Epos La Galigo di Leiden menjadi dokumen penting bagi sejarah dunia. Tiga ratus ribu larik ceritanya yang mengalahkan jumlah larik Mahabharata membuat institusi-institusi di Belanda begitu bangga dan merawatnya layaknya harta karun. Bagi Louie Buana, epos terpanjang di dunia versi UNESCO itu lebih dari sekedar artefak, ia identitas penting yang mengubah hidupnya, yang mengantarkannya pada banyak petualangan.
Berkat pertemuan dengan epos itu, Louie berjuma dengan beberapa pemuda suku Yolngu yang memanggilanya ' wawa' alias saudara, seorang oma Indisch yang gemar mengajari tarian-tarian Indonesia, serta seorang ilustrator yang berakhir menggarap proyek bersama dalam bentuk kartu tarot. Ada pula persamuhan dengan seorang eksil yang hingga ajak menjemput masih terus rindu untuk pulang ke Tanah Air serta cerita hadirnya negeri Cina yang letaknya tak disangka-sangka, yaitu di Sulawesi, lokasi yang sama dengan kisah tentang neraka asal Vietnam yang membuka teka-teki 'Atlantis'-nya La Galigo.
Ma'galigo ri Leiden membawamu pada 16 kisah pengembaraan Louie Buana, sejak ia masih bersekolah di Yogya dan menemukan kehadiran La Galigo hingga kakinya menjejak di Negeri Kincir Angin dan bersua dengan kawan dan pengalaman baru.
… saya menyaksikan bagaimana kolonialisme merenggut banyak individu dari akar sejarahnya, tetapi juga menyulam kembali hubungan itu dengan cara yang otentik.(p.131)
Buku yang menyenangkan sekali. Kisah-kisah perjumpaan penulis dengan naskah epos “raksasa” La Galigo, kemudian membawa ke pembicaraan dekolonialisasi, kemudian ya keseharian di Belanda terkhusus Leiden.
Tidak mengulik dalam perihal La Galigo, tetapi justru ini menariknya. Buku ini tidak untuk membasa itu, tetapi untuk menjadikan “yang sakral” ini, menjadi dekat dengan kami (termasuk saya) yang tentu tidak memiliki kecapakan membaca naskah epos raksasa itu.
Ada satu hal yang membuat saya berkerut di dahi: penggunaan diksi waria. Bukan yang buruk, karena memang mungkin demikian untuk menjelaskan keragaman gender. Namun, menurut saya alih-alih menggunakan diksi yang “rentan makna konotasi peyorasi”, lebih baik dibuang emdash dan dijelaskan saja keragaman gender. Penjelasan akan lebih komprehensif dan menghindari “kerawanan”.
Ada yang menyadari tidak ada kursif untuk istilah English? Aaaaah kecerdasan dekolonialisasi “bahasa” yang ketika saya tutup saya bangga sekali. Enak dibaca seperti stroopwafel.
jujur, buku ini dimulai dengan hentakan-hentakan personal yang sangat kuat, tapi mulai dari tengah sampai beberapa cerita sebelum yang terakhir mulai melelahkan karena penulisannya yang, baik secara sadar maupun tidak sadar, merefleksikan penulisnya (hanya) sebagai seorang akademisi, seorang sejarawan, seorang ensiklopedia berjalan. tidak ada masalah, tapi pikirku pribadi: alangkah bagusnya kalau lebih banyak komentar atau kritik terhadap apa yang dipelajari, bukan sekadar tumpukan anekdot sejarah cepat saji.
sebenarnya ada keputusan politis yang menarik: menulis banyak term ilmiah yang sengaja tidak ditulis miring seolah-olah term-term ini (seharusnya) tidak (menjadi) asing bagi kita; yang ditulis miring hanya beberapa dialog atau kutipan dalam berbagai bahasa.
mungkin buku ini ditulis bukan semata-mata karena Kaka Louie (yang saya kenal langsung dan sudah sering bertukar cerita di dunia nyata) ingin membuat kita, para pembaca, menjadi peduli dengan hal-hal yang dia pedulikan: La Galigo dan segunung sejarah dunia yang hanya disajikan sebongkah di buku ini. mungkin buku ini hanya ditulis agar kita, para pembaca, bisa merenungkan apa saja hal yang bisa dan ingin kita pedulikan di dunia ini. bagaimana cara melakukannya? buku ini memberi satu cara: pendidikan.
pendidikan yang didorong oleh buku ini juga tidak mengharuskan pembaca untuk kuliah jauh-jauh ke Belanda seperti sang penulis, tapi bisa dari mana saja: cerita dari orang tua, dari kawan-kawan, dari mentor, bahkan dari kartu tarot.
ngomong-ngomong soal kartu tarot, penempatan kartu tarot di setiap bab ternyata tidak seperti yang kuduga: tidak menggambarkan perjalanan linear arcana mayor dari angka 0 hingga 21, tapi bolak-balik sesuai dengan konteks emosional dari sang penulis maupun dari masing-masing cerita. dengan begitu, buku ini juga setidaknya bisa mengingatkan kita bahwa perjalanan hidup ini tidak perlu mulus-mulus, toh kisah La Galigo (baik kandungannya maupun sejarah fisiknya) juga memeluk erat nonlinearitas yang sering kita dangkalkan sebagai kekacauan. justru, buku ini seolah-olah berkata, di balik ketidakteraturan itulah kita bisa menemukan celah untuk ikut merawat cerita yang bisa dan ingin kita rawat seperti sang penulis yang merawat ceritanya dengan seganjil-genap dirinya.
/
honestly, this book began with powerful personal punches, but from the middle until a few stories at the end it became tiring for me because the writing, intentionally or unintentionally, fully reflects the writer (merely) as an academic, a historian, a walking encyclopedia. it's not a bad thing, but to me it would've been better if there were more remarks or criticism towards what the writer learned, not just a pile of historical anecdotes for instant consumption.
there is also an interesting political decision: many scientific terms were written (intentionally?) not in italic as if these terms were not (supposed to be) foreign for us; only dialogues or quotations from different languages were italicized.
regardless, perhaps this book was written not only because Kaka Louie (who i know and have shared stories with in real life) wanted us, the readers, to care about the things he cares about: La Galigo and mountains of world history, of which only a chunk were presented in this book. perhaps this book was written so we, the readers, can ponder on things that we can and want to care about in this world. how do we do that? the book gives us one of many answers: education.
good thing is, the education that this book advocates for is not obligating us to do a Ph.D. in the Netherlands like what Kaka Louie does, but it can be done with other sources: stories from our elders, our friends, our mentors, and even tarot cards.
speaking of tarot cards, the placement of the cards for each chapter is not as i thought: it isn't structured along the linear journey of the major arcanas from 0 to 21, but it goes back and forth aligned with the emotional context of the author or each story. consequently, the book also reminds us that this life we're living doesn't have to be in order all the time, even the journey of La Galigo (intrinsically and physically-historically) also embraced the nonlinearity that we always shallow down as chaos. in fact, as if the book is saying this, beyond that very mess we can find gaps for us to join in and nurture the stories the way the writer nurtured his into this book, with all his frights and might.