Kebanyakan buku motivasi mendorong kita untuk melampaui batas. Teman imaji mengajak kita untuk menghargai batas. Kebanyakan buku islami mendikte kita untuk melaksanakan syariat. Teman Imaji membuka hati kita untuk memahami hakikat. Kebanyakan buku cinta mengeksploitasi kegalauan hati agar menarik. Teman Imaji menyentuh jiwa tanpa jatuh pada melodramatik. Kebanyakan buku roman mendefinisikan cinta sebagai rasa antara dua manusia. Teman Imaji mengurai cinta sebagai makna antara kita dan semesta. Ada banyak buku yang bercerita tentang perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, kesabaran. Teman Imaji adalah kisah tentang semua itu - juga tentang kebenaran dan kejujuran.
Teman Imaji, sebuah karya yang jujur dan manis. Inti dari buku ini adalah pelajaran tentang kesyukuran, keikhlasan, kejujuran, kebenaran, dan kebahagiaan. Tak perlu menjadi besar untuk jadi hebat, kecil tak apa asal bermanfaat.
Buku ini menyelipkan pesan-pesan kehidupan melalui dialog antar tokohnya. Alur ceritanya ringan tapi makna dan pesannya sampai. Hmm meskipun ada sedikit pernyataan yang aku kurang setuju. Tapi lebih banyak setujunya. Aku merasa Kica seperti nyata. Terima kasih Kica untuk pembangkit semangat tenaga cintanya. Dalam karya yang hebat terdapat cinta yang kuat. Pesan buat Kica: Kica jangan terus-terusan minum es teh manis, aku cuma takut kamu kena diabetes, hehe.
Hujan selalu membawa pesan, hujan selalu memiliki makna yang dalam. Hujan adalah kebalikan, dingin di kulit tapi hangat di hati. Kadang hujan menjebak kita sendirian, membuat kita merasa sepi. Tetapi di saat yang sama, kita merasa berisi karena utuh bersama diri sendiri. Hujan membuat kita basah kuyup, tetapi jauh di telapak jiwa, luar biasa teduh. Salam anak kota hujan!
Novel mengenai impian, kebahagiaan, dan kasih sayang. Menceritakan Kica, perempuan unik yang menjadikan menulis sebagai tujuan hidupnya. Menceritakan Banyu, laki-laki, putih di luar bening di dalam, yang menjadikan Kica sebagai cahaya hidupnya. Ini adalah kisah seorang anak ingusan dan teman imajinya.
Unik banget. Itu kesan pertama yang muncul di kepalaku setelah aku selesai membaca novel ini.
Unik karakternya. Kica adalah seorang yang menulis. Dia tak ingin dikatakan penulis, bila penulis itu artinya seorang yang menjadikan terbitnya sebuah buku sebagai tujuannya menulis. Kica, hanya ingin, menulis. Yup. Sedangkan menulis itu dekat sekali kaitannya dengan sastra. Kau tahu sastra bukan? Sebagian orang mungkin akan merasa keberatan dengan sesuatu yang berbau sastra. Bahasanya. Bentuknya. Semuanya. Tak semua orang mengerti akan sastra. Lucunya, sastra ini tak hanya dibawa Kica dalam dunia tulisannya, sastra ini Kica bawa ke dunia nyata. Pantas bila banyak yang menganggapnya aneh. Aneh lagi, ternyata Banyu paham tiap kata yang dikatakan oleh Kica.
Unik bahasanya. Bedasar karakter Kica di atas, wajar bila setiap waktu dia sering mengatakan banyak hal dengan cara menganalogikan, mendongenkan, dan mengiaskan maksud yang ingin ia sampaikan. Itu unik. Bahkan, dengan cantiknya, ada satu sub-bab yang mengambarkan prosesi Banyu melamar Kica dengan berbalas pepatah. Iya, pepatah dalam bahasa Indonesia. Banyu menyampaikan pepatah, Kica mengartikan pepatah tersebut. Itu lucu, haru, dan pastinya unik banget.
Unik plotnya. Sedari awal cerita, kita disuguhkan pemikiran Banyu yang selalu mencari Kica, tetangganya di Kota Hujan, Bogor. Namun, tak ada satu pun kisah, bagian, cuplikan, yang menceritakan secara gamblang pengalaman Kica dan Banyu di masa kecil. Suatu rahasia yang selalu kita cari ketika membaca halaman demi halaman buku ini. Sampai akhirnya, kita tiba pada penghujung cerita, epilog. Di sana diceritakan secara gamblang kisah perjalanan Kica dan Banyu kala masih belia. Dan ternyata, kisah ini adalah benang merah dari apa yang selalu membuat Kica dan Banyu saling mengerti satu sama lain. Ketika membacanya, aku merasa menerima sebuah hadiah kejutan yang malah membuat aku ingin membaca buku ini lagi dari awal.
Benar perkataan Teh Uti, sang penulis, perjalanan menulis Teman Imaji berlangsung sepanjang hidup. Maka, kita akan merasakan bahwa perjalanan membaca Teman Imaji pun sepanjang hidup .Benar lagi perkataan Teh Uti bahwa kisahnya seratus persen fiksi, tetapi idenya seratus persen nyata. Ini bukan novel fiksi, ini novel kehidupan. Begitu aku menyebutnya. Terlalu banyak hikmah kehidupan yang aku dapat hingga tak tega mengatakan ini fiksi belaka.
Sayangnya, novel unik ini tak lagi dijual di mana-mana. Aku pun hanya dapat meminjamnya dari seorang kawan. Jika Teh Uti dan rekan-rekannya berkenan untuk mencetaknya ulang, sudah pasti aku akan dengan cepat membelinya. Semoga.
This entire review has been hidden because of spoilers.
penulis : mutia prawitasari @prawitamutia 430 hlm 5/5⭐️
juara! menangkan!✨ buku ini masuk kategori buku yang akan aku buka lagi suatu hari nanti, mungkin bukan membaca ulang seluruhnya.. tapi membaca ulang bagian2 yang udah aku tandain itu.. 🫶🏻
kalo aku diminta mendeskripsikannya, ini adalah tipe buku yang COCOK jadi bacaan yg tenang, pas lagi weekend.. istirahat dirumah, musim hujan, sambil minum teh hangat, dan dibaca tidak terburu-buru. kebayang yah… ✨adem✨ nya?? 🌧️🍵🛋️
covernya itu bener2 menggambarkan isi buku ini seutuhnya. tenang, mengahangatkan💯
kata Kica, “ternyata didunia ini emang ada. orang yang bisa memahami apa yang nggak kita katakan dengan baik. orang yang bisa mengatakan dengan baik apa yang nggak kita pahami. orang yang bahkan bisa memahami apa yang nggak kita katakan.”
begitulah sosok Banyu bagi Kica. Kica gadis unik yang hobinya menunggu hujan, menulis puisi, berbicara dengan istilah2nya sendiri, menarik sekali!pertemuannya dengan Banyu di stasiun saat menunggu hujan, mengingatkan Kica tentang Teman Imaji nya waktu kecil.
buku ini bercerita tentang makna yang menciptakan seni, menyisipkan tema islami tanpa menggurui, menunjukkan kesungguhan anak2 ke orang tua dalam berbakti, mengenalkan kita bahwa bentuk cinta yang utuh itu harus setiap hari.. “yang dulu, yang sekarang, yang besok.”🤍
sebenernya banyak banget yang bisa didiskusiin tentang buku ini ya, tentang tokoh2nya, dialognya, gaya penulisannya, rangkaian katanya, moral value nya, SEMUANYA SERAPIH DAN SEBAGUS ITUU! FOR REAL📌💯
walaupun pas awal baca aku agak “aduh ini bahasanya kenapa dramatis bgt” tapi makin lanjut aku makin tenggelam.. tapi gaboleh terhanyut! nanti gabisa kembali, kata Kica🫶🏻
ga ngebosenin, dialognya banyak, dan banyak juga dialog yang berasa kayak lagi deeptalk🫠🫶🏻ada love triangle nya yg berhasil bikin pembaca bimbang mau pilih yg mana😭🤌🏼favorit ku bagian Kica yang berhasil keluar dari zona nyamannya!! kamu keren Kica!
saya ingin punya bacaan ini. dengan bantuan seorang teman, saya pun mendapat kesempatan memesan. terima kasih ya, atas bantuannya. sungguh, terimakasih sekali :) buku pun datang. saya terjebak bahkan terhanyut saat membaca Teman Imaji. buku ini istimewa. kenapa? buku ini sarat akan makna. dialog-dialog dengan antar tokoh dalam Teman Imaji menjadi ciri khas yang unik. saya suka. banyak hal yang saya temukan dan renungkan. menemukan jalan, jembatan, tujuan, kebahagiaan, ketulusan, kedamaian, keutuhan, perjuangan, perjalanan, sikap sholeh, birrul walidain, dan tentunya baju kejujuran. penulis mengenalkan istilah-istilah unik dalam cerita Teman Imaji. banyak juga pesan moral yang disampaikan penulis melalui buku ini yang saya temukan. kalau tidak salah ingat, ada typo di redaksi. tapi tak sampai mengurangi keindahan cerita sedikit pun. kalau ala Kica versi saya,
Review buku Teman Imaji Bagaimana rasanya ketika bertemu dengan seseorang yang bisa menerima juga memahami kita apa adanya? Apalagi sikap kita yang terbilang unik diantara manusia lainnya? Rasanya seperti "teman imaji", "seseorang yang seharusnya tak menjadi nyata". . Ya, itulah yang dirasakan Kica. Anak kota hujan yang bertemu kembali dengan teman imajinya, Banyu. Awalnya ia hanya seseorang yang dianggap aneh oleh lingkungannya karena hanya suka hujan, nyanyi dan menulis puisi di buku common place yang selalu ia bawa. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Banyu saat menunggu hujan, dan disanalah awal mula hidup Kica banyak berubah. . Baca Teman Imaji rasanya amat sangat menyenangkan. Karena ini adalah buku yang aku inginkan sejak 2017, tapi karna sudah tidak cetak ulang otomatis harus cari kesana kemari. Berkat bantuan koneksi kakak yang bejibun, dapat juga buku ini 💓 Novel ini terbilang unik, karena ada original soundtrack yang dinyanyikan penulisnya sendiri ❤️ juga menceritakan tentang anak yang unik, dialog antar tokohnya juga menjadi ciri khas teman Imaji. Gak akan bosen deh bacanya, karena emang kebanyakan isinya percakapan semua, tapi juga diselipkan pesan-pesan kehidupan dalam dialognya. Alur ceritanya yang ringan sehingga pesan dan makna yang nya sampai. Pokoknya buku ini unik, mulai dari karakter, bahasa sampai plotnya juga unik hha Beberapa istilah unik di novel ini. Seperti; JJGJ, JJJ, Kotatsu, baju kejujuran, janji pelaut 😂 tapi entah kenapa aku suka, karna itu unik. Kalo kata Kica, "Buku ini Juara! Menangkan!" Novel ini tuh gimana yaa, bukan novel islami tapi sarat akan nilai-nilai Islamnya ❤️ jadi kesannya nggak menggurui. Kisah cinta nya tidak menye-menye, justru mengajak pembacanya untuk cinta kepada keluarga, cinta kepada pada mimpi. Cinta kepada tujuan. Cinta kepada sahabat dan teman-teman. Cinta yang luas. Bahkan juga tentang cinta pada-Nya. Btw endingnya juga unik, bagaimana Banyu melamar Kica dengan berbalas pepatah dalam bahasa Indonesia. Banyu menyampaikan pepatah, Kica mengartikan pepatah tersebut. Itu lucu, haru, dan pastinya unik banget. 🥺 Oiya, siapapun bisa baca buku ini. Tidak harus orang dewasa, bahkan remaja juga cocok bgt baca ini. Karena ya itu tadi, vibes buku ini sangat positif sekali memandang kehidupan. - "Hati manusia bukan piala untuk dimenangkan, apalagi diperebutkan. Hati manusia adalah gembok yang menunggu dibuka. Setiap hari…" "Bermimpi itu seperti menggenggam pasir di tangan. Kalau terlalu lembut, dia akan lepas. Kalau terlalu keras, juga akan lepas." hlm. 192 "Kita tidak memilih. Kita tidak dipilih. Tapi kita dipilihkan. Oleh Allah, Maha pembolak-balik dan penjaga hati yang sesungguhnya. Hidup manusia hanya sementara. Hidup keluarga itu selamanya." hlm. 364
perfekto! fix ini buku favorit kedua setelah Sirkus Pohon. ini menarik banget. kalau biasanya penulis yang gue komen karyanya ngalir banget kayak air terjun itu Fahd, waduh, gila sih ini apa dong? knock up stream yang ke skypiea kali ya.
super duper jatuh hati sama tokoh-tokohnya, alurnya, gaya bahasanya. suka banget ya Allah monangeesss. tipe-tipe buku yang ga bakal ngebosenin dibaca ulang. bertabur quote yang selain relate banget, medsos-able banget. fiksi yang seakan nyata. berasa jadi penonton yang hadir langsung di sekeliling mereka. ini seru banget. walaupun cenderung bisa ditebak, kisahnya bukan yang anti-mainstream juga, tapi entahlah, rasanya pipi ikut merona, hati ikut berdebar, dada ikut bergemuruh karena cuplikan-cuplikan kisah si teman imaji ini. malah ada juga yang diajak nangis bareng, haru banget bagian itu.
sayangnya, baik edisi cover pertama dan kedua sama-sama kurang eyecatching dibaca. kurang rapi cetakannya, ada yang miring-miring, font tulisan tergolong kecil, serasa baca jurnal gitu satu halaman tulisannya banyak. ini yang awalnya bikin males baca walaupun udah dibeli berbulan-bulan, ehe. di awal baca iseng doang robek plastik, buka-buka sedikit, menuntaskan penasaran di tengah malam. satu halaman, dua halaman, tiga, empat, tujuh, sepuluh, tahu-tahu udah mau subuh. jatuh. hati gue jatuh, wkwk. luar biasa. langsung setelah itu malah gamau cepet-cepet abis, sayang banget sama cerita dan tokoh-tokohnya. aslik!
ceritanya unik, tentang anak yang super unik. bahasanya unik, percakapan-percakapannya unik. kalau kangen sama gimana rasa kasmaran, wajib baca buku ini deh. nggak bucin, jauh panggang dari api. meaningfull. khususnya buat gue, Teman Imaji menggerakkan; membaca, menulis, bercerita. hal-hal yang sebetulnya kesukaan gue, tapi belakangan ini menguap pelan-pelan, memudarkan diri, terabaikan. dua rius!
ditulis dengan sadar dari hati terdalam, dari anak Kota Hujan juga, barakallah!
Saya hanya butuh waktu kurang dari 24 jam untuk menamatkan isi buku ini. Ajaib! Terima kasih kepada sinyal buruk di kampung nun jau di mato, jadi saya punya waktu banyak untuk menyelesaikan bukunya. Heheheu
Saya mengetahui buku ini dari Yunus Kuntawi Aji yang rajin sekali post quotes Teman Imaji. Dan buku ini saya dapatkan melalui pre order yang ke 4. Akhir Juni 2015.
Pertama kali melihat covernya, saya bergumam "ini lucu amat covernya, pasti banyak cerita masa kecil nih" Dan saya salah. Oke gak salah banget sih. Karena asal mula ceritanya memang dari masa kecil dua anak lucu, Kica dan Abi. Yang ternyata... Ah sudahlah baca saja sendiri. Tak heran Uti menyebutnya "Sebuah Film Pecah" karena memang dalam buku ini, tidak hanya berupa sebuah novel-perdana-yang-sungguh-apik, tetapi ada juga kumpulan lagu dan lagu-lagu tersebut dapat didengarkan melalui soundcloud.
Uti berhasil membuat hati saya mencuat keluar, ikut berbahagia saat Kica bahagia, dan ikut sedih ketika Kica sedang bersusah hati. Banyak yang mengatakan gaya menulisnya mirip Perahu Kertas -Dee- walaupun saya belum baca yang itu, tapi saya suka sekali dengan cara Uti menyampaikan pesan-pesannya melalui percakapan ringan sehari-hari. Lay outnya pun cukup nyaman, ilustrasinya yang menarik membuat saya tersihir untuk segera menyelesaikannya.
Dan poin terpentingnya adalah, Uti selalu menyisipkan ayat suci Al-Quran pada pesan-pesannya. Kita semacam diajak untuk membuka kembali mushaf Al-Quran terjemah dan memaknainya kembali. Juara!
Saya merekomendasikan buku ini kepada mereka yang sedang dirundung duka nestapa, menunggu untuk ditemukan, atau yang sedang mencari-cari dimana hei duhai sang jodoh berada. :P
Selamat Uti, terima kasih untuk sebuah karya yang tak hanya juara, tapi ia juga menggerakkan. Salam! :)
As far as I read this book, it's gonna be one of the best I've read
And indeed, benar-benar menjadi salah satu yang terbaik. PECAH. Untuk sebuah karya pertama, novel ini sangat menyenangkan. Gaya menulisnya mengingatkan saya pada Perahu Kertas-nya Dee Lestari, mengingatkan pada Kugy yang juga 'aneh' tapi senang menulis karya yang maha. Juga cinta pada seorang sahabat, kalau bisa dibilang begitu.
Buku ini sudah masuk daftar buku yang harus dibaca dua kali karena saya kali ini nggak bawa sticky notes yang biasanya saya pakai untuk menandai kalimat-kalimat yang saya suka dalam sebuah buku, next time for sure soalnya banyak banget kalimat yang... ngena di hati tapi nggak sempet ditandai atau ditulis di tempat lain.
Satu hal yang saya sesali adalah...Adit. Kasian loh.. Jadi dia begitu saja?
Yaa... intinya...5 stars!~~ Hei kamu, sini baca buku ini.
Kica: perempuan paling beruntung di balik segala keanehannya. saya sangat tertarik dengan ritual tanggal 01 setiap bulan dengan buku merahnya. Buku #Tentang. Istilah-istilah unik seperti kosatsu, untuk menawarkan pilihan, baju kejujuran, dan banyak sekali analogi dongeng yang filosofis.
Banyu: pria penuh kejutan yang sangat pantas 'ditunggu'. dia banyak meninggalkan keanehan yang diingat Kica meski sepotong-sepotong seperti, #janji pelaut!, #pangeran semut, dll.
Adit: setiap orang punya kesempatan berubah. menjadi lebih baik meski harus dibayar dengan mahal.
dan semua yang ada dalam novel ini JUARA. novel ini benar-benar jujur dalam bercerita, punya ciri khas dalam menyajikan alur cerita (bab pepatah misalnya, itu unik sekali).
pokoknya, terima kasih sudah menulis sekenyang ini Mbak Uti ^^
juara! baju kejujuran, janji pelaut, jjgj, common place, 3tiga yang bahaya, jembatan dan jalan.. ahhh sebelum baca buku ini, gak ngerti banget sama istilah2 diatas. setelah baca malah jatuh cinta. sungguhan masuk list buku yang tiada penyesalan setelah dibaca :") karya selanjutnya kak Uti, menangkan! :D
Review buku Teman Imaji Bagaimana rasanya ketika bertemu dengan seseorang yang bisa menerima juga memahami kita apa adanya? Apalagi sikap kita yang terbilang unik diantara manusia lainnya? Rasanya seperti "teman imaji", "seseorang yang seharusnya tak menjadi nyata". . Ya, itulah yang dirasakan Kica. Anak kota hujan yang bertemu kembali dengan teman imajinya, Banyu. Awalnya ia hanya seseorang yang dianggap aneh oleh lingkungannya karena hanya suka hujan, nyanyi dan menulis puisi di buku common place yang selalu ia bawa. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Banyu saat menunggu hujan, dan disanalah awal mula hidup Kica banyak berubah. . Baca Teman Imaji rasanya amat sangat menyenangkan. Karena ini adalah buku yang aku inginkan sejak 2017, tapi karna sudah tidak cetak ulang otomatis harus cari kesana kemari. Berkat bantuan koneksi kakak yang bejibun, dapat juga buku ini 💓 Novel ini terbilang unik, karena ada original soundtrack yang dinyanyikan penulisnya sendiri ❤️ juga menceritakan tentang anak yang unik, dialog antar tokohnya juga menjadi ciri khas teman Imaji. Gak akan bosen deh bacanya, karena emang kebanyakan isinya percakapan semua, tapi juga diselipkan pesan-pesan kehidupan dalam dialognya. Alur ceritanya yang ringan sehingga pesan dan makna yang nya sampai. Pokoknya buku ini unik, mulai dari karakter, bahasa sampai plotnya juga unik hha Beberapa istilah unik di novel ini. Seperti; JJGJ, JJJ, Kotatsu, baju kejujuran, janji pelaut 😂 tapi entah kenapa aku suka, karna itu unik. Kalo kata Kica, "Buku ini Juara! Menangkan!" Novel ini tuh gimana yaa, bukan novel islami tapi sarat akan nilai-nilai Islamnya ❤️ jadi kesannya nggak menggurui. Kisah cinta nya tidak menye-menye, justru mengajak pembacanya untuk cinta kepada keluarga, cinta kepada pada mimpi. Cinta kepada tujuan. Cinta kepada sahabat dan teman-teman. Cinta yang luas. Bahkan juga tentang cinta pada-Nya. Btw endingnya juga unik, bagaimana Banyu melamar Kica dengan berbalas pepatah dalam bahasa Indonesia. Banyu menyampaikan pepatah, Kica mengartikan pepatah tersebut. Itu lucu, haru, dan pastinya unik banget. 🥺 Oiya, siapapun bisa baca buku ini. Tidak harus orang dewasa, bahkan remaja juga cocok bgt baca ini. Karena ya itu tadi, vibes buku ini sangat positif sekali memandang kehidupan. - "Hati manusia bukan piala untuk dimenangkan, apalagi diperebutkan. Hati manusia adalah gembok yang menunggu dibuka. Setiap hari…" "Bermimpi itu seperti menggenggam pasir di tangan. Kalau terlalu lembut, dia akan lepas. Kalau terlalu keras, juga akan lepas." hlm. 192 "Kita tidak memilih. Kita tidak dipilih. Tapi kita dipilihkan. Oleh Allah, Maha pembolak-balik dan penjaga hati yang sesungguhnya. Hidup manusia hanya sementara. Hidup keluarga itu selamanya." hlm. 364
Juaraaa!!! Cerita yang sangat sederhana, tapi luas dan dalam maknanya. Banyak hal kecil yang dingatkan. Bukan tentang teman khayalan. Teman maya. Tapi teman untuk berkhayal. banyak percakapan2 gemas disini... Cerita tentang Kica yang punya dunia sendiri, bukan, bukan karena ada kelainan, tapi memang dia ngga seperti orang kebanyakan. Kica yang unik
Banyak orang yang menganggap aneh seseorang hanya karena dia berbeda, ngga seperti orang kebanyakan. Padahal yang dia lakukan itu, benar. Nah, ini, Kica ngga takut untuk dianggap aneh. Juara!
Karena itu, karena Kica apa adanya, makanya dia dipertemukan dan didekatkan justru sama orang -orang yang baik, tapa perlu usaha yang dibuat-buat. Dengan orang yang justru bisa lebih mengerti apa yang dia belum mengerti. How envy!
Ada pesan dari bubu: cara berterima kasi terbaik adalah dengan mendoakan, cara mencintai terbaik adalah dengan memaafkan. Ikhlas…..Cara untuk bahagia? Berbagi. Ikhlas lagi
Pesan lain dari bubu: jodoh itu rumit, yang seagama belum tentu seiman, yang seiman belum tentu setujuan, yang setujuan belum tentu sejalan.... Dari situ, jodoh itu tidak hanya memilih, tidak dipilih. Tapi dipilihkan, oleh Allah, maha pembolak-balik hati dan penjaga hati yang sesungguhnya. Baru dari situ, kita bisa memilih...
Ohiya, Ada beberapa gagasan yang gue suka dari penulis ini. Tentang batasan, jadi bersyukur kita diberi banyak batasan. Tentang konsep 'most people lebih suka menjadi tamu istimewa di tempat lain, dibanding mengembangkan tanah kelahiran sendiri'.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Membaca buku ini rasanya seperti ngobrol dengan sahabat lama. Riuh tapi hangat. Ceritanya sederhana tentang perjalanan anak kota hujan semasa kuliah di kampus kuning di Depok, tapi rasanya ada banyak pelajaran yang bisa didapatkan dari penulis. Kita banyak belajar dari kisah Kica, Adit dan Banyu (dan adiknya). Novel ini sarat akan nilai-nilai keluarga, persahabatan, penerimaan diri dan juga tentang cinta. Cerita paling membekas tentu ketika Kica diajak JJS oleh Banyu dan diajak ke pentas adiknya. Juga ketika Kica membelikan kerudung untuk sahabatnya. Terima kasih Kak Mutia telah menuliskan kisah indah ini :)
Teman Imaji ini buku yang sangat mengesankan. Membaca buku ini membuat kita benar benar berimaji menjadi Kica dengan segala hal unik dalam dirinya. Paling berkesan sama tulisan tulisan Kica, dongeng dongengnya Kica, dan pesan pesan dari ibunya. Simple tapi dalam dan membuat kita berpikir tentang fenomena sehari-hari di sekitar kita. Salah satu quote favorit:
"kepintaran yang sesungguhnya bukan di kepala, kekuatan yang sesungguhnya bukan di otot, kepintaran dan kekuatan sesungguhnya itu ada di dalam hati"
Buku ini buku yang sudah ku baca kesekian kalinya. Entah kenapa alur nya selalu membuatku tenggelam. Setiap rincian kejadiannya berasa dekat, juga pada setiap makna dan pelajaran nya membawa nilai nilai islami yang membuat makin menyadari arti cerita sebuah kerikil. Terimkasih mbak uti, buku nya bagus banget, menjadi teman imaji di kala menunggu hujan dengan secangkir teh hangat✨🌻
Semuanya mengalir begitu saja saat membaca buku ini. Membuat saya yang awalnya tidak paham dengan alur dan kata-katanya, menjadi tenggelam lalu hanyut dengan sendirinya. Sederhana dan bijak. Ringan dan manis. Kica dan Banyu yang akan selalu terkenang :)
Suka banget sama buku ini 😭 pemilihan diksinya ga biasa dan ga ngebosenin. Kisah Kica dan Banyu yang sebenarnya mungkin banyak ditemukan di buku lain, tapi teh Mutia mengemasnya dengan berbeda dan unik, menasihati tpi tidak menggurui melainkan dengan cerita-cerita yang menghangatkan hati 💙
Buku ini...juara! Cerita yang disajikan sangat menarik, mengalir, mudah dicerna, dan diksi2 dalam pesan-pesan yang ingin penulis sampaikan tertata dengan begitu elegan. Ini buku cocok untuk kita2 yang ingin terus memperbaiki diri.
saya membaca buku ini sampai selesai hanya membutuhkan waktu kurang dari sehari, saya hanyut. saya menemukan semangat baru dan kepercyaan diri setelah membaca ini