Otobiografi Parlindoengan Loebis ini adalah satu-satunya buku yang mengisahkan pengalaman aktivis kemerdekaan Indonesia di Negeri Belanda yang menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia (PI) dan berjuang melawan fasisme di tingkat internasional, kemudian tertangkap dan menjalani hidupnya di kamp konsentrasi Nazi. Pembaca dapat mengikuti riwayat hidup Loebis yang diliputi kejadian-kejadian mengerikan dalam gaya penceritaan yang lugas, tidak diperindah secara sastra, namun memperoleh dimensi yang lebih mengerikan lagi menyangkut kehidupannya ketika disekap dalam kamp konsentrasi Belanda yang terkenal kejam di Schoorl dan Amersfoort, dan di Jerman, yaitu di Buchenwald dan Sachsenhausen, sampai kapitulasi Jerman bulan Mei 1945. Satu-satunya otobiografi yang unik yang menjadi suara serta gambaran yang khas di antara suara dan gambaran yang mayoritas telah dituliskan oleh ex concentratiekamp Nazi yang selama ini di dominasi oleh orang Eropa.
Tidak bisa disangkal, perang pasti memakan korban, baik korban yang tewas, kehilangan materi, maupun korban perang yang menjadi tawanan dan harus menderita di kamp-kamp konsentrasi yang sengaja diciptakan pihak yang menang atau berkuasa. Kamp konsentrasi yang dianggap paling besar dan juga paling banyak menelan korban jiwa adalah kamp konsentrasi untuk menyekap orang-orang yang dianggap musuh oleh Adolf Hitler, pada masa perang dunia kedua. Tentara Hitler menangkapi orang-orang yang dianggap komunis, terutama warga Yahudi.
Para tawanan ini disekap dalam kamp konsentrasi, dipaksa bekerja dalam keadaan yang serba kekurangan, terutama kekurangan makanan. Ternyata, ada juga warga negara Indonesia yang menjadi tawanan dalam kamp konsentrasi NAZI tersebut. Salah satunya adalah Parlindoengan Loebis, tawanan yang akhirnya bebas dan kemudian bisa pulang ke tanah airnya. Banyak tawanan yang tidak mampu bertahan hidup dalam tekanan psikologis, sehingga kehilangan semangat untuk hidup. Tapi tidak dengan Parlindoengan, kemandiriannya pada masa kecil mampu membuatnya tetap bertahan hidup. Dengan semboyan, just live for today, ya…berjuanglah untuk bisa hidup hari ini, karena besok punya kesusahannya sendiri.
Parlindoengan adalah seorang dokter lulusan Universitas Laiden, Belanda. Tapi yang menjadi pangkal dia ditangkap oleh pasukan SS adalah karena dia pernah bergabung dengan organisasi Perhimpunan Indonesia (organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan di negeri Belanda), bahkan dia pernah menjadi ketua organisasi ini. Sebagai informasi, Perhimpunan Indonesia juga pernah diketuai oleh Moh. Hatta. Tapi pemerintahan Hitler menganggap organisasi ini beraliran komunis, sehingga orang-orang yang pernah terlibat di dalamnya harus ditangkap dan dijebloskan ke kamp konsentrasi.
Selama di kamp konsentrasi, Parlindoengan menjalani kehidupan layaknya seorang tahanan perang yang menderita. Tapi, pada akhirnya dia ditugaskan menjadi seorang dokter poliklinik dalam kamp, setelah tentara Jerman tahu kalau dia seorang dokter. Banyak duka dan kengerian yang dialaminya selama hidup dalam kamp, disamping harus berpisah lama dengan istrinya, Jo Loebis. Satu hal yang dia tidak mau lakukan sebagai dokter kamp konsentrasi adalah disuruh membunuh tawanan lainnya. Dia lebih memilih dibunuh oleh tentara NAZI daripada disuruh membunuh orang lain. Tapi untungnya, dia tidak pernah disuruh untuk melakukan hal tersebut.
Akhirnya, kekuasaan Hitler dikalahkan oleh sekutu. Para tawanan, termasuk Parlindoengan, bisa bebas. Dia bisa bertemu kembali dengan istrinya, dan juga bisa pulang ke tanah airnya, Indonesia.
Kehidupan di dalam kamp konsentrasi, apalagi kamp konsentrasi NAZI, sangatlah mengerikan, namun kalimat-kalimat yang digunakan untuk menggambarkan kengerian itu, tidak mampu membawa imajinasi saya ke dalamnya. Jadi, ceritanya terasa datar saja. Apalagi, kata-kata yang digunakan sangat jadul dan baku, seperti membaca buku tahun 60-an, padahal buku ini diterbitkan tahun 2006. Tapi memang, kata editor-nya, buku ini sengaja dibuat dengan bahasa sesederhana dan selugas mungkin. Tidak ada dramatisasi cerita. Bagaimanapun juga, buku ini bisa saya jadikan sebagai sumber informasi untuk menambah wawasan sejarah saya yang memang masih sangat dangkal dan berbatu-batu, apalagi pada musim kemarau. Nah lohhh, ngga nyambung!!
pengalaman ... (fill in the blank) dari seorang dokter yang juga aktivis Perhimpunan Indonesia (PI), organisasi mahasiswa zaman pergerakan nasional abad 20.
sebuah otobiografi yang -sepertinya- belum selesai. kisah di buku ini hanya sampai tibanya Parlindoengan kembali menjejakkan kakinya di tanah air tercinta tahun 1947. tahun-tahun setelah itu -dikatakan pengantar- sebenarnya masih banyak warna yang bisa digoreskan. ditulis sejak tahun 1982 dan selesai atau berhenti 1987. hal ini mungkin disebabkan oleh stroke yang diderita beliau sehingga sampai akhir hidupnya tahun 1994, buku ini tetap seperti sedia kala.
pengalaman membaca buku ini.. untuk saya, -salah satu pembaca kecil buku tipis "Forensik", juga buku New Yorktimes Bestseller karya Mary Roach: "STIFF (Kehidupan Ganjil Mayat Manusia)"-, rasanya tetap tidak biasa..
- menelusuri foto-foto 'pemandangan' kamp konsentrasi, sebuah wadah besar (kelihatannya seperti truk) yang memuat 'tumpukan' manusia yang tak lagi berjiwa.. kuburan massal yang belum terkubur..
- Pak Parlindoengan sempat 'hanya sempat' ganti baju 2x dalam enam bulan - beliau termasuk rombongan tawanan yang 'diangkut' dalam satu gerbong kereta api bersama sekitar 100 orang dalam kondisi lebih menyedihkan dari sapi yang berada dalam kondisi yang sama. karena menurut beliau sapi2 tersebut masih lebih beruntung karena pemiliknya masih khawatir kalu2 sapinya mati, sedangkan serdadu itu... - - - (insyAllah bersambung)
Tidak banyak orang yang mengenal sosok Parlindoengan Loebis. Kecuali mungkin keturunan marga Lubis.
Buku ini merupakan memoir kehidupan Parlindoengan Loebis selama ia disekap dalam penjara paling mengerikan sepanjang sejarah kehidupan manusia : kamp konsentrasi NAZI. Sebagai tokoh penting pergerakan nasional yang bersekolah dan melakukan pergerakan pasif di negeri Belanda, maka tanpa alasan lain ia harus digelandang bersama ribuan orang tak bersalah lainnya masuk ke kamp NAZI. Beruntung ia adalah lulusan sekolah kedokteran. Dengan bermodal titel sebagai dokter, ia mendapat banyak dispensasi. Terutama juga, karena tenaga medis amat dibutuhkan di sana.
Parlindoengan Loebis, sampai saat ini, adalah satu-satunya orang Indonesia yang tercatat, yang berhasil bertahan di tengah terpaan sadis anak buah Hitler itu, hingga kamp dibubarkan setelah Jerman kalah di Perang Dunia II.
Selepas bebas, Parlindoengan diberi pilihan untuk menjadi dokter di Jerman, dengan berbagai fasilitas sebagai kompensasi. Tetapi ia memilih untuk pulang ke Indonesia, bergabung dengan rekan perjuangan seangkatannya termasuk Sutan Syahrir dan Moh. Hatta sahabat-sahabatnya, untuk meneruskan pergerakan memerdekakan bangsanya dari kebodohan. Sebuah pilihan mulia yang tidak dibalas dengan penghargaan yang layak dari yang sudah ia perjuangkan.
Sangat direkomendasikan untuk pembaca yang ingin tahu keadaan Perang Dunia II dari sudut pandang pelajar Indonesia, yaitu melalui sosok Parlindoengan Loebis. Ia menjadi salah satu tahanan NAZI karena dituduh komunis. Akan tetapi, karena pendidikan dokternya, ia dipekerjakan di kamp, dan mendapat beberapa keringangan. Ia bercerita bagaimana karakter masing-masing orang dari negara yang berbeda-beda dalam menghadapi nasib sebagai tahanan NAZI. Setelah PD II selesai, ia kembali ke Indonesia.
buku ini boleh saya kasih 3,9 dari 5 bintang! memoar dari parlindoengan loebis yg selama 4 tahun ditahan dan berhasil survive dikamp konsentrasi nazi.. selain itu, beliau adalah salah satu aktivis dari organisasi pemuda perhimpunan indonesia yg berjuang menyuarakan hak hak kemerdekaan indonesia
namun sayangnya kisah beliau berakhir di tahun 1947 ketika beliau kembali ke tanah air. sebenarnya ada rasa keingintahuan kegiatan apa saja yg beliau lakukan mengabdi pada negeri ini hingga 1994?
Perlu dibaca sama temen-temen saya yang fanboy Nazi dan Hitlernya. (Bukunya masih dipinjam Gilang Ramdhan Huda). Semoga bisa dibuat film yang kualitasnya mendekati "The Pianist".