Jump to ratings and reviews
Rate this book

Love Fate

Rate this book
Kata orang, pernikahan yang kupunya ini sempurna. Karier kami sama-sama menanjak. Sejak dua tahun lalu, kami mulai tinggal di rumah sendiri. Tak hanya itu, kami pun membekali diri kami masing-masing sebuah mobil untuk bepergian setiap harinya.

Oh ya, kami juga punya dana untuk travelling keluar negeri—setidaknya sekali dalam setahun—dan berkunjung ke rumah Ambu di Bandung atau rumah Bapak serta Ibu Mertuaku di Malang. Hanya satu yang sebenarnya sering kali mengganggu: Keturunan. Lima tahun bahtera ini berjalan, belum juga hadir si buah hati. Kami tak pernah menunda. Tak pernah juga mempermasalahkannya. Dan … tak pernah juga membicarakannya.

Bagaimana ini…. Suamiku sebenarnya mau punya anak atau tidak? Yang ke dokter hanya aku. Yang mau adopsi hanya aku. Masa hanya aku saja yang berusaha?


Editor’s Note
Salah satu novel yang termasuk dalam label "Le Mariage", bercerita tentang konflik rumah tangga, yakni karena ketidakpunyaan anak hingga usia pernikahan mencapai angka lima tahun. Padahal kehidupan si suami istri ini begitu lekat dengan kata sempurna.

240 pages, Paperback

First published April 1, 2015

5 people are currently reading
52 people want to read

About the author

Sari Agustia

1 book4 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (10%)
4 stars
16 (26%)
3 stars
24 (40%)
2 stars
10 (16%)
1 star
4 (6%)
Displaying 1 - 23 of 23 reviews
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
September 25, 2015
3.5/5 star

Kehidupan pasangan Tessa dan Bhas awalnya baik-baik saja, pernikahan yang telah mereka jalin selama 5 tahun pun berjalan tanpa riak berarti. Ketidakhadiran buah hati pun tidak menjadi persoalan, baik Tessa dan Bhas tidak pernah membicarakannya secara serius. Hingga pernikahan Indah, adik Bhas membuka kembali pertanyaan demi pertanyaan mengenai buah hati.

Ya, inilah awal konflik keluarga Tessa dan Bhas. Pernikahan Indah, adik Bhas hingga kemudian Indah hamil, malah mendesak posisi Tessa. Tessa pun mulai memikirkan untuk mempunyai seorang anak untuk melengkapi kehidupan pernikahannya. Sayangnya, Bhas suaminya seakan tidak peduli dan respek terhadap niat Tessa. Tessa seakan yang berusaha sendiri, konsultasi ke dokter pun harus dijalaninya sendiri tanpa ditemani Bhas.

Hingga kemudian Tessa bertemu dengan Esme, teman seperjuangan yang juga punya masalah yang sama, belum dikaruniai buah hati. Tessa pun bertemu dengan sosok Kanti, OB dikantornya. Berawal dari Kanti pula, opsi untuk adopsi anak menjadi alternatif pilihan Tessa.

Namun, Bhas tetap tidak bergeming. Bhas tidak mau diajak konsultasi ke dokter bahkan tidak juga mengiyakan untuk adopsi. Tessa pun dibuat gregetan dengan sikapnya, akhirnya Bhas pun mengalah mau diajak berkonsultasi setelah desakan demi desakan Tessa.

Ketidakhadiran seorang anak pun menjadi pemicu masalah demi masalah yang terjadi diantara pasangan ini. Ternyata komunikasi yang kurang diantara mereka malah makin memperumit semuanya.

"Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri. Punya cara masing-masing juga untuk menyelesaikannya. Tak perlu menghakimi karena kita tidak tahu mereka seperti apa."

Membaca novel ini sungguh mengalir. Premis yang diambil sudah familiar dan bahkan mungkin dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Ketidakhadiran seorang anak memang menjadi momok bagi pasangan yang sudah menikah, tidak hanya dari keluarga tetapi juga lingkungan sekitarnya. Disinilah pentingnya komunikasi baik suami dan istri, mau terlibat untuk mencari solusi bersama.
Yang terpenting, tetap harus diingat bahwa keturunan itu takdir, kapan diberi itu rahasia Yang Di Atas, tidak ada yang tahu. Sebagai manusia, kita hanya bisa berusaha.

Diceritakan dari sudut pandang Tessa, aku bisa menyelami perasaannya. Penulis mampu merangkai kisahnya perlahan demi perlahan hingga aku bisa ikut merasakan apa yang terjadi. Namun, aku pun ingin sekali mengetahui dari sisi Bhas, sayangnya novel ini kurang mengeksplor bagian dari sisi Bhas. Aku benar-benar dibuat gregetan dengan sikap Bhas ini, dan cenderung menganggapnya pengecut dengan pilihan akhirnya. Kenapa setelah semua perjuangannya selama ini, malah akhirnya dia.... (ah gak mau spoiler).

Sebagai pembaca, tentunya aku berharap setelah masalah demi masalah yang hadir dalam kehidupan Bhas dan Tessa, mereka sanggup melewati badai. Sayangnya, lagi-lagi aku dibuat gigit jari dengan endingnya. Ah, jujur aku tidak rela sekali walau memang mungkin sekali-kali disuguhi ending yang sedikit berbeda juga bisa menjadi warna tersendiri.

Selamat Kak Tia buat novel debutmu, kutunggu buku baru lainnya.^^
Profile Image for Pattrycia.
351 reviews
August 15, 2015
Sorry, but I don't think this book is my cuppa tea. Baca buku ini serasa dpt front-row seat nonton drama kehidupan rumah tangga Tessa & Bhaskoro. Intinya ya Tessa kepengen banget punya anak tapi masih belum dikasih rejeki sama Tuhan. Ujung2nya mereka malah pilih pisah. Menurut gw pihak yg patut disalahin disini itu si Bhas, dia ngotot mau nikahin Tessa walaupun Ibunya ga setuju. Akhirannya dia merasa durhaka sama Ibunya & lebih milih ninggalin Tessa demi berbakti pada Ibunya. Tega banget dia ngabisin waktu Tessa selama 10tahun. Padahal Tessa ngebet pengen punya anak juga gara2 desakan dari mertuanya. Lumayan bikin stress & tambah galau sih, tp untungnya ini cm cerita...
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book272 followers
May 31, 2016
Tessa dan Bhas telah menikah selama lima tahun. Kehidupan mereka di atas berkecukupan dengan karir yang sama-sama menanjak. Hanya satu yang sebenarnya mengganggu adalah belum hadirnya anak di dalam rumah tangga mereka.

Suatu hari Tessa dan Bhas berkunjung ke Malang, ke rumah keluarga Bhas. Di sana sedang ada perhelatan nikahan adiknya Bhas. Sepertinya sudah menjadi pakem umum, pertanyaan kapan punya anak menghantui mereka. Setidaknya bagi Tessa. Tessa merasa disudutkan, apalagi ketika Ibu mertuanya mulai mengeluarkan komentar agak pedas berkaitan dengan itu. Tessa diminta untuk tidak sibuk bekerja sebagai wanita karir. Akhirnya Tessa mulai terusik. Dia pun mulai memeriksakan dirinya ke dokter spesialis. Ketika sang dokter meminta Tessa agar datang berkonsultasi bersama suaminya, Tessa kelimpungan. Pasalnya, Bhas tidak mau ikut ke dokter. Membicarakannya saja sudah menimbulkan argumentasi di antara mereka. Bagi Bhas dia sehat-sehat saja, tidak ada yang salah dengan dirinya.

Sementara itu, di kantor Tessa berkenalan dengan seorang wanita petugas kebersihan, bernama Kanti. Berbeda nasib dengan Tessa, Kanti sedang hamil anak kelima. Kondisi ekonomi Kanti yang serba pas-pasan membuatnya ingin menyerahkan anak yang sementara dikandungnya untuk diadopsi oleh orang lain. Kebetulan Esme, teman Tessa, juga sedang berusaha untuk mempunyai anak. Kata orang mengadopsi anak bisa sebagai pancingan. Karena Bhas tidak setuju mengadopsi anak, Tessa menawarkannya kesempatan ini pada Esme. Esme pun menerima tawaran untuk mengadopsi anak Kanti lewat perantara Tessa. Usaha Tessa mengunjungi dokter spesialis akhirnya berbuah. Dia hamil. Seluruh keluarga, terutama Bhas menyambut dengan bahagia. Namun janin di dalam kandungannya tidak bisa bertahan lama. Tessa keguguran. Kesedihan Tessa bertambah ketika dia mendapat kabar Esme hamil dan membatalkan rencana mengadopsi anak Kanti.

Saat membaca sinopsis novel ini, saya langsung tertarik untuk membaca novel ini secara utuh. Saya pernah berada di posisi Tessa, dimana selama lima tahun saya menantikan kehadiran seorang anak. Saya sangat memahami kegalauan yang dirasakan Tessa menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang-orang di sekitar saya. Apalagi jika tidak didukung oleh suami, seperti yang dialami oleh Tessa. Frustasinya Tessa ini digambarkan dengan baik oleh penulis. Saya juga menyukai bagaimana penulis menyusun kisah demi kisah yang menggambarkan latar belakang kondisi Tessa dan Bhas, sehingga penuturan konfliknya mengalir dengan baik. Kehadiran beberapa orang di sekitar Tessa ikut memperkaya cerita dan membuat pembaca lebih memahami konfliknya. Saya sampai gemes banget sama kelakuan Bhas di dalam novel ini.

Because it takes two to tango, rasanya tidak adil jika kita tidak melihat dari sisi Bhas. Untungnya penulis memberikan dua bab khusus untuk Bhas. Bagiannya si Bhas ini yang menurut saya menjadi kekurangan novel ini. Seharusnya POV Bhas ditampilkan sedikit berbeda dengan bagian lainnya, misalnya dalam pemilihan font-nya. Beberapa typo juga masih ada di dalam novel ini. Tapi sebagai debut mbak Tia, saya mengapresiasi kehadiran novel ini dalam lini "Le Mariage". Kita jadi bisa belajar bagaimana menghadapi masalah keturunan seperti yang dialami Tessa.
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews205 followers
December 21, 2015
Ikuti Ajang Review Novel Love Fate. Baca ketentuannya di http://sariagustia.blogspot.de/2015/0... Review ditunggu sampai 14 Juni 2015 ;D

"Tiba-tiba pikiranku melayang pada satu jawaban. Suamiku terlalu egois! Tentunya kalau yakin sehat, dia mau diperiksa. Kecuali kalau sebaliknya. Atau dia memang tak mau punya anak? Aku semakin pusing karena pikiran ini mulai liar." – halaman 86

Usia pernikahan Tessa Febriana Sasmita dan Bhaskoro sudah menginjak lima tahun, tapi mereka belum dikaruniai buah hati. Mereka tidak terlalu memikirkannya sampai Indah, adik ipar Tessa, menikah dan hamil cukup cepat. Ibu mertua Tessa di Malang langsung membanggakan anak perempuannya sekaligus menyesalkan keadaan Tessa. Tessa lalu mengikuti program kesuburan, yang tidak terlalu menarik minat Bhaskoro. Di tempat prakter bidan tersebut, Tessa bertemu teman lamanya, Esme, yang juga agak kesulitan mendapatkan keturunan. Selain itu Tessa juga berkenalan dengan Kanti, petugas kebersihan, di kantornya. Kanti yang sedang hamil anak kelima benar-benar membuat Tessa iri. Padahal Kanti merasa tidak sanggup membesarkan calon anaknya. Dia mulai memikirkan opsi aborsi.

--

Love Fate menceritakan para perempuan di kehidupan modern yang tidak lepas dari ‘tuntutan’ yang bersifat tradisional. Tessa dan ibu mertuanya di Malang adalah contoh kecil konflik tersebut. Tumbuh dan hidup dari lingkungan suku yang berbeda membuat mereka mempunyai cara berpikir yang sering berselisih, terutama posisi dalam sebuah pernikahan. Mempunyai anak selalu dianggap sebagai kewajiban dan takdir seorang perempuan. Tapi bagaimana jika anak tersebut datang terlambat atau berasal dari rahim orang lain? Sedih, ya, bila memikirkan tekanan tersebut berasal dari sesama perempuan yang seharusnya bisa saling menyemangati.

Baca review selengkapnya di http://dhynhanarun.blogspot.com/2015/... ;D
Profile Image for Nana.
405 reviews27 followers
May 10, 2015
Buku ini menggambarkan konflik rumah tangga yang terjadi setelah rumah tangga berlangsung 5 tahun dan sudah memasuki zona nyaman. Ketika si istri, Tessa, mendadak ingin kehadiran buah hati, maka terjadi konflik. Bhas, si suami, terkesan ogah-ogahan berusaha dan hanya ingin sabar menunggu rencana Tuhan. Namun, Tessa mendesak untuk ke dokter dan menjalani upaya lain agar mereka cepat punya momongan. Masalah bertambah pelik karena ibu mertua Tessa sebenarnya tidak menyukai Tessa dan malah membuat Tessa terpojok.

Penuturannya asyik diikuti, dengan menggunakan sudut pandang Tessa. Ada kalanya saya merasa Tessa terlalu terburu-buru dan ambisius, namun saya bisa mengerti perasaannya. Hanya, menurut saya, karakter Bhas dan Ibu kurang mendapatkan keadilan karena hanya diceritakan dari sudut pandang Tessa.

Baca review lengkap dan ikutan giveaway-nya di http://glasses-and-tea.blogspot.com/2...

Ada blog tour-nya juga lhooo.. Setelah saya, akan ada review dan giveaway juga di blog http://dhynhanarun.blogspot.com dan http://destybacabuku.wordpress.com
Profile Image for Adri Christy.
87 reviews
April 22, 2015
Sudah membaca dan satu kesan saya adalah...
LUar biasa kesal sama keluarga dari pihak sang suami, Bhaskoro yang nggak bisa support sang istri, Tessa.
Di novel ini mengisahkan realita jaman sekarang dimana Tessa yang merupakan perempuan karier tengah mengharapkan buah hati setelah 5 tahun menikah. Saat ia membutuhkan support dari suami dan kedua belah pihak keluarga, malah ia merasakan tekanan yang menyebabkan dirinya pesimis dalam menghadapi kehidupan rumah tangganya.
Sebenernya agak kesal coz nggak happy ending seperti yang saya mau, tapi kebahagiaan yang dirasakan Tessa pada akhir cerita sangat menyentuh karena dibalik segala kepahitan hidupnya ada seberkas sinar kebahagiaan yang menyinari hatinya.
Good for read lho. Check this out yey :D
Profile Image for Uthie.
326 reviews76 followers
January 26, 2016
kirain buku ini tentang perjuangan sepasang suami istri dalam usaha memperoleh keturunan dan juga saling menguatkan menghadapi rentetan pertanyaan "kapan hamil?" *salah sendiri males baca sinopsis, dipinjem cuma karena suka covernya*

beberapa bab terakhir membuat saya malah berpikir kalau inti buku ini tentang jangan durhaka sama orangtua.

etapi temen pernah cerita kalau pernikahan tantenya gak pernah direstui sama kedua orangtuanya dan selama bertahun-tahun mereka gak punya anak. tapi pas cerai-ceraian dan si tante nikah lagi, eh dalam hitungan beberapa bulan si tante hamil.

apa mungkin di cerita ini mereka gak hamil karena ibu Bhas gak merestui pernikahan mereka ya?

*review macam apa pulaklah ini* ._.
Profile Image for lisa elita.
56 reviews1 follower
January 4, 2016
Ide ceritanya semestinya bagus. Tapi penjabaran ceritanya masya ampunnnn.... terlalu detail. Menceritakan tokoh2nya aja makan bbrp alinea. Bbrp bab di awal msh blm masuk inti ceritanya. Msh nyeritain si ambu.... si abah.... si suami.... si mertua. Terlalu detail.
Trus begitu masuk ceritanya.... konfliknya jg krg menggigit. Dan endingnya mudah banget ditebak. Gak mengharukan. Haishh....
Profile Image for Alvina.
732 reviews119 followers
December 4, 2015
buku pertama yang aku baca pake aplikasi ijak.

wait. tapi kenapa endingnya ga nendang yaaaa..


*review lengkap menyusul*



=-=-=-=

Barangkali orang orang menganggap pernikahan identik dengan anak. Sehingga jika ada sebuah pernikahan yang tak kunjung mendapatkan buah hati, maka pelaku pernikahan tersebut akan dilimpahi wejangan,teguran dan rasa iba dari orang orang di sekitar mereka.

Seperti itulah pernikahan Bhas dengan Tessa. 5 tahun pernikahan yang tak kunjung dianugerahi momongan membuat mereka mencoba menebalkan telinga dari cibiran atau belas kasihan orang orang terdekat. Sampai suatu saat, Tessa memutuskan untuk mencoba berkonsultasi dengan dokter kandungan yang cukup ternama di Bandung. Kota tempat tinggal Ambu (Ibu) tersayangnya sekaligus menjauh dari keramaian ibu kota. Sayangnya, selama proses konsultasi dan perjalanan jauh tersebut, Bhas tak mau menemani Tessa.

Seakan akan Bhas selalu mengelak jika mereka masuk ke percakapan bertema anak. Padahal justru ibu dari Bhas (mertuanya Tessa) yang terus menerusan "meneror" mereka dengan pertanyaan mengenai anak. Seringkali Tessa kesal karena Bhas menganggap enteng masalah belum dikaruniai anak, sehingga tidak membelanya saat sang ibu menyindir Tessa.
Tak cuma datang ke klinik kesuburan, Tessa bahkan berpikiran untuk mengambil anak lewat cara adopsi. Tapi apakah Bhas dan ibunya mau menerima anak tersebut?

Duh membaca buku ini membuat saya sebal sama mertuanya si Tessa. Dan saya paham kenapa Tessa sebegitu ingin menjauh dari si mertua. Udah gitu suaminya, Si Bhas, juga cuek amat bukannya mbelain istrinya kek. Hih. Suami macam apa kamu Bhas.

Konflik yang dibangun juga apik meski penyelesaiannya agak mengagetkan. Selesai membaca saya cuma bisa komen "udah gitu doank?", karena nggak puas sama ending cerita. Kalau kamu penyuka cerita yang menggantung, novel ini pas banget lah buat kamu.

Oh iya, saya suka karakter Ambu di buku ini. Beliau tampak sabar dan nrimo sekali. Saya jadi ngebayangin, kalau saja semua mertua sebaik dan sesabar dia, drama mertua menantu mungkin ngga akan ada lagi di dunia (lebay).

Adegan paling sedih tuh waktu Tessa sangat membutuhkan sang suami, eh malah si Bhas cuek dan sifatnya berubah jadi dingin. Justru Ambu yang jadi penyemangat Tessa, duh kasih ibu memang sepanjang masa ya.

Teriring doa buat saya bagi mereka yang mungkin mengalami nasib sama kaya Tessa. Semoga kebaikan dan kesabaran selalu terlimpah bagi kalian. :(
Profile Image for Erlina .
9 reviews
June 22, 2015
Ceritanyaa oke... Aku greget sama Tessa yg ngebet pengen punya anak apalagi 'ditodong' sama keluarga besar. Tapi yang bikin agak terganggu pas baca novel ini adalah banyaknya (maaf) bahasa daerah. Bukan bermaksud apa. Tapi kalau rada malas kalau harus bolak balik baca artinya di footnote. Mungkin sih tujuannya biar unsur budayanya dapat yah.
Terus kesal banger sama Bhas yang kesannya cuek dan malah nyalin Tessa, bukan malah ngedukung. At least aku rasa kekurangan novel ini cuma pada endingnya yang kurang memberi solusi. Apakah setiap pasangan yang belum diberi keturunan harus bercerai pada akhirnya? Kalau menurut saya seharusnya Ada penggambaran bagaimana perjuangan suami istri yang berbuah manis tanpaa harus berpisah. Setidaknya memberi inspirasi kepada orang-orang yang berada dalam posisi sama. Ada jalan disetiap doa dan harapan. Tapi aku suka kok ceritanya. Ago ditunggu cerita selanjutnya
Profile Image for Seffi Soffi.
490 reviews143 followers
June 18, 2015
Bagus, konflik rumah tangga yang lumayan rumit. Di pihak cowo, dia masih hormat sama ibu. Bagus, tapi kan semua salah dari awal nya. Ketidakjujuran..

Pihak cewe yang terdzolimi jadi nya.. Huaaa nyeseek deh, kasian tessa..
Kurang greget, soalnya si cowo nih qo kaya nyerah gitu aja yah.. Pokonya gemess deh, buat teh sari ditunggu lagi kabar baik nya teh :)
Profile Image for Wardah.
954 reviews174 followers
May 25, 2017
Tessa telah menikah selama lima tahun dengan Bhas. Selama itu, keduanya tak pernah benar-benar membicarakan tetang keturunan. Keduanya menikmati hidup selayaknya pasangan biasa.

Sampai suatu hari Tessa merasa benar-benar menhinginkan anak. Namun, kenapa Bhas justru enggan diajaknya konsultasi ke dokter? Kenapa juga Bhas tidak pernah membicarakan perihal ini dengan Tessa?

Apakah Bhas tidak ingin punya anak?

Catatan tentang Love Fate.

1. Too much information. Banyak hal ga penting yang ditulis dalam deskripsi. Penulis terlalu banyak tell, tentang keluarga Tessa dan Bhas, kebiasaan keduanya, kejadian apalah, bahkan seputar hal yang ada di sekitar mereka dan nggak berperan dalam cerita.

2. Masih nggak paham kenapa Bhas terlihat nggak tertarik ketika Tessa mau punya anak. Makin nggak paham sama keputusan yang diambil Bhas. Okelah di satu sisi, tapi berarti dia nggak mau memperjuangkan dong? Ntahlah, nggak respek blas sama Bhas.

3. Nggak paham juga sebenarnya sama Tessa dan segala halnya itu. Ntahlah, aslinya ga paham sama pilihan kehidupan pernikahan yang akhirnya diambil Tessa dan Bhas.

4. Bukan novel romance yang se-romance kovernya yang pink atau judulnya yang bawa-bawa kata love dan fate. Lebih mirip ... buku curhat gitu. Buku curhat seorang Tessa.

Kesimpulan: Bukan novel romance pernikahan yang mungkin kamu harapkan, dengan banyak informasi ga penting dan gaya penulisan yang terlalu tell. Lengkap dengan akhir yang, yah, mengecewakan dan nggak menyelesaikan konflik dalam cerita.

Direkomendasikan bagi: Kamu yang mau baca cerita romance pernikahan yang beda. Dan kamu yang nggak mengharapkan cerita berisi gula-gula.

Selamat membaca!
Profile Image for Aulia  Rofiani.
326 reviews4 followers
November 10, 2019
Nanges aku nanges 😂
Entah karena topik 'susah punya anak' itu lsg ngena aja kali ya di gue apa emg tulisannya sebagus itu aku msh ga tau nih 😂
Trus menurutku ini penulisnya cukup berani sih buat nulis kayak gini 😂
Gaya penulisannya juga cukup enak dibaca walaupun tetap bisa bikin ke-distract sama hal2 lain, tapi ga sulit buat mulai lanjut baca lg setelah ngerjain yg lain
Tapiii, kesannya jd ga total aja gara2 tiba2 nyelip POV dr Mas Bhas ini, cuma 2 bab dan menurutku ga perlu gitu loh
Dan yaaa semoga pasangan Jawa-Sunda ga jadi ketakutan ya setelah baca ini
Setiap pasangan punya struggle nya masing2 kok 😂
Profile Image for Paramita Swasti Buwana.
Author 3 books21 followers
December 12, 2015
Pengen ngoreksi dikit...entah ini memang bahasa Jawa yang saya pelajari beda atau gimana dengan krama Jawa Timuran...cuma agak kurang sreg bagian waktu Bapak mertua Tessa menanyakan apakah Tessa sudah mandi belum dengan bahasa "siram"...setahu saya sih bahasa "siram" ini bahasa krama yang digunakan untuk seseorang yang lebih tua...jadi saat bapak mertua yang lebih tua menanyai Tessa dengan kata "siram" jadi rasanya aneh saya bacanya...seharusnya "siram" digunakan saat Tessa yang menanyai bapak, bukan sebaliknya...walaupun krama, untuk bapak ke Tessa masih tetap pakai "adus"...
Ya seperti kalau mengatakan pulang dalam bahasa krama...untuk bapak/ibu/orang yang lebih tua kita mengatakan dengan "Bapak kondur"...tetapi untuk diri sendiri kita mengatakan "kulo wangsul"...gitu gitu deh...yatapi emang siapa tahu Jawa Tengah sama Jawa Timur beda pelajarannya...wkwkwk...

Nggak penting bgt ya komennya...*duagh

Biar rada penting...kesan pesan saya saat baca novel ini itu rasanya nanggung yah...jadi saat kita dibawa untuk sedih, baru mau sedih, tiba-tiba aja topik sedihnya udah ganti...jadi feel yang awalnya udah mau sedih, batal deh sedihnya...hihihiiii...udah sih gitu aja...
Profile Image for pidaalandrian.
364 reviews5 followers
February 2, 2017
RATING 3.5

Review lengkapnya bisa di baca disini >> https://collection-of-book.blogspot.c...

Perjuangan seseorang di dalam novel ini sangat terwujud dalam sosok Tessa yang terus berjuang untuk mendapatkan momongan. Rasanya sangat miris , jika kita melihat ke luar ke dunia nyata pasti ada sebagian yang merasakan hal sama seperti Tessa. Dan saya jadi bertanya-tanya ke kaum adam dan ibu mertua di luar sana; belum cukupkah pengorbanan dan perjuangan seorang perempuan dengan tekanan dimana-mana, apalagi dengan ibu mertua seperti ibu mertua Tessa? Kenapa pernikahan yang belum dihadirkan seorang anak, kenapa yang di salahkan hanya perempuan? Seakan-akan perempuan hanya untuk di nikahkan lalu melahirkan anak. (Di bagian ini lumayan banyak mengeluarkan emosi saat saya membaca, apalagi melihat perjuangan Tessa).
Profile Image for Riska Amaliah.
51 reviews18 followers
December 23, 2015
Novel ini saya baca menggunakan aplikasi iJakarta, semacam digital library yang disediakan oleh Perpusda Jakarta. Ada diantara kalian yang juga meminjam buku dari aplikasi ini? Mari kita saling merekomendasikan buku/novel, ID saya: riska.amaliah

Well, novel ini saya baca dalam sekali duduk. Bercerita tentang kehidupan rumah tangga Tessa dan Bhas. Awalnya semua sempurna, Tessa dan Bhas pasangan yang saling mencintai yang dipertemukan takdir dalam kelas perkuliahan yang mana Bhaskoro menjadi asisten dosen disana. Lamanya hubungan pacaran mereka (5 tahun) lantaran ketidaksetujuan ibunda Bhaskoro terhadap Tessa. Ya, mitos dikeseharian masyarakat dihadirkan disini, bahwasannya orang jawa (Bhaskoro) tidak akan cocok dengan orang sunda (Tessa). Menarik...
Profile Image for Andi Febria.
37 reviews1 follower
August 17, 2016
2,5* cukuplah

Saya tidak suka dengan tidak adanya komunikasi satu sama lain dalam rumah tangga. Tidak ada rasa berbagi di dalamnya. Yang ada, cuek dan sibuk.

Tekanan demi tekanan dialami Tessa supaya cepat hamil. Lah, Bu, kita bukan di zaman serba bisa. Kita harus minta restu dari Maha Kuasa. Buat Tessa sendiri juga, mengapa tidak mendekatkan diri dengan ibunya Bhas? Kan lewat restunya, kemudahan bisa terjalin, toh. Cuma ya ... sayang sekali bagi Bhas, menyelesaikan semua perkara dengan jalan perpisahan.

Capek deh, dengan dua orang yang sama-sama egois. Tidak komunikasi. Tidak saling percaya. Hanya sebentuk paksaan saja.
Hidup jangan dipaksa. Seperti derasnya sungai yang mengalir. Kalau dipaksa, akhirnya kecebur juga dan ikut derasnya sungai. :"(
12 reviews
April 20, 2016
terlalu banyak narasi ngebuat aku bosan begitu ditengah-tengah, butuh perjuangan buat nyelesaiin baca novel ini. aku gak suka sama kedua tokohnya, menurut aku 22nya sama2 egois kok. keduanya sama2 gak mau terbuka, kenapa Bhas gak nyuruh Tessa buat berhenti kerja kl jauh didasar hati dia sebenernya dia gak suka kl istrinya sibuk dikantor. dan Tessa sendiri kenapa gak memutuskan berhenti kerja aja dan fokus sama pengobatannya. sepupu ku 10th nikah blm punya anak langsung adopsi dan alhamdulillah setelah 5th adopsi anak sekarang mereka dianugerahi bayi cantik. jd menurutku untuk cerita ini dua2nya egois dan 22nya gak mau ngalah. walau jujur 3 bab terakhir sukses bikin aku nangis
Profile Image for Nurul Hikmah Rahmadinah.
17 reviews5 followers
February 17, 2016
Novel yg bikin gw gregetan dari segi jalan ceritanya. Mas bhas yg super kampret, tipe laki yg wajib dicoret dari daftar laki idaman wkwk... Di dunia nyata gw kenal beberpa pasangan yg punya masalah sama kayak mereka tp mereka milih tetap berjuang sampe sekarang.
Profile Image for Elsita F..
120 reviews6 followers
April 18, 2017
Membaca novel bertema perempuan memang selalu menjadi kesukaan saya. Selalu ada sisi menarik yang saya ambil juga pelajaran berharga yang saya petik. Hanya saya, dari sekia banyak novel yang menceritakan kisah hidup seorang perempuan yang pernah saya baca, kebanyakan selalu menceritakan perempuan yang tertindas, seperti yang dialami Tessa.

Kalau dilihat dari kacamata karier dan materi, Tessa tidak kekurangan satu hal pun bahkan mungkin hidup lebih dari kecukupan. Punya suami yang tidak banyak komentar dan ambil pusing dengan pendapat orang juga bisa dikatakan bonus yang menyenangkan. Hanya saja, hal itu terasa nothing hanya karena mereka belum dikarunia seorang anak. Setiap pasangan yang sudah menikah pasti mengidamkan buah hati untuk menyemarakkan suasana rumah dan menjadi pelipur lara, namun sikap mertua Tessa yang cenderung memojokkan sangat tidak saya sukai. Karena saya belum menikah, sudah sejak lama saya selalu berdoa semoga suatu saat nanti nggak dapat mertua yang banyak kometar dan turut campur dalam kehidupan rumah tangga saya nantinya.

Selain itu, dalam kisah ini, mengapa saya katakan Tessa adalah contoh perempuan tertindas, keterlambatan mereka dalam memperoleh keturunan seolah dibebankan seluruhnya pada Tessa. Sikap Bhaskoro yang juga hampir tidak pernah membela Tessa ketika dikritik bahkan dijelekkan sang ibu membuat saya kesal. Kewajiban anak laki-laki pada ibunya memang tidak akan terputus meski mereka telah berkeluarga, tapi bukankah kewajibannya juga untuk melindungi martabat istrinya entah di depan orang asing atau pun ibu kandungnya sendiri?

Buku ini membuat saya kerap meringis karena miris terhadap beberapa fakta pernikahan yang di luar sana mungkin saja banyak terjadi. Pada beberapa bagian, buku ini terasa agak membosankan namun ceritanya tetap worth untuk dibaca. Ada banyak pesan tersirat yang bisa membuat kita membuka mata sedikit lebih lebar tentang menghargai amanah dan titipan Tuhan dalam hal ini, anak.

Bagian favorit saya adalah prosesi pernikahan Indah yang menggunakan adat Jawa tok. Walau saya bukan orang Jawa, saya selalu suka menangkap informasi tentang kebudayaan daerah-daerah yang berbeda sukunya dengan saya. Selain memperbanyak informasi, pengetahuan akan budaya Indonesia saya bisa semakin bertambah. Seluruh prosesi pernikahan Indah membuat saya ingin menyaksikan midodareni dan sebagainya secara langsung. Selain itu, selipan bahasa Jawa dan Sunda dalam banyak percakapan membuat buku ini terasa pribumi dan Indonesia banget. Bukan berarti bahasa daerah lain tidak Indonesia, hanya saja buku yang menyelipkan bahasa daerah menurut saya adalah buku yang sangat membudaya. Pelestarian budaya berbahasa daerahnya juga masuk, walau nggak secara tersurat.

Kemudian, ada fakta unik yang saya dapatkan dari buku ini yakni tentang pantangan pernikahan antara dua orang yang memiliki suku Sunda dan Jawa. Legenda Hayam Wuruk seolah menjadikan pernikahan dua suku yang bersebelahan ini sebagai suatu pamali atau hal yang tabu untuk dilakukan. Bukan karena saya percaya bahwa hal itu benar adanya, semua manusia sama, jika sukunya berbeda maka itu tidak jadi masalah. Hanya saja menurut saya ini bisa menjadi suatu pelajaran tentang rasisme yang mungkin saja masih berkembang dalam hidup masyarakat kita hingga saat ini.

Ada satu hal yang saya sayangkan dari buku ini yakni eksekusi ceritanya kerasa maksa dan nggak asyik. Kalau pada beberapa film thriller biasanya ada adegan si pembunuh sudah mati, namun saat ada kata end tiba-tiba wajah sehatnya di-shoot lagi, kan, nah kalau di buku ini mirip-mirip seperti itu tapi tidak ada rasa puas saat membacanya. Buat saya seharusnya ceritanya masih bisa lebih panjang, Bhas dan Ibu mertuanya setidaknya bisa mendapat sedikit pelajaran berharga atas sikap mereka, terkesan drama sih tapi mending begitu daripada gantung.
Displaying 1 - 23 of 23 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.