon dan hewan-hewan bicara tentang hidup mereka, bagaimana mereka melihat manusia dan masalah-masalah aktual di dunia. Cerpen-cerpen ini juga membuka dengan lembut tetapi lebar ruang untuk subjek queer bicara tentang tubuh dan rasa. Semuanya terasa sangat reflektif dan kritis secara bersamaan."
Ramayda Akmal

"Membaca cerpen-cerpen Awi, ada rasa manis cinta yang sayangnya tidak berlaku untuk semua. Ketika egoisme mengatasnamakan hukum, norma, dan agama, maka manusia sedang mereduksi makna dan membatasi siapa yang berhak merasakan cinta. Getir, indah, pedih, tapi nyata. Seperti itu rasanya hidup di dunia Awi dalam buku ini."
Dian Purnomo

159 pages, Paperback

Published May 27, 2026

Loading...
Loading...

About the author

Awi Chin

10 books35 followers
Awi Chin is an Indonesian writer and translator, and the founder of the independent library Taksu Pustaka and the bookstore and sustainable café Taksu Book Café in South Jakarta. His debut Indonesian-language novel, Yang Tak Kunjung Usai (2020), received critical acclaim and marked his emergence as a distinctive literary voice.

He was longlisted for the Jakarta Arts Council Novel Competition in 2025, and his translation work appeared in Mekong Review (May 2026). His work has also been selected for the New Writers Speculative Showcase at the 82nd World Science Fiction Convention in Glasgow.

Awi was an Emerging Writer at the Ubud Writers & Readers Festival (2022) and a resident at AIR Literature Västra Götaland through Gothenburg City of Literature, Sweden. A Chevening Scholar, he holds an MSc in Creative Writing from the University of Edinburgh.

His writing engages with themes of identity, memory, queerness, grief, and cultural displacement, often moving between Indonesia and its global diasporas. He is represented by Jacaranda Literature Agency.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
17 (73%)
4 stars
6 (26%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Johan.
26 reviews
May 29, 2026
Cerita-cerita favoritku:
1. Raibnya Abdul Hakeem-Irshad
2. Api yang Mengenal Belas Kasihan
3. Antara Malam dan Bulan yang Mengeras
4. Memek Cina
5. Kematian Begitu Indah dan Kita Akan Merasakannya
6. Dengan ini Saya Meminta Maaf
7. Untuk Sebuah Nama dan Kehidupan-Kehidupan Setelahnya
8. Kabut dan Asap
Profile Image for raafi.
973 reviews471 followers
August 21, 2026
“Saye tuh ndak ingat pontianak jadi macam ginik. Dulu ada kabut pun ndak separah ini. Cuma kabut dingin jak. Semenjak sawit masuk, penambang di mane-mane. Kabut bukan lagi kabut tapi dah bercampur asap.” (hlm. 33)



Pemeriksa: [Membaca surat] Pernyataan di surat pembebasan Anda… “Apakah Anda sudah mencoba berbicara dengan orang yang Anda cintai?” Kenapa pertanyaan ini penting?
Tersangka: Karena kadang yang membuat orang putus asa bukan masalahnya, Bu. Tapi merasa sendirian dengan masalah itu.
Pemeriksa: [Suara berubah sedikit] Bagaimana kalau mereka sudah coba bicara tapi… keluarganya tidak dengar?
Tersangka: [Tediam selama hampir 20 detik. Menghela napas panjang] Ibu, saya mohon maaf atas kehilangan Ibu. Ini pasti berat ya?
(hlm. 107–108)


Ulasan: https://bibliough.substack.com/p/ulas...
Profile Image for Nike Andaru.
1,696 reviews115 followers
June 9, 2026
48 - 2026

Benar-benar membaca banyak cerita di buku ini terasa memicu kesedihan, rasanya apa ya? berasa bolong di hati.
Awi Chin kayaknya memang cukup konsisten untuk menulis soal queer, keterbatasan, minoritas dan hal-hal lainnya, itu yang membuat cerita-cerita di dalamnya terasa berbeda.

Suka. Hampir semua judul kusuka.

Profile Image for Zinedine Sr..
151 reviews1 follower
July 9, 2026
When we read stories, we tend to forget the most important things: there's always sadness and happiness. The book portrayed that.
Would you engage in happiness even tough you will feel sad in a long time after that? Would you embrace all the sadness and fear in order to hope for more ?

A fun read to read these 13 amazing stories, I quite enjoyed more the Bangkok and the Dead wedding one. I think they both have these connections of compassion and life acceptance to move forward. Which is what we need to hear today: move forward
Profile Image for KALAU WEEKEND BACA BUKU Setyadi.
96 reviews1 follower
July 18, 2026
Kematian kecil yang kita pilih dan kehidupan-kehidupan setelahnya (Little death we choose and live hereafter) adalah buku pertama yang saya baca dari Awi Chin. Sebuah kumpulan cerita (13 cerita lebih tepatnya) tentang kematian, duka, kehilangan, cinta, keluarga, persahabatan, apa lagi ya? Yang jelas buku sepanjang 148 halaman ini luar biasa mengaduk-aduk perasaan saya sebagai pembaca baru.

Awi Chin seperti punya khas dan gaya berceritanya sendiri. Diksi-diksinya cantik dan magis. Cerita-cerita yang ditulis begitu otentik dan orisinil, seperti mendegar cerita-cerita folkore atau pengalaman pribadi yang baru untuk pertama kalinya diceritakan.

Sebagai pembaca baru awal mulanya saya cukup kesusahan dalam memahami latar budaya-budaya, bahasa daerah, yang digunakan oleh Awi Chin, namun hal tersebut tidak menjadi masalah karena saya pada akhirnya paham-paham juga kok dan malah sedikit membuat saya harus browsing-browsing untuk mencari tahu.

Saya mengenal Awi Chin sebagai penulis yang pro terhadap kaum Queer karena di buku ini sangat terasa sekali dominasi urusan relationship kaum Queer. Dan di sinilah saya melihat keistimewaan dari tulisannya. Bila mana ada seorang penulis yang mampu merepresentasikan kaum Queer di Indonesia dengan cara yang baik, benar, dan positif saya melihat bahwa Awi Chin mampu untuk melalukan itu.

Saya pun jadi ingin membaca karya-karya Awi Chin yang lain bila diberi kesempatan. Sebuah 4,7⭐️/5⭐️ saya berikan kepada buku kumpulan cerita yang apik, cantik, orisinil dan sedikit menyeramkan ini.

Berikut rating untuk setiap judul-judulnya :

Untuk sebuah nama & kehidupan-kehidupan setelahnya : 3/5
Antara malam & bulan yang mengeras : 3/5
Kitty : 3/5
Kabut asap : 5/5
Sang pemeluk pohon : 4/5
Raibnya Abdul Hakeem-Irshad : 3/5
Garis lurus : 3/5
Memek cina : 4/5
Dengan ini saya meminta maaf : 4/5
Kematian begitu indah dan kita akan merasakannya : 5/5
Lima elemen Laksmi : 3/5
Pernikahan adalah kematian kecil yang kita pilih : 4/5
Api yang mengenal belas kasih : 5/5
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
330 reviews7 followers
August 4, 2026
Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-Kehidupan Setelahnya merupakan KumCer karya Awi Chin yang terbaru (*setidaknya pada saat ulasan ini dibuat). Berisikan 13 cerita yang kesemuanya bercerita ihwal kematian. Tidak selalu secara harafiah tetapi hal-hal lain yang bisa diartikan sebuah kematian. Baik itu sebuah akhir, kehilangan, perubahan, awal yang baru (yang tidak semuanya menyenangkan)

Ternyata aku butuh jeda waktu yang cukup lama untuk akhirnya berani mengulas buku ini, satu-satunya pembenaranku adalah menghindari bias. Karena aku salah satu pembaca pertama cerita-cerita dalam buku ini. Oleh karena itu juga akupun berjaga-jaga, jika pada saat menuliskan ulasan ada perasaan yang berubah, maka aku akan menyesuaikan ratingnya.

Setelah mengendap (ditunda-tunda) berbulan-bulan, ternyata (sial/untung)nya perasaan/feel setelah membaca cerita dalam KumCer ini masih juga sama. Sedih, marah, kecewa (terutama sama penulisnya, yang punya kegemaran menyiksa karakter), selebihnya tersisa perasaan prihatin untuk segala hal yang terjadi didalam cerita-cerita tersebut. Kaya pengen ngomong ke mereka "Maaf ya, karena kamu harus mengalami hal nggak enak ini".

Mungkin KumCer ini bukan untuk semua orang karena tema yang diangkat buat sebagian orang/kalangan kurang nyaman. Tapi rasanya, cerita-cerita dalam buku ini menjadi penting untuk dibaca banyak orang/kalangan. Bukan bermaksud untuk membenarkan, tetapi setidaknya memberikan pemahaman dari sudut pandang yang bisa jadi selama ini tidak pernah terpikirkan bisa dimungkinkan.

Membaca buku ini, setidaknya aku belajar satu hal sederhana:
Untuk bertenggang rasa tidak perlu menunggu kita sendiri yang mengalaminya.

Aku tidak sedang memaksa untuk semua orang menganggap buku ini penting. Aku hanya mengajak, jika sempat, bacalah (setidaknya 1 ceritanya).

Profile Image for Dist.
20 reviews
June 24, 2026
This feels like a love letter (in a form of a book) to Chindo and queer writers in Indonesia. At the same time, this book can be an invitation to the people from the ‘majority’ who are willing to listen and understand the voice of the ones from the ‘minority’. I have so much thoughts about each story, so I annotated every single one of them.

Originally, I rated this book 4.5/5. Since Goodreads doesn’t allow it and I feel this book deserves more than 4 stars, I’ll make it 5!
Profile Image for Ryan.
Author 2 books17 followers
July 18, 2026
Kumpulan cerpen yg berkisar di area: tionghoa, kalimantan, serta LGBTQ+
Awi berhasil meramu cerita seputar hal tsb (juga tentang hal lain) dengan indahnya menjadi cerita yg menarik, emosional, dan mungkin juga personal.

Cerita favoritku: Untuk Sebuah Nama, Garis Lurus, dan Dengan Ini Saya Meminta Maaf
Profile Image for Nyktelios.
14 reviews
July 20, 2026
Penulisannya yang rapi, dalam, dan menyentuh, memberikan kenyamanan untuk berduka. Marah-marah yang timbul, bergejolak lembut. Terima kasih untuk pengharapan di setiap kisah yang ditulis.
Profile Image for Lana.
86 reviews6 followers
June 29, 2026
prose was so good, at one time i unknowingly gasped and felt something tightens around my neck
4 reviews
June 30, 2026
Selama membaca cerpen2 ini saya merasa emosi yang campur aduk dari terharu hingga bahagia. Cerita2nya pendek tetapi selalu membekas. Bukunya keren, memberi suara bagi yang jarang disuarakan.
Profile Image for Awi Chin.
Author 10 books35 followers
Want to Read
July 15, 2026
Halo teman-teman semua.
Terima kasih telah membaca Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-kehidupan Setelahnya.

Izinkan saya mengutip apa yang saya tulis di ucapan terima kasih.

Maka dari itu, terakhir dan terkemudian, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman semua. Yang datang dari latar belakang minoritas suku, agama, ras, orientasi seksual, gender, serta lokasi geografis. Kita semua memang berasal dari tepi dan sangat rawan untuk dihapus. Karena itu marilah kita menjaga cerita kita sendiri.

Selamat membaca dan Bertahan Hiduplah Sejenak Lebih Lama.
Profile Image for Safirasiwi.
48 reviews3 followers
Review of advance copy
May 26, 2026
memaknai duka dan kemati*an dari sudut pandang minoritas yang termarginalkan.
Displaying 1 - 13 of 13 reviews