Kasus keracunan lawar plek buatan Bapak berujung kematian. Tragedi yang sama pernah terjadi enam tahun lalu hingga membuat Ibu meninggal. Atas desakan sang adik, Rajata, Kanaka terpaksa pulang ke Bali dan menemui Bapak. Namun, lawar tersebut ternyata dibuat oleh Rajata. Bapak mengakui dosa itu dan dipenjara untuk melindungi Rajata.
Tanpa Kanaka tahu, petugas yang menangani kasus Bapak adalah Erlang, lelaki yang tanpa penjelasan ataupun rasa bersalah telah meninggalkannya untuk menikah dengan perempuan lain. Di antara rasa bersalah Rajata yang berujung percobaan bunuh diri, kebencian terhadap Bapak, dan kerinduan akan lawar plek, Kanaka juga harus menghadapi Erlang.
Bagaimana Kanaka bisa menghadapi semuanya sekaligus?
Judul Buku : Kanaka dan Piring-piring Kosongnya Penulis : Suarcani Penerbit : Penerbit Buku Kompas Tahun Terbit : Mei 2026 Ketebalan : 206 Halaman
“Kasus keracunan lawar plek buatan Bapak berujung kematian. Tragedi yang sama pernah terjadi enam tahun lalu hingga membuat Ibu meninggal.”
Kalimat itu menjadi pembuka bagi pembaca untuk mengetahui bahwa buku ini akan membahas lebih dalam tentang lawar plek. Kuliner ekstrem khas Bali yang memiliki makna mendalam. Orang Bali, sini ngumpul, kita bahas lawar pel bareng-bareng.
Lawar plek bagi orang Bali tidak hanya merupakan kuliner ekstrem, tapi juga cita rasa “kampung halaman” tempat untuk “pulang”. Lawar plek dulunya merupakan makanan persembahan saat upacara keagamaan. Meski terbuat dari daging mentah dengan darah dan bumbu rempah, baik anak-anak sampai orang dewasa terbiasa memakan kuliner satu ini.
Pembuat lawar plek juga tidak orang sembarangan, mereka yang dipercaya secara khusus oleh alam dan diturunkan secara turun temurun pada garis keturunan laki-laki.
Kisah di buku ini bermula tentang tragedi Bapak menjadi tersangka keracunan lawar plek hingga mengakibatkan kematian. Bapak telah membuat lawar plek setiap hari dan bertahun-tahun. Lawar pleknya bahkan sudah sangat terkenal.
Namun, fakta lain membuat Kanaka terguncang, ternyata yang membuat lawar plek tersebut adalah Rajata, adik lelakinya yang masih berusia 18 tahun. Bapak ditangkap untuk melindungi Rajata. Begitu pun Kanaka, yang terpaksa pulang setelah 6 tahun meninggalkan rumah.
Buku tentang hubungan keluarga yang renggang karena kehilangan sosok ibu dan dahsyatnya polemik serta usaha untuk ikhlas, itu sangat luar biasa. Kebencian Kanaka dan menyerahkan kesalahan atas kematian ibunya, itu membuat Bapak sangat menderita. Hal ini terlihat ketika pertama kali mereka bertemu di penjara ketika Kanaka menjenguk Bapak.
“Ning, cening ayu Bapak. Sudah lama sekali Ning pergi. Bapak kanti engsap prarain ceninge.” (hal.21) nangislah saya di bagian ini. Penulis menyampaikan kisah ini dengan tulus, seolah kisah ini memang pernah ada. dan hal itu benar-benar sampai ke hatiku. Sangat heartwarming.
Konflik batin Kanaka masih ditambah dengan ia bertemu Erlang, mantan kekasih yang meninggalkannya untuk menikah dengan perempuan lain. Erlang merupakan petugas kepolisian yang menangani kasus Bapak. Kanaka mendapati pergulatan batin antara kebencian, kerinduan, dan dendam yang selama ini membayanginya.
Kisah Erlang dan Kanaka juga dieksekusi dengan baik. Bagaimana Erlang berkhianat, karakter yang dibangun oleh penulis dan kenapa Erlang membuat keputusan akhirnya menikah dengan perempuan lain itu tepat. Aku nggak jadi menghakimi Erlang tentang pilihannya. Jujur aku sempat berpikir, kan bisa nggak harus nikah. Tapi, ini Erlang yang prinsipnya setebal buku bantal, meski itu menyakiti Kanaka, melepaskan kekasih hatinya.
Kelebihan Buku ini bisa dihabiskan dengan sekali duduk, apalagi ketebalan hanya 206 halaman saja. Tapi emosi yang disampaikan dalam buku ini membuat aku nggak bisa begitu saja membaca habis. Topik tentang keluarga memang bisa menyeret hati menjadi lebih terluka, hangat, namun juga sangat lekat.
Karakter utama yang dibangun seperti Kanaka, Erlang, Rajata, Bibi, dan Bapak dieksekusi dengan baik. Porsinya pun pas. Jujur, agak jengkel sama Bibi yang cerewet banget dan Rajata yang lembek. Tapi hal inilah yang akhirnya menjelaskan kenapa Kanaka selalu punya mode survival.
Kekurangan Keterbatasan halaman membuat banyak detail hilang dan seolah dipaksakan. Seperti fakta-fakta terungkap yang justru Jef yang menyampaikan ke Kanaka. Tidak ada komunikasi deep dan mendalam dari Kanaka dan Erlang. Padahal seharusnya ada supaya eksekusi takdir yang menjerat keduanya bisa dikatakan benar-benar hilang.
Kemudian konfrontasi yang diterima Kanaka baik dari Bibi maupun Rajata seolah terlalu tergesa-gesa. Tidak ada pembangunan pondasi untuk sampai puncak emosi Kanaka. Tapi bisa saja memang realita kehidupan sehari-hari seperti itu. Kebanyakan memang seperti itulah hubungan keluarga.
Untuk membahas cerita sekompleks ini, 206 halaman itu kurang.
Berhasil jadi buku yang bikin pembacanya menghembus napas sambil tersenyum di akhir halaman. Aaak, sukaaa!
Menurutku ini sebuah cerita yang lengkap kalau kamu suka dengan cerita keluarga, investigasi kasus, kisah cinta yang tak bertemu, juga tertarik dengan warisan kuliner nusantara, aku sarankan kamu baca ini juga.
Lawar plek adalah makanan khas daerah Bali yang sekaligus jadi comfort food-nya Kanaka. Namun, siapa sangka makanan tersebut menjadi tragedi yang menjebloskan Bapak ke penjara.
Semakin sadar, Indonesia bukan hanya kaya dengan sumber daya alamnya, tapi kulinernya juga patut dibanggakan. Penulis berhasil ngenalin lawar ke pembaca, mulai dari bagaimana makanan itu diolah dan terhidang di meja makan, hingga bagaimana lawar menjadi obat rindu bagi orang-orang yang rindu akan kampung halaman.
Aku suka dengan alur cerita di buku ini yang super page turner, jadi bisa banget untuk jadi bacaan sekali duduk.
Sempet kesel sama karakter Rajata yang lemah dan manja, tapi menjelang akhir malah di-roasting sendiri sama penulis. Haha. Kanaka juga yang kecintaan banget sama mantan pacarnya akhirnya berhasil menemukan cara untuk berdamai setelah 2,5 tahun berpisah.
Dari Kanaka, kita diajak untuk belajar menghadapi masalah dan menyelesaikannya, karena menghindar bukan solusi dan hanya akan membuat dendam membara. Memaafkan dan meminta maaf adalah perkara yang berbeda. Tak peduli orang tersebut menyesalinya atau tidak, tugas kita adalah memaafkan agar hati kita lebih lapang. Ah, deep!
Dan, bener aja, gak semua makanan daerah bisa ditemukan di daerah lain, kadang untuk menikmati kembali dengan cita rasa otentik, caranya adalah dengan... pulang.
Ide ceritanya bagus. Aku jadi banyak mencari tahu tentang kuliner-kuliner Bali, sekaligus belajar memahami sudut pandang seorang anak yang sempat salah memahami kondisi orang tuanya dan prosesnya berdamai dengan masa lalu. Jujur, aku suka sekali keseluruhan ceritanya. Hanya saja, secara pribadi aku sempat agak sulit sepenuhnya terhubung dengan salah satu tokoh kunci karena penggambarannya terasa sangat idealis dan profesional. Mungkin ini dipengaruhi oleh asosiasiku terhadap realitas yang sering kulihat saat ini, sehingga ada sedikit benturan antara dunia fiksi dan persepsiku sendiri. Aku sadar ini sangat subjektif, tetapi cukup memengaruhi pengalaman membacaku.