Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kontroversi Islam Awal : Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis

Rate this book
Buku ini mendiskusikan Islam dalam periode perkembangannya yang paling penting, yakni pada awal kemunculannya di panggung sejarah. Mengapa periode awal ini amat penting untuk dikaji? Sebab, Islam pada masa Nabi Muhammad dan dua generasi sesudahnya sering diidealkan sebagai Islam yang paling murni, yang paling autentik dan karenanya menjadi rujukan terpenting bagi generasi-generasi Muslim berikutnya, termasuk kita sekarang.
Dari perspektif sejarah, masa awal ini sebenarnya merupakan masa yang paling sulit dikaji karena kita menghadapi keterbatasan sumber-sumber untuk merekonstruksikan "Islam yang murni" ini. Buku ini mempersoalkan apa yang seringkali dibayangkan sebagai Islam murni itu, sekaligus memperlihat kompleksitasnya.

335 pages, Paperback

First published February 1, 2015

9 people are currently reading
160 people want to read

About the author

Mun'im Sirry

17 books17 followers
Assistant Professor of Theology; Researcher, Contending Modernities

Mun’im Sirry earned a Ph.D. in Islamic Studies from the University of Chicago Divinity School (2012). His academic interests include political theology, modern Islamic thought, Qur’anic studies, interreligious relations, and Southeast Asian religions and cultures.

Sirry's most recent book, Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions (Oxford University Press, 2014) examines difficult passages in the Qur’an that have usually been viewed as obstacles to peaceful co-existence among different religious communities.

Currently, along with the Contending Modernities team, Sirry is developing a Contending Modernities working group on Indonesia focusing on authority, community and identity. The working group will explore and analyze the complex relationships between the various contending authorities, communities and identities that have shaped and been shaped by religious life at both the societal and state levels. The Indonesian working group will be comprised of leading scholars in various fields exploring the conditions for the possibility of pluralist co-existence among diverse ethnic and religious communities in Indonesia through a wide range of engagement with religious and secular forces.

Sirry’s publications have appeared in peer-reviewed journals including Arabica, al-Bayan, Bulletin of the School of Oriental and African Studies, Interpretation, Islam and Christian-Muslim Relations, Journal of Semitic Studies, Journal of Southeast Asian Studies, The Muslim World, Studia Islamica, and Die Welt des Islams.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
27 (57%)
4 stars
13 (27%)
3 stars
3 (6%)
2 stars
3 (6%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Maya.
207 reviews8 followers
February 1, 2018
Mulanya saya mengetahui tulisan Mun'im Sirry, seorang asisten profesor bidang Teologi di Universitas Notre Dame, di situs Geotimes. Artikel-artikelnya sangat menarik, menggugah saya untuk mengevaluasi kembali pemahaman saya terhadap Islam. Lalu karena artikel-artikel yang berjumlah 60 lebih itu terasa terlalu banyak dan berceceran untuk saya baca, saya pun memutuskan untuk langsung membaca buku karya beliau.

Islam yang kita pahami umumnya sudah dalam bentuk komplit sepeninggal Nabi Muhammad saw. Alquran kita terima sebagaimana bentuknya dalam mushaf, ditemani dengan kitab asbab al nuzul jika kita kebingungan mengenai ayat-ayat tertentu. Muhammad yang kita kenal adalah seorang yang maksum, terhindar dari dosa dan salah. Kejayaan ekspansi Islam yang berawal dari Arab hingga menyebar ke Spanyol dan India dalam waktu sekitar satu abad adalah buah dari kecemerlangan ajaran Islam dan penguasa muslim yang menjunjung tinggi sifat-sifat kemanusiaan.

Bagaimana jika gambaran tersebut sebenarnya tidak sesederhana itu? Di sini penulis mengajak pembaca untuk "memanusiakan" Islam. Maksudnya adalah mencoba untuk memandang lahirnya Islam sebagai peristiwa sejarah kemanusiaan. Sejarawan memandang bahwa agama apapun menjadi bentuk yang kita kenal sekarang telah melalui serangkaian proses yang tidak sekejap. Apakah Islam juga termasuk ataukah pengecualian, itulah yang dibahas dalam buku ini.

Dalam pemahaman kita yang telah diajarkan dalam sekolah dan buku teks, Islam adalah suatu agama monoteis tersendiri yang turun untuk memberi pencerahan pada penduduk jahiliyah Arab. Pertanyaannya adalah, jika Hijaz (kawasan Makkah, Madinah, dan Thaif) saat itu kebanyakan dihuni oleh kaum pagan (penyembah berhala) dan terisolir dari kawasan lainnya, bagaimana bisa ada banyak ayat biblikal (cerita mengenai nabi-nabi yang juga ada dalam taurat dan injil) dalam alquran? Jika Muhammad digambarkan alquran sebagai manusia biasa yang makan dan berjalan-jalan di pasar, yang ketika diminta untuk menampakkan suatu mukjizat oleh kaumnya malah Diberi firman untuk menjawab bahwa mukjizat adalah kuasa Allah, bagaimana bisa ia digambarkan sebagai sosok sempurna melebihi manusia biasa? Jika ekspansi Islam yang seluas itu berhasil dilakukan dalam tempo 40 tahun sepeninggal Nabi, faktor-faktor apa saja yang menyebabkan keberhasilan tersebut, mengingat pasukan Arab saat itu jumlahnya cukup sedikit? Itulah segelintir dari banyak pertanyaan sejarawan, baik muslim maupun nonmuslim, terhadap kemunculan Islam awal.

Dalam deskripsinya penulis membandingkan penuturan-penuturan dari sumber-sumber tradisional dan argumen-argumen sejarawan modern. Sumber-sumber tradisional (sejarah nabi, kitab hadis, dan asbab al nuzul) ternyata ditulis sekitar satu abad sepeninggal nabi. Dalam kajian sejarah, sumber-sumber tradisional tidak bisa dijadikan bukti sejarah karena tidak ditulis sezaman dengan peristiwa. Selain itu, sumber-sumber tradisional itu mengandung bias penulis akibat kepentingan politik dan hegemoni sosial serta adanya kontradiksi di sana-sini. Tak terkecuali kitab-kitab hadis. Walaupun ulama terdahulu sudah mengembangkan metode isnad (melacak riwayat penuturan dan kepopuleran hadis), detil-detil yang dibutuhkan sebagai bukti sejarah dalam hadis berbeda-beda, bahkan bertentangan satu dengan lainnya.

Tiadanya bukti sejarah yang cukup membuat para sejarawan harus merancang metode analisis lain. Di sinilah lahir perbedaan teori-teori dari para sejarawan beserta kritik-kritik yang menyertainya. Sejarawan yang condong pada sumber-sumber tradisional berpendapat bahwa tak mungkin sumber-sumber tersebut fiktif. Bagaimana mungkin karya-karya tersebut yang ditulis dalam jumlah masif oleh orang-orang berbeda di tempat berbeda-beda pula bisa disebut sebagai karya fiktif? Setidaknya kita butuh suatu teori konspirasi untuk menjelaskan hal tersebut.

Di sisi lain sejarawan revisionis radikal memilih untuk menolak sumber-sumber tradisional dan bersandar pada dokumen dan artefak di luar Arab yang sezaman dengan masa awal Islam. Hasilnya pun cukup ajaib, yaitu Islam lahir bukan di Arab, melainkan di Irak. Kelemahan besar dari metode radikal ini adalah terbatasnya bukti-bukti di luar Arab untuk dianalisis. Lalu bagaimana dengan Ka'bah dan situs-situs sejarah lainnya yang berada di Mekkah dan Madinah? Kesukarannya adalah otoritas Kerajaan Saudi tidak mengizinkan ekskavasi (penggalian) artefak sejarah di wilayah itu. Lebih parah lagi adalah sebagian situs-situs itu telah dihancurkan untuk pembangunan gedung-gedung modern.

Bagaimana dengan kajian alquran? Bukankah ia merupakan salah satu bukti sejarah yang sezaman? Sejarawan juga menganalisis kitab tersebut tanpa bersandar pada asbab al nuzul. Asbab al nuzul, meskipun ditujukan untuk menjelaskan latar belakang turunnya suatu ayat, ternyata merupakan interpretasi para ulama sendiri untuk memberi konteks pada pembaca. Pembahasan ini cukup menarik bagi saya, karena awalnya alquran adalah korpus yang terbuka pada berbagai macam interpretasi sebelum menjadi mushaf yang kita kenal sekarang. Kemudian ada sejarawan modern yang menganalisis perbandingan ayat-ayat alquran (terutama yang bersifat biblikal) terhadap literatur alkitab. Hasilnya adalah ayat-ayat tersebut menanggapi cerita-cerita biblikal dari literatur bible Suryani (Suriah), bukan bible yang sudah umum kita kenal. Hasil kajian ini menunjukkan berbagai kemungkinan bahwa saat itu masyarakat Arab telah akrab dengan cerita biblikal tersebut, setidaknya dalam bentuk folklore. Mengikuti sifat-sifat alquran yang diturunkan secara bertahap, ini berarti alquran telah secara kreatif menanggapi fenomena-fenomena yang terjadi pada masyarakat Arab saat itu.

Ada banyak temuan-temuan menarik yang disampaikan dalam buku ini. Sebagian darinya bisa ditemukan dalam artikel-artikel Mun'im Sirry di Geotimes. Saya menyarankan bagi yang hendak membaca karya beliau setidaknya bisa berpikiran terbuka dan memahami metode kerja akademis. Penulis sendiri pun tidak menafikan adanya unsur mukjizat atau keilahian dalam lahirnya Islam, hanya saja Islam sebagai bagian dari sejarah kemanusiaan tidak bisa dipahami secara naif, apalagi menerima secara taken for granted sebagaimana sumber-sumber tradisional menggambarkannya. Hasil dari kajian buku ini pun masih berupa teori dan terbuka bagi penemuan-penemuan selanjutnya.

Bagi saya, buku ini memampukan kita untuk bersikap rendah hati terhadap eksistensi agama lain karena Islam pun bukan agama yang muncul komplit begitu saja beserta dengan doktrin-doktrinnya.
Profile Image for Inra.
35 reviews
May 25, 2016
Buku yg mencerahkan. Memberi pengertian kepada Pembaca seperti apa agama Islam di awal kelahirannya dan bagaimana perkembangan selanjutnya sehingga menjadi agama yg terinstitusi seperti sekarang ini. Buku ini harus dibaca oleh mereka yg selama ini 'merasa mengerti' Islam, yg sudah terindoktrinasi oleh ceramah ustadz2 di televisi, yg gemar menghadiri liqo/pengajian, yg terobsesi dengan 'penampilan sesuai syariah', yg suka menganggap Muslim lainnya sebagai liberal, murtad, sesat, dll. Iqra. Bacalah. Maka kamu akan mengerti...

Satu hal yg kurang dari buku ini: Penulisnya hanya membeberkan opini dari scholar A, scholar B, dst., namun tidak mengemukakan opininya sendiri. Padahal kami ingin mengetahui apa pandangan Penulis terhadap mazhab A atau Mazhab B, misalnya.
Profile Image for Yulio Adi candra.
45 reviews3 followers
October 18, 2017
Membaca buku membuat kita memikirkan lagi sejarah yang pernah kita dengar dari guru-guru agama kita. Dalam buku ini kita diajak berpikir sejernih mungkin untuk mempertanyak sesuatu hal yang belum tentu kebenaran.

Banyak sudut pandang yang ditawarkan buku ini, sehingga kita bisa melihat sejarah islam dari banyak sisi.

Tapi buku ini terlalu banyak mengambil sumber dari sarjana barat. Padahal sarjana dari kalangan muslim juga banyak yang berlaku kritis. Tapi so far buku sangat bagus dan yang ingin melihat islam dari sisi lain, sangat rekomen banget..
Profile Image for Af'ida Ahmad.
1 review1 follower
June 2, 2016
Sedianya seorang nabi, maka pantaslah jika banyak sekali yang berusaha mengenali, apapun motif penelitian tersebut. Namun, buku ini menawarkan pilihan sikap yang pas dengan kondisi di Indonesia. Meskipun seringkali penulis bersikap objektif dalam memaparkan data-data mengenai sejarah, namun penulis juga menyelipkan pilihan sikapnya.
Profile Image for Zahra.
2 reviews
June 15, 2025
Buku yang menarik dibaca, bagaimana penulis bisa membuat par pembaca berpikir kembali tentang fakta sejarah islam yang sudah mapan. rasanya setelah membaca buku ini ingin lebih menggali lebih dalam lagi tentang sejarah islam
Profile Image for M Adi.
174 reviews18 followers
July 4, 2021
Keterbatasan sumber dapat membiarkan pertanyaan-pertanyaan yang telah muncul tanpa jawaban. Upaya menjadikan sebuah jawaban adalah proses intelektual yang tanpa henti. Kondisi tersebut diupayakan oleh penulis dalam mengungkap tabir sejarah tentang Nabi Muhammad serta Al-Quran.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.