Tristan dan Athina tahu satu hal tentang keluarga mereka: semuanya sudah lama hancur. Orangtua mereka menikah saat masih tujuh belas tahun. Terlalu muda dan rapuh untuk bertahan.
Setelah Mama pergi, Papa harus membesarkan Tristan dan Athina sendirian. Athina dipaksa tumbuh terlalu cepat, menjadi figur ibu bagi adiknya. Sementara Tristan justru menolak menjadi dewasa—seperti Peter Pan yang lebih suka membuat kekacauan daripada menaati aturan Papa yang keras.
Tristan bermimpi kabur dari Papa yang galak dan tinggal bersama Mama. Athina ingin menjadi anak yang sempurna agar Papa akhirnya melihatnya.
Ketika Mama tiba-tiba ingin kembali ke hidup mereka, Tristan dan Athina dipaksa menghadapi luka lama keluarga mereka dan memikirkan kembali mimpi masing-masing sebelum kehilangan hal paling berharga dalam hidup mereka.
Sebagai penggemar Peter Pan, Taylor Swift, Gilmore Girls (dan banyak referensi lain yang saya temukan di cerita ini) serta sebagai anak perempuan pertama dari orangtua yang juga sudah bercerai, this story hits too close to home :').
Saya selalu menikmati cara bercerita Kak Adelina Ayu yang santai dan mengalir banget! Makanya, sejak baca The Name of The Game, saya langsung kepincut dan ngabisin cerita-cerita lain yang sudah diterbitin, termasuk langsung PO buku ini waktu tahu ternyata naik cetak :D.
Saya suka banget sama karakterisasi cerita Kak Adelina yang selalu kuat. Seperti di buku ini, saya merasa benar-benar mengenal Tristan dan Athina--kepribadian, konflik batin mereka, dan termasuk, apa arti "Neverland" bagi masing-masing mereka. Saya juga suka karakter sampingan lain seperti Papa, Opa dan Lexie!
Setiap konflik dalam buku ini juga disampaikan dengan baik, dan yang bikin saya sangat amat tersentuh sampai berkaca-kaca adalah adegan Tristan sama Papa di RS! :"). Saya juga suka sama penyelesaian berbagai konflik di cerita ini yang cukup realistis.
Namun, menurut saya, hal yang cukup mengganggu adalah terlalu banyak referensi yang diucapkan karakter-karakter di sini. Terutama misal, tentang Peter Pan, Taylor Swift, Gilmore Girls yang setiap karakter di sini tiba-tiba tahu dan nyambung aja gitu setiap ada yang nyeletuk tentang referensi tersebut. Padahal di dunia nyata, dalam percakapan normal, belum tentu sepertinya orang yang saya ajak omong tahu siapa itu Lorelai Gilmore atau tahu cerita dibalik lagu All Too Well-nya Taylor Swift. (Walaupun saya suka, tapi kadang menurut saya agak mengganggu dan membuat karakter-karakter ini jadi less real wkwk).
Dan alur cerita Athina-Alarik itu... Rory Gilmore sama Logan Huntzberger banget! :") Bukannya saya protes ya, karena memang itu ship favorit saya di Gilmore Girls juga, cuma terlalu banyak kemiripan dari awal mereka kenal sampai ending hubungannya... saya jadi udah bisa nebak akhirnya gimana wkwk.
But overall... oke dan sangat menyentuh sih ceritanya!! Sukaaa!!
p.s senang banget dapat tambahan koleksi friendship bracelet "Eldest Daughter" dari bonus PO buku ini :D
--
"Selalu ada alasan untuk nggak melakukan sesuatu, sekalipun itu sesuatu yang lo pingin dari dulu. Memangnya lo nggak bosan duduk di pojokan terus?"
Another karya kak Ayu yang cakep dan as always, mendekati ending selalu berhasil bikin mataku berkaca-kaca 🥺🫰🏻 jujurly, 𝗽𝗹𝗼𝘁 yang disuguhi kali ini super menarik menurutku. Tema yang diangkat di cerita ini tuh kayak nyess aja gitu rasanya, tentang the eldest daughter and “bad” brother-nya yang sebenernya terluka karena masa lalu orang tua mereka. Aku suka gimana kak Ayu merangkai konflik demi konflik yang gak cuma masalah keluarga aja tapi juga romansa anak muda yang duh tension-nya tuh ngena banget dan makin dibaca makin kerasa tension-nya😭 terus eksekusinya juga cakep banget, ada 𝗽𝗹𝗼𝘁 𝘁𝘄𝗶𝘀𝘁nya kecil-kecilan 🤏🏻 and then 𝗿𝗼𝗺𝗮𝗻𝗰𝗲-nya juga okei menurutku karena pas aja porsinya di tengah konflik keluarga yang angst ini wkwkwk kayak kisah cinta Tristan-Lexie dan Athina-Alarik menarik buat diikuti, gemes iya tapi bikin gregetan juga! Seru deh pokoknya🤟🏻
And then, 𝗮𝗹𝘂𝗿nya gunain alur maju tapi nanti ada beberapa flashback yang diceritain sama tokohnya✨ Flow alurnya juga enak ngalirnya dari awal sampai akhir, cuma memang untuk pace ceritanya agak mixed ya di aku. Di awal-awal to rasanya a bit too long dan ending-nya malahan kind rushed😞 padahal pace-nya di pertengahan tu enak banget, super pageturner aja gitu tapi emang aku slow banget di awal terus endingnya agak terburu-buru diselesaikan menurutku but overall, alurnya tetep okeilah. Minim jumpy juga pergantian antar scene-nya☝🏻 and then, ini tuh gunain switching POV antara Athina dan Tristan. Jujur, perpindahan POV nya rapi jadi gak buat bingung sama sekali apalagi ada keterangannya juga jadi tinggal enjoy with the flow aja pas baca👍🏻
𝗡𝗮𝗿𝗮𝘀𝗶nya kak Adelina Ayu tuh aku suka! Gaya bahasanya lugas terus rapi juga, perpaduan antara bahasa baku dan non baku juga okei jadi aku enjoy banget selama baca🫰🏻 Showing dan telling-nya termasuk imbang jadi gampang buat mahamin suasana, perasaan tokoh-tokohnya dan latar belakang di cerita ini✨ terus juga switching POV nya mantep sih karena ada perbedaan gaya bahasa dalam menceritakan antara si Tristan dan Athina jadi makin kerasa deket aja dua tokoh utama kita ini, ya seolah-olah kita memahami isi hati serta kepala mereka!☝🏻
Tokoh dan 𝗽𝗲𝗻𝗼𝗸𝗼𝗵𝗮𝗻nya sih paling juara! Aku selalu suka penokohannya kak Adelina Ayu karena gak ada karakter yang 100% benar maupun 100% salah jadi kerasa manusiawinya gitu lho😆 terus switching POV di cerita ini tuh bikin aku melihat perspektif yang berbeda dalam memandang masalah yang sama. Athina dan Tristan bisa punya POV yang berbeda soal papa dan mama mereka, cara mereka mencintai pacar mereka dan lain sebagainya, semuanya itu bisa aku liat dan pahami selama baca ini😎 terus perkembangan karakter mereka juga keliatan dan unik menurutku, Athina dan Tristan punya cara masing-masing dalam menangani masalah mereka dan aku suka sih sama perubahan mereka yang awalnya childish bisa jadi lebih dewasa, somehow heartwarming menurutku!☝🏻 Terus tokoh-tokoh sampingan di cerita ini juga menarik semua, mau itu orang tua mereka yang sebenernya sedih juga cerita hidup mereka dan aku gak bisa nyalahin siapa-siapa ehehe terus Opa mereka juga baik banget, suka deh xixixi😚 gak lupa juga sahabat-sahabat mereka dan lover-nya mereka yang bikin cerita ini makin berwarna karena adanya dinamika persahabatan dan percintaan yang cakep! Love deh💗
Lastly, aku ambil satu 𝗽𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿𝗮𝗻 kalo kita mungkin gak bisa milih lahir di keluarga seperti apa atau luka apa yang harus kita bawa sejak kecil tapi pada akhirnya, kita harus punya pilihan untuk pelan-pelan menyembuhkan diri, berdamai dengan masa lalu, dan membangun hidup yang lebih baik buat diri kita sendiri✨
Overall, it’s a great young adult book dan aku highly recommended this book buat yang suka cerita anak muda yang penuh warna, gak cuma romansa tapi juga keluarga!🫰🏻
Aku sudah baca dari waktu ceritanya masih ada di Wattpad dan GWP. Tapi waktu bacanya sudah lama, jadi tetap terasa baru baca dari awal.
Ada bagian yang sama, ada juga yang beda. Dan aku suka itu. Aku juga suka twistnya, ending ceritanya yang realisitis. Aku juga suka karakter-karakternya.
Sebagai anak pertama dan perempuan, aku merasakan pemahaman pada Athina, si sulung Khevandra.
Novel ini bercerita dinamika keluarga Khevandra yang cukup kacau karena absennya salah satu sosok orangtua, mama.
Papa dan mama MBA, waktu mereka remaja 17/? Tahun. Bisa dibayangkan remaja yang belum mencicipi pahitnya dunia harus punya anak di usia semuda itu. Tentu mereka belum siap mental dan akhirnya sang mama pergi waktu anak kedua mereka, Tristan, masih balita.
Tristan, si bungsu, mengharapkan mama kembali dan merasakan kasih sayang ibu seperti anak2 lain. Namun, Opa, Papa, dan Athina punya trauma kepada mama yang akhirnya melarang Tristan untuk mencari tahu ttg mamanya. Dari kecil Tristan tidak diberi paham mengenai keluarga mereka yang tak sempurna, ditambah sifat papa yang sangat protektif pada Tristan, mengakibatkan anak itu jadi bandel banget.
Yang selalu Papa pikirkan hanya Tristan terus.
Di lain sisi, Athina menjadi dewasa sebelum waktunya. Absennya kepergian mama membuat dia, sebagai anak pertama dan perempuan, merasa mempunyai kewajiban untuk merekatkan kembali hubungan keluarga mereka yg sempet kacau habis ditinggal mama.
Athina selalu ngemong adiknya, membereskan masalah adiknya, memperhatikan dan mengurus papa, dan segala urusan domestik rumah. Bayangkan Tina begitu dari kecil sampai dia kuliah, se-stres apa dia? Makanya waktu ditantang sama Alarik, dia jadi nemu setitik kebebasan.
Di sini tuh aku miris sekali. Karena kenapa perempuan yang harus jadi ngemong segala hal orang2 di rumah? Memangnya papa dan adiknya gak bisa ngurus diri mereka sendiri? Memang, Tristan bilang dia udah besar. Namun, kepercayaan Tina kepada Tristan rapuh karena anak itu pernah buat masalah saat disuruh belanja.
Parahnya lagi, Tina gak diperhatikan sama papa sendiri.
Novel ini juga bisa jadi pembelajaran kalau menjalin hubungan menuju sex bebas, harus dipikir lagi kalau sampai hamil, punya anak itu tidak gampang ngurusnya.
Malah, jika kamu melahirkan satu anak, maka anak itu akan menjadi monster lainnya meskipun kamu mendidiknya dengan parenting bagus sekalipun. Karena, kita gak tahu trauma apa yang bakal menerjang dia di kehidupan nyata.
Aku suka gimana kak Adelina menyusun tali temali plot yang keputusan scene karakter ditentukan dari tindakan karakter tersebut. Tristan, jadi paham mengapa papa begitu protektif padanya. Athina, jadi mulai membuka diri dan komunikasi yang baik dengan keluarga. Dan papa, mendapatkan anak-anaknya kembali.
This entire review has been hidden because of spoilers.