Kedatangan Amok dan pasukannya dari Tanah Juracala ke Tanah Nagabaku menandai berakhirnya masa naga dan Nagakin. Masa yang damai antara manusia dan naga terberangus. Peperangan tak henti memperebutkan tanah Nagabaku. Banyak naga mati dan Nagakin pergi untuk selamanya. Amok menjadi penguasa baru dengan kekuasaan tertinggi. Bermasa masa setelah itu muncul naga jenis baru dan keturunan kedua Amok mengklaim dialah yang pertama memilikinya. Nagamas. Naga berwujud emas yang mampu menghasilkan emas tanpa henti. Melaluinya kekayaan raja menjadi tak terbatas. Terbuai oleh kemilau emas tiada tara, sang raja tak menduga banyak pihak yang berlomba-lomba mewujudkan naga era baru ini dengan elemen yang mereka miliki. Satu elemen satu naga. Bersamaan dengan itu upaya penggulingan penguasa tirani itu pun dimulai.
Haditha M. adalah penulis novel, skenario, yang kini juga tengah belajar membuat ilustrasi. Kegemarannya terhadap genre fantasi dengan napas klenik selalu tertuang di setiap karyanya. Dia pun tak ragu memasukkan unsur-unsur binal bilamana dirasa pas menguatkan nuansa cerita. Karya-karyanya yang pernah terbit sebelumnya adalah Karung Nyawa (Bukune), Dalam Kurung (Bukune), dan Tapak Setan (Elexmedia). Dia bisa disapa di media sosial dengan handle @hahahaditha
1. Sajak “Satu mencari jati diri Satu mencari kejayaan Satu mencari pembalasan Dan Satu hanya ingin melihat dunia jatuh dalam kekelaman”
Okee, sajak pada pembukaan buku ini membuatku tergelitik penasaran, tokoh mana sajakah yang dimaksud dalam sajak tersebut, apa yang diperjuangkan sehingga mereka perlu menjemput takdir yang tertulis dalam sajak tersebut. Mungkin tidak terlalu muluk-muluk kalau kukatakan ( oke, IMHO berlaku) efek sajak tersebut sama seperti yang kurasakan saat menonton pembukaan film The Lord of The Rings. Meskipun lebih ringkas namun sajak tersebut sanggup mengantarkan rasa penasaranku untuk menerka-nerka perjalanan para tokoh dalam kisah Nagaraga ini.
2. Multiplot, banyak nama, banyak kisah berkelindan Terinspirasi dari kisah epic A Game of Thrones buku ini mengusung metode yang sama dalam menggerakkan kisahnya, namun buku ini sanggup membawa nuansa lokal dengan berbagai watak serta interaksi sosial para karakternya. Ngomong-ngomong soal karakter, seperti kisah multiplot kebanyakan, buku ini memiliki banyak karakter yang hadir dalam setiap segmen plotnya. Beberapa tokoh langsung bisa mencuri perhatian, beberapa lainnya perlu waktu untuk mengingatnya, di samping namanya terlalu mirip, juga perannya masih kecil dan yang paling kurasakan adalah pengarakterannya masih sebatas ‘tell’ . Tapi tunggu dulu….
Seperti yang tersaji dalam sinopsisnya, buku ini berkisah tentang sebuah negeri bernama Nagabaku yang di dalamnya terdiri dari 5 Kerajaan. Buminaga adalah kerajaan tertinggi di Nagabaku dengan Raja yang tamak, Raja Arruk. Kedatangan Ratu dari Anucara ke Buminaga berujung pada pemicu konflik perang yang terjadi kemudian. Pemicu yang digunakan seorang pangeran tak diakui untuk mewujudkan rencananya bekerja sama dengan salah satu kerajaan untuk melakukan pemberontakan. Sang Pangeran yang tak diakui dari Kerajaan Anucara sedang mempertahankan idealismenya dengan terjun dalam negeri pengembaraan serta perwujudan Naga era baru, sementara di saat yang sama Kerajaan Anucara sedang mengalami krisis ekonomi dan pemerintahan. Dari Buminaga, di tengah foya-foya kerajaan, seorang Pangeran Kecil berusaha memahami politik yang dijalankan sang Raja. Sementara itu di bagian lain, di Juracala, tanah sebrang yang dipisahkan oleh lautan, tanah yang disebut sebagai negeri tempat orang-orang merdeka, tempat suku-suku dengan kekuatan ajaib dan Tuhan lain yang mereka sembah, mulai bergerak untuk mencari keberadaan Nagadeli, daerah mitos tempat persembunyian naga.
3. Bagaikan sebuah janji Kisah ini digerakkan oleh tokohnya yang bergantian sebagai focus-on-narattion dalam setiap babnya, sehingga tak heran jika banyak potongan-potongan informasi yang bertebaran di sana-sini. Setelah sejarah yang diungkap lewat pelajaran yang diterima Sang Pangeran Buminaga, melalui tokoh yang lain penulis memberi gambaran kepada pembaca tentang tanah-tanah yang dilalui oleh beberapa tokohnya. Selain itu, secara menarik penulis juga mengajak pembaca menyelami adat serta pertama kali diperkenalkan dengan naga lewat sebuah event yang diadakan oleh Kerajaan. Event tersebut juga menjadi ajang penulis untuk mengungkap betapa kayarayanya buku ini dengan karakter-karakter yang bakal berperan dalam kisah ini. Banyak tempat yang muncul sekilas dan kebanyakan masih sebatas dikisahkan, tempat yang menarik dan menimbulkan rasa penasaran serta merasakan nuansa epic tersendiri ( Kalau aku~> ditambah dengan musik Game of Thrones yang secara otomatis mengalun di kepala), sebut saja misalnya Nagadeli; Tempat naga-naga disinyalir bersembunyi. Ada pula Pelabuhan belah tempat Kaum Sambikala bermukim. Belum lagi kalau membahas negeri Sebrang yang bernama Juracala, banyak hal-hal mistis dan berbau sihir yang sangat menarik. Dan tentang Tuhan serta Dewa-dewa yang disembah oleh orang-orang Nagabaku ini, terasa lengkap ke-epic-an kisah ini. Seperti halnya dengan penamaan yang kubahas di atas, baru pada paruh akhir buku ini, nama-nama tersebut satu-persatu mulai menempel di benak, pun demikian dengan tempat-tempat menarik serta kaum mistis yang kubahas barusan mulai terasa pas dan bermakna pada paruh akhir buku. Ibaratnya kisah babak awal ini kusebut bagai sebuah janji kepada pembaca akan sebuah kisah yang epic di buku selanjutnya. Pembaca buku pertama telah dirayu dengan berbagai hal menarik di buku pertama, baik lewat narasi sang penulis sendiri maupun melalui yang terlontar dari ucapan para tokohnya. Jadi tak heran jika ada pembaca ( aku pun demikian) yang berseru-seru untuk diajak mengeksplorasi tanah juracala, misalnya…
4. Gaya Bahasa dan pengarakteran Yang kusukai dari kisah ini adalah penulis setia menggunakan nuansa lokal dalam setiap kesempatan. Mulai dari nama orang, tempat sampai umpatan yang dilontarkan beberapa karakternya. Bahkan nama-nama tertentu juga makin terasa melekat dengan karakter serta ciri fisik orangnya, misalnya nama Balong untuk raja dari Bonkraf, Kerajaaan yang menggunakan tulang untuk senjata. Demikian pula untuk nama-nama naganya, Nagawaja, Nagamas, Nagangin… hanya perlu dijelaskan sekali, pembaca akan terus mengingatnya berkat nama-namanya yang melekat dengan elemen yang disandang oleh masing-masing Naga tersebut. Banyak narasi yang ditulis dengan detail yang tidak bertele-tele, sehingga tidak membuat bosan. Namun sesekali ada yang kuharap dijabarkan lebih banyak dari pada yang tertulis, seperti misalnya saat Kapal Suku Kalakin berjuang melintasi Laut Kabut Shakara, terlalu singkat sehingga pembaca tidak mengalami porsi ketegangan seperti yang didengungkan oleh aba-aba awak kapal saat memperingatkan sebelum Kapal menembus kabut. Penulis juga menyelipkan hal-hal erotis, bukan sekedar untuk pengisi kisah yang tak penting, tapi sebagai pengukuh karakter yang diceritakan. Satu yang paling kuingat, seorang tokoh bernama Rinku, berkat sepak terjangnya, karakter ini membuatku suka dengannya sekaligus gregetan dengan tokoh ini. Selain itu, penulis juga menciptakan sebuah dialog baru untuk menyerukan tanda terima kasih, pelengkap yang manis untuk membentuk negeri epic dalam buku ini. Tentang nama-nama, antara setuju dan tidak dengan keputusan penulis untuk tidak melampirkan bagan daftar nama-nama dari tiap kerajaan maupun Kaum Juracala. Karena dengan tidak adanya bagan tersebut membuat pembaca lebih penasaran dan jika ada kejutan dari hubungan kekerabatan ( yang memang ada), kejutan itu akan lebih terasa. Di samping itu, jika ada bagan, akan mempermudah pembaca menelusuri nama-nama tertentu, yang tak sedikit terasa mirip ( awalnya). Dan Peta? Sangat dinantikan!!
5. The Verdict Kisah ini membuatku kagum dengan penulisnya yang mampu menjaga ritme kisahnya dari masing-masing segmen FoN-nya, tetap setia dengan arah perjalanannya, rumit, banyak dan plotnya berkelindan membentuk kisah Negeri Nagabaku yang utuh, diakhiri dengan gejolak perang dari beberapa segmen FoN, dan nasib beberapa karakter yang bisa dikatakan cliffhanger yang membuat pembaca ingin segera melahap buku selanjutnya.
sangat menjanjikan. walau menurut saya masih banyak yang perlu diperbaiki, tapi salut dengan kemampuan sang pengarang dalam mengolah kata. di banyak bagian, terutama adegan laga, sangat intens dan seru. meski ada di banyak bagian lain terasa terburu-buru dan terasa terpenggal-penggal. ada juga beberapa hal yang bagi saya terasa agak kurang masuk akal. but overall it's a good read
PS : juga sedikit terasa influence dari novel2 lain yang saya tahu digemari oleh pengarangnya, seperti seri A Song of Ice and Fire dan Supernova. mungkin itu hanya asumsi saya saja tapi begitulah yang saya rasa.