Waktu berutang kepadaku. Tentang jarum jam yang lelah berputar. Tentang cerita yang menggantung. Tentang perjalanan yang belum usai.
Menjadi ilustrator sebuah buku perang membawa Granada Mahari pada petualangan panjang. Saat kehilangan inspirasi untuk membuat gambar buku itu, ia mengalami peristiwa ganjil. Putaran warna yang sangat cepat tiba-tiba saja membuka lorong waktu.
Gadis itu—penderita achromatopsia, buta warna total—tak menyadari bahwa warna-warna itulah yang membawanya ke petualangan tak terbayangkan. Melintas jarak, menembus masa—ke Sarajevo 1993. Di sana, ia mendapatkan inspirasi untuk ilustrasinya, lebih dari apa yang ia inginkan.
Tak hanya inspirasi, Nada pun menemukan warna cinta di lintas masa. Dunia tak lagi hitam-putih atau abu-abu bagi Nada. Membuatnya dilema, apakah ia harus kembali ketika hidup lebih sempurna di lintas masa yang mulai tak asing baginya? Membuatnya bertanya, apakah di sanalah waktu akan menyelesaikan perjalanannya?
Author of some novels. Addicted to book, music, writing, reading, traveling, and backpacking. Fresh graduate of English Literature, Brawijaya University.
Aku bertahan sampai dini hari untuk menyelesaikan novel ini, yang berarti aku sangat menikmati saat membacanya. Nggak masalah dengan karakter tokoh-tokohnya yang kadang menjengkelkan. Karena kupikir nggak ada wanita yang bisa tetap tegar dan berkepala dingin ketika ia sadar bahwa sekumpulan penembak jitu menunggu untuk meledakkan kepalanya di ujung terowongan.
Sebetulnya suasana peperangan dan setting Bosnia punya potensi untuk dikembangkan lebih dari ini tapi nggak masalah. Karena penulis cukup berhasil menuliskan konflik batin tokoh-tokohnya serta menceritakan petualangan seru di Sarajevo. Salah satu bagian favoritku adalah saat mereka melewati terowongan perbatasan Bosnia-Kroasia.
Hal yang paling kusayangkan dari novel ini adalah saat sampai pada penjelasan tentang mesin lintas waktu. Penjelasan yang singkat dan kelihatan remeh tapi sangat mempengaruhi kenyamanan membacaku. Kalau penjelasannya seperti ini, aku lebih suka kalau asal-usul mesin waktu tak perlu dijelaskan. Entah di mana mesin itu ditemukan atau siapa yang memberikan mesin itu pada Pak Harswenda. Atau perpindahan waktu terjadi karena fenomena alam tertentu / sesuatu yang bersifat magis.
Masalahnya, penulis memberi penjelasan tentang penemu mesin waktu yang merupakan seorang guru fisika (tanpa ada keterangan apapun tentangnya). Aku tidak meremehkan guru fisika tapi menurutku mesin waktu tidak akan semudah itu ditemukan hanya dengan mengutak-atik spektrum. Bahkan tidak diceritakan kalau si penemu ini adalah seorang profesor atau ahli fisika modern yang punya lab besar dan sudah menghasilkan berbagai jurnal internasional tentang topik ini (minimal membawakan makalah di depan forum fisikawan). Oke, anggaplah si penemu adalah maniak fisika yang benar-benar genius dan tak ingin mempublikasikan apapun tentang penemuannya dan hanya ingin berbagi dengan teman tentaranya. Tapi tetap saja sebuah penemuan sefenomenal mesin waktu butuh tim, atau teknologi super canggih atau setidaknya dana yang sangat besar untuk menyokong penlitian ini.
Sayang aku gak menemukan hal remeh tapi lumayan penting ini disinggung.
Aku suka endingnya. Rasanya sangat pas menutup cerita ini. Meskipun lagi-lagi ada ketidakkonsistenan pada fungsi mesin waktu di akhir cerita. Mesin waktunya beralih fungsi untuk memundurkan waktu. Sebab kalau mesin itu bekerja seperti sebelumnya, seharusnya Reksa dan Nada akan bertemu dengan diri mereka sendiri waktu itu.
Novel yang beda dan menyenangkan untuk dibaca. Lebih suka ini dibanding Seri Time Travel gagas yang lain tentang 'Kartini'.
Novel dari Tyas Effendi juga dari seri time traveller pertama yang saya baca. Kisahnya cukup menarik dimana ada seorang gadis bernama Granada yang menderita buta warna total, sedang menempuh kuliah dan masih dalam suasana berduka karena ditinggal (mantan) kekasihnya menerima perkerjaan sampingan untuk memberikan ilustrasi pada buku sejarah perang Bosnia yang akan terbit. Untuk melengkapi ilustrasinya Nada harus mencari vas bekas pecahan mortir pada sang penulis buku. Namun saat dia sudah mendapatkan vas, dia menemukan diagram warna dan saat disusun, tiba-tiba Nada berada di tempat yang asing baginya...
Saya selalu tertarik membaca kisah fiktif tentang perjalanan waktu. Menarik. Membuat kita menebak-nebak bagaimana endingnya. Begitu juga dengan novel ini. Alurnya sendiri menurut saya stabil, namun kurang konsisten. Mungkin karena saya berhenti beberapa kali saat membaca novel ini. Endingnya juga agak dipaksakan. Sikap Nada mendadak menjadi egois, padahal sejak awal saya suka dengan Nada. Tokoh lain juga kurang mendapatkan simpati saya. Ada beberapa adegan bila diekspos lebih jauh lagi akan bisa membawa pembaca ikut hanyut, sayang hanya dibiarkan sepintas saja. Lumayan salut buat penggambaran perangnya yang pasti susah dan butuh riset mendalam. Saya juga suka beberapa ide yang unik dari Kak Tyas.
Overall, novel ini ditutup dengan manis walau terasa asing. Ditunggu lagi karya Tyas Effendi lainnya ^^
I kind of like it eventhough some parts make me questioning especially about the time travelling and ending which is a bit forced to be done that way. However so far, I like the setting about Serbia and Malang. It takes me to a city I've never wondered before. :)
Tentang Waktu berkisah mengenai Nada yang suatu ketika melintasi waktu dan mencapai Sarajevo 1993. Ketika itu perang tengah melanda dan dia bertemu Lella serta Reksa di sana. Nada pun mencari cara kembali ke dimensinya di tengah kekacauan perang. Namun, bisakah dia kembali?
Hal yang saya suka dari buku ini adalah temanya yang tak biasa. Bukan cuna tentang time travel, tapi juga tentang latar perang di Bosnia-Herzegovia yang dipilih. Jelas latar tempatnya adalah hal yang unik.
Tulisannya sendiri rapi, seperti karya Tyas Effendi lainnya. Plotnya rapi, meski sejujurnya sedikit dipaksakan dan bagian akhir itu aneh gitu. Sayangnya, suasana perang dan perasaan Nada ketika terjebak di sana itu kurang tergali. Bahkan nasib Lella selepas kejadian itu juga kurang dieksplorasi. Namun, yang paling kurang adalah chemistry Nada dan Reksa. Di antara semua karya penulis, buku ini satu-satunya yang terasa tidak manis. Rasanya seperti terlalu dipaksakan gitu (walau pas adegan di ruang bawah tanah itu bagus). 😅
Oh satu lagi, ending-nya. Nggak puas. Ulasan lengkap (semoga) segera di blog)
Seri Time Traveler pertama yang saya baca. Actually, Tyas is one of my fav Indonesian authors. So, saat tahu Tentang Waktu adalah karya Tyas, saya nggak mikir dua kali buat beli.
Tentang Granada, seorang ilustrator yang ketika tengah menggarap gambar ilustrasi untuk buku non-fiksi berjudul Jejak Perang Bosnia-Herzegovina 1992 harus mengalami perjalanan lintas waktu ke dimensi yang sebenarnya yakni ke Sarajevo 1993. Nada pun akhirnya menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana suasana perang di tempat itu meski sebenarnya, hal itu sama sekali tidak ia kehendaki. Tapi sebuah guci pemberian Pak Hars dengan diagram warna di bawahnya telah membawanya ke dimensi yang lain. Ia kebingungan begitu pun Reksa, pria dari dimensi Sarajevo 1993 yang menganggap Nada gila ketika mendengar kesaksian Nada yang datang dari tahun 2013.
Menarik. Novel Historical-Romance kedua yang disuguhkan Tyas setelah Life After You. Dan sedikit unsur fantasi juga sci-fi. Ah, entahlah. Saya suka karena Kak Tyas mengangkat penyakit achromatopsia yakni buta warna total yang diderita oleh si tokoh utama wanita yang memang belum banyak di angkat oleh penulis lain. Cara bercerita Kak Tyas selalu manis dan mengalir dinamis seperti novel-novel beliau sebelumnya. Saat membaca, timbul banyak sekali pertanyaan dalam benak saya tetapi Kak Tyas pandai meletakan jawaban-jawaban dari setiap pertanyaan saya di part yang berbeda dan sangat pas sehingga pertanyaan saya pun satu-persatu terjawab. Yang menarik lagi dari novel ini adalah karakter Reksa yang ketus dan dingin namun sangat perhatian dan penyayang. Juga sedikit kisah masa lalu Tyas bersama kekasihnya yang sudah meninggal menambah kisah sendu nan haru.
Hanya saja, saya sedikit kurang puas dengan beberapa scene yang harus diakhiri padahal saya masih ingin mendalaminya. Ada kejanggalan lain, yakni di halaman 216 saat Nada mengatakan bahwa Hars pernah bilang destinasi mesin waktu tergantung putaran diagram. Padahal, Nada tengah menyembunyikan sebuah kebohongan mengenai vas tersebut, seperti yang tercantum di halaman 213, "Aku langsung mencarinya begitu aku sampai lagi di dimensi ini. Aku baru tahu kalau beliau dirawat di rumah sakit. Hari itu juga beliau meninggal." Ujar Nada. Lalu, Reksa menanyakan perihal mesin waktu itu dan Nada menjawab bahwa Hars sama sekali tak mengungkit perihal mesin waktu itu dan mungkin saja sudah dimusnahkan. Janggal, bukan? Seharusnya Reksa menyadari bahwa Nada mengatakan hal yang tengah ia sembunyikan dan meminta penjelasan lebih. Hehe dan juga, suasana mencekam ketika perang berlangsung tidak terlalu kentara. But, overall, novel ini sangat menarik untuk dibaca. Memberikan pengetahuan tentang sejarah masa lalu. Finally, saya sematkan 4 bintang.
Unik dan Menarik adalah benar jika disematkan pada buku ini. Gagasan ide yang berbeda dari karya-karya mbak Tyas sebelumnya. Sisi romansa memang masih menjadi inti cerita, namun pengemasan lintas waktu dari 2013 ke 1993 dan di antara situasi perang Bosnia-Herzegovina di Sarajevo Eropa ini yang membuat novel ini istimewa. Tentang perjuangan seorang Granada untuk pulang ke dimensinya (Entah mengapa ingat Interstellar) dan pertemuannya dengan Reksa, Lella dan relawan Indonesia yang berada di Sarajevo.
Tentang teknis, ada beberapa kata yang tidak konsisten di beberapa halaman. Misalkan kebiasaan Reksa memakai kata 'kau', tiba-tiba berubah menjadi kamu di halaman 200 dan mungkin terselip juga di beberapa halaman lain. Lalu, ada penjelasan-penjelasan yang harus saya baca beberapa kali biar lebih mengerti, atau mungkin otak saya yang memang lemot. Entahlah XD
Dan, tentang karakter tokohnya. Granada, yang spesial dari gadis ini adalah, dia seorang ilustrator meski buta warna total (terima kasih untuk tambahan ilmu tentang achromatopsia-nya Mbak Tyas) dan Reksa, dia itu sangat jutek dan (meski Nada hanya bilang kadang-kadang menjengkelkan) tapi saya lumayan sering jengkel sama dia, nggak ada manis-manisnya deh. Tapi kalau Mbak Tyas sengaja bikin karakter yang kayak gitu berarti Mbak Tyas berhasil lah ya? Wkwkwkw..
3,5 bintang untuk novel ini. Saya terkesan dengan twist yang baik di endingnya. Manis dan tak tertebak. Akhirnya kesimpulan saya adalah saya menikmati Time Traveller karya Mbak Tyas. Dan terakhir, sukses ya Mbak Tyas, karya selanjutnya ditunggu :)
Sebelum mengatakan hal-hal menakjubkan di novel ini, izinkan menguliti hal-hal yang mengganjal dulu. Pertama, surat dari Reksa sebelum bab-bab awal, sungguh itu nama kotanya salah ya seharusnya Malang, kok malah tertulis Alang. Kedua, tentang rasa heran saya juga mengenai Reksa lagi yang mana dia dari 1996 kok langsung bisa gitu mainin tab pas dikasihin sama Nada. Dan yang seharusnya saya ngeh dari awal adalah perjalanan Reksa yang langsung tiba di kereta dan duduk dekat dengan Nada, kok cowok itu gak mengenali Nada? Tigal hal itu yang membuat saya menyayangkan novel ini. Untuk hal-hal lain sih saya cukup puas ya, dua buku Time Travel yang saya baca sebelumnya gak sekeren ini (frontal aja ya: Memutar Ulang Waktu-nya Gabriella Chandra dan Days of Terrors-nya Ruwi Meita). Tentang Waktu sungguh keren karena mengangkat kisah perang Bosnia 1993, selain itu pernak-pernik dan drama keluarganya juga apik: Reksa, Lella, dan si toko utama Granada Matahari yang ikut serta ke dalamnya. Pokoknya segala item di novel ini renyah bukan untuk dimakan ya, tapi dibaca. Hehehe. Review lengkapnya nanti di blog aja ya: dedul-faithful.blogspot.com.[Review gak niat hahaha ....]
Pertama-tama, saya mau menyatakan bahwa saya suka sekali sama kovernya! Simpel dan manis. Kedua, saya salut sama Kakak Penulis yang bisa menggambarkan perang Bosnia dengan cukup detail. Saya bisa membayangkan segala yang terjadi pada para penduduk Bosnia yang terjebak di tengah peperangan. Adegan-adegan perangnya juga sangat enak diikuti! Saya sampai gak sadar sudah baca lebih dari 150 halaman dalam sekali baca (karena saya termasuk pembaca yang lamban, sih :P ) Karakternya sangat hidup, terutama Reksa dan Lella. Ketiga, saya dapat banyak pengetahuan juga soal achromatopsia. Wah, jadi begitu ya buta warna total itu. Waduuh... Hehee
Apa yang bakalan lo lakuin kalo lo kembali ke masa lalu yang gak bisa lo pilih dan lo terjebak diantara peperangan?.
Sulit sebenarnya mengisahkan cerita yang dari tema sudah ditentukan oleh penerbit, (ngemeng-ngemeng Gagas sekarang banyak banget ngeluarin series ya, dari #7DadlySins yang belom selesai sampai sekarang Time Series). dan yang gue sesalkan adalah pacenya yang diawal sedikit lambat, kenyataan bahwa sepertinya mba tyas kurang matang menulisnya, entah karena deadline atau cuman gue yang sok tahu, tapi kalo dibandingkan dengan Dance For Two, Novel ini kurang manis.
Banyak pertanyaan yang muncul seperti kenapa mba tyas tidak menuliskan saja tentang masa ketika Nada berpacaran dengan kekasihnya. pasti bakalan lebih bagus, walau di ending ketauan kalo dia 'pergi'..
Akhirnya selesai juga. Novel yang sempat aku tinggalkan karena awalnya mengira ceritanya membosankan. Tapi, aku menyelesaikannya hanya dalam hitungan jam! Ngga bisa berhenti membacanya. Seperti ada yang menuntun saya membuka halaman demi halaman tanpa henti. Saya sangat suka penggambaran mbak Tyas tentang perang di bosnia-herzegovina, real dan mudah di imajinasikan. Saya sangat suka tokoh Bang Reksa. Pria idaman banget, saya jatuh cinta. Saya sangat suka konsep time travel nya, simpel, ngga ribet, pintar. Cuma saya agak merasa terlalu mudahnya cerita ini berujung. Padahal masih pengen baca kalau ada lanjutannya. Sukses ya buat mbak Tyas. P.s. Ini novel mbak Tyas yang pertama saya baca. Mungkin saya akan mulai hunting novel-novel mbak tyas yang terdahulu
Pada novel ini, kita akan diajak melintasi waktu menuju perang Bosnia. Saya sangat salut kepada penulis yang berhasil membangun suasana perang Bosnia. Tentu saja, tidak mudah menulis novel seperti ini karena harus melalui riset yang cukup lama, namun penulis berhasil melewatinya:)
Membaca novel ini, saya seakan ikut terjebak di antara panasnya perang Bosnia. Jantung saya juga ikut berdebar-debar ketika mereka berjalan sembunyi-sembunyi di antara gedung-gedung, takut ada tentara Serbia. Apalagi ketika adegan saat di mana mereka berusaha meralikan diri melalui terowongan, disitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan.
Trigger Warning: depiction of war, body horror (body parts of victims), rape, unwanted pregnancy
CAUTION: MILD SPOILER
Di sinilah saya, pada tahun 2024 Indonesia, membaca buku terbitan 2015 yang berlatar tahun 1993 Sarajevo dan 2013 Malang-Surabaya-Jakarta. Ceritanya pun selesai Juli 2013 menurut catatan di bagian paling akhir. Jadi setidaknya ada jarak sembilan-sebelas tahun antara saya yang membaca ini dengan saat kisah Nada dan Reksa ditulis.
(Seketika teringat kali pertama baca seri ini di tahun terbitnya, dan tahu infonya dari Twitter 🙃)
Saya berusaha hati-hati menulis ulasan ini karena mengangkat topik ethnic cleansing yang terjadi di Bosnia-Herzegovina, jadi tolong ingatkan jika ada yang kurang sensitif. Di buku ini, situasi perang digambarkan cukup detail, dengan ledakan yang terjadi beberapa kali di waktu-waktu tak terduga, jalanan yang berbahaya, hidup tanpa listrik dan air yang layak, juga kekejaman tentara Serbia. Tokoh sampingan di sini diperkosa tentara dan hamil, kemudian melarikan diri ke negara yang lebih aman. Dia dan kakaknya pun akhirnya memutuskan pergi karena sang adik, korban pemerkosaan, memutuskan mempertahankan kehamilannya.
Saya menikmati awal cerita ini, yang dimulai dari riset Nada sebagai ilustrator naskah nonfiksi. Gaya bahasanya—menurut saya—lebih masuk selera dibanding di Dance For Two, menjadi lebih indah untuk diresapi. Saat masuk ke bagian perjalanan waktu, sisi enjoyable-nya menipis, tapi masih lancar diikuti. Di bagian perkosaan itulah saya terhenti dan merenung. Ada dua kemungkinan mengapa keputusan mempertahankan kehamilan itu terjadi.
Pertama, buku ini ditulis ketika sumber tentang Bosnia-Herzegovina di tahun 1993-1995 lebih terbatas daripada sekarang. Saya ingat pertama tahu tentang ini juga dari majalah saat SD dulu. Di sumbernya barangkali hanya mencantumkan apa yang terjadi per se, dari sisi yang terlihat, dan sedikit sekali yang membahas psikologi korban di sana. Lella—adik Reksa—datang dengan keadaan yang sangat menjelaskan bahwa dia baru saja dilecehkan, dan Nada menyambutnya dengan seberondong pertanyaan alih-alih menenangkannya. Dia juga tidak memberitahu Reksa langsung atau mengajaknya diskusi bagaimana cara membantu Lella secepatnya. Saya yakin jika ditulis baru-baru ini, adegan ini pasti akan 180 derajat berbeda.
Sebetulnya, yang membuat saya berpikir ada faktor keterbatasan sumber adalah adegan sebelum itu, yaitu saat Nada tertawa melihat potongan tubuh. Sepertinya itu bisa saja terjadi, tapi bukan kepada tamu seperti Nada melainkan korban perangnya, semacam coping mechanism (?) Saya juga yakin tidak mungkin tokoh utama ditulis menertawakan korban manusia jika tidak ada sumber validnya. Jujur, saya merinding saat baca bagian itu.
Faktor kedua, penokohan Nada dan Reksa berkutat pada bagaimana mereka menjadi enemies-to-lovers. Keputusan Nada, keputusan Reksa, bahkan keputusan Lella menjadi bahan cekcok, entah itu di situasi genting seperti saat kabur dari tentara Serbia, saat ledakan terjadi, saat Lella pulang dengan compang-camping, atau saat Reksa di Malang. Reksa meminta bantuan Nada untuk jangan pergi dan menjaga keluarganya, tapi Nada harus pulang. Reksa ingin pulang ke Sarajevo lagi, tapi Nada mencegahnya. Dinamika Nada dan Reksa seakan tak memberi ruang untuk mengeksplor inner-self mereka yang dapat memengaruhi keputusan interpersonal.
Saya kira mekanisme perjalanan waktunya akan seperti gong di Kota Lama, tapi ternyata penggunaannya tergolong praktikal seperti di Time After Time: memegang vas yang terbuat dari bekas selubung mortir, melepas diska warna yang ada di bawahnya, lalu memutarnya hingga 'klik' dengan spektrum warna yang tepat. Saya suka adanya keterlibatan antara akromatopsia Nada dan pekerjaannya sebagai ilustrator. Namun, jika dihubungkan dengan mesin waktu yang mengantar Nada secara fisik dan dijelaskan dibuat menggunakan ilmu fisika, saya ragu apakah penerapan teori optik saja cukup untuk memungkinkan itu terjadi.
Akan lebih meyakinkan, menurut saya, jika Nada bisa ke masa lalu hanya melalui penglihatan, seakan vas dan diska itu menciptakan jendela untuk diintip. Memang ada keterbatasan, karena awalnya pun Nada hanya membutuhkan referensi ilustrasi, tapi lama-lama Nada mungkin merasa simpati karena selalu mengikuti kehidupan keluarga Reksa (dan mungkin mencari cara untuk berkomunikasi dengan mereka). Pencipta mesin waktu itu ternyata ayah Nada sendiri yang juga mengidap akromatopsia. Lalu bagaimana beliau menyusun spektrum warnanya, dan seperti apa urutannya saat semuanya 'klik'? Mengapa mesin itu hanya bisa mengantar pemakainya ke Bosnia dan Indonesia? Lebih banyak pertanyaan yang muncul dibanding jika dengan hanya disentuh dan memikirkan tujuan.
Istilah 'dimensi' yang dipakai agak membingungkan karena Nada pergi ke masa lalu di linimasanya, tidak bertualang ke semesta alternatif, jadi sebetulnya Nada dan Reksa di Sarajevo masih satu dimensi (?) Begitu juga dengan kata 'epidermis' untuk mengganti kata 'kulit', karena kulit tidak hanya terdiri dari lapisan epidermis. Saya juga belum dapat jawaban mengapa ayah Nada menamai anak-anaknya Granada dan Dharma... apa karena dua kota itu punya takdir yang sama dengan Sarajevo? Kovernya seperti biasa selalu on point, padahal kalau tidak salah desainernya berbeda-beda tiap buku di seri ini.
Bicara soal waktu, sebetulnya saya bisa saja bertemu penulis di tahun 2011 lalu, ketika kami diundang ke acara Story Teenlit Magazine. Sayangnya beliau tidak bisa hadir. Saya ingin membaca karya beliau lagi dengan tema yang berbeda (mungkin seperti di Dance For Two yang mengambil latar luar negeri?) dengan gaya bahasa seperti di sini yang lugas dan elegan.
Jika dari awal pembaca sudah berekspektasi tentang "time traveler" nya, seperti ekspektasi saya, jadi kecewa. Karena menurut saya ini seperti cerita romance pada umumnya. Time traveler cerita ini ibarat cuma sebagai settingan yang mempertemukan tokohnya. Idenya menarik, cuma mungkin saja eksekusinya yang terlalu cepat.
Yang saya suka dari novel ini, deskripsi tentang Perang Bosnia itu dan tentunya untung saja penceritaan Tyas enak dinikmati sampai akhir cerita.
Saya nggak ngerti apa yang salah. Novel romance yang saya baca belakangan ini terasa nggak pas. Bukan berarti nggak bagus. Ide ceritanya menarik, mungkin eksekusinya kali, ya?
Perjalanan lintas waktu memang nggak pernah mudah. Ditambah lagi karakter Granda yang rewelnya minta ampun, saya bisa paham gimana pusingnya Reksa direcokin terus sama Nada. Tapi yah, mungkin yang salah ada pada mood saya.
Novel ini lumayan bisa dinikmati. Cara penulisan mbak Tyas selalu bisa membuat pembaca terbuai dan masuk ke dalam ceritanya. Bukan 'menceritakan' sebuah kisah kepada pembaca, namun 'mengajak' pembaca masuk merasakan setiap konflik di dalamnya. Covernya juga cantik sekali warna dan design-nya. Adegan yang paling saya sukai, saat di ruang bawah tanah, dan menahan beban lemari agar tidak jatuh menimpa Granada akibat serangan mortil, Reksa memberi tahu Granada tentang ada beberapa persen saja keturunan yang ada pada dirinya, *lupa ada keturunan apa saja* hihii itu adegan lucu, dan menurutku bikin hati pembaca juga ikut berdebar-debar seperti Garanada. Ngasih taunya gitu siih, pake deket-deketan sama Granada, bikin envy aja. xP Tapi saya rasa riset tentang perang di Bosnia-nya kurang matang, jadi ada beberapa adegan yang terkesan seperti terburu-buru. Begitupun ending-nya. Jujur saya gak suka ending-nya. Kenapa juga Reksa harus hidup di masa depan, hanya untuk menjodohkan si tokoh utama. Menurutku seharusnya Reksa itu harus ada di masanya. Kenapa mbak Tyas gak buat aja tokoh baru yang bisa dibilang reinkarnasi Reksa di masa depan, untuk dipertemukan dengan Granada dan mengingatkannya dengan Reksa. Seperti itu lebih masuk akal dan lebih menarik menurutku. -_- Sampai saat ini gak rela aja Reksa yang seharusnya ada pada masanya, jadi harus merelakan kuliah, pekerjaan, dan kebersamaan dengan keluarganya demi seorang gadis egois yang ingin membuatnya tinggal bersama di masa depan. Err.. kalau aku jadi Reksa sih aku gak bakalan nurutin permintaan gadis macam itu, datang dari masa depan pula. Tapi konflik perangnya lumayan kerasa laah, walaupun ada beberapa bagian yangg sama sekali biasa saja. Ya itu tadi, mungkin karena risetnya masih kurang. Semoga di novel selanjutnya bisa lebih menarik dan melahirkan ide-ide segar ya, mbak. ;)
Aku sudah selesai membaca buku ini lebih dari tiga kali, seingatku. Buku ini telah menampilkan banyak "warna" yang belum pernah aku temukan di buku lainnya. Tokoh favoritku, sudah pasti, Reksa. Tokoh utama yang menjengkelkan, dingin, sekaligus perhatian membuatku terus "terjun" untuk menyelesaikan buku ini. Ini adalah buku kesekekian kalinya dan bukan buku yang pertama kubaca. Namun, ini adalah buku favoritku yang belum bisa tergantikan hingga saat ini. Latar tempat, alur, tokoh, suasana (I Really amazed how Tyas describe the situation and also the "vibe" in this book), dan setiap elemen di buku ini akan membuatmu "terjebak" bersama Nada dan Reksa.
Jujur saya bukan orang yang hobi membaca, apalagi novel yang hanya sekedar tulisan. Tetapi saya suka cara Tyas Effendi bertutur kata dan membuat alur cerita yang menarik. Buku ini juga memberi wawasan bagi pembaca yang kurang tahu sejarah Perang Bosnia-Herzegovina.
Novel ini memang ada sedikit kesalahan seperti adanya paragraf yang terulang, ending yang kurang lengkap, dan sebagainya...tetapi novel ini adalah novel pertama yang saya baca sampai selesai.
Hmm gimana ya? Aku cukup tertarik begitu baca sinopsis novel ini, begitu juga ketika aku baca bagian awalnya. Tapi makin dibaca ke halaman-halaman berikutnya, aku malah ngerasa kesel. Menurutku alurnya cepet banget pindah. Karakter tokoh-tokohnya pun hmmm. Aku juga ngerasa kejadian-kejadian dalam cerita, nanggung gitu. Sorry to say.
Tentang Waktu, novel yang membawa kita ke suasana Perang Bosnia – Herzegovina tahun 1993 yang cukup mencekam. Suara tembakan, bahkan ledakan menjadi latar dari kisah novel ini.
Tidak hanya tentang setting tempat dan waktu yang istimewa di dalam ceritanya, namun juga kekurangan tokoh utamanya – Nada – yang mengidap achromatopsia atau buta warna sepenuhnya. Dia seorang illustrator. Tapi hebatnya, kekurangan dia bukanlah sebuah halangan untuk terus berkarya. Penggambaran sebagai seorang achromatopsia sangat berhasil diceritakan penulis. Bagian ini, seperti memberiku pengalaman menjadi seorang buta warna.
Pertama kali kisah ini dimulai, saat Nada kehilangan kekasihnya, Arsa. Namun, rasa kehilangan itu kurang berhasil ditransfer kepadaku. Dan, kisah singkat Nada dan Arsa juga kurang diperdalam.
Mungkin, fokus penulis memang pada bagaimana cara Nada bisa melakukan perjalanan antar waktu, perang Bosnia, dan kisahnya dengan Reksa. Kalau begitu, mending nggak usah menuliskan kisah Arsa dan Nada. Biarlah kisah dimulai dengan pertemuan Nada dengan Pak Harswenda.
Novel ini diceritakan dengan POV orang ketiga. Rasanya, aku ingin mendengar kisah tentang ayah Nada dan Pak Harsewenda saat membuat mesin waktu itu, termasuk alasan apa yang membuat ayah Nada begitu semangat membuat alat tersebut. Memang, alasannya sudah sedikit dijawab. Namun, aku sangat ingin mendengar lebih. Sayang, Pak Hars cepat sekali pergi. Aku masih ingin merasakan peran Pak Hars lebih banyak sebenarnya.
Poin bagus dalam buku ini adalah setting, premis, konflik, yang keliatan riset banget. Unik. Ngulik sejarah tentang perang di Bosnia, di tahun 1993, pakai ide lintas waktu, dan dibuat romance. Namun sayangnya, hanya itu. Entah, secara emosional, novel ini justru nggak begitu 'berasa'. Sayang banget. Saya coba bolak-balik baca, nggak dalam 1 waktu, berpikir bahwa mungkin yang salah adalah mood saya pas bacanya, tapi kali terakhir saya berusaha menamatkan, hasilnya tetap sama. Padahal buat novel yang notabenenya unik ini, harusnya bikin deg-degan saat adegan perang, pas harus umpet-umpetan, petualangan Nada-Reksa-Lella, but i didn't get that. Eksekusinya berasa keliatan buru-buru dan sedikit dipaksakan yang berakhir jadi nanggung dan nggak natural di tiap emosi si tokoh. Terus juga..., yang menurut saya poin 'sayangnya lagi' dalam novel ini adalah; sebenarnya saya lebih suka yang ditonjolin sisi petualangannya Nada pada dunia barunya, tapi kalau liat dari judul, tagline dan judul-judul bab di setiap Spectrum rasanya... apa ya. Citra petualangan itu jadi kurang pas kalau pake kalimat-kalimat galau. :') mungkin itu juga salah satu sebab kenapa secara emosional, novel ini jadi nanggung. Jadi, begitu deh. :(
Akhirnya selesai juga baca rangkaian novel time-traveller ini :D favorit saya tetep novel Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta, saya kurang suka dengan deskripsi hubungan Nada dan Reksa, mungkin selera aja kali ya :) setting tempatnya salah satunya di malang jadi mudah sekali buat saya membayangkan tempatnya, saya juga baru tau ternyata satu almamater sama penulisnya hehe overall cukup bagus tapi menurut saya lebih bagus dua buku lainnya, selera aja si :)
Novel yg bagus banget menurut gw, cerita tentang travel time yang berbeda dan jarang banget gw baca buku yang seperti ini. Selama baca novel ini, gw ngerasa bener-bener di situasi perang deg-degan trus sedih juga kebawa alurnya. gw suka banget sama karakternya reksa yang menurut gw gentle banget, walaupun keliatannya cuek tapi sungguh sosok bertanggung jwb. Gw jugasuka bgt sama imagine nya kak tyas, semangat kak buat novel tentang traveltime yg lebih keren lagi:)