What do you think?
Rate this book


191 pages, Paperback
First published December 1, 2013
Bersahaja, suntuk, Ahmad Tohari mencipta karya sastra dari rumahnya yang rimbun pepohonan di Tinggarjaya, Banyumas, Jateng. Ia tidak tinggal di pesantren. Ia memilih tinggal di perkampungan, tepi jalan raya ke Bandung, dekat pasar, dekat sekolah, dan kantor-kantor yang lain. Ada surau di belakang rumahnya.
Atmosfer sosiokultural yang melingkupi kehidupan keluarganya itu menyebabkan kumpulan cerpen Tohari, Mata yang Enak Dipandang(Gramedia Pustaka Utama, 2013) berbeda dengan cerpen-cerpen Gus Mus dalam Lukisan Kaligrafi. Tohari melarutkan narasi kesufiannya dalam sosok tokoh manusia kebanyakan yang mengalami kenestapaan hidup, sementara Gus Mus cenderung menokohkan ulama sebagai pusat kearifan kisah-kisahnya.
Bukan bertumpu pada eksotisme latar social budaya ketika Ahmad Tohari mencipta narasi yang kemudian diterbitkan dalam kumpulan cerpen keduanya ini setelah Senyum Karyamin. Bukan sekadar anekdot. Bukan sekadar refleksi kehidupan orang-orang kecil yang tersingkir. Tetapi, Tohari tengah mendedahkan dunia batin dalam narasi yang tokoh-tokohnya mengalami konflik internal sangat mendasar. Latar social budaya, kehidupan orang-orang kecil pedesaan, adalah wujud fisik religiositas yang hakiki, pencarian eksistensial mengenai makna hidup.
Banyak kritikus sastra terlampau dangkal menafsir cerpen-cerpen Tohari. Banyak pemerhati sastra yang menyederhanakan arus kesadaran religiositas mahadalam yang memancar dalam cerpen-cerpennya. Sungguh sangat sedikit yang bisa memberi makna transendensi yang terpancar dalam cerpen-cerpen Tohari. Lingkup kehidupannya, atmosfer sosiologisantropologis yang kental memberi warna latar cerpen-cerpennya untuk mengisahkan tokohtokoh yang bergulat dengan dunia batin.
Tohari tidak menulis cerpen mimetik. Ia tidak mencipta cerpen-cerpen realisme sosial. Ia mencipta cerpen-cerpen dengan kegelisahan spiritual. Ia menggugat kesadaran religiositas pembaca, yang telah ditelan arus kapitalisme, hingga kehilangan hati nuraninya. Ia mencipta cerpencerpen bernapas religius, hampir menyentuh sufisme. Hanya saja, Tohari yang telah tenggelam dalam arus realisme, yang tak melambungkan fantasi sebagai arus utama penciptaan cerpen-cerpennya, ditafsir jauh dari mistisisme. Ia mesti berhadapan dengan kekuatan fantasi yang indah Seno Gumira Ajidarma. Ia berhadapan dengan dunia kosmopolitanisme yang mempertanyakan tatanan nilai yang mapan, dengan kelincahan gaya Djenar Maesa Ayu. Ia berhadapan dengan cerpenis yang lincah mencipta dengan naluri interteks, fantasi, dan obsesi realitas sosial seperti Agus Noor.
CERPEN-CERPEN Tohari, yang bermuara pada pergulatan dunia batin tokoh, menampakkan tiga karakter. Pertama, cerpen-cerpen dengan nuansa religiositas yang mempertanyakan hakikat kebenaran, mengajak pembaca dalam solilokui, dialog dengan diri sendiri. Kedua, cerpen-cerpen satire, yang melancarkan kritik terhadap diri sendiri, dengan terselubung humor. Ketiga, cerpen-cerpen yang menyingkap mitos, yang mempertanyakan penyimpanganpenyimpangan moral secara humanis.
Cerpen ‘’Mata yang Enak Dipandang’’, yang kemudian dijadikan judul buku ini, memang bukan cerpen terkuat dalam struktur narasi dan gaya (style). Ini tetaplah narasi yang bersahaja, sebagaimana pribadi penulisnya. Tokoh buta dengan kepekaan batin, memang pernah dieksplorasi Tohari dalam trilog novelnya Ronggeng Dukuh Paruk. Dalam cerpen ini tokoh Mirta, pengemis buta, dengan kekuatan intuisinya, mempertanyakan hakikat kesalehan religius. Mata yang indah merupakan metafora bagi kecemerlangan hati manusia dermawan yang ikhlas memberi sedekah. Religiositas dalam cerpencerpennya seringkali mengambil bentuk pada sosok tokoh papa, hina, tersia-siakan dalam hidup. Kehadiran tokoh yang teraniaya, hanyalah bingkai bagi kecemerlangan dunia batin yang ingin dipancarkannya. Cerpen serupa ini membawa kita pada percakapan batin untuk menemukan kearifan hidup.
Cerpen satire Tohari, yang mencari humanisme dalam pusaran konflik tokoh-tokohnya, terdapat dalam cerpen ‘’Penipu yang Keempat’’. Cerpen ini sungguh sebagai sebuah olok-olok sang sastrawan terhadap perilaku dusta bangsa ini, kebohongan, keculasan, dan perasaan bebal. Tetapi, sesungguhnya Tohari sedang mengolokolok perilaku religiositas manusia yang mencari citra di hadapan Tuhan, karena sedekah yang telah diberikannya. Inilah sesungguhnya cerpen sufisme dalam wajah manusia kebanyakan, lebur dalam realitas sosial, dalam kehidupan keseharian: manusia yang mendarah-daging.
Cerpen ‘’Warung Penajem’’ merupakan cerpen yang mempertanyakan krisis spiritualisme dengan memunculkan tokoh yang tak bisa mengelak dari perangkap materialisme. Kesucian seorang istri, kesetiaan, dan kecintaannya pada suami, bisa dirontokkannya ambisinya untuk memperoleh harta benda, dengan memberikan kehormatannya pada seorang dukun. Dalam cerpen serupa ini, struktur narasi yang sederhana, tokoh-tokoh orang pinggiran, mewakili watak keserakahan bangsa ini, yang menggadaikan kesucian hati nurani untuk memperoleh kesejahteraan material. Kikisnya spiritualisme, menjadi narasi besar kapitalisme, merusak hakikat kebahagiaan manusia.
NAPAS sufisme cerpen-cerpen Tohari dalam kumpulan ini, memang tak sekuat ‘’Pengemis dan Salawat Badar’’ yang termuat dalam buku kumpulan cerpen Senyum Karyamin. Napas sufisme itu dilarutkannya dalam bingkai latar sosiokultural, dengan tokoh-tokoh manusia yang dimarjinalkan. Tak banyak kritikus sastra yang sanggup menyingkap latar batin karya-karya Tohari. Anggapan yang paling dangkal, dan diyakini peminat sastra secara luas, bahwa karya-karya Tohari, termasuk cerpen-cerpennya, kuyup warna lokal. Latar ruang-waktu, konteks sosiokultural, dianggap sebagai ciri khas karyakaryanya. Bahkan cerpen-cerpennya dianggap berobsesi pada kehidupan underdog, sebuah penilaian sekilas, tidak menyentuh ruh penciptaan yang dikonstruksinya selama ini.
Ruh penciptaan cerpen-cerpen Tohari, bukanlah kenestapaan masyarakat marjinal. Tetapi, ia menyingkap kesadaran spiritualisme. Ia mengagungkan dunia transendensi. Cerpen-cerpennya bermula dari obsesi pada dunia batin tokoh-tokohnya. Latar sosiokultural hanyalah salah satu unsur dalam struktur narasi, yang di dalamnya memancar cahaya transendensi. Coba baca cerpen ‘’Kang Sarpin Minta Dikebiri’’. Itu cerpen satire, yang sangat dekat dengan kehidupan manusia saat ini: lelaki setengah baya yang tak bisa mengendalikan nafsu birahinya. Ia lelaki bejat. Semua orang menganggapnya amoral. Di akhir hayatnya, ia ingin bertobat, dengan cara dikebiri. Ketika ia meninggal, tak seorang pun berani menyebutnya bertabiat baik. Cerpen ditutup dengan kesadaran keilahian yang dialogis.
‘’Di mata saya, seorang lelaki yang di ujung hidupnya sempat bercita-cita menjadi wong beneradalah orang baik. Entahlah bagi orang lain, entah pula bagi Tuhan.’’
Ya, metafora menjadi pertaruhan Tohari untuk memunculkan simbol-simbol bahasa yang memerlukan tafsir makna. Ia memang tak mengembangkan imajinasi seliar para cerpenis muda semenjak Seno Gumira Ajidarma bermainmain dengan fantasi-fantasinya untuk mencipta cerita surealisme; atau semenjak Djenar Maesa Ayu mempertaruhkan diksi dan imaji untuk membingkai fantasi feminismenya.
Tohari tetaplah sebagai penulis cerita yang bersahaja, suntuk, intens dengan kesadaran batin. Ia memulai cerita dari dunia batin, yang kemudian menemukan metafora untuk menyingkap dunia makna di dalamnya. Ia memulai dan menutup cerita, seringkali dengan kesadaran batin tokoh-tokohnya. Selesai kita membaca sebuah cerpen, kesadaran batin kita mulai terbuka, mengalami pengembaraan perenungan panjang, untuk mengarungi wilayah transendensi. Tohari menghujat kesadaran batin kita, bukan dengan fantasi, bukan dengan dekonstruksi, tetapi dengan struktur narasi yang menebar metafora kehidupan. (*)